Ayoo, siapa ligat dia dapat, siapa kuat dia dapat!
Begitu anggapan saya saat ingin menaiki bikun di pagi hari dari hari Senin sampai Jumat.
Bikun adalah singkatan yang biasanya mahasiswa UI sebut untuk bis kuning.
Bikun ini sendiri terbagi berdasarkan jalurnya, ada sebutan bikun yang berwarna merah dan ada yang berwarna biru. Maksudnya bukan bisnya yang berwarna merah atau biru, melainkan ada sebuah tanda kertas seukuran A3 yang dipampang di depan kaca bis ini sebagai tanda jalur mana yang akan dilewati oleh si bikun warna biru atau merah. Bikun yang memiliki tanda merah akan melewati jalur Fakultas hukum terlebih dahulu sedangkan bikun yang memiliki tanda biru akan melewati fakultas teknik terlebih dahulu.
Namun sayangnya, ada suatu fenomena yang biasa terjadi saat pagi hari bahwa bikun tersebut menjadi penuh sesak, orang-orang berebutan, tidak ada sistem antrian. Apalagi jika sudah tiba rombongan mahasiswa yang naik kereta, halte stasiun tersebut menjadi semakin ramai, orang-orangpun berebutan untuk naik bikun duluan. Semua bertumpuk di stasiun, bahkan ada beberapa orang yang dengan gampangnya turun di psikologi tanpa memikirkan jarak betapa dekatnya halte stasiun dengan psikologi, betapa ramainya orang-orang yang butuh bikun untuk tujuan yang lebih jauh. Mereka lebih memilih naik bikun daripada hanya berjalan sedikit. Saya berpikir “Kenapa dia tidak turun di stasiun saja tadi, penuh-penuhin saja” Di pagi hari memang sangat ramai bahkan ada yang sudah menunggu lama tapi tidak kedapatan bikun, semua berebutan tidak ada sistem antrian yang baik.
Sangat disayangkan bahwa sebenarnya ada alternatif lain untuk mencapai fakultas masing-masing selain bikun. Contohnya adalah sepeda kuning, akan tetapi sepeda kuning tersebutpun baru bisa dipakai pukul 08.00 WIB, sedangkan jam padat-padatnya orang naik bikun adalah jam 08.00 WIB kurang karena banyak para mahasiswa yang masuk kuliah pagi.
Mereka saling berebutan karena takut telat dan takut tidak dapat tempat di dalam bikunnya serta takut harus menunggu bikun yang lainnya lagi datang. Terkadang saya kesal karena saya telah menunggu lama namun karena didesak orang-orang banyak dan saya malas untuk melawan maka cenderung saya lebih memilih mengalah karena tidak mau berebutan.
Lantas bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa arsitek dalam menanggapi hal ini? Bagaimana bisa orang-orang lebih mau memilih transportasi umum jika keadaanya seperti ini. Jika tidak menggunakan transportasi umum bagaimana bisa mengurangi macet di sekitar stasiun UI pada pagi hari. Jika sistemnya seperti ini maka orang-orang tentu akan lebih cenderung naik kendaraan pribadinya sendiri dibanding menggunakan transportasi umum UI dan jika begitu maka lahan parkir akan semakin banyak dibutuhkan sehingga membuat lahan hijau juga akan semakin berkurang. Contohnya parkiran motor fakultas teknik yang kini telah diperbesar.

Terkait dengan hal sebelumnya, saya mencoba untuk mengaitkan dengan penggunaan trotoar di jalan Basuki Rahmad, Kp.melayu. Pada trotoar jalan di atas sungai ciliwung, dimana di bagian bawah jalannya tinggal beberapa komunitas pemulung penghuni kolong jembatan. Pemulung-pemulung ini terlihat memarkirkan gerobaknya di sepanjang trotoar. Bahkan terlihat beberapa gerobak yang di rantai mengikat ke pagar jembatan trotoar. Apa yang didapat dengan melihat kondisi yang demikian? para pemulung tersebut mengkonsumsi trotoar tersebut bukan sebagai sebuah tempat pedestrian tetapi tempat mereka menaruh gerobaknya, mereka melihat adanya the others dari trotoar tersebut, mereka mengkonsumsi trotoar tersebut bukan yang seharusnya trotoar tersebut diperuntukkan. Mereka melihat adanya suatu potensi dari pagar pembatas, bagaimana bentuk dari pagar tersebut sehingga mereka bisa merantaikan gerobak mereka. Ada suatu kepraktisan yang muncul, melihat mereka yang tinggal di kolong jembatan, akan sulit bagi mereka untuk membawa gerobak mereka bolak balik ke atas (jalan).
comments