Posts Tagged ‘disorder

24
Dec
09

Order in Disorder

Robert Venturi, “a valid order accomodates the circumstantial contradictions of a complex reality….When circumstances defy order, order should bend or break: anomalies and uncertainties give validity to architecture.” Complexity and Contradiction in Architecture, pp 46-47.)

Pedagang kaki lima seringkali dianggap suatu disorder, sebuah nuisance diantara bangunan atau jalan yang tertata rapi . Tapi mengapa mereka tetap ada? Ternyata kehadiran mereka dibutuhkan . antara lain oleh orang kantor untuk makan siang dan bagi orang-orang hal tersebut tidak menganggu malah dibutuhkan .Hanya saja setelah dilihat lebih dalam mereka memiliki jam-jam tersendiri dalam beroperasi , misalnya ada yang buka saat jam 6 malam dan mereka berjualan pada tempat- tempat yang sama. Ada pola-pola yang tetap dibaliknya. Di balik sebuah sesuatu yang telihat berantakan , ternyata tercipta sebuah pola yang teratur. Apa yang sebenarnya disebut disorder? Apakah sesuatu yang terlihat berantakan dan tidak teratur? Atau order adalah sesuatu yang tertata rapi? Pada saat survey ke site, kita mengamati dan melihat keadaan yang terlihat complicated dan semerawut, tetapi ternyata ditemukan suatu pola yang teratur seperti adanya jadwal kegiatan , tempat-tempat berkumpul . Jadi sebenarnya mereka menciptakan sebuah keteraturan dalam lingkungan mereka yang kadang bagi orang luar telihat tidak teratur. untuk membereskan sesuatu,kita tidak sekedar menumpuk barang-barang lalu dibuat seteratur mungkin tetapi lebih mengembalikan sesuatu ketempatnya. Tanpa sadar saat membuat sesuatu menjadi order, kita mencari disorder yang terlihat di permukaannya saja tanpa memperhatikan lebih dalam mengapa ada disorder tersebut. Kadang-kadang karena ingin buru-buru membereskan disorder , seperti pada penggusuran pedagang kaki lima yang memunculkan disorder-disorder lainnya. Untuk itulah kita harus mengetahui bagaimana disorder itu muncul dan memperhatikan bagaimana ia bekerja sehinnga dapat memunculkan suatu order yang baru.

26
Oct
09

toilet duduk atau toilet jongkok?

Sebenarnya saya sudah memperhatikan mengenai hal ini sejak beberapa waktu yang lalu ketika saya dan adik saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Ketika kami pergi ke toiletnya, adik pergi mencari toilet jongkok. Awalnya saya tidak begitu memperdulikan hal itu. Tetapi setiap kali pergi ke toilet umum, selalu toilet jongkok yang dicarinya, meskipun tidak menjadi suatu keharusan. Demikian juga dengan ibu saya, lebih menyukai toilet jongkok apabila berada di tempat umum. Akhirnya, saya jadi bertanya – tanya dan akhirnya menanyakan langsung kepada mereka karena toilet di rumah sejak dulu adalah toilet duduk, jadi tidak mungkin hal itu dikarenakan ketidakbisaan mereka menggunakan toilet duduk. Jawaban mereka adalah karena di tempat umum banyak orang yang memakai toilet sedangkan kita tidak tahu kebersihan mereka. Apabila menggunakan toilet duduk, rasanya lebih tidak nyaman karena bersentuhan langsung. Selain itu, di beberapa toilet umum yang menggunakan toilet duduk seringkali ditemukan jejak sepatu, yang berarti meskipun itu adalah toilet duduk, ada saja yang masih memperlakukannya sebagai toilet jongkok dengan motivasi yang berbeda – beda. Setelah ditelusuri, ternyata beberapa hal yang saya temukan bisa menjadi penyebab hal itu terjadi adalah karena tidak terbiasa menggunakan toilet duduk; tidak mau bersentuhan langsung dengan dudukan toilet sehingga terpaksa jongkok di atasnya; berpikiran bahwa orang – orang lain juga menggunakan toilet duduk dengan cara jongkok di atasnya, apalagi bila melihat ada jejak sepatu diatasnya. Kalau dihubungkan dengan everyday and architecture, saya melihat dari segi bagaimana setiap orang memberikan perlakuan berbeda – beda terhadap obyek yang ditemuinya itu, dalam hal ini adalah toilet. Namun seringkali di mall mall besar apalagi di hotel – hotel tidak ditemui lagi toilet jongkok. Selain itu, toiletnya terjaga bersih dan rapih serta hampir tidak pernah ditemui hal semacam itu di toilet duduknya. Apakah karena orang – orang yang datang ke sana dari kalangan tertentu? atau karena memang cleaning service nya yang selalu siap siaga untuk membersihkan toilet sehingga selalu dalam keadaan bersih?

28
Jan
09

Ruang Publik Sebagai Ruang Berkreativitas, Order or Disorder?

Tidak sedikit kita temui dinding-dinding di pinggir jalan yang berhiaskan gambar-gambar yang sering disebut grafiti. Apa yang sebenarnya menjadikan mereka melukiskan gambra-gambar tersebut pada sebuah dinding yang notabennya adalah miliki publik?untuk siapa sebenarnya mereka melakukan itu, untuk kepuasan dirikah atau untuk kepuasan publik itu sendiri atau adanya kesempatan bagi mereka untuk menggunakan ruang publik tersebut sebagai media kreativitasnya?bisakah disini saya katakan bahwa secara tidak langsung ruang-ruang yang terbentuk beserta elemennya di lingkungan publik dapat menciptakan suatu peluang atau kesempatan bagi publik untuk menggunakan di luar dari yang seharusnya?dan dapatkah dikatakan bahwa disini bahwa keberadaan grafiti tersebut adalah bentuk partisipasi masyarakat terhadap ruang publik yang justru dengan adanya partisipasi tersebut malah menjadikan ruang publik difungsikan diluar dari fungsinya karena mereka melihat adanya kesempatan yang memungkinkan mereka untuk menuangkan kreativitasnya di situ.

Namun keberadaan grafiti tersebut bisa mengundang mata publik yang melintas di depannya dan membuat mereka menjadi tertarik dan mungkin menjadi tidak bosan jika sedang melewatinya. Sehingga disini bisa kita lihat mungkin sebelum keberadaan grafiti tersebut ruang publik tersebut tidak mengundang perhatian publik tetapi setelah keberadaan grafiti yang disini saya katakan sebagai bagian dari partisipasi masyarakat terhadap ruang publik, mereka menjadi terlihat lebih hidup dan bahkan tidak membosankan. Publik disini juga dapat dikatakan sebagai penghidup dari desain ruang publik yang ada, mereka membubuhi sesuatu didalamnya. Ketika saya melewati salah satu jalan di kota Bandung, saya justru melihat dinding di sepanjang jalan dipenuhi dengan gambar-gambar serupa dengan grafiti, kemudian saya berpikir mengapa justru mereka “sangat” dibolehkan untuk menggunakan milik publik sebagai ajang menuangkan kreativitas mereka, berarti disini bentuk grafiti itu adalah disorderkah atau bukan?

Memang jika kita lihat grafiti tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk disorder, tetapi salahkah jika ternyata hasil dari bentuk disorder tersebut malah menjadikan sesuatu lebih terlihat menarik? karena sesuatu yang disorder terkadang sering diidentikkan dengan sesuatu yang salah, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Bagaimana jika sesuatu yang kita pikir sebagai bentuk disorder kita jadikan order?yang salah satu caranya adalah seperti pada contoh kasus yang saya temui di sepanjang jalan di daerah bandung dimana mereka justru membuat dinding-dinding yang ada disepanjang jalan menjadi lebih menarik dengan keberadaan grafiti. Menambahkan sesuatu pada bagian ruang publik yang justru memberikan sesuatu yang lebih terhadap ruang publik tersebut.

03
Nov
08

Which Disorder Is Disorder?

Setiap tempat dalam ruang keseharian pasti memiliki suatu order, di mana keberadaan order ini berusaha meregulasi setiap orang yang berkegiatan di dalamnya, agar bertingkah laku sesuai keadaan ideal menurut order tersebut. Namun tidak jarang dalam ruang keseharian tersebut, orang-orang tidak mengidentifikasi order yang ada seperti seharusnya, sehingga tingkah laku yang muncul kemudian tidak lagi sesuai order tersebut, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan dari orang-orang tersebut dan berbagai kemungkinan yang ditawarkan ruang tersebut atas suatu aktivitas. Hasil dari kejadian ini adalah order yang ada tidak lagi dijalani, dan lalu muncullah apa yang disebut disorder.

Implikasi dari hal ini dapat kita lihat pada berbagai ruang publik yang ada di ruang kota, terutama Jakarta ; jalan raya, pedestrian, jalan pemukiman, stasiun kereta api, dan lain-lain.

Misalnya pada pedestrian. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak ruang pedestrian di Jakarta, yang seharusnya ditujukan untuk ruang bagi pejalan kaki, dimanfaatkan sebagai ruang berjualan oleh pedagang kaki lima, pemilik kios pinggir jalan, atau pedagang eceran. Ini mereka lakukan karena melihat kesempatan di mana pinggiran jalan adalah ruang yang ideal untuk menampilkan dagangan mereka, karena pasti jalan ramai dilalui orang. Dalam hal ini telah terjadi penyimpangan penggunaan ruang dari fungsi yang seharusnya, yang berarti ada suatu disorder.

Tapi kemudian benarkah disorder ini kemudian menjadi sesuatu yang mengganggu dalam ruang tersebut?

Dari sini timbul suatu pertanyaan akan kutipan dari Kelling dan Coles dalam buku Fixing Broken Windows : Restoring Order and Reducing Crime in Our Community sebagai berikut :

“Disorder is incivility, boorish, and threatening behavior that disturb life, especially urban life.”

(Kelling and Coles, 1996, p14).

Keberadaan para pelaku disorder ini memang biasanya memakan sebagian besar ruang pedestrian. Tapi kemudian dalam keseharian tidak ada pengguna pedestrian yang merasa sedemikian terusiknya sehingga menganggap bahwa para pelaku disorder tersebut tidak seharusnya berkegiatan di situ. Bahkan akhirnya keberadaan disorder tersebut menjadi sesuatu yang dimaklumi hingga dianggap menjadi sesuatu yang ’sudah sewajarnya’ di situ. Berarti dalam hal ini disorder tersebut bukan lagi dianggap sesuatu yang tidak sesuai. Disorder di sini kemudian menjadi sesuatu yang ’order’ bagi pihak-pihak tertentu. Disorder juga dianggap tidak lagi mengganggu, bahkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Misalnya pada pedestrian di suatu jalan, keberadaan para pedagang kaki lima dan kios-kios pada malam hari membuat pedestrian tersebut tidak ’mati’, ramai, dan terang. Hal ini membuat area sekitar pedagang tersebut relatif lebih aman bagi orang-orang yang berjalan di sekitar situ dengan keberadaan para pedagang yang sekaligus mengawasi keadaan sekitarnya, dibandingkan pedestrian jalan yang steril dari pedagang kaki lima dan kios pinggir jalan, yang lebih mendukung sebagai tempat melakukan tindak kriminalitas.

Hal tersebut juga menjadi pertimbangan lebih lanjut akan kutipan lain dalam buku yang sama :

”Small disorder leads to larger and larger ones and perhaps even crime.”

(Kelling and Coles, 1996, p xv).

Satu disorder mungkin memang akan menjadi pemicu terjadinya disorder lain. Dalam kasus pedestrian di atas, keberadaan pedagang yang mengkonsumsi sebagian besar ruang menyebabkan pejalan kaki terkadang tidak lagi berjalan di pedestrian, melainkan di badan jalan raya, yang merupakan disorder juga. Namun keberadaan para pedagang tersebut juga menjadi penyebab kriminalitas kecil kemungkinnya terjadi di sekitar tempat tersebut, yang berarti keberadaan disorder tersebut justru mencegah terjadinya disorder (lain), yaitu tindak kriminal.

Jadi apakah akhirnya suatu disorder lebih baik dari disorder lain? Which disorder is more disorder?

03
Nov
08

Disorder and Everydayness

Jika kita berangkat untuk melihat eksistensi everydayness tentunya tak bisa lepas dari faktor manusia yang hidup dan tinggal di dalamnya. Disini saya ingin mencoba melihat hubungan antara manusia, ruang dan kesehariannya yang pada akhirnya akan menuju pada timbulnya suatu kondisi yang (tak bisa diungkiri) tidak sesuai dengan order-order yang seharusnya. Manusia pada hakikatnya secara individu masing-masing tentunya memiliki suatu kepentingan yang berupa hak dan kewajiban tertentu dalam hidupnya. Dalam konteks urban, manusia tersebut akan bertemu dengan manusia-manusia lainnya yang asing dan merupakan strangers. Disinilah terjadinya suatu usaha untuk menyeimbangkan hak karena tak bisa dihindari akan terjadi suatu ­overlapping berbagai kepentingan dari berbagai pihak. Pada situasi tersebut akhirnya dibuatlah suatu order yang berisi norma dan aturan yang membatasi kepentingan-kepentingan tersebut. Namun jika kita melihat kenyataan keseharian di sekitar kita, justru kita akan sangat lekat dengan keadaan dimana order yang ada tidak dijalankan sebagaimana seharusnya (disorder).

Jika kita melihat ke belakang mengenai keadaan disorder tersebut, khususnya pada ruang kota, hal ini terjadi terutama ketika manusia menempatkan ruang privatnya di suatu ruang publik (memprivatisasi ruang publik). Kondisi disorder ini hadir sebagai everydayness dan mengandung berbagai macam cerita dibaliknya, sebagai ruang yang mengikat aspek kehidupan manusia di ruang kota sehingga membentuk suatu pengalaman tertentu (Everyday Urbanism , Margaret Crawford). Adanya suatu ritme, pola waktu, kegiatan, dan subjek di dalamnya. Namun yang ingin saya pertanyakan disini adalah produk dari keadaan disorder tersebut yang selalu lekat dengan ketidaknyamanan, kekerasan, dan kondisi yang mengganggu. Apakah memang demikian adanya? Atau tanpa kita sadari justru sebenarnya keseharian kita tidak dapat dipisahkan dari kondisi disorder tersebut?

Saya ingin mengambil beberapa contoh nyata dari keseharian kita yang merupakan suatu kondisi yang disorder. Tentunya kita tidak asing lagi dengan kaki lima yang ’menghiasi’ pemandangan kita di Jakarta ini. Sebut saja daerah Cikini, Blok M (roti bakar Edi) atau Jalan Sabang yang justru kaki lima ini menjadi magnet daerah tersebut. Keadaan disorder tersebut telah menjadi bagian dari sistem yang ada, terikat ruang dan waktunya. Sehingga jika kaki lima tersebut ditiadakan maka akan membuat daerah tersebut ’lesu’.

Contoh lainnya yaitu keadaan disorder yang secara fisik melanda Jakarta dan sempat booming di beberapa kalangan anak muda, yaitu grafiti. Dengan mencoret-coret dinding yang ada di jalanan merupakan suatu perilaku yang menyimpang dari order atau aturan yang ada. Malah tidak jarang mengundang pihak aparat untuk mengamankan dari kegiatan tersebut sehingga kegiatan grafiti tersebut lebih sering dilakukan pada dini hari. Bagi anak muda tersebut, grafiti merupakan suatu cara untuk menumpahkan perasaannya, rekaman suatu memori di masa lalu atau bahkan sebagai media untuk menyampaikan pesan tertentu. Seperti yang terdapat di persimpangan Fatmawati, dimana dahulu terjadi kecelakaan yang menimpa anak kecil yang sedang menyeberang. Sekarang dapat kita nikmati suatu rekaman memori dan pesan yang mengingatkan kita untuk berhati-hati yang terkandung dalam grafiti di persimpangan tersebut.

Dengan contoh-contoh diatas mungkin kita dapat mempertanyakan kembali apakah sebenarnya yang kita butuhkan dalam keseharian kita adalah selalu sesuatu yang sesuai order?




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers