Posts Tagged ‘ideal

27
Oct
10

KABUR? SAMPAI KAPAN?

Menjadi escapist itu enak, memang.  Bermodalkan liur dan protes saja, wajah buruk kota Jakarta dapat dikupas satu-satu dalam waktu singkat.  Letih menjadi korban pembangunan sekenanya yang kebijakannya bisa berubah setiap kali berganti pemerintahan, lebih mudah bila saya ‘cabut’ dari keruwetan yang sulit dicari akarnya ini.

Yah, boleh dibilang utopis memang, tapi apa salah masyarakat mengharap kehidupan yang lebih baik?  Baiklah, kalau bukan kehidupannya, tapi lingkungan yang lebih baik rasanya cukup.  Seperti apa criteria lingkungan yang lebih baik? Lebih memiliki udara yang segar untuk dihirup, pemandangan yang rapi dan enak dipandang sepanjang menaiki kereta KRL, tempat yang bersih untuk sekadar buang hajat, bahkan untuk duduk-duduk ‘mengambil napas’ setelah letih berjejalan di kendaraan publik.

Indonesia, mungkin sudah mati rasa mendengar hujaman caci dari penduduknya.  Beberapa orang juga mengeluarkan respon apatis seperti: “kalo Indonesia jadi tertib, bukan Indonesia namanya”, “Jakarta tanpa macet, bukan Jakarta namanya” .  Waduh, dipikir-pikir, kalau semua orang sudah berubah memiliki mind set seperti itu, kapan Indonesia mau berubah.  Bukannya daripada mengeluarkan kalimat-kalimat devian dan provokatif seperti itu lebih baik mengeluarkan kalimat ajakan, informatif, dan membuat orang berpikir seperti upaya-upaya yang dilakukan oleh Marco Kusumawijaya bersama Ruang Jakarta, misalnya?

Apa orang-orang sudah lupa cita-cita untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik?  Jika belum, mengapa sampai sekarang masalah-masalah kota yang sama masih muncul bahkan berubah memburuk? Mengapa?

Yah, bicara ini mungkin tidak akan ada habisnya.  Tapi sebagai bahan perenungan, ada baiknya wacana ini muncul lagi ke permukaan.  Coba pikirkan kembali, daripada membuang energi untuk mencaci serta mengeluarkan berlembar-lembar rupiah untuk ‘kabur’ ke negara lain sekadar memuaskan fantasi akan kehidupan yang diidamkan, bukankah lebih baik kita berhenti sejenak dan mulai menorehkan kontribusi dalam perbaikan lingkungan sekitar? Banyak cara untuk ikut serta memperbaiki Jakarta, tengok saja tumpukan sampah di bantaran kali Ciliwung, desa pengemis di pinggiran danau dan desa Lio di Depok.   Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ruang Jakarta, barefoot, ashoka, dan sebagainya.  Tidak ada lagi alasan untuk berkeluh kesah dan ‘mangkir’.    Mulailah sekarang..

14
Dec
09

ideal city

Ideal memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang dan akan terus berkembang seiring berkembangnya kehidupan masyarakat yang dipengaruhi juga oleh perkembangan teknologi, ekonomi. Pada sekitar tahun 1960 misalnya, kota yang dianggap ideal adalah kota yang teratur dengan grid-grid sempurna dan bangunan-bangunan yang simetris lengkap dengan taman sebagai pusat kota. Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat akan ruang, bentuk ideal akan sebuah kota juga berubah menjadi kota yang ramai dengan banyak perkantoran, pabrik dan area komersil.

A city made for speed is made for success. Therefore , nothing could be come in the way of the traffic flow and the separation was seen as the part way to achieved on struction freemovement in the city” (Le Corbusier). Memisahkan kota menjadi bagian-bagian tertentu dan menggunakan kecepatan pergerakan dalam kota yang akhirnya ‘mengkotak-kotakan’ masyarakat sesuai dengan bidangnya sehingga mengakibatkan kurangnya interaksi dan adanya gape antara masyarakat golongan yang satu dengan yang lainya. Parameter kota ideal yang diajukan oleh Le Corbusier ini digunakan oleh banyak kota di negara maju tetapi sangat tidak cocok digunakan di Indonesia. Bahkan, jika digunakan sebagai parameter kota ideal di Indonesia dan diterapkan di Indonesia justru akan merusak everyday yang sudah terbentuk dan akan menghilangkan banyak ciri khas dari masyarakat Indonesia yang membedakanya dengan kota di negara lain. Contoh yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah ketera ekonomi. Kita dapat memenuhi sebagian kebutuhan hidup kita ketika menaiki kereta ekonomi mulai dari minuman, makanan, buah-buahan, koran, majalah, buku bacaan, pulpen, mainan anak, asesoris, kaos kaki, DVD, bahkan alat dapur pun juga ada. Jika ini dihilangkan maka akan ada banyak orang yang kehilangan pekerjaanya dan kita akan kehilangan sebuah kualitas ruang yang ada di dalam kereta itu.

Pengertian ideal yang dikemukakan oleh Lynne Mitchell dan Elizabeth Burton dalam bukunya yang berjudul “Inclusive Urban Design Street for live” yang mengatakan bahwa parameter kota ideal meliputi familiarity, legibility, distinctiveness, accessibility, comfort, dan safety mungkin lebih cocok dijadikan sebagai parameter kota ideal di Indonesia. Hal ini disebabkan karena everyday masyarakat Indonesia sendiri yang memiliki rasa kekeluargaan yang erat antara satu orang dengan orang lainya dan sangat mengutamakan interaksi seperti ada pepatah yang mengatakan “mangan ora mangan sing penting kumpul (makan ga makan yang penting kumpul)”. Hal ini menunjukan bahwa rasa kekeluargaan sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia apapun yang terjadi. Ketidakteraturan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia justru menjadi sebuah kualitas tersendiri bagi masyarakat.

Kita tidak dapat mengatakan ke disorderan sebagai sesuatu yang tidak ideal begitu saja karena ke-ideal-an ditentukan oleh everyday yang terjadi dalam masyarakat dan parameter ideal bersifat sangat subjektif.

02
Nov
08

Melihat Ruang Publik

‘Idealisme Vs Domesticity Vs Egoisme dalam Everydayness

Idealisme memiliki kata dasar ideal. Ideal = a person or thing conceived as embodying such a conception or conforming to such a standard, and taken as a model for imitation (dictionary.com). Ideal adalah suatu konsepsi akan sebuah kesempurnaan dengan standar tersendiri yang menjadi model. Hal ini dipertentangkan oleh domesticity karena hal yang orang umum anggap ideal belum tentu tepat bagi dia. Idealisme dan domesticity menurut saya keduanya berada pada zona abu-abu, kita tidak bisa memisahkannya secara mutlak. Domesticity adalah ideal, ideal juga bisa menjadi domesticity. Ideal itu baik namun domesticity menyempurnakannya, tapi kedua-duanya bagi saya tidak dapat berdiri sendiri karena konsep ideal sifatnya lebih publik, dengan standar-standar publik namun domesticity lebih personal dan bisa diterima.

Idealisme dan domesticity keduanya adalah hal yang bersifat subjektivitas atau berdasarkan pada diri sendiri. Kedua hal ini hanya dapat dinilai dan dirasakan oleh diri sendiri, karena itu selalu ada perbedaan penilian pada tiap individu mengenai hal ini.

Subjektivitas berhubungan sangat dekat dengan egoisme, [ego=self]. Setiap orang berhak mendapatkan apa yang ia inginkan atau setiap orang berhak bersifat egois, karena itu selalu ada usaha untuk mendapatkannya. Usaha yang dimaksud dapat berupa domesticity, usaha mengubah ruang ideal yang secara subjektif tidak ’dia banget’ menjadi ruang yang ’dia banget’.

Lalu bagaimana ketika ke-egois-an itu dibawa pada ruang publik yang dimana hal yang sifatnya subjektif harus dipertemukan dengan orang lain. Ketika nilai-nilai ini tidaklah sama munculah konflik, konflik antar nilai-nilai yang bersifat subjektivitas. Nilai mana yang harus dipertahankan dan nilai mana yang harus dilepaskan.

The everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by workers but by manager and owners of the means of production (intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected. (Lefebvre, 1997)

Lefebvre menyatakan bahwa everyday memiliki dua sisi, sisi pertama adalah sisi yang sangat umum dan bisa diterima oleh semua orang, sisi kedua adalah sisi yang sangat personal yang hanya bisa diterima oleh pembuatnya. Maka pada sisi yang mana ruang publik harus menentukan sisinya?

Secara mudah kita akan menyatakan idealisme ruang publik harus bersifat umum dan bisa diterima oleh semua orang. Namun ketika kita mengkaji kembali kenyataanya, dapatkah hal yang bersifat umum itu bisa selalu diterima oleh penggunanya? Selalu ada pilihan. Hal yang bersifat umum memunculkan seleksi dari hal-hal personal [domesticity]. Hal-hal personal yang sama dimunculkan agar pemaknaan ruang itu dapat dimakanai sama oleh tiap penggunanya. Namun ada suatu masa dimana egoisme itu tidak selalu sama dengan ke-umum-an itu, pengguna harus memilih. Memilih dimana ia harus berada pada ruang itu, ia akan memilih dimana ia akan merasa paling cocok atau ia akan memilih untuk menintervensi ruang itu. Sehingga muncul pertanyaan apakah ruang publik yang baik hanya dapat mencakup sisi umum saja?

Egoisme dan domesticity selalu muncul walaupun itu dalam ruang publik. Saya mengambil contoh taman, pada taman ada banyak bangku namun kita hanya memilih satu bangku untuk kita duduki, atau kita membuat sedemikian rupa agar bangku itu tepat untuk kita duduki. Jadi ruang publik yang baik adalah ruang yang bersifat umum dan dapat dimaknai bersama oleh tiap penggunanya sehingga tidak terjadi kesalahan pemaknaan, namun ruang publik itu tetap dapat memberi kesempatan pada para penggunanya untuk memunculkan ke-egois-annya. Arsitektur tidak hanya harus mampu melihat hal umum namun ia juga harus mampu melihat hal-hal personal. Ia pun harus mampu melihat hal ideal bukan dari ke-subjektif-annya namun dari ke-subjektif-an penggunanya.

02
Nov
08

Domesticity vs Ideal

Dalam keseharian kita, tanpa kita sadari, sebenarnya sering kali kita berhadapan dengan realita ‘domesticity’ dan pemikiran akan bentuk ‘ideal’ dari kondisi domestic yang kita hadapi tersebut. Domesticity disini sebagai hasil atas interfensi yang kita lakukan terhadap sesuatu yang sebelumnya sudah tersusun secara ideal. Pada dasarnya, domesticity ini dihasilkan dari adanya ruang yang ‘dihidupi’ dan digunakan sebagai tempat beraktifitas oleh manusia. Namun demikian, domesticity cenderung dianggap sebagai sesuatu yang jelek, tidak enak dilihat, berantakan dan tidak seharusnya seperti apa yang kita anggap sebagai ‘ideal’. Lantas apa yang dimaksud dengan ideal? Meskipun ideal cenderung bersifat subjektif, namun secara umum sesuatu akan dikatakan ideal bila ‘dia’ tersusun rapih, bersih, atau bahkan mengikuti kaidah-kaidah penataan tertentu. Bentuk ‘ideal’ yang ada ini cukup banyak dipengaruhi oleh modernisme yang pada waktu kemunculannya dipengaruhi oleh pemikiran akan semua yang serba bersih dan bebas kotoran untuk menghindari penyakit.

Disinilah pembicaraan mengenai domesticity dan ideal ini menjadi menarik untuk diangkat. Ketika kita melihat di buku-buku atau majalah arsitektur, sering kali kita diberikan gambaran-gambaran ruang yang ‘ideal’ dan justru bukan gambar-gambar yang memperlihatkan domesticity dalam ruang tersebut. Gambaran-gambaran ideal itu seolah melupakan unsur everyday yang sebenarnya tidak mungkin terlepas dari manusia yang menghuni ruang tersebut. Namun demikian, sebagai pembaca buku atau majalah terebut, kita juga memang akan lebih tertarik untuk melihat gambar-gambar ideal seperti itu. Bagaimana bila gambar yang disajikan justru gambar sebuah ruang dengan domesticity yang terjadi didalamnya? Saya rasa sebagian besar dari kita lebih condong untuk tidak menyukai gambar yang mengandung unsur domesticity tersebut. Domesticity menjadi seakan disembunyikan dari pandangan kita dan dengan alasan estetika, kita seolah tidak menerima domesticity, yang sebenarnya justru merupakan realita, untuk ditampilkan didepan mata kita.

Domesticity sering kali dianggap merusak suatu karya arsitektur. Sebagai contoh, sebuah dapur yang bersih dan tertata dengan rapih sehingga dianggap bagus kemudian dipandang tidak lagi indah ketika di dalamnya terlihat adanya cipratan kuah bekas kegiatan memasak pada dindingnya, panci-panci kotor yang bertumpuk didalam tempat cuci piring, dan lain sebagainnya. Menurut saya, justru arsitektur lah yang seharusnya bisa menanggapi domesticity yang terjadi didalamnya itu. Karena bagaimana pun, arsitektur ada untuk manusia yang tentu saja tidak terlepas dari kesehariannya, domesticity salah satunya. Bentuk ideal seharusnya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan dalam proses pembuatan suatu bentuk arsitektur.

02
Nov
08

Strangeness vs Ideal

the everyday has a certain strangeness that doesn’t surface, or whose surface is only its upper limit, outlining itself against the visible” (De Certeau, p.93)

Ungkapan di atas menjelaskan bahwa dalam everyday terdapat dua hal yang saling mendukung yaitu sesuatu yang strangeness dan sesuatu yang visible. Sesuatu yang strangeness memiliki sifat yang berlawanan dengan sesuatu yang visible. Strangeness merupakan suatu sistem yang sifatnya berantakan dan tidak indah, sehingga tidak boleh terlihat oleh orang lain. Sedangkan sesuatu yang visible merupakan sesuatu yang indah, ideal, dan tertata dengan baik. Seringkali keduanya dipisahkan, padahal tanpa adanya strangeness maka sesuatu yang ideal tidak akan ada. Bagaimana jika stangeness ditunjukkan ke orang banyak? Apakah kehadiran strangeness di ruang publik tidak diterima oleh orang banyak?

Isu mengenai strangeness dan ideal mengingatkan saya pada suatu kegiatan memasak yang dilakukan masyarakat di bantaran sungai Ciliwung di daerah Kali Pasir, Cikini. Kegiatan memasak yang dilakukan masyarakat memiliki suatu keunikan. Dalam kegiatan yang ideal, memasak merupakan suatu kegiatan yang tidak boleh dilihat orang banyak. Namun, masyarakat Kali Pasir yang tergolong memiliki tingkat ekonomi menegah ke bawah menunjukkan kegiatan memasaknya di ruang publik, yaitu di jalan. Tidak hanya memasak, kegiatan yang biasanya dilakukan di dapur, semuanya dilakukan di jalan.

Pada awalnya, masyarakat meletakkan peralatan memasak, seperti kompor, meja, panci, kuali, piring di tepi jalan. Kemudian, mendirikan penutup berupa tenda untuk melindungi peralatan mereka dari hujan. Sampai saat ini, kegiatan memasak ini masih berlangsung di jalan. Alasan masyarakat memasak di jalan, karena rumah tidak memiliki ruang yang cukup untuk memasak. Masyarakat yang menggunakan jalan tidak merasa terganggu dengan kegiatan memasak. Kegiatan memasak dan mencuci piring yang dilakukan di jalan menjadi kegiatan everyday bagi masyarakat Kali Pasir. Kebiasaan unik masyarakat di Kali Pasir ini ternyata dipandang sebagai sesuatu yang positif oleh masyarakat sekitar yang biasa melintasi jalan. Keberadaan dapur di jalan ini menjadi tempat berkumpul bagi masyarakat. Jika dipandang dari sisi ideal, keberadaan dapur membuat pemandangan di sekitar jalan menjadi tidak indah, berantakan, dan seolah tidak bersih. Namun, sesuatu yang ideal bagi masyarakat Kali Pasir tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang indah saja tetapi sesuatu yang bermanfaat dan digunakan dalam kehidupan kesehariannya.

Keseharian masyarakat Kali Pasir memberikan gambaran sesuatu yang strangeness diletakkan dalam ruang publik. Meletakkan peralatan memasak di jalan merupakan suatu intervensi masyarakat dalam kehidupan kesehariannya. Intervensi yang membuat strangeness menjadi sesuatu yang berlawanan dari pandangan ideal, dan menjadi sesuatu yang bermakna dan menarik dalam kehidupan keseharian. Menunjukkan sesuatu yang tidak indah, berantakan, kotor (strangeness) kepada orang banyak dalam keseharian membuat konsep ideal tidak lagi diterapkan dalam kehidupan keseharian masyarakat. Sesuatu yang strangeness tidak lagi disembunyikan, tetapi menjadi suatu proses yang menarik untuk ditunjukkan. Cerita dibalik sesuatu yang ideal (strangeness) akan lebih menarik dibandingkan gambaran akhir mengenai sesuatu yang ideal. Kehadiran strangeness dalam ruang publik menentang konsep ideal dalam keseharian. Sesuatu yang bersifat everyday tidak selalu berhubungan dengan sesuatu yang indah dan ideal, tetapi sesuatu yang tidak indah, berantakan, dan kotor menjadikan everyday unik.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers