Posts Tagged ‘beauty

18
Dec
09

Buruk di Mata, Nyaman di Jiwa?

Belakangan, penulis yang mengikuti tugas perancangan ruang dalam, mendapatkan tugas untuk mendesain artwork untuk sebuah perpustakaan atau bandara. Dalam proyek ini, penulis memilih untuk mendesain artwork untuk perpustakaan dan pilihan penulis jatuh pada perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Engineering Center.

Dalam prosesnya, penulis menemukan hal menarik pada lantai 4 gedung Engineering Center yang utamanya dimanfaatkan sebagai ruang baca dan ruang belajar bersama bagi para pengunjung perpustakaan. Pada lantai ini, penulis menemukan sebuah area yang mengundang para pengunjung untuk duduk-duduk santai, lesehan, bahkan hingga tidur-tiduran di area ini. Hanya sebuah void dengan karpet berukuran kurang lebih sekitar 3 meter kali 4,8 meter.

Hal ini menjadi menarik karena sekilas melihat, penulis yakin akan ada banyak pengunjung yang setuju bahwa area lesehan ini sangatlah berantakan dan tidak sedap dipandang mata untuk berada di perpustakan di Universitas Indonesia yang seharusnya memiliki kesan berkelas. Sandal-sandal berserakan, para pengunjung yang berbaring dengan kaus kaki menengadah ke arah atas, serta kertas-kertas kuliah yang bertebaran di mana-mana. Sebuah pemandangan yang tentunya sangat mengganggu bila kita melihat dari kacamata para ‘elite’; arsitek perancang, kepala perpustakaan, dekan FTUI, bahkan mungkin rektor UI.

Hal ini menurut penulis sangatlah sering terjadi pada kehidupan kita sehari-hari secara umum dan arsitektur secara khusus. Kita sering menilai sekilas dari first impression. Padahal, apabila kita tanya para pengunjung yang sering duduk-duduk atau tidur-tidur di area lesehan tersebut, mungkin mayoritas dari mereka akan merasa sangat nyaman ketika berkegiatan di sana, baik itu membaca literatur ataupun mengerjakan tugas-tugas. Karpet yang empuk, udara pendingin ruang yang sejuk, ditambah dengan stop kontak untuk kabel laptop, tentu merupakan hal yang sangat nyaman untuk beraktifitas di sana. Penulis pun akan menjadi salah satu yang setuju bahwa area tersebut sangat nyaman untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah ataupun membaca literatur-literatur, karena penulis telah secara langsung mencoba beraktifitas di sana.

Sungguh perasaan yang nyaman yang amat bertolak belakang dari impresi pertama yang penulis rasakan. Buruk di mata, nyaman di jiwa. Mungkin itulah ungkapan yang dapat penulis lontarkan menanggapi contoh kasus di atas. Menurut para pembaca?

Continue reading ‘Buruk di Mata, Nyaman di Jiwa?’




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers