Posts Tagged ‘order

26
Dec
10

DEPAN dan BELAKANG

Jika anda melintasi jalan Warung Buncit, mungkin anda dapat melihat banyaknya bangunan komersil, baik itu bangunan perkantoran maupun toko-toko yang berjejer sebagai penanda bahwa jalan tersebut merupakan perpanjangan dari kawasan bisnis Kuningan. Ya, memang jalan tersebut ditata sedemikian rupa sehingga terlihat bangunan-bangunan tinggi cukup mendominasi di sepanjang jalannya. Banyak pohon juga menyembul dari pinggir jalan. Tak hanya itu, menurut saya, meskipun cukup padat dilalui kendaraan, jalanannya sendiri cukup lancar, rapi dan bersih. Sungguh-sungguh mencerminkan identitas kawasan tersebut sebagai area komersil.

Namun jika anda masuk ke dalam beberapa jalan kecil yang ada di sepanjang jalan Warung Buncit, mungkin anda akan menemukan perumahan masyarakat kalangan bawah, warung-warung nonpermanent, got-got yang dipenuhi dengan sampah, serta banyak lahan hijau dengan sampah-sampah dijejeri secara tersembunyi di dalamnya. Beberapa area bahkan terlihat mati, tidak terlihat aktivitas warga ataupun aktivitas penggerak ekonomi. Benar-benar berbeda dengan tampilan luar Warung Buncit yang sangat ramai dijejali kendaraan dan bangunan perkantoran.

Ketika saya mengadakan survey di area tersebut, saya menyadari adanya fenomena tersebut, dan hal seperti ini tidak hanya terjadi di kawasan Warung Buncit saja. Banyak sekali terdapat fenomena depan-belakang seperti ini di Indonesia, terutama di Kota Jakarta.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan diperhatikannya bagian depan tersebut, lantas bagian belakang tidak perlu diusahakan agar dapat turut berkontribusi dalam aktivitas kota tersebut? Lalu, bagaimana caranya untuk dapat mengaktifkan bagian belakang ini agar dapat turut berperan sebagai sesuatu yang indah?

Layaknya pepatah yang sering kita diucapkan, “Jangan melihat orang dari sampulnya, tetapi lihatlah dari isinya”. Mengapa tak kita coba lihat bagian belakang dari setiap keindahan yang diciptakan? Siapa tahu dibalik keindahan tersebut sebenarnya terdapat suatu potensi yang dapat mendukung keindahan tersebut, dan bukannya justru bertolakbelakang dengan apa yang ada di depannya.

26
Dec
10

dapur bersih akankah berakhir menjadi pajangan dalam rumah?

Sekarang banyak terdapat dua pengklasifikasian dapur pada rumah: dapur bersih dan dapur kotor.

Dapur bersih biasanya dibuat sangat bagus, furniturenya mengikuti tren saat ini begitu pula dengan perabot dapur lainnya. Letaknya biasanya di dekat ruang makan sehingga saat tamu datang dapat langsung melihatnya juga. Semacam kebanggaan bagi sang pemilik rumah di kala sang tamu memuji furniture atau dekorasinya yang bagus. Akan tetapi tidak seperti judulnya “dapur”,dapur bersih biasanya jarang atau bahkan tidak pernah digunakan oleh sang pemilik rumah untuk melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga seperti memasak, mencuci piring dan lain sebagainya. Entah karena takut untuk mengkotori furniturenya yang bagus itu, tetap menjaga kebersihan sang dapor bersih itu hingga tak tega memakainya atau tidak ada waktu di rumah untuk sekedar mempersiapkan makanan bagi anggota keluarga lainnya.

Sedangkan dalam kenyataanya, hanya dapur kotorlah yang hanya dipakai setiap harinya. Dapur kotor biasanya digunakan oleh asisten rumah tangga setiap harinya. Penampilan dari dapur kotor ini biasanya tidak terlalu diperhatikan sehingga tak jarang terlihat kotor dan berantakan. Apalagi letaknya yang berada di bagian belakang rumah biasanya dekat dengan ruang servis lainnya dan kamar pembantu menjadikannya tak terlalu diperhatikan. Dapur kotor inilah yang menjadi pusat kegiatan masak-memasak setiap harinya.

Lalu muncul pertanyaan dibenak saya, kalau begitu apa gunanya dapur bersih??

Apakah hanya untuk pajangan saja?

Kalau begitu kenapa namanya tidak berubah menjadi: dapur hiasan atau dapur pajangan?

Kalau pembuatan dapur bersih hanya untuk mengikuti tren tanpat memperhatikan kebutuhan akan fungsi dapur sesungguhnya, maka lebih baik jika hanya terdapat satu jenis dapur saja tetapi digunakan secara maksimal. Kemudian kembali lagi kepada pertanyaan:kebutuhan atau keinginan yang ingin kita wujudkan dalam ruang keseharian kita?

25
Dec
10

We need space!

Siapa sangka dibalik maket-maket fantastis, rapi, dan penuh cerita yang dibawa oleh para mahasiswa di kampus juga meninggalkan banyak cerita bagi kamar yang ditinggalinya.  Tengoklah kamar saya, contohnya.  Kamar berukuran 3x3meter ini seringkali ‘habis’ dihajar oleh bahan-bahan maket yang menggunung dikala sedang ‘merodi’ mengerjakan maket.  Mulai dari lem yang menempel di lantai, meja,hingga mukena! (ya, saya sempat sangat bingung mencari lem tersebut sebelum menemukannya menempel dan bleber di bawah mukena)

Dahulu (well, tidak lama sebelum saya masuk ars) saya merupakan orang yang terorganisir dalam menyimpan barang-barang, termasuk membersihkannya.  Bagai orang pengidap obsesive-compulsive disorder, saya tidak tahan meninggalkan kamar dengan selembar flyer tergeletak dilantai atau melihat urutan ukuran buku di rak buku yang tidak tersusun baik. Semua berada di tempatnya, tidak tergeletak sembarangan.  Namun kini, semakin saya sering ‘menodai’ kamar dengan potongan-potongan bahan maket dan noda lem membandel, saya semakin putus asa untuk membersihkannya.  (terlebih ibu saya yang sering tidak habis pikir saya bisa bertahan di kamar yang hampir seperti kapal pecah)

Akibatnya, karena biasanya maket-maket selesai pada deadline, saya harus langsung meninggalkan kamar dan cabut ke kampus untuk mengumpulkan tugas/display. (ya, kondisi kamar masih berantakan).  Kontribusi orang-orang dalam rumah pada waktu seperti itu sangat terlihat karena tidak tahan melihat kamar saya berantakan, mereka (ibu dan asisten rumah tangga,red) langsung merapikan kamar saya. (well, berat mengakui dan menulis hal tersebut di blog ini).

Hal tersebut terjadi repetitif sepanjang semester, tidak jarang pula barang-barang pendukung perkuliahan (penggaris, cutter, alat gambar, dll) hilang dan ikut tersapu pada saat dibersihkan.  Efeknya, ibu sering membelikan wadah-wadah besar agar saya bisa langsung ‘menyemplungkan’ barang maket habis-pakai.

Tidak hanya itu, serpihan maket yang tertinggal bisa menyebabkan gangguan kesehatan.  Dibantu oleh sapuan pendingin ruangan (AC) serpihan-serpihan kecil itu dapat membuat gangguan pernapasan (batuk-batuk) serta alergi.  (well, setidaknya begitu asumsi saya, mengingat bahan maket kebanyakan dari kapa/birmet yang dibeli di pabrik kertas daur yang berdebu).

Last but not least, kerugian yang paling nyata disebabkan oleh proses pembuatan maket adalah pemakaian ruang yang sangat besar alias makan tempat.  Pertama kali saya membuat maket saya berpikir “oh yeah, ini maket pertama, akan saya simpan di kamar, tidak boleh rusak!”. kedua kali pun begitu hingga kini kamar sudah dipenuhi oleh bahan maket, kertas-kertas dan maket-maket yang pernah dibuat dulu.  (Bahkan ada teman yang menambah rak dalam dua tahun terakhir dan tetap terisi penuh).  hingga kini saya (dan beberapa teman) berpikir untuk meninggalkan maket-maket yang sudah jadi tersebut di studio sampai pada waktunya nanti kelas akan dibersihkan oleh Pak Endang, kami akan mengangkutnya kembali ke rumah, ke kamar, yang makin sempit.

Well, itulah fenomena keseharian yang saya temui.  Para Architect-wannabe ini dipenuhi kesibukan untuk mencari penyelesaian keruangan di kampus hingga lupa untuk memerhatikan ruangnya sendiri.  Pretty sad, but that’s the truth.

 

25
Dec
10

Segmentasi sebagai Self Esteem dalam Arsitektur

Segmentasi (pengelompokkan) ruang dalam arsitektur dianggap merupakan sebuah hasil dari modernisme dalam arsitektur, bahwa selalu ditemukan adanya ‘ruang’ yang mempunyai makna berkegiatan secara spesifik. Keadaan ini seringkali menjadi suatu perdebatan didunia arsitektur, apakah perlu menanamkan mental segmentasi dalam rancangan hingga pertanyaan apakah segmentasi ini sesuai dengan kebudayaan dan tingkah laku masyarakat pengguna?

Terlepas dari fenomena pro dan kontra tersebut, sesungguhnya terdapat satu sifat dasar manusia yang ingin ditunjukkan sebagai salah satu latar belakang terjadinya segmentasi dalam dunia arsitektur modern, yakni upaya pemenuhan kebutuhan self esteem seorang individu terhadap ruang. Dalam hal ini, self esteem dapat diartikan sebagai upaya penghargaan terhadap usaha yang dicapai seorang individu.

Hubungan antara self esteem dengan segmentasi arsitektur dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yakni saat mendeskripsikan tempat tinggal. Seringkali kita menyebutkan bahwa dalam hunian tersebut terdapat 3 kamar tidur, satu ruang keluarga, dan sebagainya. Dimana memiliki tiga kamar tidur lebih baik dari hanya memiliki dua kamar tidur, dan sebagainya. Tak ada yang salah dengan pernyataan ini. Namun, bila kita lihat secara seksama, ada suatu pesan dasar yang ingin disampaikan. Dengan jumlah kamar atau ruang yang lebih banyak, maka sudah dipastikan bahwa nilai self esteem (baik ekonomi maupun aspek lainnya) dapat terpenuhi.

Kondisi ini sangat terasa bila kita berbicara mengenai ruang tamu dan dapur kotor-bersih. Ruang-ruang ‘berkegiatan khusus’ ini sering menjadi acuan masyarakat dalam menilai baik/buruknya tempat tinggal yang dihuni. Mapan/ tidak penghuni tersebut. Padahal bila dilihat secara seksama, dalam  berkegiatan sehari-hari overlapping ruang merupakan hal yang secara sadar.tidak sadar terjadi.

Keinginan masyarakat untuk menonjol, dihargai, dan diakui juga tercermin dari ‘komoditi’ arsitektur yang dimilikinya. Ruang dengan kegiatan khusus melahirkan ruang-ruang yang diukur secara kuntitatif sebagai usaha menjawab keinginan self esteem manusia modern. Ini yang membawa kita pada makna ruang yang berbeda, bahwa segmentasi ruang, pengelompokkan ruang secara khusus, diperlukan bukan lagi sebagai upaya kita mengakomodir kegiatan namun sebagai sarana pengakuan diri.

25
Dec
10

Siapa seharusnya yang menggunakan toilet difabel..?

Berbagai tempat di Jakarta telah menyediakan toilet yang memadai. Toilet memadai disini dimaksudkan kepada penyediaan toilet difabel, yaitu toilet yang didesain khusus bagi para penyandang cacat dan lansia. Yang membedakan toilet biasa dengan toilet difabel adalah dimensi. Toilet difabel yang merupakan toilet duduk ini berukuran 2-3 kali lebih besar dibanding toilet biasa. Dalam toilet difabel terdapat banyak pegangan yang bertujuan membantu para difabel untuk duduk atau berdiri sehingga memudahkan mereka untuk buang air. Selain itu, ukuran kloset lebih tinggi dari kloset pada umumnya agar para difabel dapat dengan mudah duduk jika ia pindah dari kursi roda ke kloset.

Di kantor, pusat hiburan dan perbelanjaan, dan tempat publik lainnya sudah menyediakan toilet khusus bagi para difabel. Toilet difabel pada umumnya diletakkan dalam satu ruangan dengan toilet biasa. Toilet difabel biasanya diletakkan pada bilik paling dekat dengan pintu masuk. Hal ini bertujuan supaya para difabel dengan mudah menjangkau toilet tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Namun ternyata pada kenyataannya banyak orang yang karena terburu-buru ingin buang air dan malas berjalan jauh untuk bilik yang lebih jauh, mereka memasuki toilet difabel karena paling dekat dengan pintu masuk. Bagaimana jika ketika toilet difabel mereka pakai, dan pada saat yang sama ada difabel yang ingin memakai toilet tersebut..?

Hal ini lebih kepada kebiasaan dan budaya dari pengguna toilet. Banyak tempat yang para pengguna toiletnya tidak akan memasuki toilet difabel walaupun toilet biasa penuh sekalipun, sehingga mereka harus mengantre toilet biasa. Walaupun beberapa kejadian, ketika toilet penuh dan toilet difabel kosong cleaning service mengijinkan orang yang mengantre untuk memasuki toilet difabel. Namun, karena tidak ada pengguna biasa yang memasuki toilet difabel, makanya orang-orang tidak memasuki toilet ini walaupun toilet biasa penuh. Namun, jika sebelum-sebelumnya telah ada pengguna biasa yang menggunakan toilet difabel, nantinya akan diikuti oleh yang lain. Hal ini menunjukkan kebiasaan dan mencontoh perilaku orang-orang sekitar.

Kebiasaan dan perilaku orang-orang seperti ini sebenarnya tidak menjadi masalah besar bagi orang lain. Simpel memang. Namun, perilaku mereka ini tidak pada tempatnya, yang seharusnya mereka tidak lakukan malah mereka lakukan. Mereka secara tidak langsung mengambil hak para difabel dalam penggunaan toilet mereka. Sudah tersedia toilet umum yang lebih banyak dari toilet difabel yang hanya terdapat satu dalam tiap ruang toilet, tetapi karena kemalasan dan ketidakpedulian mereka menggunakan toilet yang seharusnya tidak mereka gunakan.

Apakah kebiasaan itu akan terus dipertahankan..? Apakah toilet difabel boleh digunakan siapa saja..?

25
Dec
10

intervensi pengamen pada pengemudi kendaraan bermotor

Kita semua tentu saja sudah tidak asing dengan keberadaan pengamen serta peminta-minta di area sekitar lampu lalu lintas. Saat lampu lalu lintas berwarna hijau, mereka berkumpul di trotoar di pinggir jalan, dan ketika lampu berubah menjadi hijau, dengan serempak merekapun mengerubuti kendaraan-kendaraan yang berhenti di hadapannya. Modus yang dilakukan juga bervariasi, mulai dari bermain alat musik seperti gitar kecil atau sekedar botol air mineral yang diisi beras, menepuk tangan sambil bernyanyi, sampai sekedar menunjukkan wajah yang memelas guna menarik simpati para pengendara.

Walaupun hanya beraksi saat lampu lalu lintas menyala merah, tanpa disadari aktivitas meminta-minta ini cukup memberikan intervensi berarti bagi kelancaran lalu lintas dan penggunaan ruang yang dibutuhkan oleh pengendara. Hal ini dapat dilihat saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan para pengamen masih setia mencari nafkah diantara kendaraan-kendaraan yang sudah siap menancap gas dan melanjutkan perjalanan. Keberadaan para pengamen di antara kendaraan membuat pengendara harus lebih berhati-hati agar tidak “menyenggol” para pengamen yang berlalu lalang di jalan raya. Tidak jarang para pengamen ini menyeberang seenaknya di hadapan kendaraan yang sedang akan melaju sehingga semakin menghambat lalu lintas pengendara.

Yang lebih mengganggu lalu lintas daripada pengamen yang berlalu lalang adalah para pengemis yang duduk di pinggir jalan dengan menjulurkan kakinya ke jalan raya dan bahkan terkadang duduk di separator busway. Hal ini saya alami sendiri setiap harinya sepulang dari kuliah. Di daerah Pondok Indah terdapat seorang anak kecil yang selalu duduk di separator busway dan meminta-minta kepada kendaraan yang lewat. Aksinya ini membuat saya seringkali kaget dan memperlambat kendaraan mendadak karena takut tidak sengaja melindas kakinya yang terjulur ke jalan raya.

Hal ini sangatlah sederhana namun memberi efek yang cukup besar bagi keseharian para pengguna jalan raya, terutama karena fenomena ini terjadi hampir di seluruh lampu merah yang ada di kota besar ini. Penertiban yang sering dilakukan oleh polisi lalu lintas kepada para pengamen ini sebenarnya selain dikhususkan untuk menimbulkan niat bekerja bagi mereka, juga sangat membantu melancarkan arus lalu lintas pengendara kendaraan bermotor yang melintas.

26
Dec
09

PKL – Membasmi Jamur di Tempat Lembab

Kaki lima merupakan sebuah fenomena yang biasa saja dan seringkali saya tidak hiraukan. Namun, saya mulai tertarik dengan fenomena ini sejak saya melakukan suatu survei di daerah Kampung Melayu. Pada saat itu saya diharuskan menganalisis sesuatu, dan mulailah saya merasakan bahwa ada sesuatu pada fenomena tersebut.

Kakilima menempati tempat yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk ditempati. Seringkali mereka dirazia dan dibersihkan dari ‘tempat’nya. Apabila mereka sudah dibersihkan dan tempat itu tidak dijaga oleh petugas ketertiban, maka lambat laun mereka akan bermunculan kembali. Ketika mereka muncul, mereka akan diusir kembali. Dan hal ini sebenarnya menjadi hal yang akan terus  berulang.

Fenomena ini menurut saya seperti upaya kita untuk memberantas jamur di tempat lembab tanpa membuat tempat tersebut menjadi kering. Selama masih tetap lembab, mereka akan bermunculan terus menerus. Tempat yang biasa di’hijack’ oleh para pedagang kaki lima sebenarnya memang daerah yang bisa mendatangkan keuntungan bagi mereka dan tempat dimana untuk sementara waktu (sampai mereka belum terusir), mereka aman menjajakan dagangannya. Biasanya tempat tersebut merupakan trotoar di depan sebuah rumah yang tidak terpakai. Berdasarkan teori affordance di mana mereka melihat tempat itu sebagai tempat yang ‘baik’ untuk mereka ‘hijack’, maka mereka akan terus kembali ke tempat itu untuk menjajakan dagangannya.

Hal yang menurut saya membuat saya cukup geli adalah pemerintah yang tidak menyadari hal ini dan tetap melakukan upaya yang sama untuk menghadapi masalah yang sama. Menurut saya, ada empat cara yang dapat dilakukan pemerintah yaitu memfasilitasi mereka, mencari tempat baru yang baik bagi mereka, membuat tempat tersebut menjadi tempat yang tidak sesuai untuk membuat mereka ‘tumbuh’, atau yang terakhir dengan mengeluarkan biaya lebih dengan membayar petugas ketertiban berjaga setiap hari. Selama salah satu dari ketiga cara ini tidak dilakukan, maka hampir bisa diperhatikan usaha pemerintah tidak akan berhasil.

Saya tak berpendapat bahwa pedagang kaki lima itu jelek. Karena sampai saat ini saya dapat memanfaatkan jasa mereka walaupun sesekali mengganggu kenyamanan. Namun saya pikir seharusnya pemerintah lebih bijaksana dalam memerintah dan perancang haruslah lebih memahami fenomena ini. Misalnya saja terminal, tempat ini seharusnya menyediakan ruang untuk pedagang berjualan. Terdapat kebutuhan dari para penumpang untuk makan ataupun minum. Dan juga terdapat kebutuhan pedagang untuk berjualan. Hal inilah yang membuat terminal meskipun tidak dirancang untuk menyediakan tempat berjualan, tetapi pasti akan tetap ada yang berjualan di sana legal ataupun tidak.

Untuk itulah, maka ini adalah tugas bagi para arsitek untuk lebih memperhatikan fenomena seperti ini.

24
Dec
09

Order in Disorder

Robert Venturi, “a valid order accomodates the circumstantial contradictions of a complex reality….When circumstances defy order, order should bend or break: anomalies and uncertainties give validity to architecture.” Complexity and Contradiction in Architecture, pp 46-47.)

Pedagang kaki lima seringkali dianggap suatu disorder, sebuah nuisance diantara bangunan atau jalan yang tertata rapi . Tapi mengapa mereka tetap ada? Ternyata kehadiran mereka dibutuhkan . antara lain oleh orang kantor untuk makan siang dan bagi orang-orang hal tersebut tidak menganggu malah dibutuhkan .Hanya saja setelah dilihat lebih dalam mereka memiliki jam-jam tersendiri dalam beroperasi , misalnya ada yang buka saat jam 6 malam dan mereka berjualan pada tempat- tempat yang sama. Ada pola-pola yang tetap dibaliknya. Di balik sebuah sesuatu yang telihat berantakan , ternyata tercipta sebuah pola yang teratur. Apa yang sebenarnya disebut disorder? Apakah sesuatu yang terlihat berantakan dan tidak teratur? Atau order adalah sesuatu yang tertata rapi? Pada saat survey ke site, kita mengamati dan melihat keadaan yang terlihat complicated dan semerawut, tetapi ternyata ditemukan suatu pola yang teratur seperti adanya jadwal kegiatan , tempat-tempat berkumpul . Jadi sebenarnya mereka menciptakan sebuah keteraturan dalam lingkungan mereka yang kadang bagi orang luar telihat tidak teratur. untuk membereskan sesuatu,kita tidak sekedar menumpuk barang-barang lalu dibuat seteratur mungkin tetapi lebih mengembalikan sesuatu ketempatnya. Tanpa sadar saat membuat sesuatu menjadi order, kita mencari disorder yang terlihat di permukaannya saja tanpa memperhatikan lebih dalam mengapa ada disorder tersebut. Kadang-kadang karena ingin buru-buru membereskan disorder , seperti pada penggusuran pedagang kaki lima yang memunculkan disorder-disorder lainnya. Untuk itulah kita harus mengetahui bagaimana disorder itu muncul dan memperhatikan bagaimana ia bekerja sehinnga dapat memunculkan suatu order yang baru.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers