Archive for the 'children's workshop' Category

04
Jan
09

Arsitektur melalui Partisipasi

Karya arsitektur merupakan suatu ruang yang dirancang oleh arsitek dan dinikmati oleh pengguna (masyarakat) dalam kehidupan sehari-hari. Dalam merancang karya aristektur ini, terdapat dua dasar yang dapat diterapkan oleh seorang arsitek, yaitu merancang melalui standar yang ada dan merancang melaui partisipasi.

Merancang dengan standar yang telah ada, seringkali membuat arsitek tidak perlu beinteraksi dengan masyarakat yang menggunakan, karena sang arsitek berpikir bahwa standar yang telah dibuat sebenarnya berasal dari masyarakat itu sendiri dan melalui standar yang ada dapat tercipta karya arsitektur yang indah. Namun pada kenyataannya, masyarakat dalam kehidupan kesehariannya dengan beragam kebudayaan memiliki keunikan yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. Sehingga, standar arsitektur yang telah ditetapkan suatu negara dapat tidak berguna jika digunakan di negara yang berbeda, dan karya arsitektur yang diciptakan akan diubah sesuai keinginan pengguna atau bahkan tak ada yang akan menggunakannya. Hal ini yang menjadi kelemahan dalam merancang melalui standar yang ada. Seperti yang dikatakan Prince of Wales’s model housing development in Dorest,architects had no monopoly of the taste,….’ (the uses of decoration, pg.160). Bagaimana dengan merancang melalui partisipasi pengguna dan arsitek? Apakah arsitektur yang tercipta akan tetap indah?

Merancang melalui partisipasi diterapkan oleh ECU (Education Care Unit) di SDN 13 Petang, Srengseng. Program ini diberikan untuk anak-anak kelas 4 SD yang merupakan golongan minoritas dalam lingkungan arsitektur. Tema yang dibuat yaitu mengenai rumah sehat. Dalam kegiatan ini, terdapat dua pihak yang berperan dalam merancang rumah yang sehat yaitu anak-anak SD (sebagai pengguna) dan fasilitator (sebagai arsitek). Kedua pihak ini saling bekerjasama dalam bentuk diskusi dan membuat model rumah sehat.

Diskusi merupakan suatu pendekatan dalam merancang melalui partisipasi. Dalam tahap diskusi awal ini, fasilitator mencoba mengenal anak-anak SDN 13 melalui tempat tinggal dan kondisi tempat tinggal mereka. Sebagian besar dari anak-anak ini tinggal dekat dengan sekolah mereka dan memiliki kondisi tempat tinggal yang berbeda. Tahap diskusi kedua ini, fasilitator mencoba mengetahui seberapa dalam pengertian anak-anak SD ini mengenai sebuah rumah yang sehat melalui ruang-ruang yang nyaman dan tidak nyaman dalam rumah mereka, dan mengapa mereka merasa nyaman dan tidak nyaman. Tahap ini merupakan tahap yang mudah bagi anak-anak SDN 13, namun memiliki kesulitan dalam menjelaskan mengapa nyaman ataupun mengapa tidak nyaman. Tahap diskusi selanjutnya mengenai main mapping masalah dalam rumah dan solusinya. Masalah yang muncul dalam rumah berupa pengap, bau, gelap, dan gersang. Anak-anak menguraikan penyebab terjadinya masalah dan mencoba mencari solusinya. Solusi yang diajukan merupakan solusi yang sederhana, seperti masalah pengap, penyebabnya karena tidak ada jendela, maka solusi yang dikemukakan anak-anak secara spontan yaitu membuat jendela. Solusi tersebut tampak sederhana, namun secara tidak langsung fasilitator (arsitek) memberikan pengertian pada anak-anak SD (pengguna) bahwa rumah yang sehat sebaiknya menggunakan jendela agar udara dapat masuk sehingga ruang menjadi tidak pengap. Bentuk partisipasi aristek terhadap pengguna pada tahap ini terjadi melalui diskusi yang menghasilkan pengertian mengenai rumah sehat dan masalah serta solusi dalam penyelesaian masalah.

Tahap berikutnya berupa membuat model lingkungan rumah yang sehat. Membuat model lingkungan rumah yang sehat bagi anak-anak SD Negeri 13 Srengseng ini merupakan tahap yang menyenangkan. Mereka dapat merancang rumah masing-masing dan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemahaman mengenai rumah sehat yang telah didiskusikan sebelumnya. Pada tahap ini, tiap anak merancang rumah mereka dengan memberikan pintu, jendela, dan kanopi berdasarkan kreatifitas mereka masing-masing. Mereka juga membuat banyak pohon, meletakkan tempat sampah, pagar, lampu jalan, kolam bersama dan lapangan bersama. Partisipasi yang diberikan fasilitator (arsitek) seperti, ketika ada anak yang meletakkan tempat sampah tepat di depan jendela, maka fasilitator memberikan arahan melalui pertanyaan, apakah bau sampahnya tidak masuk ke dalam rumah? Kemudian anak (pengguna) berfikir sambil tersenyum dan mencoba meletakkan tempat sampahnya jauh dari jendela namun tetap di lingkungan rumahnya. Hasilnya berupa model lingkungan perumahan yang jika dilihat hanya berupa potongan kardus dan kertas, namun bagi anak-anak SDN 13, model ini merupakan suatu karya lingkungan rumah yang sehat dan mereka bangga akan karya yang telah mereka buat bersama ini. Bentuk partisipasi yang diberikan pada tahap ini berupa arahan dalam merancang rumah yang sehat.

Kegiatan yang dilakukan Education Care Unit ini merupakan kegiatan partsipasi yang membiarkan pengguna merancang lingkungan tempat tinggal mereka sendiri berdasarkan pengertian yang telah diberikan arsitek terhadap lingkungan tempat tinggal yang sehat. Secara tidak langsung, anak-anak ini telah belajar bagaimana merancang lingkungan yang sehat dan nyaman bagi mereka.

Merancang melalui partisipasi pengguna dan arsitek merupakan suatu proses perancangan yang tidak mudah. Seorang arsitek harus menghilangkan egonya dan bertukar pikiran dengan masyarakat sebagai pengguna. Kebutuhan dan keinginan dalam suatu masyarakat pun berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Namun, melalui diskusi maka proses tersebut akan dilalui dengan baik. Arsitek tidak lagi merancang melalui standar yang ada tetapi merancang berdasarkan masyarakat yang akan menggunakan rancangan tersebut, sehingga arsitektur yang dihasilkan berdasarkan partisipasi akan lebih berguna bagi masyarakat. Arsitektur yang dihasilkan selain bermanfaat bagi masyarakat juga memiliki sisi keindahan karena adanya partisipasi arsitek di dalam proses perancangannya. Keindahan yang terbentuk tidak hanya keindahan yang tampak secara visual, namun keindahan yang berarti sesuai pada tempatnya dan berguna bagi penggunanya. Seperti pernyataan Wates dan Knevitt, ‘the architect must produce something which is visually beautiful as well as socially useful’ (Wates and Knevitt, 1987:38).

02
Jan
09

Awaken the Giant Spirit Within

Karya seorang arsitek sering kali diidentikan sebagai sebuah massa bangunan yang dirancang dengan indah oleh seorang arsitek. Di dalam pandangan ini, arsitektur dilihat sebagai sebuah hasil atau produk atau tujuan akhir dari perancangan itu sendiri. Namun, apa yang saya pelajari dan pahami dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Education Care Unit di sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, lalu, sungguh mengubah pandangan saya tentang karya arsitektur. Sebuah karya arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture).

Apa yang dikerjakan oleh Education Care Unit (ECU) yang diprakarsai oleh dosen-dosen saya di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia yaitu Bpk.Yandi Andri Yatmo PhD, Ibu Paramita Atmodiwirjo PhD dan Bpk. Didi Pramujadi, bukanlah merancang sebuah massa bangunan yang mereka sebut ‘sustainable’. Mereka membangkitkan kesadaran dan merancang pola pikir anak-anak tentang kepedulian terhadap lingkungan mereka sendiri. Disini arsitektur bukan menjadi sebuah produk akhir, namun menjadi sebuah instrumen.

Isu-isu lingkungan lingkungan seperti kerusakan hutan, laut,energi, sampah, polusi dan lainnya hingga isu pemanasan global menjadi hal yang sangat diperbincangkan di berbagai kalangan di dunia. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan pemerhati lingkungan saja, namun juga mereka yang bergelut di lingkup arsitektur bahkan hingga kepala negara di hampir seluruh dunia. Peran arsitek untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, selama ini, melalui desain-desain bangunan ramah lingkungan, zero waste, green building atau apa pun namanya, memang patut kita puji, terlebih apabila arsitektur dipandang hanya sebagai sebuah tujuan. Namun yang menjadi permasalahan utama saat ini dan masa depan, jauh lebih besar dari itu, yaitu semangat (spirit) dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan serta implementasinya. Dari titik inilah kemudian arsitektur dan segala ilmu dengan teknik yang ada di dalamnya dapat masuk ke masyarakat dan akan sangat berperan dalam mengurangi degradasi lingkungan, bukan sebagai sebuah tujuan, namun sebagai sebuah proses dan instrumen.

Di Indonesia, buruknya mutu pendidikan menjadi faktor paling kuat yang menyebabkan minimnya semangat kepedulian dan respons terhadap lingkungannya. Kurangnya pengetahuan menjadi alasan klasik saat menilai perilaku masyarakat perkotaan di Indonesia yang masih dinilai primitif bagi negara-negara maju dunia. Membuang sampah ke sungai, menimbun sampah plastik di dalam tanah dan sebagainya, merupakan contoh nyata yang dekat dengan keseharian kita. Mereka yang mengetahui bahwa  perilaku diatas merupakan jalan keluar yang kurang tepat pun sering kali tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini agaknya membuktikan bahwa pendidikan yang diterima oleh masyarakat kita, sebagian besar belum menekankan semangat untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri. Kurangnya kreasi, inovasi dan semangat berproduksi membuat pendidikan bahkan tidak mampu menciptakan sumber daya manusia yang mandiri.

Pendidikan yang berlangsung satu arah yaitu dari atas (otoritas guru) ke bawah (anak didik) bisa jadi merupakan penyebabnya. Sistem pendidikan seperti ini memang terlihat lazim di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama pada tingkatan Sekolah Dasar. Padahal sistem pendidikan seperti ini hanya akan menjadikan siswa didik sebagai penerima ilmu yang diberikan oleh sang guru. Sering kali bahkan sang guru salah dalam menyampaikan ilmunya sehingga terjadi salah persepsi diantara siswa didik. Lebih parahnya lagi, ilmu yang yang disampaikan oleh guru acap kali dianggap sebagai harga mati yang kemudian mempengaruhi penilaian jawaban mereka saat ujian sekolah.

Sistem pendidikan semacam itu telah membuat anak-anak kehilangan kekritisan dan kreativitasnya, karena mereka takut salah. Mereka menjadi sangat bergantung pada ‘guru’, menunggu perintah, menunggu untuk diberitahu, disediakan, atau dengan kata lain, ‘disuapi’ sesuatu yang mereka tidak benar-benar mengerti. Padahal, kreativitas tidak datang dari sesuatu yang serba pasti, ia datang karena adanya kebebasan, keingintahuan, proses berbuat, dan tidak takut salah.

Pendidikan di tingkat sekolah dasar sering kali juga kurang tepat dalam menyampaikan konsep-konsep pemikiran dalam hubungannya dengan masalah sehari-hari. Sebagai contoh, ketika saya dulu duduk di bangku sekolah dasar, apa yang selalu dikatakan oleh guru adalah bahwa kita harus ‘membuang sampah pada tempatnya (tong sampah)’. Mengapa? Karena jika tidak akan menyebabkan kotor, banjir, penyakit, bau busuk dan sebagai macamnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika tong sampah (‘tempatnya’ sampah) tidak ada. Anak-anak biasanya akan terus mencari dan ketika mereka putus asa, tempat apa pun akan menjadi ‘tempatnya’. Penyampaian pola berpikir terhadap penyelesaian masalah pada anak-anak sekolah dasar yang sering kali kurang tuntas telah membuatnya mudah sekali tergantikan oleh pola berpikir praktis. Alasan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab banjir, akan menjadi omong kosong bagi anak-anak ketika hal itu tidak juga terjadi padahal mereka melakukannya setiap hari.

Dengan latar belakang inilah saya melihat hadirnya ECU dengan konsep pendidikan yang membangkitkan dan mengembangkan semangat kreativitas, kekritisan dan proaktivitas yang berkelanjutan sebagai sebuah inovasi dalam paradigma pendidikan. Dengan berbekal pengetahuan arsitektur yang telah saya dapatkan selama kuliah dan dengan pengarahan dosen, saya ikut merasakan sendiri metode baru pendidikan yang berupaya untuk menggali lagi semangat belajar, berkreasi dan berpendapat pada anak-anak kelas 4 SDN 03 Guntur. Saat itu, tim ECU membuat semacam lokakarya dengan tema rumah dan lingkungan yang sehat, saya menjadi salah satu fasilitatornya.

Kegiatan diawali dengan perkenalan antara pembimbing dengan anak-anak yang dibagi ke dalam beberapa kelompok berisi delapan anak, dengan satu sampai dua pembimbing di dalamnya. Perkenalan ini hal kecil, namun sangat penting. Di tahap inilah pembimbing (fasilitator) dengan anak-anak mulai saling membangun kepercayaan dan semangat mereka dalam melaksanakan pembelajaran ini. Tanpa keyakinan dan saling percaya, pembelajaran ini hanya akan menjadi formalitas semata.

Perkenalan kemudian berlanjut dengan diskusi di dalam masing-masing kelompok yang sebenarnya lebih menyerupai sharing, menceritakan mengenai keadaan rumah mereka. Ada yang panas, pengap, ada yang gelap, ada yang selalu bersih karena rajin membersihkan rumah dan sebagainya. Mereka juga tak segan-segan bertanya kepada saya mengenai kondisi rumah saya saat ini dan hal ini membuat saya yakin bahwa mereka adalah anak-anak yang cukup proaktif, sehingga akan lebih mudah bagi saya untuk membimbing mereka.

Kegiatan saling bercerita itu kemudian dipandu dengan sebuah lembar isian yang di dalamnya terdapat pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan rumah mereka terkait dengan rumah sehat. Dalam mengisinya, mereka tak perlu saling menyontek, mereka hanya perlu menceritakan sebanyak yang mereka mau, sebaik yang mereka tahu, dan dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan jika mereka kehilangan inspirasi dalam menjawabnya, mereka bisa bertanya kepada kami pembimbingnya agar dapat menggali lagi pengetahuan dan cerita mereka. Disini, mereka lah yang berkepentingan, mereka lah yang ingin tahu dan ingin mencari sebanyak mungkin jawaban. Kita memberikan mereka ‘ruang’ seolah mereka lah yang paling mengerti tentang lingkungan mereka sendiri, dan dengan mempercayai mereka, kita juga akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan.

Hal kemudian berubah menjadi agak sulit pada saat diskusi ini mencapai tahap yang lebih lanjut yaitu pemetaan pikiran: menemukan alasan atau penyebab dari setiap masalah dan kemudian mencari solusinya. Misalnya, masalah ruang kamar yang panas / pengap, penyebabnya karena tidak ada atau kurangnya ventilasi, solusinya seperti yang disepakati para anggota kelompok ialah dengan membuat atau memperbanyak ventilasi, memakai kipas angin atau AC. Disini anak-anak mulai terlihat kesulitan dalam mencari keterkaitan sebuah masalah dengan penyebab dan penyelesaiannya. Mereka mulai banyak sekali bertanya karena kurang yakin dengan pemikirannya meskipun ternyata pemikiran mereka sangat masuk akal dan nyata. Mungkin ini adalah akibat dari sistem pendidikan yang serba satu sumber, satu pemikiran, satu kalimat dan satu gaya bahasa tadi.

Di akhir bagian yang disebut pemetaan pikiran tadi, anak-anak akhirnya dapat melihat hubungan yang ada, mengelilingi sebuah masalah yang sebelumnya mereka temukan sendiri di lingkungan dan rumah mereka. Mereka akhirnya tidak lagi melihat sebuah masalah yang hanya dapat diidentifikasi, namun kini mereka tahu apa yang dapat mereka lakukan dengan melihat pada penyebab dari permasalahan itu sendiri.

Setelah proses pemetaan pikiran selesai, anak-anak terlihat seolah-olah telah melakukan sebuah upaya yang baik, sebuah jawaban / pengetahuan yang sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan pagi itu. Mereka pun bertanya, ” Habis ini kita ngapain, kak? Sudah selesai ya?”. Saya pun menjawab mereka,” Belum. Ada yang lebih seru!”. kegiatan selanjutnya ialah siswa diajak membuat sebuah maket kompleks perumahan yang sehat sesuai dengan hasil diskusi tadi.

Berbeda dengan proses diskusi dan pemetaan pemikiran yang agak sulit, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Suasana gaduh yang muncul selama proses diskusi kini berubah menjadi keasyikan tersendiri, membuat sebuah rumah sehat impian. Mereka sibuk dalam aktivitas dan imajinasinya masing-masing, selain tentunya memasukan apa yang telah mereka pelajari dalam diskusi. Disini anak-anak diberikan kebebasan berimajinasi dan sekaligus menerapkan pengetahuannya sehingga mereka dapat memiliki sense of belonging terhadap apa yang mereka buat.

Dengan bahan yang sederhana mereka sibuk menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas yang dibagikan. Mereka meminta bahan terbaik pada kami sebagai bahan membuat rumah mereka. Mereka kemudian menggambarkan jendela-jendela dan ventilasi pada rumah yang berukuran 5×10 cm dan tinggi 5 cm tersebut. Pohon-pohon sebagai elemen penghijauan dibuat deangan kertas krep atau daun-daun dari halaman sekolah mereka.

Maket dibuat dengan sederhana, namun sesuai dengan pemahaman dan imajinasi anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar maket tidak dibuat sebagai produk prakarya semata, namun lebih memiliki makna dan cerita. Di sini, sama seperti arsitektur, model bukan hadir sebagai tujuan atau produk akhir, namun hanya sebagai instrumen untuk mencapai tujuan yaitu merangsang semangat dan kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.

Proses berikutnya tak kalah penting yaitu membuat refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan pagi itu. Disini mereka diminta untuk menyampaikan kembali apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka pelajari. Bagian ini sangat penting untuk melihat bagaimana anak-anak menyerap pembelajaran yang telah diberikan kepada mereka.

Pembelajaran seperti yang dilaksanakan oleh ECU ini dapat menjadi cara lain bagi mereka yang memiliki pengetahuan di bidang arsitektur khususnya untuk membantu mengurangi permasalahan degradasi lingkungan yang terjadi semakin parah beberapa dekade terakhir ini. Hal ini bukan terjadi karena buruknya kualitas lingkung bangun, karena hal itu hanya lah sebagian dari akibat. Permasalahan yang sesungguhnya adalah kurangnya kepedulian manusia terhadap alam yang selama ini mereka ‘eksploitasi’. Arsitek harus dapat berperan lebih, bukan hanya sebagai ‘pembantu’ (membantu klien yang peduli terhadap lingkungan), namun justru sebagai pembangun semangat (spirit) dan kepedulian terhadap lingkungan itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus dunia.

Hidup dan lingkungan yang lebih baik adalah dambaan bagi hampir 3 miliar penduduk dunia. Mereka semua mempunyai spirit untuk mewujudkan itu. Spirit menjadi begitu penting karena ia menjadi kekuatan raksasa bagi hadirnya sebuah perubahan. Namun ketika harapan semakin menjauh dari kenyataan, spirit pun dapat perlahan menghilang. Disaat kondisi seperti ini, besar harapan perubahan bertumpu pada generasi mendatang, sebagai pembawa perubahan. Pada esensinya proses pembelajaran altrnatif ini berusaha untuk membangkitkan spirit dan memberikan pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan yang baik dengan cara yang menyenangkan. Spirit dan pemikiran yang sudah tertanam dengan kuat diharapkan akan terus terbawa dan dikembangkan, hingga kemudian pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat terealisasi. Yes, we can!!

02
Jan
09

Membangun Arsitektur dengan Perspektif Pengguna Melalui Partisipasi

Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia hidup dan berkegiatan di dalam ruang. Manusia mengalami ruang tersebut, dan beradaptasi dengan ruang itu. Manusia tidak hanya secara pasif menerima suatu ruang sebagai wadah beraktivitasnya, tetapi kemudian merespon ruang itu, mengatur bagaimana agar ruang tersebut benar-benar sesuai dengan apa yang dia butuhkan. Dari sini, dia akan memutuskan, ruang yang bagaimana yang ideal untuk dia tempati. Perspektif ideal mengenai ruang ini tentu saja berbeda antara satu manusia dengan manusia yang lain, bergantung pada pengalaman mereka terhadap suatu ruang.

Arsitek sebagai perancang haruslah benar-benar memperhatikan hal ini. Setiap tempat atau bangunan yang dirancang tentu akan ada penggunanya, dan arsitek berkewajiban untuk mengetahui dan memahami calon penggunanya ini, untuk kemudian dapat memprediksi bagaimana ruang yang akan dirancangnya nantinya digunakan oleh mereka. Hal ini sangat penting dalam mendukung keberhasilan arsitektur yang dibangun oleh sang arsitek, sebab dengan dapat memprediksi bagaimana kemungkinan perilaku calon pengguna rancangannya dalam sebuah ruang, ruang yang dirancangnya akan benar-benar dapat merespon segala kebutuhan spasial manusia yang menggunakannya.

Walaupun demikian, seringkali terjadi bahkan ruang yang telah dirancang oleh seorang arsitek pun mengalami intervensi oleh orang-orang yang beraktivitas di dalamnya. Intervensi ini terjadi karena si pengguna melihat kemungkinan lain dari suatu ruang, yang kemudian diinterpretasikan melalui suatu perilaku spasial yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan sang arsitek mengenai bagaimana rancangannya akan digunakan. Lalu apakah dalam hal ini, arsitektur yang telah mengalami intervensi pengguna itu tidak lagi disebut ideal? Atau justru intervensi tersebutlah yang menjadikan arsitektur tersebut lebih ideal untuk ditempati bagi penggunanya? Jadi dalam hal ini, persepsi dan perspektif siapa yang harus diutamakan dalam terbangunnya sebuah arsitektur, sang arsitek atau penggunanya?

Dalam terwujudnya sebuah arsitektur melalui ruang tempat berkegiatan manusia ini, tentu saja persepsi dan perspektif pengguna menjadi hal yang sangat penting. Dengan demikian, agar program arsitektur yang telah dirancang oleh seorang arsitek dapat berhasil, keterlibatan calon penggunanya dalam proses desain adalah hal yang sangat penting. Pengguna tidak hanya menjadi sekedar pengguna setelah arsitektur tersebut terbangun, namun juga turut berpartisipasi dalam memberikan perspektif bagaimana ruang yang dia butuhkan, bagaimana ruang yang membuat dia nyaman, yang selanjutnya tugas arsiteklah untuk mengarahkan dan akhirnya merealisasikan perspektif tersebut. Dengan langkah ini, intervensi yang tidak diinginkan dari pengguna terhadap arsitektur tersebut kecil kemungkinannya akan terjadi, sebab dengan memberikan perspektifnya mengenai gambaran ruang yang dibutuhkan dan diinginkan, dengan berdasarkan pada pengalaman terhadap ruang yang pernah dialami, pengguna dapat membayangkan apa konsekuensinya nantinya jika mereka melakukan intervensi terhadap arsitektur tersebut.

Mewujudkan arsitektur melalui partisipasi pengguna ini sebenarnya bukanlah hal yang cukup mudah dilakukan. Hal ini terlihat dalam workshop ”Rumah Sehat” yang diadakan di SDN Guntur 03 Pagi. Workshop ini ditujukan buat anak-anak kelas 4 SD (usia 10 tahun), dengan program memahami apa itu rumah sehat untuk akhirnya dapat merancang sebuah rumah sehat.

Awalnya diadakan diskusi dalam kelompok (6-7 orang), di mana setiap anak mendeskripsikan bagaimana rumah yang mereka tinggali, nyamankah rumah mereka, ruang mana yang nyaman, ruang mana yang tidak nyaman, dan sebagainya. Hal yang menarik dalam diskusi ini adalah bahwa anak-anak tersebut menyampaikan mengapa mereka mengklasifikasikan suatu ruangan sebagai ruang yang nyaman maupun tidak nyaman dengan mengemukakan fitur-fitur yang memfasilitasi ruangan tersebut, misalnya seorang anak menyebutkan kamar tidurnya nyaman karena menggunakan AC. Tugas saya sebagai fasilitator pada saat itu (atau dalam pembahasan partisipasi ini, sebagai sang arsitek), adalah memberikan pengertian terhadap konsep nyaman karena adanya AC tersebut, apa yang dia dapatkan dengan keberadaan AC, apa yang bisa menggantikan AC, namun memberikan kenyamanan yang sama.

Selanjutnya mereka diminta mengisi worksheet dengan tabel-tabel yang harus diisi mengenai apa yang telah didiskusikan sebelumnya. Ternyata dalam sesi ini anak-anak mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan ’mengapa’. Dalam tabel ’ruangan yang nyaman’ misalnya, mereka dengan cukup mudah dapat mendaftar ruangan-ruangan yang ada di rumahnya, namun mengalami sedikit kesulitan pada tabel di mana mereka harus menulis alasan mengapa mereka menyebutnya nyaman atau tidak nyaman. Dari sinilah saya melihat bahwa tahap penanaman konsep arsitektur ini adalah bagian tersulit dari metode partisipasi, sebab dalam tahap ini, kita sebagai arsitek harus dapat mengarahkan calon pengguna yang terlibat dalam proses desain untuk benar-benar memahami sasaran dan tujuan arsitekturnya. Dengan pemahaman ini, perspektif yang diberikan oleh calon pengguna dapat mereka pertanggungjawabkan dalam arsitektur yang telah terbangun nantinya.

Tahap selanjutnya dalam workshop tersebut adalah membuat model rumah dan lingkungan sehat menurut mereka, sesuai dengan apa yang telah didiskusikan dan hasil pemahaman dari tahap sebelumnya. Ini merupakan tahap yang paling dinikmati oleh anak-anak tersebut, karena dalam tahap ini mereka benar-benar dapat merealisasikan apa yang mereka inginkan terkait dengan gambaran rumah ideal bagi mereka, namun tetap memenuhi kriteria nyaman dan sehat. Dalam tahap ini, mereka secara praktis dapat langsung mewujudkan pemahaman yang mereka dapat sebelumnya. Dengan turun langsung dalam praktek perancangannya mereka dapat memperkirakan apa baik buruknya jika suatu ruang dirancang sedemikian rupa, sehingga ruang yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh mereka (sebagai calon penggunanya).

Dengan keterlibatan (partisipasi) pengguna dalam perancangan, intervensi yang tidak diharapkan dari pengguna terhadap suatu arsitektur lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi, sebab pengguna sudah paham mengapa ruang itu ada dan mengapa dibuat demikian, mereka tahu alasan kehadiran ruang tersebut sehingga tidak seenaknya mengalihkan penggunaan ruang tersebut untuk sesuatu yang lain yang tidak sesuai dengan program arsitekturnya. Dengan partisipasi pengguna dalam proses perancangan, mereka akan lebih merasakan keterikatan dan tanggung jawab untuk memelihara arsitektur tersebut, sehingga ruang yang ada benar-benar terfungsikan sebagaimana ia seharusnya.

02
Jan
09

Arsitektur dan Anak-Anak : “mereka juga bisa..”

Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, bahwa untuk merancang sesuatu, haruslah penuh perhitungan, pemikiran yang matang dan proses yang cukup panjang. Dan yang dapat melakukan hal tersebut adalah para orang dewasa yang sudah mengalami berbagai macam pahit-manisnya kehidupan, serta telah melewati proses pembelajaran dan berbagai pengalaman dalam merancang. Namun demikian, pendapat tersebut terpatahkan setelah saya mengikuti workshop yang diadakan oleh ECU (Education Care Unit), di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2008.

Pada hari itu, di SDN 03 Guntur sedang berlangsung class meeting, namun untuk anak-anak yang duduk di kelas IV, mendapat dispensasi untuk tidak turut serta berpartisipasi, dan mereka mendapatkan workshop mengenai rumah sehat dari tim ECU. Pada awalnya terlihat sedikit kekecewaan di wajah mereka, karena tidak dapat bermain dengan teman-teman sebayanya, dan timbul sedikit kekawatiran dalam diri saya, apakah mereka dapat diajak bekerja sama dalam workhop ini, dan apakah mereka bisa menangkap maksud serta tujuan dari workshop ini nantinya. Kembali lagi, kekawatiran saya terpatahkan setelah mengikuti workshop ini.
Workshop dimulai dengan membagi 5 kelompok dalam satu kelas. Setiap kelompok terdiri dari satu fasilitator (saya dan teman-teman dari arsitektur UI-red.) dan 6 siswa. Saya mendapatkan kelompok yang terdiri dari Dhesta, Vivi, Andhika, Arfi, Nina dan Aisyah. Dalam workshop ini, mereka nantinya harus meghasilkan sebuah rancangan rumah impian yang sehat. Namun, sebelum mewujudkan rumah impian tersebut, saya mengajak para siswa berdiskusi terlebih dahulu. Hal tersebut pada awalnya memang tidak mudah. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang aktif mendiskusikan setiap pertanyaan yang saya lontarkan, ada yang hanya mengiyakan atau mengangguk-angguk, namun, ada juga yang apatis dan diam saja.

Hal pertama yang saya lontarkan untuk memecahkan kekakuan diantara kami, saya mengajukan pertanyaan mengenai tempat tinggal mereka, apakah tempat tinggal mereka sudah nyaman atau belum, lalu bagaimana definisi nyaman menurut mereka. Dan akhirnya mereka mulai terlibat aktif dalam diskusi mengenai rumah nyaman.

Dari lontaran-lontaran jawaban mereka, saya cukup terkejut dengan pemahaman mereka mengenai rumah yang nyaman. 5 dari 6 orang menjawab rumah yang nyaman adalah rumah yang sejuk, dingin dan tidak sumpek. Tetapi yang mengkawatirkan adalah, ketika mereka menjawab, “soalnya pake AC, kak”. Saya heran, kenapa mereka bisa berpendapat bahwa dengan AC lah rumah mereka jadi tidak sumpek dan nyaman. Ketika mendengar jawaban mereka, saya membayangkan keadaan rumah mereka yang tertutup dan sumpek, karena kehadiran AC di rumah bukannya malah membuat ventilasi yang ada harus tertutup? Saya mencoba membalikkan pertanyaan mereka, “ada yang tahu enggak kalau pakai AC rumah malah jadi sumpek ?” ujar Nevine. Tidak ada yang bisa menjawab, lalu saya bertanya lagi. “Di rumah ada jendela enggak ?” Kenapa kalau ada jendela udara tidak pengap. Ada yang tahu ?” saya terus berusaha menggali. Dan tetap tidak ada yang tahu. Akhirnya, saya menjelaskan pada mereka mengenai pentingya ventilasi bagi rumah dan bukanlah AC, bagaimana udara segar bisa masuk dan bagaiman sebisa mungkin mengurangi penggunaan AC.

Pikiran mereka sudah terkontaminasi dengan kehadiran AC. Bahwa ventilasi tidak terlalu dibutuhkan dan AC lah yang penting. Sungguh ironis menurut saya. Apabila kita analogikan, di generasi mereka sudah berpikir bahwa AC itu penting, sedangkan kita tahu bahwa dengan hadirnya AC akan terus menambah efek buruk dari pemanasan global, lalu apa yang akan terjadi 20 tahun ke depan? Bukankah bumi akan semakin rusak?? Hampir setengah jam mereka berdiskusi. Mereka mendiskusikan sejumlah isu besar menyangkut rumah impian, yaitu udara segar, cahaya, kebersihan dalam rumah dan sanitasi, serta lingkungan luar. Dan saya terus berupaya agar masing-masing anggota kelompok secara aktif mengungkapkan pemikiran-pemikirannya secara kritis sehingga muncul pikiran-pikiran kreatif untuk mewujudkan rumah impian mereka yang sehat dan nyaman. Jawaban yang mereka lontarkan, khas anak-anak yang spontan dan menarik. Dan menurut saya, justru itulah yang penting dari sebuah edukasi untuk anak-anak. Spontanitas, sehingga mereka tidak merasa bosan dan tanpa disadari, mereka mendapatkan pengetahuan yang sangat berguna bagi mereka nantinya. Dan juga, ketika spontanitas yang terucap oleh mereka berisi penuh makna adalah ukuran bagi saya, apakah workshop yang saya berikan berhasil atau tidak.

Setelah semua anggota memahami masalah-masalah yang terkait dengan rumah impian dan solusi-solusinya, mereka saya ajak membuat maket sebuah kompleks perumahan sesuai bahan diskusi. Berbeda dengan proses diskusi dan penggalian pemikiran yang cukup sulit dilakukan, proses pembuatan maket ini disambut dengan antusias. Kegaduhan yang muncul dalam proses diskusi berubah menjadi keasyikan mewujudkan rumah impian. Mereka tenggelam dalam aktivitas menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas-kertas tersebut.

Dengan bahan-bahan sederhana, para siswa menyusun rumah impian masing-masing diatas karton tebal dengan ukuran 40 X 60 sentimeter. Rumah-rumah itu terbuat dari kotak-kotak karton seukuran 5 X 10 cm dengan tinggi 5 cm. Siswa menggambar jendela-jendela dengan pulpen. Pohon-pohon dibuat dari kertas krep warna hijau atau daun-daun yang diambil dari halaman sekolah.

Dan akhirnya, jadilah sebuah maket kompleks perumahan. Rumah-rumah yang terbangun lengkap dengan ventilasi, pepohonan yang banyak di sekitar rumah-rumah mereka, saluran air yang bersih, tempat sampah di setiap rumah dan sedikit pemanis dengan adanya kolam dan taman. Saya takjub dengan kreativitas mereka. Mereka dapat merancang sebuah kompleks perumahan yang sehat dan nyaman, dari bahan-bahan seadanya. Sebuah proses perancangan arsitektur sederhana, sudah mereka jalankan.

Namun yang paling penting dari workshop ini menurut saya adalah, bukan apa yang mereka hasilkan, tapi bagaimana proses yang mereka jalankan. Dimulai dari suatu paradigma mengenai pikiran anak-anak yang sudah terdoktrin dengan sebuah pengertian mengenai rumah sehat, yang sesungguhnya sangat jauh dari pengertian rumah sehat yang sebenarnya. Hingga akhirnya, mereka mengerti bahwa apa yang selama ini mereka anggap benar adalah salah, dengan menghasilkan sebuah maket penuh imajinasi khas anak-anak, namun penuh makna mengenai pemahaman terhadap rumah sehat.

Akhirnya workshop pun selesai, segala kekawatiran saya di awal benar-benar terpatahkan. Mereka telah membuktikan bahwa mereka dapat diajak bekerjasama dalam workshop ini, dan juga bisa berarsitektur. Dari workshop ini, ada hal penting yang dapat saya petik, bahwa mereka, adalah generasi penerus, mereka bisa dan mereka mampu membuat keadaan lingkugan menjadi lebih baik di masa mendatang. Tugas kita sebagai yang sudah lebih dulu hadir adalah menghargai apa yang sudah mereka capai, dan hasilkan dengan tidak membatasi jiwa kreatif mereka dalam proses kontribusi mereka terhadap perbaikkan lingkungan di masa mendatang.

31
Dec
08

Sebuah Usaha Membangun Pemikiran

Education Care Unit (ECU) bergerak di bidang edukasi tentang lingkungan dan kreatifitas. Berbagai workshop ditujukan pada anak-anak SD. Edukasi yang diberikan bukan dalam bentuk ‘menyuapi’ namun lebih memfasilitasi dan mengeluarkan sisi kreatif, kritis, dan kepekaan anak-anak terhadap lingkungan. Workshop ‘Rumah Sehat’ yang saya ikuti memberikan banyak hal kepada saya. Awalnya saya berpikir ini sebatas memberikan pelajaran bagi anak-anak dengan cara yang menarik. Namun saya justru mendapat hal lain dari sekedar ‘memberi’ pelajaran.

Sangat menyenangkan berkegiatan bersama anak-anak yang sangat spontan dan memiliki imajinasi yang bervariasi. Menurut saya kegiatan seperti ini sangat baik bagi arsitek sendiri. Selama ini arsitek hanya berperan membangun lalu membiarkan publik mengisinya, suka tidak suka. Namun dengan melibatkan masyarakat, atau paling tidak mengetahui apa yang dirasakan masyarakat, arsitektur itu sendiri akan bermakna lebih dalam. Contohnya dengan kegiatan workshop ini, walaupun sasarannya anak-anak SD, namun ternyata banyak hal yang bisa didapat. Saya sangat ingat percakapan saya dengan salah seorang anak saat workshop.

Saya : “Biasanya kalau buang sampah dimana?”
Anak : “Buang sampahnya di UI kak!!”

Dari perkataan anak tersebut, saya tidak hanya melihat ketidakpedulian masyarakat terhadap sampah. Namun mungkin ada sedikit celah dalam proses design UI itu sendiri. Dengan banyaknya ‘ruang sisa’ pada UI, dan ketika ruang itu bersinggungan dengan masyarakat, mereka dengan mudahnya menggunakan ruang itu sebagai ‘tempat sampah’. Apakah dalam proses design UI masyarakat dilibatkan? Sehingga mereka tahu betul dan mengenal mana ruang yang boleh ‘dibajak’, mana yang tidak. Dalam proses design, terutama sebuah institusi yang mau tidak mau bersinggungan erat dengan masyarakat, seharusnya keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan. Keterlibatan disini paling tidak dapat memberikan gambaran kepada arsitek tentang bagaimana cara hidup masyarakat disekitarnya. Sehingga nantinya tidak akan ada persinggungan yang merugikan beberapa pihak.

Hal lain yang saya pelajari dari workshop ini adalah masalah anak-anak sebagai generasi penerus. Merekalah yang akan membangun negara ini nantinya. Menurut saya dengan adanya workshop seperti ini, akan sangat baik untuk membuild pemikiran anak-anak untuk mengarah ke sesuatu yang lebih baik. Kalau dianalogikan dengan proses membangun sebuah bangunan, menurut saya kegiatan seperti ini seperti tahap pembuatan fondasi. Pada tahap inilah kita membangun dan mengarahkan pemikiran anak-anak. Karena tahap SD adalah tahap awal dimana anak-anak mulai menerima ilmu dasar yang penting. Pikiran mereka belum diracuni dan mereka juga sangat peka terhadap lingkungan sekitar mereka. Sangat penting bagi kita untuk memberikan banyak pengetahuan mendasar pada tahap ini. Disini peran arsitek tidak hanya sekedar membangun beton dan baja saja, namun juga membangun sebuah pemikiran yang nantinya akan sangat berguna bagi kemajuan arsitektur itu sendiri.

Satu hal lagi yang menurut saya sangat penting. Selama saya belajar di bidang arsitektur, hal paling mendasar yang saya dapat adalah bahwa sesuatu itu harus dilihat dari prosesnya, bukan hanya sekedar hasil. Dan hal tersebut ternyata tidak diajarkan sejak dini kepada anak-anak SD. Bahkan seorang guru menanyakan masalah ‘nilai’ setelah workshop. Saya langsung bepikir, kenapa semua hal dikaitkan dengan nilai akhir. Toh yang penting adalah apa yang dipelajari anak-anak itu, bukan nilainya. Maka menurut saya dengan cara workshop seperti ini dapat memberikan pengertian yang mendasar kepada anak-anak tentang pentingnya sebuah proses. Karena saya rasa hal tersebut tidak mereka dapat dari sekolah mereka.

31
Dec
08

Architect is not a ‘GOD’ !!

Sebuah karya arsitektur yang dianggap baik saat ini, sering kali berpatokan terhadap sesuatu yang ideal, seperti contoh kecil ; sering kali orang beranggapan ruang tamu yang baik adalah ruang tamu yang kurang lebih menyerupai seperti gambar ruang tamu yang terpajang pada sebuah majalah interior, yang padahal pada kenyataannya bila gambar pada majalah itu direalisasikan di rumah kita belum tentu kita sebagai pemilik akan merasa nyaman dengan adanya ruang tersebut. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, Apakah kemudian sesuatu yang dianggap ideal itu ( terutama oleh kita sebagai perancang ) sudah pasti juga merupakan sesuatu yang benar – benar ideal dan cocok bagi orang lain ( orang yang menggunakan rancangan kita )?

Kita sebagai seorang perancang dengan segudang ‘ide-ide gila’, terkadang melupakan apakah ide-ide itu pada nantinya akan cocok bila dimasukkan ke dalam konteks yang ada? dan akhirnya tanpa disadari kita sudah merancang sebuah ‘utopia’ yang hampir keseluruhan hanyalah didasari oleh keegoisan kita sebagai perancang. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah kemudian hal ini memang begitu adanya atau ada sebuah sudut pandang lain yang dapat kita gunakan, sebagai perancang, dalam menuangkan ide-ide kita?

Sebuah cara lain saya temukan dalam workshop bersama Education Care Unit (workshop tentang rumah sehat dengan peserta adalah anak sekolah dasar), sebuah cara yang bisa dikatakan dapat mengubah presepsi yang ada selama ini mengenai perancang dan bagaimana cara kita merancang. Di dalam Workshop ini saya menemukan bagaimana keikutsertaan dari orang yang menempati rancangan kita menjadi sangat penting. Dalam workshop ini kita sebagai perancang tidak lagi berperan menjadi seorang dewa yang dapat memasukkan ide-ide apa saja yang kita inginkan, tetapi kita lebih berperan sebagai seorang fasilitator, yang lebih mendengarkan apa yang diinginkan dan dirasa cocok oleh klien dan juga membimbing, yang dalam hal ini adalah anak-anak sekolah dasar kelas 4 SD Guntur, Manggarai , sehingga kita tidak lagi dengan sesukanya memasukkan apa yang kita anggap ideal ke dalam rancangan tersebut.

Dalam workshop ini, kita sebagai fasilitator pertama-tama melakukan brain storming bersama dengan anak-anak sekolah dasar tentang seberapa banyak yang mereka ketahui tentang tempat tinggalnya masing-masing. Dari brain storming ini, kita juga membimbing mereka untuk mengeluarkan ide-ide tentang apa saja yang mereka ketahui tentang tempat tinggal yang sehat, yang ternyata hal ini sangat sulit dilakukan oleh anak-anak tersebut, yang mungkin disebabkan oleh kebiasaan pola belajar yang kebanyakan hanya ‘banyak menerima’ apa yang diberikan oleh guru. Setelah itu para siswa diminta untuk mengidentifikasikan ruang apa saja yang pada tempat tinggalnya yang dianggap sehat dan yang tidak serta mencari solusi dari permasalahan tentang sesuatu yang dianggap bermasalah dan bagaimana mencapai ruamah yang dikatakan sehat itu. Selanjutnya dilanjutkan dengan pembuatan model dari hasil diskusi dan brain storming yang telah dilakukan sebelumnya tentang rumah sehat. Dan pada akhir sesi dilakukan refleksi kembali tentang apa yang telah dilakukan selama kegiatan pada hari itu.

Beberapa hal menarik kemudian saya temukan dalam setiap tahapan pada kegiatan tersebut, seperti pada tahap awal, brain storming, dimana anak-anak sangat sulit untuk melakukan hal ini, dan bagaimana cara kita menarik atensi (perhatian) dari anak-anak tersebut pada tahap ini kemudian menjadi sangat penting dan sulit, karena tahap ini merupakan proses dimana kita berusaha untuk menyelami pikiran anak-anak tersebut dan mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang mereka, untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang hal yang dibicarakan. Pada proses selanjutnya, dalam perumusan solusi, saya menemukan bahwa setiap anak mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah yang ada pada tempat tinggalnya masing-masing, yang kmudian hal ini menjadi bersifat sangat pribadi karena ujung-ujungnya menyangkut keadaan ekonomi dan sosial dari masing anak-anak, seperti contoh ada seorang anak yang ingin mepunyai sebuah ruang tamu yang cukup besar agar merasa nyaman dan mengatasi masalah pengudaraan, tetapi kemudian ada anak lain yang menyambar berkata sambil tertawa “ rumah dia soalnya ada warungnya ka jadi sempit !” dari hal ini apat diketahui bahwa keadaan tempat tinggal yang sekarang mempengaruhi pola pembuatan solusi dari masing-masing anak. Lalu pada tahap pembuatan model saya dapat melihat seberapa kreatif masing-masing anak tersebut dan sebegitu bangganya mereka terhadap karya yang mereka buat sendiri, yang jika dilihat oleh orang awam hanyalah setumpukan kotak-kotak kardus bekas dan kertas kertas krep yang tidak beraturan. Pada tahap ini tergambar juga seberapa besar rasa memiliki mereka terhadap karyanya itu. Dari hal ini dapat diketahui bahwa kemudian seberapa bagus sebuah karya menjadi tidak penting lagi, tetapi yang kemudian menjadi penting adalah seberapa besar rasa memiliki mereka terhadap karya meraka itu. Lalu pada tahap akhir, tahap refleksi, ditemukan bahwa anak-anak tersebut sangat sulit merefleksikan apa yang telah mereka kerjakan.

Akhirnya, dari workshop bersama Education Care Unit ini, saya menemukan sebuah presepsi lain tentang bagaimana cara kita, sebagai perancang, merancang untuk orang lain. Tidak lagi berpikir dengan cara ‘dewa’ tetapi berpikir dengan mengikutsertakan orang yang nantinya akan menggunakan rancangan kita, dalam proses design, sehingga karya kita tidaklah menjadi ‘alien’ bagi mereka tetapi menjadi ‘bagian’ yang berguna, cocok, dan sesuai bagi kehidupan mereka, karena apa yang kita anggap baik selama ini belum tentu benar-benar merupakan hal yang baik juga bagi orang lain. Kendati demikian, kita sebagai perancang juga tetap harus memasukkan ide kita ke dalam rancangan dan tetap memasukan partisipasi dari masyarakat, yang berarti kita harus berpikir secara terbuka.

31
Dec
08

Learning by doing or learning by theory?

Dimulai ketika saya ikut dalam kegiatan workshop di SDN 03 guntur yang terletak di sekitar jalan halimun, Jakarta 5.12.2008.

Kebanyakan dari kita lebih cepat menangkap makna atau pemahaman dari apa yang kita alami,rasakan,sentuh, lihat, dengar kesemua pengalaman itu baik dalam suatu ruang ataupun dalam perjalanan.

Ketika kita merasa bosan saat membaca dan memilih alternative lain untuk mengalihkan pikiran kita yang penat jenis kegiatan yang ringan akan kembali menyegarkan pikiran kita dengan melakukan kegiatan yang simple atau ordinary dimana kegiatan ini memang sudah menjadi keseharian kita.

Didalam workshop ini dimana anak-anak sekolah dasar yang berumur antara 9-10th. Dalam masa pertumbuhan mereka dimana memang lebih mementingkan bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya mereka learn by doing akan lebih mengasikkan dan menyerap untuk mereka.

Begitu juga peran kita arsitek[mahasiswa arsitektur] kita memahami ruang, bagaimana merasakan kenyamanan, memenuhi kebutuhan semua ini didapat dari realita yang kita hadapi ketika akan berpraktisi bagaimana alam dan masyarakat mempengaruhi semuannya. Kebutuhan mereka dan penyesuaian terhadap alam.

Profesi ini [arsitek] memiliki kemiripan dalam beberapa hal dengan anak-anak yang memang mengerti ketika mereka melakukan.

Tidak berarti dengan membaca kita tidak mengerti pemahaman yang dimaksud. Teori timbul buah dari pemikiran manusia. Tetapi tidakkan timbul begitu saja ketika kita tidak berusaha untu memahami dan merasakan pengalaman tersebut.

Contohnnya ketika gigi kita bolong pada semasa anak-anak tentunya anak-anak ini tidak akan menyadari sampai mereka merasakan sakit. Setelah itu anak-anak akan mulai mengerti akan kebersihan gigi dan menjadikan kebiasaan setelah mereka beranjak usia.

Jika kita kembalikan ke workshop tentang rumah sehat yang diadakan di sdn03 guntur inilah yang dicoba ditanamkan pada pemahaman yang ada pada anak-anak tersebut.

Ketika mereka dihadapkan pada teori yang memaksa untuk menuangkan pemahaman mereka kedalam tulisan beberapa dari mereka sulit menterjemah dalam suatu paragraph ataupun cerita singkat. Mungkin dikarenakan mereka sulit untuk memfisualisasikan hanya dalam pikiran mereka.

Tanpa pengalaman ruang anak-anak ini akan sulit untuk mengetahui apa yang membuat mereka nyaman seperti katak dalam tempurung mereka hanya menjelaskan apa yang mereka lihat dan kebiasaan yang ada dilingkungan mereka contoh terdekat adalah kamar didalam rumah mereka.

Ketika ditanyakan apa yang membuat mereka nyaman jawabannya adalah ac, udara yang dikeluarkan dari ac lah yang membuat mereka nyaman tetapi mereka tidak mengerti bahwa secara teori menggunakan teknologi yang merusak lingkungan maka akan membahayakan mereka dikehidupan mendatang.

Disini teori berperan memberikan peringkatan secara verbal. Tetapi teori ini tidak akan timbul jika tidak ada sebab akibat oleh karena itulah pehaman dilakukan tidak hanya diberikan lewat kata-kata tetapi lewat tindakkan yang berbuah pemahaman.

Konsep dan pemahan pemikiran yang berusaha di kembangkan dikegiatan ini. Ketika mereka mulai menerapkan teori yang telah didapat dalam sebuah bentuk ketertarikan dan semangat mereka mulai bermunculan.

Warna, tekstur, efek yang ditimbulkan membawa efek psikologis terhadap kita sebagai pengguna ruang juga lingkungan.

Sehingga dari teori yang sudah kita dapatkan sebagai dasar tentunnya akan membawa perubahan pola masyarakat.sehingga jika suatu pemahaman dilakukan sendiri maka akan menambah dan bukan hal yang tidak mungkin berkembang kearah yang lain.

Sehingga teori dan praktek berkembang sesuai dengan kebutuhan dan perubahan zaman. Tergantung dari respon masyrakat tentang kepedulian mereka pada habitat mereka.

Pemahaman memang penting ditanamkan sedari kecil tetapi kesadaran akan sebabakibat yang ditimbulkan akan berpengaruh atas kelangsungan hidup.

31
Dec
08

Partisipasi Masyarakat dalam Kehidupan Majemuk

Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk, masyarakat yang memiliki berbagai macam latar belakang dan kebudayaan. Dengan berbagai kebudayaan ini mampukah tiap masyarakat untuk berpartisipasi, bagaimana ketika kemajemukan ini dipertemukan dengan suatu kepentingan pengembangan tertentu? Kemajemukan adalah identitas bangsa kita, dan itu adalah sesuatu yang harus dibanggakan selain sekedar dipertahankan saja. Karena itu partisipasi menjadi penting untuk hadir dalam masyarakat yang majemuk agar setiap masyarakat mendapat porsi yang sama, tanpa suatu generalisasi yang akhirnya mengikis kemajemukan dan identitas kita sendiri.

Saya teringat akan adanya tingkatan dalam partisipasi, yang terendah adalah masyarakat hanya diberitahu tanpa adanya suatu kerjasama. Dan inilah gambaran masyarakat kita, pemberitahuan tanpa suatu penjelasan, tanpa adanya kesempatan untuk suatu timbal balik. Dan bahaya dari hanya memberi-tahu ini adalah suatu tindakan mengambil keputusan yang diperoleh hanya dari suatu pihak tanpa menyadari bahwa keputusannya itu punya akibat bagi masyarakat yang lain, sebagai akibat dari kehidupan masyarakat yang mejemuk. Suatu keputusan yang diambil sendiri hanya mampu memenuhi keperluan suatu pihak saja, menyederhanakan masalah, mengenerlisasi kemajemukan kita sendiri. Bahayanya adalah lama-kelamaan kemajemukan kita akan hilang karena suatu tindakan penyederhanan masalah.

Namun pertanyaan selanjutnya adalah seberapa siapkah masyarakat kita untuk berpartisipasi? Ketika partisipasi itu hadir dalam kemajemukan, maka berbagai kepentingan dan pengetahuan akan saling beradu. Partisipasi membutuhkan suatu modal, perlu ada value yang mereka punya dan mereka bisa bawa ke dalam masyarakat. Salah satu modal ini adalah pendidikan. Namun membicarakan fakta pendidikan Indonesia mungkin saya tidak bisa berkata banyak selain perlu banyak peningkatan disana-sini. Hal inilah yang dilihat oleh ECU (education care unit).

Pengetahuan adalah value yang bisa kita bawa dalam partisipasi. Sehingga partisipasi itu dapat berkembang dengan banyaknya pengetahuan atau value yang masyarakat miliki. Semakin banyak pengetahuan yang terlibat maka akan semakin banyak pertimbangan dan pihak pengambil keputusan dapat sadar bahwa kepentingannya itu berdampak pada banyak pihak. Sehingga dengan adanya modal yang masyarakat punya maka masyarakat menjadi lebih tanggap akan permaslahan yang ada, masyarakat sudah mengerti akan issue-isue yang terjadi diseputar permasalahan itu. Bukan seperti tingkat partisipasi pemberitahuan dimana karena masyarakat tidak mengerti maka pembuat keputusan juga tidak mendapatkan timbal-balik dari masyarakat karena masyarakat tidak tahu ada suatu maslah yang terjadi.

Namun ada hal yang lebih penting dari pada sekedar ilmu pengetahuan, itu adalah sikap kritis yang ditanamkan. Sikap kritis adalah modal dasar yang paling penting dalam partisipasi masyarakat yang majemuk, dan saya melihat ECU juga bergerak dari hal ini. ECU bergerak dengan membawa anak-anak untuk berdiskusi dan memikirkan penyebab-penyebab dari suatu masalah dengan sikap kritis. Adanya sikap kritis membuat semua pihak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, adanya sikap untuk selalu mempertanyakan sesuatu dan ketika adanya suatu keputusan maka masyarakat siap memberi timbal-balik. Dengan adanya sikap kritis maka masyarakat akan sadar ketika keputusan itu adalah keputusan yang mengeneralisasi dan menghilangkan kemajemukan mereka, sikap kritis itu yang akan bertindak. Sikap kritis yang membuat partisipasi itu lebih berkembang, karena ketika semua orang bersikap kritis maka tidak ada pihak yang lebih berdiri sendiri dan menghilangkan kepentingan yang lain.

Maka dalam masyarakat yang majemuk, dengan adanya sikap kritis dan value yang dibawa partisipasi dapat terjadi dan akan ada suatu keputusan yang bisa diambil dengan melihat masalah itu lebih luas dan merata pada semua pihak. Sehingga identitas bangsa ini tidak hilang karena masyarakatnya sendiri yang tidak siap untuk berpartisipasi.

31
Dec
08

partisipasi ruang bagi anak-anak

Disadari atau tidak sebagian besar karya arsitektur diperuntukkan bagi usia produktif. Padahal siklus hidup manusia terdiri dari beberapa fase, yaitu fase bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Namun seolah-olah titik penting siklus kehidupan manusia hanya berada pada fase usia produktif. Mengapa? Karena para arsitek berfikir bahwa karya mereka atau informasi yang mereka sampaikan melalui karyanya lebih mudah ditangkap dan dimengerti oleh manusia usia produktif. Hanya sedikit ruang yang diberikan bagi anak-anak, manula dan fase lainnya. Entah itu ruang yang diciptakan oleh arsitek ataupun masyarakat. Padahal bagi anak-anak misalnya, mereka memerlukan ruang yang lebih variatif dan explorative. Hal ini karena di sanalah mereka bisa belajar secara langsung, mereka merasakan, mereka belajar dari pengalaman, bukan hafalan yang hari ini dihafal besok mereka sudah lupa, bukan hitungan yang membuat mereka mengerutkan dahi hingga akhirnya mereka takut masuk kelas, bukan pula disuruh mendengarkan apa yang diterangkan ibu guru yang akhirnya membuat mereka tidur. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka alami langsung akan mempercepat pemahaman mereka tentang sesuatu. Mereka menjadi tahu manfaat mempelajari sesuatu itu, bukan menebak-nebak penting atau tidak suatu pengetahuan (bagi mereka sendiri) yang absurb karena membayangkannya saja mereka sulit. Inilah yang saya dapatkan dan saya pelajari dari workshop rumah sehat yang diikuti oleh anak-anak SD kelas 4 dibeberapa sekolah.

TAHAP PERKENALAN

Pada awalnya yang saya lakukan adalah bagaimana membuat anak-anak menerima kehadiran saya melalui perkenalan, saya memperkenalkan diri begitu juga dengan mereka. Selanjutnya langkah yang saya ambil adalah mengingat nama-nama mereka, karena saya beranggapan bahwa dengan saya memanggil mereka dengan nama mereka masing-masing (bukan dengan kata umum seperti “adik-adik” atau “anak-anak”) itu merupakan suatu bentuk saya menghargai mereka. Dan menurut saya pribadi (bila saya diposisi anak-anak) saya akan merasa senang dan tersanjung bila ada orang baru yang mengingat nama saya. Karena nama merupakan salah satu identitas yang membedakan antara saya dengan orang lain. Langkah pendekatan selanjutnya adalah dengan banyak berkomunikasi ringan dengan mereka (obrolan ringan) seperti menanyakan  “ kalo ntar punya rumah pengennya yang gimana?” dengan melontarkan pertanyaan–pertanyaan seperti itu saya bisa mendengar jawaban-jawaban yang unik dan lucu seperti “yang besar, punya kolam renang, bertingkat, punya mobil, ada ac-nya kak”  jawaban-jawaban yang mereka kemukakan tersebut merupakan perwujudan atas hal-hal yang belum bisa mereka dapatkan dan rasakan saat ini. Dan hal ini menunjukkan  kualitas hidup mereka. Misalnya jawaban “ingin punya rumah besar” secara tidak langsung mengungkapkan bahwa anak tersebut merasa rumah yang ditempatinya sekarang cenderung kecil. Maka masalah yang saya prediksi dapat muncul adalah pengap karena ruangan yang sempit dengan kapasitas orang yang cenderung lebih dari dua akan menyesakkan, berisik, panas dan lainnya. Melalui perkenlaan ini juga saya dapat mengetahui anak-anak mana saja yang perlu saya tangani secara langsung, mana anak yang cerdas, kritis, bandel. Sehingga nantinya saat kegiatan ini berjalan saya dapat menyikapi mereka dengan cara yang berbeda-beda pada setiap anak.

TAHAP DISKUSI

Pada tahapan diskusi ini pada dasarnya adalah membangkitkan memori pengetahuan mereka tentang rumah sehat. Jadi bukanlah bersifat mendikte bahwa rumah yang  sehat harus bagaimana atau seperti apa, tetapi mereka sendiri yang menjelaskan dan mendeskripsikan apa itu rumah sehat. Posisi saya disana hanya memicu mereka dan meluruskan jawaban-jawaban mereka. Saya mengamati bahwa pengetahuan yang dimiliki anak-anak di SD Guntur  lebih luas. Hal ini terbukti dari jawaban-jawaban mereka yang lebih beragam dan to the point, misalnya harus ada ventilasi, jendela, pohon, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan rumah sehat telah mereka serap dengan baik sebelumnya. Sementara untuk anak-anak di SD Srengseng , mereka lebih sulit untuk menjawab. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka tidak menemukan contoh rumah sehat secara langsung sehingga bisa mereka ingat dan bayangkan. Hal ini menunjukkan tingkat kehidupan anak-anak SD Srengseng yang menengah ke bawah. Dimana ini ditunjukkan oleh jawaban-jawaban mereka yang seolah tidak sadar akan guna ventilasi, pohon dan lainnya. Ketika mereka disuruh menyebutkan nama-nama ruangan yang ada di rumah, mereka menafsirkanya dengan menyebutkan nama-nama kegiatan yang mereka lakukan di dalam rumah. Karena pada dasarnya mereka hidup di dalam rumah yang terdiri dari satu ruangan saja. Sehingga pada waktu mereka menjabarkan ruangan-ruangan di rumah mereka, mereka menjawab “ruang belajar, ruang nonton, ruang makan, ruang tidur, ruang tamu dan lainnya” yang pada dasarnya semua kegiatan itu terjadi di satu ruangan saja (saya mendapatkan kesimpulan ini melalui celetukan anak-anak). Sementara pada anak-anak SD Guntur mereka menjabarkan ruangan-ruangan tersebut dengan lebih mudah karena mereka bisa membayangkan jumlah dan nama ruangan yang ada dirumah mereka. Tujuan saya membandingkan jumlah ruangan yang ada di rumah mereka bukanlah untuk menunjukkan bahwa rumah sehat harus punya ruangan lebih dari satu ruang. Tetapi melalui informasi jumlah ruangan yang mereka miliki saya bisa menganalisa bahwa jumlah ruangan ini bisa menjadi tolak ukur saya mengetahui pengenalan anak-anak terhadap masalah lingkungan yang mereka hadapi. Hal ini terbukti bahwa anak-anak di SD Srengseng sawah lebih cepat dan mudah dalam merincikan masalah apa saja yang membuat mereka tidak nyaman di rumah, seperti bau pesing, kotor, banyak tikus, bau asap, gelap, berisik, dan lainnya. Sementara itu untuk anak-anak SD Guntur mereka perlu distimulus dengan pertanyaan-pertanyaan kualitatif seperti “kalo belajar di tempat yang gelap enak gak?” baru dengan begitu mereka bisa mengetahui dan sadar akan masalah yang terjadi.

TAHAP MODELING

Pada tahapan ini anak-anak sangat bersemangat. Mereka benar-benar merasa memiliki rumah dan bebas berimajinasi denga rumahnya. Misalnya pipin (salah seorang anak SD Guntur) meski dikenal bandel namun dialah yang paling kreatif diantara teman-teman sekelompoknya. Saat sedang bekerja dia menjadi tidak banyak berbicara dan mengganggu temannya, apalagi melihat punya teman-temannya. Dia asyik dengan apa yang sedang dia kerjakan. Dia punya cara kerja sendiri. Dengan kreatif dia membuat pohon dari daun, menambahkan cerobong asap pada rumahnya. Dimana nantinya kreatifitasnya ini diikuti oleh teman-temannya yang lain. Namun pada dasarnya anak-anak di SD Guntur memang kreatif. Untuk anak-anak di SD Srengseng mereka lebih tertarik untuk mendahulukan membuat lapangan bola bersama dan juga lapangan bulu tangkis, baru kemudian  menghias rumah mereka. Banyak tempat-tempat yang dibuat untuk bersama-sama (tempat sampah, tempat penampungan air). Ini menunjukkan kepedulian mereka akan kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang terjalin diantara mereka masih cukup besar. Sementara jika hal ini dibandingkan dengan anak-anak SD Guntur, mereka saya rasa lebh individualis. Terbukti dari adanya telepon umum di setiap hunian mereka (?).

Dari semua hal diatas, pada dasarnya saya merasa senang bisa mengikuti workshop ini. Selain bisa bermain dengan anak-anak, saya jadi mengerti bagaimana untuk memahami pola pikir dan latar belakang setiap orang tidaklah sama. Yang banyak terjadi pada karya-karya arsitek adalah suatu bentuk hijacking. Hijacking ini terjadi karena pesan-pesan yang disampaikan oleh si arsitek  melalui apa yang ia buat tidak bisa diterima atau tidak bisa dimengerti oleh para penggunannya yang memiliki pola pikir dan latar belakang yang berbeda pula. Untuk itu diperlukan suatu bentuk partisipasi masyarakat dalam suatu proses desain yang nantinya informasi-informasi yang terkumpul ini memudahkan si arsitek dalam pemilihan bahasa arsitektur yang mudah dimengerti oleh para pengguna.

31
Dec
08

“LISTEN to them!!!” A lesson to be a successful architect

Architect is someone who make a place for human activities, A place which brings the comfortable for human itself. Explicitly, the connection between human and space or human and another human are the most important thing.

Why human?

Human become actor, who enjoy what the architect produce. How can the actor doing nothing for his occupying space.

Human, who occupy the space have many things which can’t be separated to their life, such as they social life (neighborhood), tradition, religion, and other usual things that occur in their surrounding life. And also, the architect must understand how the actor thought about the product. So, this is so important for the architect to make a kind of approachment to the actor before make the product.

How can the architect produce space without know what kind of the actor that he serve? I don’t have any answer to that question. There’s any fact which support it. Unfortunately, this phenomenon often happens in the architect’s world. After know the site and the type of building, the architect immediately make the design in his office, even without face the client and make survey to the site. In short time, the design has been accomplished and then the building is raised.

What happen after the building is enjoyed by the actor? They aren’t happy with the building, they can’t enjoy the building. They aren’t feel comfort when do their activities there. They don’t understand what world that the architect presents there. It’s not their life!

That’s the fact! What the architect think was different with the actor. There’s any misunderstanding situation between the producer and consumer. How can the producer know what the consumer need if they never meet?

The everyday life already there!! That’s the actor life. There’s no one looking at theirs. Nothing listen to them! It’s only the ordinary thing that usual happen in everywhere. Precisely, that’s the important thing! The everyday maybe something usual, ordinary. But if we notice, there’s something precise to ignore. It can make the job of the architect easier. Doesn’t necessary to think over for the site, program and design. There’s already there!! Only the brilliant architect who can see it as a diamond.

The successful of architect is given by the human who enjoy the product of the architect itself. It depend how the product not only useful for the actor but also give a comfort physically and mentally.

It’s not easy to reach this condition. The architect should read the everyday life the actor. To read, he must do any conversation and discussion with the actor. This approach is used to know what they really need exactly. Then the architect think, how answer their needs without interfere their everyday life. The everyday life doesn’t constraint the program, but one of the programs itself. With this step the answer which given by architect should suitable with their everyday.

There’s one method to design a place for the architect named participation. As written before, the steps include conversation and discussion between the user and the architect. This method was tried to design a healthy house to a group of 4th class in SDN Guntur 03. It’s not easy to make understanding about a healthy house for student of 4thclass. Start with conversation about how the condition of their own house makes it easier. The important thing in making conversation to get the information from the user is choosing the language. Every part of the society has different language. It’s another skill that architect must have. To get more information we should make the same language with them. The same language avoids misunderstanding which often happens between architect and the client. When the understanding about language has been occur, the user can expose anything. It’s easy to architect to see what he was handled.

It happened to me. In the beginning of the conversation, they looked shy to tell how their house is. But after several minutes, they hard to be stopped. The situation changed because I already understand that Indonesian children commonly hard to speak up. To handle it, I changed the question “How’s your house?” to “Are your house comfort?” The tactic was succeeding. After several yes/no questions, they speak more and more without any force. This way is called how the architect learn the characteristic his client. It showed tactics that architect was done to get the information from client. Different client, different tactics, and also different language.

From the conversation, I know that all students in my groups have comfort house. They can mention many comfort parts of their house. But when I ask ‘why’, they quiet immediately. Again, the quiet syndrome happens. The architect has another tactic. Before make the discussion, the architect should have the clue about the topic. It makes the discussion works appropriate to the purpose. The architect directs the discussion to the clue.

I also directed the discussion of healthy house to clues which prepared before. There are 4 elements which must be noticed in a healthy house, i.e. fresh air, lighting, sanitation, and surrounding area. I’m sure the children have known those elements, but still, it must be provocated.

The children often told the same answer about why they feel comfort refer to the elements. But sometime, they told the unexpected statement about the comfort part of their house. My groups divided to two groups refer to how the (sleep) room should be comfort. One, who sleep in dark room and another in the bright condition. There was any requested from my ‘client’, he want the reading light which the brighter of the light can be changed in his room, because he like reading before sleep. This special request won’t be known if the architect doesn’t have the conversation with his client.

From the discussion also revealed a room that I wasn’t appears before. Unexpectedly, they very concern about the existence of storeroom, the room which often be ignored until it placed in the waste place in the house. Should the storeroom comfort? The children answered, “It should.” The comfortable storeroom is showed with the cleanness itself. The cleanness means it can’t make the bad smell and the mouse come to that place. How the existence of storeroom doesn’t disturb the activities which should be there. There’re the care children, aren’t they?

Move to the most interesting part. They should make a model which describes a complex house. They arrange their own healthy house in the complex house. The complex house also must health. In the limited area, they must achieve a healthy atmosphere for their life. In this part, there were more unexpected statements. They placed their house in order to remain a place to play together, like football field. Attractively, the field was placed in front of the gate so that the visitor got a beautiful view when entered the complex. It wasn’t a problem if the placement of the field made their house very close together. The important thing for them was, their trash spot was far from the own and other window and also from the complex street. The trash spot was placed in behind of the house. There was distance between the trash spot and the house itself. The distance was grown by the plant. According to them, the plant was functioned to absorb the bad smell which produced by the trash.

Look!! All children could make a healthy complex without any forced information. It’s flow with their self. Without got any architect education, they could be an architect to their house. It means the real architect already there, doesn’t be deliberately presented. There’re all be there.

So, what must we (architect) do? Just look and listen what already there!!! Be partner of the client to make the appropriate condition which they needed. They need us to make a better place to their life.

31
Dec
08

Arsitektur dan Demokrasi

Arsitektur, sebagaimana yang telah kita ’selami’ selama ini merupakan suatu proses hasil pemikiran yang menghasilkan suatu solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada, dimana serangkaian kejadian tersebut sering kita sebut sebagai mendesain. Inti dalam proses pemikiran tersebut disini adalah manusia dengan segala sisi kehidupannya. Oleh karena itu mungkin dapat kita katakan bahwa posisi kita sebagai arsitek sangatlah beruntung atau malah cenderung egois dalam hal pengambilan keputusan dalam mendesain. Untuk menghasilkan suatu desain, arsitek memiliki ’wewenang’ untuk pada akhirnya mengambil suatu keputusan tindakan yang nantinya tentu akan mempengaruhi atau bahkan mengubah kehidupan manusia yang tinggal di dalamnya. Dengan wewenang tersebut justru seringkali si arsitek tersebut justru menutup mata, hati dan telinga dari kondisi sebenarnya yang dibutuhkan oleh manusia yang tinggal di dalamnya. Seringkali kita sebagai arsitek, yang sebenarnya adalah outsider justru melupakan orang-orang yang memang bagian dari tempat mendesain kita, yang lebih mengetahui atas pengalaman-pengalaman dan cerita yang mereka punya. Melalui tulisan ini saya mencoba mengangkat mengenai posisi kita sebagai arsitek dan masyarakat luas, juga mengenai hubungan yang terjadi di dalamnya terkait dalam proses mendesain.

Atas isu menarik tersebut, saya ingin mencoba memberikan suatu perbandingan dengan sebuah contoh yang mungkin memang tidak serumit proyek-proyek arsitek yang besar, tetapi patut kita beri perhatian khusus mengenai lingkungan rumah yang sehat. Edu Care Unit yang diadakan beberapa waktu lalu di SD 13 Srengseng Sawah, saya mencoba untuk memfasilitasi anak-anak untuk lebih memahami dan mengenal lingkungan rumahnya dalam konteks menuju suatu pemahaman akan lingkungan rumah tinggal yang sehat. Dalam kegiatan ini anak-anak diarahkan agar lebih peka untuk menyebutkan kondisi nyata mengenai lingkungan rumah tinggal mereka, menganalisis fakta-fakta tersebut dan pada akhirnya memutuskan bagaimanakah lingkungan rumah tinggal yang sehat. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain berupa diskusi, words mapping, dan pembuatan model lingkungan rumah tinggal yang sederhana. Selama kegiatan tersebut, saya memposisikan diri sebagai seorang fasilitator yang mengarahkan mereka pada pemahaman akhir tersebut.

Mungkin sebelum menjalani kegiatan tersebut, tidak pernah terpikir oleh saya bagaimana seorang anak memandang dan mencerna pengalaman dalam kehidupan lingkungan rumah tinggalnya. Dari beberapa anak yang saya fasilitasi, memang ada beberapa anak yang antusias mengikuti kegiatan tersebut dan adapula yang hanya pasif mendengarkan dan berbicara jika ditanya. Namun dari semuanya dapat terlihat usaha mereka dalam memahami topik tersebut dan memberikan solusi-solusi dari masalah yang ada. Seringkali anak-anak tersebut hanya menyebutkan kriteria lingkungan rumah tinggal yang umum, yang seolah terkesan merupakan hasil bacaan dari buku, bukanlah dari penglihatan kondisi nyata yang ada. Sebagai contoh yaitu mereka menyebutkan bahwa lingkungan rumah tinggal yang sehat haruslah bersih dan nyaman, mereka juga dapat menyebutkan ruang-ruang mana saja yang nyaman ataupun tidak nyaman, tetapi mereka menemui kesulitan ketika diberikan pertanyaan apa yang membuat nyaman atau tidak nyaman. Dalam menghadapi kesulitan tersebut maka saya disini mencoba memberikan arahan-arahan mengenai kondisi yang ideal dengan memberikan kasus-kasus sederhana yang sering mereka temui sehari-hari terkait dengan pencahayaan, pengudaraan, sampah, air, dan kebersihan dalam rumah tinggal. Arahan-arahan tersebut berupa pertanyaaan-pertanyaan yang memaksa mereka untuk berpikir atas fenomena yang ada.

Dari serangkaian kegiatan tersebut ada beberapa hal menarik yang memang patut kita amati sebagai seorang arsitek nantinya. Dengan mencoba mendengarkan cerita dari anak-anak tersebut, sebagai manusia yang tinggal di dalamnya, kita mungkin bisa saja mendapat suatu ’surprise’ dengan kejadian-kejadian yang ada. Sebagai contoh, salah seorang anak yang menyebutkan bahwa ia merasa tidak nyaman di ruang makan karena seringkali ruang makan tersebut dipakai untuk menjemur pakaian oleh ibunya atau ruang tamu yang pada malam hari digunakan sebagai kamar tidur. Dengan cerita-cerita yang bermunculan tersebut tentu akan mempengaruhi proses mendesain kita. Kemungkinan terburuk yang terjadi dapat saja kita sebagai arsitek bukanlah menyelesaikan masalah yang ada, tetapi justru mengambil keputusan yang dapat memperburuk kondisi yang ada sebelumnya karena kita terus-menerus memposisikan diri kita sebagai outsider atau justru kita melupakan ’hakikat’ kita sebenarnya dengan wewenang yang kita miliki tersebut.

Sebagai seorang arsitek yang tentunya telah berbekal ilmu pengetahuan akan suatu kondisi yang ’ideal’ secara teori, dalam kasus ini yaitu lingkungan rumah tinggal yang sehat, kita dapat memposisikan diri kita sebagai seorang pendengar dan pengamat yang baik atas fenomena-fenomena yang ada sebelum pada akhirnya nanti kita menawarkan suatu solusi kepada mereka sendiri. Dalam kegiatan ini yaitu anak-anak yang bercerita akan keadaan rumah tinggalnya, atas ’surprise’ yang tidak ketahui sebelumnya. Namun untuk selanjutnya, arsitek dapat memberikan suatu arahan menuju suatu gambaran mengenai kondisi ideal tersebut. Arsitek bukan lagi sebagai hakim tunggal dalam suatu pengadilan, melainkan sebagai wadah aspirasi dalam masyarakat. Bukankah hal ini mencerminkan suatu demokrasi dalam berarsitektur………?

31
Dec
08

ECU

ECU (Education Care Unit) merupakan sebuah program yang baik ditujukan kepada anak-anak sekolah dasar. Menurut saya, program ini membantu anak-anak untuk memahami kondisi lingkungan tempat anak itu bertumbuh. Program ini juga memberikan variasi bentuk belajar bagi anak-anak sekolah dasar. Anak-anak tidak terpaku dengan pengetahuan yang mereka baca di buku dan yang diketahui dari guru tetapi mereka aktif berdiskusi dan mengingat apa yang ada disekitar rumah mereka. Mereka secara tidak langsung membagi ilmu yang mereka ketahui tentang lingkungan sekitar dengan teman-teman mereka.

Program ECU membuat anak-anak belajar dengan perasaan santai dan fun. Program ini mendidik anak-anak untuk memahami dan mendalami hal-hal yang ada di dalam lingkungan sekitar mereka. Program ECU juga membuat networking baru antara institusi pendidikan, yaitu: network antara pihak universitas dengan pihak sekolah. Mahasiswa yang terlibat dalam program ini bisa menerapkan secara langsung ilmu yang dipelajari dan bisa mengembangkan skil baru, seperti: cara berkomunikasi dengan anak kecil yang memerlukan banyak kesabaran.

Pada ECU yang kemarin saya ikuti bertema bagaimana mendesain rumah impian yang sesuai dengan kriteria rumah sehat. Dengan tema ini, anak-anak akan terpicu daya pikir dan kreativitasnya dalam mendesain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka mulai mendalami beberapa syarat terbentuknya rumah sehat. Mereka tidak hanya menyebutkan tetapi mereka mengerti akan cara-cara yang dapat dilakukan untuk membuat rumah sehat.

Disini saya berperan sebagai fasilitator yang menjelaskan kriteria rumah sehat berdasarkan acuan yang telah diberikan. Tugas saya adalah mengarahkan anak-anak untuk mengerti syarat-syarat yang dibutuhkan untuk membentuk rumah sehat dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Fasilitator bukan bertugas untuk memberikan jawaban mengenai syarat-syarat yang dibutuhkan untuk membentuk rumah sehat tetapi fasilitator berperan untuk memicu anak-anak menganalisa apa yang dibutuhkan untuk membuat rumah sehat. Disini, saya dan rekan saya memakai metode tanya jawab, misalnya : ketika ingin menjelaskan mengenai salah satu kriteria rumah sehat: pencahayaan yang baik, maka saya dan rekan saya menanyakan hal itu kepada siswa SD. Pertanyaan meliputi: Rumah akan mendapat sinar dari mana? Melalui apa cahaya matahari dapat masuk ke dalm rumah? Mengapa jendela harus dibuka pada pagi hari? dsb.

Pada saat ECU di SD 13 Srengseng Sawah, saya melihat bahwa siswa SD tersebut belum memahami kriteria rumah sehat. Mereka terlihat ragu-ragu dan kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh fasilitator. Tetapi setelah melalui beberapa proses pengarahan, mereka sedikit demi sedikit mulai menjawab dengan baik.

Pada saat proses pengarahan dan penjelasan mengenai kriteria rumah sehat, siswa SD terlihat kurang konsentrasi dan kurang fokus. Hal ini disebabkan anak-anak kecil kurang tertarik untuk mendengarkan penjelasan secara verbal. Mereka akan cepat bosan jika mendengar penjelasan secara verbal.Saya mengusulkan agar pada program ECU selanjutnya, fasilitator diberikan media visual berupa gambar/foto dengan warna-warna yang menarik.Hal ini membantu agar siswa SD lebih konsentrasi dan fokus untuk melihat gambar dan mendengarkan penjelasan dari fasilitator.

Masyarakat awam secara tidak langsung mengetahui mengenai peran arsitek dalam pekerjaannya. Selama ini, masyarakat awam hanya mengetahui bahwa arsitek bertugas untuk mendesain bangunan, taman dan rumah tinggal. Dengan program ECU maka masyarakat awam mengetahui bahwa arsitek berperan sebagai penggerak dan motivator. Arsitek tidak hanya memajukan lingkungan secara fisik tetapi arsitek juga memajukan lingkungan secara non fisik yaitu dengan memajukan pola pikir masyarakat.

29
Dec
08

Peran Arsitek Dalam Masyarakat

Apa peran seorang arsitek di dalam masyarakat? Seringkali dalam buku-buku arsitektur dikatakan, arsitektur sebagai sesuatu yang dibuat dan dikembangkan oleh manusia dan efeknya atau dampaknya adalah untuk manusia juga. Namun manusia yang dikatakan buku-buku itu entah mengapa sepertinya lebih merujuk kepada sesuatu yang didesign oleh seorang arsitek dan designnya itu pada nantinya akan merupakan sebuah place bagi manusia, sehingga design dari arsitek itu haruslah mempertimbangkan manusia yang nantinya akan sebagai penghuni di dalamnya. Namun apa peran seorang arsitek bagi manusia lain hanya terbatas pada rancangan design dari arsitek tersebut saja?

Kegiatan yang baru saja saya lakukan dalam kuliah Everday Architecture merupakan sebuah bukti dimana peran arsitek untuk masyarakat tidaklah hanya terbatas pada rancangan design. Dengan ilmu-ilmu yang telah dimiliki oleh arsitek-arsitek yang terkait dalam kegiatan ini dapat digunakan untuk menuntun adik-adik kita di SD Srengseng 13 untuk membentuk rumah sehat mereka masing-masing. Di dalam kegiatan ini pada awalnya kita berdiskusi bersama adik-adik tersebut mengenai rumah mereka yang ada sekarang, apakah rumah itu terasa pengap ataukah mempunyai tempat pembuangan sampah, banyakah pohon-pohon yang ada di rumah mereka, atau adakah ruang-ruang didalam rumah mereka yang tidak nyaman. Jawaban dari adik-adik ini pun sangat beragam, ada satu anak yang menjawab bahwa WC rumah mereka bau, namun ada juga anak lain yang menjawab bahwa WC rumah mereka bersih dan tidak bau. Dan ketika ditanya ada ruang-ruang apa saja di dalam rumah mereka, ada anak yang berkata “kak,kalau rumah saya cuma sepetak, gmana kak? Jadi cuma satu ruang”, namun ketika saya jawab tidak apa-apa, saya melihat anak itu menulis di kertasnya bahwa di dalam rumahnya ada ruang makan, kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Ketika saya tanya mengapa dia menulis begitu banyak ruang, padahal sebelumnya dia mengatakan hanya ada satu ruang di dalam rumahnya. Dan dia menjawab”walaupun satu ruang, kan dipake juga buat tidur, makan ato nerima tamu kak”.

Peran saya dan teman-teman saya di dalam kegiatan itu adalah hanya sebagai fasilitator, dimana kami harus membimbing adik-adik SD itu untuk mengetahui syarat-syarat apa yang dibutuhkan untuk rumah yang sehat. Ketika syarat-syarat itu telah mereka ketahui, maka mereka haruslah mempraktekkan pengetahuan mereka tersebut untuk mendesign rumah sehat mereka beserta lingkungan di sekelilingnya. Setiap kelompok terdiri dari 8 anak, dan setiap anak ini mempunyai pemikiran yang bebeda mengenai lingkungan yang mereka katakan sehat untuk rumah mereka sendiri. Pemikiran-pemikiran yang berbeda ini terlihat dalam proses design tersebut. Pada awalnya mereka diberikan sebuah kotak kardus yang berukuran 8cmx6cm dengan tinggi 3 cm, yang diumpamakan adalah rumah mereka. Dan ketika diberikan kotak kardus ini, ada juga lontaran-lontaran pintar dari anak-anak tersebut seperti “Kak,kalo rumah saya sekecil ini, ntar pengap donk?” dan lontaran itu jugalah yang membimbing mereka untuk menambahkan jendela-jendela di rumah mereka. Lalu bagian paling menarik dalam proses desaign ini adalah ketika mereka mendesign lingkungan rumah mereka. Di dalam kelompok saya terdiri dari 8 anak laki-laki, yang menurut saya merupakan anak-anak yang cukup kreatif, karena mereka membuat berbagai macam hal untuk lingkungan rumah mereka yang mereka anggap sebagai lingkungan yang sehat. Ada seorang anak yang membuat gunung yang dimaksudkan adalah bahwa dia menginginkan agar rumahnya dan rumah teman-temannya berada di daerah pegunungan yang mempunyai udara yang segar dan sejuk. Dan ada anak yang membuat pohon-pohon mereka sampai keatap, padahal yang saya yakin sekali sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka buat bisa dikatakan sebagai green roof.

Kreatifitas-kreatifitas mereka yang dipadu padankan dengan syarat-syarat rumah sehat yang mereka ketahui, membuat hasil design mereka menjadi sangat unik dan beragam. Dan kegiatan mempraktekkan secara langsung seperti ini membuat kegiatan ini menjadi lebih bermanfaat bagi anak-anak tersebut. Karena ketika mereka hanya diajarkan di dalam kelas mengenai rumah sehat, mungkin saja apa yang mereka dengar hanyalah lewat sesaat di dalam pikiran mereka. Namun ketika mempraktekkan ilmu tersebut, maka mereka akan lebih mengetahui bahwa syarat-syarat rumah sehat itu tidaklah hanya untuk dipelajari namun juga untuk dipraktekkan di rumah mereka yang ada sekarang.

Kegiatan ini menurut saya sebenarnya bertujuan untuk membentuk pola pikir anak-anak mengenai rumah sehat dengan menggunakan ilmu-ilmu arsitektur yang sederhana. Peran arsitek-arsitek yang terlibat dalam kegiatan inilah yang membuat ilmu-ilmu arsitektur itu dapat diserap oleh anak-anak SD itu. Dalam hal ini, arsitek tidak bertugas untuk mendesaign namun untuk menuntun anak-anak itu mendesign sendiri rumah sehat yang mereka inginkan. Uniknya dari kegiatan ini adalah dimana peran arsitek di dalam masyarakat tidaklah hanya selalu berperan untuk membuat sebuah intervensi arsitektur dalam masyarakat yang hasil akhirnya berupa bangunan, namun bagaimana arsitek juga dapat membuat intervensi arsitektur melalui pola pikir masyarakat tersebut. Sumbangan arsitek dengan ilmu-ilmunya tidaklah hanya selalu menghasilkan bangunan, namun juga bisa menghasilkan pola pikir masyarakat yang lebih baik mengenai lingkungan sekelilingnya.

26
Dec
08

Arsitek dan Publik

Kegiatan workshop Education Care Unit yang berlangsung pada tanggal 18 Desember 2008 dilakukan di salah satu SD yang terletak di daerah Srengseng Sawah. Kegiatan kali ini bertemakan “Rumah Sehat” dan sebagai sasarannya adalah para murid kelas empat. Mereka dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 6 anak. Mereka dibimbing oleh satu sampai dua orang fasilitator. Dimana fasilitator ini membimbing mereka untuk nantinya memahami apa dan bagaimana yang dimaksud dengan rumah sehat tersebut.

Kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian yakni  pertama mereka diberi pertanyaan terlebih dahulu mengenai rumah mereka masing-masing dan bagian kedua mereka diminta untuk membuat model dengan mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh dibagian pertama. Pada bagian pertama ini merupakan sebuah pengantar bagi mereka untuk memahami rumah sehat mulai dari lingkungan terdekat mereka. Mereka diminta untuk dapat mengenal lingkungan rumah mereka sendiri sekaligus menilai sejauh mana rumah mereka mampu memberikan kenyamanan bagi mereka yang tinggal di dalamnya. Terkadang kita merasakan sesuatu tetapi kita tidak pernah menyadari atau mungkin tidak peduli mengapa kita dapat merasakan sesuatu tersebut, apa yang sebenarnya membuat kita dapat merasakan demikian. Hal inilah yang menjadi pembahasan pada kegiatan workshop ini. Pertanyaan yang diberikan kepada para murid mencoba untuk menjadikan mereka berpikir kembali mengenai apa yang ada disekitar mereka yang paling dekat namun seringkali diabaikan.

Disini kami sebagai mahasiswa arsitektur mencoba untuk berpartisipasi dan terjun langsung ke dalam masyarakat yang dimulai dari sekelompok kecil dalam sebuah komunitas yaitu murid-murid sekolah dasar. Memberikan pengarahan dan pemahaman kepada mereka mengenai sebuah syarat bagi seseorang untuk dapat hidup dan tinggal dalam lingkungan yang sehat. Karena ketika seseorang memilih untuk berdiam/tinggal di suatu tempat, hal pertama yang mereka pertimbangkan adalah bagaimana tempat tersebut mampu mendukung dan memenuhi keberlangsungan hidup mereka dalam arti memberikan hidup yang sehat bagi mereka.

Untuk dapat mengerti dan memahami suatu rumah sehat, mereka sebelumnya harus mengetahui apa yang membentuk rumah sehat, unsur-unsur apa yang harus ada. Maka disini sebagaimana peran seorang arsitek mereka tidak hanya merancang sesuatu begitu saja tetapi bagaimana sesuatu itu nantinya mampu mendukung dan memberi manfaat bagi orang yang menggunakannya. Karena peran arsitek itu tidaklah terlepas dari manusia dan atau masyarakat, mereka akan selalu berhubungan dengannya. Oleh karena itu pada workshop ini, kami mencoba untuk memberi pemahaman apa saja yang diperlukan oleh mereka dalam kehidupan sehari-harinya demi kenyamanan  mereka tinggal. Apa yang mereka rasa nyaman, yang tidak nyaman dan mengapa demikian. Kami mencoba untuk membuka pikiran mereka, membiarkan mereka berpikir dari diri mereka sendiri. Dan dari situ kemudian mereka akan mulai memahami apa yang sebenarnya mereka perlukan dan bahwasanya secara tidak sadar apa yang mereka rasakan pada lingkungan rumah mereka adalah merupakan hasil dari proses merancang yang melibatkan diri mereka.

Berbekal dari pengetahuan yang mereka dapat, dimana pengetahuan tersebut mereka perolah berdasarkan pengalaman mereka sendiri, mereka kemudian diminta untuk mengaplikasikannya kedalam sebuah model rumah sehat. Dalam proses merancang bagi seorang arsitek, mereka memegang standar-standar tertentu yang terkait dengan kenyamanan bagi manusia yang tinggal di dalamnya, tanpa pengetahuan yang mereka miliki mungkin mereka dapat saja merancang semau mereka tanpa memperhatikan aspek manusia dari sudut pandang orang lain.

Maka dari itu sebagai seorang arsitek peran mereka akan selalu terkait dengan manusia didalamnya, arsitek sebagai orang yang memfasilitasi kehidupan mereka. Dan mereka perlu melibatkan masyarakat tersebut dalam proses merancang, memperhatikan seluruh aspek tidak hanya menurut cara pandang dan pikir mereka sendiri tetapi dari sudut pandang masyarakat (pengguna) nya sendiri.

26
Dec
08

Kolaborasi arsitek dan masyarakat dalam proses desain

Dalam kegiatan workshop bersama Education Care Unit saya mempelajari bahwa seorang arsitek tidak dapat menghasilkan sesuatu bagi masyarakat hanya berdasarkan apa yang dimiliki ataupun kemauan dari si arsitek itu sendiri. Workshop yang diadakan dengan sekelompok anak SD ini merupakan gambaran kecil tentang bagaimana arsitek dengan masyarakat berkolaborasi dalam sebuah proses desain untuk menghasilkan sesuatu. Pada sebuah proses desain, keterlibatan masyarakat menurut saya menjadi hal yang sangat penting selain arsitek yang merancang itu sendiri. Mengapa demikian? Karena disini, masyarakat sebagai user lah yang nantinya lebih akan merasakan apa yang dibuat itu. Dilain pihak, apa yang dibuat itu juga seharusnya merupakan apa yang mereka butuhkan. Dengan dilibatkannya masyarakat dalam sebuah proses desain, arsitek akan memahami apa saja yang terjadi pada masyarakat pengguna, bagaimana pola pikir mereka, juga apa yang mereka inginkan sehingga pada akhirnya apa yang dibuat itu tidak menjadi sesuatu yang tidak dikenal atau bahkan tidak dibutuhkan oleh masyarakatnya. Sementara itu, dengan dilibatkannya masyarakat dalam sebuah proses desain, mereka akan lebih memahami apa yang menjadi dasar pembuatan sesuatu. Adanya arsitek yang ikut berpartisipasi didalamnya juga membantu masyarakat untuk memahami hal-hal yang sebenarnya cukup penting untuk ada dalam suatu hasil desain tapi mungkin selama ini tidak disadari oleh masyarakat sehingga akhirnya dapat juga memberikan pemahaman baru bagi masyarakatnya. Partisipasi masyarakat dalam proses desain pada akhirnya juga membuat masyarakatnya memiliki keterikatan lebih terhadap produk desain yang dihasilkan karena terdapat sumbangan pemikiran mereka didalamnya.

Dalam workshop ini, saya yang bertugas sebagai fasilitator yang memimpin diskusi dengan sekelompok anak tentang rumah sehat. Diawal diskusi saya memancing mereka untuk berpikir tentang bagaimana kriteria sebuah rumah yang dikatakan sehat. Cukup beragam jawaban yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan selama diskusi ini. Pada proses diskusi ini juga saya meluruskan pengertian-pengertian salah yang selama ini dianut beberapa dari mereka. Selain itu dengan bekal materi yang diberikan mereka juga dituntun untuk memahami hal-hal baru tentang rumah sehat yang selama ini belum dimengerti, disadari dan dipahami. Inilah yang saya maksud dengan peranan arsitek terhadap masyarakat dalam proses desain. Berdasarkan pemahaman yang didapat, masyarakat dan arsitek bersama-sama dapat menyadari permasalahan yang ada dan kemudian juga mencari solusi untuk permasalahan yang dihadapi itu. Arsitek dan masyarakat dapat saling bertukar pemikiran untuk mencari solusi bagi masalah yang ada itu.

Pada tahap berikutnya setelah diskusi, peserta workshop diajak untuk membuat maket rumah sehat rancangan mereka sendiri dengan berbekal pengetahuan dan solusi yang sebelumnya dibicarakan dalam diskusi. Proses ini sebenarnya merupakan semacam simulasi dari proses pembangunan rumah sehat. Namun yang menarik dari proses ini adalah disini selain membuat rumah sehat sesuai kriteria yang dibicarakan sebelumnya, disini anak-anak juga dibebaskan untuk membuat dan menghias rumahnya sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Karena pembuatan rumah-rumah yang pada dasarnya menjawab keinginan mereka masing-masing, akhirnya saya melihat mereka sangat puas dan bangga dengan rumah-rumah rancangan mereka sendiri itu. Akibatnya rasa kepemilikan terhadap karya mereka sendiri pun tampak lebih tinggi. Hal ini dapat saya lihat perbandingannya pada anak yang benar-benar membuat sendiri rumahnya sesuai dengan keinginannya dengan seorang anak yang cenderung kurang aktif sehingga akhirnya rumah yang dibuat dibantu oleh teman-temannya. Anak yang kurang aktif itu tampak lebih tidak sebangga dan terikat dengan rumahnya itu dibandingkan dengan anak yang aktif ketika rumah-rumah buatan mereka itu dipamerkan.

Pada akhirnya, menurut saya proses ini akan berhasil bila tidak hanya arsitek, tetapi dari masyarakatnya sendiri juga berperan aktif sejak awal proses diskusi karena menurut saya proses diskusi ini merupakan proses yang sangat penting pengaruhnya karena disinilah tukar pikiran antara arsitek dan masyarakan sebagai ‘calon pengguna’ terjadi.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers