Arsitektur tidak pernah lepas dari disain. Disain bukan merupakan sekedar produk akhir, tetapi berupa proses berpikir yang panjang. Dan kemampuan ini yang semua orang bisa kuasai.
Bagi sebagian orang, untuk bisa mendisain diperlukan kecerdasan otak kanan yang didominasi oleh kemampuan yang berhubungan dengan estetika. Sementara yang saya tahu, setiap manusia memiliki tendensi kemampuan otak kanan dan kiri yang berbeda-beda. Namun apakah orang dengan kemampuan otak kirinya lebih dominan dari otak kanannya tidak bisa menjadi seorang disainer? Apakah kemampuan mendisain itu bisa dipelajari seperti mempelajari hitungan ilmu pasti?
Ternyata disain merupakan sebuah keahlian yang sulit dipelajari karena tedapat kekompleksan di dalamnya. Pada dasarnya disain bisa dipelajari dan dipraktekkan. Karena disain tidak hanya sekedar melihat sisi seninya, tetapi ilmu dan teknologi juga mempengaruhinya. Jika kita bandingkan seorang ilmuwan dengan disainer, maka pola berpikir seorang disainer lebih dari sekedar memikirkan sains, tetapi juga seni. Sementara ilmuwan hanya terikat pada pola-pola metode secara ilmiah. Dengan kata lain seorang disainer mempunyai cara berpikir lebih kompleks daripada ilmuwan, sehingga disainer harus bisa menyeimbangkan kecerdasan otak kiri dan kanannya. Namun bagaimana jika belum seimbang?
Kreatifitas dan disain merupakan dua hal yang saling terkait. Kreativitas lahir bukan sekedar dari situasi yang tidak stabil melalui pemikiran-pemikiran yang bercabang. Menurut saya kreativitas itu lahir melalui pemikiran yang lurus maupun bercabang dalam kondisi stabil maupun tidak, asalkan kita bisa menyeimbangkankannya dengan situasi yang ada. Hanya saja dosis pemakaian pemikiran bercabang harus lebih boros daripada yang lurus. Tapi kenyataannya, kebanyakan orang lebih suka berpikir secara lurus daripada bercabang. Karena berpkir dengan menggunakan nalar dan logika lebih gampang dikendalikan daripada imajinasi. Namun justru hal ini yang sulit dimiliki oleh setiap orang karena pemikiran manusia cenderung sudah terkotak-kotak.
Pengalaman adalah guru yang baik. Tapi bagi saya, ungkapan ini tidak pantas digunakan dalam mendisain. Pengalaman hanya akan membatasi ruang berpikir kita sehingga menjadi terkotak-kotak. Namun efeknya, banyak kesalahan yang dapat terjadi karena tidak adanya patokan kasus sebelumnya. Tetapi hal ini justru akan memberikan pelajaran yang lebih bermakna.
Disain tidak akan ada tanpa adanya kreativitas. Dan kreativitas tidak akan ada tanpa adanya keberanian berpikir. Namun keberanian berpikir harus ada yang bisa melandasinya agar tidak terlalu liar. Disini kecerdasaan otak kiri bisa memfilter keliarannya. Karena jika seseorang sudah mencoba untuk bepikir secara bebas, kecenderungannya orang tersebut lupa akan adanya hal-hal yang rasional dan tidak. Sehingga seni dan ilmu harus bisa berjalan selaras karena seni dapat diwujudkan dengan ilmu dan ilmu menjadi bermakna dengan adanya seni.
comments