Archive for the 'space of everyday' Category

13
Jan
12

Make Up

Pertama kali saya menggunakan make up adalah kelas 2 sma, tetapi memakai make up tidak menjadi sebuah rutinitas karena teman laki-laki (pada zaman itu) apabila melihat kami para wanita abg memakai make up, maka ejekan lah yang keluar dari mulut mereka, seperti tante-tante, pipi terlalu merah, dan sebagainya. Tetapi memakai make up mulai saat itu saya telah biasakan, dipakai saat pergi bersama teman wanita saja, rutinitas dilakukan sebelum pergi, berkumpul di rumah salah satu rumah, kemudian memakai make up bersama, saling menshare tips. Semakin kemari, kebiasaan make up semakin sering dilakukan, tidak hanya saat pergi sesama wanita, tetapi kami mulai berani apabila pergi bersama lelaki juga, tetapi ternyata tanggapan seperti hinaan dan sebagainya hanya datang ketika pertama dahulu saja, mereka sekarang menggap hal tersebut sudah lumrah dilakukan, melihat penggunaan makeup sekarang sudah mulai digunakan bahkan oleh abg-abg smp. Dengan kelumrahan tersebut, saya pun sekarang menjadi aneh apabila keluar, pergi bersama teman-teman kususnya komunitas teman sma, tidak menggunakan make up. Tetapi everyday telah berubah, dahulu sistem penggunaan makeup, seperti teman, dimana sebelum pergi ke tempat tujuan, berkumpul bersama saling memberi tips dan memakaikan. Sekarang sistem yang terjadi kami memakai makeup sendiri, belajar sendiri melalui tutorial di internet, kemudian mengaplikasikan sebelum datang ke acara dan telah tampil cantik ketika bertemu dengan teman-teman tersebut, dan saling membandingkan hasil makeup masing-masing memberi penilaian (sendiri) terhadap yang lain, seakan musuh, berlomba untuk menjadi yang lebih cantik. Hal tersebut menjadi bukti bahwa esensi memakai make up yang dahulu (pada komunitas kami) telah berubah, dahulu menjadi sebuah moment yang dilakukan dan dinikmati bersama dan sekarang menjadi sebuah moment yang dilakukan dan dinikmati sendiri. Tetapi hal yang tidak berubah, kami melakukan hal ini demi kepuasaan dan kebanggan kami sesama para kaum wanita, bukan untuk anda kaum laki-laki :p

 

13
Jan
12

CONNECTING PEOPLE

Apa yang akan anda lakukan bila jauh dari orang tua dan orang-orang yang anda sayangi? Pastinya akan mencoba untuk menguhubungi mereka setidaknya memberi kavar tentang keadaan diri dan mengetahui keadaan mereka. Saat ini saya mengalami hal tersebut di mana jauh dari orang tua, dan tidak ada alat komunikasi yang dapat di gunakan, -baca: handphone. Di waktu sekarang ini sangat terasa bagaimana kehidupan kita sehari-hari semakin dipermudah dalam berkomunikasi, menunjukan eksistensi diri pada tiap status twitter atau facebook yang kita post dan perlihatkan kepada semua followers dan teman setiap saat. Nah, bagaimana jikau keseharian kita dengan ketergantungan alat komunikasi tersebut hilang untuk beberapa saat. Dimana ketersediaan internet terbatas, dan juga pelarangan pada dua situs yang paling sering kita kunjungi tersebut ( twitter dan facebook )。 Apakah anda akan kalang kabut? Perubahan ini saya rasakan sangat drastis, untungnya saya bukanlah pecandu dua situs tersebut. Tetapi tetap saja pentingnya komunikasi kepada keluarga.

Ini adalah salah satu efek kemajuan ilmu teknologi, dimana kita sangat dimudahkan dalam mengggunakan manfaat dari teknologi tesebut namun pada akhirnya tanpa disadari hal tersebut juga menjadi candu bagi para penggunanya. Tetapi dari saat ini saya sadar bahwa terkadang lepas sejenak dari hal-hal terebut banyak waktu yang bisadigunakan untuk pekerjaan lain, hubungan dengan sesama juga lebih baik karena tidak adanya perselingkuhan dengan si benda dan hal tersebut. Intinya dapat lebih menikmati kehidupan. Maka saya mengajak untuk lebih mengurangi ketergantungan pada hal-hal tersebut maka kualitas hidup akan lebih baik.

13
Jan
12

Gerbong Spesial ini Hanya untuk Wanita

Nyaman, bersih, dan bernuansa pink. itulah nuansa gerbong kereta khusus wanita saat saya pertama kali masuk di dalam gerbong yang masuk kelas AC-ekonomi jurusan Jakarta-Bogor ini. Sepanjang mata memandang hanya terlihat wanita kantoran, Ibu-ibu, mahasiswi, semuanya penumpang wanita. Wau! ini menakjubkan. Sangat berbeda kondisinya karena biasanya harus berdesak-desakan dengan penumpang lain baik wanita maupun pria. Pemandangan di dalam gerbong spesial ini beraneka ragam, mulai dari penumpang yang ngemper di lantai sampai penumpang yang sudah siap dengan kursi lipatnya. Semua terlihat nyaman melakukan aktivitas ini itu tanpa merasa ada gangguan. Awalnya merasa sangat tidak biasa karena biasanya naik kereta itu harus ekstra hati-hati, masuknya pun mesti super duper nyempil di antara orang-orang, dan di dalam kereta aktivitas menjadi sendiri-sendiri.

Belum lagi aksesoris yang cantik ini memang wanita sekali. Dengan tanda-tanda atau stiker yang berwarna pink. Dibandingkan gerbong biasa, gerbong spesial ini lebih cozy layaknya kamar wanita. Bagaimana tidak penumpang di gerbong ini menjadi lebih nyaman untuk beraktivitas di dalamnya. Begitu pun saya, walaupun di dalam penuh, tetapi tidak menutup kenyamanan saya berada di dalam gerbong ini.

Namun kenyamanan itu segera menjadi janggal setelah saya melihat bapak-bapak masuk ke dalam gerbong ini. Belum lama bapak ini berada di dalam gerbong, seorang ibu menegur bapak itu yang kemudian disetujui oleh penumpang wanita lainnya sehingga mata dan suara para penumpang tertuju pada bapak-bapak ini. Dan gerbong kereta ini pun menjadi ramai dengan suara gaduh bernada jengkel para wanita karena kehadiran bapak di dalam gerbong spesial mereka. Saya pun memang awalnya merasa aneh, padahal saya sudah terbiasa dengan kehadiran laki-laki di dalam gerbong yang sama saat naik kereta. Tetapi ludes begitu saja semenjak kehadiran bapak ini seorang diri karena berada dalam posisi yang salah saat ini. Selain dari penampakan dia paling berbeda diantara penumpang lainnya, sehingga mudah dikenali ‘siapa anda’ ini, kehadiran satu orang laki-laki ini ternyata telah mengganggu sistem kegiatan, kenyamanan, dan kepemilikan para penumpang wanita. Dimana gerbong ini telah menjadi sistem yang mangandung kegiatan yang hanya dilakukan wanita, apa yang di punya wanita (aksesoris), dan jika anda (laki-laki) masuk ke dalamnya, maka anda telah merusak sistem yang terbentuk di dalam gerbong spesial ini. Sehingga jangan salahkan kalau tiba-tiba anda ditegur dan menjadi objek ketidaksukaan para wanita terhadap anda.

Cuplikan kejadian tadi menjadi perhatian saya dengan menyimpulkan kondisi tersebut termasuk sesuatu yang ‘ugly’ karena tidak berada dalam penempatan yang seharusnya. Di dukung dengan waktu dan tempat kejadian yang sudah menjadi ikon “gerbong spesial ini hanya untuk wanita”. Sistem yang terbentuk di dalamnya menjadi janggal dan tidak berjalan karena kehadiran satu orang yang dianggap “anda bukan bagian dari kami” sehinngga menjadi ‘ugly’ bagi para penumpang wanita, termasuk saya.

13
Jan
12

// Arena Balap buat Supir Metromini

Mungkin sebagian dari kita pernah menggunakan moda transportasi ini untuk bepergian. Ya, inilah metromini, satu dari kesekian angkutan umum yang berada di Kota besar tempat kita tinggal. Beruntunglah buat kalian yang pernah menaiki angkutan ini, karena biasanya sang supir memenuhi keinginan kita agar cepat sampai pada tujuan. Bagaimana caranya: ngebut!
Ya, ngebut. Demikianlah keberadaan metromini menurut Beny & Mice dalam serial komik Lagak Jakarta, benci tapi dirindu oleh warga kotanya. Sebetulnya terkadang mereka berjalan lambat seperti siput dikala sepi penumpang. Namun apabila ada rekan sejawatnya (bus metromini lain) entah mengapa mereka langsung tarik gas ngebut begitu saja… Tanpa pikir panjang, bahkan seringkali mengganggu pengendara lain di jalan… Seperti inilah kondisinya…

Menurut saya sebaiknya mereka diberi penyaluran yang tepat untuk meluapkan insting balapannya, yaitu… arena balapan khusus untuk para supir metromini. Bagaimana caranya… Undang investor, ciptakan event hiburan yang dapat menarik minat masyarakat, seperti F1, moto GP, perbesar publikasi… dan bukankah keuntungan besar diraih… mungkin memang seperti tak dapat mungkin terjadi, karena sulit… tapi, yakinlah itu bisa… for better Jakarta… Bagaimana tanggapan anda???

12
Jan
12

Klimaks Tapi Antiklimaks

60 menit yang lalu, Saya masih berdiri di dalam kerumunan yang sudah seperti lautan orang dalam sebuah pertunjukan band yang di impor dari Amerika yang diadakan di Tenis Indoor Senayan yang rutin disulap menjadi tempat pentas musisi.

3 hari yang lalu, Tiba-tiba blackberry saya bergetar dan terlihat ada pesan dari teman lewat, yang isinya mengajak nonton konser band tersebut, dengan memilih penonton area festival

2 tahun yang lalu, Terakhir kalinya saya datang ke sebuah pertunjukan live musik yang besar sebelum konser tadi malam, perasaaan yang sama kembali terjadi, tapi masih buyar dalam bayangan dalam otak

Ternyata ada sebuah detil yang masih saya ingat dan sama seperti konser sebelumnya.

 

 

Pertama yang terfikir adalah mengapa memilih area festival? Karena konser sebelumnya pun saya berada di area penonton itu

Mungkin kalau di Tribune penglihatannya tidak terlalu baik karena berada di samping kiri dan kanan dari panggung sehingga saat menonton bisa terkena keram karna melihat ke satu arah dalam waktu yang lama, dan kalau VIP walau berhadapan langsung dengan muka musisinya namun dia berada terlalu jauh sehingga tidak telihat fokus dan tidak bisa dekat dengan panggung, walau sebenarnya dia bsa melihat keseluruhan panggung karena letaknya diatas, namun harga tiketnya tidak terlalu pas.

Sehingga dengan alasan tiket murah, dekat dengan panggung, arah pandangnya tidak terlalu statis, dan bisa berdiri dengan berdekatan dengan penonton yang lain agar lebih terasa suasana konsernya.

Terjawab Mengapa kami memilih penonton area Festival, masih sama seperti 2 tahun yang lalu.

Urutan lagu? Ya ternyata saya masih ingat bagaimana seorang musisi menempatkan urutan lagunya saat konser, urutannya dari awal adalah lagu hits pembuka– 3 lagu pengisi – 1 lagu hits – 1 lagu pengisi – 2 lagu hits penutup, ya kurang lebih seperti lagu andalan banyak yang ditaruh dibelakang sehingga apa yang ditunggu para penontonnya menjadi klimaks diakhir acara dan bisa jadi penutupan yang berkesan

Hal klimaks itulah yang saya tunggu kalau datang ke sebuah pertunjukan, karena umumnya saya hanya mengingat beberapa lagu andalan jadi hanya itu yang bisa saya nikmati, diawal sampai 3 lagu pengisi, penontonnya masih santai mendengarkan dan tidak terlalu histeris, penglihatan kepanggung masih jelas, tidak mengikuti lirik terlalu jelas karena ketidakfamiliaran dengan lagu pengisinya. Kedua layar besar yang diletakkan di kiri-kanan masih kurang dibutuhkan karena tidak ada yang melihat kearah situ kecuali kamera sedang merekam profil saat mereka memainkan instrumen.

Masuk ke lagu hits pertengahan acara sudah mulai terlihat kehisterisan dan kenorakan seorang pengemar, sedikit menggangu karena banyak yang melambai-lambai tangan keatas, mulai mengeluarkan gadget untuk merekam yang merusak pandangan karna tertutupi di area festival yang harus saling berbagi dan akur dengan sesama penonton. Ekspresi yang mulai sober terlihat diraut penontonnya.

Dimenit terakhir barulah hal yang familiar terdengar, dimenit yang hanya saya hapal lirik lagunya, dimenit yang harusnya menjadi momen musikal, dimenit klimaks ini, terdengar suara cempreng wanita histeris dari sebelah kiri yang jogged tidak karuan sambil asik sesekali menginjak kaki saya, terlihat kamera digital dan iphone saling berlomba menutupi pandangan, terlihat hanya tangan melambai-lambai mengisi suasana, yang terlihat hanyalah suasana panggung yang terlihat dari kedua layar lebar yang berada di samping kiri dan kanan panggung yang warnanya tidak tersaturasi dengan baik namun akhirnya ada kegunaannya, walau terlihat seperti pertunjukan live yang disaksikan di layar kaca rumah. Ternyata ini yang sama dirasakan, seperti 2 tahun lalu menonton pertunjukan musik, hal detil ini, dimana pemilihan area menonton itu ternyata sangatlah penting dan menentukan kesan dan pengalaman apa yang didapat dari sebuah pengalaman musikalitas.

12
Jan
12

simsalabim! Ruang parkir & meja prasmanan

null
null
Apa hubungan antara keduanya? Bagaimana sistem regulasi setempat?

Peruntukkan ruang parkir saat ini memang sangat penting. Dengan ruang parkir, pengendara dapat menitipkan kendaraannya sejenak untuk melakukan aktivitas yang lain. Dengan ruang parkir, terjaminnya keamanan sebuah kendaraan dapat dipercayakan. Ruang parkir yang melengkapi suatu fungsi bangunan komersial kini juga hadir dalam bentuk yang lebih independen. Tidak harus melekat pada fungsi public yang sudah ada, tetapi juga terkadang memang dibutuhkan sehingga peletakkannya tidak menempel pada bangunan yang ada.
Contoh lain dari sebuah ruang parkir ialah hadir karena adanya kebutuhan berpindah penggunaan alat transportasi seperti yang terjadi pada tempat parkir yang tersedia di dekat stasiun KRL Pondok Cina, Depok. Banyaknya jumlah masyarakat berpindah angkutan dari motor –kereta – motor harus diakui memudahkan akses yang bersifat personal. Motor digunakan untuk berpindah dari tempat tinggal menuju stasiun. Untuk kemudian diparkirkan selama bepergian melanjutkan menggunakan kereta.
Ruang parkir yang tersedia berjarak sekitar 10 meter dari loket belakang stasiun Pondok Cina ini memiliki keunikan tersendiri. Pada awalnya memang merupakan existing yang terbengkalai. Kemudian tercetus ide oleh warga setempat untuk mewadahi motor- motor yang memiliki keperluan parkir. Tempo itu, memang momennya tidak jauh dari saat terbakarnya parkiran motor stasiun Pondok Cina sehingga memerlukan ruang subtitusi, penggantinya untuk sementara. Ruang parkir ini juga dilengkapi dengan toilet dan ruang depannya diberi luasan yang sengaja disediakan bagi para pedagang kaki lima menjajakan produknya.
Keseharian aktivitas pada ruang parkir yang mengalir wajar juga sering penuh ini mendadak berubah drastis ketika hari sabtu atau minggu tiba. Pada satu kebetulan dalam kesempatan yang langka, saya melihat fungsi parkir ini berganti total menjadi ruang pesta pernikahan! Ruang ini mungkin memang hanya seluas 10x 10 meter, tetapi ketersediaan ruang yang memang memiliki syarat-syarat terbentuknya memang sama. Ruang parkir membutuhkan area luas yang memiliki teduhan atau naungan. Tidak jauh berbeda, ruang pesta pernikahan yang mengundang banyak khalayak pun membutuhkan ruang besar ditambah dengan meja –meja wadah piring makanan yangdipercantik dengan taplak kain dan gantungan di sana sini.
Ternyata memang merupakan kebijakan bersama bahwa ruang parkir ini dapat berganti fungsi sesuai kesepakatan bersama. Siapa yang memiliki keinginan untuk menyewanya dapat menyetor sejumlah uang kepada pemilik ruang parkir ini. Hasilnya, dengan mengundang tim dekorasi pesta bagaikan sulap ruang parkir tersebut lenyap untuk kemudian digantikan posisinya dengan perlengkapan pesta yang gemerlap dengan elemen dekorasi diberbagai sudut ruangan. Tidak lupa meja –meja panjang untuk prasmanan & taplak kainnya yang berenda- renda didatangkan untuk mempertegas ruang pesta ini menjadi lebih hidup.
Sesuatu hal yang istimewa dalam penggunaan spatial? Tidak juga. Menurut, Simin Davoudi dalam Conceptions of Space and Place in Strategic Spatial Planing, ‘this is at the time when there has been major conceptual shift on spatial thinking …. ‘. Penggunaan ruang kini tidak terpaku pada fungsi yang baku ataupun berdekatan saja, tetapijuga yang saling tumpang tindih seiring berjalannya waktu. Sudah banyak penggunaan ruang yang dapat berubah menyesuaikan dengan kebutuhan,selama hal ini tidak menyimpang dan merugikan actor-nya .

12
Jan
12

Perawatan Trotoar Jalan?

Bulan lalu saya agak risih karena adanya pembongkaran trotoar jalan di sekitar Gereja Katedral, Jakarta Pusat. Jalan tersebut merupakan akses yang biasa saya gunakan untuk berangkat ke kampus sebelum menuju Stasiun Kereta Api Juanda. Pembongkaran tersebut terpaksa menggeser rute saya di mana pedestrian yang seharusnya berjalan di trotoar menjadi berjalan di tepi jalan raya. Berjalan di tepi jalan raya menambah permasalahan baru bagi pejalan kaki karena harus berebut jalur dengan kendaraan bermotor, apalagi di waktu berangkat dan pulang kantor, pejalan kaki menjadi rawan terserempet sepeda motor yang biasanya main salip dari di tepi jalan.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa trotoar tersebut dibongkar dan diperbaharui. Di sisi lain saya sebagai pengguna setia trotoar tersebut :D tidak merasa ada kekurangan dengan kondisi yang selama ini ada, malah yang dirasakan adalah para pejalan kaki menjadi kurang nyaman dengan adanya pembongkaran ini.

Saya merasa bahwa hal ini menjadi sebuah pemborosan dengan memanfaatkan anggaran pemerintah daerah, juga menimbulkan perasaan buruk sangka bahwa ada peluang korupsi dalam proyek tersebut, semoga saja tidak. Saya mencoba mencari informasi lebih lanjut dengan menanyakan hal ini kepada saudara saya yang bekerja di pemerintah daerah. Beliau berkata bahwa pengadaan proyek tersebut kemungkinan besar dalam rangka penghabisan anggaran tahunan di mana biaya memang sudah dianggarkan tetapi tidak sesuai prediksi. Namun saya masih merasa bahwa proyek semacam itu masih merupakan suatu pemborosan, lebih baik pemerintah setempat mengalokasikan dana tersebut untuk pembangunan di daerah yang lebih membutuhkan daripada sekadar membongkar trotoar yang selama ini baik-baik saja kemudian menggantikannya dengan trotoar yang serupa.

12
Jan
12

‘maketing’ or ‘wasting’?

Yaaa..seperti yang sudah sangat kita hafal, selalu ada ketentuan untuk membuat maket didalam setiap proses perancangan, maket struktur lah, arsitektural lah. Sebenarnya untuk eksplorasi ide, keberadaan si maket cukup membantu untuk akhirnya menemukan bentuk dari disain yang diinginkan.entah itu bentuk keseluruhan rancangan maupun hanya bagiannya saja.
Setelah berkembangnya teknologi untuk membuat visualisasi tiga dimensi. Saya merasa keberadaan maket sedikit tidak diperlukan. Bukan sama sekali tidak diperlukan, namun hal tersebut membuat saya agak malas membuat maket. Karena yaaah..hasil gambaran 3 dimensi yang d buat software sejenis sketchup, archiCAD, max dan lainnya ditambah dengan efek photoshop sudah menjadikan bangunan tersebut terlihat nyata.
Kalau boleh jujur, maket yang saya buat beberapa semester terakhir, berakhir di tempat sampah. Yaa setelah melewati beberapa waktu di kamar saya hingga akhirnya memutuskan maket tersebut sebagai sampah dan kemudian membuangnya. Mm..sebenarnya, berdasarkan issue ‘go green’, si maket yang berasal dari bahan-bahan berupa kertas, kapa board plastik dan lainnya yang akhirnya di’buang’ merupakan sebuah ‘wasting’. Dan biasanya, maket yang dihasilkan tidak hanya satu..yaa..setumpuk lah, lumayan.
Jadi, pertanyaannya adalah..kenapa harus bikin maket kalau toh hanya akhirnya akan dibuaaang? Jadi sampah? Well, pertanyaan ini akhirnya saya jawab sendiri, dengan kesimpulan, either harus bikin maket dengan sangat-sangat bagus sehingga menimbulkan perasaan sayang untuk dibuang, atau tidak bikin sama sekali dengan alasan akan menjadi sampah (wasting-red)

12
Jan
12

Parkir perumahan

Dalam sebuah perumahan biasanya terdapat beberapa area yang memang diperuntukkan sebagai area publik/ area bersama yang dapat digunakan oleh semua orang, terutama penghuni perumahan. Area-area yang saya maksud adalah seperti taman, pertokoan, dll, tapi yang ingin saya angkat di sini adalah tentang jalan perumahan. Jalan perumahan berbeda dengan jalan umum, karena dia adalah jalan milik perumahan tersebut dan dengan memasuki jalan tersebut, berarti kita sudah memasuki sebuah area perumahan. Seperti area bersama perumahan lainnya, jalan perumahan paling sering digunakan oleh para penghuni perumahan. Jalan perumahan biasanya digunakan sebagai akses keluar masuk dari area perumahan.

Saya ingin membagi sedikit tentang suatu kejadian yang terjadi di daerah rumah saya. Di dareah rumah saya kebanyakan penghuni rumah memiliki 2 atau lebih mobil. Tapi yang unik adalah kebanyakan garasi rumah-rumah tetangga saya hanya muat untuk 2 mobil, bahkan ada yang hanya muat untuk 1 mobil sedangkan dia mempunyai 3 mobil. Berlebihnya jumlah mobil dibandingkan dengan jumlah yang bisa ditampung oleh garasi pemilik mobil terjadi di hampir semua rumah tetangga saya, bahkan dalam blok tempat saya tinggalpun, hampir semua rumah tidak mempunyai tempat yang cukup untuk memakirkan mobilnya di garasi rumahnya. Karena tidak cukupnya tempat untuk memakirkan mobilnya di garasi mereka masing-masing, maka penghuni rumah mulai menggunakan jalan perumahan di depan rumah mereka untuk memarkir mobil mereka. Hal ini menarik untuk dilihat karena pada saat pagi hari, sore hari, dan weekend, jalan depan rumah saya akan dipenuhi oleh mobil-mobil tetangga saya yang tidak bisa dimasukkan ke dalam garasinya. Tapi pada siang hari, jalan depan rumah saya akan langsung menjadi sepi dan lapang, karena tetangga-tetangga saya akan membawa mobilnya untuk bekerja.


kondisi pemarkiran mobil

Pada saat pagi, sore dan weekend, karena tidak/ belum berangkat bekerja, maka mobil-mobil tetangga saya akan diparkir di jalan depan rumahnya, yang membuat jalan depan rumah saya menjadi lebih sempit. Jalan yang seharusnya selebar 3 mobil, menjadi hanya bisa dilewati oleh 1 mobil saja, karena bagian kiri dan kanan jalan dipenuhi oleh mobil-mobil yang diparkir. Tapi pada saat siang hari, jalan depan rumah saya menjadi sangat lapang dan luas dibandingkan dengan pada saat mobil-mobil milik pemilik rumah diparkir di luar.Perbedaan ini sangat jauh terasa karena pada saat saya naik mobil dan melewati jalan depan rumah saya, maka saya tidak harus menutup cermin pinggir (rear mirror) mobi saya, tapi apabila mobil-mobil milik tetangga saya sedang diparkir di luar, saya harus menutup cermin pinggir mobil saya, karena kalau tidak kadang cermin pinggir mobil saya akan menyenggol mobil tetangga.

Apabila dipikirkan sebenarnya hal yang terjadi ini cukup lucu, karena walaupun tahu garasi mobil sudah tidak bisa memuat mobil lagi, tapi tetangga-tetangga saya masih tetap saja menyimpan mobil-mobil tersebut, sampai akhirnya mengambil area jalan perumahan, yang seharusnya merupakan area milik bersama. Karena kebutuhan akan sebuah area parkir, maka masing-masing penghuni rumah “mengambil” area jalan depan rumahnya yang sebenarnya merupakan jalan perumahan dan merupakan area milik bersama, dan akhirnya malah mengurangi jatah area bersama tersebut. Sehingga kita bisa melihat bagaimana yang awalnya merupakan area bersama, berubah dan berkurang luasnya, karena adanya kebutuhan pribadi masing-masing penghuni untuk sebuah lahan arkir tambahan

11
Jan
12

Studioku..rumah keduaku

Studio Aritektur Interior, sebuah ruangan yang terletak di lantai 2 gedung PAF FTUI, merupakan sebuah ruangan yang sudah menjadi rumah kedua bagi kami Mahasiwa Arsitektur Interior angkatan 2008 dan terkhususnya buat saya. Hal ini dikarenakan adanya matakuliah yang selalu menggunakan studio ini sejak semester 1, dimulai dengan mata kuliah senrupa hingga matakuliah PAI(perancangan Arsitektur Interior) 5 yang baru saja selesai.
Sebuah hala yang cukup menyedihkan saat mengetahui kami harus meninggalkan studio ini setelah beberapa hari yang lalu kami baru saja menyelesaikan PAI 5. Studio yang sudah menjadi rumah kedua bagi kami. Hal ini terjadi akibat hampir setiap hari kami berada disturio ini. Dalam seminggu, hari senin hingga jumat kami berada di studio ini.
Image and video hosting by TinyPic
Yang menarik dan ingin saya bahas adalah betapa hubungan antara psikologis dan ruang lingkungan itu mampu terbentuk dari keseharian. Dalam hal ini hubungan yang terbentuk antara mahasiswa-mahasiswa Arsitektur Interior dengan studionya. Hubungan yang sangat susah untuk dijelaskan, dimana sebuah karya arsitektur(studio) itu sudah dapat menjadi cerita dan sejarah tersendiri bagi pelaku yang berada didalamnya. Apakah bangunan atau ruang itu baru bercerita setelah banyaknya aktifitas yang terjadi didalamnya? Ataukah ruang yang sebenarnya itu tercipta dari hubungan berbagai aktifitas orang didalamnya? Dalam hal ini aktifitas dan cerita dari mahasiwa interior itu saling terkait dan membentuk ruang yang tak terlihat oleh kita?
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

11
Jan
12

kosan apa kapal pecah

“kosan apa kapal pecah”

“kosan apa tempat sampah”

inilah kata-kata yang sering terlontar dari mulut teman-teman sekosan ketika melihat kamar saya. Keadaan kamar ini terjadi setiap menjelang internal,external ataupun saat pekerjaan maket.

menurut saya hal seperti sudah wajar di kalangan mahasiswa arsitektur. Kalau saya membereskan kosan dalam keadaan ini saat lsudah selesai total atau kalau sedang “rajin” dibersihkan saat mau istirahat.

ini kamar saya bagaimana dengan kalian?

11
Jan
12

anak dan media elektronik

Seiring dengan perkembangan jaman dan waktu, dimana sekarang alat elektronik menjadi sangat mudah dan murah bagi masyarakat jaman sekarang. Mungkin yang dulunya kita harus mengeluarkan biaya yang sangat besar hanya untuk sebuah handphone, sekarang untuk sebuah handphone saja dengan kocek 300 ribu, kita bisa mendapatkan handphone dengan aplikasi yang cukup baik.

Dengan semakin dibutuhkannya layanan elektronik ini, tidak dapat ditutupi bahwa kenyataannya semua orang pasti memiliki minimal satu alat elektronik yang mereka gunakan sebagai kelangsungan hidup mereka, bahkan anak kecil sekalipun. Anak kecil jaman sekarang sudah banyak yang dibekali alat elektronik oleh orangtuanya dikarenakan masalah kemudahan dalam berkomunikasi dan untuk menunjukkan rasa sayang orang tua kepada anaknya, tidak sedikit anak kecil yang sudah memgang handphone, bahkan ber-bbm ria antar teman sekolahnya, bermain pun jaman sekaran juga sudah menggunakan iPad, PSP, dan media elektronik lainnya,

Hal ini bisa menjadi kemunduran namun juga bisa merupakan kemajuan tergantung si anak itu menggunakannya. Kemuduran ditunjukkan karena sangat akrabnya anak dengan teknologi maka banyak anak-anak menghabiskan waktunya dengan teknologi, dengan entah itu mereka bermain dan lain-lain. Padahal banyak hal lain yang bisa digunakan oleh anak tersebut untuk kemajuannya seperti untuk edukasi.

Tapi taukah anda, bahwa dengan maraknya anak kecil yang sudah dibekali alat elektronik seperti itu, malah menjadi boomerang bagi mereka, dimana banyak kasus penculikan dan pencurian terhadap anak kecil yang salah satunya memang dikarenakan tergiurnya para penjahat dengan alat elektronik, dan dapat dengan mudahnya mengambil dari seorang anak kecil dibandingkan dengan rang dewasa, dan karean daya tahan untuk melawan penjahat bagi anak cukup sulit untuk melawan penjahat.

Oleh karena itu, sebenarnya yang patut disalahkan siapa? Apakah orang tuanya yang memberikan media elektronik tidak pada waktunya?

11
Jan
12

aturan main

Dulu ketika masa Playstation berjaya, saya dan kedua kakak saya ikut terpengaruh oleh game elektronik tersebut. Awalnya hanya ada satu orang yang punya permaianan tersebut di dekat rumah saya. Hampir setiap hari kakak saya dan teman-temannya bermain ke rumah dia. Hingga suatu saat, orang tua membelikan permainan tersebut. Kakak saya dan teman-temannya punya tempat baru untuk bermain Playstation. Untuk bermain Playstation dibutuhkan televisi. Orang tua pun memfasilitasi tersebut. Ada satu televisi yang memang dipergunakan bagi anak-anaknya. Awalnya televisi tersebut dibeli karena keinginan dari masing-masing penghuni rumah terutama saya & kedua kakak saya yang ingin menonton acara yang beda-beda. Maka, televisi tambahan tersebut diletakkan di kamar saya & kedua kakak saya. Ketika itu saya masih satu kamar bersama kedua kakak saya. Karena letak televisi & Playstation berada di kamar maka hampir setiap waktu yang ada di rumah dihabiskan untuk bermain game. Terutama kakak kedua saya. Dia bisa bermain game sampai lupa makan, mandi bahkan tidur. Entah kenapa ia bisa bertahan di depan layar tv selama berjam-jam. Waktu itu kami masih sekolah dan belajar merupakan kewajiban utama kami. Untuk menyiasati ketagihan kami akan bermain Playstation, orang tua membuat peraturan bahwa bermain Playstation hanya boleh ketika hari Sabtu & Minggu atau hari libur. Peraturan tersebut berjalan dengan baik karena televisi & perlengkapan Playstation diletakkan di dalam lemari yang dapat dikunci. Nah, kunci tersebutlah yang disimpan oleh bapak saya. Ketika itu, setiap hari saya selalu menantikan hari Sabtu. Dan ketika hari Sabtu datang, kami pun menghabiskan waktu bermain. Karena permainan yang saya mainkan dengan kakak saya berbeda, maka saya sering rebutan. Karena waktu bermain hanya Sabtu & Minggu, kami membuat perjanjian kecil yaitu membagi waktu bermain. Misalnya, jam 3 kakak saya udahan bermain dan diganti oleh saya. Saya ingat, ketagihan kakak saya pada Playstation membuat waktu tidurnya sedikit, seperti ketika malam saat saya akan tidur, dia masih bermain. Lalu di pagi harinya, ketika saya masih tidur, kakak saya sudah bangun untuk bermain game. Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan yang hanya boleh bermain Playstation di hari Sabtu & Minggu.

11
Jan
12

pemilihan calon angkot

maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi diatas moda transportasi umum, yaitu angkotan umum yang memfasilitasi saya ke kampus, membuat saya lebih hati-hati dalam pemilihan calon angkot yang akan saya tumpangi terutama malam hari. biasanya, angkot di depan mata langsung saya pilih untuk dinaikin. syaratnya: akses mudah menuju angkot, dibilang ga mau ribet, dan ingin cepat sampai tujuan. mau sepi atau ramai yang penting pandangan mata ada angkot, langsung saja naik. tidak peduli lagi siapa teman saya di dalam angkot dan kondisi di dalam angkotnya bagaimana. namun semenjak beredar kejadian yang menimpa beberapa angkutan umum, saya pun mulai merubah mindset syarat calon angkot yang dipilih.

jadi pemilihannya begini, saat sudah berada di lokasi, saya akan memperhatikan beberapa angkot pada posisi yang lumayan jauh dari angkot. kemudian memfiltrasi angkot yang sepi dan gelap. angkot yang sudah ada penumpangnya dan terang menjadi kandidat calon angkot yang akan ditumpangi. selanjutnya saya akan mengeliminasi angkot dengan penumpang sedikit dan wanitanya tidak banyak atau tidak ada. mulai juga dengan menilai penampilan fisik laki-laki yang berada di dalam angkot. jika dirasa baik, maka masuk kandidat. penilaian angkot inilah yang menyebabkan saya lebih lama dalam memilih angkot = lebih lama sampai ke tempat tujuan. namun merasa lega jika calon angkot ini dirasa tepat untuk mengakses saya ke tempat tujuan. kelakuan ini pun sudah menjadi hal yang wajib dan biasa untuk dilakukan, berlaku juga saat saat saya menaiki transportasi umum lainnya seperti ojek.

mungkin akan menjadi lebih ribet untuk dilakukan, waktu yang dibutuhkan pun menjadi lebih lama. dan bisa dilihat aneh karena berdiri lama di posisi yang sama sambil melihat sekeliling seorang diri. namun dorongan untuk menjaga diri yang kemudian merubah mindset dan kelakuan dalam menilai objek yang akan kita pakai, menjadi hal yang lumrah dan biasa dilakukan walaupun berbalik arah dari mindset awal yang sudah kita pegang. hasilnya, diri merasa lebih tenang dan keputusan yang teliti dalam pemilihan calon angkot tidak merugikan waktu juga.


*calon angkot terpilih

*calon angkot tereliminasi

11
Jan
12

iklan norak vs. iklan kreatif

Bagi yang sering nonton tv, pasti belakangan ini sering melihat iklan di tv-tv yang secara “estetis” sedikit melenceng dari jenis iklan yang biasa kita tonton sebelumnya, beberapa teman di komunitas maya menyebutnya “iklan norak” yang dianggap kualitas gambar dan cerita dalam iklan tersebut tidak jelas, jelek, OOT, dan terkadang malah tidak menggambarkan produk yang diiklankan. Selain itu ada juga iklan yang dengan standar gambar high definition, dengan skenario yang mantap, narator yang suaranya gagah, setting yang eksotik, dan hal serupa lainnya.

Yang menjadi menarik adalah, ketika iklan-iklan itu disandingkan satu sama lain di sesi commercial break. Iklan dengan “kualitas tinggi” tadi sering kali menjatuhkan “iklan norak” tadi. Biasanya iklan-iklan dengan “kualitas tinggi” ini adalah iklan yang dikeluarkan oleh produk-produk dengan merk kenamaan, organisasi dan partai terkemuka, atau iklan-iklan produk import (dengan iklan yang diimport juga). Sementara iklan-iklan yang dianggap norak tadi banyak digunakan untuk menggambarkan produk-produk dengan merk lokal, merk baru, atau iklan-iklan pemerintah dan layanan masyarakat.

Biasanya alasan budget menjadi alasan untuk mengeluarkan produk iklan yang berkualitas. Akan tetapi, belakangan ini banyak produk-produk besar yang menggunakan “cara” yang dilakukan di dalam iklan norak. Kenapa? terbatasnya budget? atau?.

Saya pernah membincangkan hal ini dengan teman saya yang berprofesi dibidang serupa, tapi di media cetak. Dia mengatakan kalau saja sekarang definisi iklan yang “berkualitas” sudah tergeser. Iklan berkualitas bukan lagi iklan yang menggunakan kamera bagus, produser kenamaan, atau model-model ternama, banyak yang justru menawarkan sesuatu yang “unik” dengan asumsi akan memberikan bekas dan kesan bagi penontonnya. Menurutnya fakta ini tidak hanya ada di media elektronik, tapi juga di media cetak seperti majalan dan koran, bahkan sampai pada iklan-iklan fisik di lingkungan kota, baliho dan papan reklame misalnya.

Akan tetapi apabila melihat fenomena yang sekarang berkembang, banyak yang menawarkan keunikan bagi produknya dengan sedikit memaksakan, sehingga terkadang bukannya menghadirkan sesuatu yang unik tapi justru menjadikan iklan yang di tawarkan jadi cenderung “norak” (jayus, garing, alay, atau bahkan sangat jelek). Tapi apabila kembali lagi pada tujuan iklan tersebut dibuat, yaitu agar lebih membekas, sementara kebanyakan masyarakat kita (asumsi saya) seringkali lebih mengingat iklan-iklan yang norak ketimbang yang unik atau yang sangat bagus sekalipun. Dan  justru perbincangan tentang iklan-iklan jelek dan alay tadi yang sering kita temui dalam keseharian.

Sehingga pertanyaannya adalah jenis iklan yang mana yang bagus?? yang benar-benar bekerja sesuai tujuan dan makna dari “iklan” itu sendiri atau yang secara estetis memiliki kualitas tinggi???

11
Jan
12

ASAP YANG PEKAT, ASAP YANG DEKAT

Asap adalah sesuatu yang banyak orang biasanya cenderung untuk menghindarinya. Asap sangat identik dengan polusi dan seolah menjadi sesuatu yang merugikan dan membahayakan bagi tubuh kita sebagai manusia. Namun ternyata terdapat asap yang bagi sekalangan orang sangat mereka sukai keberadaannya, asap rokok.

Merokok memang sangat berbahaya bagi kesehatan kita, dan sangat dianjurkan untuk tidak mencobanya, namun nyatanya masih banyak orang yang menghisapnya dan menikmati asapnya. Maka tidak heran masih banyak kita temui ditempat umum orang-orang yang terlihat nyaman dan tentram yang terbalut dalam kepekatan asap-asap rokok mereka.

Dari pengalaman saya yang pernah terjebak dan terpaksa berada dalam keadaan tersebut diatas, saya menemukan hal lain dibalik bahayanya asap rokok tersebut.

Jika dilihat lebih dalam, asap-asap rokok tersebut seolah menjadi tanda dan batas bagi mereka. Sebuah batas yang membatasi mereka (para perokok) terhadap mereka yang bukan perokok. Banyak kita jumpai dibeberapa tempat, jika disitu terdapat satu orang yang menghasilkan asap rokok tersebut, maka orang lain yang merasa dia akan merokok dia akan mendekati area asap yang sudah ada dan kemudian menyalakan rokoknya. Tidak berhenti disitu saja, terkadang ada perokok yang tidak membawa atau memiliki korek, sehingga mau tidak mau dia harus meminjam korek atau menggunakan istilah “minta api” dari perokok didekatnya meskipun sebenarnya sebelumnya mereka tidak saling mengenal. Dari komunikasi sederhana tersebut, seiring dengan makin pekatnya asap yang ada akan terjadi sebuah obrolan sederhana yang mereka lakukan dan semakin lama pun mereka akan terlihat seolah lebih akrab dan sudah saling mengenal sebelumnya.Image

Jika dilihat gambar ilustrasi disamping ini, seolah asap-asap tersebut memang membuat mereka terselimuti dan terbatasi serta menegaskan bahwa itulah area yang mereka ciptakan untuk merokok, meskipun ditempat itu sebenarnya bukanlah area untuk merokok sebelumnya.

Semakin banyak orang masuk dan bergabung kedalam area pekat asap tersebut, seolah semakin membuat mereka merasa nyaman dan akan terus menikmati balutan asap-asap tersebut.

Tidak selamanya batas itu selalu bersifat solid, ternyata dengan yang awalnya kecil, dan hanya terbentuk dari bahan yang biasa kita sebut asap, akan mampu menciptakan sebuah batas antara mereka (perokok) dan mereka yanga lainnya(bukan perokok).

11
Jan
12

Keseharian Binatang Peliharaan dan Domesticity

Kita sudah membahas tentang domesticity di dalam kelas Everyday Architecture. Selama kelas dibahas tentang peran pria, wanita, kehidupan keluarga modern, sampai melihat sistem domesticity yang terjadi. Yang menjadi sorot utama adalah kegiatan mikro para penghuni rumah. Sekarang, bagaimana dengan hewan peliharaan? Jangan dikira karena mereka hanya binatang maka mereka tidak ambil andil apa-apa. Pada kenyataannya, keseharian binatang peliharaan saya mempunyai dampak yang cukup besar pada keseharian keluarga saya dan sistem domesticity di keluarga saya.

Meet Yuuki, the main actor in this post.

Photobucket

Keluarga saya adalah tipe keluarga penyayang binatang. Oleh karena itu binatang peliharaan kami semuanya dibiarkan bebas berkeliaran di dalam rumah (kecuali binatang seperti hamster). Interaksi antar penghuni rumah dengan Yuuki dan Aru sangat intens. Bahkan mereka berdua sudah dianggap anggota keluarga kami. Karena itulah, keseharian mereka sangat mempengaruhi kami.

Layaknya anjing pada umumnya, Yuuki sangat suka jalan-jalan terutama jalan pagi. Pada pukul 5 pagi, dia akan menggedor pintu kamar orang tua saya untuk membangunkan mereka. Setelah bangun, ayah saya mengajaknya jalan pagi. Dia selalu membangunkan ayah saya dan memaksa ayah saya untuk jalan pagi setiap pukul 5 pagi kecuali jika hari hujan. Sebelum ada Yuuki, ayah saya tidak pernah jalan pagi. Namun setelah ada Yuuki, beliau selalu rajin jalan pagi. Hal ini member dampak positif bagi kesehatan beliau.

Jika Yuuki dan ayah saya sudah pulang, ayah saya langsung menyapu jalanan di depan rumah saya dari daun-daun kering. Di saat itu, Yuuki akan menemani ayah saya dengan duduk manis di depan pagar. Setelah itu mereka akan masuk ke rumah. Ayah saya bersiap kerja, Yuuki memakan makanan yang disiapkan ibu saya. Yuuki biasanya selalu minum susu setelah jalan pagi. Karena itulah, saat ayah saya pergi, ibu saya menyiapkan susu untuknya.

Yuuki lebih suka berada di dalam rumah. Oleh karena itu, dia memiliki spot khusus yang ia suka. Salah satunya adalah kursi di dekat ruang TV. Sebelum ada Yuuki, keluarga saya suka duduk-duduk di kursi itu. Setelah ada dia, tidak ada yang duduk di kursi itu. Kursi itu menjadi miliki Yuuki. Yuuki juga suka naik ke tempat tidur ibu saya. Jika dia tidur di tempat tidur ibu saya saat siang hari, ibu saya biasanya membiarkan dia (dan menyebabkan saya atau kakak saya atau ayah saya untuk tidur di situ). Namun jika sudah malam, ibu saya akan mengusirnya turun.

Yuuki sangat menyukai sate ati penjual bubur keliling yang datang pada pukul 8 pagi. Karena itu, jika sudah dekat pukul 8, kami selalu bersiap-siap mendengar salakannya. Jika ia menyalak, itu berarti tukang bubur sudah datang dan kami akan membeli sate ati untuknya dan bubur untuk sarapan.

Jika terkunci diluar, Yuuki akan menggedor pintu dan menyalak sampai pintu dibuka. Maka dari itulah, pintu depan rumah kami terdapat bekas cakaran kuku anjing akibat ulah Yuuki. Jika dia tidak dibiarkan masuk, dia bisa ngambek di kemudian hari dan cuek terhadap anggota keluarga (ditolak anjing sendiri itu bukan perasaan yang menyenangkan, teman-teman)

Sebenarnya masih banyak keseharian Yuuki yang mempengaruhi sistem domesticity kami, namun postingan ini akan jadi panjang. Yang ingin saya tekankan adalah binatang peliharaan juga mempengaruhi keseharian dan sistem yang berlaku di dalam rumah. Keseharian Yuuki bahkan mempengaruhi keseharian kucing saya yang sejak kecil bergaul dengannya. Meski sekarang Yuuki sudah tidak ada, kami tetap mengingat bagaimana seekor anjing dapat membuat keseharian kami menjadi lebih berwarna dan berarti.

Photobucket
In memoriam, Yuuki (2006-2011)

11
Jan
12

pola sebagai wujud toleransi

Kos-kosan saya terletak di darah kukusan teknik. Terdiri atas 2 lantai. Lantai pertama berisi 1 kamar tidur serta 1 kamar mandi, ruang belajar, dan dapur.  Sedangkan lantai 2 terdiri atas 3 kamar tidur.

Penghuni kosan sendiri sebenarnya terdiri dari 1 orang jurusan ekonomi, sedangkan sisanya jurusan arsitektur interior dan arsitektur.

Karena di dalam kos-kosan saya terdapat 4 orang penghuni, dengan fasilitas kosan yang memang mau tidak mau harus digunakan bersama-sama, tanpa kami sadari, kami membentu pola penggunaan fasilitas dan ruang tersebut yang juga muncul dari toleransi terhadap satu penghuni dengan penghuni lain.

Teman saya, Tanti, jurusan ekonomi. Kamar Tanti terletak di lantai 2, bersebrangan dengan kamar saya, dan bersebelahan dengan kamar teman saya yang berjurusan interior, Ayu. Setiap jam 6 pagi Tanti akan lari pagi keliling UI. Sekitar pukul 05.30, dia akan menggunakan kamar mandi di lantai 2. Terkadang, jika kami semua ketiduran dan tidak bangun untuk shalat subuh pukul 5 pagi, kami akan bangun setelah mendengar bunyi siraman air yang berasal dari kamar mandi yang dipakai Tanti. Dan ini membuat kami akan mengantri untuk wudhu di kamar mandi lantai 1, yang biasanya hanya dipakai oleh teman saya yang kamarnya terletak di lantai 1, Fera.

Pada pukul jam setengah 7, barulah saya dan teman saya Ayu akan menggunakan kamar mandi. Kami sama-sama mengambil mata kuliah everyday, sehingga di Rabu pagi, kami akan secara bergantian menggunakan kamar mandi di lantai 2. Akan tetapi, jika kami berdua bangun kesiangan, salah satu dari kami akan menggunakan kamar mandi di lantai 1, karena kamar mandi itu tidak akan terpakai sebelum pukul 10 disebabkan oleh jadwal kuliah Fera.

Begitu juga dengan penggunaan dapur dan  ruang belajar. Karena isi kosan kami didominasi anak ars, ruang belajar menjadi tempat peletakan bahan maket. Dan di saat hari-hari menjelang deadline, ruang belajar akan dipakai sebagai ruang pembuatan maket, yang membuat teman saya Tanti akan belajar di kamarnya sendiri. Untuk penggunaan dapur sendiri, teman saya Fera, terkadang suka memnggoreng makanan dan merebus air untuk membuat susu di pagi hari. Karena saya juga memiliki kebiasaan meminum susu di pagi hari, Fera akan merebus air yang lebih banyak agar bisa dipakai untuk membuat dua gelas susu.

Selain itu, kami juga menjadi peka dengan apa yang terjadi di antara 4 penghuni kosan ini. Misalnya saja, ketika Tanti pernah terkunci di kamarnya sendiri. Saat jam 6 pagi, Tanti tidak menggunakan kamar mandi, sedangkan salah seorang dari kami ada yang sudah bangun, kami merasa ada yang tidak beres, dan akhirnya kami tahu bahwa Tanti terkunci di dalam kamar. Atau ketika Fera tidak membuat susu di pagi hari, padahal seharusnya dia masuk kuliah jam 8, kami segera tahu bahwa dia ketiduran dan kami akan langsung membangunkannya.

Dapat disimpulkan, bahwa dari penggunaan ruang yang kami lakukan  akan membentuk pola pada diri penghuni kos-kosan masing-masing.  Pola tersebut terjadi karena kebiasaan yang kami lakukan sehari-hari,  dan tanpa kami sadari sebenarnya pola tersebut juga muncul setelah kami melakukan proses toleransi antara satu dengan yang lain.

11
Jan
12

#nomention

keberadaan jejaring sosial saat ini tentu memberi kita banyak kemudahan. Twitter misalnya, dari media ini kita bisa banyak mendapat informasi, mulai dari info lalu lintas, jual beli, event-event terkini, atau paling tidak bagaimana keadaan teman-teman kita. Apakah mereka sedang senang, sedih, marah, dan sebagainya. Semua perasaan dan kegiatan mereka seperti ditumpahkan saja ke dalam 140 karakter itu.

Nah yang jadi masalah adalah: karena bisa berbicara dengan bebas di twitter, ketika sedang kesal kita kadang jadi lebih senang berkicau disana dibanding langsung bicara dengan orang yang membuat kita menjadi kesal itu. Padahal medianya hanya terbatas 140 karakter saja sehingga informasi yang tersampaikan pun jadi tidak utuh.

Pada gambar di bawah misalnya, ada beberapa contoh tweet yang memperlihatkan kalau mereka sedang kesal tapi hanya memberikan informasi yang terbatas, bahkan nama orang yang dituju pun tidak dicantumkan.

Image

Twitter pun hanya jadi ajang saling sindir antar teman dan justru bisa menimbulkan pikiran buruk terhadap orang lain. Misalnya si A marah dengan si B, kemudian dia menyindir si B lewat twitter dengan hashtag #nomention. Ternyata ada si C yang jadi merasa kalau si A marah dengan si C, akhirnya hubungan A dan C menjadi kurang nyaman padahal sebelumnya tidak ada masalah apa-apa.

Hal-hal ini yang seharusnya bisa dihindari kita sebagai pengguna jejaring sosial tersebut, gunakanlah fasilitasnya dengan bijak, kalau ada masalah dengan orang lain ya langsung diselesaikan saja tanpa perlu saling sindir di area publik karena bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Jangan jadi takut berbicara langsung dan cuma bisa berkomentar sinis di twitter seperti si…..#nomention. hehehe

11
Jan
12

Virtual Proposal

In this era, the term social media is no longer strange to our everyday life. We often use Facebook, Twitter, Blogspot, and even this WordPress platform to share our activities, knowledge, jokes, etc. The question now is, how far will we take our virtual social media inside our ‘real’ life?

Recently, as I came across one very interesting tweet on Twitter, I know social media has really affect the life of some people. It was about a guy who actually propose to his girlfriend via Twitter.

Image

All my life I’ve been told and believed that a marriage proposal is something very important for people who are about to get married. Important, special, and distinguished from our everyday routine. Unlike Twitter, which most people can access rather easily and that it has already really sunk into our daily routine, it’s no longer special. To find that someone would do something important via a social media is pretty confusing.

It’s down to two things, maybe that man takes marriage proposal lightly or he takes a social media very seriously. If he’s the man who takes marriage proposal lightly, then there has been some value degradation of certain moments in our real life. Did we spend too much time on virtual world, that sometimes we forget our real world? That once we experienced something it is no longer special because we already heard all about it on the internet? And if he’s the man who takes a social media seriously, then will our real life merge with the virtual life and eventually we will all live in our virtual world? That one day, without having to actually be in the same room with each other, two people can get married, virtually? Some aspects in our real life, like work, is already adapting to that possibility. I actually have had a job which I’ve gotten from a social media and done it without even seeing the ‘boss’. How far will this merging affect our life?

PS: Luckily, the man’s girlfriend did not get mad being proposed to via Twitter and she actually accept the proposal.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers