“Ternyata mendefinisikan ruang itu susah dalam dunia nyata” Sekilas hal ini yang terbesit dalam pikiran saya ketika ikut terlibat dalam proyek pembangunan pusat informasi untuk sebuah komunitas masyarakat di sebuah pedesaan beberapa waktu lalu. Mengapa demikian ? Karena ternyata, ada banyak hal yang masih harus dipelajari dalam dunia nyata yang sama sekali tidak saya dapatkan di bangku kuliah, sebut saja studio bagi anak arsitek. Apalagi kita dihadapkan pada skenario yang semakin kompleks prosesnya, mulai dari mengenal klien (masyarakat), mengutarakan maksud, survey lingkungan, menemukan isu, mendesain, menemukan material sendiri hingga membangun bersama masyarakat. Sulitnya adalah bahwa kita harus berhadapan dengan masyarakat yang benar-benar awam akan dunia desain dan kearsitekturan. Oleh karena itu, kita pun harus belajar bagaimana menyetarakan level komunikasi kepada mereka agar dapat dipahami dan diterima, belum lagi kalau menyangkut perbedaan bahasa diantara kita. Sehingga sebaiknya harus ada penerjemah karena khawatir akan terjadi beda persepsi kepada masyarakat. Namun, hal itulah yang kemudian menjadikan proyek ini sebagai sebuah proyek yang menantang, dalam artian berbeda dengan kasus-kasus seperti biasanya. Terlebih lagi, saat mencari material yang akan digunakan untuk membangun, saya harus ikut bersama warga menyusuri jurang-jurang dan turun ke kali yang berada di belakang rumah warga untuk mengambil bambu. Sungguh usaha dan semangat yang keras bagi kami untuk merealisasikan ide proyek ini. Tetapi, disitulah seni dan proses belajar yang saya dapatkan, bisa mengetahui bagaimana proses komunikasi kepada sebuah komunitas masyarakat yang terdiri dari berbagai kalangan, semisal tingkat RW, RT, tokoh masyrakat, pemuka agama, dan karang taruna desa. Lalu yang tak kalah unik dan sulit adalah bagaimana belajar menempatkan ruang ide kita hadir dalam ruang mereka. Karena kita tidak bisa memaksakan ide dan intervensi desain yang kita punya langsung diterapkan pada wilayah mereka. Persoalan tempat pun menjadi salah satu kendala yang cukup sulit waktu itu karena harus mencari lokasi yang sesuai dengan isu dan desain yang kita gagas. Namun, setelah kami buat desainnya ternyata kondisi di lapangan berbeda. Ada hal-hal lain yang tidak dapat menjadi jangkauan kami, seperti warga yang tidak bersedia halaman rumahnya menjadi lokasi desain padahal disitulah spot isu yang kami temukan berdasarkan data dan analisis survey. Diskusi pun menjadi andalan forum kami dengan bahasa super sederhana agar maksud dan tujuan kita tersampaikan. Dan akhirnya, dengan bantuan penerjemah/perantara ke masyarakat diputuskanlah lokasi akan dibangunnya desain ini, yaitu di depan rumah Pak RT. Waktu membangun pun dimulai kurang lebih sekitar seminggu bersama warga. Dan sekarang proyek ini sedang aktif dijalankan oleh karang taruna desa Kupo yang diisi dengan berbagai program keterampilan desa. Itulah sekelumit hal unik dan pengalaman bagaimana proses desain dan ruang yang tidak saya dapatkan di studio perancangan. Bagaimana dengan Anda ?
Posts Tagged ‘community
Communal Project in Kupo, 2010
Hakekatnya sebuah taman yang terletak disuatu kota dimaksudkan sebagai penyerap dari berbagai polusi yang diakibatkan oleh aktivistas penduduk, seperti meredam kebisingan maupun yang paling significant adalah menyerap kelebihan CO2, untuk kemudian dikembalikan menjadi oksigen (O2). Selain itu taman kota dapat mempercantik estetika sebuah kota, apalagi dengan mempertahankan keasliannya dari keindahan suatu taman dapat tercermin wajah kota itu sendiri. adapun satu lagi fungsi taman kota menurut saya yaitu sebagai sarana untuk bersosialisasi, dimana taman kota menjadi tempat bagi berbagai macam aktivitas sosial seperti berolahraga, rekreasi, diskusi dan lain-lain. Fungsi ini pada dasarnya menjadi kebutuhan warga kota sendiri yang secara naluri membutuhkan ruang terbuka untuk bersosialisasi sekaligus menyerap energi alam…
Jadi secara garis besar fungsi taman dapat digolongkan dari 3 hal yang telah saya paparkan diatas kan. Nah, sekarang mari kita tengok taman kota yang berada di kota Jakarta! Jakarta dewasa ini sudah memiliki beberapa taman kota, tapi apakah benar taman kota itu telah berjalan sebagaimana fungsinya??
Ambil contoh TAMAN SENOPATI, lokasi Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat….tepatnya pada hari minggu pagi saya ke sana dengan tujuan awal ingin hunting foto untuk tugas mata kuliah fotografi yang waktu itu saya ambil. sesampainya disana saya sangat “speechless” dengan keramaian taman kota yang hijau dan tentunya dengan adanya beberapa komunitas yang saat itu sedang berkegiatan disana.. WOW! it’s the real (city) park i guess…komunitas musisi jalanan yang lagi “sharing” keahliannya….. dari yang muda sampai yang tua, dari pribumi sampai wna!
file:///Users/macbookpro/Desktop/eper.jpg
selain itu ada pula komunitas pelukis, break dancer, dan beberapa keluarga yang sedang menikmati kebersaam bersama keluarganya menghirup udara segar dari pepohonan rindang ditaman tersebut… selain untuk memperindah kota dan juga penyedia lahan hijau disinilah juga taman itu berjalan sebagaimana fungsinya sebagai taman “kota” yang dapat difungsikan oleh masyarakat di kota tersebut.
yah walaupun Taman senopati ini sudah cukup fungsional, namun tetap harus diperhatikan pemeliharaannya dan stabitasnya! begitu juga dengan taman kota lainnya… hal ini dikarenakankita tergolong negara tropis dibutuhkan lebih banyak taman kota untuk paru-paru kota guna meredam hawa panas yang menyengat.
Selain itu apabila taman kota di Indonesia ini berjalan sebagai mana fungsinya TAMAN (KOTA) Warga kota juga senang, sebab ketika libur, alternatifnya tak cuma ke mall selain itu terhibur dengan hasil kerja yang sungguh-sungguh, dipersembahkan untuk mereka…. Jadi sudah bisa dijawabkan seberapa pentingkah sebuah taman kota untuk kota atau bahkan negara kita ini
pemimpin bukanlah tumbal
Beberapa minggu yang lalu, saya berkesempatan untuk kembali mendatangi site kelompok saya untuk kedua kalinya, yakni di jatinegara kaum, untuk mengadakan partisipasi mengenai projek ini dengan warga sekitar. Kebetulan saat itu saya dan dua orang teman saya mendapat bagian untuk bertanya terhadap kaum bapak mengenai tempat berkumpul macam apa yang mereka inginkan. Beberapa bapak-bapak cukup supportif, mereka dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan, beberapa juga sempat bercerita mengenai keadaan di pemukiman tersebut, yang dapat membantu tugas kami. Namun, ada beberapa yang ternyata kurang supportif. Ketika kami mendatangi sebuah tempat cukur dimana saat itu sedang sepi pelanggan,bapak-bapak yang tadinya sedang duduk-duduk santai malah segera pergi begitu melihat kami. Ada pula seorang bapak yang menjawab, “Jangan tanya saya, saya tidak tahu apa-apa, tanya saja sama Pak RW, itu urusannya dia”. Mendengar kalimat itu saya mulai berpikir, berapa banyak penduduk daerah itu yang berpikir seperti bapak-bapak ini? Padahal ruang berkumpul itu akan dibangun untuk penduduk, bukan untuk Pak RW seorang. Pak RW bukanlah seorang yang mengetahui segalanya tentang seluruh warga, ia hanya bertugas memimpin dan mewakili warga sekitar. Keputusan mutlak tidalah dipegang seorang pemimpin, namun dari suara rakyat. Yang saya khawatirkan adalah, ketika projek tersebut dibangun dan beberapa warga protes terhadap pembangunan tersebut, mereka akan menyalahkan si pemimpin, yang dalam hal ini adalah Pak RW, padahal dalam prosesnya mereka tidak mau memberikan pendapat mereka. Seorang pemimpin bukanlah tuhan yang tahu segalanya, bebas dari kesalahan. Kita sebagai warga harus bersikap supportif terhadapnya. Partisipasi warga disini sangatlah penting, karena yang terpenting bukanlah apa yang secara fisik nantinya dibangun, namun apa pengaruhnya terhadap warga sekitar.
27 September 2010 Google berumur selusin. Di masa remajanya, Google berhasil menjadi pujaan hati ratusan juta umat manusia. Total pencarian dalam sebulan pada Juli 2008 (answers.com) mencapai 12.000.000.000 pencarian, yang berarti dalam sehari kira-kira terdapat sekitar 387.096.774 pencarian. Bagi orang-orang yang beragama Google, dia telah menjadi keseharian mereka, bahkan keseharian bagi dunia.
Eksperimen tentang apa yang Google pikirkan pernah dilakukan oleh Ade Darmawan, seniman pengagas ruangrupa, menggunakan suatu keyword dan kemudian memajang hasilnya dalam sebuah pameran. Namun saya rasa bukan hanya dia yang pernah iseng, banyak orang yang juga beriseng ria melakukan hal tersebut, membuka google.com untuk kemudian mencari tentang apa yang google pikirkan tentang suatu hal, misalnya mencari nama sendiri atau nama orang lain.
Pertanyaan iseng saya, apa yang Google pikirkan tentang “arsitektur”? Pertanyaan ini muncul di kepala saya ketika membuat tugas tentang karya Muf Architects-Shared Ground, sebuah karya yang banyak melibatkan komunitas sekitar namun begitu sulit mencari datanya.
Search ini saya lakukan pada 26 Oktober pukul 17.02 dengan keyword “architecture”, menggunakan bahasa Inggris agar lebih universal. Terdapat 169.000.000, dengan hasil first page (untuk google images) sebagai berikut :

33 image
2 maket
1 gambar kerja (aksonometri)
1 gambar skema
9 gambar olah digital (cukup sulit membedakan gambar render dengan yang foto asli)
6 gambar gedung tinggi > 3 lantai
2 gambar bangunan 2-3 tingkat
1 gambar rendering kolam renang
18 foto bangunan
2 foto bangunan warisan budaya (India dan Bangkok)
6 foto bangunan 2-3 tingkat
5 foto gedung tinggi > 3 lantai
2 foto detail (tidak terlihat tingkatnya)
1 pavilion
1 foto interior kolam renang
1 foto rumah eksperimental
1 kumpulan foto bangunan
Search berikutnya saya lakukan pada waktu bersamaan 26 Oktober pukul 17.02 dengan keyword yang sama yaitu “architecture” namun untuk google web. Terdapat 143.000.000.000, dengan hasil first page sebagai berikut :

en.wikipedia.org/wiki/Architecture
archrecord.construction.com/
architecture.about.com/
www.guardian.co.uk/artanddesign/architecture
caf.architecture.org/
ocw.mit.edu/courses/architecture/
10 website
1 website ensiklopedi bebas
1 website institusi arsitektur skala nasional
6 website khusus publikasi arsitektur
1 website online course dari universitas
1 website organisasi edukasi arsitektur non-profit
Kira-kira hal-hal tersebutlah yang menjadi pikiran utama dari Google tentang “arsitektur”. Tak ada yang perlu disimpulkan dari eksperimen ini, karena ini memang sekedar iseng belaka.
NB :
Di antara semua link yang ditampilkan, ada satu link yang akhirnya menarik minat saya adalah caf.architecture.org.
The Chicago Architecture Foundation (CAF) is a nonprofit organization dedicated to advancing public interest and education in architecture and design. CAF presents a comprehensive program of tours, exhibitions, lectures, special events, and adult and youth education activities, all designed to enhance the public’s awareness and appreciation of Chicago’s outstanding architectural legacy.
Ternyata di first page Google dapat ditemukan sebuah link yang memang banyak bergerak dalam komunitas. =)
Manusia dan Arsitektur
Ketertarikan saya untuk mengambil mata kuliah everyday and architecture bermula dari keingintahuan saya tentang beragam fenomena-fenomena kejadian sehari-hari yang sering terlupakan oleh kita semua. Kalau kita kembali merunut apa itu arsitektur, mungkin kita akan menemukan jawabannya. Jika kita memberi pertanyaan orang awam, apa itu arsitektur pasti jawabannya adalah bangunan. Namun menurut saya sebagai mahasiswa arsitektur, sejauh ini saya belajar, arsitektur merupakan ilmu tentang manusia. Bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya, berinteraksi dengan sesamanya, dan alam. Setiap tindakan, sebenarnya manusia secara tidak sadar menciptakan ruang dan menjadi fenomena yang bisa terjadi dalam kurun waktu yang sering atau tertentu. Aristektur tidak hanya milik orang yang memiliki banyak uang untuk membuat rumah minimalis dan mewah, bukan milik para developer dengan puluhan proyek perumahannya. Arsitektur milik semua manusia yang bertindak menciptakan ruang.
Saya mencoba menghubungkan fenomena keseharian ruang dengan proyek mata kuliah everyday and architecture, yaitu community center jatinegara. Menurut hasil survey, mereka sering berkumpul di pinggir jalan. Mereka sebenarnya memproduksi ruang secara tidak sadar. Mungkin mereka memiliki kebutuhan yang tidak mereka tidak sadari padahal mereka melakukannya setiap hari yaitu kebutuhan bersosialisasi. Banyak hal yang membuat mereka mungkin tidak terlalu memikirkan hal itu, seperti golongan ekonomi menangah yang lebih memprioritaskan kebutuhan mencari uang untuk tetap bertahan hidup. Kebutuhan sosialisasi sebenarnya memiliki efek yang cukup signifikan terhadap mereka. Dengan mengolah ruang sosialisasi menjadi lebih efektif mereka dapat menigkatkan taraf kehidupan mereka. Mereka dapat bertukar pikiran,saling membantu dan akhirnya dapat menyelesaikan persoalan–persoalan baik yang terjadi dalam diri mereka sendiri maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Pengolahan ruang yang baik yang diproduksi manusia akan menghasilkan dampak positif bagi peningkatan taraf hidup manusia. Bukankah itu sebenarnya tugas arsitek? Profesi arsitek yang terbilang “keren” dimasyarakat mengisyaratkan seolah-olah arsitek hanya berkecimpung pada proyek kelas mewah. Everyday and architecture mencoba melihat arsitektur secara lebih luas dan dalam arti sebenarnya bahwa arsitektur itu miliki semua golongan manusia.
catatan perjalanan. keseharian. kupo, cepogo, boyolali.
oleh buyunganggi
30 09 2010
. hari pertama…
. sampe rumah pak bayan sekitar jam 11an. Istirahat. Sambil nungguin pak pri, pemilik penginanpan yang sama waktu kita nginep bulan juli kemaren (pas survei data).
. sempet ragu… mau nginep di rumah pak bayan, deket sama warga rt 01, gampang kemana-mana, tapi takut ngrepotin pak bayan. Atau nginep di tempat pak pri (showroom yang ada kamar penginapannya) yang jauh dari pemikiman warga (kurang lebih 200m), susah jika mau berinteraksi sama warga, tapi bisa bebas/begadang dan ngga ngrepotin pak bayan.
. akhirnya mutusin nginep di rumah pak pri.
. jam 5 sore kita diundang ke rumah pak pri di tumang (dukuh yang berbatasan langsung dengan kupo) untuk makan malam. Naek motornya pak bayan.
. sampe sana. Ngobrol. Nonton tv. Makan malem. Pas mau dianterin balik ke penginapan(di kupo), kita minjem sepeda motornya pak pri, buat transportasi nanti. Biar ga repot.
. jam 8 malem ke penginapan. Sekalian ngambilin barang yang kita titipin tadi di rumah pak bayan.
. jam 9 malem sampe penginapan. Istirahat. Sambil nyusun rencana buat sminggu ke depan.
01 10 2010
. bangun kesiangan. Jetleg.
. mandi. Sholat jumat. Ktemu pak rt (kemaren uda di kasitau sama pak bayan).
. ngobrol sama pak rt. Bahas rencana pembangunan ruang komunalnya, sekilas. Beliau bilang “nanti malem aja ngumpulin warganya.” Dan beliau berkenan menyediakan tempatnya, di rumahnya.
. kembali ke penginapan, bersiap presentasi desain dan rencana kerja ke warga.
. jam 7 malem kami berangkat ke rumah pak rt, masi sepi, kami jemput pak bayan dulu. Sambil ngobrol-ngobrol, mengutarakan desain dan rencana kerja awal. Pak bayan menyambut baik dan antusias.
. jam stengah 8 berangkat bareng pak bayan ke rumah pak rt.
. beberapa saat setelah sampe, langsung mulai presentasi. Sebelumnya pak rt meminta maaf karena banyak warga rt 01 yang ijin menjenguk kerabat yang sedang di rmah sakit. Malem ini ada sekitar 20an orang. Termasuk beberapa pemuda perwakilan karang taruna.
. putera presentasi.
. abis itu tanya jawab. Nyusun rencana kerja bareng warga. Pak bayan yang mimpin, tapi kami juga nawarin rencana kerja.
. akhirnya pak rt meminta kesediaan karang taruna untuk menggerakkan anak muda buat bergotong-royong, pak rt ngajakin yang tua-tuanya.
. agenda selanjutnya tentyang lokasi nyai 80 batang bambu.
. ternyata mas sis punya di belakang rumahnya (mas sis: mantan ketua karang taruna, 30 tahun, single). Rencananya besok pagi kita nebang bareng-bareng ke sana.
. musyawarah selesai. Hasilnya: tempat fix di depan rumah pak rt, warga bersedia menyumbangkan tenaga untuk membantu membangun ruang komunal, besok nyari bambu bareng-bareng di belakang rumah mas sis(1 batang rp. 7.000,-).
. warga pulang. Kami masih di rumah pak rt. Bantuin beres-beres, sambil ngliatin hasil penelitian yang di mojosongo ke pemuda-pemuda karang taruna yang klihatannya sangat antusias. Mas sis. Mas haryanto. Mas panut. Mas aris. Dan mas-mas lainnya.
02 10 2010
Jam 6.30 – 8.30
. bangun pagi – setelah semaleman ngitung material, harga, dan jumlah – . beres-beres kamar. Cuci muka. Dan sarapan.
. bertiga (gua, miktha, putera) berangkat menuju lokasi pennebangan bambu. Hutan bambu belakang rumah mas sis.
Jam 8.30 – 10.30
. sampe di lokasi – jurang. Ternyata sudah ada 6 orang (pak rt, pak ?, mas sis, mas juli, mas panut, mas aris) dan beberapabambu yang sudah dipotong ukuran 420 cm (harusnya 450, buat kolom-kolom utama).
. kami pun membantu. Potong-potong. Membersihkan bambu. Angkat-angkat. Poto-poto.
. 19 batang bambu (@rp. 7.000,-) pun berhasil dipotong dan diangkat dari jurang.
.nb: jenis bambu: bambu jawa (legi), warna ijo agak cerah, kekuatan belum diketahui, jarak antar ruas lumayan beraturan, diameter antara 6 – 10 cm.
Jam 10.30 – 11.00
. break. Minum teh. Ngobrol. Ngomongin rencana slanjutnya bareng 6 orang tsb (di rumah mas sis).
. rencana slanjutnya: nglanjutin nebang jam 13.00
Jam 11.00 – 14.00
. balik ke penginapan. Ngecekin jumlah dan harga material sebelum ke pasar cepogo (beli material).
. putera ngutak-atik desain lagi. Ukuran seng yang tersedia: 80 x 300 cm dan 80 x 210 cm.
.ke pasar cepogo, toko material. Nge-fix-in ukuran seng buat nge-fix-in desain atap. Konfirm ke putera. (nb: gua sama miktha yang ke pasar).
. sekalian pesen material buat besok. Pasir. Semen. Paku. Multiplek. Amplas. Tali ijuk. Seng.
. suruh nganter ke rumah pak rt besok pagi.
. nyari tabak (gedek yang kecil dan tipis) ke dalam pasar cepogo. Dapet. Setelah tanya putera (disesuaikan sama desain), akhirnya beli 8 buah yang ukuran 3 x 1,5 m (@rp. 27.500,-). Skalian dianter besok, nitip toko besi.
. beli makanan. Jajan.
. balik ke penginapan. Makan. Sholat. Siap-siap ke lokasi penebangan bambu lagi. Putera ngerjain gambar buat besok (supaya bisa diliat sama warga besok. Di print).
. gua, miktha balik ke lokasi hutan bambu.
Jam 14.00 – 16.30
. sampe di lokasi. Ketemu mas sis, pak rt, mas panut, mas aris. Mereka ngangkutin bambu dari hutan bambu ke depan rumah mas sis. Kami membantu.
.mas sis menyarankan “ga mungkin nebang bambu lagi di tepi jurang, ntar bambunya jatoh ke bawah, kita susah lagi ngangkutnya. Mending besok cari lokasi yang lebih memungkinkan.”
. karena sudah sore, kami tidak melanjutkan nebang (dannjuga karena aasdan yang diungkapkan mas sis). Akhirnya ada temen mas sis yang datang. Lalu mas panut sama temen mas sis tadi minjem mobil bak. Dan bambu pun diangkut ke site (rumah pak rt).
. sampe rumah pak rt. Nurunin bambu. Poto-poto site lagi. Ngobrol. Minum the lagi. Bahas rencana kerja buat besok.
. kata pak rt “dateng jam stengah 8an aja, ntar mas-mas biar bisa ngasih pengarahan ke warga yang mau ngerjain bangunannya.”
03 10 2010
Jam 6.30 – 7.30
. bangun. Cuci muka. Makan roti. Minum kopi. Siap-siap.
. pak rt dateng , mau ngebangunin niatnya. Tapi kami udah bangun. Nelpon toko material buat konfirmasi nganterin bahan-bahan yang udah dibeli kemaren.
. gua sama miktha berangkat. Putera masi ngeberesin gambar bentar.
Jam 7.30 – 12.00
. sampe lokasi. Warga udah lumayan banyak yang dateng. 15an orang kira-kira. Lagi ngeratain tanah, angkatin batu-batu, bersihin bambu.
. gua diskusi sama pak rt bentar, rencana kerja. Sambil nungguin material dateng. Miktha poto-poto.
. ternyata perlu beli solar, buat ngebakar ujung bawah bambu, diawetin, biar ga dimakan hama. Kata pak rt. Gua pun beli solar tapi nyamperin putera dulu, ngambil gambar yang mau di print.
. gua ke pasar cepogo. Beli solar. Ngerprint gambar.
. balik ke penginapan, ngambil putera, menuju ke lokasi lagi.
. sampe lokasi, putera nunjukkin gambar ke warga, ngejelasin. Ternyata ada 2 orang yang lumayan ngerti dan bisa ngebantuin ngarahin warga-warga lainnya. Adalah pak slamet (40 th) dan mas haryanto (25 th) yang mengarahkan dan memimpin proses pendirian kolom-kolom utama.
. kerja rodi ….
. semua material siap. Ada beberapa grup.
(1) Beberapa pemuda nebang bambu lagi, di awal-awal, langsung bawa ke lokasi.
(2) Pak rt sama beberapa bapak-bapak ngawtin bambu-bambu yang mau dijadiin kolom utama. Cara ngawetin: ujung bawah bambu yang au ditnam di tanah disiram solar dan dibakar sampe menghitam kulit luarnya. Cara pengawetan ini ditemukan sendiri oleh pak rt atas eksperimen beliau pula.
(3) Pak slamet, pak bayan, mas haryanto, dan beberapa lainnya(termasuk gua dan putera) mengerjakan kolom-kolom utama. Langkah awalnya, siapin bambu-bambu ukuran besar(diameter 10 cm). setelah diawetin, diukur sepanjang 4500 cm, ambil 4 batang, gotong rame-rame, masukkan ke lbang-pondasi yang telah dibuat sebelumnya. (sebelumnya, grup ini juga telah mengukur lokasi, menandai, menggali lubang untuk kolom-kolom utama). Setelah dimasukkan, diukur, jarak antar 4 bambu(1 kolom utama) tsb, 10 cm. duluruskan. Diberi penyangga, dan dicor(semen, pasir, batu kali).
. break sekitar jam 11an. Makan. Minum. Udah berdiri 1 kolom utama (4 buah bambu, diameter 10 cm, tinggi 4500 cm).
Jam 12.00 – 14.00
. istirahat. Balik ke penginapan. Makan. Rencana awal kembali ke lokasi jam 1an, tapi hujan pun turun.
. ternyata jam 2 kurang dikit hujan reda. Balik ke lokasi.
Jam 14.00 – 17.00
. sampe lokasi baru ada pak slamet sama mas haryanto, bersama pak rt tentunya. Beberapa saat kemudian 5 orang lagi datang.
. kita nglanjutin ngeberdiriin kolom-kolom utama. Masi ada 5 kolom utama lagi.
. sore ini Cuma ada 6-7 orang, sampe jam 5 sore. Akhirnya kami berhasil mendirikan ke-6 kolom utama.
. nb: pelajaran hari ini…
(1) Pagi-pagi, pas di awal kerja rodi, mas haryanto(lulusan UNS, kerja di PMI, ketua karang taruna) bilang ke putera kalo kemaren dia telah mengajukan proposal ke perpustakaan daerah untuk pengadaan buku-buku yang akan ditempatkan di bangunan ini nantinya.
. warga antusias, menyambut baik niat kami, berinisiatif memberikan sumbangan positif terhadap apa yang kami coba lakukan.
(2) Pak bayan dan pak rt mengajukan saran ke kami mengenai sistem pengadaan bambu. Kata mereka, tiap kk di rt 01 disuruh membawa 2 batang bambu(jika punya, tapi kebanyakan punya), biar ga repot. Dan uang hasil tebusan bambu tersebut akan dimasukkan ke kas rt. Warga pun menyambut gembira ide tersebut.
. warga(pak bayan, pak rt) mengeluarkan ide/solusi yang sangat baik ketika kami kesulitan mencari bambu. Respon positif dari warga, niat baik kita direspon dengan cukup baik.
04 10 2010
Jam 6.30 – 8.00
. dibangunin pak rt. Telat bangun. Siap-siap. Ga sempet sarapan.
. menmuju lokasi.
Jam 8.00 – 11.30
. nglanjutin kerja.
. ada dua kelompok pekerja: (1) bapak-bapak membuat rangka atap dan kolom-kolom tambahan, (2) pemudanya nyari tambahan bambu.
. hari ni cukup rame. Kira-kira 15an orang pas pagi-pagi diitung.
. motong bambu, ngkur, ambil tangga, ukur tingginya, naek tangga, paku dan palu, jadi deh rangka atap. Begitu seterusnya.
. pak slamet dkk ternyata sudahcukup tahutentang desainnya. Hari ini ga banyak yang harus putera dan gua jelasin ke warga.
. lebih dari setengah dari keseluruhan rangka atap terpasang sampe siang ini.
Jam 11.30 – 12.00
. break.
. ngobrol-ngobrol, becandaan, ketela rebus, pisang goreng, teh manis.
. nelpon took material, mesen pasir sama semen tambahan.
Jam 12.00 – 13.30
. istirahat ke penginapan. Makan siang. Tiduran bentar.
. belanja kebutuhan sehari-hari di pasar cepogo (sama miktha).
. balik ke penginapan. Beres-beres. Cabut lagi ke lokasi.
Jam 13.30 – 17.00
. mampir ke warung. Beli minuman dan rokok buat pekerja.
. ngerjain lagi. Siang ini ada sekitar 10an orang.
. ada yang motongin bambu sesuai ukuran. Ada yang gali lubang buat kolom tambahan. Ada yang masang rangka atap dan kolom-kolom tambahan yang belum terpasang(dipimpin pak slamet).
. kehabisan paku. Gua sama putera cabut ke pasar cepogo, beli paku sekaligus cek harga dan ketersediaan kawat(buat tanaman rambat) dan multiplek(buat rak buku).
. pas di cek, multiplek ada (ukuran 1200 x 2400 cm @rp. 125.000,-) tapi kawat 2 cm ga ada. Pikirin ntar malem.
. balik ke lokasi.
. nglanjutin kerja.
. sampe sore, rangka atap terpasang. Kolom tambahan kurang 5 titik(dari 11 titik).
05 10 2010
Jam 7.00 – 9.00
. bangun siap-siap. Miktha beres-beres, dia mau pulang ke depok pagi ni.
. jam stengah 8 putera berangkat dulu ke lokasi, gua nungguin miktha beres-beres lalu mau nganterin dia ke pool bus di pasar cepogo.
. nganterin miktha. Sebelumnya dua sama miktha juga ke rumah pak rt, buat pamitan ke pak rt, pak bayan, dan warga.
. miktha pulang.
. ditelepon putera, suruh beli tali ijuk lagi, kurang.
. beli tali ijuk(di pasar cepogo). Trus langsung ngambil peralatan di penginapan dan menuju lokasi.
Jam 9.00 – 10.30
. sampe di lokasi ada sekitar 10an orang lagi nglanjutin kerjaan.
. ada yang mulai ngiket pertemuan-pertemuan bambu. Ada yang nerusin kolom-kolom tambahan. Ada yang ngukur kolom-kolom kecil buaat pondasi amben(tempat duduk).
. sekitar jam 10an banyak yang ijin karena ada hajatan, tingal 3-4an orang, gua, putera. Akhirnya sisanya nglanjutin ngiket-ngiket. Gua sama putera ke penginapan bentar, mau ngitung multiplek yang dibutuhin dank e pasar lagi.
Jam 10.30 – 13.00
. ke penginapan. Istirahat bentar. Makan. Ngitung jumlah kebutuhan multiplek buat rak buku, nyesuain desain lagi.
. ke pasar cepogo. Beli multilek 2 lembar, tali ijuk 10 iket, varnish 2 kaleng(dulu), sam kuas.
. makan bakso.
. menuju lokasi lagi.
Jam 13.00 – 17.00
. sampe lokasi udah lumayan rame lagi, 10an orang lah.
. nglanjutin kerja.
. mas-mas bagian tali-temali. Bapak-bapak nglanjutin bikin pondasi amben. Kakek-kakek motong-motong bambu sesuai ukuran.
. break bentar sekitar jam 3an. Makan-makan. Minum. Ngerokok. Ngobrol.
. putera tiba-tiba pusing(masuk angin kayaknya). Dia balik bentar ke penginapan, ntar jam 5an balik lagi jemput gua.
. abis break, nglanjutin kerja lagi. O iya, siang ini pak slamet dating setelah pas sesi pagi – siang beliau ga dating karena pergi ke hajatan. Jadi, kerjaan lumayan kepegang lagi. Ga perlu ngarah-ngarahin yang terlalu banyak. Akhir-akhir ini emang warga udah lumayan paham sama desain. Paling kalo agak ragu/belum tahu, mereka baru nanya.
. ada diskusi kecil yang agak panjang sore ini.
(1) Menurut mereka, jarak pondasi amben(kolom-kolom pendek) yang dibuat putera terlalu deket, boros bambu ntar. Hasil diskusi (masih ada putera) mengerucut ke solusi mereka. Pondasi/klom-kolom pendek yang menopang amben, yang harusnya ada 3 biji tiap satu beam(bambu horizontal, disangga oleh pondasi), brubah jadi 2 biji. Kami memutuskan memakai 2 biji karena memang jarak antar kolom cuma sekitar 80an cm, dengan diameter pondasi yang sekitar 10 cm, kami pikir hal ini cukup aman.
(2) Mengenai ‘bantalan’ tempat duduk(amben), yaitu bambu-bambu horizontal di atas pondasi. Harusnya ada 3 lapis: bambu-bambu utuh, bambu-bambu separoh, baru alas duduknya(galar, bambu yang diancurin/dipecah kecil-kecil secara vertikal). Tapi mereka maunya langsung aja pake bambu separoh sama alas duduk doang. Akhirnya mereka nurut kali ini, gua jelasin kao cuma bambu-bambu separoh yang dijadiin bantalan, dengan jarak yang cukup longgar, maka di titik-titik tertentu akan rapuh jika diinjek. Jadi lebih aman jika pake yang 3 lapis.
06 10 2010
Jam 6.30 – 7.00
. bangun. Ternyata putera udah bangun dari jam 3an pagi tadi, nyiapin presentasi.
. hari ini ada presentasi tentang apa yang kami kerjain, tentang ruang komunal ini, di kantor bupati boyolali. Putera pergi bareng pak bayan. Jadi, gua sendirian hari ini.
Jam 7.00 – 11.30
. brangkat ke lokasi. Udah rame banget. Parah. Ada 15an orang kali.
. putera pamit sama pak rt dan warga, mau ada presentasi tadi. Dia nyamperin pak bayan ke rumahnya.
. ada banyak orang hari ini. Banyak yang harus dikerjain emang. Ngiket-ngiket bambu. Bikin pondsi amben. Bikin glagar(beam buat amben) dan galar(alas duduk di amben). Masan seng(atap).
. kerjaan banyak. Tapi rame. Pas banget. Gua poto-poto doing hari ini, karena Cuma sendiri, ntar ga ada yang dokumentasiin.
. pagi ini semua lebih fokus ke tempat duduk dulu (pondasi, struktur, maupun alasnya).
. kerja…
. break bentar. Nge-teh. Ngobrol.
. nglanjutin kerja sampe stengah 12an.
Jam 11.30 – 13.00
. pulang ke penginapan. Istirahat. Makan.
. putera pulang dari kantor bupati. Slese presentasi.
. tiduran bentar. Balik lagi ke lokasi.
Jam 13.00 – 17.00
. nglanjutin kerja.
. tepat duduk sedikit lagi. Sambil nglanjutin bikin galar, sebagian pekerja mulai nyicil masang atap seng.
. galar dikerjain sama kakek-kakek yang udah berpengalaman sepertinya. Lumayan memerlukan tangan-tangan yang terampil sepertinya.
. sampe jam 5 sore, tempat duduk slese. Atap seng udah kepasang, tinggal nutup-nutupin bagian yang bolong pake talang seng.
07 10 2010
Jam 6.00 – 7.00
. bangun pagi. Siap-siap. Nge-teh. Cuci muka. Ganti baju kerja.
. brangkat ke lokasi, mampir beli rokok.
Jam 7.00 – 12.00
. kepagian. Baru ada pak rt. Sarapan bihun dulu, disiapin pak rt. Kami bersih-bersih bambu. Pak rt motong bambu lagi di belakang rumahnya. Gua bantuin ngangkat.
. jam 8an pak slamet dating, disusul mas gendut. Nglnjutin masang tiang tambahan buat tanaman rambat.
. putera lagi bereksperimen sama bambu-bambu sisa. Gua lagi nyoba bikin dan masang bambu-bambu separoh buat nahan tampias aer hujan.
. sampe jam 12an cuma gua, putera, pak rt, pak slamet, sama mas gendut. Soalnya hari ini hari pon(penanggalan jawa), makanya orang-orang lagi pada ke pasar buat jual hasil ladangnya.
Jam 12.00 – 14.00
. istirahat. Tidur. Solat. Makan.
. brangkat lagi.
Jam 14.00 –1 7.00
. sampe lokasi udah rame. Ga kayak tdi pagi. Udah pada pulang dari pasar mungkin. Ada sekitar 10an orang.
. soreini targetnya adalah masang instalasi listrik sama tabak(sejenis gedek/anyaman bambu tapi tipis, buat insulator panas, dipasang di bawah atap seng), biar nanti malem bias buat nongkrong.
. gua sama putera belanja dulu. Kabel, saklar, colokan, lampu, talang aer, sama tali ijuk lagi.
. abis belanja langsung pak slamet dkk masang instalasi listriknya. Cobain. Dan nyala.
. mereka nglanjutin masang tabak. Agak ribet dan lama karena si tabak perlu dibikinin struktur dulu baru bias dipasang/dipaku ke rangka atapnya. Jadi, ada yang bikin struktur struktur tabak dan ada yang ngukur-ngukur kebutuhan tabak dulu.
. gua masih nglnjutin masang bambu-bambu penahan tampias.
. putera masih ngumpulin bambu-bambu sisa, pendek, buat dijadiin hiasan/penutup beberapalubang di beberapa area bangunan, sambil poto-poto.
. break bentar. Minum teh. Makan bihun. Gorengan. Lanjut sampe jam 5an.
. jam 5 sore. Listrik udah ada. Tabak kepasang separoh. Penahan tampias juga udah separoh, di 1 tempat(dari 4 tempat).
08 10 2010
Jam 7.30 – 8.00
. bangun kesiangan. Sia-siap. Langsung brangkat.
Jam 8.00 – 11.00
. sampe lokasi udah rame parah. Gua itung ada 15 orang. 17 plus gua sama putera. Mungkin gara-gara sepi kali ya. Pak rt ngabar-ngabarin warga lagi. Mungkin.
. hari ini targetnya nyelesein tabak.
. beberapa orang bikin tali buat struktur tabak. Beberapa lagi bikin strukturnya. Ada yang masang dan nganyam struktu plus tali tadi ke tabaknya. Dan yang utama(pak sungadi dkk) masang tabak ke struktur atap.
. kerja…
. break sekitar jam 9. Sarapan bareng. Soto ayam. Rame. 17 orang makan bareng.
. lanjutin kerja. Sampe jam 11an. Tabak pun udah terpasang. Tinggal ngrapihin aja.
Jam 11.00 – 13.30
. istirahat. Sholat jumat. Makan. Belanja buat stok material karena minggu sore rencananya kami balik ke Jakarta. Jadi, mau beliin semua keperluan. Biar nantinya bias dilanjutin sama warga pas kami pulang.
. semen. Multiplek. Paku. Cat. Varnish. Amplas. Tali ijuk. Dll.
Jam 13.30 – 17.00
. kerja lagi…
. o iya, tadi(sesi pagi-siang) saking ramenya gua ga kebagian kerja. Cuma pot-poto doing. Sekarang gua bias kerja lagi, nglnjutin instalasi pencegah tampias. Siang ini ada sekitar 6-7an orang. Ya mungkin yang udah dateng sesi pagi-siang, sesi siang-sore digunain buat ke lading. Yang tadi ke ladang, gantian sekarang dateng. Pak bayan ngomong gitu.
. pak slamet dateng sore ini. Beliau nglanjutin ngrapihin tabak. Ada yang motong-motong bambu buat instalasi pencegah tampias. Gua yang masang.
. tabak slese dipasang.
. pak slamet nglnjutin motong-motong multiplek buat rak buku. Dibantu yang laen. Dengan pengarahan putera tentunya.
. gua masih dengan instalasi pencegah tampias, sementara putera dengan bambu-bambu sisanya.
. pak rt kerja serabutan. Bantu-bantuin apa aja siapa aja. Tiap hari memang beliau yang paling rajin, paling semangat. Salut.
. jam stengah 5an hujan turun. Kami pun berteduh di bangunan yang hamper slese ini. Lumayan lah. Ga kehujanan, walaupun sedikit tampias. Karena memang penutup tampias baru 1 bagian yang slese dipasang, masih ada 4 bagian lagi.
. gua, putera, mas panut, dan pak rt ngobrol-ngobrol sambil nunggu hujan reda.
09 10 2010
Jam 7.30 – 8.00
. bangun. Siap-siap. Brangkat.
. mampir beli rokok.
Jam 8.00 – 12.00
. sarapan nasi jagung di rumah pak rt (dibeliin pak rt, kemaren uda janji).
. lanjutin kerja…
. ada sekitar 6-7an orang. Ada yang ngrapihin tabak. Motong-motong bambu buat penahan tampias. Masang penahan tampiasnya. Termasuk gua.
. putera nglanjutin motong-motong bambu-bambu sisa, buat hiasan(bambu-bambu sepanjang 20 cm disusun horizontal, dengan frame dari multiplek, dipasang di beberapa spot bangunan).
. break sekitar jam 9. Bubur sumsum. teh manis. Ngobrol-ngobrol.
. nglanjutin kerja sampe jam 12an.
. o iya, pak rt dari tadi pagi gali-gali saluran aer di bagian depan bangunan(selokan). Mau di kasi tangga dri batu kali di bagian depan, jadi harus digali dan dipasangi gorong-gorong. Gua nelpon took material lagi buat mesen semen plus kalsit(campura semen, warna putih, biar ga boros semen). Sementera putera pergi sama pak bayan, beli gorong-gorong.
Jam 12.00 – 13.30
. istirahat. Makan siang.
. cabut ke lokasi lagi.
Jam 13.30 – 17.00
. kerja lagi…
. pak rt masi ngurusi gali-menggali.
. gua sama beberapa mas-mas nglanjutin masang penahan tampias.
. setelah penahan tampias slese, gua, putera, ma saris nglnjutin bikin frame untuk tempat hiasan bambu-bambu sisa yang dipotong-potong sama putera dari kemaren-kemaren.
. kami motong-motong multiplek yang 8 mm sesuai ukuran.
. sampe jam 5 sore, tinggal rak buku, hiasan bambu-bambu bikinan putera, sama hiasan anyaman bambuyang belum di slesein.
. o iya, hari ini pak slamet ga dateng. Jadi, rak buku belum bias dilanjutin.
. sampe hari ini, kira-kira udah 85% bangunan slese. Sebenernya malah bangunannya udah slese, tapi itnggal bikin hiasan-hiasan(fungsional) dan ngrapihin. Amplas juga.
10 10 2010
. hari terakhir….
. bangun. Beres-beres kamar. Packing. Tapi sesi pagi-siang kami akan tetep bantuin warga.
. slese packing langsung cabut ke lokasi.
. hari ini hari paling rame dari 10 hari kami di sini. Ada 20 orang. Karena hari minggu juga mungkin.
. sebagian besar orang ngerjain selokan yang mau dikasi gorong-gorong. Ada yang ngangkut batu kali. Bikin adonan plester. Dan masang batu kalinya ke pinggiran selokan.
. sebagian yang lain bikin rak buku. Kbetulan ada pak slamet. Gua , putera nge-cat frame yang mau dipake buat wadah bambu-bambu hiasan kemaren.
. jam 12 siang gua sama putra balik ke penginapan. Mandi dan siap-siap pulang ke Jakarta.
. abis itu ngangkutin barang-barang ke rumah pak rt dulu. Sambil nungguin sore, masih ngebantuin dikit-dikit.
. jam 3an ke rumah pak pri(yang punya penginapan). Pamitan. Balikin motor.
. jam 4 sore balik ke rumah pak rt.
. sampe sebelum kami pulang. Udah 90% lah. Rak buku udah jadi, tinggal nge-cat. Hiasan bambu-bambuan putera juga uda jadi 1 tempat dari 4 tempat. Sisanya tinggal nambahin anyaman bambu dikit di 2 tempat(hiasan) sama nungguin bambu kering dan diamplas.
. sebelum cabut ke terminal, kami poto-poto dulu bareng warga yang kerja sore itu. Dengan background bangunan kami tentunya.
. jam 5 sore kami pamitan. Ke pak bayan, pak rt, warga. Kami di anter mas sis sama mas panut ke terminal boyolali. Naek motor.
. pulang ke Jakarta….
. tak lupa ucapan terimakasi buat mereka….

Pada mata kuliah everyday ini, saya mengikuti salah satu community project yang dilaksanakan di Jatinegara Kaum RW 01. Dimana disana kami diminta untuk membuat suatu komunal space yang dapat memfasilitasi seluruh warga RW 01 dalam kegiatan bersama. Project ini diawali dengan pemberitahuan awal, mempresentasikan project kepada pihak yang mewakili seluruh RW01 yaitu bapak RW itu sendiri. Dari sini sudah dapat dikatakan awal pendekatan secara tidak langsung melalui pendekatan kita dalam memberi penjelasan mengenai project sehingga dapat diterima dan dapat dilanjutkan.
Untung tahap selanjutnya kami melakukan survey yang pertama kali. Dari survey ini kemudian kami sekaligus melakukan pendekatan terhadap warga dengan melakukan wawancara mengenai kebiasaan dan data sehari-hari mereka. Melalui wawancara yang dilakukan dengan santai dan penuh keakraban itu kami juga menerangkan sedikit demi sedikit mengenai project yang akan direalisasikan apabila tidak ada halangan (pendekatan arsitektur-project arsitektur).
Sampai pada tahan participation dimana disini kami kembali mengikut sertakan warga untuk menyumbangkan idenya untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu tahap desain. Didalam tahap partisipasi ini, tercipta pula pendekatan yang berkelanjutan antara kami selaku arsitek(pendisain) dengan warga selaku konsumen. Pendekatan itu kami wujudkan dengan mengumpulkan warga kemudian menerangkan kembali tentang project kami serta tak lupa kami memberi treatment sehingga tercipta suasana yang lebih akrab, serta si warga juga lebih antusias.
Jadi untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu tahap desain, dengan pendekatan(arsitektur) ini dapat mempermudah proses dalam mendesain. Dimana dari pendekatan ini kami telah mengetahui lingkungan sekitar(site) serta menggali lebih dalam mengenai warga selaku konsumen dan juga mengikut senrtakan ide/keinginan dari si warga itu sendiri. Sehingga dapat melahirkan suatu desain yang sesuai dengan kebutuhan dari warga.
Belajar dari rumah sakit..
Komunitas terbentuk karena sebuh kesamaan yang mendasari mereka. Entah terdapat kesamaan pada tujuan, penderitaan, kegemaran, atau apapun itu. Namun kadang komunitas baru akan terbentuk apabila ada wadah yang mewadahi sekumpulan orang itu untuk berinteraksi.
Pada sebuah rumah sakit di jakarta timur, terdapat kawasan rawat inap yang menarik bagi saya. Bangsal rawat inap ini memiliki sebuah koridor yang panjang sebagai area sirkulasi umum bagi pengunjung untuk sebagai penghubung antar bangsal. Koridor ini panjang, sehingga cukup melelahkan untuk dilalui seluruhnya, tapi sekaligus menyegarkan bagi pasien-pasien yang biasanya menghabiskan waktu di tempat tidur sepanjang waktu. Koridor ini berupa sekaligus balkon sehingga saat pagi hari, cahaya yang masuk cukup banyak sehingga terasa hangat sedangkan saat siang hari cahaya matahari yang panas terhalang oleh sebuah pohon besar di depan koridor ini. Masih terasa panas, namun tidak terlalu menyengat. Pada malam hari terasa dinginnya angin malam, meyakinkan pasien-pasien untuk tetap beristirahat di dalam ruangan. Koridor ini dilengkapi dengan beberapa tempat duduk di setiap depan ruangannya. Hasilnya, hampir setiap pagi pasien-pasien ke luar ruangan kamarnya untuk sekedar duduk-duduk, berjalan-jalan melepas penat selama di dalam kamar, atau sekedar berjemur saja menikmati cahaya pagi. Pasien-pasien ini memenuhi kebutuhan mereka sebagai makhluk sosial; berinteraksi.
Terlihat seorang pemuda, ditemani istrinya, yang dengan tergopoh-gopoh berjalan bolak-balik sembari membawa botol yang berisi cairan berwarna merah yang terhubung ke selang yang tersebunyi di dalam kaosnya, menyapa setiap penghuni bangsal yang dilewatinya. Terlihat sesekali ia berhenti dan mengobrol dengan beberapa orang. Ada pula ibu-ibu paruh baya yang duduk di teras, walaupun dengan tangan masih tersambung kepada selang infus, mengajak berbicara atau sekadar tersenyum dan bertanya “mau kemana?” kepada setiap orang yang melewatinya. Ada juga bapak-bapak yang nampaknya sudah sehat dan sekedar duduk-duduk menikmati udara dan cahaya pagi layaknya suasana hangat seperti ini adalah hal yang sudah lama tak di rasakannya. Para perawat yang biasanya melalui koridor belakang pun rutin setiap pagi mengunjungi pasien-pasien di setiap kamar lewat koridor ini, melewati pasien-pasien yang sedang di koridor ini, dan mau tak mau, lagi-lagi menyapa orang-orang yang berkumpul di koridor ini. Akhirnya secara tidak sadar, terjadi semacam interaksi rutin yang terjadi dimana pasien-pasien, pasien- perawat, perawat-perawat , pasien-keluarga pasien, keluarga pasien-perawat, ataupun sesame keluarga pasien berinteraksi satu sama lain memperbincangkan –kebanyakan- tentang kesamaan mereka ; mengapa mereka berakhir di rumah sakit itu dan bagaimana kedepannya.
Selama saya menyusuri koridor itu pagi hari, yang saya lihat bukanlah pemandangan orang-orang sakit yang sedang berjuang keras untuk dapat bertahan hidup. Namun yang saya lihat adalah — terlepas dari segala ‘aksesoris’ medis yang mereka gunakan– orang-orang sehat yang sedang bersantai layaknya pemandangan tiap minggu pagi di taman. Banyak ekspresi di dalamnya. Bertemunya kesamaan ini (mungkin dalam kasus ini adalah kesamaan nasib) melahirkan sebuah semangat baru yang timbul dari masing-masing orang. Adanya komunitas menjadikan mereka memiliki merasakan perasaan “Oh, ternyata saya tidak sendiri” dan dari perasaan itu akhirnya timbul semangat dan perasaan senang.
Suasana riang dan hangat seperti ini jarang saya lihat di rumah sakit lain yang biasanya hanya berupa lorong panjang tertutup dan mengandalkan cahaya buatan serta penyejuk ruangan untuk mengakomodasi kebutuhan ruangnya. Lorong rumah sakit yang seperti itu terlihat hanya diperuntukkan untuk berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Tidak ada tempat berkumpul, atau pergantian suasana sejuk, panas, dingin, hangat.
Dari sini saya merasakan bahwa dengan sebuah wadah yang benar, interaksi akan terjadi dan kesamaan itu akan lebih terlihat. Apabila sudah menemukannya, secara tidak sadar manusia akan membentuk sebuah komunitas. Dari sinilah dibutuhkan peran space yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan orang-orang yang akan menempatinya. Tentang siapakah yang akan menempatinya ? apa yang baik untuk mereka ? apa kegiatan yang diharapkan akan muncul ? Dengan peran yang tepat, akhirnya di dalam space tersebut menghasilkan suasana kegiatan di dalam ruangan menjadi positif yang kemudian berdampak positif pula bagi pelaku kegiatan tersebut.
Ketidakyakinan Kebutuhan
Saat bicara mengenai everyday, maka yang harus diperhatikan adalah siapa yang berperan di dalamnya. Rasanya bukan sesuatu yang mudah untuk mengenal siapa komunitas yang berada di dalamnya dan untuk benar-benar dapat menyimpulkan apa sebenarnya yang dibutuhkan komunitas tersebut. Maka, hal ini tidak jauh berbeda dengan perancangan arsitektur 3, saat kita harus mengenal komunitas yang ada di dalam site. Misalnya saja bila secara kasat mata, site yang kita analisa ternyata merupakan suatu perumahan, dimana warganya bersifat individualis karena mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga kurang terjadinya interaksi antar warga, kemudian kita merancang suatu sport centre yang dimaksudkan agar menjadi tempat berkumpul warga dengan kegiatan berolahraga.
Rasanya sangat aneh dengan konteks warga yang individualis, sibuk dengan kegiatan di luar rumah, dan jarang di rumah, kemudian tiba-tiba diadakan ruang berkumpul warga melalui kegiatan olahraga, padahal jelas-jelas warganya jarang di rumah atau berada di rumah hanya pada malam hari untuk beristirahat. Apakah yakin kebutuhan itu yang perlu di penuhi? Apakah yakin ruang yang dibuat akan benar-benar digunakan oleh para warganya?. Spekulasi bukan bagian dari perancangan, apalagi ketidakyakinan pemenuhan kebutuhan, ketika kita memutuskan untuk merancang sesuatu namun atas latar belakang ketidak yakinan sasaran perancangan, maka yang ada nantinya bukan menyelesaikan masalah, tapi hanya akan menambah masalah karena kita membuat suatu ruang yang belum tentu digunakan sesuai dengan fungsinya.
Peran Serta Masyarakat
Dalam tugas community project yang saya lakukan beberapa minggu lalu di Boyolali, peran serta masyarakat merupakan salah satu unsur penting dalam proses pembangunan proyek ini. Peran serta masyrakat yang saya maksudkan di sini bukan hanyalah bantuan tenaga yang dapat mereka berikan ketika proses pembangunannya saja, tetapi juga dari proses awal menuju rancangan bangunan sendiri. Mengapa peran serta masyrakat itu penting? Hal ini dikarenakan bangunan ini nantinya adalah milik mereka dan mereka harus dapat merasakan bahwa mereka adalah bagian dari proses pembangunan ini.
Keterlibatan mereka dari proyek ini dimulai dengan partisipasi mereka dalam memberikan data tentang informasi keluarga mereka yang bentuknya adalah kuesioner. Informasi ini nantinya akan membantu saya dan teman-teman unutk menyusun kebutuhan yang memang mereka perlukan terkait dengan proyek yang kami lakukan. Partisipasi lainnya seperti diskusi dengan warga yang harus kami lakukan untuk mengerti kemauan mereka akan bentuk pengetahuan apa yang mereka inginkan ataupun tempat yang cocok dan dapat disediakanoleh mereka sebagai tempat untuk membangun proyek ini. Hal lainnya juga seperti bentuk apa yang mereka inginkan dari bangunan ini ataupun material yang mereka inginkan. Hal itu nantinya akan membantu kami dalam merancang bangunan untuk proyek ini.
Setelah rancangan proyek sudah dibuat, hal itu tidak mutlak menjadi rancangan yang akan dibangun karena harus didiskusikan ke warga lagi dan meminta pendapat mereka. Melalui dikusi dengan warga terdapat beberapa perubahan kecil yang menurut mereka sesuai dengan keadaan kawasan mereka. Setelah mencapai kata sepakat barulah dimulai pencarian material untuk bangunan ini. Material utama yang diapakai adalah bambu. Bambu di kawasan ini cukup banyak sehingga mudah untuk didapat. Pada tahap ini partisipasi warga juga dibutuhkan, seperti menyediakan pohon bambu mereka untuk ditebang ataupun mengangkat bambu-bambu tersebut ke lokasi bangunan. partispasi warga yang merupakan puncak dan penting adalah pada proses pembangunan itu sendiri. Bagaimana merekamembagi tugas sesuai dengan keahlian mereka untuk membangun proyek ini.
Dari banyaknya partispasi warga tersebut saya merasakan bahwa partispasi warga sangatlah penting. Selain untuk mempercepat proses pembangunan, hal yang lebih penting lainnya adalah bagaimana mengikutsertakan mereka dari proses awal sampai akhir sehingga mereka mampu merasakan sense of belonging dari bangunan yang nantinya terbangun ini.
Jika melihat kota besar di Indonesia seperti Jakarta, tentunya pemandangan yang paling sering terlihat setiap hari adalah banyaknya kendaraan-kendaraan pribadi yang memenuhi jalan-jalan besar. Secara umum penduduk Jakarta harus menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai tempat tujuan mereka, walaupun sebagian ada yang menggunakan transportasi publik. Saya melihat bahwa hal tersebut merupakan akibat dari tatanan kota yang terdapat di Jakarta.
Pada awal mata kuliah Peracangan Arsitektur 3 telah dijelaskan mengenai apa itu kota. Kota merupakan sebuah daerah yang berisi sekumpulan orang-orang yang saling berinteraksi dalam menjalani kehidupan. Dengan kata lain, ada sebuah kehidupan komunitas yang terjadi di dalam sebuah kota. Kota yang baik harusnya merupakan kota yang dapat memenuhi kehidupan orang yang tinggal di dalamnya. Dijelaskan pula bahwa kota itu bisa menjadi tempat bertinggal, berkarya, dan berkota. Yang dimaksud dengan berkota adalah tempat orang untuk saling bertemu dan berinteraksi bersama di dalam sebuah ruang publik.Jika dikaitkan dengan ketiga fungsi kota tersebut, Jakarta memiliki kekurangan satu fungsi, yaitu sebagai tempat berkota. Saya melihat bahwa secara umum memang sangat sedikit ruang publik yang benar-benar difungsikan untuk tempat berinteraksi satu sama lain. Tempat yang dimaksud bisa berupa tempat yang terbuka seperti taman, trotoar untuk berjalan kaki sekaligus menikmati kota, tempat duduk di tepi-tepi jalan, dan sebagainya. Ya, di Jakarta memang terdapat trotoar, tetapi ketika saya mencoba melewatinya, saya sama sekali tidak bisa merasakan apa yang disebut ‘berkota’. Tidak ada interaksi yang tejadi di sana, bahkan ketika saya berjalan bersama dengan teman saya, hanya sekedar obrolan kecil. Bahkan saya harus hati-hati dengan kendaraan di sekitar yang lewat. Saya tidak merasa menikmati kota ketika berjalan di trotoar. Taman kota pun sepertinya tidak difungsikan secara maksimal dan jumlahnya masih sangat sedikit dibanding dengan jalan-jalan besar.
Mungkin memang sulit mengubah kota Jakarta yang memang sudah terlanjut tertata seperti ini. Seperti yang dijelaskan dalam kuliah mengenai kota tersebut, Jakarta memang ditujukan untuk ‘mencari uang’, bukan ‘menikmati hidup’, sehingga apa yang umumnya terlihat sekarang hanyalah kesibukan untuk bekerja tanpa terlalu memikirkan bagaimana berinteraksi dengan sesama penduduk kota dengan memfungsikan ruang publik secara optimal.
Beberapa waktu lalu, pada kuliah Keseharian dan Arsitektur membahas tentang proyek-proyek komunitas yang berkaitan dengan keseharian dan komunitas di sekitarnya. Muncul kata “social sculpture” yang menjadi wadah untuk melakukan aktivitas berasama dan meningkatkan ikatan sosial dalam lingkugannya. Muncul dalam benak saya bagaimana dengan kultur kita sekarang? Adakah ruang yang dapat menjadi wadah interaksi sosial dalam model area hunian kita sekarang?, yang notabene semakin privat.
Yang sepintas terpikirkan adalah kegiatan para bapak-bapak yang sering berkumpul untuk sekedar bermain catur atau kartu sambil bercakap-cakap. Kegiatan sering terjadi pada area rumah saya pada saat saya masih tinggal di perumahan yang notabene interaksi antar tetangganya cukup akrab. Sehingga rumah ketua RT sering di pakai sebagai sarana untuk berkumpul bersama. Sekilas terlihat sepele tetapi ternyata kegiatan tersebut membuat kita dapat mengenal semua tetangga kita. Hal tersebut berubah ketika saya tinggal di daerah perumahan yang lebih tertutup ditandai dengan tipe rumah yang berpagar tinggi dan saling tidak mengenal. Tidak ada lagi aktifitas warga yang bercakap-cakap di jalan dan membuat suasana lebih dingin dari rumah yang lama.
Kuliah ini membuat saya berpikir apakah kultur kita yang semakin individual dapat dirubah dengan melihat keseharian kita sendiri. Dan menariknya kedalam konteks lebih luas sehingga dapat dilakukan berasama dan menjadi sebuah “social sculpture”.
Pada saat mengamati rt17,Pulogebang dalam rangka projek community development ,kami berkesempatan mengikuti arisan ibu-ibu. Rt17, merupakan pemukiman padat penduduk, rumah-rumah berjejer rapat, dengan jalan diantara rumah begitu kecil. Ternyata hal tersebut dilihat sebagai sebuah potensi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Rumah-rumah rata-rata berukuran kecil, membuatnya tak cukup menampung ibu-ibu satu rt. Maka jalan di depan rumah, dan teras-teras tetangga di sekitarnya dipakai sebagai tempat arisan.
Sebuah re-produksi yang dilakukan masyarakat. Pada keadaan biasa, jalan memiliki fungsi sebagai akses, dan tempat bersirkulasi, namun kini ia tereproduksi menjadi ruang komunal. Arsitek,developer, bisa membangun dengan sebuah tujuan akan fungsi. Namun, masyarakat sebagai manusia yang aktif bergerak dan berpikir bisa memiliki berbagai respon akan suatu tempat. Mereka mampu memberi makna baru dalam penggunaan suatu tempat. Kemudian, apakah makna baru itu menjadi sebuah kesalahan, karena terkadang melanggar kaidah kewajaran.?Semua kembali kepada pemikiran masing-masing.
Beda Tempat Beda Cara
Setiap tempat mempunyai cara sendiri untuk membuat tempat atau daerah mereka lebih baik. Seperti yang saya lihat sendiri ketika saya berada di kota Kediri ini. Jika di Jakarta masyarakat membatasi rumah mereka dengan pembatas pagar yang bermacam-macam jenisnya. Berbeda dengan di Kecamatan Pare ini, mereka membatasi rumah mereka dengan sebuah pagar pembatas yang sama jenisnya di setiap rumah.
Pagar pembatas mereka berupa gapura kecil yang terbuat dari beton dan ada keterangan-keterangan di dindingnya.
Keterangannya bukan berupa alamat detail rumah mereka sendiri, melainkan slogan slogan yang sengaja dimasukan oleh pemerintah setempat kedalamnya. Seperti gambar diatas merupakan gambar tangan yang mengisyaratkan bahwa warga cukup memiliki dua anak saja. Keterangan-keterangan di dinding juga bukan mengisyaratkan nomer rumah mereka, tapi hanya keterangan berupa Kecamatan dan Desa dimana mereka tinggal beserta lambang daerahnya yakni Kecamatan Pare Desa Tulungrejo
Asumsi saya mengapa pemerintah setempat berbuat seperti itu, karena mereka menginginkan agar program-program pemerintah selalu lekat di hati masyarakatnya. Mulai dari program dua anak saja sampai tulisan tulisan seperti Pancasila, UUD 45 yang akan menumbuhkan rasa nasionalisme warga. Selain itu keberadaan Desa Tulungrejo sendiri dimana hampir semua warganya mempunyai gapura seperti itu menjadikan keberadaan mereka lebih nyata.
Dalam mewujudkan sebuah karya berarsitektur yang merupakan ungkapan nyata dari kebersamaan penduduk atau komunitas dibutuhkan pendekatan dari ‘dalam’. Pendekatan dari dalam atau yang dapat disebut pendekatan inklusif ini bertujuan untuk membentuk ikatan emosional antara penduduk secara personal dengan produk yang akan dihasilkan. Pengguna harus dapat memainkan peranannya secara aktif dalam proses yang kreatif. Metode yang digunakan adalah bersifat parsitipatif. Metode tersebut berdasarkan pada elemen-elemen yang bersifat kognitif ataupun fungsional akan apa yang dibutuhkan. Hal ini menarik warga langsung untuk menentukan sendiri di tempat mana mereka sering berkumpul pada hari biasa dengan cara kreatif yang diusung yaitu dengan memberi tusukan warna-warni sesuai dengan waktu dan tempatnya. Walaupun sederhana, tetapi ini adalah cara ketika penduduk sendiri diberi kesempatan untuk mengidentifikasikan sesuatu dari sudut pandang mereka sendiri. Moment ini akan menyoroti point-point yang dapat menjadi kritik atas apa yang mereka butuhkan sesuai dengan konteks nilai dan kebutuhan dasar penduduk tersebut. Ini adalah kesempatan yang baik bagi perancang untuk masuk ke ‘dalam’ dan melihat segala sesuatunya dengan mata yang segar, sampai kita menjadi bagian dari komunitas.
Keterbukaan pemikiran dan komunikasi merupakan dasar pendekatan yang penting. Membangun kepercayaan serta komunikasi yang efektif akan menjadi dasar pijakan keberhasilan kerja sama ini. Mungkin akan banyak tersingkap hal-hal yang justru tidak didapat pada saat hanya berwawancara dengan mereka.
Peran arsitek mungkin tidaklah terlalu besar, bahkan relatif kecil dibandingkan dengan ilmu yang dimilikinya selama bertahun-tahun ‘belajar’, tetapi justru peran tersebut dapat nyata dirasakan penggunanya ketika arsitek mampu membantu komunitas untuk menemukan kembali, mengingat dan mengembangkan apa yang sudah ada.
Berpartisipasi bahkan dapat dilakukan sampai pada tahap akhir, yaitu membangun bersama-sama apa yang sejak awal telah lahir melalui proses konsensus oleh kolaborasi penduduk dan arsitek. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, terutama tenaga, pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki, dapat memberikan peluang yang besar bagi mereka untuk menyalurkan aspirasi yang muncul on the spot. Sehingga, tak jarang terdapat toleransi atas perbedaan pemahaman antara perancang dengan warga. Namun, dari hal ini justru kita dapat melihat partisipasi dan kebersamaan tersebut mampu memberi wadah untuk aspirasi, karena dari proses inilah terbukti keterikatan mereka secara emosional dengan produk yang nantinya akan mereka gunakan secara kolektif.
The architecture of the everyday is built (Architecture of the Everyday, Steven Harris and Deborah Berke (Eds), 224)
Pada akhirnya keseharian arsitektur itupun dibangun. Baik melalui karya yang berwujud bangunan ataupun instalasi, pada dasarnya memiliki spirit yang sama, yaitu memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas. Karena pada awalnya kebersamaan menjadi prasyarat munculnya partisipasi. Berarsitektur merupakan proses berkarya yang mampu mengartikulasi kebutuhan, nilai, dan keseharian komunitas sebagai point yang digaris bawahi.
Harris, Steven; Berke, Deborah, Architecture of the Everyday
Miles, Malcolm, The Uses of Decoration: Essays in the Architectural Everyday, 2000
Gempa Dan Konstruksi Bangunan
Bencana gempa sebenarnya merupakan bencana yang sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat yang hidup di Negeri Kepulauan Nusantara ini sejak jaman nenek moyang kita dahulu. Dengan menganalisa dan menghitung secara kasar kondisi Indonesia saat ini atas beberapa variabel yang berpengaruh terhadap besaran rasio resiko bencana, maka dapat disimpulkan sebagian besar wilayah Indonesia memiliki tingkat rasio resiko bencana dalam kategori sangat tinggi.
Petaka gempa yang datang beruntun mengakibatkan robohnya bangunan- bangunan publik, fasilitas umum dan rumah-rumah penduduk serta sejumlah besar korban jiwa. Rangkaian bencana gempa belakangan ini seharusnya membawa pelajaran penting. Pemerintah harus lebih ketat mengawasi kualitas konstruksi dan daya tahan bangunan serta rumah terhadap gempa. Tanpa pengawasan ketat, kita akan selalu berhadapan dengan besarnya korban jiwa akibat gempa. Korban jiwa akibat gempa yang terjadi di Padang Sumatra Barat, umumnya akibat bangunan yang ambruk, mereka tertimpa, bahkan tertimbun bangunan yang memang tak dirancang tahan gempa. Hal serupa juga terjadi pada peristiwa gempa di Jawa Barat sebulan yang lalu dan di Jogjakarta pada tahun 2006.
Pentingnya kualitas bangunan sebetulnya sudah tertuang dalam undang-undang dan aturan pendukungnya. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, misalnya, secara jelas mensyaratkan bahwa bangunan gedung di daerah rawan bencana harus dibuat dengan konstruksi khusus. Untuk persyaratan keselamatan, undang-undang ini antara lain menyebutkan bahwa konstruksi bangunan tidak hanya harus tahan gempa, tetapi juga harus mampu melindungi penghuni dan lingkungan sekitarnya seandainya bangunan itu runtuh. Jadi dengan demikian artinya, gedung yang dibangun harus kokoh menahan guncangan dan harus mampu meminimalkan jumlah korban seandainya bangunan tersebut runtuh. Namun, adanya undang-undang dan peraturan terkadang tidak menjadi jaminan bahwa semua ketentuan itu akan ditaati. Semuanya terpulang kembali pada kesadaran masyarakat, dan pemerintah mestinya terpicu untuk memperketat pengawasan kualitas konstruksi gedung dan rumah secara periodik dan konsisten.
Hakekat Mitigasi Bencana: Menekan Hingga Seminimal Mungkin
Ditinjau dari aspek jenis bahaya (geologi, hidrometeorologi, biologi, teknologi dan lingkungan), berdasarkan catatan kejadian dan teknologi peramalan bencana maka dapat disimpulkan bahwa secara geografis maupun geologis, Indonesia, khususnya wilayah Pulau Jawa dan Sumatera sangat labil atau rentan pada bahaya geologi atau gempa. Karena itu rasio resiko bencana sebenarnya dapat diminimalkan apabila Pemerintah dan Kesadaran masyarakat bahwa Gempa Bumi adalah merupakan bagian dari kehidupan kita harus dibangkitkan. Terdapat beberapa aspek terkait dengan resiko bencana ini yaitu: Aspek Kerentanan, yaitu suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya. Kerentanan meliputi kerentanan fisik, sosial dan ekonomi. Dalam kasus bencana gempa di Yogyakarta, komunitas setempat pada lokasi bencana memiliki semua jenis kerentanan ini. Kerentanan fisik, terlihat dari kondisi struktur dari bangunan umum dan perumahan penduduk yang secara teknis memang tidak memenuhi standar konstruksi. Kerentanan sosial, salah satu aspeknya adalah tingkat kepadatan penduduk serta usia penduduknya yang rata-rata sudah lansia atau manula sehingga tidak cukup sigap untuk melarikan diri mencari tempat yang aman pada saat bencana terjadi. Sedangkan kerentanan ekonomi, yang berupa kemiskinan merupakan fakta yang telah dimiliki oleh sebagian besar komunitas tersebut sejak sebelum terjadinya bencana gempa. Karena aspek kerentanan ini merupakan aspek yang Human made maka sebenarnya banyak upaya yang bisa dilakukan oleh kita bersama Upaya tersebut dapat berupa pengembangan percontohan arsitektur bentuk / model bangunan yang memenuhi persyaratan-persyaratan ketahanan terhadap gempa bumi dan memperhatikan aspek sosial ekonomi masyarakat.
Dalam community project ini, partisipasi warga dalam proses pembangunan ruang berkumpul sekaligus pusat informasi turut mengambil andil besar. Warga yang kesehariannya bekerja sebagai pengrajin furniture mengerti tentang bagaimana sebuah struktur kayu bisa berdiri dengan kokoh tanpa menghabiskan banyak elemen stuktur lainnya. Proses pengerjaan keberdiriannya bermula sejak tanggal 21 november 2009.
Dalam proses yang saya amati, para warga turut berpartisipasi dalam pengerjaannya. Mereka sangat antusias dari seluruh proses yang ada seperti pengangkatan kayu ketika kayu baru datang, diskusi tentang keberdiriannya, pemotongan kayu, penghalusan kayu, dan sebagainya.
Dalam proses diskusi tentang keberdirian, mereka tidak langsung saja menerima penjelasan dari kami. Namun yang mereka lakukan adalah memodifikasinya. Mereka memodifikasi sistem struktur yang sudah kami rancang menjadi sistem struktur yang sudah mereka tekuni dan mengerti sebagai pengrajin kayu dalam kesehariannya. Sehingga hasil dari ruang berkumpul yang kami rancang berbeda dengan hasil pada kenyataannya di masyarakat.
Everyday is living experience. sebuah proses pembangunan ruang berkumpul bagi mereka merupakan bagian dari keseharian mereka sebagai pengrajin kayu. Hal ini membuat saya berfikir bahwa kita sebagai pihak asing tidak bisa dengan mudah mengubah suatu kebiasaan atau keseharian suatu masyarakat. Masyarakat sendiri yang mengerti bagaimana kebiasaan dan keahlian mereka sehingga menimbulkan sebuah pengalaman hidup yang diterapkan dalam keseharian.
Setelah itu saya mengamati, ada sebuah “ketimpangan” dalam proses keberdirian ruang berkumpul yaitu proses pengerjaannya dilakukan oleh bapak-bapak dengan range usia yang sudah bisa dibilang tua. Sedangkan bapak-bapak yang tergolong masih muda hanya melihat-lihat pekerjaan bapak-bapak yang tergolong usia tua.
Hal ini membuat saya berfikir. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apa yang terjadi dengan keseharian mereka?
Kemungkinan pertama adalah bapak-bapak muda bukanlah seorang pengrajin furniture. Mereka bekerja di bidang lain seperti pegawai, buruh, dan sebagainya. Kemungkinan yang kedua adalah tidak ada bapak-bapak muda yang bekerja sebagai pengrajin furniture. Hanya tinggal pengrajin furniture yang sudah tua.
Kemungkinan yang kedua ini menimbulkan pertanyaan; Apakah tidak adanya suatu “pelestarian” akan profesi pengrajin furniture di daerah tersebut??Apakah tidak adanya suatu “regenerasi” baru yang dilakukan bapak pengrajin furniture tua kepada generasi berikutnya??atau Apakah “everyday” masyarakat mulai hilang tertelan dengan arus zaman yang semakin maju?
Hal ini menjadi suatu isu bahwa adanya pergeseran suatu “everyday” dalam masyarakat di daerah tersebut. Para bapak muda didaerah tersebut bekerja di banyak bidang selain sebagai pengrajin furniture karena beberapa alasan. Tidak adanya suatu pelestarian “profesi” mengakibatkan profesi sebagai pengrajin furniture bisa terancam hilang tertelan zaman. Padahal didalam masyarakat daerah tersebut sendiri menjadi pengrajin furniture merupakan sebuah identitas dan potensi dari daerah tersebut. Mungkin pilihan atas pekerjaan lain selain pengrajin furniture merupakan tuntutan ekonomi mereka yang semakin sulit dan mencekik kehidupan mereka.
“Everyday” mulai bergeser sedikit demi sedikit. Akankah “everyday” sebagai identitas masyarakat daerah tersebut hilang??
Di Indonesia, mungkin Bluetooth messenger tidak booming di kalangan remaja. Tapi di Saudi, bluetooth merupakan sarana perkenalan cara baru.
Di Saudi, kondisinya memang tidak memungkinkan bagi muda-mudi untuk berkenalan secara langsung. Tidak seperti di Indonesia yang tempat-tempat hiburannya justru dipenuhi kaula muda dengan bebasnya; bahkan tak jarang yang berpacaran dan menunjukkan kemesraannya, tempat-tempat hiburan yang ada di sana memiliki semacam ‘filter’ untuk menyaring siapa saja yang boleh masuk. Kebanyakan tempat hiburan ini hanya boleh dimasuki oleh keluarga. Hanya sedikit tempat yang boleh dimasuki sekumpulan remaja. Maka, seorang remaja hanya boleh memasuki tempat-tempat ini jika bersama dengan anggota keluarganya. Pergaulan antara muda-mudi juga terbatas disebabkan Saudi yang merupakan negara Islam. Perkenalan antara kaum laki-laki dan perempuan tidak bisa sembarangan dapat dilakukan.
Berkat kecanggihan teknologi berupa Bluetooth yang terfasilitasi dalam telepon seluler, remaja Saudi tidak kehabisan akal untuk tetap saling berkenalan dan memperluas jaringan pertemanan (bahkan mencari jodoh). Dalam satu ruangan dalam suatu bangunan publik, mereka dapat saling bertukar pesan, notes, ataupun foto dengan Bluetooth yang dapat mengirim data dalam radius 10 hingga 100 meter (tergantung pada spesifikasi ponsel dan aplikasi bluetooth yang digunakan). Bahkan ada aplikasi Bluetooth Messenger yang serupa software messenger lain seperti Yahoo!Messenger, MSN, eBuddy, dan lain-lain yang bisa memungkinkan untuk chatting dengan username nama bluetooth masing-masing perantinya, memilah account bluetooth siapa saja yang diperbolehkan untuk melihat post yang kita lakukan, dan sebagainya. Cara ini lebih disenangi karena kita cukup mengaktifkan bluetooth saja, tidak perlu mobile-online yang dapat memakan pulsa.
Sebagai pemicu, biasanya ada yang memulai dengan mengirim foto tertentu dengan quote pencair suasana seperti,” Ada yang bisa kirim foto yang lebih lucu dari ini, nggak?” Lalu mulailah marak mereka saling berbalas-balasan.
Dalam satu ruangan itu, secara kasat mata para pengguna Bluetooth dan Bluetooth Messenger yang saling berkenalan mungkin saja asik dengan keluarganya masing-masing. Namun sebenarnya di antara mereka ada boundary maya (atau boundary digital?) yang menciptakan ruang berkumpul mereka. Uniknya lagi, memang bisa saja pertukaran pesan, foto, dan notes itu berlanjut dengan perkenalan real. Namun bila tidak tertarik, kita bisa memilih unttuk hanya mengenal seseorang dengan nama device bluetoothnya saja. Lalu, bila keluar dari jarak jangkauan Bluetooth ponsel kita, kita pun akan kehilangan teman-teman yang jangkauannya sudah di luar.
Kalau dipikir-pikir, menarik juga bukan, berada dalam satu radius jangkauan yang relatif dekat, namun kita tidak bertemu secara fisik. Di dalam space Bluetooth connection ini setiap orang diwakilkan dengan sebuah nama bluetooth device yang mereka miliki. Di sini, space does matter, mungkin masih berlaku. Tapi manusianya? Apakah masih berlaku, masih berpengaruh?
Ibaratnya, sekarang tak cuma program komputer yang mempunyai icon dalam mewakilkan diri dalam menjalankan programnya yang sesungguhnya. Dalam hal ini, icon ditempatkan di muka alat digital elektronik, dibuat untuk mempermudah akses yang dijalankan oleh program yang terdiri dari banyak kode yang berada pada Local Disk. Sekarang, manusia juga dapat mempunyai icon yang mewakilkan dirinya di dunia digital.
Kalau diambil analoginya, memang benar di sini icon berupa username bluetooth device memang dibuat sebagai pewakilan/penghadiran orang sebenarnya di dunia nyata untuk kegiatan perkenalan sesama muda-mudi dalam dunia digital, disebabkan keterbatasan si orang ini untuk muncul secara fisik dalam kehidupan nyata untuk melakukan kegiatan perkenalan tersebut.
Namun, apakah fenomena Bluetooth Messenger ini hanya tools; alat. seperti halnya manusia zaman purba yang membuat tools untuk membantu kehidupan mereka? Misalnya, untuk menebang pohon, mereka membuat kapak sebagai perpanjangan tangan mereka, untuk mewadahi air mereka membuat cangkir dari batok kelapa sebagai ganti caukan tangan mereka, dan sebagainya.
Penghadiran diri, atau hanya alat? Ataukah alat mewakilkan diri? Mungkin memang ini akan tetap menjadi pertanyaan, sebab dalam banyak hal kita memang memerlukan alat yang dapat mewakilkan diri kita, baik sebagian maupun secara keseluruhan, untuk membantu melakukan berbagai kegiatan, termasuk kegiatan bersosialisasi. Meskipun demikian, fenomena ini menarik bukan? Bahkan mungkin akan menginspirasi Sky-Ear Project yang lain. Sekalipun tidak jadi sampai sky-Ear , mungkin ini menarik untuk sekedar dicoba: apa sih enaknya Bluetooth Messenger (dapat didownload di ponsel kalian loh..^ ^)?
Masyarakat yang tinggal di tengah kota, mau tak mau harus menghadapi tuntutan akan standar hidup yang tinggi. Akibatnya, pemenuhan akan berbagai kebutuhan harus dicapai dengan bekerja dan bekerja, bahkan sering tanpa mengenal waktu. karena itu, mereka pun menjadi penganut gaya hidup yang serba praktis, serta wajib memiliki akses informasi dan komunikasi yang mudah, jika tidak mau ketinggalan menghadapi perubahan di sekitarnya yang berlangsung sangat cepat. Kondisi ini pula yang menyebabkan stress tinggi menjadi hal biasa di kalangan warga kota besar.
Keadaan perkotaan yang padat penduduk dan dikepung bangunan buatan manusia, menyebabkan masyarakat perkotaan sulit memperoleh tempat memanjakan diri (fasilitas publik) dengan kualitas lingkungan yang baik.
Arsitektur yang baik
Untuk mengatasi persoalan urban di kota-kota besar, jalan keluarnya adalah melalui arsitektur yang baik. Arsitektur yang baik harus memiliki nilai-nilai tertentu, seperti :
- Merespon hijau
Merespon isu-isu penyelamatan lingkungan, bahaya global warming, serta hilangnya tanaman hijau di perkotaan. - Merespon kenyamanan
Supaya tidak terganggu stress karena rutinitas. - Merespon tetangga
Lingkungan sosial merupakan faktor yang harus dipertimbangkan oleh arsitek ketika akan merancang sebuah bangunan. - Merespon keterjangkauan
Di tengah naiknya harga bahan-bahan bangunan, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang hemat dan proporsional agar pemilik bangunan tidak dipusingkan oleh harga dan sesuai dengan anggaran yang dimiliki.
Nilai-nilai tersebut merupakan nilai yang bisa membuat kehidupan urban menjadi lebih baik. Continue reading ‘Urban, Menjadi Bagian dari Kota Besar’
Aku dan Mereka
Menjalani tugas Everyday and Architecture membawa saya melihat keadaan lain di luar kehidupan sehari-hari.
Melihat bagaimana keadaan yang sangat berbeda tentunya memunculkan sebuah pengertian pribadi akan tempat yang baru di-encounter tersebut. Akan muncul pemikiran-pemikiran seperti, ‘kenapa itu begitu?’, ‘seharusnya ini begini’, ‘itu salah’, ‘itu boleh juga’, dan sebagainya. Saya langsung membandingkan situasi yang mereka alami dengan situasi yang saya alami dan “menghakimi” keadaan mereka.
Akan tetapi, setelah kemudian terlibat dalam diskusi dan mengikuti kuliah lebih lanjut, muncul pertanyaan:
Siapa saya sehingga bisa menjadi orang yang menghakimi keadaan tersebut?
Pengetahuan apa yang saya miliki sehingga saya pantas disebut ‘yang tahu’?
Pengalaman apa yang saya miliki sehingga saya layak disebut ‘yang mengerti’?
Aku dan mereka layaknya apel fuji dan apel manalagi (atau jenis apel apa saja). Meskipun sama-sama apel, tetap saja ada perbedaan yang tak pantas dibandingkan begitu saja hanya berdasarkan melihat kedua apel tersebut sekilas. Ada faktor genetis yang membuat apel fuji apel fuji, dan apel manalagi apel manalagi, layaknya situasi-situasi yang mengikat mereka yang tak dapat dibandingkan begitu saja dengan apa yang saya alami.





comments