Posts Tagged ‘cyber

11
Jan
11

Facebook ditutup?

 

Facebook sudah benar-benar kebablasan, saya harus mengakhiri semua kegilaan ini. Segala tekanan saat mengelola perusahaan ini telah menghancurkan hidupku.” Mark Zuckerberg

setelah 15 maret, semuanya akan kami tutup. Jika anda ingin melihat kembali foto-foto anda, kami sarankan segera unduh dari internet. Anda tak akan bisa lagi mengambilnya begitu Facebook kami tutup.”Avrat Humarthi, Vice President Technical Affairs Facebook

Sejujurnya ini cara terbaik. Tanpa facebook, orang-orang akan pergi keluar dan menjalin pertemanan yang sesungguhnya. Itu selalu menjadi hal yang baik.” Mark Zuckenberg

Berita menghebohkan datang dari jejaring social dunia Facebook. Pernyataan-pernyataan itu saya dapat dari situs detik.com. kabar bahwa Facebook akan ditutup pada maret 2011 menggemparkan sebagian masyarakat. Untung saja hal tersebut hanyalah hoax, tidak benar.

Facebook yang (menurut saya) telah menjadi cyberspace terbesar di dunia. Facebook menyediakan ruang bagi setiap penggunanya untuk saling berkomunikasi, sharing, baik melalui tulisan maupun gambar dengan cara yang menarik. Di beranda (home) kita dapat menyaksikan aktivitas teman-teman pengguna Facebook, melihat foto-foto yang dipajang ataupun membaca berita dari artis idola kita. Dengan metode berkomunikasi yang menarik itu, membuat Facebook sangat famous dalam beberapa tahun ini. Bahkan ada beberapa orang yang ‘kecanduan’ bermain Facebook. Nah bagaimana jika Facebook benar –benar dihapus seperti yang dikabarkan itu? Sebenarnya apa yang dicari para pengguna Facebook? Melihat foto? Networking? Pernyataan diri? Stalking?

Kemudian saya melakukan survey kecil-kecilan mengenai hal tersebut. Saya tanyakan kepada 40 orang koresponden. Isi surveynya adalah sebagai berikut:

Menurut anda, apabila facebook benar-benar di-non-aktifkan, hal apa yang paling disayangkan? Urutkan berdasarkan prioritas.

  1. Foto/gambar
  2. Kontak (teman, keluarga, dll)
  3. Pernyataan diri
  4. Keberadaan Facebook sebagai hiburan

Kemudian hasilnya adalah sebagai berikut:

2143 18 koresponden

2413 6 koresponden

1243 6 koresponden

4123 4 koresponden

4213 3 koresponden

1234 1 koresponden

2314 1 koresponden

2134 1 koresponden

 

36 koresponden yang menempatkan kontak sebagai prioritas pertama dan kedua

30 koresponden yang menempatkan foto/gambar sebagai prioritas pertama dan kedua

19 koresponden yang menempatkan hiburan sebagai prioritas pertama dan kedua

1 koresponden yang menempatkan pernyataan diri sebagai prioritas pertama dan kedua

 

Ternyata sebagian besar koresponden menyayangkan kontak dan foto/gambar yang ada, apabila Facebook di-non-aktifkan. Kontak atau komunikasi memang tujuan utama dari program social network ini, seperti yang tertera di halaman ketika kita mau log in: “Facebook helps you connect and share with the people in your life”. Sedangkan foto/gambar merupakan salah satu cara dalam menjalin komunikasi tersebut. Cara ini memang menarik dan digemari bagi sebagian orang: meng-upload photo, meng-comment foto, men-stalk foto. Dan rasanya memang sayang ya kalo 1000, 2000. 3000 foto di Facebook jika hangus dalam sekejap.

 

25
Dec
10

Teknologi-kebiasan baru-hilang naluri

Perkembangan teknologi kian hari semakin maju berkembang. Teknologi hadir  ke dalam kehidupan manusia sebagai sarana untuk mempermudah kegiatan manusia. Teknologi hadir akibat dari keadaan susah manusia atau keadaan tidak nyaman manusia. Sebelum mengenal teknologi manusia bekerja dengan teknik dan keterampilan yang dimilikinya. Dengan  keterampilan dan teknik terhadap apa yang ia kerjakan,manusia jauh lebih sadar terhadap apa yang ia kerjakan.

Saat ini, sebagian besar orang telah memilki ketergantungan terhadap teknologi. Antara lain:handphone,mp3,internet dan lain-lain. Handphone, hampir setiap orang memilikinya. Handphone mempermudah kegiatan kita dalam berkomunikasi. Tanpa kita sadari, keberadaan handhone menjadi sangat penting. Terkadang kita merasa gelisah apabila handphone kita tidak berada di samping kita. Dengan handphone, kita merasa dekat dengan seseorang padahal orang tersebut tidak berada di dekat kita dan apabila handphone tersebut hilang kita pun merasa kehilangan seakan-akan kita menjadi jauh dengan orang yang biasa kita ajak komunikasi. Handphone menjadi seperti candu ketika kita terbiasa menggunakannya. Dan ketika handphone tersebut menjadi barang yang tak bisa dihilangkan dari kehidupan kita maka keasikan kita dan handphone seakan-akan seperti dunia hanya antara kita(pemilik handphone dan handphone). Sering kali ketika kita sedang asik dengan handphone  kita tidak mempedulikan orang lain yang ada di sekitar kita.

Mp3 hadir di kehidupan kita adalah sebagai sarana untuk mempermudah mendengarkan musik. Musik yang dulu dapat kita dengarkan hanya di dalam rumah sekarang dapat di nikmati dimanapun. Dengan adanya musik tersebut dimanapun kita merasa bosan kita bisa mendengarkan musik. Mp3 pun dapat menjadi candu ketika kita terbiasa mendengarkan musik dimanapun kita berada dan dikegiatan apapun yang menyertai kita dan ketika kita kehilangan mp3 tersebut seakan-akan dunia hampa. Pernah kita dengar kasus beberapa bulan lalu yang merenggut nyawa seorang mahasiswa FMIPA UI. Usut punya usut kejadian itu disebabkan ia tidak dengar ketika orang memberikan peringatan ada kreta karena ia sedang mendengarkan mp3. Selain itu sering kita temui ketika kita naik kreta, orang-orang yang mendengarkan dan menikmati  sendiri music di mp3 dan cenderung tidak memperdulikan orang yang ada di sekitarnya, hanya mp3 dan orang tersebut.

Dari dua contoh tersebut, terkadang apa yang membuat kita nyaman dan memberikan suatu kebiasaan baru dan menghilangkan rasa alamiah kita sebagai manusia yaitu rasa peduli terhadap oranglain. Keberadaan teknologi menjadikan suatu ruang privat yaitu antara seseorang dengan teknologi tersebut dan kepedulian terhadap orang disekitarnya menjadi berkurang. Dan kita  menjadi kurang sadar terhadap apa yang kita kerjakan akibat dari space yang kita ciptakan dengan teknologi tersebut.Padahal dengan kita peduli  terhadap orang yang ada di dekat kita maka orang pun akan peduli terhadap kita dan apabila kita sadar terhadap apa yang kita kerjakan maka kita akan lebih teliti terhadap apa yang ada disekitar kita. seperti halnya berkarya dalam arsitektur apabila kita terbiasa menggunakan teknologi maka naluri dan kesadaran kita terhadap apa yang kita kerjakan lebih berkurang dari pada yang menggunakan sketsa tangan sendiri.

25
Dec
10

dunia maya vs dunia nyata

Bagaimana perilaku orang dengan ruang sekarang ini? bagaimana ruang-ruang maya dapat tercipta? Apa yang berubah dengan adanya internet bahkan blackberry sekarang ini?

Fenomena twitter belakangan ini menurut saya cukup mengubah perilaku beberapa orang. Yang menarik adalah twitter seperti menjadi ruang sosial baru untuk orang-orang bertemu dan berkumpul membicarakan bagaimana hari-hari mereka, merencanakan sesuatu. kehidupan masa lalu,masa sekarang (apa yang terjadi saat itu), masa depan tampaknya dapat dibicarakan melalui twitter ini. Kalau dulu mungkin orang-orang akan berkumpul di suatu tempat untuk sekedar bertemu dan berbincang mungkin dengan keberadaaan internet sekarang ini.hal itu sudah tidak perlu dilakukan lagi. Bahkan setelah adanya teknologi blackberry, blackberry seperti internet dalam genggaman tangan, banyak akses dalam genggaman tangan. Banyak pengguna blackberry sekarang ini ketika berada di ruang sosial dunia nyatanya justru sibuk dengan dunia mayanya, tidak memperdulikan keberadaan orang lain sekitarnya bahkan elemen arsitektur ataupun bangunan arsitektur sekitar mereka menjadi tidak penting lagi.

Kalau dulu misalnya taman menjadi area publik untuk bertemu dan saling menyapa maka saat ini timeline twitter lah yang menjadi ajang untuk melihat orang lain,menyapa,bahkan berbincang dengan orang lain itu. Tidak perlu banyak space yang dibutuhkan bahkan, hanya space sebesar badan manusia atau sebesar tempat duduk saja sudah bisa membuat orang ini berinteraksi dengan banyak orang. Timeline di sini seperti menjadi sebuah ruang yang mampu menampung keberadaan banyak orang. Menampung mereka yang saling menyapa (orang-orang yang saling berinteraksi di twitter) , menampung mereka yang hanya menyaksikan saja (orang-orang yang hanya membaca timeline, tapi orang ini sebenarnya tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang sekitarnya), dan menampung orang-orang yang ingin mengekspresikan dirinya tanpa motivasi apapun untuk berinteraksi dengan orang lain (orang-orang yang mengupdate statusnya).
Bahkan anda bisa membuat semacam kelompok sendiri di ruang-ruang maya tersebut. Fenomena hashtag (#……..) menurut saya menjadi semacam suatu kumpulan orang-orang akan suatu topik,isi,kesukaan yang sama. Apabila di dunia nyata anda berbincang dengan berkelompok untuk saling membagi suatu kesukaan yang sama maka di duni maya hal ini dapat dibantu dengan penggunaan hash tag.

Hal ini membuat saya berpikir jangan-jangan nantinya peran arsitek akan sangat minim karena orang-orang tidak memerlukan ruang banyak untuk aktifitasnya. Yang mereka butuhkan barangkali hanya seukuran ruangan yang dapat diisi manusia berserta perangkat elektroniknya (seperti komputer) :p
Barangkali penciptaan ruang nanti lebih menjadi tugas programmer bukan arsitek lagi?
coba dipikirkan kembali berapa banyak waktu yang anda habiskan bersama hp anda, blackberry anda, dan komputer anda beserta dengan koneksi internetnya dibanding dengan waktu anda berjalan-jalan di suatu ruang di dunia nyata dan berinteraksi secara langsung, secara nyata?
Saya pribadi lebih banyak menghabiskan waktu saya bersama dengan perangkat-perangkat elektronik tersebut.hehe.

28
Oct
10

Wahai Google-ku, apakah yang kau pikirkan?

27 September 2010 Google berumur selusin. Di masa remajanya, Google berhasil menjadi pujaan hati ratusan juta umat manusia. Total pencarian dalam sebulan pada Juli 2008 (answers.com) mencapai 12.000.000.000 pencarian, yang berarti dalam sehari kira-kira terdapat sekitar 387.096.774 pencarian. Bagi orang-orang yang beragama Google, dia telah menjadi keseharian mereka, bahkan keseharian bagi dunia.

Eksperimen tentang apa yang Google pikirkan pernah dilakukan oleh Ade Darmawan, seniman pengagas ruangrupa, menggunakan suatu keyword dan kemudian memajang hasilnya dalam sebuah pameran. Namun saya rasa bukan hanya dia yang pernah iseng, banyak orang yang juga beriseng ria melakukan hal tersebut, membuka google.com untuk kemudian mencari tentang apa yang google pikirkan tentang suatu hal, misalnya mencari nama sendiri atau nama orang lain.

Pertanyaan iseng saya, apa yang Google pikirkan tentang “arsitektur”? Pertanyaan ini muncul di kepala saya ketika membuat tugas tentang karya Muf Architects-Shared Ground, sebuah karya yang banyak melibatkan komunitas sekitar namun begitu sulit mencari datanya.

Search ini saya lakukan pada 26 Oktober pukul 17.02 dengan keyword “architecture”, menggunakan bahasa Inggris agar lebih universal. Terdapat 169.000.000, dengan hasil first page (untuk google images) sebagai berikut :

Hasil pencarian Google Image untuk

33 image

2 maket

1 gambar kerja (aksonometri)

1 gambar skema

9 gambar olah digital (cukup sulit membedakan gambar render dengan yang foto asli)

6 gambar gedung tinggi > 3 lantai

2 gambar bangunan 2-3 tingkat

1 gambar rendering kolam renang

18 foto bangunan

2 foto bangunan warisan budaya (India dan Bangkok)

6 foto bangunan 2-3 tingkat

5 foto gedung tinggi > 3 lantai

2 foto detail (tidak terlihat tingkatnya)

1 pavilion

1 foto interior kolam renang

1 foto rumah eksperimental

1 kumpulan foto bangunan

Search berikutnya saya lakukan pada waktu bersamaan 26 Oktober pukul 17.02 dengan keyword yang sama yaitu “architecture” namun untuk google web. Terdapat 143.000.000.000, dengan hasil first page sebagai berikut :

Hasil pencarian Google Web untuk
en.wikipedia.org/wiki/Architecture

www.architecture.com/

archrecord.construction.com/

www.architectmagazine.com/

architecture.about.com/

www.architecturaldigest.com/

www.guardian.co.uk/artanddesign/architecture

caf.architecture.org/

www.greatbuildings.com/

ocw.mit.edu/courses/architecture/

10 website

1 website ensiklopedi bebas

1 website institusi arsitektur skala nasional

6 website khusus publikasi arsitektur

1 website online course dari universitas

1 website organisasi edukasi arsitektur non-profit

Kira-kira hal-hal tersebutlah yang menjadi pikiran utama dari Google tentang “arsitektur”. Tak ada yang perlu disimpulkan dari eksperimen ini, karena ini memang sekedar iseng belaka.

NB :

Di antara semua link yang ditampilkan, ada satu link yang akhirnya menarik minat saya adalah caf.architecture.org.

The Chicago Architecture Foundation (CAF) is a nonprofit organization dedicated to advancing public interest and education in architecture and design. CAF presents a comprehensive program of tours, exhibitions, lectures, special events, and adult and youth education activities, all designed to enhance the public’s awareness and appreciation of Chicago’s outstanding architectural legacy.

Ternyata di first page Google dapat ditemukan sebuah link yang memang banyak bergerak dalam komunitas. =)

24
Dec
09

can you turn off your computer and be human for today?

Kalimat “turn off your computer and be human for today” saya lihat beberapa waktu yang lalu untuk menegur manusia yang seringkali melupakan kegiatan – kegiatan “manusiawi” karena terlalu terpaku pada komputer dan juga internet. Dengan adanya komputer dan internet, komunikasi dapat berjalan dengan lancar dan praktis tanpa harus menghabiskan waktu untuk menempuh jarak yang jauh, namun jika dipikir lagi apakah sebenarnya kehadiran seorang manusia secara pribadi dapat digantikan oleh sebuah foto atau gambar bergerak di video? Dengan berbincang – bincang lewat text (chatting, sms, email dll) tidak dapat melihat ekspresi lawan bicara, kita jadi cenderung lebih mengimajinasikan saja. dengan adanya jaringan internet, gaya komunikasi jaman sekarang semakin berubah. Yang katanya semakin dekat, apakah kenyataannya seperti itu? menurut pendapat saya malah semakin jauh karena dengan adanya internet, justru orang jadi tidak merasa perlu untuk repot – repot datang bertemu langsung dengan kerabatnya itu. bisa dikatakan komunikasi dengan internet itu sebenarnya tidak manusiawi, namun dengan gaya hidup yang lama – lama menjadi kebutuhan itu, sepertinya sulit ya untuk mematikan komputer dan internet untuk sehari dan menjadi “manusia”…..

29
Nov
09

Bluetooth Messenger Sebagai Ajang Baru untuk Berkenalan: Penghadiran Diri? Alat? Atau Alat Menghadirkan Diri?

Di Indonesia, mungkin Bluetooth messenger tidak booming di kalangan remaja. Tapi di Saudi, bluetooth merupakan sarana perkenalan cara baru.

Di Saudi, kondisinya memang tidak memungkinkan bagi muda-mudi untuk berkenalan secara langsung. Tidak seperti di Indonesia yang tempat-tempat hiburannya justru dipenuhi kaula muda dengan bebasnya; bahkan tak jarang yang berpacaran dan menunjukkan kemesraannya, tempat-tempat hiburan yang ada di sana memiliki semacam ‘filter’ untuk menyaring siapa saja yang boleh masuk. Kebanyakan tempat hiburan  ini hanya boleh dimasuki oleh keluarga. Hanya sedikit tempat yang boleh dimasuki sekumpulan remaja. Maka, seorang remaja hanya boleh memasuki tempat-tempat ini jika bersama dengan anggota keluarganya. Pergaulan antara muda-mudi juga terbatas disebabkan Saudi yang merupakan negara Islam. Perkenalan antara kaum laki-laki dan perempuan tidak bisa sembarangan dapat dilakukan.

Berkat kecanggihan teknologi berupa Bluetooth yang terfasilitasi dalam telepon seluler, remaja Saudi tidak kehabisan akal untuk tetap saling berkenalan dan memperluas jaringan pertemanan (bahkan mencari jodoh). Dalam satu ruangan dalam suatu bangunan publik, mereka dapat saling bertukar pesan, notes, ataupun foto dengan Bluetooth yang dapat mengirim data dalam radius 10 hingga 100 meter (tergantung pada spesifikasi ponsel dan aplikasi bluetooth yang digunakan). Bahkan ada aplikasi Bluetooth Messenger yang serupa software messenger lain seperti Yahoo!Messenger, MSN, eBuddy, dan lain-lain yang bisa memungkinkan untuk chatting dengan username nama bluetooth masing-masing perantinya, memilah account bluetooth siapa saja yang diperbolehkan untuk melihat post yang kita lakukan, dan sebagainya. Cara ini lebih disenangi karena kita cukup mengaktifkan bluetooth saja, tidak perlu mobile-online yang dapat memakan pulsa.

Sebagai pemicu, biasanya ada yang memulai dengan mengirim foto tertentu dengan quote pencair suasana seperti,” Ada yang bisa kirim foto yang lebih lucu dari ini, nggak?” Lalu mulailah marak mereka saling berbalas-balasan.

Dalam satu ruangan itu, secara kasat mata para pengguna Bluetooth dan Bluetooth Messenger yang saling berkenalan mungkin saja asik dengan keluarganya masing-masing. Namun sebenarnya di antara mereka ada boundary maya (atau boundary digital?) yang menciptakan ruang berkumpul mereka. Uniknya lagi, memang bisa saja pertukaran pesan, foto, dan notes itu berlanjut dengan perkenalan real. Namun bila tidak tertarik, kita bisa memilih unttuk hanya mengenal seseorang dengan nama device bluetoothnya saja. Lalu, bila keluar dari jarak jangkauan Bluetooth ponsel kita, kita pun akan kehilangan teman-teman yang jangkauannya sudah di luar.

Kalau dipikir-pikir, menarik juga bukan, berada dalam satu radius jangkauan yang relatif dekat, namun kita tidak bertemu secara fisik. Di dalam space Bluetooth connection ini setiap orang diwakilkan dengan sebuah nama bluetooth device yang mereka miliki. Di sini, space does matter, mungkin masih berlaku. Tapi manusianya? Apakah masih berlaku, masih berpengaruh?

Ibaratnya, sekarang tak cuma program komputer yang mempunyai icon dalam mewakilkan diri dalam menjalankan programnya yang sesungguhnya. Dalam hal ini, icon ditempatkan di muka alat digital elektronik, dibuat untuk mempermudah akses yang dijalankan oleh program yang terdiri dari banyak kode yang berada pada Local Disk. Sekarang, manusia juga dapat mempunyai icon yang mewakilkan dirinya di dunia digital.

Kalau diambil analoginya, memang benar di sini icon berupa username bluetooth device memang dibuat sebagai pewakilan/penghadiran orang sebenarnya di dunia nyata untuk kegiatan perkenalan sesama muda-mudi dalam dunia digital, disebabkan keterbatasan si orang ini untuk muncul secara fisik dalam kehidupan nyata untuk melakukan kegiatan perkenalan tersebut.

Namun, apakah fenomena Bluetooth Messenger ini hanya tools; alat. seperti halnya manusia zaman purba yang membuat tools untuk membantu kehidupan mereka? Misalnya, untuk menebang pohon, mereka membuat kapak sebagai perpanjangan tangan mereka, untuk mewadahi air mereka membuat cangkir dari batok kelapa sebagai ganti caukan tangan mereka, dan sebagainya.

Penghadiran diri, atau hanya alat? Ataukah alat mewakilkan diri? Mungkin memang ini akan tetap menjadi pertanyaan, sebab dalam banyak hal kita memang memerlukan alat yang dapat mewakilkan diri kita, baik sebagian maupun secara keseluruhan, untuk membantu melakukan berbagai kegiatan, termasuk kegiatan bersosialisasi. Meskipun demikian, fenomena ini menarik bukan? Bahkan mungkin akan menginspirasi Sky-Ear Project yang lain. Sekalipun tidak jadi sampai sky-Ear , mungkin ini menarik untuk sekedar dicoba: apa sih enaknya Bluetooth Messenger (dapat didownload di ponsel kalian loh..^ ^)?

02
Nov
08

Everyday and Time

Konsep everyday pada awalnya muncul sebagai penolakan terhadap icon-icon generalisasi. Segala sesuatu ada patokannya, dan sesuatu akan menjadi benar jika sesuai dengan patokan tersebut. Maka muncullah istilah-istilah seperti uniformity yang menyatakan bahwa segalanya ada keseragaman, dan konsep star dimana seorang bintang yang sering tampil menjadi patokan sehingga yang seperti bintang-lah yang selalu dianggap mengikuti zaman, tidak kuno.

Everyday juga membahas istilah “man”. “Man” merupakan bentuk metafora dari bentuk ideal seorang manusia, yakni icon seorang laki-laki. Laki-laki yang disimbolkan sebagai sesautu yang sering tampil, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Semua yang dikatakannya menjadi hal yang patut diikuti. Memang kemudian pembahasan ini menyangkut kepada masalah gender. Jika laki-laki dilihat sebagai orang yang tampil, maka wanita disimbolkan bersembunyi. Wanita pada zaman itu digambarkan sebagai pengurus rumah tangga yang tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Seorang ibu selalu berada di dalam rumah untuk mengurusi segala kebutuhan keluarganya.

Everyday mengkritisi generalisasi tersebut sehingga kini banyak wanita bermunculan di dunia luar rumah. Tidak asing melihat wanita diluar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, seperti belanja. Atau bahkan melihatnya menyalurkan idealismenya sendiri untuk mencapai karier yang diinginkannya. Tidak heran kini banyak muncul icon-icon wanita masa kini yang justru memperoleh karier cemerlang, setara atau bahkan melebihi pria sekalipun. Kini peran wanita ibu dalam rumah pun telah tertutupi.

Zaman telah berubah, jika dahulu wanita ‘modern’ dilihat selalu berada di dalam rumah kini wanita ‘modern’ dilihat jika ia memiliki karier di luar, atau bisa disebut bekerja. Kasus ini terjadi bisa disebabkan 2 (dua) hal, yaitu perubahan everyday (kehidupan domestik yang berubah) atau lagi-lagi everyday yang tertutupi kemodernan sehingga yang dilihat, merupakan sesuatu yang biasa terlihat pada zaman sekarang.

… the everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by “workers,” but by manager and owners of the means of production ( intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected.” (Lefebvre, 1997)

Menurut kutipan diatas, Everyday terkait pula dengan aspek intelektual yang berkaitan dengan perkembangan pengetahuan dan pemahaman manusia sehingga everyday dapat menjadi kondisi yang sangat universal maupun sebaliknya, yaitu kondisi yang sangat unik bagi kita yang bukan memproduksi everyday tersebut.

Berarti kutipan ini sedikit menjawab kemungkinan yang terjadi, bahwa kasus yang dibahas sebelumnya masih merupakan everyday, karena ternyata everyday bisa berkembah atau bahkan berubah seiring dengan berkembangnya intelektual manusia.

Pada zaman sekarang, pengukuran tingkat intelektualitas diukur melalui pendidikan. Pendidikan yang dilihat adalah pendidikan formal, yaitu bersekolah di sebuah institusi pendidikan yang diakui negara. Masyarakat kemudian melihat pembuktian tingkat pendidikan itu dengan bekerja.

Masyarakat menilai orang yang bekerja setelah menempuh pendidikan menjadi kondisi yang ideal. Maka tak heran, orang yang bekerja, baik pria atau wanita, menjadi icon zaman sekarang. Tidak terbantahkan bahwa bekerja kemudian menjadi everyday.

Namun pembantahan terjadi ketika menjelaskan konsep bekerja yang menjadi everyday seseorang. Bekerja yang ideal adalah bekerja di sebuah kantor. Kantor merupakan icon tempat dimana orang bekerja. Melakukan suatu pekerjaan di sebuah bangunan berlantai banyak. Berkantor tidak hanya juga terikat pada jam kantor nine to five, tetapi juga icon pakaian kerja yang berlaku.

Maka muncul icon wanita zaman sekarang telah diidentikkan sebagai wanita karier. Berkantor dengan icon pekaian kerja yang melekat, menggunakan rok, atau celana panjang bahan, berkemeja dengan lapisan blazer (jas wanita) diluarnya, mengunakan sepatu berhak tinggi yang membuat orang menoleh jika berjalan di lantai keramik, menjinjing tas di tanggannya. Itulah ikon wanita karier masa kini.

Sekalilagi bahwa everyday bukanlah sesuatu yang dilihat ideal.

The everyday is therefore a concept .The everyday, established and consolidated, remain a sole surviving common sense referent and point of reference “intellectual,” on the other hand, sees their systems reference elsewhere: in language and discourse, or sometimes in a political party. The proposition here is to decode the modern world, bloody riddle, according to the everyday” (Lefebvre, 1997)

Everyday mempelajari arti dari sebuah kode yang tidak dapat langsung dipahami secara kasat mata karena tidak dapat dijelaskan secara langsung oleh logika.

Karena terdapat kaitan yang erat antara perkembangan pengetahuan dan pemahaman maka terjadi kebingungan antara pihak yang menjalankan konsep everyday dengan orang asing yang melihatnya.

Hal tersebut juga terjadi dengan icon berkantor. Pengetahuan semakin berkembang, begitu pun dengan teknologi. Teknologi bernama cyber telah meluluh lantahkkan kehidupan masa kini. Cyber telah mengubah everyday seseorang, bahkan icon berkantor itu sendiri. Kantor yang semula digambarkan dengan semuah bangunan nyata beralih pada dunia maya, dimana orang tidak perlu bertemu langsung untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Cyber menjadi ‘kantor’ masa kini. Cyber menghancurkan oipni sebuah kantor yang harus berlantai banyak, karena cyber emmungkinkan orang ‘berkantor’ dimana saja, bahkan di rumah sekali pun. Cyber sekali lagi mementanhkan icon fashion orang bekerja sekalipun bahwa bekerja harus berpenampilan rapi. Dengan cyber, fashion tersebut tidak penting. Berkaus gembel sekalipun orang tidak akan peduli.

Bahkan kini menjadi tidak asing orang-orang beralih jalan hidup untuk memutuskan bekerja di rumah dengan tingkat keefektifasan yang lebih tinggi. Tanpa modal transport dan biaya baju kantor. Bahkan banyak orang yang berkontor di rumah memiliki income yang lebih besar daripada orang yang berkantor.

Namun lagi-lagi berbedanya perkembangan pengetahuan menjadi masalah antara orang yang menjalankan everyday dengan orang asing yang melihatnya. Bagi masyarakat awam, berkantor di dunia cyber masih menjadi hal yang aneh, bahkan cenderung negative, karena malah muncul anggapan bahwa orang yang berkantor di dunia cyber tidak bekerja atau disebut pengangguran. Masih perlu waktu untuk membuat hal ini menjadi masalah.

Tetapi yang tidak dapat dipungkiri bahwa Everyday haruslah berubah sesuai dengan waktu dan sesuai dengan perkembangan kebudayaan, cara hidup, cara pandang, kebutuhan, keadaan sosial dan hal-hal lain yang mewarnai kehidupan manusia. Penyesuaian ini perlu terjadi agar konsep everyday ini tetap diterima sebagai sebuah konsep yang berhubungan terhadap eksistensi kedekatan sesuatu dalam kehidupan keseharian, serta sebagai sebuah hal yang penting dan tidak boleh dilupakan. Penyesuaian yang dilakukan sekarang tidak luput dari masa lalu. Yang ada sekarang adalah kelanjutan dari masa lalu. Jika kita dapat mengetahui masa lalu maka akan sangat membantu dalam merunut ke masa sekarang.

… the concept of the everyday illuminates the past” (Lefebvre, 1997).

Dan yang mutlak perlu disadari untuk tidak mengabaikan keberadaan dari everyday life.

Everyday life has always existed, even if in ways vastly different from our own

(Lefebvre, 1997).




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers