Posts Tagged ‘domesticity

01
Nov
11

Kerja dan Makan


Rumah yang saya tempati sekarang awalnya dibeli untuk disewakan sebagai kantor kecil karena letaknya yang strategis dan untuk meningkatkan efektivitas banyak ruang yang diubah. Seperti contohnya, garasi di rumah ini ditutup dan dijadikan ruang meeting, lengkap dengan meja rapat yang panjang. Namun, ketika keluarga saya harus kembali menempati rumah ini sebagai tempat tinggal, ruang rapat itu berubah fungsi menjadi ruang makan.

Idealnya, ruang ini menjadi sebuah ruang yang penting bagi saya, orang tua dan kedua adik saya. Di ruang inilah seharusnya kami makan bersama dan mengobrol mengenai aktivitas hari ini. Namun karena kegiatan masing-masing, anggota keluarga kami tidak lagi sempat untuk makan di rumah. Waktu makan malam dimana seharusnya seluruh anggota keluarga dapat berkumpul, tidak lagi menjadi spesial karena tidak ada dari kami yang makan malam.

Hingga suatu waktu saya mendapat tugas gambar di kertas A2, dan meja yang muat untuk kertas A2 itu hanya meja makan ‘sementara’ saya, yang merupakan bekas meja rapat. Akhirnya saya menggunakan meja itu untuk menyelesaikan tugas dan saya rapikan kembali seperti semula. Namun karena kebutuhan untuk mengerjakan tugas, tumpukan kertas tugas akhirnya saya biarkan saja di meja makan. Lagipula meja sebesar itu (kurang lebih 320 x 120 cm) tidak akan penuh jika hanya digunakan untuk menaruh masakan yang juga jarang tersentuh. Lama kelamaan area yang saya gunakan untuk menggambar dan menyimpan peralatan kerja saya semakin besar, hampir mencapai setengah meja makan. Piring-piring dan gelas-gelas yang tadinya disusun rapi untuk tiap orang di meja makan kini bertumpuk di atas meja di sudut ruangan. Makanan ringan yang tadinya selalu siap disantap di atas meja makan akhirnya disimpan di meja dapur. Lama-lama tanpa saya sadari, ruang makan itu telah menjadi ruang kerja saya, seiring dengan berpindahnya komputer, buku-buku, dan peralatan kerja secara tetap dari kamar ke ruang makan. Ayah saya juga seringkali memeriksa pekerjaannya di meja makan.

Kegiatan makan (yang juga sebenarnya jarang dilakukan di rumah) akhirnya berpindah ke ruang televisi. Hal ini membuat ruang makan yang seharusnya penuh dengan makanan menjadi penuh dengan kertas dan pensil, ruang televisi yang seharusnya bersih dan nyaman menjadi agak kotor dengan remah makanan yang seringkali jatuh ke lantai. Lantas apakah itu berarti kami telah merusak ‘ideal’ dari suatu rumah tinggal? Jika domesticity berarti memenuhi kebutuhan kami, apakah ‘ideal’ itu tetap menjadi sesuatu yang ideal?

26
Dec
10

dapur bersih akankah berakhir menjadi pajangan dalam rumah?

Sekarang banyak terdapat dua pengklasifikasian dapur pada rumah: dapur bersih dan dapur kotor.

Dapur bersih biasanya dibuat sangat bagus, furniturenya mengikuti tren saat ini begitu pula dengan perabot dapur lainnya. Letaknya biasanya di dekat ruang makan sehingga saat tamu datang dapat langsung melihatnya juga. Semacam kebanggaan bagi sang pemilik rumah di kala sang tamu memuji furniture atau dekorasinya yang bagus. Akan tetapi tidak seperti judulnya “dapur”,dapur bersih biasanya jarang atau bahkan tidak pernah digunakan oleh sang pemilik rumah untuk melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga seperti memasak, mencuci piring dan lain sebagainya. Entah karena takut untuk mengkotori furniturenya yang bagus itu, tetap menjaga kebersihan sang dapor bersih itu hingga tak tega memakainya atau tidak ada waktu di rumah untuk sekedar mempersiapkan makanan bagi anggota keluarga lainnya.

Sedangkan dalam kenyataanya, hanya dapur kotorlah yang hanya dipakai setiap harinya. Dapur kotor biasanya digunakan oleh asisten rumah tangga setiap harinya. Penampilan dari dapur kotor ini biasanya tidak terlalu diperhatikan sehingga tak jarang terlihat kotor dan berantakan. Apalagi letaknya yang berada di bagian belakang rumah biasanya dekat dengan ruang servis lainnya dan kamar pembantu menjadikannya tak terlalu diperhatikan. Dapur kotor inilah yang menjadi pusat kegiatan masak-memasak setiap harinya.

Lalu muncul pertanyaan dibenak saya, kalau begitu apa gunanya dapur bersih??

Apakah hanya untuk pajangan saja?

Kalau begitu kenapa namanya tidak berubah menjadi: dapur hiasan atau dapur pajangan?

Kalau pembuatan dapur bersih hanya untuk mengikuti tren tanpat memperhatikan kebutuhan akan fungsi dapur sesungguhnya, maka lebih baik jika hanya terdapat satu jenis dapur saja tetapi digunakan secara maksimal. Kemudian kembali lagi kepada pertanyaan:kebutuhan atau keinginan yang ingin kita wujudkan dalam ruang keseharian kita?

26
Dec
10

AMPUHNYA TV!

Di keluarga saya, sebenarnya ada 4 TV, satu di ruang keluarga, dan 3 yang lainnya ada di kamar tidur tiap anak di rumah saya, termasuk di kamar saya. Mungkin terdengar pemborosan, tapi percayalah, karena TV-TV ini, ruang keluarga menjadi nomaden dan tidak membosankan. Salah satu acara favorit keluarga saya adalah Golden Way Mario Teguh di Metro TV, karena kualitas gambar Metro TV di TV ruang keluarga tidak terlalu bagus, maka semua akan pindah ke kamar saya, yang kualitas gambar Metro TV lebih bagus, untuk menonton acara Golden Way. Lain lagi kalau acara sepak bola, apalagi AFF yang belakangan ini sedang marak diperbincangkan, maka TV ruang keluarga lah yang ukurannya lebih besar menjadi incaran. Kalau ada DVD baru, maka kami sekeluarga akan menonton di kamar kakak saya yang pertama, karena DVD player ada di sana. Yang terakhir adalah TV di kamar kakak saya yang kedua, TV ini memang paling jarang digunakan bersama, tapi TV ini paling sering digunakan saat bulan puasa, alasannya karena letak kamar kakak saya yang berada di lantai 2, dimana letak ruang shalat berada di sebelah kamar kakak saya, jadi setelah shalat maghrib berjamaah, semua anggota keluarga akan menonton acara TV di kamar kakak saya yang kedua ini sambil menunggu waktu shalat tarawih. Namun, sayangnya si TV-TV ini menjadi masalah, ketika semua anggota keluarga sedang sibuk dengan TV nya masing-masing. Maka, terkadang si pemiliki kamar-kamar ber TV ini malas beranjak keluar kamar bila ada tamu yang datang. Alhasil, ampuhnya TV menyulap kamar pribadi menjadi ruang keluarga dan menjadi tempat persembunyian yang lengkap dengan fasilitas hiburan.

25
Dec
10

ruang dan keluarga

Keluarga saya terdiri dari 4 orang, papah, mamah, teteh, dan saya sendiri.. Kami tinggal di perumahan dosen Kampus IPB Darmaga Bogor..

Sebelum saya mulai kuliah dan sebelum kaka saya mulai bekerja di jakarta, ruang keluarga menjadi ruang yang penuh dengan aktivitas, mulai dari nonton, makan, mengerjakan tugas, bermain, bercanda, dsb. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai kuliah di UI Depok dan menginap di kostan, berangkat ke kostan minggu sore, pulang kerumah kadang jumat malam atau sabtu malam, atau malah tidak pulang sama sekali.. berkuranglah satu anggota kerluarga dirumah.. Kemudian berikutnya kaka saya diterima bekerja di jakarta, dan dia pun menginap di kostannya, berangkat setiap minggu sore, dan pulang kerumah jumat malam.

Sehari hari rumah saya hanya dihuni oleh papah dan mamah, ruang yang digunakan untuk beraktivitas pun tidak lagi di ruang keluarga melainkan di kamar mereka, makan, menonton, membaca koran, semua mereka lakukan di kamar mereka, sehingga ruang keluarga tidak lagi hidup seperti dulu..

Kegiatan di ruang ini ternyata berlanjut walaupun kami (saya dan kaka saya) sedang berada dirumah, seolah semua kegiatan yang dulunya dilakukan di ruang keluarga, sekarang dilakukan di kamar orang tua saya.. jadilah kamar ini adalah ruang yang paling hidup di rumah saya..

Ternyata intensitas keberadaan kaka saya dan saya mempengaruhi fungsi ruang keluarga, dan ketidakberadaan saya dan kaka saya mempengaruhi fungsi kamar orang tua saya sampai sampai seluruh kegiatan ruang keluarga pindah ke kamar orang tua saya..

 

25
Dec
10

antena oh antena

Ayo siapa yang rajin nonton tv? Pernah peduli bagaimana gambar yang mulus bisa kita nikmati?

Pertanyaan ini tiba-tiba ingin saya tanyakan saat saya melihat panorama atap-atap rumah yang sangat tidak rapi berantakan di bawah jalan layang Pasopati, Bandung . Hari itu macet melanda jalan menuju Dago, Bandung alhasil saya bosan dan terpaksa melihat kanan-kiri, dan waw “indahnya” panorama atap-atap rumah yang sudah termakan usia tersaji “cantik” di depan mata saya, saya pandangi dan tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah objek yang tertambat di tiang bambu  tinggi yang miring dan sedikit bergoyang tertiup angin (mengingatkan saya pada iklan antenna jaman dulu). Itulah antena televisi, pahlawan yang sangat berjasa dalam membuat suasana ruang keluarga makin nyaman dan hidup. Saya pun men-scanning tiap-tiap atap rumah dan saya melihat keadaan yang sangat mengharukan dan mengenaskan dari si antenna  ini. Ada yang dipasang ditiang yang berkarat, ada yang ditaruh di pinggir balkon rumah, ada yang sendiri menyepi jauh dari bagian rumah, ada yang ikut disemen di bagian sofi-sofi rumah dengan teknik semen yang sangat tidak rapi, ada yang ekstrem menempelkannya bersama penangkal petir , bahkan di gedung pemerintahan sebelah Gedung Sate, saya melihat perlakuan yang sama yaitu ditambatkan pada tiang (mungkin besi karena tidak terlalu jelas)  yang panjang dan di sematkan di ujung atap, dan jika diamati merusak penampilan gedung nan megah ini. Coba siapa yang ngomel-ngomel saat cinta fitri dinikmati dengan semut menghiasi layar televisi? kata pertama yang kita ucapkan pasti “ah! antenanya nih pasti!”. Kasihan sekali sang antenna sudah ditempatkan ditempat yang menyedihkan, harus disalahkan pula,  seharusnya yang harus disalahkan itu siapa yang memasang, dimana dan bagaimana. Antena hanya benda mati yang tidak bisa berkata ingin diletakkan dimana. Dan hal kedua yang kita lakukan pasti kita akan langsung mengadu pada ayah (bukan ibu) untuk membetulkannya atau tukang yang juga laki-laki. Disaat begini ayah (laki-laki) adalah pahlawannya, pahlawan antenna.

Sadar atau tidak, Antena sudah berkontribusi dalam kehidupan keseharian kita, ada yang duduk di depan layar seharian untuk menonton kartun lalu drama korea lanjut sinetron, ada yang menunggu tayangan sepak bola, balapan F1 atau GP, atau menonton berita yang penting untuk up-date apa yang terjadi dalam kehidupan, televisi sudah menjadi teman kita untuk melihat di luar jangkauan kita dan bagaimana bisa kita melihat apa yang kita saksikan di layar tanpa keberadaan antenna.

Kalau teori “semua yang dilakukan kita di bumi ini butuh ruang” bolehlah saya mengkategorikan kalau antenna ini juga melakukan sesuatu untuk kehidupan kita dan butuh ruang serta penempatan yang tentunya lebih layak. Ekstrimnya, paling tidak saat merancang, antenna ini ikut disertakan dalam perencanaan peletakan supaya dia bisa melakukan kegiatannya mencari sinyal dengan baik, tidak menganggu keindahan, diperlakukan secara layak dan yang terpenting tidak disalahkan lagi.

Terimakasih oh antenna berkatmu irfan bachdim terlihat sangat tampan. Ayo perlakukan antenna dengan penuh kasih sayang!!!

25
Dec
10

Ruang servis, dimanakah kau berada? Rindu aku ingin jumpa…

Kali ini tulisan saya terinspirasi dari cerita ibu saya mengenai kakak saya yang sewaktu kelas 1 SD mengerjakan ujian pelajaran bahasa indonesia. Yang menarik dari cerita itu adalah ketika kakak saya menjawab satu soal yang pertanyaannya adalah “dimanakah ibu memasak?”, maka kakak saya menulis jawabannya “di belakang”. Waktu itu saya hanya tertawa mendengar cerita itu, namun sebenarnya ada yang menarik dari jawaban “di belakang”. Mengapa anak SD umur 5 tahun bisa sangat teringat dengan letak ruang servis atau dapur yang berada di belakang? Apakah ruang servis harus diletakkan di belakang atau tersembunyi? Padahal dapat dikatakan ruang servis adalah jantung dari suatu hunian tempat tinggal. Bayangkan saja bila rumah tanpa ruang servis, dimana ruang menghasilkan sesuatu yang bisa menyatukan anggota keluarga, yaitu makanan, atau sebagai ruang dimana tersedianya segala kebutuhan keluarga seperti baju yang bersih dan rapi, atau yang lainnya seperti area dimana peralatan kebersihan rumah berasal dari ruang ini. Oh, ruang servis mengapa kau begitu tersembunyi?  Sejujurnya, saya pun sangat jarang ke ruang servis, bisa dikatakan hanya seminggu dua kali, yaitu saat akhir pekan dan di saat saya membantu mengerjakan satu atau dua pekerjaan rumah, sedangkan pada hari biasa saya sangat jarang ke ruang servis, terutama dapur, karena letaknya tak terakses dengan kegiatan saya di rumah pada hari kerja. Hal ini pula terjadi pada ayah saya dan 2 kakak saya, kecuali ibu saya yang kesehariannya adalah ibu rumah tangga. Ruang servis yang pemilik utamanya adalah ibu saya menjadi begitu hidup di waktu pagi dan sore hari, karena saat itulah ia menyiapkan sarapan dan makan malam. Begitu hidup karena terdengar dari suara sendok yang menyentuh piring atau irama panci dan spatula yang saling beradu , atau pada pagi jari setelah ibu saya menyiapkan sarapan terdengar bunyi mesin cuci yang sedang sibuk membersihkan baju-baju anggota keluarga saya, tapi semua itu hanya bisa dirasakan lewat pendengaran tidak melalui pengelihatan. Beberapa kali saya melihat denah rumah milik ayah saya dengan peletakan ruang servis yang serupa. Kalau kita melihat rumah-rumah pada umumnya pun memperlakukan peletakan ruang servis yang  tersembunyi, di belakang, di pojok, tidak terlihat. Sebenarnya ada apa dengan ruang servis hingga diletakan tersembunyi?  Apakah ruang servis di rumah kalian juga seperti itu?

20
Nov
10

perlukah?

Ini adalah pengalaman yang saya peroleh dari kegiatan survey dan workshop di area Semper Barat, Jakarta Utara, dalam rangka melaksanakan tugas community project mata kuliah Keseharian dan Arsitektur.

Survei yang dilakukan terhadap site cukup mendalam. Survei terhadap keseharian warga, meskipun jumlah warganya hanya di satu gang saja, membutuhkan data yang benar-benar terbukti ada di site, tidak bisa memakai asumsi. Bahkan setiap jenis storage (ember) didata jumlah dan fungsinya. Akan tetapi sepertinya warga gang tersebut terlihat kurang antusias dengan adanya perhatian terhadap ruang servis mereka. Saat kami melakukan survei pertama kali, mereka terlihat berharap jika kami merupakan tim, sebut saja, Bedah Rumah atau berharap kami membagi-bagikan uang kepada mereka. Hal ini membuat saya berpikir kembali, apakah intervensi terhadap ruang servis di gang ini benar-benar dibutuhkan warga atau tidak. Atau warga di gang ini yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Lalu, saya bertanya lagi pada diri saya sendiri, apakah mungkin orang lain (dalam hal ini kami sebagai pihak yang melakukan survey) dapat lebih mengetahui kebutuhan mereka (warga di gang tersebut) daripada diri mereka sendiri? Mungkin kita dapat menganalisa bahwa pada gang yang menjadi area servis mereka ini memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan dan kita berusaha menyadarkan mereka. Namun, jika warga merasa fine dengan hal tersebut, haruskah hal ini tetap diangkat sebagai isu?

Sedangkan pada saat kegiatan workshop, yang terjadi adalah kami merasa sulit berinteraksi dengan warga penghuni kontrakan, terutama saat kegiatan “menuliskan urutan kegiatan yang dilakukan warga saat melakukan kegiatan servis”. Warga terlihat bingung dengan urutan kegiatan yang mereka biasa lakukan. Mungkin mereka sudah sangat terbiasa dengan apa yang harus mereka lakukan setelah melakukan suatu kegiatan tertentu, sehingga mereka tidak perlu mengingatnya lagi. Pada bagian ini kami terpaksa memberikan kata-kata yang dapat memicu warga, namun saya melihat hal ini menjadikan informasi yang didapat kurang murni hasil pemikiran warga. Warga juga menjadi tidak betah dengan keadaan ini. Mereka terlihat bingung dengan apa yang sedang mereka lakukan dan ingin cepat-cepat menyudahi kegiatan ini.

Namun tidak demikian halnya dengan kegiatan berikutnya pada workshop, yaitu peserta (warga) menancapkan bendera yang bergambar beberapa kegiatan servis yang mereka lakukan pada maket gang tersebut skala 1:20. Mereka terlihat antusias dan saling berdiskusi serta mengingatkan satu sama lain. Dari kegiatan ini kami memperoleh informasi berupa zoning tempat mereka berkegiatan. Kegiatan ini terlihat menyenangkan karena tidak menggunakan proses yang sulit namun dapat membantu warga melihat ruang tempat mereka tinggal dan berkegiatan servis dari sisi lain. Dari pengalaman ini saya melihat pentingnya pemahaman yang baik akan kondisi para peserta workshop. Kita harus tahu kemampuan lisan dan tulisan mereka, sehingga kegiatan yang dilakukan menyenangkan dan tidak membutuhkan proses yang sulit dicerna oleh warga. Pemahaman akan pola pikir mereka juga dapat membantu untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan warga di salah satu gang di Semper Barat ini.

 

20
Nov
10

asisten rumah tangga yang terisolir dalam rumah

Dalam perjalanan saya dari rumah ke kampus, saya menemukan billboard iklan rumah dijual dipasang besar-besar di sebuah jembatan di Jakarta selatan. Terdapat tulisan yang besar dan berwarna kuning yang menurut saya paling mencolok dibanding tulisan-tulisan yang lainnya

4 kamar tidur

1 Kamar pembantu.

Hmm bukankah kamar pembantu itu berupa kamar tidur juga ? kenapa tulisannya harus dibedakan ?

Sebenarnya sejak dulu saya bingung, kenapa dalam zoning rumah tinggal, kamar pembantu identik dengan berada di ruang yang paling terisolir (biasanya di belakang), dengan luas kamar yang seadanya, dan juga dengan sirkulasi yang terbatas (misalnya sang pembantu harus memutar jauh untuk menuju ruang selain dapur atau ruang cuci seolah-olah mereka ‘dipaksa’ untuk hanya berkegiatan seputar mencuci dan memasak) ?

Asisten rumah tangga. Sebegitu tidak dianggapkah mereka sehingga harus diberi ruang yang paling kecil dalam rumah untuk mereka tidur? Sebegitu tidak ingin terlihat keberadaannya kah mereka sehingga mereka diberi ruang sejauh mungkin dari ruang lainnya ? Bukankah mereka juga bisa merasa lelah sama halnya saja dengan para ‘majikan’ yang kelelahan karena pekerjaan ? Bukankah mereka juga membutuhkan interaksi yang hangat walau hanya sebuah interaksi kecil?

Mereka bekerja di rumah orang lain, harus siap 24 jam 7 hari dalam seminggu, tidak dapat bertemu keluarga sesering orang-orang pada umumnya. Apakah ruangan kecil yang terisolir lah yang mereka butuhkan ?

27
Oct
10

kamar mandi sarana interaksi

ruang interaksi merupakan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. manusia tidak akan lepas dengan kebiasaannya berinteraksi (ngobrol).Tidak tersedianya ruang untuk berinteraksi mengakibatkan individualisme bagi setiap individu atau interaksi yang hanya dengan sesamanya. segala kebutuhan di ringkas, berada dalam satu ruangan. dan menjadi wilayah privat. dan wilayah publik menjadi hal yang minim sehingga kurang terjadi interaksi. hal ini terjadi kos-kos an kutek pada umumnya. kos-kosan di kutek menyediakan kamar-kamar dengan fasilitas yang memadai di dalamnya. minimal kamar tidur lengkap dengan kamar mandinya. dan lebihnya ada televisi bahkan AC. keberadaan segala fasilitas yang berada dalam satu ruangan ini agar penghuni lebih efisien dalam waktu  dan tidak perlu lagi keluar kamar. penghuni hanya keluar untuk membeli makan dan selebihnya dilakukan di dalam kamar. karena mementingkan efisiensi tersebut,hal yang terjadi kebanyakan justru mengakibatkan pengurangan dimensi seperti yang terjadi di kamar mandi, kamar mandi menjadi relatif sempit dan tidak memenuhi standard kenyamanan. saya pernah menemui kamar mandi kos yang berukuran kira-kira 1.5×1.2 m sampai-sampai jongkok pun susah dan bersentuhan dengan dinding-dinding kamarmandi. selain itu pula, karena sebagian besar kebutuhan setiap penghuni telah terpenuhi di dalam kamar, penghuni merasa nyaman di dalam kamar dan malas untuk berinteraksi dengan penghuni lain.

dan ketika ruang publik menjadi hal yang dominan dari pada ruang privat maka interaksi akan lebih terjalin. hal ini terjadi di kos uswatun khasanah kutek. memang jumlah kamar kos ini tidak banyak (17 kamar) tidak seperti kos-kosan kutek lainnya yang jumlahnya melebihi 20 kamar. 17 kamar ini terbagi 2 antara lantai atas lantai dasar.akan  tetapi interaksi tersebut dalat terjalin. di kos an ini, wilayah privat hanyalah kamar tidur. dan kamar mandi menjadi wilayah publik. kamar mandi menjadi zona publik ini ternyata memiliki dampak terhadap interaksi bagi penghuninya. seperti ketika di dalam kamar mandi tersebut ada orang, dan ada orang lain yang akan menggunakan juga maka org trsebut akan berkata paling tidak ” ada orang ya??masi lama g? ” dan lama kelamaan karena menjadi keseharian maka hubungan antar penhuni menjadi semakin akrab tanpa menyinggung hati penghuni lain. Dan dapat dilihat dari perkataannya “woi cepetan woi..lama bgt..kebelet nih”.

dari penjelasan di atas, sebuah interaksi tidak hanya di wujudkan dengan sebuah ruang luas dengan properti yang di gunakan bersama akan tetapi dengan adanya  kamar mandi yang bersifat umum di kos-kosan pun dapat menghasilkan ruang interaksi. selain kamar mandi masih banyak lagi ruang yang dapt mengintervensi penghuni kos sehingga interaksi antar penghuni terjalin.

27
Oct
10

arsitektur berbasis keseharian itu melihat apa yang sudah ada

“an architecture of the everyday acknowledges domestic life”

Ini adalah salah satu point yang disebutkan oleh Deborah Berke dalam tulisannya yang diberi judul Thoughts on the everyday yang sekiranya berhubungan dengan definisi dari architecture of the everyday yang sebenarnya saling berkontradiksi satu dengan lainnya.

Jika diartikan secara sederhana, kutipan diatas berarti arsitektur  yang berbasis keseharian menyatakan sebuah kehidupan domestic (rumah tangga jika boleh diartikan), kehidupan dimana didalamnya terdapat pengulangan  akan hal-hal yang nampak sudah familiar dilakukan setiap harinya yang sifatnya menyenangkan atau sebagai hiburan, namun (dalam uraiannya lebih lanjut) pengertian ini tidak menekankan pada rutinitas yang menyiksa, sebuah event atau peristiwa tidaklah perlu didikte satu persatu dan diprogram oleh arsitek (“events need not to be dictated and programmed by architecs”), seperti zoning terhadap ruang-ruang yang membuat orang harus berbuat itu disitu dalam kesehariannya, jika boleh saya kaitkan dengan sebuah kegiatan yaitu kegiatan berjalan di sebuah pedestrian atau trotoar. Trotoar sebenarnya sifatnya mendikte jika diberi label pasti dia akan bertuliskan “jalanlah disini, dan Anda akan aman”, bentuknya yang naik beberapa centimeter dari jalan pun menjadikan dia sebuah dikte bahwa saya pemisah antara kendaraan yang lalu lalang dengan sesuatu yang ada di sebelah trotoar misalnya bangunan, dan terkadang bentukannya yang lurus memanjang seperti mendikte kita yang berjalan di”dalamnya” untuk terus berjalan lurus disitu jika ada naikan kita naik dan ada turunan kita turun. Dan dia memang terprogram untuk menjadi jalan sisi di pinggir jalan sebagai sarana para pejalan kaki. Bukannya disini saya menyalahkan sebuah trotoar namun pada kenyataannya jika seseorang tidak ingin berjalan di “dalamnya” karena banyak faktor seperti misalnya trotoar ini malah menjauhkan saya dari keramaian karena letaknya yang tertutup pagar atau pohon dari jalan maka so be it, kita tidak bisa memaksakan si orang itu untuk jalan di trotoar itu karena mungkin sesungguhnya rasa bebas berada di jalan itulah yang menjadi esensi dari apa yang dilakukannya dalam kesehariannya yang berupa pengulangan yang menyenangkan itu. Sebuah program lahir  dari apa yang tersirat dibalik keseharian itu contohnya alur, alur tercipta akibat sebuah tindakan repetitive  yang pasti sudah familiar dilakukan. Alur orang berjalan dari sini kesini maka saya ingin memrogram untuk alur yang mereka lakukan bukan saya memrogram ini untuk alur orang, dilihat disini adalah posisi dari apa yang dijadikan patokan lebih dulu (alur lalu lahir program atau program lalu lahir alur). Inti dari semua ini adalah “looking at what is already there “(kuliah 6 oktober 2010) karena arsitektur berbasis keseharian mengizinkan seseorang untuk melakukan ritual atau kebiasaannya dengan tidak mengotakngotakkan ritual atau kebiasaan tersebut. “an architecture of the everyday acknowledges domestic life”.

27
Oct
10

Kerinduan dan Ruang Kegiatan Sehari-hari

Hal ini cukup menarik bagi saya, karena saya mengalami hal ini secara langsung dalam beberapa bulan terakhir ini. Saya mengalami sebuah transisi dalam mengalami dan memanfaatkan ruang keseharian di rumah saya. Transisi ini terkait pada sebuah perubahan signifikan yang terjadi dalam keluarga.

Seumur hidup saya, saya selalu tinggal dengan kedua orang tua dan tiga adik saya. Hal-hal tidak pernah berubah selama 20 tahun saya hidup. Setiap anak memiliki kamar masing-masing. Kamar orang tua berada di lantai bawah dan anak-anak di atas. Dengan fasilitas individu dan kepribadian setiap anak yang memiliki kesukaan yang berbeda-beda, perlu diakui bahwa kami berempat tidak terlalu sering berada pada ruang yang sama pada hari-hari biasa. Bahkan masing-masing dari kami memiliki kamar mandi sendiri. Masing-masing anak benar-benar melakukan kegiatan di kamar masing-masing. Saat saya masuk kuliah, komunikasi makin jarang terjadi karena perbedaan jam kegiatan. Dan selama ini, masing-masing dari kami terbilang jarang sekali memasuki dan menginvasi kamar tidur yang lain.

Tahun 2010 menjadi tahun yang cukup besar bagi keluarga kami. Adik perempuan saya masuk kuliah kedokteran dan memutuskan untuk kos karena jarak dan keadaan jalanan tidak memungkinkan untuk pulang pergi setiap hari dan adik laki-laki saya diterima untuk menjalankan program magang di sebuah hotel di Bali untuk 6 bulan. Rumah yang selalu terisi empat anak tiba-tiba berubah menjadi dua anak saja. Empat kamar yang selalu terisi dengan listrik yang menyala setiap saat, tiba-tiba berkurang menjadi dua saja. Rumah menjadi sepi.

Walaupun intensitas komunikasi dan invasi saya terhadap kamar adik-adik saya terbilang sangat rendah, seiring jalannya waktu ternyata rasa kehilangan dan sepi di rumah semakin terasa. Saya mulai tidak nyaman tidur sendiri. Mulai saat itu, saya memutuskan untuk beberapa kali tidur bersama di kamar adik saya yang paling kecil. Karena letaknya yang bersebelahan dengan kamar adik perempuan saya yang kos, saya mulai beberapa kali masuk ke dalamnya untuk sekedar melihat-lihat dan meminjam kamar mandi. Kemudian saya juga beberapa kali masuk ke kamar adik laki-laki saya untuk hanya sekedar menumpang bersantai karena ia memiliki tempat tidur terbesar dan ternyaman diantara kami semua. Saya juga mulai berkegiatan mengerjakan tugas di ruang keluarga, karena di lantai atas suasananya sepi. Tidak ada lagi sayup-sayup suara televisi dari tiga kamar adik-adik yang selalu memasang saluran yang berbeda-beda.

Uniknya, hal-hal di atas tersebut akhirnya menjadi rutinitas saya selama 3 bulan terakhir ini. Saya hampir tidak pernah masuk ke kamar saya sendiri selain untuk mengambil baju dari lemari. Saya tidur setiap hari bersama adik saya yang kecil di kamarnya, mandi di kamar adik perempuan saya yang kos, santai-santai sore di kamar adik lelaki saya dan mengerjakan tugas di ruang keluarga. Ruang kegiatan saya yang tadinya hampir tidak pernah keluar dari satu pintu, sekarang menjadi lebih luas dan sangat beragam. Untuk melakukan alur kegiatan harian, jarak yang saya tempuh lebih jauh dan ruang yang saya alami lebih banyak.

Saya melihat hal ini sebagai fenomena betapa kerinduan terhadap keberadaan seseorang dapat mempengaruhi arsitektur ruang kegiatan sehari-hari. Kerinduan terhadap keberadaan orang-orang dan kegiatan mereka yang terlah menjadi bagian hidup saya. Saya “butuh” ada mereka, maka dari itu saya butuh menggunakan ruang yang biasa mereka gunakan, hanya untuk sekedar merasakan kehadiran dan jejak-jejak kegiatan mereka. Kerinduan terhadap keberadaan ini akhirnya berujung pada terjadinya sebuah perubahan dalam alur kegiatan harian dan lokasi-lokasi kegiatan saya sehari-hari.

29
Nov
09

Domesticity in Public Place

Domesticity, sebuah topik yang diangkat dalam kuliah Everyday and Architecture ini membahas bagaimana peran manusia sebagai pengguna ruang turut ‘dilibatkan’ dan turut diperhitungkan keberadaannya dalam proses desain. Selain itu, bagaimana arsitek turut berperan dalam mewujudkan proses desain yang demikian – yang tidak hanya mewujudkan desain yang magz photo oriented, tetapi juga human, user oriented. Kurang lebih demikianlah yang saya dapatkan selama mengikuti kuliah mengenai domesticity ini.

Pada akhir kuliah, saya mengambil kesimpulan bahwa domestisitas dalam desain sangat penting dan berpengaruh terkait dengan arsitektur keseharian. Kesimpulan saya inipun turut memperkuat argumen “Architecture of the everyday acknowledge domestic life: Repetition of familiar things” (Berke, 1997). Walaupun demikian, saya banyak bertanya-tanya mengenai penerapannya dalam desain.

Seperti yang dijelaskan saat kuliah, arsitek seringkali terpaku pada bagaimana menyajikan sesuatu yang saya sebut sebagai ‘estetis semu’. Hal ini terkadang membuat para perancang membuang segala hal yang mengganggu nilai estetis tersebut tanpa menghiraukan cerita-cerita yang memiliki makna penting bagi pengguna desain. Lalu, apa yang sebaiknya arsitek lakukan? Pada akhirnya, kita pun menemukan jawaban di mana arsitek dalam proses desainnya, seharusnya memikirkan dan turut mempertimbangkan peran pengguna desain. Kemudian, muncul lagi sebuah pertanyaan. Apabila arsitek dituntut berada dalam situasi di mana ia harus menghasilkan desain yang diperuntukkan bagi banyak orang, bagaimana seharusnya ia bersikap? Merancang sesuai dengan kebutuhan setiap orang-kah? Atau mengambil kesamaan, nilai-nilai umum, dan generik? Yang tentunya dalam hal ini sangat amat berbeda dengan prinsip domesticity. Apakah dengan demikian, everyday architecture tidak dapat diterapkan pada ruang publik?

Pada akhir perenungan, saya pun berhenti di mana terbentuk sebuah kesimpulan bahwa desain yang mementingkan domesticity belum tentu sebuah desain yang unik terhadap individu tertentu saja. Namun, yang ingin ditekankan adalah lebih pada bagaimana sebuah desain diterapkan dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan keberadaan manusia, si pengguna, dengan KULTUR yang spesifik. Kultur di sini dapat menjadi bentuk generalisasi dalam mendesain ruang-ruang publik, tanpa mengesampingkan pengguna ruang tersebut. Jadi, domesticity yang erat kaitannya dengan everyday architecture tidak eksklusif pada ruang-ruang non publik, tetapi juga dapat diterapkan pada ruang publik. Hal ini pun secara tidak langsung menegaskan bahwa everyday architecture dapat menjamah seluruh praktek desain. Lalu, bagaimana menurut pendapat anda?

17
Nov
09

Domesticity and Territory

Domesticity sering diartikan kehidupan sehari-hari di dalam rumah. Tanpa disadari, aktivitas di dalam rumah telah membentuk teritori yaitu teritori pria dan wanita. Dulu, batasan teritori pria dan wanita cukup jelas. Misalkan, pada rumah kolonial di Indonesia, teras depan merupakan teritori milik suami untuk menerima tamu lelakinya. Sedangkan teras belakang dijadikan sebagai tempat sang istri untuk menerima tamu perempuan. Bahkan, di akhir abad ke-19, rumah dijadikan sebagai simbol “power” wanita. Artinya rumah, adalah wilayah kekuasaan wanita. Ini merupakan respons dari warga Amerika yang mencemaskan menghilangnya nilai kekeluargaan akibatnya meningkatnya perindustrian, urbanisasi, tingkat perceraian, jumah wanita yang bekerja dan datarnya tingkat kelahiran. Dengan penyimbolan ini, wanita diharapkan berperan dalam melestarikan nilai kekeluargaan. Ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali budaya di mana pria berperan sebagai sumber keuangan sedangkan wanita menjadi ibu rumah tangga. Ini sama dengan menjadikan teritori di dalam rumah milik wanita dan teritori di luar rumah menjadi milik pria.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang? Dengan diakuinya persamaan derajat pria dan wanita _ penyimbolan rumah itu gagal karena menguatnya gerakan feminisme_, teritori pria dan wanita menjadi kabur. Justru batasan teritori pemiliki rumah dan pembantu menjadi kuat. Contohnya teritori di rumah kakak perempuanku. Kakak perempuanku sebenarnya adalah ibu rumah tangga. Namun, karena suaminya termasuk salah satu yang mengakui adanya persamaan derajat antara pria dan wanita, maka dia sering membantu istrinya dalam mengerjakan tugas rumah tangga seperti mencuci pakaian, menyapu, serta menyuapi anaknya. Oleh karena itu, dapur, tempat cuci, tempat jemuran, ruang keluarga, ruang tamu, dan kamar-kamar tidur ( bisa dikatakan hampir seluruh rumahnya) menjadi teritori bersama bagi suami istri tersebut. Akan tetapi, ada area yang paling jarang dimasuki oleh mereka yaitu, area pembantu. Dulu, memang ada pembantu. Sekarang, pembantunya sudah keluar. Meksipun pembantunya sudah tidak ada, mereka tetap tidak menyentuh kamar tidurnya. Bahkan kamar mandinya pun jarang dimasuki mereka. Mungkin karena mereka masih terikat pada kehidupan mereka yang dulu ketika terjadi pemisahan area pemilik rumah dan pembantu.

Di samping itu, ada kemungkinan bahwa rumah menjadi teritori khusus pria, mengingat adanya pergeseran peranan suami istri. Sang suami menjadi pengurus rumah tangga dan istrinya bekerja di luar rumah,seperti yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Gejala ini juga terjadi di Amerika dan Eropa. Kalau ini benar-benar telah menjadi budaya yang meluas, di mana teritori di dalam rumah menjadi milik pria dan teritori di luar rumah menjadi milik wanita, maka bagaimana kita menyikapinya? Menerima atau menolaknya? Bagaimana pengaruhnya terhadap arsitektur?

Referensi:

http://xrodas.virgina.edu/

02
Nov
08

Melihat Ruang Publik

‘Idealisme Vs Domesticity Vs Egoisme dalam Everydayness

Idealisme memiliki kata dasar ideal. Ideal = a person or thing conceived as embodying such a conception or conforming to such a standard, and taken as a model for imitation (dictionary.com). Ideal adalah suatu konsepsi akan sebuah kesempurnaan dengan standar tersendiri yang menjadi model. Hal ini dipertentangkan oleh domesticity karena hal yang orang umum anggap ideal belum tentu tepat bagi dia. Idealisme dan domesticity menurut saya keduanya berada pada zona abu-abu, kita tidak bisa memisahkannya secara mutlak. Domesticity adalah ideal, ideal juga bisa menjadi domesticity. Ideal itu baik namun domesticity menyempurnakannya, tapi kedua-duanya bagi saya tidak dapat berdiri sendiri karena konsep ideal sifatnya lebih publik, dengan standar-standar publik namun domesticity lebih personal dan bisa diterima.

Idealisme dan domesticity keduanya adalah hal yang bersifat subjektivitas atau berdasarkan pada diri sendiri. Kedua hal ini hanya dapat dinilai dan dirasakan oleh diri sendiri, karena itu selalu ada perbedaan penilian pada tiap individu mengenai hal ini.

Subjektivitas berhubungan sangat dekat dengan egoisme, [ego=self]. Setiap orang berhak mendapatkan apa yang ia inginkan atau setiap orang berhak bersifat egois, karena itu selalu ada usaha untuk mendapatkannya. Usaha yang dimaksud dapat berupa domesticity, usaha mengubah ruang ideal yang secara subjektif tidak ’dia banget’ menjadi ruang yang ’dia banget’.

Lalu bagaimana ketika ke-egois-an itu dibawa pada ruang publik yang dimana hal yang sifatnya subjektif harus dipertemukan dengan orang lain. Ketika nilai-nilai ini tidaklah sama munculah konflik, konflik antar nilai-nilai yang bersifat subjektivitas. Nilai mana yang harus dipertahankan dan nilai mana yang harus dilepaskan.

The everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by workers but by manager and owners of the means of production (intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected. (Lefebvre, 1997)

Lefebvre menyatakan bahwa everyday memiliki dua sisi, sisi pertama adalah sisi yang sangat umum dan bisa diterima oleh semua orang, sisi kedua adalah sisi yang sangat personal yang hanya bisa diterima oleh pembuatnya. Maka pada sisi yang mana ruang publik harus menentukan sisinya?

Secara mudah kita akan menyatakan idealisme ruang publik harus bersifat umum dan bisa diterima oleh semua orang. Namun ketika kita mengkaji kembali kenyataanya, dapatkah hal yang bersifat umum itu bisa selalu diterima oleh penggunanya? Selalu ada pilihan. Hal yang bersifat umum memunculkan seleksi dari hal-hal personal [domesticity]. Hal-hal personal yang sama dimunculkan agar pemaknaan ruang itu dapat dimakanai sama oleh tiap penggunanya. Namun ada suatu masa dimana egoisme itu tidak selalu sama dengan ke-umum-an itu, pengguna harus memilih. Memilih dimana ia harus berada pada ruang itu, ia akan memilih dimana ia akan merasa paling cocok atau ia akan memilih untuk menintervensi ruang itu. Sehingga muncul pertanyaan apakah ruang publik yang baik hanya dapat mencakup sisi umum saja?

Egoisme dan domesticity selalu muncul walaupun itu dalam ruang publik. Saya mengambil contoh taman, pada taman ada banyak bangku namun kita hanya memilih satu bangku untuk kita duduki, atau kita membuat sedemikian rupa agar bangku itu tepat untuk kita duduki. Jadi ruang publik yang baik adalah ruang yang bersifat umum dan dapat dimaknai bersama oleh tiap penggunanya sehingga tidak terjadi kesalahan pemaknaan, namun ruang publik itu tetap dapat memberi kesempatan pada para penggunanya untuk memunculkan ke-egois-annya. Arsitektur tidak hanya harus mampu melihat hal umum namun ia juga harus mampu melihat hal-hal personal. Ia pun harus mampu melihat hal ideal bukan dari ke-subjektif-annya namun dari ke-subjektif-an penggunanya.

02
Nov
08

everydayness,domesticity & generality

“everyday” erat kaitannya dengan domesticity karena keadaan atau situasi didalamnya terjadi karena keterkaitan dikeduanya. everydayness berubah dan berkembang mengikuti keadaan lingkungan sosial ekonomi serta teknologi yang  berdasarkan kebutuhan manusia. perubahan everyday juga mempengaruhi tindak perilaku kita sebagai mahluk hidup.

sebelumnya saya ingin menjelaskan “domesticity” ini sendiri menurut saya adalah adanya pengidentifikasiaan dan perubahan fungsional dimana perubahan ini menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih familiar karena perubahan yang terjadi berdasarkan dari kebutuhan mahluk hidup terhadap media yang bertambah dalam everyday mereka masing-masing.karena terjadinya domesticity terdapat mark atau sign terhadap sebuah fungsi atau identitas tadi.

“everyday” juga berkembang dengan adanya kemajuan teknologi dan modernisasi yang ada. seperti misalnya ac[air conditioner], jika kita lihat pada kenyataannya di tempat-tempat seperti pertokoaan, perkantoran,institusi pendidikan ac sudah seperti menjadi object keharusan sebagai media penyejuk suatu ruangan. manusia tidak lagi bergantung kepada alam bagaimana tumbuhan yang dirancang sebagai domesticity suatu tempat memberikan manfaat seharusnya. bahkan tidak sedikit rumah-rumah yang ada sekarang ini memakai ac didalam ruangan.

alam dijadikan tempat beraktifitas, tempat mendirikan bangunan menghilangkan domesticity tersebut untuk sebuah generality, tempat umum dimana manusia melakukan kegiatan diatas ataupun didalamnnya.everyday yang berkembang sekarang ini cendrung menghilangkan estetika dan hanya mengedepankan funsional.ungkapan diatas menurut saya cocok dengan kutipan ini“The everyday is covered by a surface: that of modernity.” (Lefebvre, 1997: 37).

pertanyaannya sekarang adalah apakah generality yang ada sekarang ini memberikan efek yang baik terhadap everyday kita dengan mengilangkan domesticity yang menjadi keseimbangan dan penyempuna di keseharian makluk hidup? menurut saya tidak karena generality menurunkan tingkat usaha pencapaiaan seorang individu.sehingga perlu adanya kontrol dan filterisasi terhadap perkembangan everyday.

02
Nov
08

Everyday and Time

Konsep everyday pada awalnya muncul sebagai penolakan terhadap icon-icon generalisasi. Segala sesuatu ada patokannya, dan sesuatu akan menjadi benar jika sesuai dengan patokan tersebut. Maka muncullah istilah-istilah seperti uniformity yang menyatakan bahwa segalanya ada keseragaman, dan konsep star dimana seorang bintang yang sering tampil menjadi patokan sehingga yang seperti bintang-lah yang selalu dianggap mengikuti zaman, tidak kuno.

Everyday juga membahas istilah “man”. “Man” merupakan bentuk metafora dari bentuk ideal seorang manusia, yakni icon seorang laki-laki. Laki-laki yang disimbolkan sebagai sesautu yang sering tampil, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Semua yang dikatakannya menjadi hal yang patut diikuti. Memang kemudian pembahasan ini menyangkut kepada masalah gender. Jika laki-laki dilihat sebagai orang yang tampil, maka wanita disimbolkan bersembunyi. Wanita pada zaman itu digambarkan sebagai pengurus rumah tangga yang tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Seorang ibu selalu berada di dalam rumah untuk mengurusi segala kebutuhan keluarganya.

Everyday mengkritisi generalisasi tersebut sehingga kini banyak wanita bermunculan di dunia luar rumah. Tidak asing melihat wanita diluar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, seperti belanja. Atau bahkan melihatnya menyalurkan idealismenya sendiri untuk mencapai karier yang diinginkannya. Tidak heran kini banyak muncul icon-icon wanita masa kini yang justru memperoleh karier cemerlang, setara atau bahkan melebihi pria sekalipun. Kini peran wanita ibu dalam rumah pun telah tertutupi.

Zaman telah berubah, jika dahulu wanita ‘modern’ dilihat selalu berada di dalam rumah kini wanita ‘modern’ dilihat jika ia memiliki karier di luar, atau bisa disebut bekerja. Kasus ini terjadi bisa disebabkan 2 (dua) hal, yaitu perubahan everyday (kehidupan domestik yang berubah) atau lagi-lagi everyday yang tertutupi kemodernan sehingga yang dilihat, merupakan sesuatu yang biasa terlihat pada zaman sekarang.

… the everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by “workers,” but by manager and owners of the means of production ( intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected.” (Lefebvre, 1997)

Menurut kutipan diatas, Everyday terkait pula dengan aspek intelektual yang berkaitan dengan perkembangan pengetahuan dan pemahaman manusia sehingga everyday dapat menjadi kondisi yang sangat universal maupun sebaliknya, yaitu kondisi yang sangat unik bagi kita yang bukan memproduksi everyday tersebut.

Berarti kutipan ini sedikit menjawab kemungkinan yang terjadi, bahwa kasus yang dibahas sebelumnya masih merupakan everyday, karena ternyata everyday bisa berkembah atau bahkan berubah seiring dengan berkembangnya intelektual manusia.

Pada zaman sekarang, pengukuran tingkat intelektualitas diukur melalui pendidikan. Pendidikan yang dilihat adalah pendidikan formal, yaitu bersekolah di sebuah institusi pendidikan yang diakui negara. Masyarakat kemudian melihat pembuktian tingkat pendidikan itu dengan bekerja.

Masyarakat menilai orang yang bekerja setelah menempuh pendidikan menjadi kondisi yang ideal. Maka tak heran, orang yang bekerja, baik pria atau wanita, menjadi icon zaman sekarang. Tidak terbantahkan bahwa bekerja kemudian menjadi everyday.

Namun pembantahan terjadi ketika menjelaskan konsep bekerja yang menjadi everyday seseorang. Bekerja yang ideal adalah bekerja di sebuah kantor. Kantor merupakan icon tempat dimana orang bekerja. Melakukan suatu pekerjaan di sebuah bangunan berlantai banyak. Berkantor tidak hanya juga terikat pada jam kantor nine to five, tetapi juga icon pakaian kerja yang berlaku.

Maka muncul icon wanita zaman sekarang telah diidentikkan sebagai wanita karier. Berkantor dengan icon pekaian kerja yang melekat, menggunakan rok, atau celana panjang bahan, berkemeja dengan lapisan blazer (jas wanita) diluarnya, mengunakan sepatu berhak tinggi yang membuat orang menoleh jika berjalan di lantai keramik, menjinjing tas di tanggannya. Itulah ikon wanita karier masa kini.

Sekalilagi bahwa everyday bukanlah sesuatu yang dilihat ideal.

The everyday is therefore a concept .The everyday, established and consolidated, remain a sole surviving common sense referent and point of reference “intellectual,” on the other hand, sees their systems reference elsewhere: in language and discourse, or sometimes in a political party. The proposition here is to decode the modern world, bloody riddle, according to the everyday” (Lefebvre, 1997)

Everyday mempelajari arti dari sebuah kode yang tidak dapat langsung dipahami secara kasat mata karena tidak dapat dijelaskan secara langsung oleh logika.

Karena terdapat kaitan yang erat antara perkembangan pengetahuan dan pemahaman maka terjadi kebingungan antara pihak yang menjalankan konsep everyday dengan orang asing yang melihatnya.

Hal tersebut juga terjadi dengan icon berkantor. Pengetahuan semakin berkembang, begitu pun dengan teknologi. Teknologi bernama cyber telah meluluh lantahkkan kehidupan masa kini. Cyber telah mengubah everyday seseorang, bahkan icon berkantor itu sendiri. Kantor yang semula digambarkan dengan semuah bangunan nyata beralih pada dunia maya, dimana orang tidak perlu bertemu langsung untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Cyber menjadi ‘kantor’ masa kini. Cyber menghancurkan oipni sebuah kantor yang harus berlantai banyak, karena cyber emmungkinkan orang ‘berkantor’ dimana saja, bahkan di rumah sekali pun. Cyber sekali lagi mementanhkan icon fashion orang bekerja sekalipun bahwa bekerja harus berpenampilan rapi. Dengan cyber, fashion tersebut tidak penting. Berkaus gembel sekalipun orang tidak akan peduli.

Bahkan kini menjadi tidak asing orang-orang beralih jalan hidup untuk memutuskan bekerja di rumah dengan tingkat keefektifasan yang lebih tinggi. Tanpa modal transport dan biaya baju kantor. Bahkan banyak orang yang berkontor di rumah memiliki income yang lebih besar daripada orang yang berkantor.

Namun lagi-lagi berbedanya perkembangan pengetahuan menjadi masalah antara orang yang menjalankan everyday dengan orang asing yang melihatnya. Bagi masyarakat awam, berkantor di dunia cyber masih menjadi hal yang aneh, bahkan cenderung negative, karena malah muncul anggapan bahwa orang yang berkantor di dunia cyber tidak bekerja atau disebut pengangguran. Masih perlu waktu untuk membuat hal ini menjadi masalah.

Tetapi yang tidak dapat dipungkiri bahwa Everyday haruslah berubah sesuai dengan waktu dan sesuai dengan perkembangan kebudayaan, cara hidup, cara pandang, kebutuhan, keadaan sosial dan hal-hal lain yang mewarnai kehidupan manusia. Penyesuaian ini perlu terjadi agar konsep everyday ini tetap diterima sebagai sebuah konsep yang berhubungan terhadap eksistensi kedekatan sesuatu dalam kehidupan keseharian, serta sebagai sebuah hal yang penting dan tidak boleh dilupakan. Penyesuaian yang dilakukan sekarang tidak luput dari masa lalu. Yang ada sekarang adalah kelanjutan dari masa lalu. Jika kita dapat mengetahui masa lalu maka akan sangat membantu dalam merunut ke masa sekarang.

… the concept of the everyday illuminates the past” (Lefebvre, 1997).

Dan yang mutlak perlu disadari untuk tidak mengabaikan keberadaan dari everyday life.

Everyday life has always existed, even if in ways vastly different from our own

(Lefebvre, 1997).

02
Nov
08

Domesticity vs Ideal

Dalam keseharian kita, tanpa kita sadari, sebenarnya sering kali kita berhadapan dengan realita ‘domesticity’ dan pemikiran akan bentuk ‘ideal’ dari kondisi domestic yang kita hadapi tersebut. Domesticity disini sebagai hasil atas interfensi yang kita lakukan terhadap sesuatu yang sebelumnya sudah tersusun secara ideal. Pada dasarnya, domesticity ini dihasilkan dari adanya ruang yang ‘dihidupi’ dan digunakan sebagai tempat beraktifitas oleh manusia. Namun demikian, domesticity cenderung dianggap sebagai sesuatu yang jelek, tidak enak dilihat, berantakan dan tidak seharusnya seperti apa yang kita anggap sebagai ‘ideal’. Lantas apa yang dimaksud dengan ideal? Meskipun ideal cenderung bersifat subjektif, namun secara umum sesuatu akan dikatakan ideal bila ‘dia’ tersusun rapih, bersih, atau bahkan mengikuti kaidah-kaidah penataan tertentu. Bentuk ‘ideal’ yang ada ini cukup banyak dipengaruhi oleh modernisme yang pada waktu kemunculannya dipengaruhi oleh pemikiran akan semua yang serba bersih dan bebas kotoran untuk menghindari penyakit.

Disinilah pembicaraan mengenai domesticity dan ideal ini menjadi menarik untuk diangkat. Ketika kita melihat di buku-buku atau majalah arsitektur, sering kali kita diberikan gambaran-gambaran ruang yang ‘ideal’ dan justru bukan gambar-gambar yang memperlihatkan domesticity dalam ruang tersebut. Gambaran-gambaran ideal itu seolah melupakan unsur everyday yang sebenarnya tidak mungkin terlepas dari manusia yang menghuni ruang tersebut. Namun demikian, sebagai pembaca buku atau majalah terebut, kita juga memang akan lebih tertarik untuk melihat gambar-gambar ideal seperti itu. Bagaimana bila gambar yang disajikan justru gambar sebuah ruang dengan domesticity yang terjadi didalamnya? Saya rasa sebagian besar dari kita lebih condong untuk tidak menyukai gambar yang mengandung unsur domesticity tersebut. Domesticity menjadi seakan disembunyikan dari pandangan kita dan dengan alasan estetika, kita seolah tidak menerima domesticity, yang sebenarnya justru merupakan realita, untuk ditampilkan didepan mata kita.

Domesticity sering kali dianggap merusak suatu karya arsitektur. Sebagai contoh, sebuah dapur yang bersih dan tertata dengan rapih sehingga dianggap bagus kemudian dipandang tidak lagi indah ketika di dalamnya terlihat adanya cipratan kuah bekas kegiatan memasak pada dindingnya, panci-panci kotor yang bertumpuk didalam tempat cuci piring, dan lain sebagainnya. Menurut saya, justru arsitektur lah yang seharusnya bisa menanggapi domesticity yang terjadi didalamnya itu. Karena bagaimana pun, arsitektur ada untuk manusia yang tentu saja tidak terlepas dari kesehariannya, domesticity salah satunya. Bentuk ideal seharusnya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan dalam proses pembuatan suatu bentuk arsitektur.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers