Menjadi escapist itu enak, memang. Bermodalkan liur dan protes saja, wajah buruk kota Jakarta dapat dikupas satu-satu dalam waktu singkat. Letih menjadi korban pembangunan sekenanya yang kebijakannya bisa berubah setiap kali berganti pemerintahan, lebih mudah bila saya ‘cabut’ dari keruwetan yang sulit dicari akarnya ini.
Yah, boleh dibilang utopis memang, tapi apa salah masyarakat mengharap kehidupan yang lebih baik? Baiklah, kalau bukan kehidupannya, tapi lingkungan yang lebih baik rasanya cukup. Seperti apa criteria lingkungan yang lebih baik? Lebih memiliki udara yang segar untuk dihirup, pemandangan yang rapi dan enak dipandang sepanjang menaiki kereta KRL, tempat yang bersih untuk sekadar buang hajat, bahkan untuk duduk-duduk ‘mengambil napas’ setelah letih berjejalan di kendaraan publik.
Indonesia, mungkin sudah mati rasa mendengar hujaman caci dari penduduknya. Beberapa orang juga mengeluarkan respon apatis seperti: “kalo Indonesia jadi tertib, bukan Indonesia namanya”, “Jakarta tanpa macet, bukan Jakarta namanya” . Waduh, dipikir-pikir, kalau semua orang sudah berubah memiliki mind set seperti itu, kapan Indonesia mau berubah. Bukannya daripada mengeluarkan kalimat-kalimat devian dan provokatif seperti itu lebih baik mengeluarkan kalimat ajakan, informatif, dan membuat orang berpikir seperti upaya-upaya yang dilakukan oleh Marco Kusumawijaya bersama Ruang Jakarta, misalnya?
Apa orang-orang sudah lupa cita-cita untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik? Jika belum, mengapa sampai sekarang masalah-masalah kota yang sama masih muncul bahkan berubah memburuk? Mengapa?
Yah, bicara ini mungkin tidak akan ada habisnya. Tapi sebagai bahan perenungan, ada baiknya wacana ini muncul lagi ke permukaan. Coba pikirkan kembali, daripada membuang energi untuk mencaci serta mengeluarkan berlembar-lembar rupiah untuk ‘kabur’ ke negara lain sekadar memuaskan fantasi akan kehidupan yang diidamkan, bukankah lebih baik kita berhenti sejenak dan mulai menorehkan kontribusi dalam perbaikan lingkungan sekitar? Banyak cara untuk ikut serta memperbaiki Jakarta, tengok saja tumpukan sampah di bantaran kali Ciliwung, desa pengemis di pinggiran danau dan desa Lio di Depok. Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ruang Jakarta, barefoot, ashoka, dan sebagainya. Tidak ada lagi alasan untuk berkeluh kesah dan ‘mangkir’. Mulailah sekarang..
Namun dem
ikian, domesticity cenderung dianggap sebagai sesuatu yang jelek, tidak enak dilihat, berantakan dan tidak seharusnya seperti apa yang kita anggap sebagai ‘ideal’. Lantas apa yang dimaksud dengan ideal? Meskipun ideal cenderung bersifat subjektif, namun secara umum sesuatu akan dikatakan ideal bila ‘dia’ tersusun rapih, bersih, atau bahkan mengikuti kaidah-kaidah penataan tertentu. Bentuk ‘ideal’ yang ada ini cukup banyak dipengaruhi oleh modernisme yang pada waktu kemunculannya dipengaruhi oleh pemikiran akan semua yang serba bersih dan bebas kotoran untuk menghindari penyakit.
comments