arsitek biasanya dikenal sebagai seseorang yang merancang, tapi jika diperhatikan seorang arsitek saat merancang sesuatu ambil saja contohnya rumah tinggal seorang kliennya. ada beberapa kasus saat klien mencurahkan keinginan desain, ingin ada bukaan disini, ada taman disini, materialnya ini, besaran kamarnya sekian, hingga jika disatukan dan disimpulkan si klien ini sudah bisa merancang rumahnya secara keseluruhan dari ide dan keinginan yang dilontarkan olehnya sendiri. dan jika kondisinya seperti ini tugas seorang arsitek hanya mentransfer curahan si klien kedalam bentuk 2 dimensi agar dapat dikomunikasikan kepada pihak pembangun. apa dalam kasus ini arsitek tetap menjadi seorang perancang?? atau hanya mediator dari klien ke pihak pembangun?
Posts Tagged ‘architect
perancang atau hanya mediator??
Seiring dengan berkembangnya teknologi, arsitektur ikut berkembang. Seperti pada proyek Sky Ear (Usman Haque) pada 15 sept 2004 di Greenwich Park, London , architectural space menjadi sesuatu yang lain. Sky ear menggunakan instalasi berupa balon-balon yang diisi helium yang terdiri dari 6 ultra brigth LEDs. Instalasi ini mengubah gelombang elektromagnetik menjadi sinyal cahaya. Manusia bisa berinteraksi dengan yang lainnya dan dengan ruang yang terbentuk akibat susunan balon tersebut melalui mobile phone. Mobile phone pada masa sekarang ini pasti tak lepas dari genggaman pemiliknya. Tak lepas dari kehidupan sehari-harinya.
Teknologi informasi pun turut mempengaruhi ruang arsitektural. Teknologi informasi berupa internet sudah hampir menjadi kebutuhan setiap orang. Website-website semakin beragam, game online semakin disukai. Seperti halnya website secondlife . Pada website ini memperlihatkan bagaimana real life dan virtual life menjadi sesuatu yang blur. Aktifitas yang dilakukan seperti halnya di dunia nyata. Settingnya pun hampir sama. Bahkan bangunan-bangunan yang ada di sana, juga dirancang oleh arsitek. Scope Cleaver adalah salah satu arsitek di secondlife. Ia salah satu bangunan yang ia rancang adalah The Princeton University Gallery of the Arts yang menempati lahan seluas 7 sims (65,536 square meter Regions)di Second Life. Material dan struktur yang digunakan sama halnya dengan di dunia nyata. Ruang dalamnya pun sudah terpikirkan dengan matang. Ia sudah mempertimbangkan bagaimana “natural light” akan masuk ke ruang tersebut. Tentunya “Natural light” di sini juga merupakan sesuatu yang virtual. Rancangannya seperti suatu desain proposal dan dalam tahap akan dibangun di dunia nyata.
Hal ini memperlihatkan bagaimana ruang arsitektural juga bisa tercipta di dunia virtual. Teknologi yang semakin berkembang, akan mempengaruhi architectural space. Bahkan pemikiran arsitek pun akan semakin berkembang. Tidak hanya merancang di dunia nyata melainkan juga di dunia virtual, tentunya ia harus bisa memahami konteksnya terlebih dahulu. Apakah anda tertarik menjadi arsitek seperti ini?
www.arcspace .com
isu everyday di daerah pesisir
Ketika kami mengunjungi Pulau Kelapa Dua di Kepulauan Seribu, kami singgah terlebih dahulu di Pulau Kelapa. Dari Pulau Kelapa kami memutuskan untuk naik ojek kapal ke Pulau Kelapa Dua. Untuk memperoleh ojek, kami harus berjalan terlebih dahulu melewati pemukiman penduduk. Saat saya melewati pemukiman penduduk, saya tidak merasa bahwa saya sedang berada di daerah pesisir namun terasa seperti berada di gang rumah saya. Jalan kecil sekitar 2 meter dengan diapit oleh rumah-rumah penduduk yang umumnya terbuat dari bata. Saya tidak dapat melihat laut maupun dermaga dari jalan yang saya lewati.
Ketika didiskusikan mengenai hal ini ternyata sang arsitek yang mendesign pemukiman di Pulau Kelapa, mendesignnya secara kota bukan secara pesisir. Umumnya layout pemukiman di pesisir mengitari sisi luar pulau dikarenakan mata pencaharian pada umumnya adalah nelayan. Sedangkan design di Pulau Kelapa adalah linear yakni jalan yang diapit oleh rumah-rumah penduduk.
Sangat disayangkan sekali bahwa salah satu pulau yang merupakan kekayaan bangsa menjadi kehilangan cirinya dikarenakan sang perancang yang kurang memahami konteks atau tapak yang diolahnya.
boris
Peran Arsitek Dalam Masyarakat
Apa peran seorang arsitek di dalam masyarakat? Seringkali dalam buku-buku arsitektur dikatakan, arsitektur sebagai sesuatu yang dibuat dan dikembangkan oleh manusia dan efeknya atau dampaknya adalah untuk manusia juga. Namun manusia yang dikatakan buku-buku itu entah mengapa sepertinya lebih merujuk kepada sesuatu yang didesign oleh seorang arsitek dan designnya itu pada nantinya akan merupakan sebuah place bagi manusia, sehingga design dari arsitek itu haruslah mempertimbangkan manusia yang nantinya akan sebagai penghuni di dalamnya. Namun apa peran seorang arsitek bagi manusia lain hanya terbatas pada rancangan design dari arsitek tersebut saja?
Kegiatan yang baru saja saya lakukan dalam kuliah Everday Architecture merupakan sebuah bukti dimana peran arsitek untuk masyarakat tidaklah hanya terbatas pada rancangan design. Dengan ilmu-ilmu yang telah dimiliki oleh arsitek-arsitek yang terkait dalam kegiatan ini dapat digunakan untuk menuntun adik-adik kita di SD Srengseng 13 untuk membentuk rumah sehat mereka masing-masing. Di dalam kegiatan ini pada awalnya kita berdiskusi bersama adik-adik tersebut mengenai rumah mereka yang ada sekarang, apakah rumah itu terasa pengap ataukah mempunyai tempat pembuangan sampah, banyakah pohon-pohon yang ada di rumah mereka, atau adakah ruang-ruang didalam rumah mereka yang tidak nyaman. Jawaban dari adik-adik ini pun sangat beragam, ada satu anak yang menjawab bahwa WC rumah mereka bau, namun ada juga anak lain yang menjawab bahwa WC rumah mereka bersih dan tidak bau. Dan ketika ditanya ada ruang-ruang apa saja di dalam rumah mereka, ada anak yang berkata “kak,kalau rumah saya cuma sepetak, gmana kak? Jadi cuma satu ruang”, namun ketika saya jawab tidak apa-apa, saya melihat anak itu menulis di kertasnya bahwa di dalam rumahnya ada ruang makan, kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Ketika saya tanya mengapa dia menulis begitu banyak ruang, padahal sebelumnya dia mengatakan hanya ada satu ruang di dalam rumahnya. Dan dia menjawab”walaupun satu ruang, kan dipake juga buat tidur, makan ato nerima tamu kak”.
Peran saya dan teman-teman saya di dalam kegiatan itu adalah hanya sebagai fasilitator, dimana kami harus membimbing adik-adik SD itu untuk mengetahui syarat-syarat apa yang dibutuhkan untuk rumah yang sehat. Ketika syarat-syarat itu telah mereka ketahui, maka mereka haruslah mempraktekkan pengetahuan mereka tersebut untuk mendesign rumah sehat mereka beserta lingkungan di sekelilingnya. Setiap kelompok terdiri dari 8 anak, dan setiap anak ini mempunyai pemikiran yang bebeda mengenai lingkungan yang mereka katakan sehat untuk rumah mereka sendiri. Pemikiran-pemikiran yang berbeda ini terlihat dalam proses design tersebut. Pada awalnya mereka diberikan sebuah kotak kardus yang berukuran 8cmx6cm dengan tinggi 3 cm, yang diumpamakan adalah rumah mereka. Dan ketika diberikan kotak kardus ini, ada juga lontaran-lontaran pintar dari anak-anak tersebut seperti “Kak,kalo rumah saya sekecil ini, ntar pengap donk?” dan lontaran itu jugalah yang membimbing mereka untuk menambahkan jendela-jendela di rumah mereka. Lalu bagian paling menarik dalam proses desaign ini adalah ketika mereka mendesign lingkungan rumah mereka. Di dalam kelompok saya terdiri dari 8 anak laki-laki, yang menurut saya merupakan anak-anak yang cukup kreatif, karena mereka membuat berbagai macam hal untuk lingkungan rumah mereka yang mereka anggap sebagai lingkungan yang sehat. Ada seorang anak yang membuat gunung yang dimaksudkan adalah bahwa dia menginginkan agar rumahnya dan rumah teman-temannya berada di daerah pegunungan yang mempunyai udara yang segar dan sejuk. Dan ada anak yang membuat pohon-pohon mereka sampai keatap, padahal yang saya yakin sekali sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka buat bisa dikatakan sebagai green roof.
Kreatifitas-kreatifitas mereka yang dipadu padankan dengan syarat-syarat rumah sehat yang mereka ketahui, membuat hasil design mereka menjadi sangat unik dan beragam. Dan kegiatan mempraktekkan secara langsung seperti ini membuat kegiatan ini menjadi lebih bermanfaat bagi anak-anak tersebut. Karena ketika mereka hanya diajarkan di dalam kelas mengenai rumah sehat, mungkin saja apa yang mereka dengar hanyalah lewat sesaat di dalam pikiran mereka. Namun ketika mempraktekkan ilmu tersebut, maka mereka akan lebih mengetahui bahwa syarat-syarat rumah sehat itu tidaklah hanya untuk dipelajari namun juga untuk dipraktekkan di rumah mereka yang ada sekarang.
Kegiatan ini menurut saya sebenarnya bertujuan untuk membentuk pola pikir anak-anak mengenai rumah sehat dengan menggunakan ilmu-ilmu arsitektur yang sederhana. Peran arsitek-arsitek yang terlibat dalam kegiatan inilah yang membuat ilmu-ilmu arsitektur itu dapat diserap oleh anak-anak SD itu. Dalam hal ini, arsitek tidak bertugas untuk mendesaign namun untuk menuntun anak-anak itu mendesign sendiri rumah sehat yang mereka inginkan. Uniknya dari kegiatan ini adalah dimana peran arsitek di dalam masyarakat tidaklah hanya selalu berperan untuk membuat sebuah intervensi arsitektur dalam masyarakat yang hasil akhirnya berupa bangunan, namun bagaimana arsitek juga dapat membuat intervensi arsitektur melalui pola pikir masyarakat tersebut. Sumbangan arsitek dengan ilmu-ilmunya tidaklah hanya selalu menghasilkan bangunan, namun juga bisa menghasilkan pola pikir masyarakat yang lebih baik mengenai lingkungan sekelilingnya.
Arsitek dan Publik
Kegiatan workshop Education Care Unit yang berlangsung pada tanggal 18 Desember 2008 dilakukan di salah satu SD yang terletak di daerah Srengseng Sawah. Kegiatan kali ini bertemakan “Rumah Sehat” dan sebagai sasarannya adalah para murid kelas empat. Mereka dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 6 anak. Mereka dibimbing oleh satu sampai dua orang fasilitator. Dimana fasilitator ini membimbing mereka untuk nantinya memahami apa dan bagaimana yang dimaksud dengan rumah sehat tersebut.
Kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian yakni pertama mereka diberi pertanyaan terlebih dahulu mengenai rumah mereka masing-masing dan bagian kedua mereka diminta untuk membuat model dengan mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh dibagian pertama. Pada bagian pertama ini merupakan sebuah pengantar bagi mereka untuk memahami rumah sehat mulai dari lingkungan terdekat mereka. Mereka diminta untuk dapat mengenal lingkungan rumah mereka sendiri sekaligus menilai sejauh mana rumah mereka mampu memberikan kenyamanan bagi mereka yang tinggal di dalamnya. Terkadang kita merasakan sesuatu tetapi kita tidak pernah menyadari atau mungkin tidak peduli mengapa kita dapat merasakan sesuatu tersebut, apa yang sebenarnya membuat kita dapat merasakan demikian. Hal inilah yang menjadi pembahasan pada kegiatan workshop ini. Pertanyaan yang diberikan kepada para murid mencoba untuk menjadikan mereka berpikir kembali mengenai apa yang ada disekitar mereka yang paling dekat namun seringkali diabaikan.
Disini kami sebagai mahasiswa arsitektur mencoba untuk berpartisipasi dan terjun langsung ke dalam masyarakat yang dimulai dari sekelompok kecil dalam sebuah komunitas yaitu murid-murid sekolah dasar. Memberikan pengarahan dan pemahaman kepada mereka mengenai sebuah syarat bagi seseorang untuk dapat hidup dan tinggal dalam lingkungan yang sehat. Karena ketika seseorang memilih untuk berdiam/tinggal di suatu tempat, hal pertama yang mereka pertimbangkan adalah bagaimana tempat tersebut mampu mendukung dan memenuhi keberlangsungan hidup mereka dalam arti memberikan hidup yang sehat bagi mereka.
Untuk dapat mengerti dan memahami suatu rumah sehat, mereka sebelumnya harus mengetahui apa yang membentuk rumah sehat, unsur-unsur apa yang harus ada. Maka disini sebagaimana peran seorang arsitek mereka tidak hanya merancang sesuatu begitu saja tetapi bagaimana sesuatu itu nantinya mampu mendukung dan memberi manfaat bagi orang yang menggunakannya. Karena peran arsitek itu tidaklah terlepas dari manusia dan atau masyarakat, mereka akan selalu berhubungan dengannya. Oleh karena itu pada workshop ini, kami mencoba untuk memberi pemahaman apa saja yang diperlukan oleh mereka dalam kehidupan sehari-harinya demi kenyamanan mereka tinggal. Apa yang mereka rasa nyaman, yang tidak nyaman dan mengapa demikian. Kami mencoba untuk membuka pikiran mereka, membiarkan mereka berpikir dari diri mereka sendiri. Dan dari situ kemudian mereka akan mulai memahami apa yang sebenarnya mereka perlukan dan bahwasanya secara tidak sadar apa yang mereka rasakan pada lingkungan rumah mereka adalah merupakan hasil dari proses merancang yang melibatkan diri mereka.
Berbekal dari pengetahuan yang mereka dapat, dimana pengetahuan tersebut mereka perolah berdasarkan pengalaman mereka sendiri, mereka kemudian diminta untuk mengaplikasikannya kedalam sebuah model rumah sehat. Dalam proses merancang bagi seorang arsitek, mereka memegang standar-standar tertentu yang terkait dengan kenyamanan bagi manusia yang tinggal di dalamnya, tanpa pengetahuan yang mereka miliki mungkin mereka dapat saja merancang semau mereka tanpa memperhatikan aspek manusia dari sudut pandang orang lain.
Maka dari itu sebagai seorang arsitek peran mereka akan selalu terkait dengan manusia didalamnya, arsitek sebagai orang yang memfasilitasi kehidupan mereka. Dan mereka perlu melibatkan masyarakat tersebut dalam proses merancang, memperhatikan seluruh aspek tidak hanya menurut cara pandang dan pikir mereka sendiri tetapi dari sudut pandang masyarakat (pengguna) nya sendiri.
Dalam kegiatan workshop bersama Education Care Unit saya mempelajari bahwa seorang arsitek tidak dapat menghasilkan sesuatu bagi masyarakat hanya berdasarkan apa yang dimiliki ataupun kemauan dari si arsitek itu sendiri. Workshop yang diadakan dengan sekelompok anak SD ini merupakan gambaran kecil tentang bagaimana arsitek dengan masyarakat berkolaborasi dalam sebuah proses desain untuk menghasilkan sesuatu. Pada sebuah proses desain, keterlibatan masyarakat menurut saya menjadi hal yang sangat penting selain arsitek yang merancang itu sendiri. Mengapa demikian? Karena disini, masyarakat sebagai user lah yang nantinya lebih akan merasakan apa yang dibuat itu. Dilain pihak, apa yang dibuat itu juga seharusnya merupakan apa yang mereka butuhkan. Dengan dilibatkannya masyarakat dalam sebuah proses desain, arsitek akan memahami apa saja yang terjadi pada masyarakat pengguna, bagaimana pola pikir mereka, juga apa yang mereka inginkan sehingga pada akhirnya apa yang dibuat itu tidak menjadi sesuatu yang tidak dikenal atau bahkan tidak dibutuhkan oleh masyarakatnya. Sementara itu, dengan dilibatkannya masyarakat dalam sebuah proses desain, mereka akan lebih memahami apa yang menjadi dasar pembuatan sesuatu. Adanya arsitek yang ikut berpartisipasi didalamnya juga membantu masyarakat untuk memahami hal-hal yang sebenarnya cukup penting untuk ada dalam suatu hasil desain tapi mungkin selama ini tidak disadari oleh masyarakat sehingga akhirnya dapat juga memberikan pemahaman baru bagi masyarakatnya. Partisipasi masyarakat dalam proses desain pada akhirnya juga membuat masyarakatnya memiliki keterikatan lebih terhadap produk desain yang dihasilkan karena terdapat sumbangan pemikiran mereka didalamnya.
Dalam workshop ini, saya yang bertugas sebagai fasilitator yang memimpin diskusi dengan sekelompok anak tentang rumah sehat. Diawal diskusi saya memancing mereka untuk berpikir tentang bagaimana kriteria sebuah rumah yang dikatakan sehat. Cukup beragam jawaban yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan selama diskusi ini. Pada proses diskusi ini juga saya meluruskan pengertian-pengertian salah yang selama ini dianut beberapa dari mereka. Selain itu dengan bekal materi yang diberikan mereka juga dituntun untuk memahami hal-hal baru tentang rumah sehat yang selama ini belum dimengerti, disadari dan dipahami. Inilah yang saya maksud dengan peranan arsitek terhadap masyarakat dalam proses desain. Berdasarkan pemahaman yang didapat, masyarakat dan arsitek bersama-sama dapat menyadari permasalahan yang ada dan kemudian juga mencari solusi untuk permasalahan yang dihadapi itu. Arsitek dan masyarakat dapat saling bertukar pemikiran untuk mencari solusi bagi masalah yang ada itu.
Pada tahap berikutnya setelah diskusi, peserta workshop diajak untuk membuat maket rumah sehat rancangan mereka sendiri dengan berbekal pengetahuan dan solusi yang sebelumnya dibicarakan dalam diskusi. Proses ini sebenarnya merupakan semacam simulasi dari proses pembangunan rumah sehat. Namun yang menarik dari proses ini adalah disini selain membuat rumah sehat sesuai kriteria yang dibicarakan sebelumnya, disini anak-anak juga dibebaskan untuk membuat dan menghias rumahnya sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Karena pembuatan rumah-rumah yang pada dasarnya menjawab keinginan mereka masing-masing, akhirnya saya melihat mereka sangat puas dan bangga dengan rumah-rumah rancangan mereka sendiri itu. Akibatnya rasa kepemilikan terhadap karya mereka sendiri pun tampak lebih tinggi. Hal ini dapat saya lihat perbandingannya pada anak yang benar-benar membuat sendiri rumahnya sesuai dengan keinginannya dengan seorang anak yang cenderung kurang aktif sehingga akhirnya rumah yang dibuat dibantu oleh teman-temannya. Anak yang kurang aktif itu tampak lebih tidak sebangga dan terikat dengan rumahnya itu dibandingkan dengan anak yang aktif ketika rumah-rumah buatan mereka itu dipamerkan.
Pada akhirnya, menurut saya proses ini akan berhasil bila tidak hanya arsitek, tetapi dari masyarakatnya sendiri juga berperan aktif sejak awal proses diskusi karena menurut saya proses diskusi ini merupakan proses yang sangat penting pengaruhnya karena disinilah tukar pikiran antara arsitek dan masyarakan sebagai ‘calon pengguna’ terjadi.
“Arsitek Sejati”
Belajar sebagai mahasiswa arsitektur membuat saya banyak dipertemukan dengan banyak hal yang sifatnya sangat konseptual dan filosofis seputar dunia arsitektur itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti:
WHAT: apa itu arsitektur? apa yang dilakukan seorang arsitek? apa itu ruang? apa itu keindahan?
WHO: siapa itu arsitek? siapa yang memerlukan arsitektur?
WHEN: kapan arsitektur itu hadir? kapan seseorang disebut sebagai seorang arsitek? kapan ruang itu hadir?
WHY: mengapa ada arsitektur? mengapa keindahan hadir dalam arsitektur?
HOW: bagaimana arsitektur bekerja? bagaimana ruang itu hadir dalam arsitektur? bagaimana keindahan itu diimplementasikan dalam arsitektur?
adalah sebagian dari banyak pertanyaan yang cukup mendasar untuk diketahui jawabannya terlebih bila kita menjadi bagian di dalam dunia arsitektur itu sendiri.
Dalam kuliah, beberapa mata kuliah seperti metode perancangan arsitektur dan studio perancangan arsitektur menjadi mata kuliah yang sangat dominan di kampus. Mata kuliah ini sepertinya juga menjadi mata kuliah dominan di semua jurusan arsitektur yang saya ketahui. Sehari-hari, kata-kata seperti ‘merancang‘,‘perancangan’, dan ‘desain’ sepertinya menjadi kata kerja yang cukup dominan dalam komunikasi kami antar mahasiswa maupun dengan dosen. Kata kerja yang juga mungkin dapat menggambarkan pekerjaan utama seorang arsitek.
Namun, apa yang sebenarnya dilakukan oleh arsitek dalam hidupnya, yang membuatnya menjadi seorang ‘arsitek sejati’,..
Apakah Hidup untuk merancang ???
Ataukah Merancang untuk hidup ???
Apa mungkin Merancang untuk hidup merancang ???
Atau mungkin juga Hidup untuk merancang hidup ???
Is it architecture?
Belakangan ini cukup banyak pembangunan-pembangunan town house, residence atau sejenisnya, dan hal ini membuat saya bertanya apakah town house dan residence ini termasuk ke dalam sebuah karya arsitektur? Karena jika saya perhatikan hunian-hunian yang berada di town house semacam itu jika dibandingkan dengan town house yang lainnya menurut saya hampir sama saja bentuk dan tampilan rumahnya atau bisa dikatakan bertipe minimalis yang sekarang ini sedang menjadi trend. Dan menurut saya town house dan residence ini seperti hanya mengadopsi bentuk-bentuk hunian tertentu kemudian diproduksi secara massal, lalu para developernya ‘membubuhi’ image dari town house tersebut dengan suatu merk seperti ‘mediteranian residence’ sehingga orang yang melihatnya menjadi terpengaruh. Padahal menurut saya itu hanyalah suatu strategi mereka untuk menarik minat orang-orang dan pada kenyataannya hunian mereka sama saja dengan residence lain yang mungkin mengangkat tema berbeda.
Lalu kembali lagi pada pertanyaan saya apakah ini termasuk arsitektur? Jika memang arsitektur, berarti arsitektur itu dapat diproduksi secara massal sehingga keunikan yang seharusnya ada di dalamnya menjadi tidak terlihat lagi. Dan dengan kehadiran mereka menurut saya menjadikan para arsitek seperti tidak terlalu dibutuhkan lagi karena masyarakat tinggal datang ke residence tersebut lalu menempatinya, walaupun mungkin beberapa residence tersebut adalah rancangan arsitek.
Apakah sebenarnya yang mendorong semakin banyaknya bermunculan residence dan town house? dan apakah ketika merancang hunian pada suatu town house atau residence sama saja seperti halnya seorang arsitek merancang hunian untuk seseorang secara khusus? Bukankah penyama-rataan hunian-hunian pada residence atau town house akan mengurangi ekspresi dari orang yang tinggal di dalamnya, sehingga mereka tinggal atas dasar kebutuhan saja tetapi hunian yang bagaimana yang sebenarnya mereka inginkan mungkin tidak di dapat di dalamnya.
Inikah yang termasuk ke dalam arsitektur?
Why Do Architects Learn Art?
Mengapa seorang arsitek atau pelajar arsitektur mempelajari seni ? itulah yang belakangan menjadi pertanyaan, ya mengapa? sebenarnya apa peran dan tugas arsitek, apa yang membedakan arsitek dengan orang biasa (bukan arsitek) dalam merancang? ketika saya mengambil mata kulah metode dan teori perancangan, di awal kuliah saya diberi suatu bacaan yang ditulis oleh Bpk. Prof. Gunawan Tjahjono yang mengatakan bahwa setiap manusia itu sebenarnya memiliki kemampuan merancang. Pada waktu pertama kali manusia ada di bumi ini, bukankah mereka hidup di gua-gua atau hanya beratapkan dedaunan/ batang-batang pohon, bukankah dengan mereka membuat pelindung tersebut mereka sudah dikatakan merancang?
Kembali lagi pada pertanyaan di awal, jika memang semua orang ternyata memiliki kemampuan merancang, apa yang membedakannya dengan arsitek? pada tahun pertama seorang pelajar arsitektur akan diperkenalkan pada seni, untuk apa? arsitektur yang seringkali kita dengar adalah selalu terkait dengan estetik, seni, bangunan arsitektur adalah bangunan yang berseni. Menurut saya yang ingin dicapai ketika kita sebagai seorang pelajar arsitektur mempelajari seni adalah untuk menjadikan kita lebih peka terhadap seni, dan mengeluarkan sense of art kita. Sejauh mana parameter kita mengatakan sesuatu itu indah, bagus atau jelek. Bagaimana kita melihat sekitar kita sebagai sebuah seni? mungkin saja sesuatu yang ada disekitar kita yang terlihat biasa saja, bisa menjadi sesuatu yang menarik ternyata bila kita melihatnya lebih dalam lagi, ada seni didalamnya baik itu dari teksturnya, komposisinya atau warnanya. Karena sebenarnya seni/desain itu ada disekitar kita. Dan sudut pandang orang melihat sesuatu itu indah atau tidak adalah salah satunya berdasarkan pengalaman. Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan seorang pelajar arsitek mempelajari seni. Karena seorang arsitek menurut saya harus peka terhadap seni. Hal inilah yang membedakan mereka dengan orang biasa, mungkin ketika orang awam merancang sesuatu, mereka lebih melihat ke fungsinya saja atau sebaliknya karena ingin meniru suatu profil desain di majalah akhirnya mereka merancang yang sama. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuann mereka, apa sebenarnya yang menjadi dasar ketika seseorang itu merancang?
Sedangkan arsitek, ketika merancang mereka tidak hanya menampilkan salah satu hal saja. Ketika mereka merancang sesuatu dengan bentuk tertentu, harus ada maksud di balik bentuk tersebut, ada maknanya dan ada keterkaitan dengan fungsi dan keberlangsungan kehidupan manusia di dalamnya . Belakangan ini sering kita temui bangunan dengan rancangan yang indah tetapi tidak ada maknanya, hanya sekadar menampilakan fasadnya saja. Mungkin saja fasad bangunan yang dibuat oleh arsitek terlihat biasa saja, tapi sebenarnya ada seni yang ingin dia tampilkan pada bangunan tersebut namun secara tidak langsung.
Jadi mengapa arsitek harus mempelajari seni? karena ketika mereka merancang, ada unsur seni didalamnya, seberapa jauh rancangan mereka itu mampu menarik mata bagi yang melihatnya, dan ini terkait dengan teori Vitruvius dimana dalam merancang itu ada unsur utilitas (fungsi), firmitas(kekokohan) dan venustas (keindahan),selain itu juga tidak meninggalkan unsur manusia di dalamnya.
Arsitektur tidak perlu arsitek. Siapa yang butuh arsitek ketika seseorang bisa membuat rumahnya sendiri, suatu komunitas bisa membuat kampungnya sendiri, suatu society bisa membuat kotanya sendiri tanpa perlu menjawab siapa pembuatnya. Yang mana akan merujuk pada satu nama, satu identitas seseorang. Pada awalnya manusia membuat hunian karena kebutuhan akan tempat berlindung dari dinginnya malam, teriknya siang, dan hujan. Bukan… pada awalnya manusia tidak membuat tetapi menumpang, mencoba beradaptasi dengan alam seperti bersembunyi di gua dan tidur di atas pohon. Semakin lama kebutuhan manusia bertambah dan mereka menyadari, sehingga timbulah keinginan membuat suatu perlindungan, place to stay, membuat suatu “koma” dalam kehidupan mereka yang nomaden. Kemudian setelah hidup menetap, mereka membuat hunian, place to life, mengubah “koma” mejadi “titik”.
Cara dan teknik yang mereka temukan adalah sebuah proses trial and error yang sebelumnya tidak mereka dapatkan melalui bangku pendidikan tetapi naluri dan akal. Dimana kemudian mereka turunkan kepada anak cucu mereka. Inilah yang dikatakan unconsciousness architect. Ya mereka adalah arsitek bagi hunian mereka sendiri. Rumah saya pun tidak dirancang oleh seorang arsitek. Rumah saya tidak memiliki blue print. Rumah saya dibuat oleh beberapa tukang bangunan dimana denah dan ukurannya disketsa oleh orang tua saya. Dan adanya diskusi dan kerja sama antara ayah saya dan para tukang bangunan tersebut. Dan berdirilah rumah saya hingga sekarang. Jadi sebenarnya siapakah para arsitek itu? Apakah hanya orang-orang yang melalui jalur resmi seperti jalur pendidikan dan bersertifikat saja yang boleh disebut sebagai arsitek?
Arsitektur dalam keseharian seperti sebuah sarang yang dirancang dan dibangun tidak oleh seseorang saja tetapi sekelompok. Tidak hanya arsitek yang bersertifikat saja yang bisa tetapi juga arsitek yang bukan arsitek. Saya jadi teringat sejarah arsitektur Indonesia setelah Indonesia diproklamasikan. Bangunan-bangunan yang ada di Indonesia pada awalnya dirancang oleh arsitek belanda dan dikerjakan oleh orang-orang Indonesia yang berlatar belakang sekolah kejuruan. Ya.. bahasa kasarnya orang Indonesia sebagai kulinya. ketika Indonesia baru merdeka dan para arsitek belanda kembali ke Negara nya, bangsa Indonesia menyadari kurangnya jumlah arsitek negeri sendiri, maka mereka yang tadinya hanya menjabat sebagai asisten, tukang gambar, dan kuli bangunan berubah “panggilan” menjadi seorang arsitek. Kenapa harus menganggap sinis? Karena pada kenyataannya merekalah yang tahu bagaimana membangun dan merancang, tidak hanya arsitek sebelumnya. Mereka mendapatkan ilmu melalui pengalaman dan itu tidak salah. Mereka hanya tidak punya sertifikat bukan? Dan tidak jarang ilmu dan pengalaman yang tersimpan pada diri arsitek buan arsitek tersebut lebih hebat dibandingkan seorang arsitek. Jadi siapakah sebenarnya arsitek itu? Yang punya sertifikat atau ilmu? Bukan… pertannyaannya ditukar menjadi siapakah yanga anda pilih untuk membuat rumah anda, seorang expert yang berlatar belakang pendidikan atau pengalaman?
comments