Posts Tagged ‘creativity

06
Dec
09

Explore Your Creativity by Design Power (Desain Pangkal Sukses)

Saat mendengar istilah desain mungkin yang terbayang di benak kita adalah desain grafis ataupun fashion design. Padahal sebenarnya desain merupakan suatu disiplin ilmu yang banyak sekali jenisnya, diantaranya desain arsitektur, interior, serta produk. Dunia desain juga sangat dekat dengan seni, sehingga dikenal juga berbagai jenis desain yang berintegrasi dengan seni seperti desain musik, tari, drama, teater, fotografi, sinematografi, dan juga sastra.

Pada dasarnya, desain mempunyai dua unsur yang paling penting, yakni unsur manfaat dan estetika (keindahan). Hanya saja yang berbeda adalah pada aplikasinya, yakni sesuai dengan jenis desainnya.

Tahukah Anda, ternyata selama ini kita hidup di dunia desain dan semua yang berhubungan dengan aspek kehidupan, pasti bersentuhan dengan desain.

Mari kita lihat ilustrasi diagram venn di bawah ini:

Kita berada di lingkaran A. bidang-bidang yang kita anggap berhubungan langsung dengan bidang desain di lingkaran B, sedangkan bidang-bidang yang kita anggap tidak berhubungan langsung dengan bidang desain berada di lingkaran C. Maka, gambarannya sebagai berikut : lingkaran A, B, dan C saling mengiris di dalam S (semesta) kreativitas.

Lanjutkan membaca…

29
Nov
09

Bila Graffiti Tak Lagi Hijacking

Graffiti berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia. Dari yang tadinya merupakan wujud vandalisme dengan pesan provokatif atau bahkan berkata-kata kotor hingga sekarang menjadi salah satu kesenian yang mulai dan sedang diperhatikan dunia, bahkan menjadi .

Mengutip tulisan yang saya baca di Seputar Indonesia, Minggu, 27 September 2009, hal. 18 dengan judul “ Evolusi Nilai Seni Graffiti” oleh Bernadette Lilia Nova:

….Dulu, di zaman Orde Baru (Orba), bersama seniman jalanan lainnya, Suyanto mengaku menganut aliran vandalisme, yaitu menggambari dinding manapun tanpa izin pemiliknya. Namun, seiring kesadaran bermasyarakat yang kian melekat, akhirnya Suyanto menjadi pelukis mural yang biasa dikontrak oleh instansi pemerintah untuk melukis dinding-dinding di jalanan Ibu Kota. Tentu saja dengan pesan moral yang singkat namun bermakna. Misalnya pesan tentang berkendaraan dengan bijak atau taat membayar pajak….

Dari pernyataan di atas, timbul satu pertanyaan: Bila graffiti tak lagi merupakan tindak hijacking, bahkan justru pemerintah sendiri yang meminta diadakannya graffiti tersebut, apakah graffiti itu masih dibilang everyday? Jadi mana yang perlu dikritisi?

Graffiti is hijacking?

Everyday is hijacking?

Ataukah anggapan bahwa graffiti adalah bentuk hijacking, lalu hijacking=everyday? Jadi, bagaimanapun keadaannya, apapun alasan kemunculannya, bila bentuknya masih graffiti maka itu disebut everyday?

Everyday adalah sesuatu yang tidak direncanakan berada di situ, namun it does exists?

Pada kenyataannya, graffiti justru sekarang bergeser menjadi karya seni yang hidup, dan sedang dihidupkan oleh pemerintah. Sekarang, graffiti tidak lagi menjadi sarana provokasi terhadap pemerintahan yang sedang berlangsung, sebaliknya, graffiti menjadi alat bantu pemerintah untuk melakukan kewajibannya menghimbau warga untuk mendukung program-program yang ditetapkan pemerintah.

Mengutip lagi dalam artikel yang sama:

…Karya Graffiti sudah dikenal sejak masa Yunani dan Romawi Kuno. Orang Romawi bahkan melukis dinding monument-monumen kota mereka dengan graffiti yang membuat suasana semakin ceria. Seiring berjalannya waktu, graffiti juga dikenal pada massa Reinassans sekitar abad 14. Menggambar dinding atau mural saat itu dimulai dari gereja.

Sebelumnya di zaman gotik, gereja-gereja di Eropa tapak angker.Suasana kurang nyaman itu mengilhami para jemaat gereja untuk mengubah wajah angker rumah ibadah tersebut menjadi lebih cantik. Cara yang dipilih adalah menggambari dinding-dinding gereja dengan lukisan. Gambar-gambar dalam dinding gereja biasanya mengekspresikan kesyahduan dan kecintaan pada Tuhan….

Ternyata, perkembangan graffiti menunjukkan bahwa graffiti memang dibuat untuk memeriahkan suasana dan menyampaikan pesan baik. Lalu bergeser menjadi graffiti yang hijacking karena tidak mendapatkan ruang untuk menghadirkan eksistensinya.

Menurut saya, pergeseran peran graffiti ini dapat dikatakan perwujudan terjadinya keseimbangan atau kerja sama dari dua hal yang tadinya bertolak belakang. Bisa terjadi up-down dengan didukung down-up hingga lahirlah keseimbangan berupa middle, sesuatu yang menampung dua jalur aspirasi, meampung dua kepentingan: Pemerintah memerlukan publikasi aturannya, dan seniman jalanan memerlkukan wadah berkreasi. Ketika kepentingan dan kebutuhan mereka bertemu, jadilah evolusi baru dalam seni graffiti.

Atau.. jangan-jangan ini bentuk baru manipulasi dalam politik? Hmmm..

12
Oct
09

Be Creative with CLAY !

Sesungguhnya saya berkeinginan untuk membuat maket, dengan material yang berbeda. Dimana mahasiswa lain belum pernah menggunakannya. Suatu hari, saya memiliki janji dengan kerabat di suatu toko buku dibilangan matraman. Sembari menunggu kedatangan kerabat saya, saya melihat-lihat “apa?” yang kira-kira dapat menjadi bahan maket saya.

Saya berkeinginan suatu bahan maket yang memiliki karakter yakni mudah dibentuk dan tahan lama. Saya pun melihat seorang SPG yang sedang membuat berbagai macam fancy ornaments dan accesoris. Dengan mudahnya SPG tersebut membentuk berbagai macam wujud dengan menggunakan bahan yang belakangan diketahui bernama CLAY.

Saya kira Clay tidak berbeda dengan lilin mainan anak atau sejenisnya. Dimana lilin anak tersebut mampu dibentuk menjadi berbagai macam bentuk. Namun, lilin anak sangatlah ringkih, mudah hancur/mudah berubah bentuk. Sedangkan saya membutuhkan sesuatu yang mudah dibentuk dan tahan lama.

Ternyata, CLAY berbeda dengan lilin mainan anak. Selain Clay jauh lebih mudah dibentuk, bentuk yang dihasilkan pun dapat bertahan lama. Selain itu Clay juga tidak licin dan panas pada kulit telapak tangan seperti lilin mainan anak pada umumnya. Tidak heran, ketika mengetahui Clay memiliki harga diatas rata-rata, tapi menurut saya ini masih cukup terjangkau oleh beberapa kalangan masyarakat.

CLAY biasa digunakan untuk membuat berbagai fancy ornaments, accessories, toys, bouncing a ball dan berbagai kegiatan kreatif  lainnya. Termasuk apa yang saya lakukan pada Clay, dimana Clay saya manfaatkan untuk membuat maket project arsitektur. Dengan Clay saya mampu mewujudkan suatu bentuk yang berada di dalam imajinasi saya.

26
Dec
08

Should they think imaginatively or realistically?

Sebagai mahasiswa arsitektur kita belajar bagaiamana mendesain atau merancang sesuatu dan hal ini selalu terkait erat dengan manusia. Tetapi ketika merancang ini terkadang kita seringkali menggunakan imajinasi kita, keinginan untuk membuat sesuatu yang ‘menakjubkan’. Namun terkadang imajinasi kita tidak seluruhnya dapat diwujudkan

Dalam hal ini sebenarnya saya mempertanyakan ketika masih dalam proses pembelajaran, sebenarnya yang diperlukan adalah kekreativitasan kita dalam merancang atau berpikir secara realistik. Karena terkadang jika kita berpikir realistik kita merasa terbatasi dan  menjadikan kita takut untuk berpikir lebih luas. Akan banyak sekali mungkin hal yang tidak  dapat dengan mudahnya terwujudkan. Dan akan banyak hal yang harus kita pertimbangkan mulai dari struktur, utilitas, dll. Tetapi sebenarnya jika yang saya lihat justru selama saya sebagai mahasiswa arsitektur yang dituntut kepada kami adalah kami mampu merancang sesuatu yang terlihat unik, yang berbeda dan seringkali istilah kita harus ‘out of the box’, dan ketika saya pikirkan kembali ya seorang arsitek memang harus demikian. Selain itu konsep dari merancang tersebut dapat dikatakan haruslah kuat. Sehingga terkadang yang terjadi adalah kuat di konsep tetapi dilihat dari desain biasa saja. Atau kita mencoba merancang sesuatu yang unik tetapi jika dipikirkan kembali rasanya tidak realistik.

Padahal jika kita masuk ke dunia kerja, semuanya adalah realistik, segala imajinasi kita selama kuliah mungkin tidak dapat dengan mudahnya kita aplikasikan. Jadi sebenarnya sebagai seorang arsitek sejauh mana kita dapat menggunakan imajinasi kita dan seberapa besar kita harus berpikir secara realistik. Atau sebenarnya ketika saya berbicara antara imajinasi dan kreativitas adalah merupakan 2 hal yang berbeda?

Jadi jika saya mencoba untuk berpikir kembali mengenai hal di atas menurut saya bagi seorang arsitek dalam proses merancang ada beberapa hal yang terkandung didalamnya antara lain manusia / masyarakat, imajinasi / kreativitas dan kemudian dikaitkan dengan perwujudannya di lapangan (apakah realistik atau justru menjadi tidak kontekstual). Namun seperti yang telah dikatakan jika harus mengkaitkan antara imajinasi dan sesuatu yang realistik, imajinasi tersebut menjadi terbatas.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers