Posts Tagged ‘society

30
Dec
10

makan teman

Kita sudah sering mendengar istilah makan teman yang lebih akrab disebut dengan MT. Apabila ada orang yang sudah melakukan suatu tugas dan teman yang lain tidak, maka orang tersebut kita katakan sebagai orang yang MT. Kita cenderung untuk mensejajarkan diri dengan lingkungan di sekitar kita. Kita cenderung untuk berada dalam state of equlibrium dengan lingkungan kita baik itu merupakan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Apabila kita telah menyelesaikan tugas di antara teman-teman lain yang belum menyelesaikannya kita cenderung untuk tidak mengungkapkannya karena takut disebut sebagai orang yang MT- entah dengan menjauhi mereka atau tidak membicarakan tentang hal tersebut. Ketika ada yang menanyakan “sudah bikin apa aja buat PA”, kita cenderung menjawab dengan statement “belum bikin apa-apa” atau setidaknya “baru bikin ini…” Kita tidak ingin dilihat sebagai orang yang sombong. Bayangkan apabila mayoritas teman sudah menyelesaikan tugas, tapi hanya saya sendiri yang belum. Saya pasti akan keluar dari lingkungan sosial tersebut entah dengan ke tempat yang tidak terlihat oleh mereka untuk menyelesaikan tugas  saya atau melepaskan emosi saya di suatu tempat ataupun mencari tempat yang ramai untuk mengalihkan perhatian saya. Saya akan pergi ke lingkungan sosial yang baru. Pertanyaannya adalah apakah kita harus berada pada “state of equilibrium tersebut”? Beranikah kita untuk “get out of the box” dan melakukan sesuatu hal yang berbeda dari apa yang dilakukan oleh orang lain di sekitar kita?

26
Dec
10

“anak mall”

Pusat perbelanjaan atau mall sekarang ini sedang  marak dibangun di Jakarta.  Banyak orang yang menentang pembangunan mall yang berarti menutup daerah resapan air.  Orang-orang yang menentang tersebut berpendapat bahwa lebih baik dibuat sebuah taman kota daripada sebuah gedung pusat perbelanjaan (lagi). saya sesungguhnya termasuk dari orang-orang yang pada awalnya berpendapat demikian.  Mall sudah banyak terdapat di jakarta, untuk apa dibangun lagi?  Namun, setelah saya berpikir lebih dalam, pendapat ini dapat dibilang terlalu naif bagi masyarakat Jakarta.

Mengapa saya berpendapat demikian? saya melihat fenomena yang cukup aneh yang terjadi hampir di seluruh Indonesia, Jakarta khususnya.  Fenomena ini adalah ramai (atau sangat sangat sangat ramai)nya pusat perbelanjaan di Jakarta pada saat menjelang hari raya, akhir tahun, atau event-event lain.  Pusat perbelanjaan dimanapun dipenuhi orang-orang yang sibuk memborong barang-barang hasil ‘buruannya.  Ya, semua pusat perbelanjaan DIMANAPUN.  hal ini berarti masyarakat Jakarta akan terus datang ke suatu mall yang, katakan baru dibuka dan padahal mereka awalnya mengatakan bahwa mereka tidak setuju dibangun mall (lagi) di daerah tersebut, namun mereka pada akhirnya tetap datang dan berbelanja (yang berlebihan dan sesungguhnya tidak diperlukan)  di situ. Mall manapun akan terlihat ramai di event-event tertentu.

Hal ini tidak lepas dari sifat masyarakat Jakarta yang memang cenderung konsumtif.  Namun, apakah mereka pada dasarnya memang segitu konsumtifnya?  Ini berhubungan pula dengan pihak mallnya sendiri.  Ketika telah dibangun mall di suatu tempat, maka secara tidak langsung akan mengubah pola hidup orang di sekitarnya.  Contohnya, orang yang rumahnya berada di daerah tersebut akan datang ke mall, padahal tadinya ia jarang belanja karena alasan jarak yang jauh.  Orang yang sudah biasa datang ke mall (biasanya) akan ‘ketagihan’ dan terus menerus datang ke sana.

Saya sendiri mengakui bahwa saya termasuk dari orang yang ‘ketagihan’ datang ke mall.  di luar saya mengakui bahwa “aah bosen ke mall terus” tapi ketika jadwal kuliah sedang padat, saya akan berkata “aah bosen nih pengen jalan-jalan ke mall” atau “aduh kangen nih ke mall”.  itu bukti bahwa saya menjadi salahsatu ‘korban mall’.  dan pastinya hal ini juga terjadi pada hampir semua masyarakat Jakarta. Mall sudah menjadi seperti sebuah kebutuhan.

Lalu, ketika melihat kenyataan yang ada, mulai muncul pertanyaan “dengan kehidupan masyarakat Jakarta yang seperti ini, pantaskah dibuat sebuah lahan hijau sebagai pengganti mall?”  apakah nantinya akan bermanfaat bagi sebagian masyarakat? atau hanya akan menjadi sebuah tempat pusat kriminal-vandalisme, transaksi terlarang, perkumpulan kelompok tertentu ,dll- apakah masyarakat yang sudah terbiasa refreshing dengan pergi ke mall akan mau “berpindah haluan” ke taman kota?  ini semua adalah karena kebiasaan pergi ke mall yang sudah tertanam sejak dulu, maka untuk mengubahnya akan sulit, karena tergantung pada diri masing-masing..

membangun taman kota instead of mall tidaklah salah. ini semua sesungguhnya bergantung pada societynya. pertanyaannya: maukah kita mengubah kebiasaan menjadi lebih baik, sehat, hemat, dan tidak merusak lingkungan?  jangan hanya memprotes pembangunan mall, lalu ketika mall sudah dibangun kita pergi kesana sesering mungkin sedangkan pergi ke taman kota sendiri tidak pernah..

25
Dec
10

intervensi pengamen pada pengemudi kendaraan bermotor

Kita semua tentu saja sudah tidak asing dengan keberadaan pengamen serta peminta-minta di area sekitar lampu lalu lintas. Saat lampu lalu lintas berwarna hijau, mereka berkumpul di trotoar di pinggir jalan, dan ketika lampu berubah menjadi hijau, dengan serempak merekapun mengerubuti kendaraan-kendaraan yang berhenti di hadapannya. Modus yang dilakukan juga bervariasi, mulai dari bermain alat musik seperti gitar kecil atau sekedar botol air mineral yang diisi beras, menepuk tangan sambil bernyanyi, sampai sekedar menunjukkan wajah yang memelas guna menarik simpati para pengendara.

Walaupun hanya beraksi saat lampu lalu lintas menyala merah, tanpa disadari aktivitas meminta-minta ini cukup memberikan intervensi berarti bagi kelancaran lalu lintas dan penggunaan ruang yang dibutuhkan oleh pengendara. Hal ini dapat dilihat saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan para pengamen masih setia mencari nafkah diantara kendaraan-kendaraan yang sudah siap menancap gas dan melanjutkan perjalanan. Keberadaan para pengamen di antara kendaraan membuat pengendara harus lebih berhati-hati agar tidak “menyenggol” para pengamen yang berlalu lalang di jalan raya. Tidak jarang para pengamen ini menyeberang seenaknya di hadapan kendaraan yang sedang akan melaju sehingga semakin menghambat lalu lintas pengendara.

Yang lebih mengganggu lalu lintas daripada pengamen yang berlalu lalang adalah para pengemis yang duduk di pinggir jalan dengan menjulurkan kakinya ke jalan raya dan bahkan terkadang duduk di separator busway. Hal ini saya alami sendiri setiap harinya sepulang dari kuliah. Di daerah Pondok Indah terdapat seorang anak kecil yang selalu duduk di separator busway dan meminta-minta kepada kendaraan yang lewat. Aksinya ini membuat saya seringkali kaget dan memperlambat kendaraan mendadak karena takut tidak sengaja melindas kakinya yang terjulur ke jalan raya.

Hal ini sangatlah sederhana namun memberi efek yang cukup besar bagi keseharian para pengguna jalan raya, terutama karena fenomena ini terjadi hampir di seluruh lampu merah yang ada di kota besar ini. Penertiban yang sering dilakukan oleh polisi lalu lintas kepada para pengamen ini sebenarnya selain dikhususkan untuk menimbulkan niat bekerja bagi mereka, juga sangat membantu melancarkan arus lalu lintas pengendara kendaraan bermotor yang melintas.

23
Dec
10

Antara ‘want’ dan ‘need’

Masalah memang sudah menjadi salah satu hal yang selalu hadir dalam kehidupan kita, termasuk kehidupan bersama dengan individu lainnya di dalam sebuah society. Masalah hadir sebagai sesuatu yang mengganggu atau sesuatu yang dapat mengancam atau merusak tatanan hidup yang baik. Namun, apa sebenarnya ‘tatanan kehidupan yang baik’ tersebut?

Dalam proses pengerjaan project Perancangan Arsitektur, hal tersebut dipertanyakan oleh sang fasilitator, memangnya seperti apa kehidupan, yang dalam hal ini kehidupan urban, yang baik itu? Dalam project ini kami mengangkat suatu isu yang ada di dalam society, melihat apa saja masalah yang ada yang diperoleh dari survey, dan selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut sebagai seorang perancang dalam suatu wujud rancangan arsitektur. Ketika saya membicarakan mengenai isu dan program yang saya ajukan, beliau bertanya, “Apakah mereka benar-benar membutuhkannya?” “Apakah kalau bangunan tersebut tidak ada akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?” Kemudian beliau menjelaskan, ada perbedaan antara ‘want’ dengan ‘need’.

‘Want’ di sini merupakan keinginan seorang perancang untuk membuat suatu kehidupan menjadi lebih baik (seperti dalam pengertian life cultivation). Seorang perancang melihat adanya suatu ketidakterarutan dalam society ketika mereka menjalankan kehidupa, maka ia merasa hal tersebut perlu dibenahi. Namun bagaimana kalau masyarakat sudah merasa nyaman dengan keadaan tersebut? Apakah kalau seandainya kita melakukan suatu intervensi di sana akan membuat keadaan menjadi lebih baik? Oleh karena itu, arsitek harus memahami betul apa ‘need’ dari masyarakat. Kita harus benar-benar mengenali masyarakat dan kehidupannya agar tahu apa yang benar-benar dibutuhkan mereka, jadi tidak hanya sekedar mewujudkan keinginan kita, karena apa yang kita inginkan belum tentu bermanfaat bagi mereka. Inilah pentingnya partisipasi masyarakat dalam membuat sebuah project arsitektur.

26
Dec
08

Should they think imaginatively or realistically?

Sebagai mahasiswa arsitektur kita belajar bagaiamana mendesain atau merancang sesuatu dan hal ini selalu terkait erat dengan manusia. Tetapi ketika merancang ini terkadang kita seringkali menggunakan imajinasi kita, keinginan untuk membuat sesuatu yang ‘menakjubkan’. Namun terkadang imajinasi kita tidak seluruhnya dapat diwujudkan

Dalam hal ini sebenarnya saya mempertanyakan ketika masih dalam proses pembelajaran, sebenarnya yang diperlukan adalah kekreativitasan kita dalam merancang atau berpikir secara realistik. Karena terkadang jika kita berpikir realistik kita merasa terbatasi dan  menjadikan kita takut untuk berpikir lebih luas. Akan banyak sekali mungkin hal yang tidak  dapat dengan mudahnya terwujudkan. Dan akan banyak hal yang harus kita pertimbangkan mulai dari struktur, utilitas, dll. Tetapi sebenarnya jika yang saya lihat justru selama saya sebagai mahasiswa arsitektur yang dituntut kepada kami adalah kami mampu merancang sesuatu yang terlihat unik, yang berbeda dan seringkali istilah kita harus ‘out of the box’, dan ketika saya pikirkan kembali ya seorang arsitek memang harus demikian. Selain itu konsep dari merancang tersebut dapat dikatakan haruslah kuat. Sehingga terkadang yang terjadi adalah kuat di konsep tetapi dilihat dari desain biasa saja. Atau kita mencoba merancang sesuatu yang unik tetapi jika dipikirkan kembali rasanya tidak realistik.

Padahal jika kita masuk ke dunia kerja, semuanya adalah realistik, segala imajinasi kita selama kuliah mungkin tidak dapat dengan mudahnya kita aplikasikan. Jadi sebenarnya sebagai seorang arsitek sejauh mana kita dapat menggunakan imajinasi kita dan seberapa besar kita harus berpikir secara realistik. Atau sebenarnya ketika saya berbicara antara imajinasi dan kreativitas adalah merupakan 2 hal yang berbeda?

Jadi jika saya mencoba untuk berpikir kembali mengenai hal di atas menurut saya bagi seorang arsitek dalam proses merancang ada beberapa hal yang terkandung didalamnya antara lain manusia / masyarakat, imajinasi / kreativitas dan kemudian dikaitkan dengan perwujudannya di lapangan (apakah realistik atau justru menjadi tidak kontekstual). Namun seperti yang telah dikatakan jika harus mengkaitkan antara imajinasi dan sesuatu yang realistik, imajinasi tersebut menjadi terbatas.

02
Nov
08

Architecture of the everyday in social context

Everyday Architecture bukan hanya hadir dalam kehidupan kita sebagai seorang individu saja, justru ia mempunyai keberadaan yang sangat besar di tengah-tengah kehidupan kita sebagai mahkluk sosial. Untuk lebih menyadari keberadaannya, mungkin kita dapat melihat everyday architecture dalam konteks kehidupan sosial yaitu sebuah komunitas besar. Menurut saya Everyday architecture adalah arsitektur yang jujur. Ia merepresentasikan manusia yang membuatnya hadir, juga nilai-nilai serta intensi sosial yang ada.

Contohnya, ketika kita menjunjung adanya pendidikan, maka kita membangun sekolah. Ketika kita beranggapan bahwa kesehatan adalah harta paling berharga, maka kita membangun klinik, rumah sakit dan balai kesehatan lain. Ketika Kita hidup sebagai mahkluk ekonomi permodalan, maka kita memerlukan ‘kantor’ atau tempat ‘belanja’. Juga ketika kita hidup sebagai kesatuan yang demokratis, maka munculah civic architecture. Everyday Architecture ini akan digunakan oleh semua orang dalam sebuah kesatuan sosial.

Tidak hanya sampai di situ, pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah arsitektur bagi penididikan telah berhasil mendukung proses belajar? apakah arsitektur bagi kesehatan telah berhasil mendukung penyehatan / penyembuhan? apakah arsitektur bagi kehidupan ekonomi masih menghargai lingkungan? dan apakah civic architecture sudah dapat mewakili kepentingan warganya? akan terus menjadi bagian dari everyday architecture. Ia akan menjadi refleksi dari kehidupan sosial saat ini dan merepresentasikan kesejahteraan sosial masyarakat.

Everyday architecture haruslah merepresentsikan isu-isu keseharian yang terjadi di masyarakat dan pada saat itu pula lah everyday architecture akan berada diantara dialog-dialog sosial dan beragam proses untuk mencapai kualitas sarana pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, kehidupan yang lebih adaptif, tidak konsumtif, hingga ia menjadi inklusif, menjadi sebuah hak, hak bagi seluruh masyarakat.

Pada akhirnya everyday architecture akan meningkatkan kualitas dialog sosial dan menciptakan arsitektur yang inklusif yang akan membuat kita bersama-sama mencapai intensi kita. Disini kita akan menjadi lebih jujur dalam bermasyarakat. Dan saat itu terjadi, Everyday architecture bukan hanya menjadi sebuah hasil cipta dari sebuah ilusi dan bayangan, namun hasil cipta dari realita sosial di masyarakat sekitar.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers