Archive for the 'process' Category

03
Jan
12

Deadline oh deadline

Berbicara tentang deadline, kita pasti sering mendengar mahasiswa arsitektur (juga mungkin mahasiswa jurusan lain) berkata “duh, mati gua. Ini progress mandek. Pake ketiduran segala lagi semalem. Ini pasti ulah gorgom!”, atau “duh belum bikin paper pula ini. Siapa yang udah bikin ya?” (niatnya mau nyari referensi tapi ujung – ujungnya niru dan mengganti kata – kata agar tidak terlihat meniru).

Dari kasus seperti ini, sebenarnya apa yang “sehari – hari” kita lakukan? Hal inilah yang selalu saya pertanyakan kepada diri sendiri ketika saya sendiri lupa melakukan hal yang sudah seharusnya saya lakukan sebelum saya menyadarinya.

Saya akan mengambil contoh mahasiswa arsitektur interior semester 7 angkatan 2008. Kami punya jadwal studio senin dan rabu jam 11 siang sampai jam 4 sore, selasa dan jumat jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Cukup banyak bukan waktu yang dialokasikan bagi para mahasiswa untuk mengerjakan tugas PAI 5?

Lalu mengapa menjelang deadline kita menjadi sibuk seketika padahal sebelumnya kita sering berleha – leha?

Nah , ini dia kata kuncinya, “berleha – leha”.

Saya sendiri akui kalau saya, bahkan di studio pun sering berleha – leha. Ngapain? Main PES? Oh banyak, bukan cuma itu. Ya, sesekali ke kantek untuk jajan dan makan. Ke wc walau cuma cuci tangan, tidur di kursi, ngenet, download film, nonton film, jalan – jalan keliling studio nanyain temen – temen “progress udah sampai mana?”, dan masih banyak lagi.

Dari semua aktivitas yang sudah saya sebutkan, banyak kan waktu yang ternyata terpakai dari waktu yang telah diberikan pembuat jadwal kuliah untuk studio?

Lalu di mana letak kesalahan kita sebagai mahasiswa sampai – sampai tugas saja seringkali belum selesai menjelang deadline?

Kalau saya pribadi berpikir (membela diri), semua kegiatan itu adalah kegiatan berdasarkan kebutuhan kita, makan, istirahat, hiburan. Dan saya bukannya tidak menggunakan studio sebaik mungkin, hanya saja kapasitas otak saya untuk mendesain sesuatu tidak sebaik para dosen atau fasilitator. Dan sifat perfeksionis saya pun membuat saya seringkali berpikir, berkhayal, merenung lebih lama dibandingkan menuangkannya langsung ke media. Sehingga akhirnya, menjelang deadline, dan desain yang saya ciptakan belum mencapai target, membuat saya mengejar target namun dengan kualitas seadanya, hingga akhirnya pula, kita sering mendengar “ah desain gue sampah gini. bakal dibantai abis – abisan sama pak anu”

Bagaimana dengan Anda?

Sependapatkah dengan saya?

02
Jan
12

Maket VS 3D CAD

Sebagai mahasiswa arsitektur, kita tentu sudah familiar dengan istilah “Maket” dan juga “CAD”. Maket adalah suatu model 3 dimensi dengan skala tertentu untuk menggambarkan ruang dan bentuk yang kita rancang. CAD, singkatan dari Computer Aided Design, merupakan salah satu teknologi komputer yang dapat membantu kita dalam proses desain dan merepresentasikan sesuatu yang kita rancang secara akurat. Kedua hal ini dapat kita anggap sebagai “senjata” yang sangat membantu pekerjaan seorang arsitek/desainer.

Namun pertanyaan yang timbul adalah kapan kita harus menggunakan maket dan kapan kita harus menggunakan CAD. Manakah yang lebih baik digunakan dalam proses desain? Manakah yang lebih cocok digunakan untuk mempresentasikan desain kita? Manakah yang dapat menarik hati para klien? Kedua senjata ini tentunya harus dapat kita maksimalkan untuk menghasilkan desain yang baik dan menarik para klien.

Setelah mengalami studio PA 1 hingga PA 3, saya menemukan bahwa dalam proses desain akan lebih menguntungkan jika kita membuat maket. Dengan menciptakan maket studi sebanyak-banyaknya, kita dapat lebih mengenal bentuk-bentuk kreatif yang mungkin diciptakan. Selain itu, kita dapat langsung merasakan ruang melalui maket, karena maket dapat langsung kita lihat dan rasakan. Eksplorasi material juga jauh lebih baik lewat maket, dimana kita dapat mengenal perbedaan tekstur masing-masing bahan dengan menyentuhnya. Kita juga langsung mengetahui material dan struktur yang kuat lewat maket. Misalnya bila kita membuat maket dimana ada balok kantilever yang terlalu panjang sampai jatuh, kita langsung tahu bahwa strukturnya tidak memungkinkan sehingga kita bisa langsung mencari alternatif lain.

Maket Studi 1
Maket Studi 2

Hal-hal tersebut tidak dapat kita lakukan lewat 3D CAD atupun SketchUp semata, dimana kita hanya menggambar dalam komputer tanpa dapat merasakan ruang dan materialnya. Kita juga tidak tahu struktur yang kita gambar kuat atau tidak, serta bentuk-bentuk yang tercipta mungkin akan jauh lebih kaku. Inilah letak kekurangan program 3D komputer sehingga membuat saya tidak suka mendesain langsung dalam komputer.

Di luar kelemahannya tersebut, 3D CAD, SketchUp, ataupun program desain lainnya memiliki kekuatan. Software-software ini dapat membantu kita menggambar dengan cepat namun akurat, jauh dibandingkan bila kita menggambar dengan tangan. Selain itu kualitas akhir yang dihasilkan sangat baik dan mampu menarik hati para konsumen. Disinilah software 3D itu akan mengambil peran, sebagai alat untuk presentasi. Para arsitek-arsitek yang sukses juga sangat mengandalkan program-program CAD ini untuk dapat menarik hati konsumen. Selain itu CAD dapat juga menggambarkan gambar kerja dan konstruksi yang sangat akurat sehingga juga membantu ketika pembangunan berjalan.

3D CAD
3D CAD Rendering

Maket dan 3D CAD, kedua senjata ini harus sebisa mungkin kita pelajari dan kuasai, karena akan sangat membantu pekerjaan kita sebagai seorang desainer.

16
Dec
11

Interpretasi

Setelah materi kuliah beyond presentation hari ini (15 Desember 2011) muncul beberapa hal yang belum sempat saya pikirkan saat kuliah karena belum kepikiran.

Foto-foto dalam presentasi yang ditampilkan memang sangat menarik terutama cerita dibaliknya. Namun ketika kita mengambil keluar cerita yang ada, benda tersebut kehilangan kekuatan yang ada dalam dirinya. Sehingga seseorang yang menceritakan narasi di balik gambar tersebut berperan sebagai translator yang ketika dia di keluarkan dari alat presentasi maka maksud dari presentasi tersebut tidak akan tersampaikan dengan baik. Dan penyampaiannya mungkin beragam, tidak harus dengan lisan bisa juga berupa tulisan.

Hal ini mengingatkan saya saat saya mengunjungi sebuah pameran foto beberapa waktu lalu. Saya melihat kumpulan foto yang sebenarnya tidak spektakuler dibandingkan dengan foto lain yang dipamerkan dalam ruang yang sama. Bahkan objeknya sangat sederhana, seorang wanita yang di tiap frame-nya digambarkan sedang melakukan sesuatu seperti berdandan, memasak, menonton tv, dan kegiatan lainnya. Teknik foto yang digunakan pun tidak wah atau sekelas dengan fotografer professional sehingga saya hampir melewatkan kumpulan foto ini. Namun ketika saya membaca penjelasan dari fotografernya, kira-kira berbunyi demikian : “Kumpulan foto ini menggambarkan kehidupan seorang wanita tuna susila yang sering tidak terlihat oleh publik. Bagaimana Ia berusaha mencukupi kebutuhan sehari-harinya sambil menjalani kehidupan. Saat siang Ia dapat bersantai menonton TV bersama keluarga. Sedangkan saat malam hari Ia harus mencari nafkah dengan melakukan pekerjaannya..” (saya lupa kelanjutannya)

Jika saya tidak membaca tulisan tersebut mungkin saya akan menganggap foto tersebut jelek, tidak bermakna, atau bahkan biasa saja. Namun saat tulisan itu  dan foto digabungkan semuanya menjadi jelas. Teknik yang wah tadi memang tidak diperlukan karena objek yang digambarkan memang sesederhana seorang wanita tersebut. Setiap frame menceritakan kehidupan si wanita itu dari pagi hingga malam. Mereka yang melihat karya itu harus mengikuti penyusunan foto sehingga mendapatkan alur yang jelas antara perbedaan kegiatan, mood, dan transisi dari pagi sampai malam hari.

Ketika tulisan tersebut dihilangkan dari foto-foto yang ada, kemungkinan besar saya akan melewatkan foto tersebut. Tidak hanya itu, foto tersebut akan terbuka untuk interpretasi dari berbagai orang dan penilaiannya bisa saja menjadi: “Ini foto apa? Terlihat mesum.”
Sehingga untuk mendapatkan narasi di baliknya dibutuhkan suatu penghubung yaitu melalui tulisan. Untuk mendapatkan tulisan atau pun pemikiran tersebut dibutuhkan semacam kemampuan (membaca, berimajinasi, membayangkan). Karya-karya tersebut baru dapat dimengerti ketika seseorang memiliki akses ke narasi yang dapat dikaitkan dengan pengetahuan (kemampuan membaca, menangkap maksud gambar).

Yang ingin saya pertanyakan adalah target penonton bagi alat presentasi seperti ini tampaknya adalah mereka yang punya kemampuan (berpendidikan) dan yang paling penting adalah mereka dapat mengakses operasi yang ada di dalamnya. Untuk presentasi yang lebih kompleks (a la arsitek dengan invert, layering gambar, dan lainnya) dibutuhkan cara mengakses khusus yang mungkin hanya dapat disampaikan oleh translator (pembuat karya) kepada penonton khusus. Alat presentasi seperti ini dapat menjadi pedang bermata dua di tangan yang salah jika narasi dan interpretasi tidak dapat saling bertemu.

Terakhir, yang menarik dengan beyond presentation ini adalah bagaimana kita tidak melihat objek sesederhana keberadaan objek tersebut. Ada cerita yang ingin disampaikan dengan keberadaan individu dengan narasinya di balik alat presentasi.

Every object tells a story if you know how to read it. – Henry Ford

*Saya rasa kuliah ini agak berhubungan dengan seni dan penilaian. Namun karena saya tidak tahu banyak mengenai hal ini, saya menghindari untuk membicarakannya.

11
Nov
11

Mau meniru atau apapun, lakukan dengan benar

Film korea bisa dibilang sedang sangat membooming di Indonesia. Dari segala suku bangsa, gender dan umur, semuanya tergila-gila dengan film korea. Saya sendiri pun salah satu penggemar film korea, mungkin bukan penggemar berat. Namun saya lebih memillih menonton film Korea dibandingkan dengan film-film lain, terutama film Indonesia. Begitu saja dengan orang tua saya, sejak memasang TV kabel, mereka lebih cenderung memilih film luar. Bahkan ayah saya cukup hafal dengan jadwal tayang film korea di TV kabel tersebut.

Sebetulnya, apa yang menyebabkan hal tersebut menjadi lebih disukai oleh orang? Wajah kah? Musik kah? atau mungkin dari segi cerita atau kemasan? Saya secara pribadi menganggap semua faktor tersebut, baik dari segi aktor, soundtrack, cerita, pengambilan gambar, sampai skenario. Mau dilihat dari segi manapun menurut saya kualitas film luar (dalam hal ini film korea) memang jauh lebih baik dibandingkan film Indonesia.

Jika saya menonton film Korea, saya bisa saja ikut terbawa emosi dari film tersebut, saat sedang sedih, saya jadi ikut sedih hingga menangis, saat sedang lucu, dapat membuat saya tertawa sampai terpingkal-pingkal, saat sedang menyebalkan, saya jadi ikut emosi dengan si tokoh jahat, membuat saya ikut geregetan dengan si tokoh utama. Namun,  jika saya menonton film Indonesia, terutama yang sekarang-sekarang ini, hanya satu rasa yang saya rasakan, yakni marah. Marah yang saya rasakan disini entah karena merasa jijik, terganggu atau bahkan malu dengan film Indonesia sendiri. Saya pernah menonton suatu adegan film (sinetron) Indonesia, dimana menurut saya baik dari segi akting, pengambilan gambar ataupun ceritanya amatlah sangat buruk sehingga saya tidak kuat untuk menonton satu scene itu saja sampai selesai. Begitu saya merekakan ulang satu cuplikan adegan yang bahkan belum selesai saya tonton tersebut pada teman saya, mereka tertawa miris akan hal tersebut. Dan ternyata mereka pun merasakan hal yang sama akan film-film di Indonesia sehingga mereka melarikan diri ke film-film luar lainnya. setelah pembicaraan tersebut bahkan jika kami menyinggung film Indonesia, yang keluar dari mulut kami hanyalah cacian yang tak kunjung habisnya.

Lebih parahnya lagi, film-film di Indonesia mencapai suatu titik dimana bisa dibilang meniru atau menjiplak film luar tersebut, entah Korea, entah tTaiwan ataupun Amerika. bahkan bukan hanya film saja yang ditiru, acara TV lainnya seperti reality show pun ditiru. Sebenarnya mengapa hal ini bisa terjadi? memang mungkin para produser melihat tren yang sedang ada dimasyarakat sehingga mereka membuat film-film tersebut dibat menjadi setipe semua. Namun sebetulnya mana yang lebih dulu? Orang-orang menonton film Korea sehingga film-film di Indonesia menjadi seperti film Korea? Atau kualitas film Indonesia yang menjadi buruk dulu maka orang-orang melarikan diri film-film korea?

Sebetulnya, dibalik semua pertanyaan-pertanyaan tersebut yang paling membuat saya (bisa dibilang) kesal adalah ketidakkonsistenan dan ‘keseratus persenan’ orang Indonesia dalam melakukan sesuatu. Mereka melakukannya dengan setengah-setengah, seperti tidak niat. Sebetulnya jika memang dilakukan dengan sungguh-sungguh bahkan yang palsupun bisa menjadi lebih bagus daripada yang original bukan?

PS: Hal ini bukan berarti saya mendukung plagiarisme loh. Namun jika memang ingin meniru, lakukanlah dengan benar

11
Nov
11

sayembara? juara1 atau 2?

Sayembara.. Merupakan suatu ajang menunjukkan kebolehan diri bagi orang-orang yang bergelut didunia arsitektur. Bisa dibilang merupakan suatu kebanggaan tersendiri jika berhasil ‘menyabet’ posisi pertama dari sayembara tersebut. Meski terasa sangat sibuk untuk merampungkan bangunan tersebut namun lelah pun mungkin tak begitu terasa karena pikiran akan direalisasikannya bangunan yang telah didesain dengan susah payah tersebut. Meski mungkin akan terasa agak sedih jika bangunan yang telah dedesain dengan susah payah tersebut menjadi sebuah bangunan yang mungkin ‘agak’ berbeda dengan harapan si arsitek. Hal ini mungkin saja bisa kita lihat dari bangunan yang ada disekitar kita dan mungkin sering kita gunakan. Mendengar cerita bahwa “nanti bangunannya akan menjadi begini.begini.. dan begitu..” atau “dulu sebenarnya desain bangunan ini seharusnya seperti ini dan seperti ini..” hingga akhirnya kita coba bandingkan dengan kenyataan yang ada . Hal-hal tersebut terkadang membuat kita berpikir “daripada jadi juara 1 lebih baik menjadi juara 2 saja deh. Sudah tidak repot, tapi masih lumayan daripada bangunanya tidak sesuai harapan”. Apakah salah dengan pemikiran menjadi nomor satu atau memang hanya saat tertentu saja bangunan akan menjadi seperti itu?

Hal ini bisa dibilang masih merupakan sebiuah tanda tanya besar bagi saya. Mengingat pengalaman saya akan sayembara masih sangatlah kurang. Namun dari cerita-cerita yang saya dengar membuat saya menjadi berpikir negatif. Tapi disisi lain membuat saya merefleksikan diri akan betapa sombongnya pemikiran tersebut karena tidak ada yang tahu seberapa besar perjuangan untuk membuat desain-desain tersebut selain orang yang menjalaninya sendiri. Sebegitu mudahnya kah menjadi juara sehingga kita dapat memilih ingin menjadi peringkat berapa?

meskipun begitu hal ini juga masih tidak merubah kenyataan yang ada bahwa memang tidak semua bangunan yang didesain tersebut seindah harapan. Apakah ini yang disebut realita sayembara?

01
Nov
11

Kamar pembantu mau diletakkan dimana??

Mungkin pertanyaan ini yang sering menjadi masalah ketika ingin mendesain rumah tinggal. Sudah beberapa bulan saya mendesain ulang rumah tinggal saya yang ingin dirombak ulang sebab ingin digabungkan dengan rumah sebelahnya. Selama proses mendesain, berkali-kali desain berubah diakibatkan pemindahan peletakan kamar pembantu. Apalagi mengingat luas lahan yang sempit. Dan banyaknya kemauan dari penghuni rumah (dalam hal ini keluarga saya sendiri)

Ketika pertama kali mendesain, kamar pembantu ingin diletakkan di tempat yang mudah terjangkau namun teritori nya terpisah dari teritori kegiatan keluarga. Maka diletakkan di lantai 1 pojok belakang. Namun hal itu membuat ruang keluarga di lantai satu tampak sempit dan mengganggu pandangan para tamu di lantai 1.

Kemudian dicoba untuk meletakkan kamar pembantu di lantai 2. Namun timbul masalah lagi dimana meletakkan kamar mandi pembantu. Jika diletakkan di lantai 3 terlalu jauh bagi sang pembantu namun jika diletakkan di lantai 2 maka pembantu dikhawatirkan menggunakan kamar mandi lain yang tidak diperuntukkan bagi mereka.

Tidak habis akal akhirnya kamar pembantu berikut kamar mandinya diletakkan di lantai 3 dimana di lantai itu hanya ada dak beton untuk menjemur pakaian. Untuk saat ini itulah alternatif yang diterima oleh keluarga saya dan masih sangat dimungkinkan untuk berubah kembali.

Tentunya masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain dari keputusan proses-proses di atas. Namun dari proses di atas terlihat bahwa sesuatu yang kecil yang mungkin sehari-hari kita tidak begitu memikirkannya (seperti kamar pembantu misalkan) ternyata sangat mempengaruhi desain dari sesuatu yang besar. Dalam hal ini perubahan-perubahan desain rumah saya banyak diakibatkan oleh pemindahan peletakan kamar pembantu dan kamar mandi pembantu. Dari proses pertama , kedua , dan ketiga tampak bahwa teritori pembantu semakin dibuat menjauh dari teritori kegiatan keluarga. Hal ini menunjukkan betapa hierarki dalam suatu dwelling begitu berperan besar dalam proses pembentukan dwelling itu sendiri.

Saya pun bertanya-tanya kembali apakah hierarki atau apapun namanya itu menjadi sesuatu yang utama dalam kasus ini? Atau adakah hal lain yang sebenarnya lebih penting untuk dipikirkan kembali?

Ada yang mengatakan bahwa kalau kita membangun rumah tidak mungkin bisa sempurna. Pasti sesuatu yang kita anggap baik saat ini belum tentu akan kita anggap baik besok dan seterusnya. Jika diikuti terus maka pembangunan rumah tidak akan dapat selesai hingga puluhan tahun. Benarkah demikian? saya juga tidak tahu namun mungkin hal ini pula lah yang menyebabkan berubah-ubahnya desain rumah saya.

Jadi, dimanakah anda ingin meletakkan kamar pembantu anda?

30
Dec
10

arsitektur berwacana roh

Kalimat ini terkadang terkesan provokatif. Bisa menyerang dalam persepsi negatif atau sebaliknya mengungkap hal yang selama ini terekam dalam pikiran kita namun tidak terungkap. Memperbahasakan ruh identik dengan Tuhan yang berarti kita siap dalam sebuah kompleksitas yang sungguh sangat tidak terbatas dalam pengertian apapun. Dalam hal ini, saya mencoba untuk membingkai sejauh mana arsitektur bisa terdefinisikan dalam batas etimologi roh.Terlepas dari hal itu, tidakkah kita pernah terbesit dalam pikiran kita bahwa pada dasarnya rangkaian proses penciptaan suatu mahluk ke dunia ini ketika disandingkan, memiliki kemiripan yang berarti dalam hal proses penciptaan keterbangunan desain oleh arsitek. Terkadang keyakinan saya akan penciptaan mahluk Tuhan yang dilengkapi ruh masing-masing menjadikan saya tergelitik untuk menganalogikan dalam proses arsitektur. Arsitektur disini adalah ketika seorang arsitek yang mendesain sebuah bangunan, dengan pasti memiliki sebuah hasrat untuk memberikan roh pada apa yang ia (arsitek) desain sehingga bangunan tersebut dapat terus bertahan dengan cahaya dari roh itu. (Roh) dalam hal ini adalah jiwa yang ada di bangunan itu, ketika dimana orang pertama kali  melihat dan terkesan pada pembawaan dari bangunan itu. Sama halnya dengan manusia yang memiliki roh, dimana manusia akan terus menjaga dan merawat agar cahaya dari ruh di dalam dirinya tidak pernah padam. Dalam sebuah teori arsitektur dikenal istilah “genius loci” atau sebuah spirit of place dimana “Cahaya mengungkapkan genius loci dari suatu tempat.”. Dalam agama Romawi klasik,  Genius loci adalah roh pelindung dari suatu tempat. Itu sering digambarkan dalam ikonografi keagamaan sebagai tokoh yang memegang tumpah ruah , Patera dan  atau ular. Seorang tokoh Alexander Pope menjadikan Genius Loci sebagai suatu prinsip penting dalam taman dan lanskap arsitektur. Berdasarkan pada fakta yang ada, Genius loci  adalah pelaku utama dari Neo-Rasionalisme atau New Rasionalisme. Dipelopori oleh arsitek Italia Aldo Rossi , Neo-Rasionalisme dikembangkan dan  dievaluasi kembali dalam karya Giuseppe Terragni , lalu memperoleh momentum melalui karya Giorgio Grassi. Hal itulah yang kemudian ditandai  dalam bentuk-bentuk vernakular elemental dengan tidak ada detail kosmetik.Saat ini, dalam konteks teori arsitektur modern, Genius loci memiliki implikasi yang mendalam untuk tempat pembuatan yang jatuh dalam cabang filosofis  ‘fenomenologi’. Sebuah contoh yang menurut saya sangat sarat dengan Genius Loci adalah Chinese Classical Scholar Garden, dimana tiap sudut lay out nya kental dengan filosofi Cina dan diperhitungkan dengan sangat matang. Dari sini, saya mengasumsikan bahwa tiap sketsa dalam desain yang kita buat maka secara tidak langsung kita telah memberikan roh kepada desain itu dan pertanyaannya sekarang adalah bagaimana membuat roh dalam desain itu tetap ada hingga pada keterbangunannya. Hal itulah yang mendasari ketertarikan saya ingin mempelajari lebih dalam akan arsitektur dan roh di dalamnya. Bagaimana dengan Anda ?

25
Dec
10

yang nyaman atau yang baik yaaaaah?

ini adalah sebuah pemikiran yang sering menghampiri pikiran saya.. ketika berbicara tentang keseharian dalam arsitektur, di benak saya selalu muncul pemikiran tentang bagaimana seseorang memaknai ruang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.. pemaknaan ruang yang setiap individu lakukan tentu saja akan berbeda-beda.. pemaknaan yang dilakukan biasanya seolah-olah ‘menyalahi’ fungsi yang ditujukan.. saya contohnya.. di kamar, saya memiliki meja belajar yaitu ruang dan benda yang seharusnya saya gunakan untuk belajar..namun, saya tidak pernah menggunakan ruang dan benda tersebut untuk belajar..saya tidak begitu nyaman dengan ruang yang benda itu berikan untuk saya belajar.. saya lebih nyaman untuk belajar diatas tempat tidur saya yang dapat memberikan ruang yang lebih fleksibel untuk saya memilih posisi belajar.. jika dilihat dari kasus sederhana ini, ruang belajar yang benar adalah di meja belajar itu.. meja belajar pun telah dirancang untuk dapat memberikan posisi yang baik saat belajar..tapi ternyata untuk saya pribadi posisi yang beragam yang bisa saya dapatkan di tempat tidur lebih nyaman untuk belajar..disini terlihat keseharian atau kebiasaan saya berkegiatan dalam suatu ruang tidak lah baik, tapi membuat saya nyaman.. Jadi, yang manakah sebenarnya yang harus diikuti, yang nyaman atau yang baik? apakah yang baik itu selalu tidak nyaman?

23
Dec
10

What’s in a name?

“What’s in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”

- Juliet Capulet in Romeo & Juliet -

 

“Ruang itu tidak pernah netral”, pikir saya. Coba lihat sekeliling dan sebutlah sebuah area yang dapat disebut ruang. Disadari atau tidak, ruang-ruang tersebut  selalu dimiliki atau diokupasi oleh subyek tertentu. Tempat pribadi maupun tempat publik tak terlepas dari ‘kepemilikan’ (belum tentu memiliki secara sah) akan ruang. Kursi-kursi dalam gerbong kereta, taman kota di Fatahilah, teduhan halte, bahkan hutan liar sekalipun punya tuannya.

Ada fenomena yang sangat menarik tentang ke-tidak-netral-an suatu ruang. Seringkali kita menjejakkan nama kita, secara harafiah, pada ruang. Rasanya hampir di setiap meja SD dulu saya dapat melihat cairan tip-ex membentuk nama. Berbagai warna pylox juga seringkali terceplak di tembok-tembok pagar bangunan. Dari kata-kata romansa macam “DEWI SAYANG ANDI”, hingga kata-kata berang yang tak perlu saya beri contoh, juga seringkali tergurat di batang pohon. Entah dengan maksud mengintervensi ruang tersebut, atau sekedar iseng belaka, jejak nama tersebut pada akhirnya menciptakan ke-tidak-netral-an ruang dengan tegas dirasakan.

What’s in a name? Apa yang sebenarnya berusaha dinyatakan lewat jejak nama tersebut?

Itu punyaku

Di film Harry Potter & The Deathly Hollow, ada sebuah adegan ketika Harry (dengan wujud samaran menjadi staf di Kementerian Sihir) memasuki ruang milik Umbridge. Tanda tersebut cukup jelas karena di depan ruangan tersebut tertera nama itu. Ketika Harry keluar ruangan, semua orang langsung menatapnya karena keberadaan Harry disana adalah tidak biasa.

Harry telah memasuki teritori yang bukan miliknya, dan sebuah tulisan nama di depan pintu sangat jelas untuk menandakan teritori tersebut. Begitu juga dengan tulisan-tulisan yang tertera di meja belajar di kelas, seringkali menandakan bahwa meja tersebut adalah meja yang biasa ia pakai sehingga tidak boleh dipakai oleh orang lain.

Nama memang tidaklah memberikan penjelasan tentang siapakah kita, namun jejak nama jelas dapat memberikan batasan semu akan adanya sebuah teritori yang dimiliki tuannya.

I write therefore I am

Kadang-kadang kita juga dapat menemukan nama-nama geng di tembok-tembok yang seakan berbicara bahwa itu wilayah geng tersebut. Padahal, ruang tersebut bukan benar-benar milik mereka. Biasanya berbagai nama muncul kemudian, berusaha menyaingi nama geng tersebut.

Saya rasa mereka cukup pintar untuk menyadari bahwa dengan menorehkan nama mereka di tembok bukan berarti mereka akan memiliki ruang tersebut. Apa yang mereka lakukan lebih tepat jika kita katakan sebagai wujud pernyataan eksistensi mereka.

Peran yang dilakukan ruang adalah menjadi wadah untuk menunjukkan ke-eksis-an (berjarak tipis dengan ke-narsis-an). Di saat mereka tidak hadir disana, nama mereka akan selalu hadir, walaupun pada akhirnya mungkin tidak ada yang peduli dengan ke-eksis-an tersebut, kecuali mereka sendiri.

Tujuan serupa saya temukan dalam proyek SD Cilandak yang dilakukan di awal pembelajaran mata kuliah Keseharian dan Arsitektur. Di dalam salah satu elemen desain yaitu daun-daunan kertas yang dibuat oleh siswa SD, nama-nama mereka dibiarkan tertera di daun tersebut. Keberadaan nama tersebut mungkin tidak penting bagi siswa lain, namun bagi siswa pembuat daun tersebut, nama itu menjadi wujud eksistensi mereka atas daun yang mereka buat, dan itu adalah sebuah kebanggaan baginya.

What’s in a name? Hm.. Nama lain mungkin bisa semanis mawar, namun siapa peduli manis pahitnya nama ketika nama bukan sekedar rasa.

23
Dec
10

Antara ‘want’ dan ‘need’

Masalah memang sudah menjadi salah satu hal yang selalu hadir dalam kehidupan kita, termasuk kehidupan bersama dengan individu lainnya di dalam sebuah society. Masalah hadir sebagai sesuatu yang mengganggu atau sesuatu yang dapat mengancam atau merusak tatanan hidup yang baik. Namun, apa sebenarnya ‘tatanan kehidupan yang baik’ tersebut?

Dalam proses pengerjaan project Perancangan Arsitektur, hal tersebut dipertanyakan oleh sang fasilitator, memangnya seperti apa kehidupan, yang dalam hal ini kehidupan urban, yang baik itu? Dalam project ini kami mengangkat suatu isu yang ada di dalam society, melihat apa saja masalah yang ada yang diperoleh dari survey, dan selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut sebagai seorang perancang dalam suatu wujud rancangan arsitektur. Ketika saya membicarakan mengenai isu dan program yang saya ajukan, beliau bertanya, “Apakah mereka benar-benar membutuhkannya?” “Apakah kalau bangunan tersebut tidak ada akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?” Kemudian beliau menjelaskan, ada perbedaan antara ‘want’ dengan ‘need’.

‘Want’ di sini merupakan keinginan seorang perancang untuk membuat suatu kehidupan menjadi lebih baik (seperti dalam pengertian life cultivation). Seorang perancang melihat adanya suatu ketidakterarutan dalam society ketika mereka menjalankan kehidupa, maka ia merasa hal tersebut perlu dibenahi. Namun bagaimana kalau masyarakat sudah merasa nyaman dengan keadaan tersebut? Apakah kalau seandainya kita melakukan suatu intervensi di sana akan membuat keadaan menjadi lebih baik? Oleh karena itu, arsitek harus memahami betul apa ‘need’ dari masyarakat. Kita harus benar-benar mengenali masyarakat dan kehidupannya agar tahu apa yang benar-benar dibutuhkan mereka, jadi tidak hanya sekedar mewujudkan keinginan kita, karena apa yang kita inginkan belum tentu bermanfaat bagi mereka. Inilah pentingnya partisipasi masyarakat dalam membuat sebuah project arsitektur.

23
Dec
10

perancang atau hanya mediator??

arsitek biasanya dikenal sebagai seseorang yang merancang, tapi jika diperhatikan seorang arsitek saat merancang sesuatu ambil saja contohnya rumah tinggal seorang kliennya. ada beberapa kasus saat klien mencurahkan keinginan desain, ingin ada bukaan disini, ada taman disini, materialnya ini, besaran kamarnya sekian, hingga jika disatukan dan disimpulkan si klien ini sudah bisa merancang rumahnya secara keseluruhan dari ide dan keinginan yang dilontarkan olehnya sendiri. dan jika kondisinya seperti ini tugas seorang arsitek hanya mentransfer curahan si klien kedalam bentuk 2 dimensi agar dapat dikomunikasikan kepada pihak pembangun. apa dalam kasus ini arsitek tetap menjadi seorang perancang?? atau hanya mediator dari klien ke pihak pembangun?

20
Nov
10

Arsitektur – Kegiatan yang mengubah atau menyesuaikan??

Ketika saya mulai mengerjakan projek-projek kuliah, saya sering berpikir mengenai tindakan apa yang harus saya ambil jika saya menemukan adanya kebiasaan sehari-hari masyarakat yang bermukim di site yang saya pilih tidaklah wajar.
Apakah bangunan yang akan saya rancang harus saya sesuaikan dengan ketidakwajaran tersebut, ataukah saya justru ditantang untuk dapat mengubah perilaku mereka melalui program arsitektur yang saya buat?
Menurut saya, hal ini cukup membingungkan karena ketika saya berusaha untuk mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat yang ada di daerah tersebut, saya harus menghadapi konsekuensi akan adanya kemungkinan kegagalan dalam perancangan tersebut, masyarakat tersebut belum tentu menyukai intervensi yang saya buat.
Di lain sisi, jika saya menuruti keinginan user tanpa adanya niat untuk mengubah perilaku mereka, maka peran saya sebagai ’agent of change’ yang notabene merupakan tugas seorang arsitek akan hilang.
Sebagai contoh sederhananya, pada saat mengerjakan projek rumah di PA2, saya mengalami kebingungan saat dihadapi pilihan untuk mengubah pola makan penggunanya dari di kamar masing-masing ke sebuah ruang makan, atau tetap mengakomodasi kegiatan makan mereka di dalam kamar masing-masing. Saya ingin sekali melakukan intervensi terhadap kelainan tersebut, namun penggunanya mengatakan bahwa mereka menyukai makan di dalam kamar. Pada akhirnya, saya tetap berusaha untuk mengubah perilaku makan mereka dengan tetap memberikan sebuah ruang makan (namun digabung dengan ruang menonton televisi). Meskipun di lain sisi, terdapat konsekuensi ruang makan tersebut akan menjadi ruangan yang tidak digunakan.
Contoh lainnya, salah satu arsitek ternama Minoru Yamasaki yang mengalami kegagalan saat berusaha menghadirkan bangunan Pruitt-Igoe sebagai bangunan yang mampu mengubah perilaku masyarakat di St. Louis, Missouri untuk tinggal dalam deretan apartemen.
Dari sini terlihat bahwa ternyata memang bangunan-bangunan ataupun produk-produk arsitektur yang hadir bukanlah sebuah produk akhir, melainkan sebuah wadah yang menentukan apakah manusia yang berkegiatan di sekelilingnya ‘akan mau’ menyesuaikan diri dengan adanya produk arsitektur tersebut. Itu sebabnya, cukup susah bagi saya untuk dapat menentukan seberapa besar peran saya dalam mengubah perilaku user, yakni karena adanya respons dari user tersebut di masa depan yang terkadang sulit untuk diinterpretasikan selama masa perancangan.
Hingga kini, pertanyaan tersebut masih sering muncul dalam benak saya. Saya sendiri menangkap jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai sesuatu yang relatif, tergantung dengan situasi dan kondisi.

27
Oct
10

estetiskah?

“Through aesthetic reflection we endeavour to create a world in which we are at home with others and with ourselves”.- Roger Scruton


Menurut Roger Scruton, melalui estetika, kita berusaha untuk menciptakan dunia dimana kita merasa “at home with others and with ourselves”. Namun apakah terdapat suatu objektivitas dalam estetika atau hal tersebut merupakan suatu hal yang subjektif? Apakah estetika tesebut estetis untuk si arsitek, untuk actors dalam bangunan tersebut, atau untuk orang lain? Menurut 22 poin tentang ‘architectural principles in an age of nihilism’, estetika dapat dipertahankan kalau bisa mempertahankan image dari budaya masyarakatnya. Estetika dalam kehidupan sehari-hari hadir dari proses penyesuaian. Estetika yang ada harus menggambarkan dan disesuaikan dengan konteks masyarakat urban yang ada. Yang estetis menurut kelompok masyarakat yang satu bisa tidak estetis menurut yang lain. Untuk mengetahui pendapat masyarakat mengenai estetika, salah satu metode untuk mencari tahu adalah dengan menggunakan metode partisipasi. Contoh yang saya ambil adalah dua perpustakaan anak- Safe Haven Library di Ban Tha Song Yang, Thailand dan Norfolk& Norwich Library di Inggris. Actors dalam perpustakaan ini sama yaitu anak-anak, namun kita bisa melihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya. Yang satu menggunakan warna yang cenderung monoton sedangkan yang lain cenderung warna-warni. Apabila dilihat dari sudut pandang anak-anak pada umumnya, pasti mereka memilih untuk membaca di perpustakaan yang warna-warni. Apabila kedua perpustakaan di tukar, apakah mereka masih tetap mau baca di perpustakaan tersebut? Mereka mungkin tidak merasa nyaman untuk membaca ditempat tersebut sehingga mereka tidak lagi menganggap perpustakaan mereka estetis. Perpustakaan tersebut menjadi tidak estetis bagi mereka karena mereka tidak nyaman berada di perpustakaan tersebut. Saya mengambil kedua contoh ini karena Safe Haven Library merupakan perpustakaan anak yang berbeda dari perpustakaan anak lain yang cenderung bermain bentuk, ruang dan komposisi warna. Di sini kita bisa melihat sisi lain dari estetika- yaitu estetika yang didasarkan pada keinginan dari actors yang ingin menggunakan ruang publik tersebut. Dalam hal ini, anak-anak panti asuhan mungkin memiliki harapan yang berbeda dari anak-anak yang mampu. Karena mereka belum mempunyai tempat untuk membaca, maka keinginan mereka hanya terbatas pada sekedar hanya ingin memiliki perpustakaan. Ia tidak begitu peduli mengenai warna, komposisi, permainan ruang. Namun beda dengan anak-anak yang mampu yang keinginannya melebihi sekedar mengingini suatu perpustakaan namun juga perpustakaan yang warna-warni, dll. Di sini kita bisa melihat bahwa estetika merupakan suatu hal yang subjektif. Yang merupakan masalah adalah ketika perpustakaan tersebut tidak estetis menurut masing-masing konteks masyarakat.

27
Oct
10

catatan perjalanan. keseharian. kupo, cepogo, boyolali.

catatan perjalanan. keseharian. kupo, cepogo, boyolali.

oleh buyunganggi

30 09 2010

. hari pertama…

. sampe rumah pak bayan sekitar jam 11an. Istirahat. Sambil nungguin pak pri, pemilik penginanpan yang sama waktu kita nginep bulan juli kemaren (pas survei data).

. sempet ragu… mau nginep di rumah pak bayan, deket sama warga rt 01, gampang kemana-mana, tapi takut ngrepotin pak bayan. Atau nginep di tempat pak pri (showroom yang ada kamar penginapannya) yang jauh dari pemikiman warga (kurang lebih 200m), susah jika mau berinteraksi sama warga, tapi bisa bebas/begadang dan ngga ngrepotin pak bayan.

. akhirnya mutusin nginep di rumah pak pri.

. jam 5 sore kita diundang ke rumah pak pri di tumang (dukuh yang berbatasan langsung dengan kupo) untuk makan malam. Naek motornya pak bayan.

. sampe sana. Ngobrol. Nonton tv. Makan malem. Pas mau dianterin balik ke penginapan(di kupo), kita minjem sepeda motornya pak pri, buat transportasi nanti. Biar ga repot.

. jam 8 malem ke penginapan. Sekalian ngambilin barang yang kita titipin tadi di rumah pak bayan.

. jam 9 malem sampe penginapan. Istirahat. Sambil nyusun rencana buat sminggu ke depan.

01 10 2010

. bangun kesiangan. Jetleg.

. mandi. Sholat jumat. Ktemu pak rt (kemaren uda di kasitau sama pak bayan).

. ngobrol sama pak rt. Bahas rencana pembangunan ruang komunalnya, sekilas. Beliau bilang “nanti malem aja ngumpulin warganya.” Dan beliau berkenan menyediakan tempatnya, di rumahnya.

. kembali ke penginapan, bersiap presentasi desain dan rencana kerja ke warga.

. jam 7 malem kami berangkat ke rumah pak rt, masi sepi, kami jemput pak bayan dulu. Sambil ngobrol-ngobrol, mengutarakan desain dan rencana kerja awal. Pak bayan menyambut baik dan antusias.

. jam stengah 8 berangkat bareng pak bayan ke rumah pak rt.

. beberapa saat setelah sampe, langsung mulai presentasi. Sebelumnya pak rt meminta maaf karena banyak warga rt 01 yang ijin menjenguk kerabat yang sedang di rmah sakit. Malem ini ada sekitar 20an orang. Termasuk beberapa pemuda perwakilan karang taruna.

. putera presentasi.

. abis itu tanya jawab. Nyusun rencana kerja bareng warga. Pak bayan yang mimpin, tapi kami juga nawarin rencana kerja.

. akhirnya pak rt meminta kesediaan karang taruna untuk menggerakkan anak muda buat bergotong-royong, pak rt ngajakin yang tua-tuanya.

. agenda selanjutnya tentyang lokasi nyai 80 batang bambu.

. ternyata mas sis punya di belakang rumahnya (mas sis: mantan ketua karang taruna, 30 tahun, single). Rencananya besok pagi kita nebang bareng-bareng ke sana.

. musyawarah selesai. Hasilnya: tempat fix di depan rumah pak rt, warga bersedia menyumbangkan tenaga untuk membantu membangun ruang komunal, besok nyari bambu bareng-bareng di belakang rumah mas sis(1 batang rp. 7.000,-).

. warga pulang. Kami masih di rumah pak rt. Bantuin beres-beres, sambil ngliatin hasil penelitian yang di mojosongo ke pemuda-pemuda karang taruna yang klihatannya sangat antusias. Mas sis. Mas haryanto. Mas panut. Mas aris. Dan mas-mas lainnya.

02 10 2010

Jam 6.30 – 8.30

. bangun pagi – setelah semaleman ngitung material, harga, dan jumlah – . beres-beres kamar. Cuci muka. Dan sarapan.

. bertiga (gua, miktha, putera) berangkat menuju lokasi pennebangan bambu. Hutan bambu belakang rumah mas sis.

Jam 8.30 – 10.30

. sampe di lokasi – jurang. Ternyata sudah ada 6 orang (pak rt, pak ?, mas sis, mas juli, mas panut, mas aris) dan beberapabambu yang sudah dipotong ukuran 420 cm (harusnya 450, buat kolom-kolom utama).

. kami pun membantu. Potong-potong. Membersihkan bambu. Angkat-angkat. Poto-poto.

. 19 batang bambu (@rp. 7.000,-) pun berhasil dipotong dan diangkat dari jurang.

.nb: jenis bambu: bambu jawa (legi), warna ijo agak cerah, kekuatan belum diketahui, jarak antar ruas lumayan beraturan, diameter antara 6 – 10 cm.

Jam 10.30 – 11.00

. break. Minum teh. Ngobrol. Ngomongin rencana slanjutnya bareng 6 orang tsb (di rumah mas sis).

. rencana slanjutnya: nglanjutin nebang jam 13.00

Jam 11.00 – 14.00

. balik ke penginapan. Ngecekin jumlah dan harga material sebelum ke pasar cepogo (beli material).

. putera ngutak-atik desain lagi. Ukuran seng yang tersedia: 80 x 300 cm dan 80 x 210 cm.

.ke pasar cepogo, toko material. Nge-fix-in ukuran seng buat nge-fix-in desain atap. Konfirm ke putera. (nb: gua sama miktha yang ke pasar).

. sekalian pesen material buat besok. Pasir. Semen. Paku. Multiplek. Amplas. Tali ijuk. Seng.

. suruh nganter ke rumah pak rt besok pagi.

. nyari tabak (gedek yang kecil dan tipis) ke dalam pasar cepogo. Dapet. Setelah tanya putera (disesuaikan sama desain), akhirnya beli 8 buah yang ukuran 3 x 1,5 m (@rp. 27.500,-). Skalian dianter besok, nitip toko besi.

. beli makanan. Jajan.

. balik ke penginapan. Makan. Sholat. Siap-siap ke lokasi penebangan bambu lagi. Putera ngerjain gambar buat besok (supaya bisa diliat sama warga besok. Di print).

. gua, miktha balik ke lokasi hutan bambu.

Jam 14.00 – 16.30

. sampe di lokasi. Ketemu mas sis, pak rt, mas panut, mas aris. Mereka ngangkutin bambu dari hutan bambu ke depan rumah mas sis. Kami membantu.

.mas sis menyarankan “ga mungkin nebang bambu lagi di tepi jurang, ntar bambunya jatoh ke bawah, kita susah lagi ngangkutnya. Mending besok cari lokasi yang lebih memungkinkan.”

. karena sudah sore, kami tidak melanjutkan nebang (dannjuga karena aasdan yang diungkapkan mas sis). Akhirnya ada temen mas sis yang datang. Lalu mas panut sama temen mas sis tadi minjem mobil bak. Dan bambu pun diangkut ke site (rumah pak rt).

. sampe rumah pak rt. Nurunin bambu. Poto-poto site lagi. Ngobrol. Minum the lagi. Bahas rencana kerja buat besok.

. kata pak rt “dateng jam stengah 8an aja, ntar mas-mas biar bisa ngasih pengarahan ke warga yang mau ngerjain bangunannya.”

03 10 2010

Jam 6.30 – 7.30

. bangun. Cuci muka. Makan roti. Minum kopi. Siap-siap.

. pak rt dateng , mau ngebangunin niatnya. Tapi kami udah bangun. Nelpon toko material buat konfirmasi nganterin bahan-bahan yang udah dibeli kemaren.

. gua sama miktha berangkat. Putera masi ngeberesin gambar bentar.

Jam 7.30 – 12.00

. sampe lokasi. Warga udah lumayan banyak yang dateng. 15an orang kira-kira. Lagi ngeratain tanah, angkatin batu-batu, bersihin bambu.

. gua diskusi sama pak rt bentar, rencana kerja. Sambil nungguin material dateng. Miktha poto-poto.

. ternyata perlu beli solar, buat ngebakar ujung bawah bambu, diawetin, biar ga dimakan hama. Kata pak rt. Gua pun beli solar tapi nyamperin putera dulu, ngambil gambar yang mau di print.

. gua ke pasar cepogo. Beli solar. Ngerprint gambar.

. balik ke penginapan, ngambil putera, menuju ke lokasi lagi.

. sampe lokasi, putera nunjukkin gambar ke warga, ngejelasin. Ternyata ada 2 orang yang lumayan ngerti dan bisa ngebantuin ngarahin warga-warga lainnya. Adalah pak slamet (40 th) dan mas haryanto (25 th) yang mengarahkan dan memimpin proses pendirian kolom-kolom utama.

. kerja rodi ….

. semua material siap. Ada beberapa grup.

(1)    Beberapa pemuda nebang bambu lagi, di awal-awal, langsung bawa ke lokasi.

(2)    Pak rt sama beberapa bapak-bapak ngawtin bambu-bambu yang mau dijadiin kolom utama. Cara ngawetin: ujung bawah bambu yang au ditnam di tanah disiram solar dan dibakar sampe menghitam kulit luarnya. Cara pengawetan ini ditemukan sendiri oleh pak rt atas eksperimen beliau pula.

(3)    Pak slamet, pak bayan, mas haryanto, dan beberapa lainnya(termasuk gua dan putera) mengerjakan kolom-kolom utama. Langkah awalnya, siapin bambu-bambu ukuran besar(diameter 10 cm). setelah diawetin, diukur sepanjang 4500 cm, ambil 4 batang, gotong rame-rame, masukkan ke lbang-pondasi yang telah dibuat sebelumnya. (sebelumnya, grup ini juga telah mengukur lokasi, menandai, menggali lubang untuk kolom-kolom utama). Setelah dimasukkan, diukur, jarak antar 4 bambu(1 kolom utama) tsb, 10 cm. duluruskan. Diberi penyangga, dan dicor(semen, pasir, batu kali).

. break sekitar jam 11an. Makan. Minum. Udah berdiri 1 kolom utama (4 buah bambu, diameter 10 cm, tinggi 4500 cm).

Jam 12.00 – 14.00

. istirahat. Balik ke penginapan. Makan. Rencana awal kembali ke lokasi jam 1an, tapi hujan pun turun.

. ternyata jam 2 kurang dikit hujan reda. Balik ke lokasi.

Jam 14.00 – 17.00

. sampe lokasi baru ada pak slamet sama mas haryanto, bersama pak rt tentunya. Beberapa saat kemudian 5 orang lagi datang.

. kita nglanjutin ngeberdiriin kolom-kolom utama. Masi ada 5 kolom utama lagi.

. sore ini Cuma ada 6-7 orang, sampe jam 5 sore. Akhirnya kami berhasil mendirikan ke-6 kolom utama.

. nb: pelajaran hari ini…

(1)    Pagi-pagi, pas di awal kerja rodi, mas haryanto(lulusan UNS, kerja di PMI, ketua karang taruna) bilang ke putera kalo kemaren dia telah mengajukan proposal ke perpustakaan daerah untuk pengadaan buku-buku yang akan ditempatkan di bangunan ini nantinya.

. warga antusias, menyambut baik niat kami, berinisiatif memberikan sumbangan positif terhadap apa yang kami coba lakukan.

(2)    Pak bayan dan pak rt mengajukan saran  ke kami mengenai sistem pengadaan bambu. Kata mereka, tiap kk di rt 01 disuruh membawa 2 batang bambu(jika punya, tapi kebanyakan punya), biar ga repot. Dan uang hasil tebusan bambu tersebut akan dimasukkan ke kas rt. Warga pun menyambut gembira ide tersebut.

. warga(pak bayan, pak rt) mengeluarkan ide/solusi yang sangat baik ketika kami kesulitan mencari bambu. Respon positif dari warga, niat baik kita direspon dengan cukup baik.

04 10 2010

Jam 6.30 – 8.00

. dibangunin pak rt. Telat bangun. Siap-siap. Ga sempet sarapan.

. menmuju lokasi.

Jam 8.00 – 11.30

. nglanjutin kerja.

. ada dua kelompok pekerja: (1) bapak-bapak membuat rangka atap dan kolom-kolom tambahan, (2) pemudanya nyari tambahan bambu.

. hari ni cukup rame. Kira-kira 15an orang pas pagi-pagi diitung.

. motong bambu, ngkur, ambil tangga, ukur tingginya, naek tangga, paku dan palu, jadi deh rangka atap. Begitu seterusnya.

. pak slamet dkk ternyata sudahcukup tahutentang desainnya. Hari ini ga banyak yang harus putera dan gua jelasin ke warga.

. lebih dari setengah dari keseluruhan rangka atap terpasang sampe siang ini.

Jam 11.30 – 12.00

. break.

. ngobrol-ngobrol, becandaan, ketela rebus, pisang goreng, teh manis.

. nelpon took material, mesen pasir sama semen tambahan.

Jam 12.00 – 13.30

. istirahat ke penginapan. Makan siang. Tiduran bentar.

. belanja kebutuhan sehari-hari di pasar cepogo (sama miktha).

. balik ke penginapan. Beres-beres. Cabut lagi ke lokasi.

Jam 13.30 – 17.00

. mampir ke warung. Beli minuman dan rokok buat pekerja.

. ngerjain lagi. Siang ini ada sekitar 10an orang.

. ada yang motongin bambu sesuai ukuran. Ada yang gali lubang buat kolom tambahan. Ada yang  masang rangka atap dan kolom-kolom tambahan yang belum terpasang(dipimpin pak slamet).

. kehabisan paku. Gua sama putera cabut ke pasar cepogo, beli paku sekaligus cek harga dan ketersediaan kawat(buat tanaman rambat) dan multiplek(buat rak buku).

. pas di cek, multiplek ada (ukuran 1200 x 2400 cm @rp. 125.000,-) tapi kawat 2 cm ga ada. Pikirin ntar malem.

. balik ke lokasi.

. nglanjutin kerja.

. sampe sore, rangka atap terpasang. Kolom tambahan kurang 5 titik(dari 11 titik).

05 10 2010

Jam 7.00 – 9.00

. bangun siap-siap. Miktha beres-beres, dia mau pulang ke depok pagi ni.

. jam stengah 8 putera berangkat dulu ke lokasi, gua nungguin miktha beres-beres lalu mau nganterin dia ke pool bus di pasar cepogo.

. nganterin miktha. Sebelumnya dua sama miktha juga ke rumah pak rt, buat pamitan ke pak rt, pak bayan, dan warga.

. miktha pulang.

. ditelepon putera, suruh beli tali ijuk lagi, kurang.

. beli tali ijuk(di pasar cepogo). Trus langsung ngambil peralatan di penginapan dan menuju lokasi.

Jam 9.00 – 10.30

. sampe di lokasi ada sekitar 10an orang lagi nglanjutin kerjaan.

. ada yang mulai ngiket pertemuan-pertemuan bambu. Ada yang nerusin kolom-kolom tambahan. Ada yang ngukur kolom-kolom kecil buaat pondasi amben(tempat duduk).

. sekitar jam 10an banyak yang ijin karena ada hajatan, tingal 3-4an orang, gua, putera. Akhirnya sisanya nglanjutin ngiket-ngiket. Gua sama putera ke penginapan bentar, mau ngitung multiplek yang dibutuhin dank e pasar lagi.

Jam 10.30 – 13.00

. ke penginapan. Istirahat bentar. Makan. Ngitung jumlah kebutuhan multiplek buat rak buku, nyesuain desain lagi.

. ke pasar cepogo. Beli multilek 2 lembar, tali ijuk 10 iket, varnish 2 kaleng(dulu), sam kuas.

. makan bakso.

. menuju lokasi lagi.

Jam 13.00 – 17.00

. sampe lokasi udah lumayan rame lagi, 10an orang lah.

. nglanjutin kerja.

. mas-mas bagian tali-temali. Bapak-bapak nglanjutin bikin pondasi amben. Kakek-kakek motong-motong bambu sesuai ukuran.

. break bentar sekitar jam 3an. Makan-makan. Minum. Ngerokok. Ngobrol.

. putera tiba-tiba pusing(masuk angin kayaknya). Dia balik bentar ke penginapan, ntar jam 5an balik lagi jemput gua.

. abis break, nglanjutin kerja lagi. O iya, siang ini pak slamet dating setelah pas sesi pagi – siang beliau ga dating karena pergi ke hajatan. Jadi, kerjaan lumayan kepegang lagi. Ga perlu ngarah-ngarahin yang terlalu banyak. Akhir-akhir ini emang warga udah lumayan paham sama desain. Paling kalo agak ragu/belum tahu, mereka baru nanya.

. ada diskusi kecil yang agak panjang sore ini.

(1)    Menurut mereka, jarak pondasi amben(kolom-kolom pendek) yang dibuat putera terlalu deket, boros bambu ntar. Hasil diskusi (masih ada putera) mengerucut ke solusi mereka. Pondasi/klom-kolom pendek yang menopang amben, yang harusnya ada 3 biji tiap satu beam(bambu horizontal, disangga oleh pondasi), brubah jadi 2 biji. Kami memutuskan memakai 2 biji karena memang jarak antar kolom cuma sekitar 80an cm, dengan diameter pondasi yang sekitar 10 cm, kami pikir hal ini cukup aman.

(2)    Mengenai ‘bantalan’ tempat duduk(amben), yaitu bambu-bambu horizontal di atas pondasi. Harusnya ada 3 lapis: bambu-bambu utuh, bambu-bambu separoh, baru alas duduknya(galar, bambu yang diancurin/dipecah kecil-kecil secara vertikal). Tapi mereka maunya langsung aja pake bambu separoh sama alas duduk doang. Akhirnya mereka nurut kali ini, gua jelasin kao cuma bambu-bambu separoh yang dijadiin bantalan, dengan jarak yang cukup longgar, maka di titik-titik tertentu akan rapuh jika diinjek. Jadi lebih aman jika pake yang 3 lapis.

06 10 2010

Jam 6.30 – 7.00

. bangun. Ternyata putera udah bangun dari jam 3an pagi tadi, nyiapin presentasi.

. hari ini ada presentasi tentang apa yang kami kerjain, tentang ruang komunal ini, di kantor bupati boyolali. Putera pergi bareng pak bayan. Jadi, gua sendirian hari ini.

Jam 7.00 – 11.30

. brangkat ke lokasi. Udah rame banget. Parah. Ada 15an orang kali.

. putera pamit sama pak rt dan warga, mau ada presentasi tadi. Dia nyamperin pak bayan ke rumahnya.

. ada banyak orang hari ini. Banyak yang harus dikerjain emang. Ngiket-ngiket bambu. Bikin pondsi amben. Bikin glagar(beam buat amben) dan galar(alas duduk di amben). Masan seng(atap).

. kerjaan banyak. Tapi rame. Pas banget. Gua poto-poto doing hari ini, karena Cuma sendiri, ntar ga ada yang dokumentasiin.

. pagi ini semua lebih fokus ke tempat duduk dulu (pondasi, struktur, maupun alasnya).

. kerja…

. break bentar. Nge-teh. Ngobrol.

. nglanjutin kerja sampe stengah 12an.

Jam 11.30 – 13.00

. pulang ke penginapan. Istirahat. Makan.

. putera pulang dari kantor bupati. Slese presentasi.

. tiduran bentar. Balik lagi ke lokasi.

Jam 13.00 – 17.00

. nglanjutin kerja.

. tepat duduk sedikit lagi. Sambil nglanjutin bikin galar, sebagian pekerja mulai nyicil masang atap seng.

. galar dikerjain sama kakek-kakek yang udah berpengalaman sepertinya. Lumayan memerlukan tangan-tangan yang terampil sepertinya.

. sampe jam 5 sore, tempat duduk slese. Atap seng udah kepasang, tinggal nutup-nutupin bagian yang bolong pake talang seng.

07 10 2010

Jam 6.00 – 7.00

. bangun pagi. Siap-siap. Nge-teh. Cuci muka. Ganti baju kerja.

. brangkat ke lokasi, mampir beli rokok.

Jam 7.00 – 12.00

. kepagian. Baru ada pak rt. Sarapan bihun dulu, disiapin pak rt. Kami bersih-bersih bambu. Pak rt motong bambu lagi di belakang rumahnya. Gua bantuin ngangkat.

. jam 8an pak slamet dating, disusul mas gendut. Nglnjutin masang tiang tambahan buat tanaman rambat.

. putera lagi bereksperimen sama bambu-bambu sisa. Gua lagi nyoba bikin dan masang bambu-bambu separoh buat nahan tampias aer hujan.

. sampe jam 12an cuma gua, putera, pak rt, pak slamet, sama mas gendut. Soalnya hari ini hari pon(penanggalan jawa), makanya orang-orang lagi pada ke pasar buat jual hasil ladangnya.

Jam 12.00 – 14.00

. istirahat. Tidur. Solat. Makan.

. brangkat lagi.

Jam 14.00 –1 7.00

. sampe lokasi udah rame. Ga kayak tdi pagi. Udah pada pulang dari pasar mungkin. Ada sekitar 10an orang.

. soreini targetnya adalah masang instalasi listrik sama tabak(sejenis gedek/anyaman bambu tapi tipis, buat insulator panas, dipasang di bawah atap seng), biar nanti malem bias buat nongkrong.

. gua sama putera belanja dulu. Kabel, saklar, colokan, lampu, talang aer, sama tali ijuk lagi.

. abis belanja langsung pak slamet dkk masang instalasi listriknya. Cobain. Dan nyala.

. mereka nglanjutin masang tabak. Agak ribet dan lama karena si tabak perlu dibikinin struktur dulu baru bias dipasang/dipaku ke rangka atapnya. Jadi, ada yang bikin struktur struktur tabak dan ada yang ngukur-ngukur kebutuhan tabak dulu.

. gua masih nglnjutin masang bambu-bambu penahan tampias.

. putera masih ngumpulin bambu-bambu sisa, pendek, buat dijadiin hiasan/penutup beberapalubang di beberapa area bangunan, sambil poto-poto.

. break bentar. Minum teh. Makan bihun. Gorengan. Lanjut sampe jam 5an.

. jam 5 sore. Listrik udah ada. Tabak kepasang separoh. Penahan tampias juga udah separoh, di 1 tempat(dari 4 tempat).

08 10 2010

Jam 7.30 – 8.00

. bangun kesiangan. Sia-siap. Langsung brangkat.

Jam 8.00 – 11.00

. sampe lokasi udah rame parah. Gua itung ada 15 orang. 17 plus gua sama putera. Mungkin gara-gara sepi kali ya. Pak rt ngabar-ngabarin warga lagi. Mungkin.

. hari ini targetnya nyelesein tabak.

. beberapa orang bikin tali buat struktur tabak. Beberapa lagi bikin strukturnya. Ada yang masang dan nganyam struktu plus tali tadi ke tabaknya. Dan yang utama(pak sungadi dkk) masang tabak ke struktur atap.

. kerja…

. break sekitar jam 9. Sarapan bareng. Soto ayam. Rame. 17 orang makan bareng.

. lanjutin kerja. Sampe jam 11an. Tabak pun udah terpasang. Tinggal ngrapihin aja.

Jam 11.00 – 13.30

. istirahat. Sholat jumat. Makan. Belanja buat stok material karena minggu sore rencananya kami balik ke Jakarta. Jadi, mau beliin semua keperluan. Biar nantinya bias dilanjutin sama warga pas kami pulang.

. semen. Multiplek. Paku. Cat. Varnish. Amplas. Tali ijuk. Dll.

Jam 13.30 – 17.00

. kerja lagi…

. o iya, tadi(sesi pagi-siang) saking ramenya gua ga kebagian kerja. Cuma pot-poto doing. Sekarang gua bias kerja lagi, nglnjutin instalasi pencegah tampias. Siang ini ada sekitar 6-7an orang. Ya mungkin yang udah dateng sesi pagi-siang, sesi siang-sore digunain buat ke lading. Yang tadi ke ladang, gantian sekarang dateng. Pak bayan ngomong gitu.

. pak slamet dateng sore ini. Beliau nglanjutin ngrapihin tabak. Ada yang motong-motong bambu buat instalasi pencegah tampias. Gua yang masang.

. tabak slese dipasang.

. pak slamet nglnjutin motong-motong multiplek buat rak buku. Dibantu yang laen. Dengan pengarahan putera tentunya.

. gua masih dengan instalasi pencegah tampias, sementara putera dengan bambu-bambu sisanya.

. pak rt kerja serabutan. Bantu-bantuin apa aja siapa aja. Tiap hari memang beliau yang paling rajin, paling semangat. Salut.

. jam stengah 5an hujan turun. Kami pun berteduh di bangunan yang hamper slese ini. Lumayan lah. Ga kehujanan, walaupun sedikit tampias. Karena memang penutup tampias baru 1 bagian yang slese dipasang, masih ada 4 bagian lagi.

. gua, putera, mas panut, dan pak rt ngobrol-ngobrol sambil nunggu hujan reda.

09 10 2010

Jam 7.30 – 8.00

. bangun. Siap-siap. Brangkat.

. mampir beli rokok.

Jam 8.00 – 12.00

. sarapan nasi jagung di rumah pak rt (dibeliin pak rt, kemaren uda janji).

. lanjutin kerja…

. ada sekitar 6-7an orang. Ada yang ngrapihin tabak. Motong-motong bambu buat penahan tampias. Masang penahan tampiasnya. Termasuk gua.

. putera nglanjutin motong-motong bambu-bambu sisa, buat hiasan(bambu-bambu sepanjang 20 cm disusun horizontal, dengan frame dari multiplek, dipasang di beberapa spot bangunan).

. break sekitar jam 9. Bubur sumsum. teh manis. Ngobrol-ngobrol.

. nglanjutin kerja sampe jam 12an.

. o iya, pak rt dari tadi pagi gali-gali saluran aer di bagian depan bangunan(selokan). Mau di kasi tangga dri batu kali di bagian depan, jadi harus digali dan dipasangi gorong-gorong. Gua nelpon took material lagi buat mesen semen plus kalsit(campura semen, warna putih, biar ga boros semen). Sementera putera pergi sama pak bayan, beli gorong-gorong.

Jam 12.00 – 13.30

. istirahat. Makan siang.

. cabut ke lokasi lagi.

Jam 13.30 – 17.00

. kerja lagi…

. pak rt masi ngurusi gali-menggali.

. gua sama beberapa mas-mas nglanjutin masang penahan tampias.

. setelah penahan tampias slese, gua, putera, ma saris nglnjutin bikin frame untuk tempat hiasan bambu-bambu sisa yang dipotong-potong sama putera dari kemaren-kemaren.

. kami motong-motong multiplek yang 8 mm sesuai ukuran.

. sampe jam 5 sore, tinggal rak buku, hiasan bambu-bambu bikinan putera, sama hiasan anyaman bambuyang belum di slesein.

. o iya, hari ini pak slamet ga dateng. Jadi, rak buku belum bias dilanjutin.

. sampe hari ini, kira-kira udah 85% bangunan slese. Sebenernya malah bangunannya udah slese, tapi itnggal bikin hiasan-hiasan(fungsional) dan ngrapihin. Amplas juga.

10 10 2010

. hari terakhir….

. bangun. Beres-beres kamar. Packing. Tapi sesi pagi-siang kami akan tetep bantuin warga.

. slese packing langsung cabut ke lokasi.

. hari ini hari paling rame dari 10 hari kami di sini. Ada 20 orang. Karena hari minggu juga mungkin.

. sebagian besar orang ngerjain selokan yang mau dikasi gorong-gorong. Ada yang ngangkut batu kali. Bikin adonan plester. Dan masang batu kalinya ke pinggiran selokan.

. sebagian yang lain bikin rak buku. Kbetulan ada pak slamet. Gua , putera nge-cat frame yang mau dipake buat wadah bambu-bambu hiasan kemaren.

. jam 12 siang gua sama putra balik ke penginapan. Mandi dan siap-siap pulang ke Jakarta.

. abis itu ngangkutin barang-barang ke rumah pak rt dulu. Sambil nungguin sore, masih ngebantuin dikit-dikit.

. jam 3an ke rumah pak pri(yang punya penginapan). Pamitan. Balikin motor.

. jam 4 sore balik ke rumah pak rt.

. sampe sebelum kami pulang. Udah 90% lah. Rak buku udah jadi, tinggal nge-cat. Hiasan bambu-bambuan putera juga uda jadi 1 tempat dari 4 tempat. Sisanya tinggal nambahin anyaman bambu dikit di 2 tempat(hiasan) sama nungguin bambu kering dan diamplas.

. sebelum cabut ke terminal, kami poto-poto dulu bareng warga yang kerja sore itu. Dengan background bangunan kami tentunya.

. jam 5 sore kami pamitan. Ke pak bayan, pak rt, warga. Kami di anter mas sis sama mas panut ke terminal boyolali. Naek motor.

. pulang ke Jakarta….

. tak lupa ucapan terimakasi buat mereka….



27
Oct
10

pendekatan (arsitektur) dalam masyarakat

Pada mata kuliah everyday ini, saya mengikuti salah satu community project yang dilaksanakan di Jatinegara Kaum RW 01. Dimana disana kami diminta untuk membuat suatu komunal space yang dapat memfasilitasi seluruh warga RW 01 dalam kegiatan bersama. Project ini diawali dengan pemberitahuan awal, mempresentasikan project kepada pihak yang mewakili seluruh RW01 yaitu bapak RW itu sendiri. Dari sini sudah dapat dikatakan awal pendekatan secara tidak langsung melalui pendekatan kita dalam memberi penjelasan mengenai project sehingga dapat diterima dan dapat dilanjutkan.

Untung tahap selanjutnya kami melakukan survey yang pertama kali. Dari survey ini kemudian kami sekaligus melakukan pendekatan terhadap warga dengan melakukan wawancara mengenai kebiasaan dan data sehari-hari mereka. Melalui wawancara yang dilakukan dengan santai dan penuh keakraban itu kami juga menerangkan sedikit demi sedikit mengenai project yang akan direalisasikan apabila tidak ada halangan (pendekatan arsitektur-project arsitektur).

Sampai pada tahan participation dimana disini kami kembali mengikut sertakan warga untuk menyumbangkan idenya untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu tahap desain. Didalam tahap partisipasi ini, tercipta pula pendekatan yang berkelanjutan antara kami selaku arsitek(pendisain) dengan warga selaku konsumen. Pendekatan itu kami wujudkan dengan mengumpulkan warga kemudian menerangkan kembali tentang project kami serta tak lupa kami memberi treatment sehingga tercipta suasana yang lebih akrab, serta si warga juga lebih antusias.

Jadi untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu tahap desain, dengan pendekatan(arsitektur) ini dapat mempermudah proses dalam mendesain. Dimana dari pendekatan ini kami telah mengetahui lingkungan sekitar(site) serta menggali lebih dalam mengenai warga selaku konsumen dan juga mengikut senrtakan ide/keinginan dari si warga itu sendiri. Sehingga dapat melahirkan suatu desain yang sesuai dengan kebutuhan dari warga.

26
Oct
10

Pengaruh Pemerintah dalam Keseharian

Keseharian suatu komunitas ataupun individu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Selain terpengaruh, keseharian juga dapat diintervensi oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah pihak pemerintah. Studi mengenai intervensi yang dilakukan pemerintah, saya ambil adalah kebiasaan masyarakat India mengenai sanitasi dan bagaimana pemerintah India mempengaruhi keseharian mereka.

Masyarakat India memiliki keseharian mengenai sanitasi yang sangat buruk. Salah satu penyebab terbesarnya adalah karena pengadaan toilet dan kebiasaan buang air besar sembarangan. Karena tingginya tingkat kematian akibat diare di India, pemerintah India akhirnya mulai menyadari akan pentingnya mengambil langkah dalam penyadaran akan pentingnya kebersihan. Langkah-langkah yang diambil pemerintah dapat berupa sosialisasi atau berbentuk reward kepada warga.

Sosialisasi dilakukan dengan memperkenalkan slogan “na byahun beti us ghar mein jismein na ho shauchalaya” yang dalam bahasa Inggris “won’t get my daughter married into a household which doesn’t have a toilet”. Pemerintah India melakukan pendekatan secara tidak langsung dengan membuat warganya merasa malu jika tidak memiliki toilet pribadi.

Selain sosialisasi, pemerintah India juga memberi reward kepada warganya yang berkeinginan untuk membangun toilet pribadi di rumah masing-masing. Berbeda dengan usaha pemerintah yang pertama, usaha kedua ini lebih bersifat langsung dengan memberikan reward. Usaha ini berbeda dengan yang pertama karena usaha pertama diharapkan menimbulkan kesadaran warga, sedangkan usaha kedua belum tentu menimbulkan kesadaran. Namun, kesadaran dapat hadir setelah pembuatan toilet pribadi dimana warga merasa nyaman dan bersih setelah memiliki toilet pribadi.

Kedua buah hal tersebut di atas menghasilkan perkembangan yang cukup besar. Dari data oleh the times India yang diambil sejak tahun 2005 hingga Januari 2010, telah dibangun total 1,417 juta unit toilet oleh keluarga di seluruh India. Dimana 947 ribu unit toilet dibangun oleh keluarga menengah ke atas, sedangkan sisanya sebesar 470 ribu unit toilet dibangun oleh keluarga menengah ke bawah.

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemerintah dalam keseharian masyarakatnya cukup besar. Namun, tidak seperti aktivis, local group, atau bahkan arsitek, pengaruhnya terlihat lebih pasif. Aktivis, local group dan arsitek melakukan intervensi secara langsung, seperti melakukan workshop, seminar, dan pembangunan fisik sehingga hasilnya dapat dilihat secara langsung. Berbeda dengan peran pemerintah, hasilnya baru dapat terlihat dalam jangka waktu yang cukup panjang.

26
Oct
10

Sampai sejauh mana perilaku dan arsitektur saling mempengaruhi?

Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah terlepas dari lingkungan yang membentuk diri mereka.  Di antara sosial dan arsitektur dimana bangunan yang didesain oleh manusia, secara sadar atau tidak sadar, mempengaruhi pola perilaku manusia yang hidup di dalam arsitektur dan lingkungannya tersebut.

Sebuah arsitektur dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan sebaliknya,  dari arsitektur itu lah muncul kebutuhan manusia yang baru kembali.  Hal ini pernah dikemukakan oleh Winston Churchill:

We shape our buildings; then they shape us” – Winston Churchill (1943)

Manusia membangun bangunan demi pemenuhan kebutuhan kita, yang kemudian bangunan itu membentuk perilaku kita yang hidup dalam bangunan tersebut. Bangunan yang didesain oleh manusia yang pada awalnya dibangun untuk pemenuhan kebutuh manusia tersebut mempengaruhi cara kita dalam menjalani kehidupan sosial dan nilai-nilai yang ada dalam hidup. Hal ini menyangkut kestabilan antara arsitektur dan sosial dimana keduanya hidup berdampingan dalam keselarasan lingkungan.

Seperti pada contoh selasar Departemen Arsitektur Universitas Indonesia yang dulunya diletakkan kursi panjang untuk duduk. Orang-orang dapat duduk santai di kursi tersebut. Namun dengan diletakkannya kursi tersebut, membuat orang banyak berkumpul di sekitar kursi dan menghalangi sirkulasi orang pada koridor itu. Hal ini yang dikatakan sebuah arsitektur membentuk perilaku kita. Kutipan Churchill begitu dirasa ketika kursi panjang tersebut dipindahkan ke samping koridor dimana tidak ada sirkulasi orang disana. Terlihat di selasar tidak ada lagi kumpulan orang yang menghambat jalur sirkulasi koridor. Namun apakah benar hanya sampai disitu saja?

Pernyataan Churchill ini 51 tahun kemudian diinterpretasikan kembali oleh Steward Brand:

“First we shape our buildings, then they shape us, then we shape them again-ad infinitum” – Stewart Brand (1994)

Manusia membangun bangunan, yang kemudian membentuk perilaku manusia itu sendiri. Lalu menurut Brand, setelah perilaku manusia terbentuk akibat arsitektur yang telah dibuat, manusia kembali membentuk arsitektur yang telah dibangun sebelumnya atas dasar perilaku yang telah terbentuk, dan seterusnya.

Seperti pada urban housing Pruitt-Igoe (St. Louis, USA) oleh Minoru Yamasaki. Pruitt-Igoe yang dibuat berdasarkan asas Le Corbusier mendapat penghargaan arsitektural. Gedung-gedung dibuat anti rusak dengan pemakaian bahan tertentu sebagai lapisan luar gedung. Namun karena perilaku ini yang kemudian membawa efek yang berbeda terhadap arsitektur itu sendiri. Karena dibuat anti rusak, orang-orang sekitar malah tertantang untuk merusak gedung yang sulit dirusak tersebut. Tidak hanya eksterior saja, secara interior, lampu gedung ini ditutupi oleh kerangka agar lampu tidak bisa dirusak atau dipecahkan secara sengaja, cat tembok terbuat dari bahan karet agar tidak bisa dicoreti, ataupun lift terbuat dari bahan antigores. Melihat perlakuan seperti ini, perilaku masyarakat menjadi tertantang kembali untuk merusak arsitektur yang katanya tidak bisa dirusak tersebut. Muncullah permasalahan baru yakni Vandalism. Rasis antara kulit hitam dengan putih, kesenjangan sosial, hingga kriminalitas banyak terjadi disini.

Ternyata, setiap arsitektur yang dibuat atas dasar kebutuhan manusia menghasilkan efek perilaku yang berbeda terhadap arsitektur itu sendiri. Hal ini yang dimaksud dengan Brand terhadap interpretasi kutipan Churchill itu., mengenai pembangunan kembali arsitektur yang diadaptasi dari kebutuhan dan perilaku manusia yang berdampak terhadap psikologi seseorang.

Dari contoh kasus diatas, terlahir sebuah pertanyaan:

Sebenarnya, sampai sejauh mana perilaku dan arsitektur saling mempengaruhi?

Saya kemudian hanya bisa menyimpulkan : selama arsitektur merupakan produk sosial, sampai sejauh itu pula psikologi dan perilaku manusia terlibat dalam arsitektur.

21
Oct
10

suka kah angin….

singing ringing tree

Apa yang ada di sekitar kita? Mungkin bisa apa saja. Udara yang mengalir, apakah ini namanya angin?
Angin yang terus ada atau kah malah jarang ada, sebenarnya seperti apa tindak yang telah kita lakukan terhadapnya.
Panopticons, sebuah proyek di Inggris, yakni membuat empat buah benda yang dapat disebut ‘sculpture’ sebagai landmark yang akan memberikan pemandangan panoramik yang besar pada area mereka berada.
Singing ringing tree merupakan salah satu panopticon yang berada di Burnley, tepatnya pada Lancashire.
Kawasan ini merupakan padang rumput yang sangat luas dan kosong, terletak di pinggiran kota Burnley. Yang menarik ialah daerah ini jarang didatangi oleh penduduk. Mengapa?
Lahan rumput yang membentang luas memberikan keadaan angin yang berintensitas besar dan tinggi. Angin yang sangat kencang dan berlangsung terus-menerus menyebabkan jarangnya orang datang ke Lancashire karena fenomena angin ini cukup mengganggu yang membuat orang akan merasakan angin menekan dirinya terus dan suaranya yang bising.
Arsitek Tonkin Liu memiliki pendapat berbeda. Mereka melihat bagaimana keadaan angin ini menjadi sesuatu yang potensial dan seharusnya fenomena alam dapat menjadi hal yang positif bagi manusia. Arsitek ingin membuat intensitas dan kecepatan angin yang terjadi ini menjadi sesuatu yang positif sehingga nantinya penduduk akan jadi menikmati, merasakan, dan mengalami fenomena angin yang hebat ini di mana akhirnya daerah ini menjadi perhatian dan didatangi penduduk sebagai bagian dari keseharian hidup mereka. Sungguh suatu pemikiran yang luar biasa.
Arsitek membuat sebuah ‘sculpture’ yang akan dapat menghasilkan bunyi dengan susunan irama yang harmonis dengan angin yang ada. Dari bentuk pohon yang tinggi ke atas, maka dibuatlah bentuk struktur dengan pipa-pipa yang naik ke atas hingga 4 meter, dan semakin ke atas maka semakin luas permukaan yang dibentuk pipa. Pipa inilah yang dimanfaatkan seperti flute. dengan satu alas pipa yang terbuka lalu adanya celah tipis yang berbeda-beda dan sesuai panjang pipa yang ada. Inilah yang memberikan kesempatan ketika angin melalui pipa-pipa tersebut, maka akan terjadilah bunyi yang keras dan berubah-ubah.
Ketika benda ini terbangun dapat dirasakan dari saat melihatnya dari jauh bagaimana tampak sebuah struktur hebat yang besar berdiri di tengah padang rumput yang tidak terdapat bangunan apa pun. Lalu ketika mulai mendekat, mulailah terdengar suara yang berirama yang berubah-ubah sesuai arah datang dan kecepatan yang diberikan angin.
Namun di sinilah yang membuat fenomena baru ini menarik. Orang yang datang merasakan benda tersebut, ada yang mengatakan “Ini fantastis, merupakan sebuah icon daerah ini.” Lalu ada juga yang mengatakan, “Sebuah susunan struktur yang luar biasa!” Ada lagi yang lain, “Ini seperti sebuah simbol dari generasi yang baru.”
Yang menjadi pertanyaan ialah apakah sebenarnya yang dirasakan penduduk sebenarnya sama dengan apa yang diharapkan arsitek? Melihat bagaimana tanggapan yang diberikan penduduk, tampak respon mereka yang menekankan akan suatu benda yang luar biasa telrihatnya dari strukturnya yang membesar ke atas, ukurannya yang tinggi besar, dan keberadaannya di tengah padang rumput. Bukankan seharusnya arsitek ingin bahwa ini menjadi sesuatu yang akan mengubah perasaan mereka terhadap daerah Lancashire, dari yang penuh angin mengganggu menjadi angin yang dapat dinikmati.
Semua ini relatif memang. Ada lagi contoh orang Bolton yang datang, lalu menceritakan pengalamannya, “Awal saya datang ke sini, saya mulai mendengar suara seperti pesawat jet. Lalu saya mendekat, suara ini menjadi seperti putaran angin tornado. Semakin lama suara ini menjadi mengerikan, memang seperti ada irama namun semakin membingungkan rasanya. Mungkin seperti sebuah film horor.”
Kenyataan ini memperlihatkan bagaimana suara dengan tempo naik turun yang seharusnya dinikmati dapat menjadi anggapan yang mengganggu dan membingungkan.
Ini mungkin hanya sekedar kontradiksi singkat yang subjektif. Namun sebenarnya yang ingin dilontarkan ialah ketika memang sebuah daerah berangin ni menjadi sesuatu yang terlupakan yang dimaknai dengan jarangnya penduduk yang datang ke sini, apakah memang karena angin itu yang menjadi faktor dominan? Atau sebenarnya ada kekosongan mungkin kehampaan yang dirasakan penduduk di Lancashire? Mengubah pengalaman angin merupakan ide luar biasa, tetapi perasaan, pengalaman yang dimiliki arsitek, orang awam, ahli bidang lain, dan penduduk dapat dikatakan berbeda. Yang menjadi terlupakan bagi penduduk pada daerah Lancashire mungkin bukanlah anggapan negatif keadaan anginnya, mungkin ada yang hal lain yang lebih melibatkan aktivitas penduduk. Namun sebaliknya, bisa juga memang anggapan angin ini memang yang menjadi terabaikan sesuai pemikiran arsitek, hanya saja mungkin penduduk memiliki hasrat lain terhadap angin yang sebenarnya ingin dilakukan tapi masih tak disadari.
Jadi apakah angin yang selama ini kita rasakan? Bagaimana kita melakukan tindak terhadapnya? Atau, sebenarnya kita pernah sadar akan keberadaannya yang biasa saja atau mungkin hanya sedikit?

03
Jan
10

Modernkah?

Beberapa bangunan “kotak” dengan atap datar, dan minim-bahkan sangat minim- ventilasi muncul di negara tropis kita. Dengan paparan matahari yang cukup banyak dan suhu harian yang cukup panas, bangunan “kotak” itu sebenarnya tak relevan. Alhasil, dibutuhkanlah teknologi tambahan semacam: air conditioning untuk membuat penghuninya nyaman.

Benar, seperti yang tertulis dalam chapter 6 dari solar geometry , bahwa perkembangan akan ilmu pengetahuan dan technology membuat kita percaya bahwa semua masalah dapat dipecahkan sehingga kita tidak butuh lagi untuk hidup harmonis dengan alam, dengan contoh lain yang ditulis dalam chapter 6 tersebut…
…in the desert of buildings with very large areas of glazing, which can be kept habitable only by means of huge energy guzzling air conditioning plants

Tipis bedanya bahwa itu adalah sebuah kejeniusan dalam ber-arsitektur, atau sebaliknya.

Sedangkan Le Corbusier berujar “It is the mission of modern architecture to concern itself with the sun”

Berarti sesuai parameter Le Corbusier akan arsitektur modern, bangunan-bangunan ini –yang tak bersesuaian dengan keadaan matahari- bukanlah termasuk arsitektur modern?

24
Dec
09

Arsitektur sebagai benda hidup

Arsitektur, tidak seperti bidang seni lain, hadir dalam  realitas sehari – hari. Arsitektur adalah ruang fisik untuk aktivitas manusia, yang memungkinkan pergerakan manusia dari satu ruang ke ruang lainnya, yang menciptakan tekanan antara ruang dalam bangunan dan ruang luar. Namun, bentuk arsitektur juga ada karena persepsi dan imajinasi manusia.

Karena eratnya hubungan antara manusia dan arsitektur inilah maka dalam menghadirkan arsitektur hendakanya kita sebagai arsitek harus benar – benar mengetahui  bagaimana  perilaku manusia yang akan berkenaan dengan karya arsitektur tersebut. Kata perilaku menunjukan manusia dalam aksinya, berkaitan denagan semua aktivitas manusia secara fisik; berupa interaksi manusia dengan sesamanya ataupun dengan lingkungan fisiknya. Di sisi lain, desain arsitektur akan menghasilkan suatu bentuk fisik yang bisa dilihat dan bisa dipegang. Karena itu, hasil desain arsitektur dapat menjadi salah satu fasilitator terjadinya perilaku, namun juga bisa menjadi penghalang terjadinya perilaku.

“ we shape our buildings and afterwards our buildings shape us. “ (Winston Churcill, 1943)

Dari keterkaitan yang menimbulkan interaksi bolak – balik inilah dapat dikatakan arsitektur itu bukan hanya sekedar objek ciptaan manusia berupa benda mati. Karena dalam ke-eksistensiannya, tidak dapat dipungkiri arsitektur akan hidup bersama – sama kita sebagai manusia yang akan selalu membutuhkan arsitektur.

Jika kita dapat hidup dengan rukun dan damai bersama arsitektur yang hidup dengan kita, tak jarang sebuah karya arsitektur pun akan hidup lama dalam ke-eksistensiaannya di muka bumi ini. Sebagai contoh adalah hasil – hasil peninggalan bersejarah yang hidup dalam beberapa perubahan zaman ( generasi ). Di Jakarta pun masih terdapat  peninggalan bersejarah yang  masih hidup sampai saat ini bersama – sama dengan warga Jakarta, yakni di kawasan kota tua. Disana dapat kita jumpai karya – karya arsitektur peninggalan orang – orang tedahulu yang masih bermanfaat bagi kehidupan kita saat ini. Kita ambil contoh Museum Fatahillah. Dahulu museum ini adalah pusat pemerintahan kota Batavia yang juga digunakan sebagai penjara bawah tanah untuk para tahanan pemerintah. Namun, hingga kini sebuah karya yang mengesankan ini juga masih dapat eksis bersama – sama kita di tengah – tengah kota Jakarta ini, walupun sudah berubah nilai fungsinya. Saat ini Museum Fatahillah dan juga bangunan – bangunan lain di Kawasan Kota Tua, selain sebagai objek peninggalan bersejarah tetapi juga sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia lainnya, seperti; rekreasi, pendidikan, bahkan hingga profesi pekerjaan ( entertainment, fotografi, dan lain lain ).

Tetapi dalam kehidupannya manusia pun tak jarang berbuat kerusakan yang pada akhirnya akan merusak karya – karya arsitektur yang ada. Kerana manusia dalam ekosistemnya relatif mempunyai peran yang sangat kecil. Banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam ekosistem tersebut justru berada di luar campur tangan manusia. Akan tetapi, manusia dapat menjadi sumber masalah karena manusia elalu menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri ( sikap antroposentris ) dan dalam jangka panjang dapat merugikan sesama manusia dan atau lingkungan fisiknya.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers