Posts Tagged ‘art

12
Oct
09

Be Creative with CLAY !

Sesungguhnya saya berkeinginan untuk membuat maket, dengan material yang berbeda. Dimana mahasiswa lain belum pernah menggunakannya. Suatu hari, saya memiliki janji dengan kerabat di suatu toko buku dibilangan matraman. Sembari menunggu kedatangan kerabat saya, saya melihat-lihat “apa?” yang kira-kira dapat menjadi bahan maket saya.

Saya berkeinginan suatu bahan maket yang memiliki karakter yakni mudah dibentuk dan tahan lama. Saya pun melihat seorang SPG yang sedang membuat berbagai macam fancy ornaments dan accesoris. Dengan mudahnya SPG tersebut membentuk berbagai macam wujud dengan menggunakan bahan yang belakangan diketahui bernama CLAY.

Saya kira Clay tidak berbeda dengan lilin mainan anak atau sejenisnya. Dimana lilin anak tersebut mampu dibentuk menjadi berbagai macam bentuk. Namun, lilin anak sangatlah ringkih, mudah hancur/mudah berubah bentuk. Sedangkan saya membutuhkan sesuatu yang mudah dibentuk dan tahan lama.

Ternyata, CLAY berbeda dengan lilin mainan anak. Selain Clay jauh lebih mudah dibentuk, bentuk yang dihasilkan pun dapat bertahan lama. Selain itu Clay juga tidak licin dan panas pada kulit telapak tangan seperti lilin mainan anak pada umumnya. Tidak heran, ketika mengetahui Clay memiliki harga diatas rata-rata, tapi menurut saya ini masih cukup terjangkau oleh beberapa kalangan masyarakat.

CLAY biasa digunakan untuk membuat berbagai fancy ornaments, accessories, toys, bouncing a ball dan berbagai kegiatan kreatif  lainnya. Termasuk apa yang saya lakukan pada Clay, dimana Clay saya manfaatkan untuk membuat maket project arsitektur. Dengan Clay saya mampu mewujudkan suatu bentuk yang berada di dalam imajinasi saya.

24
Nov
08

what is aesthetic?

Sebenarnya apa itu estetika? Mengapa arsitektur seringkali dikaitkan dengan estetika,art, atau beauty? Dan bagaimana hubungan antara arsitektur and estetik itu terjadi? Pada abad ke17 sampai awal abad 20, estetika mengalami revolusi yang dikatakan sebagai modernism. Di zaman ini, para pemikir Jerman dan British menekankan beauty sebagai komponen dalam art dan the aesthetic’s experienced dan melihat bahwa tujuan penting dalam art adalah beauty. *

Menurut Baumgarten,” aesthetics is the science of the sense experiences, a younger sister of logic, and beauty is thus the most perfect kind of knowledge that sense experience can have”.*

Menurut Kant, “For Kant the aesthetic experience of beauty is a judgment of a subjective but universal truth, since all people should agree that “this rose is beautiful” if it in fact is.*

Menurut Earl of Shaftesbury,” Aesthetic was identical to the moral sense, beauty just is the sensory version of moral goodness”.*
Berdasarkan ketiga kutipan diatas, estetik sangat berkaitan dengan sense of experience of beauty yang terjadi secara subjektive. Namun ketika estetik dikaitkan dengan arsitektur,apakah estetik ini juga adalah sesuatu yang selalu berkaitan dengan beauty? Seringkali design arsitektur yang terlihat secara visual indah maka, bangunan itu akan dikaitkan dengan estetik. Dalam buku Jurnal Architecture Design dikatakan bahwa Elegance,salah satu property dari estetik, adalah sesuatu yang mempunyai motion yang terlihat lebih ringan dibandingkan sesuatu yang static. Dan contoh bangunan yang memiliki motion dikatakan adalah Dancing House di Prague, Czech Republic yang didesain oleh Frank Gehry.

dancingbuilding Dari bangunan ini terlihat, bahwa motion yang terjadi adalah secara fisik bangunan, dimana bangunan ini terlihat seperti bergerak menari. Lalu yang menjadi pertanyaan disini adalah mungkinkah apabila motion atau estetik ini bisa diwujudkan tanpa harus menunjukkan gamblang bangunan itu seperti bergerak. Karena apabila estetik dikaitkan dengan sense maka yang berperan adalah emosi apa yang akan timbul dari bangunan itu. Apa tidak mungkin sesuatu yang simple dapat dikatakan ber-motion?

Memang panca indera yang paling mempengaruhi sense adalah visual, namun apabila hanya bergantung secara visual, maka penilaian estetika yang terjadi tentunya akan selalu subjective. Apabila secara visual bagus dan terlihat futuristic maka itulah design yang indah. Dan seringkali arsitek pada akhirnya hanya memikirkan bentuk luar yang indah untuk bangunannya lalu bagian yang lain-lainnya baru mengikuti bentuk luar itu. Sebenarnya sampai sejauh mana antara estetik dan fungsi sebenarnya pada bangunan itu harus diseimbangkan? Apakah baik apabila arsitek lebih menitikberatkan unsur venustas didalam bangunannya dibandingkan firmitas dan utilitas? Apabila penilaian estetik dalam arsitektur terus-terusan terjadi hanya secara visual dan subyektive, lalu apa arsitektur itu sebenarnya. Apakah arsitektur adalah sesuatu yang selalu indah dan enak dilihat semata? Bukankah arsitektur ada dari manusia dan untuk manusia. Dan apakah keindahan pada bangunan memberikan keuntungan pada manusia yang akan menghuninya? Bukankah keindahan itu pada akhirnya hanya akan berfungsi untuk meningkatkan harga diri dari penghuni didalamnya saja? Lalu untuk apa estetik itu sebenarnya dalam arsitektur?

*http://en.wikipedia.org/wiki/Aesthetic

13
Nov
08

Between Science and Art

Arsitektur tidak pernah lepas dari disain. Disain bukan merupakan sekedar produk akhir, tetapi berupa proses berpikir yang panjang. Dan kemampuan ini yang semua orang bisa kuasai.

Bagi sebagian orang, untuk bisa mendisain diperlukan kecerdasan otak kanan yang didominasi oleh kemampuan yang berhubungan dengan estetika. Sementara yang saya tahu, setiap manusia memiliki tendensi kemampuan otak kanan dan kiri yang berbeda-beda. Namun apakah orang dengan kemampuan otak kirinya lebih dominan dari otak kanannya tidak bisa menjadi seorang disainer? Apakah kemampuan mendisain itu bisa dipelajari seperti mempelajari hitungan ilmu pasti?

Ternyata disain merupakan sebuah keahlian yang sulit dipelajari karena tedapat kekompleksan di dalamnya. Pada dasarnya disain bisa dipelajari dan dipraktekkan. Karena disain tidak hanya sekedar melihat sisi seninya, tetapi ilmu dan teknologi juga mempengaruhinya. Jika kita bandingkan seorang ilmuwan dengan disainer, maka pola berpikir seorang disainer lebih dari sekedar memikirkan sains, tetapi juga seni. Sementara ilmuwan hanya terikat pada pola-pola metode secara ilmiah. Dengan kata lain seorang disainer mempunyai cara berpikir lebih kompleks daripada ilmuwan, sehingga disainer harus bisa menyeimbangkan kecerdasan otak kiri dan kanannya. Namun bagaimana jika belum seimbang?

Kreatifitas dan disain merupakan dua hal yang saling terkait. Kreativitas lahir bukan sekedar dari situasi yang tidak stabil melalui pemikiran-pemikiran yang bercabang. Menurut saya kreativitas itu lahir melalui pemikiran yang lurus maupun bercabang dalam kondisi stabil maupun tidak, asalkan kita bisa menyeimbangkankannya dengan situasi yang ada. Hanya saja dosis pemakaian pemikiran bercabang harus lebih boros daripada yang lurus. Tapi kenyataannya, kebanyakan orang lebih suka berpikir secara lurus daripada bercabang. Karena berpkir dengan menggunakan nalar dan logika lebih gampang dikendalikan daripada imajinasi. Namun justru hal ini yang sulit dimiliki oleh setiap orang karena pemikiran manusia cenderung sudah terkotak-kotak.

Pengalaman adalah guru yang baik. Tapi bagi saya, ungkapan ini tidak pantas digunakan dalam mendisain. Pengalaman hanya akan membatasi ruang berpikir kita sehingga menjadi terkotak-kotak. Namun efeknya, banyak kesalahan yang dapat terjadi karena tidak adanya patokan kasus sebelumnya. Tetapi hal ini justru akan memberikan pelajaran yang lebih bermakna.

Disain tidak akan ada tanpa adanya kreativitas. Dan kreativitas tidak akan ada tanpa adanya keberanian berpikir. Namun keberanian berpikir harus ada yang bisa melandasinya agar tidak terlalu liar. Disini kecerdasaan otak kiri bisa memfilter keliarannya. Karena jika seseorang sudah mencoba untuk bepikir secara bebas, kecenderungannya orang tersebut lupa akan adanya hal-hal yang rasional dan tidak. Sehingga seni dan ilmu harus bisa berjalan selaras karena seni dapat diwujudkan dengan ilmu dan ilmu menjadi bermakna dengan adanya seni.

11
Nov
08

Why Do Architects Learn Art?

Mengapa seorang arsitek atau  pelajar arsitektur mempelajari  seni ? itulah yang belakangan menjadi pertanyaan, ya mengapa? sebenarnya apa peran dan tugas arsitek, apa yang membedakan arsitek dengan orang biasa (bukan arsitek) dalam merancang? ketika saya mengambil mata kulah metode  dan teori perancangan, di awal kuliah saya diberi suatu bacaan yang ditulis oleh Bpk. Prof. Gunawan Tjahjono yang mengatakan bahwa setiap manusia itu sebenarnya memiliki kemampuan merancang. Pada waktu pertama kali manusia ada di bumi ini, bukankah mereka hidup di gua-gua atau hanya beratapkan dedaunan/ batang-batang pohon, bukankah dengan mereka membuat pelindung tersebut mereka sudah dikatakan merancang?

Kembali lagi pada pertanyaan di awal, jika memang semua orang ternyata memiliki kemampuan merancang, apa yang membedakannya dengan arsitek? pada tahun pertama seorang pelajar arsitektur akan diperkenalkan pada seni, untuk apa? arsitektur yang seringkali kita dengar adalah selalu terkait dengan estetik, seni, bangunan arsitektur adalah bangunan yang berseni.  Menurut saya yang ingin dicapai ketika kita sebagai seorang pelajar arsitektur mempelajari seni adalah untuk menjadikan kita lebih peka terhadap seni, dan mengeluarkan sense of art kita. Sejauh mana parameter kita mengatakan sesuatu itu indah, bagus atau jelek. Bagaimana kita melihat sekitar kita sebagai sebuah seni? mungkin saja sesuatu yang ada disekitar kita yang terlihat biasa saja, bisa menjadi sesuatu yang menarik ternyata bila kita melihatnya lebih dalam lagi, ada seni didalamnya baik itu dari teksturnya, komposisinya atau warnanya. Karena sebenarnya seni/desain itu ada disekitar kita.  Dan sudut pandang orang melihat sesuatu itu indah atau tidak adalah salah satunya berdasarkan pengalaman. Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan seorang  pelajar arsitek mempelajari seni. Karena seorang arsitek menurut saya harus peka terhadap seni. Hal inilah  yang membedakan  mereka dengan  orang biasa, mungkin ketika orang awam merancang sesuatu, mereka lebih melihat ke fungsinya saja atau sebaliknya karena ingin meniru suatu profil desain di majalah akhirnya mereka merancang yang sama. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuann mereka, apa sebenarnya yang menjadi dasar ketika seseorang itu merancang?

Sedangkan arsitek, ketika merancang mereka tidak hanya menampilkan salah satu hal saja.  Ketika  mereka merancang sesuatu dengan bentuk tertentu, harus ada maksud di balik bentuk tersebut, ada maknanya dan ada keterkaitan dengan fungsi dan keberlangsungan kehidupan manusia di dalamnya . Belakangan ini sering kita temui bangunan dengan rancangan yang indah tetapi tidak ada maknanya, hanya sekadar menampilakan fasadnya saja. Mungkin saja fasad bangunan yang dibuat oleh arsitek terlihat biasa saja, tapi sebenarnya ada seni yang ingin dia tampilkan pada bangunan tersebut namun secara tidak langsung.

Jadi mengapa arsitek harus mempelajari seni? karena ketika mereka merancang, ada unsur seni didalamnya, seberapa jauh rancangan mereka itu mampu menarik mata bagi yang melihatnya, dan ini terkait dengan teori Vitruvius dimana dalam merancang itu ada unsur utilitas (fungsi), firmitas(kekokohan) dan venustas (keindahan),selain itu juga tidak meninggalkan unsur manusia di dalamnya.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers