Ugly atau jelek, buruk. Sebenarnya apa ang dimaksud oleh ugly, bagaimana sebuah benda disebut jelek. Banyak pendapat, yaitu kotor, tidak sesuai konteks, dan lain-lain. Botol penyek di ataslah yang saya lihat menjadi ugly, alasannya adalah karena bentuknya tidak sesuai lg seperti sedia kala, lalu botol ini juga tidak berfungsi dengan baik, karea tidak dapat menampung air sebagai mana mestinya karena remuk dan bocor lalu benda ini juga tidak dapat dipegang secara sempurna, karena unsure ergonomisnya telah hilang. Benda ini ugly dan akhirnya hanya akan menjadi sampah pada saat ini dan konteks serta waktu ini. Mungkin benda ini akan berbeda terlihat ketika ada seorang seniman menggunakannya sebagai sebua seni instalasi sesuatu. Kesimpulanny adalahs ebuah benda ugly dinilai secara objektif oleh orang yang melihatnya pada saat tertentu.
Author Archive for
The Ugly
CONNECTING PEOPLE
Apa yang akan anda lakukan bila jauh dari orang tua dan orang-orang yang anda sayangi? Pastinya akan mencoba untuk menguhubungi mereka setidaknya memberi kavar tentang keadaan diri dan mengetahui keadaan mereka. Saat ini saya mengalami hal tersebut di mana jauh dari orang tua, dan tidak ada alat komunikasi yang dapat di gunakan, -baca: handphone. Di waktu sekarang ini sangat terasa bagaimana kehidupan kita sehari-hari semakin dipermudah dalam berkomunikasi, menunjukan eksistensi diri pada tiap status twitter atau facebook yang kita post dan perlihatkan kepada semua followers dan teman setiap saat. Nah, bagaimana jikau keseharian kita dengan ketergantungan alat komunikasi tersebut hilang untuk beberapa saat. Dimana ketersediaan internet terbatas, dan juga pelarangan pada dua situs yang paling sering kita kunjungi tersebut ( twitter dan facebook )。 Apakah anda akan kalang kabut? Perubahan ini saya rasakan sangat drastis, untungnya saya bukanlah pecandu dua situs tersebut. Tetapi tetap saja pentingnya komunikasi kepada keluarga.
Ini adalah salah satu efek kemajuan ilmu teknologi, dimana kita sangat dimudahkan dalam mengggunakan manfaat dari teknologi tesebut namun pada akhirnya tanpa disadari hal tersebut juga menjadi candu bagi para penggunanya. Tetapi dari saat ini saya sadar bahwa terkadang lepas sejenak dari hal-hal terebut banyak waktu yang bisadigunakan untuk pekerjaan lain, hubungan dengan sesama juga lebih baik karena tidak adanya perselingkuhan dengan si benda dan hal tersebut. Intinya dapat lebih menikmati kehidupan. Maka saya mengajak untuk lebih mengurangi ketergantungan pada hal-hal tersebut maka kualitas hidup akan lebih baik.
Ada sedikit kekecewaan yang saya rasakan pada ekskursi Alor tahun ini, bukan karena jarak jauh yang harus ditempuh, namun terungkapnya praktek baru yang menyangkut pelestarian budaya dan tradisi. Takpala, adalah satu desa di Alor dimana desa tersebut adalah salah satu desa yang masih bertahan dari modernisasi yang juga merajalela di Alor. Rumah yang masih tradisional, tanpa listrik, dan masih menjunjung tinggi kearifan lokalnya dalam segala aspek kehidupannya.
Hal tersebut seketika menjadi abu-abu ketika segerombolan orang bule atau para wisatawan dengan guidenya berdatangan, para ibu-ibu yang sedang santai berjualan dengan memakai setelan kaos dan celana katun tersebut seketika menjadi terburu-buru berganti kostum menjadi kain, pakaian tradisional mereka, memakai gelang-gelang kuningan pada kakinya, turun ke gerbang desa untuk menyambut mereka dengan tari-tarian lengkap dengan semua perlengkapan dan lakon untuk “upacara” penyambutan.
Lalu mereka semua berkumpul di area pementasan, kebanyakan para ibu, ada juga kepala adat, dan pemimpin tarian yang mengumandangkan sajak-sajak, pesan dalam tari. Mereka mulai membentuk lingkaran dengan tangan yang satu merangkul yang lain, berputar, bernyanyi dengan lantang, lalu gerakan yang lambat semakin lama semakin cepat, berputar, melompat lalu berhenti.
Lego-lego. Ya lego-lego adalah sebuah tarian asli adat suku-suku di alor, biasanya dilakukan jika ada upacara-upacara adat, masa tanam, masa panen, pernikahan, kematian dan lain-lain. Tarian ini seolah telah kehilangan maknanya. Itu yang saya rasakan, kekecewaan, bagaimana mereka bisa seolah-olah “menjual” tradisi hanya demi kepuasan bule-bule yang melihatnya, dan juga si guide yang sudah seperti men-setting semua ini. Belum lagi kekecewaan itu terjawab, ada satu fakta lagi yang saya ketahui. Ternyata yang benar-benar tinggal di desa tersebut hanya sekitar 2-3 keluarga saja, sisanya pada sore hari mulai turun ke desa dibawahnya, hal tersebut dikarenakan tidak adanya listrik yang tersedia disitu, lagi-lagi saya melihat sebuah kepalsuan.
Semua upacara penyambutan dengan lego-lego tersebut, naik ke desa atas Takpala dan kemudian turun lagi ke desa bawah pada sore hari, atau sebuah keluarga turun ke desa bawah hanya untuk men-charge handphonenya, semua hal tersebut terjadi setiap harinya, keseharian yang menurut saya tidak asli, penuh settingan, dan tradisi menjadi sebuah alat demi mendapatkan uang. Semua tradisi, kebudayaan yang terlihat masih asli dan dipertahankan ternyata telah bergeser.
Fenomena ini mungkin tidak hanya terhadi di desa Takpala saja, mungkin terjadi juga di desa adat lainnya. Desa adat menjadi desa “adat” komersil, sebuah settingan sosial, apakah ini hal yang benar atau salah, saya juga tidak tahu.

comments