Posts Tagged ‘locality

29
Oct
10

Sebuah Cerita dari Baduy

Sederhana, dekat dengan alam,  gigih, itulah beberapa ungkapan  yang dapat saya tuliskan dari begitu banyak hal yang menjadi pesona suku Baduy.  Mereka tinggal di daerah yang sangat jauh dari perkotaan dan memerlukan waktu berjam-jam dengan berjalan kaki menyisiri hutan dan bukit-bukit.

Sang pemilik rumah yang saya tumpangi selama tinggal di Baduy menceritakan tentang kehidupan warga Baduy yang sederhana. Salah satu filosofi  hidup mereka adalah,  lojor heunteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung, yang apabila diartikan panjang tidak boleh dipotong, pendek  tidak boleh disambung… ungkapan yang mencerminkan kehidupan mereka yang jujur apa adanya, tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan.

Meski tidak mendapatkan pendidikan formal, masyarakat baduy sangat mengetahui cara menghargai keseimbangan alam. Hal ini tercermin dari keseharian mereka. Mereka hanya menebang pohon yang sudah cukup tua dan selalu menanam kembali lahan yang pepohonannya sudah ditebangi. Hutan-hutan pun dijaga keberadaannya. Hasil tani berupa padi mereka kumpulkan di leuit dan dikonsumsi seperlunya saja. Begitu pun dengan hasil ladang dan hutan.  Penggunaan sungai tidak sembarangan, ada pembagian area sungai untuk pasokan air minum, mencuci beras, mandi, buang air dan mencuci.

Bebatuan yang bertaburan di sekitar jalanan desa diambil warga dari sungai. Sepulang mandi atau buang air di sungai, mereka mengambil batu-batu dan menaruhnya di atas tanah. Kegiatan itu dilakukan terus menerus hingga akhirnya jalanan tertutup batu dan menjadi lebih mudah ditapaki.

Untuk membangun rumah, seseorang mengumpulkan kayu sedikit demi sedikit. Dan setelah cukup terkumpul para warga lain tidak segan untuk membantu, bergotong-royong tanpa meminta upah. Warga pun bebas mendapatkan lahan, besar ataupun kecil, tidak ada rasa cemburu apabila warga lain membangun rumah lebih besar karena mereka membangun sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

Meski terlihat sederhana dan apa adanya, banyak hal yang membuat kehidupan masyarakat Baduy pantas untuk dikagumi…

27
Oct
10

Pola Keseharian yang Berubah, Image daerah yang Meredup

Manusia selalu hidup dan menjalani kesehariannya. Keseharian yang umumnya terbentuk oleh kebuadayaan serta karakter dari manusia itu sendiri. Keseharian yang memang selalu dilakukan, sehingga menjadi ciri khas tertentu bagi orang ataupun komunitas tertentu.

Kalimantan, merupakan daerah dengan julukan “Pulau Seribu Sungai”. Memang sebuah julukan yang pantas bagi pulau dengan banyaknya air mengalir diatasnya. Mencari sungai hampir sama mudahnya dengan mencari jalan raya. Tentu saja melimpahnya sungai ini menjadi salah satu faktor utama yang membangun pola keseharian masyarakat penduduk Kalimantan.

Bagi masyarakat Kalimantan, Banjarmasin pada khususnya, sungai merupakan bagian hidup yang sudah tidak dapat lagi dipisahkan. Selama beratus-ratus tahun sungai telah menjadi sarana transportasi utama disana. Disinilah terjadi fenomena fungsi sungai yang unik daripada daerah lainnya. Tidak seperti mayoritas kota lain yang menggunakan mobil dan motor, disana Klotok (perahu) dan Jukung (sampan) lah yang menjadi alat transportasi utama. Maka dari itu sungai menjadi ruang sirkulasi dengan tingkat mobilitas yang tinggi pada sehari-harinya.

Manusia, dalam membangun huniannya, hampir selalu berorientasi kepada daerah yang penting. Umumnya, akses utama yang menghubungkan antara ruang dalam dan ruang luar pada suatu hunian terletak pada arah orientasi rumah tersebut. Sungai yang memiliki fungsi sangat penting terhadap kehidupan orang Kalimantan tentu akan menjadi orientasi bagi rumah-rumahnya. Maka dari itu kemudian lahirlah rumah pesisir sungai yang akses hadap utama rumah mengarah kesungai.

Oleh karena bagian depan rumah menghadap sungai, sudah tentu ruangan-ruangan seperti teras serta ruang tamu berada di tepi sungai. Kegiatan yang terlihat pun tipikal, seperti orang-orang yang pamit dari dalam rumah lalu kemudian pergi menggunakan perahu, ibu-ibu yang duduk bermain bersama anaknya sambil menikmati pemandangan sungai, maupun sosok anak SD yang baru pulang dari sekolah dengan perahu kecilnya. Dengan demikian bagian rumah yang merupakan ruang service tentu terletak pada sisi yang berdekatan dengan daratan, “tersembunyi” dari sisi sungainya. Sisi sungai menjadi bagian depan rumah, sementara sisi daratan merupakan bagian belakangnya.

Uploaded with ImageShack.us

Keluarga yang sedang menikmati sisi sungai

Akan tetapi kemudian perubahan yang sangat signifikan mulai terjadi saat pemda setempat mengadakan pembangunan jalan raya. Jalan yang dibangun ternyata menyusuri sungai-sungai, dengan tujuan untuk mengakomodasi transportasi penduduk dari sisi darat. Suatu keputusan yang belakangan disadari keliru, karena justru menciptakan perubahan yang sangat besar bagi kehidupan warganya.

Kemunculan dari jalan darat ini sangat berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat Kalimantan sekarang. Kenyataan bahwa transportasi darat yang dinilai jauh lebih praktis, aman, serta cepat daripada transportasi air merubah pemikiran warga. Perlahan, transportasi air mulai ditinggalkan. Saat ini pengguna jalan darat jauh lebih banyak daripada pengguna jalur air.

Oleh karena itu perlahan orientasi hadap rumahpun mulai berubah. Sisi darat, yang tadinya merupakan bagian belakang rumah menjadi bagian depan rumah. Begitu pula sebaliknya sisi sungai menjadi bagian belakang rumah. Maka pemandangan keseharian yang terlihat pada sisi sungaipun berubah. Sesuai dengan fungsi bagian belakang rumah, pemandangannya pun tidak jauh dari aktivitas “service” yang umumnya terjadi di rumah warga. Seperti mencuci, sikat gigi, mandi, bahkan mereka membuat dermaga kecil dengan sebuah gubuk kecil yang ternyata adalah kakus.

Uploaded with ImageShack.us

Kegiatan “servis” yang terlihat di sisi sungai

Perubahan yang terjadi memang cukup mencengangkan, karena telah berhasil menghilangkan image sungai yang khas dan unik, menjadi image sungai yang kumuh. Sangat disayangkan dimana Kalimantan yang memiliki kehidupan tepi sungai yang khas menjadi tidak ada bedanya dengan kehidupan tepi sungai pada pulau lainnya di Indonesia.

24
Dec
09

Beda Tempat Beda Cara

Setiap tempat mempunyai cara sendiri untuk membuat tempat atau daerah mereka lebih baik. Seperti yang saya lihat sendiri ketika saya berada di kota Kediri ini. Jika di Jakarta masyarakat membatasi rumah mereka dengan pembatas pagar yang bermacam-macam jenisnya. Berbeda dengan di Kecamatan Pare ini, mereka membatasi rumah mereka dengan sebuah pagar pembatas yang sama jenisnya di setiap rumah.

Pagar pembatas mereka berupa gapura kecil yang terbuat dari beton dan ada keterangan-keterangan di dindingnya.

Keterangannya bukan berupa alamat detail rumah mereka sendiri, melainkan slogan slogan yang sengaja dimasukan oleh pemerintah setempat kedalamnya. Seperti gambar diatas merupakan gambar tangan yang mengisyaratkan bahwa warga cukup memiliki dua anak saja. Keterangan-keterangan di dinding juga bukan mengisyaratkan nomer rumah mereka, tapi hanya keterangan berupa Kecamatan dan Desa dimana mereka tinggal  beserta lambang daerahnya yakni Kecamatan Pare Desa Tulungrejo

Asumsi saya mengapa pemerintah setempat berbuat seperti itu, karena mereka menginginkan agar program-program pemerintah selalu lekat di hati masyarakatnya. Mulai dari program dua anak saja sampai tulisan tulisan seperti Pancasila, UUD 45 yang akan menumbuhkan rasa nasionalisme warga. Selain itu keberadaan Desa Tulungrejo sendiri dimana  hampir semua warganya mempunyai gapura seperti itu menjadikan keberadaan mereka lebih nyata.

29
Nov
09

Invaders in the Everyday, Bad or Good?

Saya melihat arsitektur dan keseharian sebagai suatu cara  mengoptimalkan dan menggunakan segala potensi yang ada pada suatu tempat sehingga tempat tersebut dapat berfungsi secara tepat guna. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah apa yang terjadi apabila potensi lokal tersebut digabungkan dengan potensi yang datang dari luar, dalam hal ini saya sebut sebagai invaders.

Untuk itu saya mencoba membandingkan kedua kasus yang terjadi pada dua suku pada tempat yang berbeda dan kebudayaan yang berbeda pula.

Seringkali bagi sebuah kota pariwisata adanya pendatang atau turis ke kota mereka merupakan sebuah hal yang baik. Ada tidaknya ‘pendatang’ pada sebuah kota daerah pariwisata berpengaruh terhadap banyak hal , salah satunya adalah perekonomian. Para turis memberikan devisa bagi negara dan secara tidak langsung mendorong pemerintah serta masyarakat untuk lebih memelihara objek wisata yang mereka kunjungi (Tourist in Historic Towns, Aylin Orbasli).

Namun di sisi lain keberadaan para pendatang bisa saja menghilangkan keseharian yang telah ada sebelumnya dalam masyarakat tersebut baik cara berkegiatan maupun perilaku sehari – hari. Hal ini mungkin tidak begitu dirasakan pada sebuah daerah yang telah menjadi tujuan wisata selama bertahun – tahun.

Salah satu contohnya adalah pada suku Sherpa yang hidup disekitar Pegunungan Himalaya, bertani dan berdagang adalah profesi orang Sherpa selama lima abad mereka tinggal di Solu Khumbu. Kurun waktu setengah milenium yang tidak membawa orang Sherpa dalam kemajuan materi. Mereka matang dalam religi dengan tumbuhnya biara-biara dan kuil. Orang – orang Sherpa ini tinggal di lembah – lembah sungai. Mereka membangun desa-desa dan ladang-ladang. Rumah-rumah yang dibangun dari tumpukan batu-batu gunung. Lereng dicangkul hingga membentuk teras-teras untuk ladang.

Banyak pendatang yang datang ke tempat ini berharap dapat melihat hal – hal yang masih asli dari suku – suku sekitar pegunungan Himalaya, bagaimana cara mereka hidup sehari – hari, seperti apa tempat tinggal mereka, dan sebagainya. Namun disisi lain orang – orang asli ini sendiri merasa tidak ingin menjadi semacam museum antropologi bagi para turis. Mereka – mereka yang bekerja di bidang pariwisata berusaha menyamakan diri dan pola hidup seperti apa yang dilakukan oleh para pendatang.

Mereka memang mempertahankan originalitas mereka misalnya dalam hal agama yang dianut atau pemberian nama bagi keturunan mereka. Namun ada bagian – bagian tertentu yang (dengan sengaja) disesuaikan dengan keadaan sekitar mereka yang memang telah berubah misalnya cara berpakaian, cara mereka mengakses hiburan , dan bagaimana mereka hidup dalam sebuah wilayah.

Contoh kedua adalah masyarakat asli suku Dhani Wamena Papua. Pada tahun 1960an mayoritas masyarakat suku masih ini hidup dalam kebudayaan asli mereka, bagaimana kebiasaan mereka, cara berpakaian, berkumpul bersama, dan bagaimana hunian mereka. Hunian masyarakat Wamena sendiri yang berbentuk lingkaran dan beratap ilalang tebal cukup hangat di pagi dan sore hari, dimalam hari penghuni rumah dihangatkan dengan api yang sengaja dibuat di dalam rumah. Babi, hewan ternak warga seolah sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat sehari – hari.
Masyarakat pada saat itu belum banyak mengetahui tentang sanitasi yang baik. Rumah honai dirasa nyaman karena memberi kehangatan di daerah dingin tersebut. Namun jika diperhatikan lebih lanjut rumah ini ternyata kurang sehat karena hanya memiliki satu bukaan untuk sirkulasi udara dan untuk mengeluarkan asap dari dalam rumah.

Keadaan telah membaik dalam kurun waktu terakhir saat ini akibat adanya invasi pendatang. Banyak penduduk yang telah memerhatikan pentingnya sirkulasi udara bagi hunian mereka juga membuat sanitasi yang baik. Beberapa hal yang asli dan menjadi ‘keseharian’ selama bertahun – tahun dan turun – temurun mungkin akan hilang.

Menurut saya keadaan ini menunjukkan bahwa kehadiran invaders bisa merupakan hal yang baik. Invaders tersebut mungkin mampu menghilangkan beberapa hal yang tidak diperlukan atau mungkin tidak baik bagi masyarakat, mengoptimalkan potensi yang berguna, atau bahkan memunculkan ide – ide baru yang timbul dari penggalian keseharian masyarakat itu sendiri.

Arsitektur yang memperhatikan keseharian masyarakat merupakan suatu cara untuk menyelesaikan suatu problem pada sebuah tempat dalam kurun waktu tertentu. Sebuah penyelesaian arsitektural sebaiknya dapat mampu mengatasi ‘kebosanan’ masyarakat atas keseharian mereka yang sifatnya negatif dan telah berlangsung selama bertahun – tahun (dalam waktu yang lama), dengan tetap mempertahankan segala bentuk keseharian apa saja yang positif dan bermanfaat.

Referensi :

Krakauer,Jon.Into Thin Air

Orbasli, Aylin.(2000)Tourist in Historic Towns,London: E & FN Spon

http://irjayanti.multiply.com/reviews/item/19

 

29
Nov
09

rumah panggung

Rumah adat panggung merupakan bentuk dari rumah yang sudah tidak asing lagi bagi arsitek maupun masyarakat indonesia karena pengenalan rumah adat panggung sudah ada dari jaman dahulu yang hingga kini masih ada secara turun temurun. Rumah adat panggung banyak dijumpai untuk kawasan sumatra, kalimantan, dan sulawesi.

Terkadang terdapat pertanyaan mengapa harus panggung dalam hal bentuk rumah adat di kalimantan, bentuk terkadang dipengaruhi oleh kondisi kawasan/site yang ada disekitar bangunan rumah panggung. seperti rumah adat kaliman (betang) didirikan dengan bentuk yang panggung dikarenakan malihat kawasan yang dataran rendah dari daerah kalimantan yang berpotensi banjir, maka untuk mencari solusi tinggal masyarakat lebih memilih dengan bentuk rumah yang panggung. Dimana juga terdapat fungsi lain dari rumah anggung selain terhindar dari banjir juga lahan/tanah yang tepat berada dibawah rumah dapat digunakan sebagai daerah resapan air.

Jika beberapa aspek dari rumah adat panggung ini diaplikasikan kedalam desain rumah, maka dengan adanya bentuk rumah yang panggung bisa menguragi banjir yang ada denga menambah jumlah daerah/lahan resapan tanpa mengganggu habitat kehidupan masyarakat yang ada khususnya untuk daerah jakarta yang rawan akan banjir.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers