Masalah memang sudah menjadi salah satu hal yang selalu hadir dalam kehidupan kita, termasuk kehidupan bersama dengan individu lainnya di dalam sebuah society. Masalah hadir sebagai sesuatu yang mengganggu atau sesuatu yang dapat mengancam atau merusak tatanan hidup yang baik. Namun, apa sebenarnya ‘tatanan kehidupan yang baik’ tersebut?
Dalam proses pengerjaan project Perancangan Arsitektur, hal tersebut dipertanyakan oleh sang fasilitator, memangnya seperti apa kehidupan, yang dalam hal ini kehidupan urban, yang baik itu? Dalam project ini kami mengangkat suatu isu yang ada di dalam society, melihat apa saja masalah yang ada yang diperoleh dari survey, dan selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut sebagai seorang perancang dalam suatu wujud rancangan arsitektur. Ketika saya membicarakan mengenai isu dan program yang saya ajukan, beliau bertanya, “Apakah mereka benar-benar membutuhkannya?” “Apakah kalau bangunan tersebut tidak ada akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?” Kemudian beliau menjelaskan, ada perbedaan antara ‘want’ dengan ‘need’.
‘Want’ di sini merupakan keinginan seorang perancang untuk membuat suatu kehidupan menjadi lebih baik (seperti dalam pengertian life cultivation). Seorang perancang melihat adanya suatu ketidakterarutan dalam society ketika mereka menjalankan kehidupa, maka ia merasa hal tersebut perlu dibenahi. Namun bagaimana kalau masyarakat sudah merasa nyaman dengan keadaan tersebut? Apakah kalau seandainya kita melakukan suatu intervensi di sana akan membuat keadaan menjadi lebih baik? Oleh karena itu, arsitek harus memahami betul apa ‘need’ dari masyarakat. Kita harus benar-benar mengenali masyarakat dan kehidupannya agar tahu apa yang benar-benar dibutuhkan mereka, jadi tidak hanya sekedar mewujudkan keinginan kita, karena apa yang kita inginkan belum tentu bermanfaat bagi mereka. Inilah pentingnya partisipasi masyarakat dalam membuat sebuah project arsitektur.
comments