Domesticity sering diartikan kehidupan sehari-hari di dalam rumah. Tanpa disadari, aktivitas di dalam rumah telah membentuk teritori yaitu teritori pria dan wanita. Dulu, batasan teritori pria dan wanita cukup jelas. Misalkan, pada rumah kolonial di Indonesia, teras depan merupakan teritori milik suami untuk menerima tamu lelakinya. Sedangkan teras belakang dijadikan sebagai tempat sang istri untuk menerima tamu perempuan. Bahkan, di akhir abad ke-19, rumah dijadikan sebagai simbol “power” wanita. Artinya rumah, adalah wilayah kekuasaan wanita. Ini merupakan respons dari warga Amerika yang mencemaskan menghilangnya nilai kekeluargaan akibatnya meningkatnya perindustrian, urbanisasi, tingkat perceraian, jumah wanita yang bekerja dan datarnya tingkat kelahiran. Dengan penyimbolan ini, wanita diharapkan berperan dalam melestarikan nilai kekeluargaan. Ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali budaya di mana pria berperan sebagai sumber keuangan sedangkan wanita menjadi ibu rumah tangga. Ini sama dengan menjadikan teritori di dalam rumah milik wanita dan teritori di luar rumah menjadi milik pria.
Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang? Dengan diakuinya persamaan derajat pria dan wanita _ penyimbolan rumah itu gagal karena menguatnya gerakan feminisme_, teritori pria dan wanita menjadi kabur. Justru batasan teritori pemiliki rumah dan pembantu menjadi kuat. Contohnya teritori di rumah kakak perempuanku. Kakak perempuanku sebenarnya adalah ibu rumah tangga. Namun, karena suaminya termasuk salah satu yang mengakui adanya persamaan derajat antara pria dan wanita, maka dia sering membantu istrinya dalam mengerjakan tugas rumah tangga seperti mencuci pakaian, menyapu, serta menyuapi anaknya. Oleh karena itu, dapur, tempat cuci, tempat jemuran, ruang keluarga, ruang tamu, dan kamar-kamar tidur ( bisa dikatakan hampir seluruh rumahnya) menjadi teritori bersama bagi suami istri tersebut. Akan tetapi, ada area yang paling jarang dimasuki oleh mereka yaitu, area pembantu. Dulu, memang ada pembantu. Sekarang, pembantunya sudah keluar. Meksipun pembantunya sudah tidak ada, mereka tetap tidak menyentuh kamar tidurnya. Bahkan kamar mandinya pun jarang dimasuki mereka. Mungkin karena mereka masih terikat pada kehidupan mereka yang dulu ketika terjadi pemisahan area pemilik rumah dan pembantu.
Di samping itu, ada kemungkinan bahwa rumah menjadi teritori khusus pria, mengingat adanya pergeseran peranan suami istri. Sang suami menjadi pengurus rumah tangga dan istrinya bekerja di luar rumah,seperti yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Gejala ini juga terjadi di Amerika dan Eropa. Kalau ini benar-benar telah menjadi budaya yang meluas, di mana teritori di dalam rumah menjadi milik pria dan teritori di luar rumah menjadi milik wanita, maka bagaimana kita menyikapinya? Menerima atau menolaknya? Bagaimana pengaruhnya terhadap arsitektur?
Referensi:
http://xrodas.virgina.edu/
comments