Unaka Pahappa?
Sang pemilik rumah bertanya kepada saya, hal yang selalu ditanyakan pada saat bertamu ke rumah orang. Saya pun bertanya kepada Umbu Langu, apa maksudnya.
“Unaka pahappa itu bahasa Sumba, artinya mau makan sirih pinang?” jawabnya sembari mengambil sejumlah sirih.
Saya pun mengambil beberapa sirih dan pinang dari piring yang disodorkan tuan rumah. Awalnya saya bingung, namun Umbu Langu lagi-lagi menjelaskan cara memakannya. “yang dimakan pertama, adalah sirihnya” sambil menunjukkan buah sirih yang telah dipotong dan dijemur hingga kering. “Setelah itu, makan pinangnya, sambil dioleskan ke kapur. Ingat, jangan terlalu banyak kapurnya..nanti lidahmu melepuh.” lanjutnya dalam logat Sumba yang kental.
Foto 1: sirih pinang didalam wadah suguhan
Memakan sirih pinang merupakan budaya yang telah berakar pada kehidupan masyarakat Sumba. Tidak pernah sekalipun mereka terpisah dari sirih pinang. Bahkan mereka memiliki tas kecil yang selalu dibawa kemana-mana, khusus berisikan sirih pinang dan bubuk kapur. Setiap orang Sumba yang saya temui, selalu dalam keadaan mengunyah. Bahkan saat bertamu ke rumah orang, sajian pertama yang dikeluarkan adalah sirih pinang, baru kemudian kopi Sumba.
Kunyahan pertama membuat saya sangat terkejut. Rasanya luar biasa pahit! Rasanya saya belum pernah merasakan sesuatu yang sepahit itu. Saya pun meludahkannya dengan spontanitas. “Pahit sekali ini pak?” saya berkata pada tuan rumah. Lalu dia menjawab sambil tertawa, “hahaha ya nanti kau pasti akan terbiasa”. Memang saya harus dapat membiasakan diri, karena selama saya di Sumba, sepertinya saya akan selalu memakannya.
Foto 2 : saya sedang memakan sirih pinang

Foto3: Teman-teman yang terkejut dengan rasa sirih pinang
Dalam memakan sirih pinang, kita harus sering meludah. Ini dikarenakan saat memakan sirih pinang tersebut, air liur didalam mulut kita bertambah, sementara karena sudah tercampur kapur, tidak baik untuk ditelan. Maka pemandangan orang Sumba yang suka meludah disana sini menjadi hal yang umum.
Meludah atau membuang lendir menjadi hal yang biasa mereka lakukan dimana saja. Mereka tidak perlu menggunakan tissue atau bergegas ke kamar mandi untuk membuangnya.

Foto4: Bercak air liur kemerahan seperti ini tidak asing lagi di tanah Sumba
Foto5: Nenek-nenek yang sedang menikmati sirih, duduk di teras rumah menikmati pemandangan
Kebiasaan meludah yang tidak bisa terpisahkan ini ternyata berpengaruh pada interior rumah tradisionalnya. Pada rumah yang menjadi basecamp kami, terdapat lubang-lubang di lantai yang tersebar secara merata di dekat pertemuan kolom dengan lantai. Pada sisi lubang ini terdapat noda merah yang merupakan tanda bekas sirih pinang. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa penghuni rumahpun biasa mengunyah sirih pinang dan meludahkannya melalui lubang ini ke tanah dibawahnya.
Foto6: Pada rumah yang jauh lebih tradisional, tidak perlu dibuat lubang khusus. Penghuni dapat meludah dari celah lantai bambu.
Meludah, mungkin menjadi hal yang dianggap jorok bagi masyarakat kota seperti Jakarta. Bahkan pada beberapa tempat seperti Singapore, membuang ludah dikenakan denda. Akan tetapi lain halnya dengan apa yang terjadi di Sumba. Membuang ludah, secara tidak mereka sadari, telah menjadi kebiasaan masyarakat sehari-hari. Sesuatu yang kita anggap kotor dan jorok, tidak berlaku di Sumba ini. Suatu kebiasaan sehari-hari yang menjadi unsur budaya unik yang tertanam dalam di hati masyarakatnya masing masing.
Oh iya, pembaca sekalian,
Unaka Pahappa?





comments