Angkutan Kota atau yang biasa disingkat ‘angkot’ menjadi sarana transportasi umum utama khususnya bagi saya yang selalu rutin melewati Jalan Margonda, Depok. Setiap angkot memiliki sistem ‘enam empat’, di mana itu merupakan posisi duduk maksimal yang bisa dimuati penumpang di dalamnya. Enam orang di sisi supir dan empat orang di sisi hadapannya. Ditambah dua orang yang diduk berpunggungan dengan kursi depan serta dua orang duduk di depan sebelah supir. Dengan posisi seperti itu penumpang maksimal pada suatu angkutan kota dapat mencapai 14 orang.
Namun fenomena yang terjadi adalah penumpang cenderung untuk duduk di area pintu angkot padahal area dalam belum terisi sama sekali sehingga menyulitkan serta membuat penumpang lain enggan untuk masuk. Bahkan terkadang penumpang yang duduk di dekat pintu tidak bergeser sama sekali saat ada penumpang lain masuk. Kemudian yang terjadi saat sudah duduk di dalam angkutan kota, ruang ‘enam empat’ yang menjadi sistem angkot tidak berfungsi sama sekali. Seringkali penumpang meletakan tas dan belanjaannya di tempat duduk yang seharusnya merupakan porsi penumpang lain. Ruang di dalam angkutan kota pun sudah tidak terisi secara maksimal, sehingga yang terjadi adalah penumpang cenderung mencari angkutan yang kosong.
Pada dasarnya angkutan umum adalah transportasi massa yang dapat menampung banyak penumpang dalam satu kendaraan untuk mengurangi kemacetan. Namun dengan fenomena seperti yang terjadi di atas, jumlah angkutan kota bertambah dan membludak serta menjadi salah satu penyebab kemacetan. Lalu apakah sistem ‘enam empat’ pada angkutan kota masih dapat menjadi salah satu transportasi umum yang ideal ?
Mungkin ya untuk saat ini…