Posts Tagged ‘design

30
Dec
10

Communal Project in Kupo, 2010

“Ternyata mendefinisikan ruang itu susah dalam dunia nyata” Sekilas hal ini yang terbesit dalam pikiran saya ketika ikut terlibat dalam proyek pembangunan pusat informasi untuk sebuah komunitas masyarakat di sebuah pedesaan beberapa waktu lalu. Mengapa demikian ? Karena ternyata, ada banyak hal yang masih harus dipelajari dalam dunia nyata yang sama sekali tidak saya dapatkan di bangku kuliah, sebut saja studio bagi anak arsitek. Apalagi kita dihadapkan pada skenario yang semakin kompleks prosesnya, mulai dari mengenal klien (masyarakat), mengutarakan maksud, survey lingkungan, menemukan isu, mendesain, menemukan material sendiri hingga membangun bersama masyarakat. Sulitnya adalah bahwa kita harus berhadapan dengan masyarakat yang benar-benar awam akan dunia desain dan kearsitekturan. Oleh karena itu, kita pun harus belajar bagaimana menyetarakan level komunikasi kepada mereka agar dapat dipahami dan diterima, belum lagi kalau menyangkut perbedaan bahasa diantara kita. Sehingga sebaiknya harus ada penerjemah karena khawatir akan terjadi beda persepsi kepada masyarakat. Namun, hal itulah yang kemudian menjadikan proyek ini sebagai sebuah proyek yang menantang, dalam artian berbeda dengan kasus-kasus seperti biasanya. Terlebih lagi, saat mencari material yang akan digunakan untuk membangun, saya harus ikut bersama warga menyusuri jurang-jurang dan turun ke kali  yang berada di belakang rumah warga untuk mengambil bambu. Sungguh usaha dan semangat yang keras bagi kami untuk merealisasikan ide proyek ini.  Tetapi, disitulah seni dan proses belajar yang saya dapatkan, bisa mengetahui bagaimana proses komunikasi kepada sebuah komunitas masyarakat yang terdiri dari berbagai kalangan, semisal tingkat RW, RT, tokoh masyrakat, pemuka agama, dan karang taruna desa. Lalu yang tak kalah unik dan sulit adalah bagaimana belajar menempatkan ruang ide kita hadir dalam ruang mereka. Karena kita tidak bisa memaksakan ide dan intervensi desain yang kita punya  langsung diterapkan pada wilayah mereka. Persoalan tempat pun menjadi salah satu kendala yang cukup sulit waktu itu karena harus mencari lokasi yang sesuai dengan isu dan desain yang kita gagas. Namun, setelah kami buat desainnya ternyata kondisi di lapangan berbeda. Ada hal-hal lain yang tidak dapat menjadi jangkauan kami, seperti warga yang tidak bersedia halaman rumahnya menjadi lokasi desain padahal disitulah spot isu yang kami temukan berdasarkan data dan analisis survey. Diskusi pun menjadi andalan forum kami dengan bahasa super sederhana agar maksud dan tujuan kita tersampaikan. Dan akhirnya, dengan bantuan penerjemah/perantara ke masyarakat diputuskanlah lokasi akan dibangunnya desain ini, yaitu di depan rumah Pak RT. Waktu membangun pun dimulai kurang lebih sekitar seminggu bersama warga. Dan sekarang proyek ini sedang aktif dijalankan oleh karang taruna desa Kupo yang diisi dengan berbagai program keterampilan desa. Itulah sekelumit hal unik dan pengalaman bagaimana proses desain dan ruang yang tidak saya dapatkan di studio perancangan. Bagaimana dengan Anda ?

30
Dec
10

arsitektur berwacana roh

Kalimat ini terkadang terkesan provokatif. Bisa menyerang dalam persepsi negatif atau sebaliknya mengungkap hal yang selama ini terekam dalam pikiran kita namun tidak terungkap. Memperbahasakan ruh identik dengan Tuhan yang berarti kita siap dalam sebuah kompleksitas yang sungguh sangat tidak terbatas dalam pengertian apapun. Dalam hal ini, saya mencoba untuk membingkai sejauh mana arsitektur bisa terdefinisikan dalam batas etimologi roh.Terlepas dari hal itu, tidakkah kita pernah terbesit dalam pikiran kita bahwa pada dasarnya rangkaian proses penciptaan suatu mahluk ke dunia ini ketika disandingkan, memiliki kemiripan yang berarti dalam hal proses penciptaan keterbangunan desain oleh arsitek. Terkadang keyakinan saya akan penciptaan mahluk Tuhan yang dilengkapi ruh masing-masing menjadikan saya tergelitik untuk menganalogikan dalam proses arsitektur. Arsitektur disini adalah ketika seorang arsitek yang mendesain sebuah bangunan, dengan pasti memiliki sebuah hasrat untuk memberikan roh pada apa yang ia (arsitek) desain sehingga bangunan tersebut dapat terus bertahan dengan cahaya dari roh itu. (Roh) dalam hal ini adalah jiwa yang ada di bangunan itu, ketika dimana orang pertama kali  melihat dan terkesan pada pembawaan dari bangunan itu. Sama halnya dengan manusia yang memiliki roh, dimana manusia akan terus menjaga dan merawat agar cahaya dari ruh di dalam dirinya tidak pernah padam. Dalam sebuah teori arsitektur dikenal istilah “genius loci” atau sebuah spirit of place dimana “Cahaya mengungkapkan genius loci dari suatu tempat.”. Dalam agama Romawi klasik,  Genius loci adalah roh pelindung dari suatu tempat. Itu sering digambarkan dalam ikonografi keagamaan sebagai tokoh yang memegang tumpah ruah , Patera dan  atau ular. Seorang tokoh Alexander Pope menjadikan Genius Loci sebagai suatu prinsip penting dalam taman dan lanskap arsitektur. Berdasarkan pada fakta yang ada, Genius loci  adalah pelaku utama dari Neo-Rasionalisme atau New Rasionalisme. Dipelopori oleh arsitek Italia Aldo Rossi , Neo-Rasionalisme dikembangkan dan  dievaluasi kembali dalam karya Giuseppe Terragni , lalu memperoleh momentum melalui karya Giorgio Grassi. Hal itulah yang kemudian ditandai  dalam bentuk-bentuk vernakular elemental dengan tidak ada detail kosmetik.Saat ini, dalam konteks teori arsitektur modern, Genius loci memiliki implikasi yang mendalam untuk tempat pembuatan yang jatuh dalam cabang filosofis  ‘fenomenologi’. Sebuah contoh yang menurut saya sangat sarat dengan Genius Loci adalah Chinese Classical Scholar Garden, dimana tiap sudut lay out nya kental dengan filosofi Cina dan diperhitungkan dengan sangat matang. Dari sini, saya mengasumsikan bahwa tiap sketsa dalam desain yang kita buat maka secara tidak langsung kita telah memberikan roh kepada desain itu dan pertanyaannya sekarang adalah bagaimana membuat roh dalam desain itu tetap ada hingga pada keterbangunannya. Hal itulah yang mendasari ketertarikan saya ingin mempelajari lebih dalam akan arsitektur dan roh di dalamnya. Bagaimana dengan Anda ?

25
Dec
10

yang nyaman atau yang baik yaaaaah?

ini adalah sebuah pemikiran yang sering menghampiri pikiran saya.. ketika berbicara tentang keseharian dalam arsitektur, di benak saya selalu muncul pemikiran tentang bagaimana seseorang memaknai ruang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.. pemaknaan ruang yang setiap individu lakukan tentu saja akan berbeda-beda.. pemaknaan yang dilakukan biasanya seolah-olah ‘menyalahi’ fungsi yang ditujukan.. saya contohnya.. di kamar, saya memiliki meja belajar yaitu ruang dan benda yang seharusnya saya gunakan untuk belajar..namun, saya tidak pernah menggunakan ruang dan benda tersebut untuk belajar..saya tidak begitu nyaman dengan ruang yang benda itu berikan untuk saya belajar.. saya lebih nyaman untuk belajar diatas tempat tidur saya yang dapat memberikan ruang yang lebih fleksibel untuk saya memilih posisi belajar.. jika dilihat dari kasus sederhana ini, ruang belajar yang benar adalah di meja belajar itu.. meja belajar pun telah dirancang untuk dapat memberikan posisi yang baik saat belajar..tapi ternyata untuk saya pribadi posisi yang beragam yang bisa saya dapatkan di tempat tidur lebih nyaman untuk belajar..disini terlihat keseharian atau kebiasaan saya berkegiatan dalam suatu ruang tidak lah baik, tapi membuat saya nyaman.. Jadi, yang manakah sebenarnya yang harus diikuti, yang nyaman atau yang baik? apakah yang baik itu selalu tidak nyaman?

23
Dec
10

Antara ‘want’ dan ‘need’

Masalah memang sudah menjadi salah satu hal yang selalu hadir dalam kehidupan kita, termasuk kehidupan bersama dengan individu lainnya di dalam sebuah society. Masalah hadir sebagai sesuatu yang mengganggu atau sesuatu yang dapat mengancam atau merusak tatanan hidup yang baik. Namun, apa sebenarnya ‘tatanan kehidupan yang baik’ tersebut?

Dalam proses pengerjaan project Perancangan Arsitektur, hal tersebut dipertanyakan oleh sang fasilitator, memangnya seperti apa kehidupan, yang dalam hal ini kehidupan urban, yang baik itu? Dalam project ini kami mengangkat suatu isu yang ada di dalam society, melihat apa saja masalah yang ada yang diperoleh dari survey, dan selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut sebagai seorang perancang dalam suatu wujud rancangan arsitektur. Ketika saya membicarakan mengenai isu dan program yang saya ajukan, beliau bertanya, “Apakah mereka benar-benar membutuhkannya?” “Apakah kalau bangunan tersebut tidak ada akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?” Kemudian beliau menjelaskan, ada perbedaan antara ‘want’ dengan ‘need’.

‘Want’ di sini merupakan keinginan seorang perancang untuk membuat suatu kehidupan menjadi lebih baik (seperti dalam pengertian life cultivation). Seorang perancang melihat adanya suatu ketidakterarutan dalam society ketika mereka menjalankan kehidupa, maka ia merasa hal tersebut perlu dibenahi. Namun bagaimana kalau masyarakat sudah merasa nyaman dengan keadaan tersebut? Apakah kalau seandainya kita melakukan suatu intervensi di sana akan membuat keadaan menjadi lebih baik? Oleh karena itu, arsitek harus memahami betul apa ‘need’ dari masyarakat. Kita harus benar-benar mengenali masyarakat dan kehidupannya agar tahu apa yang benar-benar dibutuhkan mereka, jadi tidak hanya sekedar mewujudkan keinginan kita, karena apa yang kita inginkan belum tentu bermanfaat bagi mereka. Inilah pentingnya partisipasi masyarakat dalam membuat sebuah project arsitektur.

23
Dec
10

perancang atau hanya mediator??

arsitek biasanya dikenal sebagai seseorang yang merancang, tapi jika diperhatikan seorang arsitek saat merancang sesuatu ambil saja contohnya rumah tinggal seorang kliennya. ada beberapa kasus saat klien mencurahkan keinginan desain, ingin ada bukaan disini, ada taman disini, materialnya ini, besaran kamarnya sekian, hingga jika disatukan dan disimpulkan si klien ini sudah bisa merancang rumahnya secara keseluruhan dari ide dan keinginan yang dilontarkan olehnya sendiri. dan jika kondisinya seperti ini tugas seorang arsitek hanya mentransfer curahan si klien kedalam bentuk 2 dimensi agar dapat dikomunikasikan kepada pihak pembangun. apa dalam kasus ini arsitek tetap menjadi seorang perancang?? atau hanya mediator dari klien ke pihak pembangun?

20
Nov
10

Arsitektur – Kegiatan yang mengubah atau menyesuaikan??

Ketika saya mulai mengerjakan projek-projek kuliah, saya sering berpikir mengenai tindakan apa yang harus saya ambil jika saya menemukan adanya kebiasaan sehari-hari masyarakat yang bermukim di site yang saya pilih tidaklah wajar.
Apakah bangunan yang akan saya rancang harus saya sesuaikan dengan ketidakwajaran tersebut, ataukah saya justru ditantang untuk dapat mengubah perilaku mereka melalui program arsitektur yang saya buat?
Menurut saya, hal ini cukup membingungkan karena ketika saya berusaha untuk mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat yang ada di daerah tersebut, saya harus menghadapi konsekuensi akan adanya kemungkinan kegagalan dalam perancangan tersebut, masyarakat tersebut belum tentu menyukai intervensi yang saya buat.
Di lain sisi, jika saya menuruti keinginan user tanpa adanya niat untuk mengubah perilaku mereka, maka peran saya sebagai ’agent of change’ yang notabene merupakan tugas seorang arsitek akan hilang.
Sebagai contoh sederhananya, pada saat mengerjakan projek rumah di PA2, saya mengalami kebingungan saat dihadapi pilihan untuk mengubah pola makan penggunanya dari di kamar masing-masing ke sebuah ruang makan, atau tetap mengakomodasi kegiatan makan mereka di dalam kamar masing-masing. Saya ingin sekali melakukan intervensi terhadap kelainan tersebut, namun penggunanya mengatakan bahwa mereka menyukai makan di dalam kamar. Pada akhirnya, saya tetap berusaha untuk mengubah perilaku makan mereka dengan tetap memberikan sebuah ruang makan (namun digabung dengan ruang menonton televisi). Meskipun di lain sisi, terdapat konsekuensi ruang makan tersebut akan menjadi ruangan yang tidak digunakan.
Contoh lainnya, salah satu arsitek ternama Minoru Yamasaki yang mengalami kegagalan saat berusaha menghadirkan bangunan Pruitt-Igoe sebagai bangunan yang mampu mengubah perilaku masyarakat di St. Louis, Missouri untuk tinggal dalam deretan apartemen.
Dari sini terlihat bahwa ternyata memang bangunan-bangunan ataupun produk-produk arsitektur yang hadir bukanlah sebuah produk akhir, melainkan sebuah wadah yang menentukan apakah manusia yang berkegiatan di sekelilingnya ‘akan mau’ menyesuaikan diri dengan adanya produk arsitektur tersebut. Itu sebabnya, cukup susah bagi saya untuk dapat menentukan seberapa besar peran saya dalam mengubah perilaku user, yakni karena adanya respons dari user tersebut di masa depan yang terkadang sulit untuk diinterpretasikan selama masa perancangan.
Hingga kini, pertanyaan tersebut masih sering muncul dalam benak saya. Saya sendiri menangkap jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai sesuatu yang relatif, tergantung dengan situasi dan kondisi.

27
Oct
10

pendekatan (arsitektur) dalam masyarakat

Pada mata kuliah everyday ini, saya mengikuti salah satu community project yang dilaksanakan di Jatinegara Kaum RW 01. Dimana disana kami diminta untuk membuat suatu komunal space yang dapat memfasilitasi seluruh warga RW 01 dalam kegiatan bersama. Project ini diawali dengan pemberitahuan awal, mempresentasikan project kepada pihak yang mewakili seluruh RW01 yaitu bapak RW itu sendiri. Dari sini sudah dapat dikatakan awal pendekatan secara tidak langsung melalui pendekatan kita dalam memberi penjelasan mengenai project sehingga dapat diterima dan dapat dilanjutkan.

Untung tahap selanjutnya kami melakukan survey yang pertama kali. Dari survey ini kemudian kami sekaligus melakukan pendekatan terhadap warga dengan melakukan wawancara mengenai kebiasaan dan data sehari-hari mereka. Melalui wawancara yang dilakukan dengan santai dan penuh keakraban itu kami juga menerangkan sedikit demi sedikit mengenai project yang akan direalisasikan apabila tidak ada halangan (pendekatan arsitektur-project arsitektur).

Sampai pada tahan participation dimana disini kami kembali mengikut sertakan warga untuk menyumbangkan idenya untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu tahap desain. Didalam tahap partisipasi ini, tercipta pula pendekatan yang berkelanjutan antara kami selaku arsitek(pendisain) dengan warga selaku konsumen. Pendekatan itu kami wujudkan dengan mengumpulkan warga kemudian menerangkan kembali tentang project kami serta tak lupa kami memberi treatment sehingga tercipta suasana yang lebih akrab, serta si warga juga lebih antusias.

Jadi untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu tahap desain, dengan pendekatan(arsitektur) ini dapat mempermudah proses dalam mendesain. Dimana dari pendekatan ini kami telah mengetahui lingkungan sekitar(site) serta menggali lebih dalam mengenai warga selaku konsumen dan juga mengikut senrtakan ide/keinginan dari si warga itu sendiri. Sehingga dapat melahirkan suatu desain yang sesuai dengan kebutuhan dari warga.

26
Oct
10

Ketidakyakinan Kebutuhan

Saat bicara mengenai everyday, maka yang harus diperhatikan adalah siapa yang berperan di dalamnya. Rasanya bukan sesuatu yang mudah untuk mengenal siapa komunitas yang berada di dalamnya dan untuk benar-benar dapat menyimpulkan apa sebenarnya yang dibutuhkan komunitas tersebut. Maka, hal ini tidak jauh berbeda dengan perancangan arsitektur 3, saat kita harus mengenal komunitas yang ada di dalam site. Misalnya saja bila secara kasat mata, site yang kita analisa ternyata merupakan suatu perumahan, dimana warganya bersifat individualis karena mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga kurang terjadinya interaksi antar warga, kemudian kita merancang suatu sport centre yang dimaksudkan agar menjadi tempat berkumpul warga dengan kegiatan berolahraga.

Rasanya sangat aneh dengan konteks warga yang individualis, sibuk dengan kegiatan di luar rumah, dan jarang di rumah, kemudian tiba-tiba diadakan ruang berkumpul warga melalui kegiatan olahraga, padahal jelas-jelas warganya jarang di rumah atau berada di rumah hanya pada malam hari untuk beristirahat.  Apakah yakin kebutuhan itu yang perlu di penuhi? Apakah yakin ruang yang dibuat akan benar-benar digunakan oleh para warganya?. Spekulasi bukan bagian dari perancangan, apalagi ketidakyakinan pemenuhan kebutuhan, ketika kita memutuskan untuk merancang sesuatu namun atas latar belakang ketidak yakinan sasaran perancangan, maka yang ada nantinya bukan menyelesaikan masalah, tapi hanya akan menambah masalah karena kita membuat suatu ruang yang belum tentu digunakan sesuai dengan fungsinya.

21
Oct
10

suka kah angin….

singing ringing tree

Apa yang ada di sekitar kita? Mungkin bisa apa saja. Udara yang mengalir, apakah ini namanya angin?
Angin yang terus ada atau kah malah jarang ada, sebenarnya seperti apa tindak yang telah kita lakukan terhadapnya.
Panopticons, sebuah proyek di Inggris, yakni membuat empat buah benda yang dapat disebut ‘sculpture’ sebagai landmark yang akan memberikan pemandangan panoramik yang besar pada area mereka berada.
Singing ringing tree merupakan salah satu panopticon yang berada di Burnley, tepatnya pada Lancashire.
Kawasan ini merupakan padang rumput yang sangat luas dan kosong, terletak di pinggiran kota Burnley. Yang menarik ialah daerah ini jarang didatangi oleh penduduk. Mengapa?
Lahan rumput yang membentang luas memberikan keadaan angin yang berintensitas besar dan tinggi. Angin yang sangat kencang dan berlangsung terus-menerus menyebabkan jarangnya orang datang ke Lancashire karena fenomena angin ini cukup mengganggu yang membuat orang akan merasakan angin menekan dirinya terus dan suaranya yang bising.
Arsitek Tonkin Liu memiliki pendapat berbeda. Mereka melihat bagaimana keadaan angin ini menjadi sesuatu yang potensial dan seharusnya fenomena alam dapat menjadi hal yang positif bagi manusia. Arsitek ingin membuat intensitas dan kecepatan angin yang terjadi ini menjadi sesuatu yang positif sehingga nantinya penduduk akan jadi menikmati, merasakan, dan mengalami fenomena angin yang hebat ini di mana akhirnya daerah ini menjadi perhatian dan didatangi penduduk sebagai bagian dari keseharian hidup mereka. Sungguh suatu pemikiran yang luar biasa.
Arsitek membuat sebuah ‘sculpture’ yang akan dapat menghasilkan bunyi dengan susunan irama yang harmonis dengan angin yang ada. Dari bentuk pohon yang tinggi ke atas, maka dibuatlah bentuk struktur dengan pipa-pipa yang naik ke atas hingga 4 meter, dan semakin ke atas maka semakin luas permukaan yang dibentuk pipa. Pipa inilah yang dimanfaatkan seperti flute. dengan satu alas pipa yang terbuka lalu adanya celah tipis yang berbeda-beda dan sesuai panjang pipa yang ada. Inilah yang memberikan kesempatan ketika angin melalui pipa-pipa tersebut, maka akan terjadilah bunyi yang keras dan berubah-ubah.
Ketika benda ini terbangun dapat dirasakan dari saat melihatnya dari jauh bagaimana tampak sebuah struktur hebat yang besar berdiri di tengah padang rumput yang tidak terdapat bangunan apa pun. Lalu ketika mulai mendekat, mulailah terdengar suara yang berirama yang berubah-ubah sesuai arah datang dan kecepatan yang diberikan angin.
Namun di sinilah yang membuat fenomena baru ini menarik. Orang yang datang merasakan benda tersebut, ada yang mengatakan “Ini fantastis, merupakan sebuah icon daerah ini.” Lalu ada juga yang mengatakan, “Sebuah susunan struktur yang luar biasa!” Ada lagi yang lain, “Ini seperti sebuah simbol dari generasi yang baru.”
Yang menjadi pertanyaan ialah apakah sebenarnya yang dirasakan penduduk sebenarnya sama dengan apa yang diharapkan arsitek? Melihat bagaimana tanggapan yang diberikan penduduk, tampak respon mereka yang menekankan akan suatu benda yang luar biasa telrihatnya dari strukturnya yang membesar ke atas, ukurannya yang tinggi besar, dan keberadaannya di tengah padang rumput. Bukankan seharusnya arsitek ingin bahwa ini menjadi sesuatu yang akan mengubah perasaan mereka terhadap daerah Lancashire, dari yang penuh angin mengganggu menjadi angin yang dapat dinikmati.
Semua ini relatif memang. Ada lagi contoh orang Bolton yang datang, lalu menceritakan pengalamannya, “Awal saya datang ke sini, saya mulai mendengar suara seperti pesawat jet. Lalu saya mendekat, suara ini menjadi seperti putaran angin tornado. Semakin lama suara ini menjadi mengerikan, memang seperti ada irama namun semakin membingungkan rasanya. Mungkin seperti sebuah film horor.”
Kenyataan ini memperlihatkan bagaimana suara dengan tempo naik turun yang seharusnya dinikmati dapat menjadi anggapan yang mengganggu dan membingungkan.
Ini mungkin hanya sekedar kontradiksi singkat yang subjektif. Namun sebenarnya yang ingin dilontarkan ialah ketika memang sebuah daerah berangin ni menjadi sesuatu yang terlupakan yang dimaknai dengan jarangnya penduduk yang datang ke sini, apakah memang karena angin itu yang menjadi faktor dominan? Atau sebenarnya ada kekosongan mungkin kehampaan yang dirasakan penduduk di Lancashire? Mengubah pengalaman angin merupakan ide luar biasa, tetapi perasaan, pengalaman yang dimiliki arsitek, orang awam, ahli bidang lain, dan penduduk dapat dikatakan berbeda. Yang menjadi terlupakan bagi penduduk pada daerah Lancashire mungkin bukanlah anggapan negatif keadaan anginnya, mungkin ada yang hal lain yang lebih melibatkan aktivitas penduduk. Namun sebaliknya, bisa juga memang anggapan angin ini memang yang menjadi terabaikan sesuai pemikiran arsitek, hanya saja mungkin penduduk memiliki hasrat lain terhadap angin yang sebenarnya ingin dilakukan tapi masih tak disadari.
Jadi apakah angin yang selama ini kita rasakan? Bagaimana kita melakukan tindak terhadapnya? Atau, sebenarnya kita pernah sadar akan keberadaannya yang biasa saja atau mungkin hanya sedikit?

03
Jan
10

Karakter dari sebuah rancang bangun

Ketika arsitek merancang, seringkali muncul ego dalam diri arsitek tersebut sehingga rancangannya menjadi “diakui”,”dikagumi”,dan sebagainya. Menampilkan karakter dan pemikiran sang arsitek dalam rancang bangunannya. Tapi, hal ini bisa saja menjadi ”bencana” bagi para pengguna rancang bangun si arsitek tersebut, jika ego sang arsitek membuatnya mengabaikan kebutuhan dan karakter si calon pengguna tersebut. Bisa saja sebuah karya arsitektur begitu menarik perhatian, indah, namun ia seperti ”alienisasi” di suatu komunitas, karena ia tak mampu mewadahi keseharian komunitas tersebut. Karakter yang dimunculkan dari rancang bangun tersebut adalah ego sang arsitek, bukanlah karakter dan kebutuhan komunitas tersebut.

Maka saya mengutip, mengenai apa yang arsitek harus lakukan menurut Berke:

What should architect do instead? A simple and direct responses acknowledge the needs of the many rather than few address diversity of class, race, culture, and gender; without allegiance to a priori architectural styles or formulas, and with concern for program and construction…” (Berke, 1997).

Dalam kutipan tersebut ada beberapa yang bisa digarisbawahi mengenai apa yang kemudian arsitek lakukan:menyoroti pada kebutuhan,berfokus pada program dan konstruksi, bukannya setia pada gaya atau formula arsitektur sebelumnya, sehingga karya arsitektur yang muncul dapat ikut “hidup” bersama penggunanya, bukan sekedar karya seni atau sebagai objek semata.

24
Dec
09

Arsitektur sebagai benda hidup

Arsitektur, tidak seperti bidang seni lain, hadir dalam  realitas sehari – hari. Arsitektur adalah ruang fisik untuk aktivitas manusia, yang memungkinkan pergerakan manusia dari satu ruang ke ruang lainnya, yang menciptakan tekanan antara ruang dalam bangunan dan ruang luar. Namun, bentuk arsitektur juga ada karena persepsi dan imajinasi manusia.

Karena eratnya hubungan antara manusia dan arsitektur inilah maka dalam menghadirkan arsitektur hendakanya kita sebagai arsitek harus benar – benar mengetahui  bagaimana  perilaku manusia yang akan berkenaan dengan karya arsitektur tersebut. Kata perilaku menunjukan manusia dalam aksinya, berkaitan denagan semua aktivitas manusia secara fisik; berupa interaksi manusia dengan sesamanya ataupun dengan lingkungan fisiknya. Di sisi lain, desain arsitektur akan menghasilkan suatu bentuk fisik yang bisa dilihat dan bisa dipegang. Karena itu, hasil desain arsitektur dapat menjadi salah satu fasilitator terjadinya perilaku, namun juga bisa menjadi penghalang terjadinya perilaku.

“ we shape our buildings and afterwards our buildings shape us. “ (Winston Churcill, 1943)

Dari keterkaitan yang menimbulkan interaksi bolak – balik inilah dapat dikatakan arsitektur itu bukan hanya sekedar objek ciptaan manusia berupa benda mati. Karena dalam ke-eksistensiannya, tidak dapat dipungkiri arsitektur akan hidup bersama – sama kita sebagai manusia yang akan selalu membutuhkan arsitektur.

Jika kita dapat hidup dengan rukun dan damai bersama arsitektur yang hidup dengan kita, tak jarang sebuah karya arsitektur pun akan hidup lama dalam ke-eksistensiaannya di muka bumi ini. Sebagai contoh adalah hasil – hasil peninggalan bersejarah yang hidup dalam beberapa perubahan zaman ( generasi ). Di Jakarta pun masih terdapat  peninggalan bersejarah yang  masih hidup sampai saat ini bersama – sama dengan warga Jakarta, yakni di kawasan kota tua. Disana dapat kita jumpai karya – karya arsitektur peninggalan orang – orang tedahulu yang masih bermanfaat bagi kehidupan kita saat ini. Kita ambil contoh Museum Fatahillah. Dahulu museum ini adalah pusat pemerintahan kota Batavia yang juga digunakan sebagai penjara bawah tanah untuk para tahanan pemerintah. Namun, hingga kini sebuah karya yang mengesankan ini juga masih dapat eksis bersama – sama kita di tengah – tengah kota Jakarta ini, walupun sudah berubah nilai fungsinya. Saat ini Museum Fatahillah dan juga bangunan – bangunan lain di Kawasan Kota Tua, selain sebagai objek peninggalan bersejarah tetapi juga sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia lainnya, seperti; rekreasi, pendidikan, bahkan hingga profesi pekerjaan ( entertainment, fotografi, dan lain lain ).

Tetapi dalam kehidupannya manusia pun tak jarang berbuat kerusakan yang pada akhirnya akan merusak karya – karya arsitektur yang ada. Kerana manusia dalam ekosistemnya relatif mempunyai peran yang sangat kecil. Banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam ekosistem tersebut justru berada di luar campur tangan manusia. Akan tetapi, manusia dapat menjadi sumber masalah karena manusia elalu menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri ( sikap antroposentris ) dan dalam jangka panjang dapat merugikan sesama manusia dan atau lingkungan fisiknya.

24
Dec
09

Perlukah mengaplikasikan metode “everyday architecture” dalam mendesain . . . ? ?

Selama pembelajaran mengenai everyday architecture ini, saya mendapatkan sebuah pemikiran baru dalam menentukan rancangan dalam proses mendesain. Akhirnya saya mengetahui mengapa kita sebagai arsitek nantinya harus benar – benar mengetahui bahkan  memahami bagaimana everyday life yang terjadi pada suatu tempat yang dimana nantinya kita akan menghadirkan sebuah intervensi arsitektur di dalamnya.

Saya sadari bahwa dalam menciptakan sebuah desain arsitektur yang nantinya akan berinteraksi langsung dengan manusia sebagai penggunanya, kita perlu benar – benar mengetahui bagaimana perilaku manusia di dalamnya. Yang kemudian dari perilaku manusia itu akan kita ketahui kebutuhan – kebutuhan apa saja yang mereka butuhkan. Namun, disinilah timbul petanyaan untuk saya ketika sampai dalam tahap mengetahui kebutuhan dasar manusia. Saya membaca sebuah pendapat dari seorang psikolog, yakni Abraham Maslow. Pendapatnya menyatakan bahwa manusia memiliki tingkat kebutuhan dasar yang berbeda dan dapat berubah, yakni dapat meningkat.

Dari diagram Maslow ini dapat dikatakan apakah yang dinamakan everyday life yang notabenenya berdasar dari perilaku dan kebutuhan dasar manusia akan selamanya tetap sama dalam diri manusia? Lalu apakah sebuah karya everyday architecture itu dapat terus eksis dalam site-nya? Dengan simulasi seperti ini; suatu saat kita ingin melakukan intervensi arsitektur ke dalam sebuah site. Lalu saat itu kita awali metode merancang kita dengan menganalisis bagaimana everyday life terjadi dalam site tersebut. Hingga akhirnya sebuah karya everyday architecture dapat kita ciptakan dan hadir dalam komunitas tersebut. Namun, bagaimanakah dengan ke-esksistensiannya setelah beberapa tahun atau bahkan dekade mendatang? Manusia sebagai mahluk hidup akan terus berkembang, dan seperti yang dikatakan seorang Maslow tingkat kebutuhan dasar manusia akan berubah seiring perjalanan hidupnya. Lalu apakah everyday life di waktu lalu itu akan tetap berlaku untuk everyday life di waktu mendatang?

Tetapi jika kita melihat proses restorasi dari bangunan – bangunan cagar budaya, seluruh bentuk bahkan hingga elemen demi elemenya di restorasi kembali sesuai bentuk aslinya terdahulu sekalipun dengan materialnya diusahakan untuk disesuiakan dengan yang terdahulu. Dari sini kita melihat fenomena masa lalu yang masih eksis hingga kini. Lalu apakah sebenarnya dalam proses restorasi ini masih memperdulikan bagaimana everyday life yang terjadi . . . ? ? ?

24
Dec
09

Architectural Space and Technology

Seiring dengan berkembangnya teknologi, arsitektur ikut berkembang. Seperti pada proyek Sky Ear (Usman Haque) pada 15 sept 2004 di Greenwich Park, London , architectural space menjadi sesuatu yang lain. Sky ear menggunakan instalasi berupa balon-balon yang diisi helium yang terdiri dari 6 ultra brigth LEDs. Instalasi ini mengubah gelombang elektromagnetik menjadi sinyal cahaya. Manusia bisa berinteraksi dengan yang lainnya dan dengan ruang yang terbentuk akibat susunan balon tersebut melalui mobile phone. Mobile phone pada masa sekarang ini pasti tak lepas dari genggaman pemiliknya. Tak lepas dari kehidupan sehari-harinya.

Teknologi informasi pun turut mempengaruhi ruang arsitektural.  Teknologi informasi berupa internet sudah hampir menjadi kebutuhan setiap orang. Website-website semakin beragam, game online semakin disukai. Seperti halnya website secondlife .  Pada website ini memperlihatkan bagaimana real life dan virtual life menjadi sesuatu yang blur.  Aktifitas yang dilakukan seperti halnya di dunia nyata. Settingnya pun hampir sama. Bahkan bangunan-bangunan yang ada di sana, juga dirancang oleh arsitek.  Scope Cleaver adalah salah satu arsitek di secondlife. Ia salah satu bangunan yang ia rancang adalah The Princeton University Gallery of the Arts yang menempati lahan seluas 7 sims (65,536 square meter Regions)di  Second Life. Material dan struktur yang digunakan sama halnya dengan di dunia nyata. Ruang dalamnya pun sudah terpikirkan dengan matang. Ia sudah mempertimbangkan bagaimana “natural light” akan masuk ke ruang tersebut. Tentunya “Natural light” di sini juga merupakan sesuatu yang virtual.  Rancangannya seperti suatu desain proposal dan dalam tahap akan dibangun di dunia nyata.

Hal ini memperlihatkan bagaimana ruang arsitektural juga bisa tercipta di dunia virtual. Teknologi yang semakin berkembang, akan mempengaruhi architectural space. Bahkan pemikiran arsitek pun akan semakin berkembang. Tidak hanya merancang di dunia nyata melainkan juga di dunia virtual, tentunya ia harus bisa memahami konteksnya terlebih dahulu. Apakah anda tertarik menjadi arsitek seperti ini?

www.arcspace .com

22
Dec
09

isu everyday di daerah pesisir

Ketika kami mengunjungi Pulau Kelapa Dua di Kepulauan Seribu, kami singgah terlebih dahulu di Pulau Kelapa. Dari Pulau Kelapa kami memutuskan untuk naik ojek kapal ke Pulau Kelapa Dua. Untuk memperoleh ojek, kami harus berjalan terlebih dahulu melewati pemukiman penduduk. Saat saya melewati pemukiman penduduk, saya tidak merasa bahwa saya sedang berada di daerah pesisir namun terasa seperti berada di gang rumah saya. Jalan kecil sekitar 2 meter dengan diapit oleh rumah-rumah penduduk yang umumnya terbuat dari bata. Saya tidak dapat melihat laut maupun dermaga dari jalan yang saya lewati.

Ketika didiskusikan mengenai hal ini ternyata sang arsitek yang mendesign pemukiman di Pulau Kelapa, mendesignnya secara kota bukan secara pesisir. Umumnya layout pemukiman di pesisir mengitari sisi luar pulau dikarenakan mata pencaharian pada umumnya adalah nelayan. Sedangkan design di Pulau Kelapa adalah linear yakni jalan yang diapit oleh rumah-rumah penduduk.

Sangat disayangkan sekali bahwa salah satu pulau yang merupakan kekayaan bangsa menjadi kehilangan cirinya dikarenakan sang perancang yang kurang memahami konteks atau tapak yang diolahnya.

boris

18
Dec
09

Buruk di Mata, Nyaman di Jiwa?

Belakangan, penulis yang mengikuti tugas perancangan ruang dalam, mendapatkan tugas untuk mendesain artwork untuk sebuah perpustakaan atau bandara. Dalam proyek ini, penulis memilih untuk mendesain artwork untuk perpustakaan dan pilihan penulis jatuh pada perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Engineering Center.

Dalam prosesnya, penulis menemukan hal menarik pada lantai 4 gedung Engineering Center yang utamanya dimanfaatkan sebagai ruang baca dan ruang belajar bersama bagi para pengunjung perpustakaan. Pada lantai ini, penulis menemukan sebuah area yang mengundang para pengunjung untuk duduk-duduk santai, lesehan, bahkan hingga tidur-tiduran di area ini. Hanya sebuah void dengan karpet berukuran kurang lebih sekitar 3 meter kali 4,8 meter.

Hal ini menjadi menarik karena sekilas melihat, penulis yakin akan ada banyak pengunjung yang setuju bahwa area lesehan ini sangatlah berantakan dan tidak sedap dipandang mata untuk berada di perpustakan di Universitas Indonesia yang seharusnya memiliki kesan berkelas. Sandal-sandal berserakan, para pengunjung yang berbaring dengan kaus kaki menengadah ke arah atas, serta kertas-kertas kuliah yang bertebaran di mana-mana. Sebuah pemandangan yang tentunya sangat mengganggu bila kita melihat dari kacamata para ‘elite’; arsitek perancang, kepala perpustakaan, dekan FTUI, bahkan mungkin rektor UI.

Hal ini menurut penulis sangatlah sering terjadi pada kehidupan kita sehari-hari secara umum dan arsitektur secara khusus. Kita sering menilai sekilas dari first impression. Padahal, apabila kita tanya para pengunjung yang sering duduk-duduk atau tidur-tidur di area lesehan tersebut, mungkin mayoritas dari mereka akan merasa sangat nyaman ketika berkegiatan di sana, baik itu membaca literatur ataupun mengerjakan tugas-tugas. Karpet yang empuk, udara pendingin ruang yang sejuk, ditambah dengan stop kontak untuk kabel laptop, tentu merupakan hal yang sangat nyaman untuk beraktifitas di sana. Penulis pun akan menjadi salah satu yang setuju bahwa area tersebut sangat nyaman untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah ataupun membaca literatur-literatur, karena penulis telah secara langsung mencoba beraktifitas di sana.

Sungguh perasaan yang nyaman yang amat bertolak belakang dari impresi pertama yang penulis rasakan. Buruk di mata, nyaman di jiwa. Mungkin itulah ungkapan yang dapat penulis lontarkan menanggapi contoh kasus di atas. Menurut para pembaca?

Continue reading ‘Buruk di Mata, Nyaman di Jiwa?’

14
Dec
09

Everyday sebagai Basis Perancangan

Arsitektur adalah ilmu yang terbentuk karena adanya keinginan manusia untuk memasukan keindahan dalam setiap detail hidupnya, bukan hanya dilihat melainkan dialami dan dirasakan secara lengsung menjadi pengalaman ruang. Seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu arsitektur pun terus berkembang tidak hanya terbatas ruang melainkan sudah berkembang menjadi ilmu yang juga mempelajari tentang manusia dan iteraksinya di dalam komunitas. Arsitektur dulu dianggap sebagai ilmu yang sangat dekat hubunganya dengan keidupan masyarakat karena dalam perkembanganya, arsitektur sangat dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Hasil dari proses berarsitektur juga akan secara langsung digunakan oleh masyarakat. Akan tetapi, pandangan masyarakat mengenai arsitektur saat ini sudah bergeser sangat jauh. Arsitektur saat ini dianggap sebagai ilmu yang identik dengan modernitas, bisnis, kemewahan, dan teknologi yang sangat jauh dengan everyday masyarakat. Hal ini disebabkan karena banyak sekali arsitek yang merancang sesuatu dengan menggunakan fakta dan data sebagai basis perancangan, bukan eveyday masyarakat. Padahal, apa yang terlihat sabagai everyday masyarakat saat ini sebenarnya bukanlah everyday dari masyarakat itu sendiri melinkan modernity yang dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama sehingga banyak orang yang menganggap itu sebagai everyday masyarakat. “The everyday is covered by a surface: that of modernity.” (Lefebvre, 1997: 37)

Masyarakat Indonesia adalah tipe masyarakat yang terbuka terhadap hal-hal baru. Apalagi jika hal baru itu berasal dari negara maju yang selama ini sering dijadikan sebagai ‘kiblat’ masyarakat dalam memaknai sebuah kehidupan yang moderen yang menyenangkan dengan berbagai kemudahan dan kemewahan yang ditawarkanya. Semakinnbanyaknya modernity yang menutiupi everyday, mengakibatkan everyday yang sebenarnya dari masyarakat menjadi lebih sulit untuk ditemukan. Padahal ini berpengaruh sangat buruk terhadap masyarakat itu sendiri karena jika hal ini terus berlanjut masyarakat akan kehilangan jadi dirinya dan akan muncul masyarakat yang homogen dan tidak terdapat perbedaan masyarakat satu dengan masyarakat lainya. Contohnya ketika mall sedang marak di kota jkota besar di Indonesia, kota-kota kecil juga berlomba-lomba untuk mendirikan bangunan dengan fungsi serupa sehingga perbedaan antara kota besa dan kota kecil semakin tipis dan dapat dilihat adanya sebuah proses peng-homogen-an dari kotakota itu sebagai akibat modernity agar tidak dianggap sebagai kota yang kuno dan tidak mengikuti trend.

Karena semakin sulitnya mencari everyday yang sebenarnya darri masyarakat, arsitek lebih memilih mendesain berdasarkan apa yang dilihatnya dalam masyarakat dan memperkirakan apa yang akan berkembang dalam masyarakat dalam beberapa tahun kedepan. Hal ini semakin mempersulit pencarian everyday yang sebenarnya dalam masyarakat. Jika hal ini terus berlanjut, lama kelamaan arsitektur akan kehilangan verydaynya sebagai ilmu yang erat dengan kehidupan masyarakat yang sebenarnya menjad ilmu yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang berasal dari golongan atas yang dapat mengikuti perkembangan mnodernitas. Oleh karena itu, basis dalam proses perancangan arsitektur perlu dirubah mulai sekarang dari perancangan berbasis fakta dan data menjadi perancangan berbasis problem dan everyday agar arsitektur tetap dapat dinikmati oleh masyarakat yang berasal dari semua kalangan dan menjadi ilmu yang inklusif, bukan eksklusif.

06
Dec
09

Explore Your Creativity by Design Power (Desain Pangkal Sukses)

Saat mendengar istilah desain mungkin yang terbayang di benak kita adalah desain grafis ataupun fashion design. Padahal sebenarnya desain merupakan suatu disiplin ilmu yang banyak sekali jenisnya, diantaranya desain arsitektur, interior, serta produk. Dunia desain juga sangat dekat dengan seni, sehingga dikenal juga berbagai jenis desain yang berintegrasi dengan seni seperti desain musik, tari, drama, teater, fotografi, sinematografi, dan juga sastra.

Pada dasarnya, desain mempunyai dua unsur yang paling penting, yakni unsur manfaat dan estetika (keindahan). Hanya saja yang berbeda adalah pada aplikasinya, yakni sesuai dengan jenis desainnya.

Tahukah Anda, ternyata selama ini kita hidup di dunia desain dan semua yang berhubungan dengan aspek kehidupan, pasti bersentuhan dengan desain.

Mari kita lihat ilustrasi diagram venn di bawah ini:

Kita berada di lingkaran A. bidang-bidang yang kita anggap berhubungan langsung dengan bidang desain di lingkaran B, sedangkan bidang-bidang yang kita anggap tidak berhubungan langsung dengan bidang desain berada di lingkaran C. Maka, gambarannya sebagai berikut : lingkaran A, B, dan C saling mengiris di dalam S (semesta) kreativitas.

Lanjutkan membaca…

29
Nov
09

Domesticity in Public Place

Domesticity, sebuah topik yang diangkat dalam kuliah Everyday and Architecture ini membahas bagaimana peran manusia sebagai pengguna ruang turut ‘dilibatkan’ dan turut diperhitungkan keberadaannya dalam proses desain. Selain itu, bagaimana arsitek turut berperan dalam mewujudkan proses desain yang demikian – yang tidak hanya mewujudkan desain yang magz photo oriented, tetapi juga human, user oriented. Kurang lebih demikianlah yang saya dapatkan selama mengikuti kuliah mengenai domesticity ini.

Pada akhir kuliah, saya mengambil kesimpulan bahwa domestisitas dalam desain sangat penting dan berpengaruh terkait dengan arsitektur keseharian. Kesimpulan saya inipun turut memperkuat argumen “Architecture of the everyday acknowledge domestic life: Repetition of familiar things” (Berke, 1997). Walaupun demikian, saya banyak bertanya-tanya mengenai penerapannya dalam desain.

Seperti yang dijelaskan saat kuliah, arsitek seringkali terpaku pada bagaimana menyajikan sesuatu yang saya sebut sebagai ‘estetis semu’. Hal ini terkadang membuat para perancang membuang segala hal yang mengganggu nilai estetis tersebut tanpa menghiraukan cerita-cerita yang memiliki makna penting bagi pengguna desain. Lalu, apa yang sebaiknya arsitek lakukan? Pada akhirnya, kita pun menemukan jawaban di mana arsitek dalam proses desainnya, seharusnya memikirkan dan turut mempertimbangkan peran pengguna desain. Kemudian, muncul lagi sebuah pertanyaan. Apabila arsitek dituntut berada dalam situasi di mana ia harus menghasilkan desain yang diperuntukkan bagi banyak orang, bagaimana seharusnya ia bersikap? Merancang sesuai dengan kebutuhan setiap orang-kah? Atau mengambil kesamaan, nilai-nilai umum, dan generik? Yang tentunya dalam hal ini sangat amat berbeda dengan prinsip domesticity. Apakah dengan demikian, everyday architecture tidak dapat diterapkan pada ruang publik?

Pada akhir perenungan, saya pun berhenti di mana terbentuk sebuah kesimpulan bahwa desain yang mementingkan domesticity belum tentu sebuah desain yang unik terhadap individu tertentu saja. Namun, yang ingin ditekankan adalah lebih pada bagaimana sebuah desain diterapkan dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan keberadaan manusia, si pengguna, dengan KULTUR yang spesifik. Kultur di sini dapat menjadi bentuk generalisasi dalam mendesain ruang-ruang publik, tanpa mengesampingkan pengguna ruang tersebut. Jadi, domesticity yang erat kaitannya dengan everyday architecture tidak eksklusif pada ruang-ruang non publik, tetapi juga dapat diterapkan pada ruang publik. Hal ini pun secara tidak langsung menegaskan bahwa everyday architecture dapat menjamah seluruh praktek desain. Lalu, bagaimana menurut pendapat anda?

04
Nov
09

human bubble at design

Sebenarnya pemanfaatan space secara vertical ataupun horizontal sudah ada sejak zaman dulu dan sangat mendasar, seperti contoh penggunaan space kontur untuk duduk (pemanfaatan kontur oleh tubuh) hal ini kemudian di kembangankan ke dalam arsitektur yang menyatakan bahwa ‘tubuh (bubble of human) dapat memberikan bentuk (form)’ dan bubble tidak hanya berpengaruh pada space horizon namun dapat pula dengan space yang vertical dengan perbedaan level (upper, middle, dan lower berkaitan fenomenologi shape).

Seiring berkembangnya arsitektur dan art, bubble juga sangat dibutuhkan dalam mendesain, seperti contoh hal ini dikembangkan dari tahun 1922 oleh gerrid rietvelt yang menyatukan antara teori De Stijl (penggunaan warna primer seperti merah, kuning dan biru yang berbentuk kotak dengan layout garis hitam untuk memisahkan warna primer tersebut dalam bentuk dua dimensi) dengan pemaanfaatan human bubble (dikonsentrasikan kepada akses), kemudian oleh gerrid rietvielt diaplikasikan dua dimensi menjadi tiga dimensi dalam karyanya schroder house yang dipadukan dengan human bubble yang memberikan effek fleksibel (berdasarkan kebutuhan dan pemanfaatan ruang baik vertical ataupun horizontal). Sebenarnya dalam applikasi kehidupan secara simple seperti penggunaan bukaan vertical (pintu atau jendela).

Jika aplikasi dalam pintu (aplikasi bukaan secara vertical sederhana walaupun pintu sendiri dapat diartikan suatu penghubung yang jika dibuka terdapat akses jika ditutup mematikan akses maka terciptalah fleksibelity juka pintu dapat dibuka atau ditutup, serta dapat memberikan pengertian tidak hanya vertical namun horizontal pun dapat memungkinkan) berawal dari perpindahan human bubble menjadi akses dimana akses sendiri merupakan perpindahan kondisi awal ke kondisi akhir hal ini yang dapat memberikan effek flexibility dengan inside dan outside. Dengan kata lain human body dapat memberikan desain yang sangat kaya dan beragam.

26
Oct
09

Partisipasi?

Participatory design is an approach to design that attempts to actively involve the end users in the design process to help ensure that the product designed meets their needs and is usable. It is also used in urban design, architecture, landscape architecture and planning as a way of creating environments that are more responsive and appropriate to their inhabitants and users cultural, emotional, spiritual and practical needs. It is important to understand that this approach is focused on process and is not a design style. (http://en.wikipedia.org/wiki/Participatory_design)

Participation: involvement in an activity (Oxford Learner’s Pocket Dictionary Fourth edition)

Melihat kuotasi di atas, terlihat adanya dua kata kunci yakni involve-involvement yang secara harfiah dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai terlibat-keterlibatan. Dua kata kunci inilah yang akan membawa kita dalam memahami pengertian partisipatif dalam sebuah desain. Seberapa jauhkah kita melibatkan pihak-pihak terkait dalam merancang sebuah karya arsitektural? Lalu, siapakah pihak-pihak tersebut? Pengguna, pengusul gagasan, atau mungkin pemilik kebijakan?

Di sini saya akan coba menceritakan sedikit pengalaman saya dan beberapa teman dalam sebuah proyek perancangan desain partisipatif. Dalam proses perancangan ini, ada tiga pihak utama yang terlibat yakni perancang, pengguna desain, dan juga penggagas/pengusul perancangan. Pada tahap awal, kami berhubungan dengan penggagas perancangan yang memiliki kepentingan khusus dengan terwujudnya rancangan yang akan kami buat. Kami diberitahu mengenai visi yang diusung untuk proyek kali ini yang kebetulan adalah sebuah sekolah. Pada tahap berikutnya, kami pun terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data dari penduduk setempat mengenai kultur, keadaan alam, hingga pada pandangan warga ataupun siswa terhadap keberadaan sekolah.

Data-data yang dikumpulkan dan diolah, kembali kami presentasikan di depan warga dan para penggagas untuk mendapatkan masukan tambahan mengenai desain. Dalam tahap ini, kami dibuat bingung terutama oleh penggagas yang tampaknya tidak begitu sepaham dengan metode partisipatif yang dijalankan. Di sini terlihat bahwa semua pihak ingin berbicara. Namun, tidak semua pihak yang dapat dimenangkan. Kami pun pada akhirnya memutuskan untuk memenangkan pengguna desain karena sudah merupakan hakekat berarsitektur di mana pengguna lah yang akan merasakan dampak desain secara langsung.

Hal ini persis seperti yang dijelaskan pada kuliah everyday and architecture mengenai partisipasi. Pihak-pihak yang terkait dalam sebuah perancangan seringkali tidak hanya melibatkan arsitek dan pengguna, tetapi juga pemilik kebijakan atau mungkin pemilik dana. Semua pihak ingin menang, namun hal itu tak mungkin terlaksana. Benarkah demikian? Kalau anda, mana yang akan anda menangkan?

-mando-




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers