Archive for the 'community project' Category

25
Oct
11

To Develop The School Library as ‘The Heart of School’

“….”
Perpustakaan sebagai jantung sekolah. Ketika survey mata kuliah everyday and architecture ke SDN 3 Tanah Baru dan melihat kondisi perpustakaan di sekolah tersebut, saya tidak melihat sesuatu yang aneh. Namun rekan-rekan saya yang lain berkomentar perpustakaan itu sangat menyedihkan, seharusnya lebih diperhatikan, dan lain sebagainya. Mulailah terjadi perdebatan sengit di dalam pikiran saya.

Saya teringat masa-masa saya di sekolah dasar dulu, saya sangat suka bermain di halaman sekolah, bermain kelereng, bermain ‘cak-bur’, bermain tali, dan permainan yang menguras tenaga dan keringat lainnya. Sekarang, saya kesulitan mengingat bagaimana dulu interaksi saya dengan perpustakaan, bahkan saya tidak ingat secara pasti dimana posisi perpustakaan saya, apakah memang ada perpustakaan di sekolah saya? Entahlah. Yang jelas, melihat program pemerintah kemungkinan besar sekolah saya memiliki sebuah perpustakaan hanya saja tidak diberdayagunakan.

Bertolok dari kondisi ini saya mulai berpikir, sebenarnya pentingkah perpustakaan bagi siswa sekolah dasar? Apakah bocah-bocah penuh semangat itu menginginkan sebuah perpustakaan yang semua kita sebagai orang dewasa menganggapnya begitu penting?

Oke. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sekolah? Sekolah adalah tempat menuntut ilmu. Buku? Buku adalah sumber ilmu. Perpustakaan? Perpustakaan adalah gudang buku. Benang merahnya, sekolah membutuhkan perpustakaan. Bagaimana tidak?

Dari sudut pandang lain, sebagaimana yang kita tahu dan kita rasakan-(dulu), anak-anak sangat senang bermain. Dengan bermain ia juga belajar banyak hal, yang mungkin tidak akan didapatkannya ketika membaca buku. Di salah satu sumber, Dr. Paul Gunadi menyebutkan: dengan bermain anak dapat: melatih dan mengkoordinasikan fungsi fisiknya, belajar mengembangkan keterampilan bersosialisasi dan menaati peraturan, menghilangkan stres dengan cara sehat, melatih ketangkasan berpikir, mengembangkan daya kreatifitas, menerima kekalahan dengan sportif, mengembangkan daya saing, menumbuhkan kemampuan bersaing secara sehat, dan lain sebagainya.(http://www.telaga.org/audio/perlunya_manfaat_anak_bermain). Dengan alasan ini, masihkah perpustakaan menjadi sangat penting bagi adik-adik kita di sekolah dasar?

Jawabannya, tentu saja masih. Perpustakaan akan menjadi gerbang cakrawala berpikir mereka. Melihat dunia tidak hanya selebar daun kelor. De-el-el. Namun bagaimana dengan bermain? Seseorang di antara kita mungkin akan menjawab, ‘tentu saja harus diatur porsi antara bermain dengan membaca di perpustakaan’. Dengan cara seperti apa? Mari kita ingat kembali, sekolah dasar hanya memberi waktu 30mnit untuk jam istirahat. Jajan dan bermain saja atau jajan dan membaca buku saja akan melahap waktu 30menit itu dengan sangat cepat. Jadi pengaturan yang bagaimana yang seharusnya kita berikan? Apakah bermain setelah bubar sekolah? Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Bagaimana dengan orang tua yang menuntut anak untuk tidur siang? Belum lagi kewajiban anak membantu orang tua-jika memang hal ini masih berlaku di zaman ini-.

Begitu banyak hal penting dan bermanfaat -yang kita anggap mereka butuhkan- akan kita berikan kepada mereka, namun sering kali kita lupa melihat kondisi eksisting. Mungkin, Ladder of Citizen Participation. Mungkin, inilah solusi yang tepat. Kita tentukan pada tangga mana kita akan mengambil posisi. Dan pada tangga mana kita akan memberikan intervensi. Tentu saja bukan hal yang mudah, bukan juga tidak mungkin.

Selamat menggarap community project perpustakaan SD ini teman-teman :)

30
Dec
10

Communal Project in Kupo, 2010

“Ternyata mendefinisikan ruang itu susah dalam dunia nyata” Sekilas hal ini yang terbesit dalam pikiran saya ketika ikut terlibat dalam proyek pembangunan pusat informasi untuk sebuah komunitas masyarakat di sebuah pedesaan beberapa waktu lalu. Mengapa demikian ? Karena ternyata, ada banyak hal yang masih harus dipelajari dalam dunia nyata yang sama sekali tidak saya dapatkan di bangku kuliah, sebut saja studio bagi anak arsitek. Apalagi kita dihadapkan pada skenario yang semakin kompleks prosesnya, mulai dari mengenal klien (masyarakat), mengutarakan maksud, survey lingkungan, menemukan isu, mendesain, menemukan material sendiri hingga membangun bersama masyarakat. Sulitnya adalah bahwa kita harus berhadapan dengan masyarakat yang benar-benar awam akan dunia desain dan kearsitekturan. Oleh karena itu, kita pun harus belajar bagaimana menyetarakan level komunikasi kepada mereka agar dapat dipahami dan diterima, belum lagi kalau menyangkut perbedaan bahasa diantara kita. Sehingga sebaiknya harus ada penerjemah karena khawatir akan terjadi beda persepsi kepada masyarakat. Namun, hal itulah yang kemudian menjadikan proyek ini sebagai sebuah proyek yang menantang, dalam artian berbeda dengan kasus-kasus seperti biasanya. Terlebih lagi, saat mencari material yang akan digunakan untuk membangun, saya harus ikut bersama warga menyusuri jurang-jurang dan turun ke kali  yang berada di belakang rumah warga untuk mengambil bambu. Sungguh usaha dan semangat yang keras bagi kami untuk merealisasikan ide proyek ini.  Tetapi, disitulah seni dan proses belajar yang saya dapatkan, bisa mengetahui bagaimana proses komunikasi kepada sebuah komunitas masyarakat yang terdiri dari berbagai kalangan, semisal tingkat RW, RT, tokoh masyrakat, pemuka agama, dan karang taruna desa. Lalu yang tak kalah unik dan sulit adalah bagaimana belajar menempatkan ruang ide kita hadir dalam ruang mereka. Karena kita tidak bisa memaksakan ide dan intervensi desain yang kita punya  langsung diterapkan pada wilayah mereka. Persoalan tempat pun menjadi salah satu kendala yang cukup sulit waktu itu karena harus mencari lokasi yang sesuai dengan isu dan desain yang kita gagas. Namun, setelah kami buat desainnya ternyata kondisi di lapangan berbeda. Ada hal-hal lain yang tidak dapat menjadi jangkauan kami, seperti warga yang tidak bersedia halaman rumahnya menjadi lokasi desain padahal disitulah spot isu yang kami temukan berdasarkan data dan analisis survey. Diskusi pun menjadi andalan forum kami dengan bahasa super sederhana agar maksud dan tujuan kita tersampaikan. Dan akhirnya, dengan bantuan penerjemah/perantara ke masyarakat diputuskanlah lokasi akan dibangunnya desain ini, yaitu di depan rumah Pak RT. Waktu membangun pun dimulai kurang lebih sekitar seminggu bersama warga. Dan sekarang proyek ini sedang aktif dijalankan oleh karang taruna desa Kupo yang diisi dengan berbagai program keterampilan desa. Itulah sekelumit hal unik dan pengalaman bagaimana proses desain dan ruang yang tidak saya dapatkan di studio perancangan. Bagaimana dengan Anda ?

20
Nov
10

perlukah?

Ini adalah pengalaman yang saya peroleh dari kegiatan survey dan workshop di area Semper Barat, Jakarta Utara, dalam rangka melaksanakan tugas community project mata kuliah Keseharian dan Arsitektur.

Survei yang dilakukan terhadap site cukup mendalam. Survei terhadap keseharian warga, meskipun jumlah warganya hanya di satu gang saja, membutuhkan data yang benar-benar terbukti ada di site, tidak bisa memakai asumsi. Bahkan setiap jenis storage (ember) didata jumlah dan fungsinya. Akan tetapi sepertinya warga gang tersebut terlihat kurang antusias dengan adanya perhatian terhadap ruang servis mereka. Saat kami melakukan survei pertama kali, mereka terlihat berharap jika kami merupakan tim, sebut saja, Bedah Rumah atau berharap kami membagi-bagikan uang kepada mereka. Hal ini membuat saya berpikir kembali, apakah intervensi terhadap ruang servis di gang ini benar-benar dibutuhkan warga atau tidak. Atau warga di gang ini yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Lalu, saya bertanya lagi pada diri saya sendiri, apakah mungkin orang lain (dalam hal ini kami sebagai pihak yang melakukan survey) dapat lebih mengetahui kebutuhan mereka (warga di gang tersebut) daripada diri mereka sendiri? Mungkin kita dapat menganalisa bahwa pada gang yang menjadi area servis mereka ini memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan dan kita berusaha menyadarkan mereka. Namun, jika warga merasa fine dengan hal tersebut, haruskah hal ini tetap diangkat sebagai isu?

Sedangkan pada saat kegiatan workshop, yang terjadi adalah kami merasa sulit berinteraksi dengan warga penghuni kontrakan, terutama saat kegiatan “menuliskan urutan kegiatan yang dilakukan warga saat melakukan kegiatan servis”. Warga terlihat bingung dengan urutan kegiatan yang mereka biasa lakukan. Mungkin mereka sudah sangat terbiasa dengan apa yang harus mereka lakukan setelah melakukan suatu kegiatan tertentu, sehingga mereka tidak perlu mengingatnya lagi. Pada bagian ini kami terpaksa memberikan kata-kata yang dapat memicu warga, namun saya melihat hal ini menjadikan informasi yang didapat kurang murni hasil pemikiran warga. Warga juga menjadi tidak betah dengan keadaan ini. Mereka terlihat bingung dengan apa yang sedang mereka lakukan dan ingin cepat-cepat menyudahi kegiatan ini.

Namun tidak demikian halnya dengan kegiatan berikutnya pada workshop, yaitu peserta (warga) menancapkan bendera yang bergambar beberapa kegiatan servis yang mereka lakukan pada maket gang tersebut skala 1:20. Mereka terlihat antusias dan saling berdiskusi serta mengingatkan satu sama lain. Dari kegiatan ini kami memperoleh informasi berupa zoning tempat mereka berkegiatan. Kegiatan ini terlihat menyenangkan karena tidak menggunakan proses yang sulit namun dapat membantu warga melihat ruang tempat mereka tinggal dan berkegiatan servis dari sisi lain. Dari pengalaman ini saya melihat pentingnya pemahaman yang baik akan kondisi para peserta workshop. Kita harus tahu kemampuan lisan dan tulisan mereka, sehingga kegiatan yang dilakukan menyenangkan dan tidak membutuhkan proses yang sulit dicerna oleh warga. Pemahaman akan pola pikir mereka juga dapat membantu untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan warga di salah satu gang di Semper Barat ini.

 

31
Oct
10

pemimpin bukanlah tumbal

Beberapa minggu yang lalu, saya berkesempatan untuk kembali mendatangi site kelompok saya untuk kedua kalinya, yakni di jatinegara kaum, untuk mengadakan partisipasi mengenai projek ini dengan warga sekitar.  Kebetulan saat itu saya dan dua orang teman saya mendapat bagian untuk bertanya terhadap kaum bapak mengenai tempat berkumpul macam apa yang mereka inginkan.  Beberapa bapak-bapak cukup supportif, mereka dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan, beberapa juga sempat bercerita mengenai keadaan di pemukiman tersebut, yang dapat membantu tugas kami.  Namun, ada beberapa yang ternyata kurang supportif.  Ketika kami mendatangi sebuah tempat cukur dimana saat itu sedang sepi pelanggan,bapak-bapak yang tadinya sedang duduk-duduk santai malah segera pergi begitu melihat kami.  Ada pula seorang bapak yang menjawab, “Jangan tanya saya, saya tidak tahu apa-apa, tanya saja sama Pak RW, itu urusannya dia”.  Mendengar kalimat itu saya mulai berpikir, berapa banyak penduduk daerah itu yang berpikir seperti bapak-bapak ini? Padahal ruang berkumpul itu akan dibangun untuk penduduk, bukan untuk Pak RW seorang.  Pak RW bukanlah seorang yang mengetahui segalanya tentang seluruh warga, ia hanya bertugas memimpin dan mewakili warga sekitar.  Keputusan mutlak tidalah dipegang seorang pemimpin, namun dari suara rakyat.  Yang saya khawatirkan adalah, ketika projek tersebut dibangun dan beberapa warga protes terhadap pembangunan tersebut, mereka akan menyalahkan si pemimpin, yang dalam hal ini adalah Pak RW, padahal dalam prosesnya mereka tidak mau memberikan pendapat mereka.   Seorang pemimpin bukanlah tuhan yang tahu segalanya, bebas dari kesalahan.  Kita sebagai warga harus bersikap supportif terhadapnya.  Partisipasi warga disini sangatlah penting, karena yang terpenting bukanlah apa yang secara fisik nantinya dibangun, namun apa pengaruhnya terhadap warga sekitar.

27
Oct
10

Manusia dan Arsitektur

Ketertarikan saya untuk mengambil mata kuliah everyday and architecture bermula dari keingintahuan saya tentang beragam fenomena-fenomena kejadian sehari-hari yang sering terlupakan oleh kita semua. Kalau kita kembali merunut apa itu arsitektur, mungkin kita akan menemukan jawabannya. Jika kita memberi pertanyaan orang awam, apa itu arsitektur pasti jawabannya adalah bangunan. Namun menurut saya sebagai mahasiswa arsitektur, sejauh ini saya belajar, arsitektur merupakan ilmu tentang manusia. Bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya, berinteraksi dengan sesamanya, dan alam. Setiap tindakan, sebenarnya manusia secara tidak sadar menciptakan ruang dan menjadi fenomena yang bisa terjadi dalam kurun waktu yang sering atau tertentu. Aristektur tidak hanya milik orang yang memiliki banyak uang untuk membuat rumah minimalis dan mewah, bukan milik para developer dengan puluhan proyek perumahannya. Arsitektur milik semua manusia yang bertindak menciptakan ruang.

Saya mencoba menghubungkan fenomena keseharian ruang dengan proyek mata kuliah everyday and architecture, yaitu community center jatinegara. Menurut hasil survey, mereka sering berkumpul di  pinggir jalan. Mereka sebenarnya memproduksi ruang secara tidak sadar. Mungkin mereka memiliki kebutuhan yang tidak mereka tidak sadari padahal mereka melakukannya setiap hari yaitu kebutuhan bersosialisasi. Banyak hal yang membuat mereka mungkin tidak terlalu memikirkan hal itu, seperti golongan ekonomi menangah yang lebih memprioritaskan kebutuhan mencari uang untuk tetap bertahan hidup. Kebutuhan sosialisasi sebenarnya memiliki efek yang cukup signifikan terhadap mereka. Dengan mengolah ruang sosialisasi menjadi lebih efektif mereka dapat menigkatkan taraf kehidupan mereka. Mereka dapat bertukar pikiran,saling membantu dan akhirnya dapat menyelesaikan persoalan–persoalan baik yang terjadi dalam diri mereka sendiri maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Pengolahan ruang yang baik  yang diproduksi manusia akan menghasilkan dampak positif bagi peningkatan taraf hidup manusia. Bukankah itu sebenarnya tugas arsitek? Profesi arsitek yang terbilang “keren” dimasyarakat mengisyaratkan seolah-olah arsitek hanya berkecimpung pada proyek kelas mewah. Everyday and architecture mencoba melihat arsitektur secara lebih luas dan dalam arti sebenarnya bahwa arsitektur itu miliki semua golongan manusia.

27
Oct
10

catatan perjalanan. keseharian. kupo, cepogo, boyolali.

catatan perjalanan. keseharian. kupo, cepogo, boyolali.

oleh buyunganggi

30 09 2010

. hari pertama…

. sampe rumah pak bayan sekitar jam 11an. Istirahat. Sambil nungguin pak pri, pemilik penginanpan yang sama waktu kita nginep bulan juli kemaren (pas survei data).

. sempet ragu… mau nginep di rumah pak bayan, deket sama warga rt 01, gampang kemana-mana, tapi takut ngrepotin pak bayan. Atau nginep di tempat pak pri (showroom yang ada kamar penginapannya) yang jauh dari pemikiman warga (kurang lebih 200m), susah jika mau berinteraksi sama warga, tapi bisa bebas/begadang dan ngga ngrepotin pak bayan.

. akhirnya mutusin nginep di rumah pak pri.

. jam 5 sore kita diundang ke rumah pak pri di tumang (dukuh yang berbatasan langsung dengan kupo) untuk makan malam. Naek motornya pak bayan.

. sampe sana. Ngobrol. Nonton tv. Makan malem. Pas mau dianterin balik ke penginapan(di kupo), kita minjem sepeda motornya pak pri, buat transportasi nanti. Biar ga repot.

. jam 8 malem ke penginapan. Sekalian ngambilin barang yang kita titipin tadi di rumah pak bayan.

. jam 9 malem sampe penginapan. Istirahat. Sambil nyusun rencana buat sminggu ke depan.

01 10 2010

. bangun kesiangan. Jetleg.

. mandi. Sholat jumat. Ktemu pak rt (kemaren uda di kasitau sama pak bayan).

. ngobrol sama pak rt. Bahas rencana pembangunan ruang komunalnya, sekilas. Beliau bilang “nanti malem aja ngumpulin warganya.” Dan beliau berkenan menyediakan tempatnya, di rumahnya.

. kembali ke penginapan, bersiap presentasi desain dan rencana kerja ke warga.

. jam 7 malem kami berangkat ke rumah pak rt, masi sepi, kami jemput pak bayan dulu. Sambil ngobrol-ngobrol, mengutarakan desain dan rencana kerja awal. Pak bayan menyambut baik dan antusias.

. jam stengah 8 berangkat bareng pak bayan ke rumah pak rt.

. beberapa saat setelah sampe, langsung mulai presentasi. Sebelumnya pak rt meminta maaf karena banyak warga rt 01 yang ijin menjenguk kerabat yang sedang di rmah sakit. Malem ini ada sekitar 20an orang. Termasuk beberapa pemuda perwakilan karang taruna.

. putera presentasi.

. abis itu tanya jawab. Nyusun rencana kerja bareng warga. Pak bayan yang mimpin, tapi kami juga nawarin rencana kerja.

. akhirnya pak rt meminta kesediaan karang taruna untuk menggerakkan anak muda buat bergotong-royong, pak rt ngajakin yang tua-tuanya.

. agenda selanjutnya tentyang lokasi nyai 80 batang bambu.

. ternyata mas sis punya di belakang rumahnya (mas sis: mantan ketua karang taruna, 30 tahun, single). Rencananya besok pagi kita nebang bareng-bareng ke sana.

. musyawarah selesai. Hasilnya: tempat fix di depan rumah pak rt, warga bersedia menyumbangkan tenaga untuk membantu membangun ruang komunal, besok nyari bambu bareng-bareng di belakang rumah mas sis(1 batang rp. 7.000,-).

. warga pulang. Kami masih di rumah pak rt. Bantuin beres-beres, sambil ngliatin hasil penelitian yang di mojosongo ke pemuda-pemuda karang taruna yang klihatannya sangat antusias. Mas sis. Mas haryanto. Mas panut. Mas aris. Dan mas-mas lainnya.

02 10 2010

Jam 6.30 – 8.30

. bangun pagi – setelah semaleman ngitung material, harga, dan jumlah – . beres-beres kamar. Cuci muka. Dan sarapan.

. bertiga (gua, miktha, putera) berangkat menuju lokasi pennebangan bambu. Hutan bambu belakang rumah mas sis.

Jam 8.30 – 10.30

. sampe di lokasi – jurang. Ternyata sudah ada 6 orang (pak rt, pak ?, mas sis, mas juli, mas panut, mas aris) dan beberapabambu yang sudah dipotong ukuran 420 cm (harusnya 450, buat kolom-kolom utama).

. kami pun membantu. Potong-potong. Membersihkan bambu. Angkat-angkat. Poto-poto.

. 19 batang bambu (@rp. 7.000,-) pun berhasil dipotong dan diangkat dari jurang.

.nb: jenis bambu: bambu jawa (legi), warna ijo agak cerah, kekuatan belum diketahui, jarak antar ruas lumayan beraturan, diameter antara 6 – 10 cm.

Jam 10.30 – 11.00

. break. Minum teh. Ngobrol. Ngomongin rencana slanjutnya bareng 6 orang tsb (di rumah mas sis).

. rencana slanjutnya: nglanjutin nebang jam 13.00

Jam 11.00 – 14.00

. balik ke penginapan. Ngecekin jumlah dan harga material sebelum ke pasar cepogo (beli material).

. putera ngutak-atik desain lagi. Ukuran seng yang tersedia: 80 x 300 cm dan 80 x 210 cm.

.ke pasar cepogo, toko material. Nge-fix-in ukuran seng buat nge-fix-in desain atap. Konfirm ke putera. (nb: gua sama miktha yang ke pasar).

. sekalian pesen material buat besok. Pasir. Semen. Paku. Multiplek. Amplas. Tali ijuk. Seng.

. suruh nganter ke rumah pak rt besok pagi.

. nyari tabak (gedek yang kecil dan tipis) ke dalam pasar cepogo. Dapet. Setelah tanya putera (disesuaikan sama desain), akhirnya beli 8 buah yang ukuran 3 x 1,5 m (@rp. 27.500,-). Skalian dianter besok, nitip toko besi.

. beli makanan. Jajan.

. balik ke penginapan. Makan. Sholat. Siap-siap ke lokasi penebangan bambu lagi. Putera ngerjain gambar buat besok (supaya bisa diliat sama warga besok. Di print).

. gua, miktha balik ke lokasi hutan bambu.

Jam 14.00 – 16.30

. sampe di lokasi. Ketemu mas sis, pak rt, mas panut, mas aris. Mereka ngangkutin bambu dari hutan bambu ke depan rumah mas sis. Kami membantu.

.mas sis menyarankan “ga mungkin nebang bambu lagi di tepi jurang, ntar bambunya jatoh ke bawah, kita susah lagi ngangkutnya. Mending besok cari lokasi yang lebih memungkinkan.”

. karena sudah sore, kami tidak melanjutkan nebang (dannjuga karena aasdan yang diungkapkan mas sis). Akhirnya ada temen mas sis yang datang. Lalu mas panut sama temen mas sis tadi minjem mobil bak. Dan bambu pun diangkut ke site (rumah pak rt).

. sampe rumah pak rt. Nurunin bambu. Poto-poto site lagi. Ngobrol. Minum the lagi. Bahas rencana kerja buat besok.

. kata pak rt “dateng jam stengah 8an aja, ntar mas-mas biar bisa ngasih pengarahan ke warga yang mau ngerjain bangunannya.”

03 10 2010

Jam 6.30 – 7.30

. bangun. Cuci muka. Makan roti. Minum kopi. Siap-siap.

. pak rt dateng , mau ngebangunin niatnya. Tapi kami udah bangun. Nelpon toko material buat konfirmasi nganterin bahan-bahan yang udah dibeli kemaren.

. gua sama miktha berangkat. Putera masi ngeberesin gambar bentar.

Jam 7.30 – 12.00

. sampe lokasi. Warga udah lumayan banyak yang dateng. 15an orang kira-kira. Lagi ngeratain tanah, angkatin batu-batu, bersihin bambu.

. gua diskusi sama pak rt bentar, rencana kerja. Sambil nungguin material dateng. Miktha poto-poto.

. ternyata perlu beli solar, buat ngebakar ujung bawah bambu, diawetin, biar ga dimakan hama. Kata pak rt. Gua pun beli solar tapi nyamperin putera dulu, ngambil gambar yang mau di print.

. gua ke pasar cepogo. Beli solar. Ngerprint gambar.

. balik ke penginapan, ngambil putera, menuju ke lokasi lagi.

. sampe lokasi, putera nunjukkin gambar ke warga, ngejelasin. Ternyata ada 2 orang yang lumayan ngerti dan bisa ngebantuin ngarahin warga-warga lainnya. Adalah pak slamet (40 th) dan mas haryanto (25 th) yang mengarahkan dan memimpin proses pendirian kolom-kolom utama.

. kerja rodi ….

. semua material siap. Ada beberapa grup.

(1)    Beberapa pemuda nebang bambu lagi, di awal-awal, langsung bawa ke lokasi.

(2)    Pak rt sama beberapa bapak-bapak ngawtin bambu-bambu yang mau dijadiin kolom utama. Cara ngawetin: ujung bawah bambu yang au ditnam di tanah disiram solar dan dibakar sampe menghitam kulit luarnya. Cara pengawetan ini ditemukan sendiri oleh pak rt atas eksperimen beliau pula.

(3)    Pak slamet, pak bayan, mas haryanto, dan beberapa lainnya(termasuk gua dan putera) mengerjakan kolom-kolom utama. Langkah awalnya, siapin bambu-bambu ukuran besar(diameter 10 cm). setelah diawetin, diukur sepanjang 4500 cm, ambil 4 batang, gotong rame-rame, masukkan ke lbang-pondasi yang telah dibuat sebelumnya. (sebelumnya, grup ini juga telah mengukur lokasi, menandai, menggali lubang untuk kolom-kolom utama). Setelah dimasukkan, diukur, jarak antar 4 bambu(1 kolom utama) tsb, 10 cm. duluruskan. Diberi penyangga, dan dicor(semen, pasir, batu kali).

. break sekitar jam 11an. Makan. Minum. Udah berdiri 1 kolom utama (4 buah bambu, diameter 10 cm, tinggi 4500 cm).

Jam 12.00 – 14.00

. istirahat. Balik ke penginapan. Makan. Rencana awal kembali ke lokasi jam 1an, tapi hujan pun turun.

. ternyata jam 2 kurang dikit hujan reda. Balik ke lokasi.

Jam 14.00 – 17.00

. sampe lokasi baru ada pak slamet sama mas haryanto, bersama pak rt tentunya. Beberapa saat kemudian 5 orang lagi datang.

. kita nglanjutin ngeberdiriin kolom-kolom utama. Masi ada 5 kolom utama lagi.

. sore ini Cuma ada 6-7 orang, sampe jam 5 sore. Akhirnya kami berhasil mendirikan ke-6 kolom utama.

. nb: pelajaran hari ini…

(1)    Pagi-pagi, pas di awal kerja rodi, mas haryanto(lulusan UNS, kerja di PMI, ketua karang taruna) bilang ke putera kalo kemaren dia telah mengajukan proposal ke perpustakaan daerah untuk pengadaan buku-buku yang akan ditempatkan di bangunan ini nantinya.

. warga antusias, menyambut baik niat kami, berinisiatif memberikan sumbangan positif terhadap apa yang kami coba lakukan.

(2)    Pak bayan dan pak rt mengajukan saran  ke kami mengenai sistem pengadaan bambu. Kata mereka, tiap kk di rt 01 disuruh membawa 2 batang bambu(jika punya, tapi kebanyakan punya), biar ga repot. Dan uang hasil tebusan bambu tersebut akan dimasukkan ke kas rt. Warga pun menyambut gembira ide tersebut.

. warga(pak bayan, pak rt) mengeluarkan ide/solusi yang sangat baik ketika kami kesulitan mencari bambu. Respon positif dari warga, niat baik kita direspon dengan cukup baik.

04 10 2010

Jam 6.30 – 8.00

. dibangunin pak rt. Telat bangun. Siap-siap. Ga sempet sarapan.

. menmuju lokasi.

Jam 8.00 – 11.30

. nglanjutin kerja.

. ada dua kelompok pekerja: (1) bapak-bapak membuat rangka atap dan kolom-kolom tambahan, (2) pemudanya nyari tambahan bambu.

. hari ni cukup rame. Kira-kira 15an orang pas pagi-pagi diitung.

. motong bambu, ngkur, ambil tangga, ukur tingginya, naek tangga, paku dan palu, jadi deh rangka atap. Begitu seterusnya.

. pak slamet dkk ternyata sudahcukup tahutentang desainnya. Hari ini ga banyak yang harus putera dan gua jelasin ke warga.

. lebih dari setengah dari keseluruhan rangka atap terpasang sampe siang ini.

Jam 11.30 – 12.00

. break.

. ngobrol-ngobrol, becandaan, ketela rebus, pisang goreng, teh manis.

. nelpon took material, mesen pasir sama semen tambahan.

Jam 12.00 – 13.30

. istirahat ke penginapan. Makan siang. Tiduran bentar.

. belanja kebutuhan sehari-hari di pasar cepogo (sama miktha).

. balik ke penginapan. Beres-beres. Cabut lagi ke lokasi.

Jam 13.30 – 17.00

. mampir ke warung. Beli minuman dan rokok buat pekerja.

. ngerjain lagi. Siang ini ada sekitar 10an orang.

. ada yang motongin bambu sesuai ukuran. Ada yang gali lubang buat kolom tambahan. Ada yang  masang rangka atap dan kolom-kolom tambahan yang belum terpasang(dipimpin pak slamet).

. kehabisan paku. Gua sama putera cabut ke pasar cepogo, beli paku sekaligus cek harga dan ketersediaan kawat(buat tanaman rambat) dan multiplek(buat rak buku).

. pas di cek, multiplek ada (ukuran 1200 x 2400 cm @rp. 125.000,-) tapi kawat 2 cm ga ada. Pikirin ntar malem.

. balik ke lokasi.

. nglanjutin kerja.

. sampe sore, rangka atap terpasang. Kolom tambahan kurang 5 titik(dari 11 titik).

05 10 2010

Jam 7.00 – 9.00

. bangun siap-siap. Miktha beres-beres, dia mau pulang ke depok pagi ni.

. jam stengah 8 putera berangkat dulu ke lokasi, gua nungguin miktha beres-beres lalu mau nganterin dia ke pool bus di pasar cepogo.

. nganterin miktha. Sebelumnya dua sama miktha juga ke rumah pak rt, buat pamitan ke pak rt, pak bayan, dan warga.

. miktha pulang.

. ditelepon putera, suruh beli tali ijuk lagi, kurang.

. beli tali ijuk(di pasar cepogo). Trus langsung ngambil peralatan di penginapan dan menuju lokasi.

Jam 9.00 – 10.30

. sampe di lokasi ada sekitar 10an orang lagi nglanjutin kerjaan.

. ada yang mulai ngiket pertemuan-pertemuan bambu. Ada yang nerusin kolom-kolom tambahan. Ada yang ngukur kolom-kolom kecil buaat pondasi amben(tempat duduk).

. sekitar jam 10an banyak yang ijin karena ada hajatan, tingal 3-4an orang, gua, putera. Akhirnya sisanya nglanjutin ngiket-ngiket. Gua sama putera ke penginapan bentar, mau ngitung multiplek yang dibutuhin dank e pasar lagi.

Jam 10.30 – 13.00

. ke penginapan. Istirahat bentar. Makan. Ngitung jumlah kebutuhan multiplek buat rak buku, nyesuain desain lagi.

. ke pasar cepogo. Beli multilek 2 lembar, tali ijuk 10 iket, varnish 2 kaleng(dulu), sam kuas.

. makan bakso.

. menuju lokasi lagi.

Jam 13.00 – 17.00

. sampe lokasi udah lumayan rame lagi, 10an orang lah.

. nglanjutin kerja.

. mas-mas bagian tali-temali. Bapak-bapak nglanjutin bikin pondasi amben. Kakek-kakek motong-motong bambu sesuai ukuran.

. break bentar sekitar jam 3an. Makan-makan. Minum. Ngerokok. Ngobrol.

. putera tiba-tiba pusing(masuk angin kayaknya). Dia balik bentar ke penginapan, ntar jam 5an balik lagi jemput gua.

. abis break, nglanjutin kerja lagi. O iya, siang ini pak slamet dating setelah pas sesi pagi – siang beliau ga dating karena pergi ke hajatan. Jadi, kerjaan lumayan kepegang lagi. Ga perlu ngarah-ngarahin yang terlalu banyak. Akhir-akhir ini emang warga udah lumayan paham sama desain. Paling kalo agak ragu/belum tahu, mereka baru nanya.

. ada diskusi kecil yang agak panjang sore ini.

(1)    Menurut mereka, jarak pondasi amben(kolom-kolom pendek) yang dibuat putera terlalu deket, boros bambu ntar. Hasil diskusi (masih ada putera) mengerucut ke solusi mereka. Pondasi/klom-kolom pendek yang menopang amben, yang harusnya ada 3 biji tiap satu beam(bambu horizontal, disangga oleh pondasi), brubah jadi 2 biji. Kami memutuskan memakai 2 biji karena memang jarak antar kolom cuma sekitar 80an cm, dengan diameter pondasi yang sekitar 10 cm, kami pikir hal ini cukup aman.

(2)    Mengenai ‘bantalan’ tempat duduk(amben), yaitu bambu-bambu horizontal di atas pondasi. Harusnya ada 3 lapis: bambu-bambu utuh, bambu-bambu separoh, baru alas duduknya(galar, bambu yang diancurin/dipecah kecil-kecil secara vertikal). Tapi mereka maunya langsung aja pake bambu separoh sama alas duduk doang. Akhirnya mereka nurut kali ini, gua jelasin kao cuma bambu-bambu separoh yang dijadiin bantalan, dengan jarak yang cukup longgar, maka di titik-titik tertentu akan rapuh jika diinjek. Jadi lebih aman jika pake yang 3 lapis.

06 10 2010

Jam 6.30 – 7.00

. bangun. Ternyata putera udah bangun dari jam 3an pagi tadi, nyiapin presentasi.

. hari ini ada presentasi tentang apa yang kami kerjain, tentang ruang komunal ini, di kantor bupati boyolali. Putera pergi bareng pak bayan. Jadi, gua sendirian hari ini.

Jam 7.00 – 11.30

. brangkat ke lokasi. Udah rame banget. Parah. Ada 15an orang kali.

. putera pamit sama pak rt dan warga, mau ada presentasi tadi. Dia nyamperin pak bayan ke rumahnya.

. ada banyak orang hari ini. Banyak yang harus dikerjain emang. Ngiket-ngiket bambu. Bikin pondsi amben. Bikin glagar(beam buat amben) dan galar(alas duduk di amben). Masan seng(atap).

. kerjaan banyak. Tapi rame. Pas banget. Gua poto-poto doing hari ini, karena Cuma sendiri, ntar ga ada yang dokumentasiin.

. pagi ini semua lebih fokus ke tempat duduk dulu (pondasi, struktur, maupun alasnya).

. kerja…

. break bentar. Nge-teh. Ngobrol.

. nglanjutin kerja sampe stengah 12an.

Jam 11.30 – 13.00

. pulang ke penginapan. Istirahat. Makan.

. putera pulang dari kantor bupati. Slese presentasi.

. tiduran bentar. Balik lagi ke lokasi.

Jam 13.00 – 17.00

. nglanjutin kerja.

. tepat duduk sedikit lagi. Sambil nglanjutin bikin galar, sebagian pekerja mulai nyicil masang atap seng.

. galar dikerjain sama kakek-kakek yang udah berpengalaman sepertinya. Lumayan memerlukan tangan-tangan yang terampil sepertinya.

. sampe jam 5 sore, tempat duduk slese. Atap seng udah kepasang, tinggal nutup-nutupin bagian yang bolong pake talang seng.

07 10 2010

Jam 6.00 – 7.00

. bangun pagi. Siap-siap. Nge-teh. Cuci muka. Ganti baju kerja.

. brangkat ke lokasi, mampir beli rokok.

Jam 7.00 – 12.00

. kepagian. Baru ada pak rt. Sarapan bihun dulu, disiapin pak rt. Kami bersih-bersih bambu. Pak rt motong bambu lagi di belakang rumahnya. Gua bantuin ngangkat.

. jam 8an pak slamet dating, disusul mas gendut. Nglnjutin masang tiang tambahan buat tanaman rambat.

. putera lagi bereksperimen sama bambu-bambu sisa. Gua lagi nyoba bikin dan masang bambu-bambu separoh buat nahan tampias aer hujan.

. sampe jam 12an cuma gua, putera, pak rt, pak slamet, sama mas gendut. Soalnya hari ini hari pon(penanggalan jawa), makanya orang-orang lagi pada ke pasar buat jual hasil ladangnya.

Jam 12.00 – 14.00

. istirahat. Tidur. Solat. Makan.

. brangkat lagi.

Jam 14.00 –1 7.00

. sampe lokasi udah rame. Ga kayak tdi pagi. Udah pada pulang dari pasar mungkin. Ada sekitar 10an orang.

. soreini targetnya adalah masang instalasi listrik sama tabak(sejenis gedek/anyaman bambu tapi tipis, buat insulator panas, dipasang di bawah atap seng), biar nanti malem bias buat nongkrong.

. gua sama putera belanja dulu. Kabel, saklar, colokan, lampu, talang aer, sama tali ijuk lagi.

. abis belanja langsung pak slamet dkk masang instalasi listriknya. Cobain. Dan nyala.

. mereka nglanjutin masang tabak. Agak ribet dan lama karena si tabak perlu dibikinin struktur dulu baru bias dipasang/dipaku ke rangka atapnya. Jadi, ada yang bikin struktur struktur tabak dan ada yang ngukur-ngukur kebutuhan tabak dulu.

. gua masih nglnjutin masang bambu-bambu penahan tampias.

. putera masih ngumpulin bambu-bambu sisa, pendek, buat dijadiin hiasan/penutup beberapalubang di beberapa area bangunan, sambil poto-poto.

. break bentar. Minum teh. Makan bihun. Gorengan. Lanjut sampe jam 5an.

. jam 5 sore. Listrik udah ada. Tabak kepasang separoh. Penahan tampias juga udah separoh, di 1 tempat(dari 4 tempat).

08 10 2010

Jam 7.30 – 8.00

. bangun kesiangan. Sia-siap. Langsung brangkat.

Jam 8.00 – 11.00

. sampe lokasi udah rame parah. Gua itung ada 15 orang. 17 plus gua sama putera. Mungkin gara-gara sepi kali ya. Pak rt ngabar-ngabarin warga lagi. Mungkin.

. hari ini targetnya nyelesein tabak.

. beberapa orang bikin tali buat struktur tabak. Beberapa lagi bikin strukturnya. Ada yang masang dan nganyam struktu plus tali tadi ke tabaknya. Dan yang utama(pak sungadi dkk) masang tabak ke struktur atap.

. kerja…

. break sekitar jam 9. Sarapan bareng. Soto ayam. Rame. 17 orang makan bareng.

. lanjutin kerja. Sampe jam 11an. Tabak pun udah terpasang. Tinggal ngrapihin aja.

Jam 11.00 – 13.30

. istirahat. Sholat jumat. Makan. Belanja buat stok material karena minggu sore rencananya kami balik ke Jakarta. Jadi, mau beliin semua keperluan. Biar nantinya bias dilanjutin sama warga pas kami pulang.

. semen. Multiplek. Paku. Cat. Varnish. Amplas. Tali ijuk. Dll.

Jam 13.30 – 17.00

. kerja lagi…

. o iya, tadi(sesi pagi-siang) saking ramenya gua ga kebagian kerja. Cuma pot-poto doing. Sekarang gua bias kerja lagi, nglnjutin instalasi pencegah tampias. Siang ini ada sekitar 6-7an orang. Ya mungkin yang udah dateng sesi pagi-siang, sesi siang-sore digunain buat ke lading. Yang tadi ke ladang, gantian sekarang dateng. Pak bayan ngomong gitu.

. pak slamet dateng sore ini. Beliau nglanjutin ngrapihin tabak. Ada yang motong-motong bambu buat instalasi pencegah tampias. Gua yang masang.

. tabak slese dipasang.

. pak slamet nglnjutin motong-motong multiplek buat rak buku. Dibantu yang laen. Dengan pengarahan putera tentunya.

. gua masih dengan instalasi pencegah tampias, sementara putera dengan bambu-bambu sisanya.

. pak rt kerja serabutan. Bantu-bantuin apa aja siapa aja. Tiap hari memang beliau yang paling rajin, paling semangat. Salut.

. jam stengah 5an hujan turun. Kami pun berteduh di bangunan yang hamper slese ini. Lumayan lah. Ga kehujanan, walaupun sedikit tampias. Karena memang penutup tampias baru 1 bagian yang slese dipasang, masih ada 4 bagian lagi.

. gua, putera, mas panut, dan pak rt ngobrol-ngobrol sambil nunggu hujan reda.

09 10 2010

Jam 7.30 – 8.00

. bangun. Siap-siap. Brangkat.

. mampir beli rokok.

Jam 8.00 – 12.00

. sarapan nasi jagung di rumah pak rt (dibeliin pak rt, kemaren uda janji).

. lanjutin kerja…

. ada sekitar 6-7an orang. Ada yang ngrapihin tabak. Motong-motong bambu buat penahan tampias. Masang penahan tampiasnya. Termasuk gua.

. putera nglanjutin motong-motong bambu-bambu sisa, buat hiasan(bambu-bambu sepanjang 20 cm disusun horizontal, dengan frame dari multiplek, dipasang di beberapa spot bangunan).

. break sekitar jam 9. Bubur sumsum. teh manis. Ngobrol-ngobrol.

. nglanjutin kerja sampe jam 12an.

. o iya, pak rt dari tadi pagi gali-gali saluran aer di bagian depan bangunan(selokan). Mau di kasi tangga dri batu kali di bagian depan, jadi harus digali dan dipasangi gorong-gorong. Gua nelpon took material lagi buat mesen semen plus kalsit(campura semen, warna putih, biar ga boros semen). Sementera putera pergi sama pak bayan, beli gorong-gorong.

Jam 12.00 – 13.30

. istirahat. Makan siang.

. cabut ke lokasi lagi.

Jam 13.30 – 17.00

. kerja lagi…

. pak rt masi ngurusi gali-menggali.

. gua sama beberapa mas-mas nglanjutin masang penahan tampias.

. setelah penahan tampias slese, gua, putera, ma saris nglnjutin bikin frame untuk tempat hiasan bambu-bambu sisa yang dipotong-potong sama putera dari kemaren-kemaren.

. kami motong-motong multiplek yang 8 mm sesuai ukuran.

. sampe jam 5 sore, tinggal rak buku, hiasan bambu-bambu bikinan putera, sama hiasan anyaman bambuyang belum di slesein.

. o iya, hari ini pak slamet ga dateng. Jadi, rak buku belum bias dilanjutin.

. sampe hari ini, kira-kira udah 85% bangunan slese. Sebenernya malah bangunannya udah slese, tapi itnggal bikin hiasan-hiasan(fungsional) dan ngrapihin. Amplas juga.

10 10 2010

. hari terakhir….

. bangun. Beres-beres kamar. Packing. Tapi sesi pagi-siang kami akan tetep bantuin warga.

. slese packing langsung cabut ke lokasi.

. hari ini hari paling rame dari 10 hari kami di sini. Ada 20 orang. Karena hari minggu juga mungkin.

. sebagian besar orang ngerjain selokan yang mau dikasi gorong-gorong. Ada yang ngangkut batu kali. Bikin adonan plester. Dan masang batu kalinya ke pinggiran selokan.

. sebagian yang lain bikin rak buku. Kbetulan ada pak slamet. Gua , putera nge-cat frame yang mau dipake buat wadah bambu-bambu hiasan kemaren.

. jam 12 siang gua sama putra balik ke penginapan. Mandi dan siap-siap pulang ke Jakarta.

. abis itu ngangkutin barang-barang ke rumah pak rt dulu. Sambil nungguin sore, masih ngebantuin dikit-dikit.

. jam 3an ke rumah pak pri(yang punya penginapan). Pamitan. Balikin motor.

. jam 4 sore balik ke rumah pak rt.

. sampe sebelum kami pulang. Udah 90% lah. Rak buku udah jadi, tinggal nge-cat. Hiasan bambu-bambuan putera juga uda jadi 1 tempat dari 4 tempat. Sisanya tinggal nambahin anyaman bambu dikit di 2 tempat(hiasan) sama nungguin bambu kering dan diamplas.

. sebelum cabut ke terminal, kami poto-poto dulu bareng warga yang kerja sore itu. Dengan background bangunan kami tentunya.

. jam 5 sore kami pamitan. Ke pak bayan, pak rt, warga. Kami di anter mas sis sama mas panut ke terminal boyolali. Naek motor.

. pulang ke Jakarta….

. tak lupa ucapan terimakasi buat mereka….



27
Oct
10

pendekatan (arsitektur) dalam masyarakat

Pada mata kuliah everyday ini, saya mengikuti salah satu community project yang dilaksanakan di Jatinegara Kaum RW 01. Dimana disana kami diminta untuk membuat suatu komunal space yang dapat memfasilitasi seluruh warga RW 01 dalam kegiatan bersama. Project ini diawali dengan pemberitahuan awal, mempresentasikan project kepada pihak yang mewakili seluruh RW01 yaitu bapak RW itu sendiri. Dari sini sudah dapat dikatakan awal pendekatan secara tidak langsung melalui pendekatan kita dalam memberi penjelasan mengenai project sehingga dapat diterima dan dapat dilanjutkan.

Untung tahap selanjutnya kami melakukan survey yang pertama kali. Dari survey ini kemudian kami sekaligus melakukan pendekatan terhadap warga dengan melakukan wawancara mengenai kebiasaan dan data sehari-hari mereka. Melalui wawancara yang dilakukan dengan santai dan penuh keakraban itu kami juga menerangkan sedikit demi sedikit mengenai project yang akan direalisasikan apabila tidak ada halangan (pendekatan arsitektur-project arsitektur).

Sampai pada tahan participation dimana disini kami kembali mengikut sertakan warga untuk menyumbangkan idenya untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu tahap desain. Didalam tahap partisipasi ini, tercipta pula pendekatan yang berkelanjutan antara kami selaku arsitek(pendisain) dengan warga selaku konsumen. Pendekatan itu kami wujudkan dengan mengumpulkan warga kemudian menerangkan kembali tentang project kami serta tak lupa kami memberi treatment sehingga tercipta suasana yang lebih akrab, serta si warga juga lebih antusias.

Jadi untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu tahap desain, dengan pendekatan(arsitektur) ini dapat mempermudah proses dalam mendesain. Dimana dari pendekatan ini kami telah mengetahui lingkungan sekitar(site) serta menggali lebih dalam mengenai warga selaku konsumen dan juga mengikut senrtakan ide/keinginan dari si warga itu sendiri. Sehingga dapat melahirkan suatu desain yang sesuai dengan kebutuhan dari warga.

26
Oct
10

Pengaruh Pemerintah dalam Keseharian

Keseharian suatu komunitas ataupun individu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Selain terpengaruh, keseharian juga dapat diintervensi oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah pihak pemerintah. Studi mengenai intervensi yang dilakukan pemerintah, saya ambil adalah kebiasaan masyarakat India mengenai sanitasi dan bagaimana pemerintah India mempengaruhi keseharian mereka.

Masyarakat India memiliki keseharian mengenai sanitasi yang sangat buruk. Salah satu penyebab terbesarnya adalah karena pengadaan toilet dan kebiasaan buang air besar sembarangan. Karena tingginya tingkat kematian akibat diare di India, pemerintah India akhirnya mulai menyadari akan pentingnya mengambil langkah dalam penyadaran akan pentingnya kebersihan. Langkah-langkah yang diambil pemerintah dapat berupa sosialisasi atau berbentuk reward kepada warga.

Sosialisasi dilakukan dengan memperkenalkan slogan “na byahun beti us ghar mein jismein na ho shauchalaya” yang dalam bahasa Inggris “won’t get my daughter married into a household which doesn’t have a toilet”. Pemerintah India melakukan pendekatan secara tidak langsung dengan membuat warganya merasa malu jika tidak memiliki toilet pribadi.

Selain sosialisasi, pemerintah India juga memberi reward kepada warganya yang berkeinginan untuk membangun toilet pribadi di rumah masing-masing. Berbeda dengan usaha pemerintah yang pertama, usaha kedua ini lebih bersifat langsung dengan memberikan reward. Usaha ini berbeda dengan yang pertama karena usaha pertama diharapkan menimbulkan kesadaran warga, sedangkan usaha kedua belum tentu menimbulkan kesadaran. Namun, kesadaran dapat hadir setelah pembuatan toilet pribadi dimana warga merasa nyaman dan bersih setelah memiliki toilet pribadi.

Kedua buah hal tersebut di atas menghasilkan perkembangan yang cukup besar. Dari data oleh the times India yang diambil sejak tahun 2005 hingga Januari 2010, telah dibangun total 1,417 juta unit toilet oleh keluarga di seluruh India. Dimana 947 ribu unit toilet dibangun oleh keluarga menengah ke atas, sedangkan sisanya sebesar 470 ribu unit toilet dibangun oleh keluarga menengah ke bawah.

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemerintah dalam keseharian masyarakatnya cukup besar. Namun, tidak seperti aktivis, local group, atau bahkan arsitek, pengaruhnya terlihat lebih pasif. Aktivis, local group dan arsitek melakukan intervensi secara langsung, seperti melakukan workshop, seminar, dan pembangunan fisik sehingga hasilnya dapat dilihat secara langsung. Berbeda dengan peran pemerintah, hasilnya baru dapat terlihat dalam jangka waktu yang cukup panjang.

26
Oct
10

Peran Serta Masyarakat

Dalam tugas community project yang saya lakukan beberapa minggu lalu di Boyolali, peran serta masyarakat merupakan salah satu unsur penting dalam proses pembangunan proyek ini. Peran serta masyrakat yang saya maksudkan di sini bukan hanyalah bantuan tenaga yang dapat mereka berikan ketika proses pembangunannya saja, tetapi juga dari proses awal menuju rancangan bangunan sendiri. Mengapa peran serta masyrakat itu penting? Hal ini dikarenakan bangunan ini nantinya adalah milik mereka dan mereka harus dapat merasakan bahwa mereka adalah bagian dari proses pembangunan ini.

Keterlibatan mereka dari proyek ini dimulai dengan partisipasi mereka dalam memberikan data tentang informasi keluarga mereka yang bentuknya adalah kuesioner. Informasi ini nantinya akan membantu saya dan teman-teman unutk menyusun kebutuhan yang memang mereka perlukan terkait dengan proyek yang kami lakukan. Partisipasi lainnya seperti diskusi dengan warga yang harus kami lakukan untuk mengerti kemauan mereka akan bentuk pengetahuan apa yang mereka inginkan ataupun tempat yang cocok dan dapat disediakanoleh mereka sebagai tempat untuk membangun proyek ini. Hal lainnya juga seperti bentuk apa yang mereka inginkan dari bangunan ini ataupun material yang mereka inginkan. Hal itu nantinya akan membantu kami dalam merancang bangunan untuk proyek ini.

Setelah rancangan proyek sudah dibuat, hal itu tidak mutlak menjadi rancangan yang akan dibangun karena harus didiskusikan ke warga lagi dan meminta pendapat mereka. Melalui dikusi dengan warga terdapat beberapa perubahan kecil yang menurut mereka sesuai dengan keadaan kawasan mereka. Setelah mencapai kata sepakat barulah dimulai pencarian material untuk bangunan ini. Material utama yang diapakai adalah bambu. Bambu di kawasan ini cukup banyak sehingga mudah untuk didapat. Pada tahap ini partisipasi warga juga dibutuhkan, seperti menyediakan pohon bambu mereka untuk ditebang ataupun mengangkat bambu-bambu tersebut ke lokasi bangunan. partispasi warga yang merupakan puncak dan penting adalah pada proses pembangunan itu sendiri. Bagaimana merekamembagi tugas sesuai dengan keahlian mereka untuk membangun proyek ini.

Dari banyaknya partispasi warga tersebut saya merasakan bahwa partispasi warga sangatlah penting. Selain untuk mempercepat proses pembangunan, hal yang lebih penting lainnya adalah bagaimana mengikutsertakan mereka dari proses awal sampai akhir sehingga mereka mampu merasakan sense of belonging dari bangunan yang nantinya terbangun ini.

24
Dec
09

perancang belajar+bekerja bersama komunitas

Dalam mewujudkan sebuah karya berarsitektur yang merupakan ungkapan nyata dari kebersamaan penduduk atau komunitas dibutuhkan pendekatan dari ‘dalam’. Pendekatan dari dalam atau yang dapat disebut pendekatan inklusif ini bertujuan untuk membentuk ikatan emosional antara penduduk secara personal dengan produk yang akan dihasilkan. Pengguna harus dapat memainkan peranannya secara aktif dalam proses yang kreatif. Metode yang digunakan adalah bersifat parsitipatif. Metode tersebut berdasarkan pada elemen-elemen yang bersifat kognitif ataupun fungsional akan apa yang dibutuhkan. Hal ini menarik warga langsung untuk menentukan sendiri di tempat mana mereka sering berkumpul pada hari biasa dengan cara kreatif yang diusung yaitu dengan memberi tusukan warna-warni sesuai dengan waktu dan tempatnya. Walaupun sederhana, tetapi ini adalah cara ketika penduduk sendiri diberi kesempatan untuk mengidentifikasikan sesuatu dari sudut pandang mereka sendiri. Moment ini akan menyoroti point-point yang dapat menjadi kritik atas apa yang mereka butuhkan sesuai dengan konteks nilai dan kebutuhan dasar penduduk tersebut. Ini adalah kesempatan yang baik bagi perancang untuk masuk ke ‘dalam’ dan melihat segala sesuatunya dengan mata yang segar, sampai kita menjadi bagian dari komunitas.

Keterbukaan pemikiran dan komunikasi merupakan dasar pendekatan yang penting. Membangun kepercayaan serta komunikasi yang efektif akan menjadi dasar pijakan keberhasilan kerja sama ini. Mungkin akan banyak tersingkap hal-hal yang justru tidak didapat pada saat hanya berwawancara dengan mereka.

Peran arsitek mungkin tidaklah terlalu besar, bahkan relatif kecil dibandingkan dengan ilmu yang dimilikinya selama bertahun-tahun ‘belajar’, tetapi justru peran tersebut dapat nyata dirasakan penggunanya ketika arsitek mampu membantu komunitas untuk menemukan kembali, mengingat dan mengembangkan apa yang sudah ada.

Berpartisipasi bahkan dapat dilakukan sampai pada tahap akhir, yaitu membangun bersama-sama apa yang sejak awal telah lahir melalui proses konsensus oleh kolaborasi penduduk dan arsitek. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, terutama tenaga, pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki, dapat memberikan peluang yang besar bagi mereka untuk menyalurkan aspirasi yang muncul on the spot. Sehingga, tak jarang terdapat toleransi atas perbedaan pemahaman antara perancang dengan warga. Namun, dari hal ini justru kita dapat melihat partisipasi dan kebersamaan tersebut mampu memberi wadah untuk aspirasi, karena dari proses inilah terbukti keterikatan mereka secara emosional dengan produk yang nantinya akan mereka gunakan secara kolektif.

The architecture of the everyday is built (Architecture of the Everyday, Steven Harris and Deborah Berke (Eds), 224)
Pada akhirnya keseharian arsitektur itupun dibangun. Baik melalui karya yang berwujud bangunan ataupun instalasi, pada dasarnya memiliki spirit yang sama, yaitu memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas. Karena pada awalnya kebersamaan menjadi prasyarat munculnya partisipasi. Berarsitektur merupakan proses berkarya yang mampu mengartikulasi kebutuhan, nilai, dan keseharian komunitas sebagai point yang digaris bawahi.

Harris, Steven; Berke, Deborah, Architecture of the Everyday
Miles, Malcolm, The Uses of Decoration: Essays in the Architectural Everyday, 2000

08
Dec
09

Yang TUA yang bekerja, yang MUDA yang menonton…

Dalam community project ini, partisipasi warga dalam proses pembangunan ruang berkumpul sekaligus pusat informasi  turut mengambil andil besar. Warga yang kesehariannya bekerja sebagai pengrajin furniture mengerti tentang bagaimana sebuah struktur kayu bisa berdiri dengan kokoh tanpa menghabiskan banyak elemen stuktur  lainnya.  Proses  pengerjaan keberdiriannya bermula sejak tanggal 21 november 2009.

Dalam proses yang saya amati, para warga turut berpartisipasi dalam pengerjaannya. Mereka sangat antusias dari seluruh proses yang ada seperti pengangkatan kayu ketika kayu baru datang, diskusi tentang keberdiriannya, pemotongan kayu, penghalusan kayu, dan sebagainya.

Dalam proses diskusi tentang keberdirian, mereka tidak langsung saja menerima penjelasan dari kami. Namun yang mereka lakukan adalah memodifikasinya. Mereka memodifikasi sistem struktur yang sudah kami rancang menjadi sistem struktur yang sudah mereka tekuni  dan mengerti sebagai pengrajin kayu dalam kesehariannya. Sehingga hasil dari ruang berkumpul yang kami rancang berbeda dengan hasil pada kenyataannya di masyarakat.

Everyday is living experience. sebuah proses pembangunan ruang berkumpul bagi mereka  merupakan bagian dari keseharian mereka sebagai pengrajin kayu. Hal ini membuat saya berfikir bahwa kita sebagai pihak asing tidak bisa dengan mudah mengubah suatu kebiasaan atau keseharian suatu masyarakat. Masyarakat sendiri yang mengerti bagaimana kebiasaan dan keahlian mereka sehingga menimbulkan sebuah pengalaman hidup yang diterapkan dalam keseharian.

Setelah itu saya mengamati, ada sebuah “ketimpangan”  dalam proses  keberdirian ruang berkumpul yaitu proses pengerjaannya dilakukan oleh bapak-bapak dengan range usia yang sudah bisa dibilang tua. Sedangkan bapak-bapak yang tergolong masih muda hanya melihat-lihat pekerjaan bapak-bapak yang tergolong usia tua.

Hal ini membuat saya berfikir. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apa yang terjadi dengan keseharian mereka?

Kemungkinan pertama adalah bapak-bapak muda bukanlah seorang pengrajin furniture. Mereka bekerja di bidang lain seperti pegawai, buruh, dan sebagainya. Kemungkinan yang kedua adalah tidak ada bapak-bapak muda yang bekerja sebagai pengrajin furniture. Hanya tinggal pengrajin furniture yang sudah tua.

Kemungkinan yang kedua ini menimbulkan pertanyaan; Apakah tidak adanya suatu “pelestarian” akan profesi pengrajin furniture di daerah tersebut??Apakah tidak adanya suatu “regenerasi” baru yang dilakukan bapak pengrajin furniture tua kepada generasi berikutnya??atau Apakah “everyday” masyarakat mulai hilang tertelan dengan arus zaman yang semakin maju?

Hal ini menjadi suatu isu bahwa adanya pergeseran suatu “everyday” dalam masyarakat di daerah tersebut. Para bapak muda didaerah tersebut bekerja di banyak bidang selain sebagai pengrajin furniture karena beberapa alasan. Tidak adanya suatu pelestarian “profesi” mengakibatkan profesi sebagai pengrajin furniture bisa terancam hilang tertelan zaman.  Padahal didalam masyarakat  daerah tersebut sendiri menjadi pengrajin furniture merupakan sebuah identitas dan potensi  dari daerah tersebut. Mungkin pilihan atas pekerjaan lain selain pengrajin furniture merupakan tuntutan ekonomi mereka yang semakin sulit dan mencekik kehidupan mereka.

“Everyday” mulai bergeser sedikit demi sedikit. Akankah “everyday” sebagai identitas  masyarakat daerah  tersebut hilang??

04
Nov
09

Aku dan Mereka

Menjalani tugas Everyday and Architecture membawa saya melihat keadaan lain di luar kehidupan sehari-hari.

Melihat bagaimana keadaan yang sangat berbeda tentunya memunculkan sebuah pengertian pribadi akan tempat yang baru di-encounter tersebut. Akan muncul pemikiran-pemikiran seperti, ‘kenapa itu begitu?’, ‘seharusnya ini begini’, ‘itu salah’, ‘itu boleh juga’, dan sebagainya. Saya langsung membandingkan situasi yang mereka alami dengan situasi yang saya alami dan “menghakimi” keadaan mereka.

Akan tetapi, setelah kemudian terlibat dalam diskusi dan mengikuti kuliah lebih lanjut, muncul pertanyaan:

Siapa saya sehingga bisa menjadi orang yang menghakimi keadaan tersebut?
Pengetahuan apa yang saya miliki sehingga saya pantas disebut ‘yang tahu’?
Pengalaman apa yang saya miliki sehingga saya layak disebut ‘yang mengerti’?

Aku dan mereka layaknya apel fuji dan apel manalagi (atau jenis apel apa saja). Meskipun sama-sama apel, tetap saja ada perbedaan yang tak pantas dibandingkan begitu saja hanya berdasarkan melihat kedua apel tersebut sekilas. Ada faktor genetis yang membuat apel fuji apel fuji, dan apel manalagi apel manalagi, layaknya situasi-situasi yang mengikat mereka yang tak dapat dibandingkan begitu saja dengan apa yang saya alami.

04
Nov
09

Everyday in “Kampung” Pulo kambing Rw 2 Jatinegara Cakung Jakarta Timur

Kampung Pulo kambing adalah sebuah kampung ditepian Perindustrian Pulo Gadung Jaktim yang kebanyakkan penduduk lokal dan pendatangnya bekerja sebagai pengrajin furniture rumah tangga. Sebagian sisanya berkerja pada PT-PT di kawasan perindustrian Pulo gadung tersebut, buruh, pedagang dan sebagainya.  Nama  Kampung “Pulo kambing” itu sendiri kemungkinan dikenal akibat waktu dahulu banyak kambing di wilayah ini. Ada beberapa warga yang memelihara kambing bahkan sapi di sekitar rumahnya. Namun hal tersebut semakin hilang ketika saya masuk SMP yaitu sekitar tahun 2001

Kehidupan setiap harinya dijalankan oleh bapak-bapak yang  bekerja sebagai pengrajin furniture seperti tukang kayu dan tukang plitur. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai buruh angkut lemari yang bertugas untuk menyusun lemeri-lemari ke mobil angkut dengan posisi yang ideal sehingga bisa muat banyak. Pekerjaan ini disana disebut tukang Kretek.  Selain itu ada yang bekerja mencabuti paku dari kayu-kayu bekas, memotong kayu, dan triplek. Selain itu, juga ada yang bekerja sebagai karyawan pabrik, pedagang makanan (mayoritas siomay), tukang odong-odong, tukang ojek dan sebagainya. Mereka bekerja hari senin- jumat, akan tetapi ketika akhir pekan  adapula  beberapa orang yang bekerja mengharapkan uang lembur tambahan.Pada saat jam istirahat, para pekerja makan siang di warung-warung sehingga warung menjadi sangat ramai. Bapak-bapak bertemu dan saling mengobrol sambil merokok dengan bapak-bapak lainnya hingga kira-kira jam 2 siang. Terkadang ada warung yang sengaja mengantarkan makanan ke tempat kerja bapak-bapak tersebut, sehingga mereka makan lesehan di tempat kerjanya. Warung dan tempat kerjanya menjadi ruang komunal yang settle bagi bapak, pengrajin furniture saat istirahat.

Ibu-ibu yang rata-ratabekerja sebagai  ibu rumah tangga, mengurusi anak dan suami. Keunikkan dari ibu-ibu disana adalah mereka memasak 1 kali untuk 1 hari penuh. Mereka mulai memasak pagi-pagi, bahkan ada yang pagi-pagi sekali. Jadi ketika ada ibu yang berbelanja ditukang sayur pukul 8 pagi, maka sudah dipastikan hampir semua sayur-sayuran, ikan, tempe tahu, cabai dan sebagainya sudah hampir habis. Setelah memasak ibu-ibu biasanya berkumpul dengan ibu-ibu lainnya di pos atau di teras rumah yang cukup luas, di bawah pohon  dengan mengambil tempat duduk-duduk yang portable seperti dingklik dan menghabiskan waktu untukk mengobrol, menyuapi anak, menonton televisi dan sebagainya. Ibu-ibu kan bergantian pulang ketika waktu shalat telah tiba atau ada pekerjaan lainnya misalnya menyetrika. Untuk ibu-ibu yang tinggal dikontrakkan, biasanya setelah mereka selesai memasak, mereka akan duduk-duduk didepan pintu mengobrol dengan tetangga kontrakkan lainnya yang juga duduk didepan pintu. Sehingga pada gang kecil kontrakkan, muncul ruang komunal dari kegiatan ibu-ibu tersebut. Selain itu, pos, teras , dan dibawah pohon juga merupakan ruang komunal bagi ibu-ibu. Selain itu pada hari senin  dan kamis, ibu-ibu  pergi kepengajian yang berada di Mushalla As Sholihin untuk mengikuti pengajian dan arisan pengajian.

Dapur ibu-ibu yang mempunyai rumah seperti dapur biasa yaitu di belakang rumah. Terkadang ibu-ibu yang lain ketika datang langsung ke dapur dan mengobrol disana. Namun untuk ibu –ibu yang tinggal di kontrakkan , dapur mereka berada didepan pintu rumah mereka. Mereka memasak di gang kontrakkan mereka. Dapur bertemu dengan dapur lainnya membuat suasana semakin panas namun akrab. Namun hanya sedikit kesenjangan social antara ibu-ibu kontrakan dan ibu-ibu rumah. Jenis kontrakkan disana kebanyakkan kontrakkan 1 kamar, jarang sekali 2 kamar.

Anak –anak pada saat setiap harinya pergi kesekolah yang biasanya tidak jauh dari rumah mereka seperti SD 10, 03 dan 05 pagi. Setelah pulang sekolah mereka bermain disekitar rumah. Namun pada saat weekend, anak-anak sering keliatan di sekitar pos. Mungkin dikarenakan di sekitar pos ramai sehingga mengundang perhatian mereka.ibu. Anak-anak bermain di banyak titik seperti  dekat pos, di jalan, di gang, dilapangan , didepan mushalla, bawah pohon, dan sebagainya . Mereka bisa bermain apa saja; petak umpet, bentengan, minta jongkok, galaksin, gambaran , bahkan terkadang main karet bagi anak perempuan.

Pada weekend, suasana ruang komunal saat weekdaysnya semakin ramai kala siang hari. Pada saat pagi hari, para warga kebanyakkan berjalan-jalan ke ara pasar kaget disebut Gudang untuk mencari hiburan dan berbelanja. Gudang menjadi ruang public untuk semua usia. Gudang sendiri terletak di pinggir perindustrian Pulo Gadung.   Selain ke Gudang, biasanya bagi bapak-bapak dan remaja disana menggunakan sekeliling Area Gudang sebagai jogging track.  Siang hari menjelang, bapak-bapak suka menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan bapak-bapak lain di Pos, menonton tinju, formula one, GP, dsb. Ibu-ibu juga di ruang komunalnya dan anak-anak bermain di banyak titik seperti weekdays.

Keberadaan Pos di kampung Pulo kambing ini mengalami perubahan  arti. Pos disini adalah sebuah tempat berkumpul  yang kebanyakkan bangkunya berupa bale-bale.  Dahulu Pos digunakan sebagai tempat bapak-bapak ronda pada malam hari dan pada siang harinya terlihat sepi dan terdapat pentungan. Namun seiring dengan waktu dan banyaknya warga pendatang di Pulo Kambing, pos tidakklah sekadar pos biasa, ruang komunal biasa. Perkembangan makna pos itu sendiri bagi warga telah berkembang sedemikian luasnya sehingga pos dijadikan inti kegiatan komunal para warga .Bahkan ada pos yaitu di Rt 2 yang lebih berkembang ruang arti komunalnya . Disamping pos tersebut , terdapat tukang bakso yang berdagang sehingga ketika ada bapak-bapak berkumpul maka saat makan siang saat weekend biasanya akan makan bakso bersama. Pos sebagai salah satu ruang komunal yang terwujud dalam gagasan arsitektural . Di pos terdapat kegiatan berkumpul yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik tua muda, pendatang-warga asli.  Di pos pula, dilakukan acara –acara tertentu pada  saat –saat tertentu. Misalnya  pada pemilu salah satu pos di Rt 15 berubah menjadi TPU dan saat 17 agustusan menjadi arena untuk berkumpul dan ikut perlombaan. Pos seakan tidak pernah sepi oleh warga , berkembang luas, memiliki arti tersendiri bagi masyarakat kampung Pulo kambing. Dan seiring berjalannya waktu, akan seperti apakah pos bagi warga kampung Pulo Kambing mendatang??

26
Oct
09

Partisipasi?

Participatory design is an approach to design that attempts to actively involve the end users in the design process to help ensure that the product designed meets their needs and is usable. It is also used in urban design, architecture, landscape architecture and planning as a way of creating environments that are more responsive and appropriate to their inhabitants and users cultural, emotional, spiritual and practical needs. It is important to understand that this approach is focused on process and is not a design style. (http://en.wikipedia.org/wiki/Participatory_design)

Participation: involvement in an activity (Oxford Learner’s Pocket Dictionary Fourth edition)

Melihat kuotasi di atas, terlihat adanya dua kata kunci yakni involve-involvement yang secara harfiah dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai terlibat-keterlibatan. Dua kata kunci inilah yang akan membawa kita dalam memahami pengertian partisipatif dalam sebuah desain. Seberapa jauhkah kita melibatkan pihak-pihak terkait dalam merancang sebuah karya arsitektural? Lalu, siapakah pihak-pihak tersebut? Pengguna, pengusul gagasan, atau mungkin pemilik kebijakan?

Di sini saya akan coba menceritakan sedikit pengalaman saya dan beberapa teman dalam sebuah proyek perancangan desain partisipatif. Dalam proses perancangan ini, ada tiga pihak utama yang terlibat yakni perancang, pengguna desain, dan juga penggagas/pengusul perancangan. Pada tahap awal, kami berhubungan dengan penggagas perancangan yang memiliki kepentingan khusus dengan terwujudnya rancangan yang akan kami buat. Kami diberitahu mengenai visi yang diusung untuk proyek kali ini yang kebetulan adalah sebuah sekolah. Pada tahap berikutnya, kami pun terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data dari penduduk setempat mengenai kultur, keadaan alam, hingga pada pandangan warga ataupun siswa terhadap keberadaan sekolah.

Data-data yang dikumpulkan dan diolah, kembali kami presentasikan di depan warga dan para penggagas untuk mendapatkan masukan tambahan mengenai desain. Dalam tahap ini, kami dibuat bingung terutama oleh penggagas yang tampaknya tidak begitu sepaham dengan metode partisipatif yang dijalankan. Di sini terlihat bahwa semua pihak ingin berbicara. Namun, tidak semua pihak yang dapat dimenangkan. Kami pun pada akhirnya memutuskan untuk memenangkan pengguna desain karena sudah merupakan hakekat berarsitektur di mana pengguna lah yang akan merasakan dampak desain secara langsung.

Hal ini persis seperti yang dijelaskan pada kuliah everyday and architecture mengenai partisipasi. Pihak-pihak yang terkait dalam sebuah perancangan seringkali tidak hanya melibatkan arsitek dan pengguna, tetapi juga pemilik kebijakan atau mungkin pemilik dana. Semua pihak ingin menang, namun hal itu tak mungkin terlaksana. Benarkah demikian? Kalau anda, mana yang akan anda menangkan?

-mando-




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers