Posts Tagged ‘space

14
Dec
11

menjajah dan terjajah

Dalam sebuah keluarga biasanya terdapat bapak, ibu, dan anak-anaknya, dimana mereka tinggal dalam satu rumah. Dalam rumah sayapun seperti itu, saya tinggal bersama ibu saya, dan kedua kakak saya, tapi kakak saya yang perempuan sekarang sudah pindah rumah, karena dia sudah menikah, sehingga saya sekarang tinggal bersama ibu dan kakak laki-laki saya.

Dulu sebelum kakak saya yang perempuan pindah rumah, dari kami 3 bersaudara hanya dialah yang mempunyai kamar sendiri, dimana saya dan kakak saya berbagi satu kamar. Sebagai anak laki-laki, kami memang mempunyai kebiasaan untuk meninggalkan kamar kami dalam keadaan jorok dan kotor. Pada waktu itu saya masih SMA dan kakak saya sudah bekerja, sehingga dari segi pemakaian kamar, waktu itu sayalah yang paling banyak menggunakan kamar kami, karena saya pulang lebih cepat dari kakak saya, dimana pada waktu itu saya pulang setiap jam 3 dari sekolah, dan kakak saya pulang jam 8 malam dari kerjanya. Tapi dalam kamar kami, lebih banyak terdapat barang-barang kakak saya daripada saya, karena kakak saya adalah seorang kolektor mainan, dan karena dia sudah bekerja, setiap kali dia mendapat gaji, hal pertama yang dia akan beli adalah mainan baru untuk ditambahkan ke koleksinya. Pada awalnya memang tidak apa-apa, tapi seiring dengan berjalannya waktu, semakin lama koleksi mainan kakak saya semakin bertambah, sehingga akhirnya kamar kami pun dipenuhi oleh mainan kakak saya, dari mulai bagian atas lemari baju, sampai ke kolong bawah tempat tidur kami.

Pada saat saya mulai kuliah di arsitektur, saya menjadi jarang tidur di kamar dan lebih sering tidur di luar kamar, karena saya tidak ingin mengganggu tidur kakak saya pada saat saya begadang. Hal ini menyebabkan tempat tidur saya di kamar menjadi tidak terpakai dan kosong. Karena kakak saya tetap terus menambah koleksi mainannya, lama kelamaan kakak saya kehabisan tempat untuk menaruh koleksi mainannya,dan karena dia tidak mau menaruh koleksinya di gudang, akhirnya dia terpaksa memuatkan koleksinya dalam kamar. Karena saya pada waktu itu sudah jarang tidur dalam kamar, sehingga sedikit demi sedikit dia mulai menaruh koleksi mainannya di tempat tidur saya. Pada saat masih sedikit mainan yang ditaruh di tempat tidur saya, saya suka memindahkan koleksi mainannya ke lantai, kalau saya sedang ingin tidur di tempat tidur saya, tapi karena koleksi mainannya terus bertambah akhirnya lama kelamaan saya juga semakin malas untuk memindahkan mainannya ke bawah, dan lebih memilih untuk tidur di luar kamar. Lama kelamaan tempat tidur sayapun menjadi penuh dengan koleksi mainan kakak saya, dan sayapun sejak saat itu sudah tidak tidur di kamar lagi.

Hal ini tetap berjalan terus sampai akhirnya kakak perempuan saya pindah rumah karena menikah, dan saya mendapatkan kamar saya sendiri. Sangat lucu apabila saya mengingat-ingat hal ini, karena sebagai 2 orang yang berbagi satu kamar, kami seharusnya bisa secara seimbang menjadikan kamar itu milik kami berdua, tapi dengan seiring berjalannya waktu, kamar itu bukan menjadi kamar kami, tapi lebih menjadi kamar kakak saya dimana saya menaruh barang-barang saya, dan kadang tidur di situ.

26
Dec
10

Unaka Pahappa?

Unaka Pahappa?

Sang pemilik rumah bertanya kepada saya, hal yang selalu ditanyakan pada saat bertamu ke rumah orang. Saya pun bertanya kepada Umbu Langu, apa maksudnya.

“Unaka pahappa itu bahasa Sumba, artinya mau makan sirih pinang?” jawabnya sembari mengambil sejumlah sirih.

Saya pun mengambil beberapa sirih dan pinang dari piring yang disodorkan tuan rumah. Awalnya saya bingung, namun Umbu Langu lagi-lagi menjelaskan cara memakannya. “yang dimakan pertama, adalah sirihnya” sambil menunjukkan buah sirih yang telah dipotong dan dijemur hingga kering. “Setelah itu, makan pinangnya, sambil dioleskan ke kapur. Ingat, jangan terlalu banyak kapurnya..nanti lidahmu melepuh.” lanjutnya dalam logat Sumba yang kental.

Photobucket

Foto 1: sirih pinang didalam wadah suguhan

Memakan sirih pinang merupakan budaya yang telah berakar pada kehidupan masyarakat Sumba. Tidak pernah sekalipun mereka terpisah dari sirih pinang. Bahkan mereka memiliki tas kecil yang selalu dibawa kemana-mana, khusus berisikan sirih pinang dan bubuk kapur. Setiap orang Sumba yang saya temui, selalu dalam keadaan mengunyah. Bahkan saat bertamu ke rumah orang, sajian pertama yang dikeluarkan adalah sirih pinang, baru kemudian kopi Sumba.

Kunyahan pertama membuat saya sangat terkejut. Rasanya luar biasa pahit! Rasanya saya belum pernah merasakan sesuatu yang sepahit itu. Saya pun meludahkannya dengan spontanitas. “Pahit sekali ini pak?” saya berkata pada tuan rumah. Lalu dia menjawab sambil tertawa, “hahaha ya nanti kau pasti akan terbiasa”. Memang saya harus dapat membiasakan diri, karena selama saya di Sumba, sepertinya saya akan selalu memakannya.

Photobucket

Foto 2 : saya sedang memakan sirih pinang
Photobucket

Foto3: Teman-teman yang terkejut dengan rasa sirih pinang

Dalam memakan sirih pinang, kita harus sering meludah. Ini dikarenakan saat memakan sirih pinang tersebut, air liur didalam mulut kita bertambah, sementara karena sudah tercampur kapur, tidak baik untuk ditelan. Maka pemandangan orang Sumba yang suka meludah disana sini menjadi hal yang umum.

Meludah atau membuang lendir menjadi hal yang biasa mereka lakukan dimana saja. Mereka tidak perlu menggunakan tissue atau bergegas ke kamar mandi untuk membuangnya.
Photobucket

Foto4: Bercak air liur kemerahan seperti ini tidak asing lagi di tanah Sumba

Photobucket

Foto5: Nenek-nenek yang sedang menikmati sirih, duduk di teras rumah menikmati pemandangan

Kebiasaan meludah yang tidak bisa terpisahkan ini ternyata berpengaruh pada interior rumah tradisionalnya.  Pada rumah yang menjadi basecamp kami, terdapat lubang-lubang di lantai yang tersebar secara merata di dekat pertemuan kolom dengan lantai. Pada sisi lubang ini terdapat noda merah yang merupakan tanda bekas sirih pinang. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa penghuni rumahpun biasa mengunyah sirih pinang dan meludahkannya melalui lubang ini ke tanah dibawahnya.

Photobucket

Foto6: Pada rumah yang jauh lebih tradisional, tidak perlu dibuat lubang khusus. Penghuni dapat meludah dari celah lantai bambu.

Meludah, mungkin menjadi hal yang dianggap jorok bagi masyarakat kota seperti Jakarta. Bahkan pada beberapa tempat seperti Singapore, membuang ludah dikenakan denda. Akan tetapi lain halnya dengan apa yang terjadi di Sumba. Membuang ludah, secara tidak mereka sadari, telah menjadi kebiasaan masyarakat sehari-hari. Sesuatu yang kita anggap kotor dan jorok, tidak berlaku di Sumba ini. Suatu kebiasaan sehari-hari yang menjadi unsur budaya unik yang tertanam dalam di hati masyarakatnya masing masing.

Oh iya, pembaca sekalian,

Unaka Pahappa?

26
Dec
10

Bermain dan Bermain

Kalian pernah bermain? Sudah pasti, bahkan sekarang pun masih sering bermain kan? Manusia senang bermain, karena bermain adalah kegiatan yang khas manusiawi dan universal. Ruang lingkupnya tidak memandang usia maupun gender. Dalam permainan terdapat peran-peran yang harus dilakoni. Misalnya dalam permainan tradisional seperti petak umpet, galasin, kelereng, layangan, gasing, dsb. Begitu pula dengan permainan catur, sepakbola, kartu, dll.

Mengapa kita suka bermain? Coba kita lihat pengalaman kita sehari-hari saat bermain. Ketika bermain, terdapat banyak sekali perasaan yang timbul, kepuasan, keceriaan, kesenangan, kesegaran, kebahagiaan, dan lain-lain. Itulah yang dicari dari melakukan sebuah permainan. Yang menarik adalah, dalam bermain kita dapat – atau bahkan diharuskan – membangun sebuah dunia baru yang berbeda dari dunia sehari-hari.

Maka, kita seolah-olah berada di dunia lain yang dapat kita ciptakan sendiri, dimana dunia ini menghasilkan kepuasan batin bagi kita. Dengan bermain, segala urusan sehari-hari bisa sedikit dialihkan. Permainan sanggup membius orang, menghilangkan kebosanan dan kemonotonan hidup, variatio delectate, “variasi itu menyenangkan orang”. Cara agar dunia lain itu tetap eksis, maka setiap orang yang memainkannya harus serius. Patuh pada aturan-aturan bermain yang ada. Karena bila aturan permainan itu dilanggar maka dunia bermain tersebut akan runtuh dan musnah. Meski dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh, tetapi unsur menyenangkan dalam bermain itu tetap ada. Inilah keunikan dari permainan.

Tujuan bermain adalah mencapai kebahagiaan. Kalah menang tak jadi soal. Lagipula tidak semua permainan memakai prinsip kalah menang, misalnya tarian dan drama. Seringkali kita berpura-pura berada di sebuah dunia lain dan memerankan karakter lain yang kita inginkan. Itulah sebabnya banyak permainan modern yang menerapkan konsep tersebut. Misalnya, permainan di komputer atau online game yang memakai avatar sebagai tokohnya, seperti DotA, Ragnarok Online, Second Life, The Sims, dll

Ruang tempat bermain itu sendiri bisa bermacam-macam, dari ruang kecil sederhana di teras rumah kita (misal, bermain catur, kartu, congklak), sampai di lapangan atau jalanan depan rumah kita (misal, bermain petak umpet, kelereng, layangan). Dengan bermain, kita sekaligus memberi nyawa pada ruang tempat kita bermain. Namun, kini permainan-permainan semacam itu telah sedikit terganti dengan tipe permainan baru yaitu permainan digital seperti game online. Jalan-jalan dan gang-gang tidak sehidup dulu lagi, lapangan sering kosong tanpa pemakai, semua beralih ke ruang kecil bersama komputernya masing-masing dan asyik dengan dunianya sendiri.

Akan tetapi, sampai kapanpun, dalam bentuk apapun, permainan akan tetap eksis dan kita akan tetap senang bermain. Karena kita adalah Homo Ludens (manusia adalah  makhluk yang bermain). Ayo bermain!

25
Dec
10

We need space!

Siapa sangka dibalik maket-maket fantastis, rapi, dan penuh cerita yang dibawa oleh para mahasiswa di kampus juga meninggalkan banyak cerita bagi kamar yang ditinggalinya.  Tengoklah kamar saya, contohnya.  Kamar berukuran 3x3meter ini seringkali ‘habis’ dihajar oleh bahan-bahan maket yang menggunung dikala sedang ‘merodi’ mengerjakan maket.  Mulai dari lem yang menempel di lantai, meja,hingga mukena! (ya, saya sempat sangat bingung mencari lem tersebut sebelum menemukannya menempel dan bleber di bawah mukena)

Dahulu (well, tidak lama sebelum saya masuk ars) saya merupakan orang yang terorganisir dalam menyimpan barang-barang, termasuk membersihkannya.  Bagai orang pengidap obsesive-compulsive disorder, saya tidak tahan meninggalkan kamar dengan selembar flyer tergeletak dilantai atau melihat urutan ukuran buku di rak buku yang tidak tersusun baik. Semua berada di tempatnya, tidak tergeletak sembarangan.  Namun kini, semakin saya sering ‘menodai’ kamar dengan potongan-potongan bahan maket dan noda lem membandel, saya semakin putus asa untuk membersihkannya.  (terlebih ibu saya yang sering tidak habis pikir saya bisa bertahan di kamar yang hampir seperti kapal pecah)

Akibatnya, karena biasanya maket-maket selesai pada deadline, saya harus langsung meninggalkan kamar dan cabut ke kampus untuk mengumpulkan tugas/display. (ya, kondisi kamar masih berantakan).  Kontribusi orang-orang dalam rumah pada waktu seperti itu sangat terlihat karena tidak tahan melihat kamar saya berantakan, mereka (ibu dan asisten rumah tangga,red) langsung merapikan kamar saya. (well, berat mengakui dan menulis hal tersebut di blog ini).

Hal tersebut terjadi repetitif sepanjang semester, tidak jarang pula barang-barang pendukung perkuliahan (penggaris, cutter, alat gambar, dll) hilang dan ikut tersapu pada saat dibersihkan.  Efeknya, ibu sering membelikan wadah-wadah besar agar saya bisa langsung ‘menyemplungkan’ barang maket habis-pakai.

Tidak hanya itu, serpihan maket yang tertinggal bisa menyebabkan gangguan kesehatan.  Dibantu oleh sapuan pendingin ruangan (AC) serpihan-serpihan kecil itu dapat membuat gangguan pernapasan (batuk-batuk) serta alergi.  (well, setidaknya begitu asumsi saya, mengingat bahan maket kebanyakan dari kapa/birmet yang dibeli di pabrik kertas daur yang berdebu).

Last but not least, kerugian yang paling nyata disebabkan oleh proses pembuatan maket adalah pemakaian ruang yang sangat besar alias makan tempat.  Pertama kali saya membuat maket saya berpikir “oh yeah, ini maket pertama, akan saya simpan di kamar, tidak boleh rusak!”. kedua kali pun begitu hingga kini kamar sudah dipenuhi oleh bahan maket, kertas-kertas dan maket-maket yang pernah dibuat dulu.  (Bahkan ada teman yang menambah rak dalam dua tahun terakhir dan tetap terisi penuh).  hingga kini saya (dan beberapa teman) berpikir untuk meninggalkan maket-maket yang sudah jadi tersebut di studio sampai pada waktunya nanti kelas akan dibersihkan oleh Pak Endang, kami akan mengangkutnya kembali ke rumah, ke kamar, yang makin sempit.

Well, itulah fenomena keseharian yang saya temui.  Para Architect-wannabe ini dipenuhi kesibukan untuk mencari penyelesaian keruangan di kampus hingga lupa untuk memerhatikan ruangnya sendiri.  Pretty sad, but that’s the truth.

 

25
Dec
10

Reproduksi

Semester ini mahasiswa arsitektur 2007 dan arsitektur interior 2009 menempati studio baru yang terletak di luar dari bangunan Departemen Arsitektur. Studio baru tersebut berada di lantai 6 gedung S Fakultas Teknik, disebelah gedung Pusat Administrasi Fakultas. Jarak yang jauh dari Departemen Arsitektur dan berbagai fasilitas lainnya membuat kami, mahasiswa yang menempati studio lantai 6 gedung S, mereproduksi ruang.

Gedung S sebenarnya sudah memiliki musholla. Musholla pria di lantai 5 dan musholla wanita di lantai 3. Pada awal semester, kami masih menggunakan musholla ini. Namun, lama kelamaan kami membuat sendiri musholla di tempat yang masih kosong di lantai 6. Musholla ini hanya berupa alas sholat sebesar kira-kira 1,5 x 1,5 m. Namun pada akhirnya kami lebih sering sholat di sini.

Keengganan kami untuk menggunakan musholla di gedung S memiliki berbagai alasan. Salah satunya adalah masalah kepraktisan. Untuk sholat di lantai 3 kami harus turun menggunakan tangga, mengantri wudhu dengan mahasiswa jurusan lain, mengantri tempat sholat dengan mahasiswa jurusan lain juga (karena luasnya yang terbatas) dan kemudian naik lagi ke lantai 6 menggunakan lift atau tangga. Bila ingin menggunakan lift, kami harus menunggu lagi. Sedangkan untuk sholat di lantai 6, di musholla yang kami reproduksi dari ruang kosong, kami hanya perlu mengambil air wudhu di toilet yang seringkali sepi, lalu kemudian sholat di seberang ruangan tanpa harus mengantri. Selain masalah waktu, kami juga lebih merasa memiliki musholla ini daripada musholla yang di lantai 3. Berada di studio sendiri, dimana sebagian besar waktu kami dihabiskan di sini, dengan orang-orang yang juga kami kenal.

25
Dec
10

duduk dimana ya?

pengalaman menggunakan angkutan umum dari terminal kampung melayu, memungkinkan saya untuk dapat tempat duduk. angkutan umum yang saya gunakan adalah metromini. dengan tempat duduk 2-2 dan menghadap ke depan semua. ada yang dekat jendela dan ada yang tidak. ketika naik, seringnya, tempat duduk belum terisi atau baru 2-3 orang saja yang duduk. kesempatan untuk boleh memilih ini membuat saya berhenti sejenak di depan pintu untuk memutuskan mau duduk dimana. biasanya yang saya pertimbangkan adalah cari yang sendirian, duduk di samping jendela, jangan yang terkena panas matahari, dan jangan terlalu di belakang. yang membuat lama adalah memutuskan sebelah mana yang tidak terkena panas matahari, dugaan saya sering meleset karena ketika metromini sudah berjalan sinar yang datang juga berpindah.
metromini tersebut biasanya akan “ngetem” dulu untuk menunggu sampai penuh, bukan semua bangku terisi, melainkan sampai yang berdiri pun berdesakkan. saat seperti ini biasanya saya jadi memperhatikan penumpang-penumpang yang baru naik. ternyata, fenomena berhenti sejenak di depan pintu tidak hanya terjadi pada saya.

ketika bangku masih banyak yang kosong, orang-orang akan cenderung memilih bangku yang belum ada pasangan duduknya. dan bagian dekat jendela selalu terisi lebih dulu. setelah itu, penumpang berikutnya akan memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk memutuskan “duduk disebelah siapa”. biasanya, terjadi pemisahan secara gender, yang wanita duduk dengan wanita, dan yang pria cenderung duduk di bangku paling belakang atau paling depan dekat supir. ketika bangku sudah terisi semua, penumpang berikutnya juga berhenti di depan pintu, dengan muka agak masam, dan biasanya dia akan memutuskan untuk berdiri tak jauh dari pintu. ini yang terjadi jika penumpang datang tidak bergerombol.
jika penumpang datang berbondong-bondong, misalnya ketika kereta ekonomi baru saja tiba. penumpang-penumpang ini tidak akan berhenti sejenak di depan pintu, tapi langsung naik dan berpikir sambil berjalan ke arah tempat duduk. “yang penting dapet duduk dulu”. para wanita kemudian akan mengisi gang antar bangku untuk berdiri, dan para pria di dekat pintu bersama sang kondektur.

disini terlihat jelas fenomena hidden dimension, dimana pada awalnya dia memiliki bubble yang besar dengan dengan duduk sendiri-sendiri, kemudian semakin mengecil dengan bertambahnya penumpang. dan dapat hilang sama sekali ketika dia menjadi penumpang yang berdiri dan berdesakan bersama penumpang yang lain. perasaan aman bagi seorang wanita ketika berdesakan bersama sesama wanita, dan para pria yang memiliki naluri sebagai pelindung akan bergeser di dekat pintu yang posisi berdirinya lebih berbahaya.

25
Dec
10

Minggu pagi di alun alun kota..

Anak-anak berseragam olahraga berlarian, sebagian menghampiri para pedagang gerobak makanan dan minuman di jalanan alun-alun, sebagian lain bermain basket dengan asyiknya di lapangan, ada pula yang sekedar duduk-duduk di pinggiran sambil berbincang dengan temannya. Pemandangan inilah yang biasa terlihat di alun alun kota Serang sehari-harinya.  Namun tak sama halnya ketika hari minggu tiba. Jalanan  tempat anak-anak berlari  dan trotoar bertransformasi menjadi  ‘pasar dadakan’ ,  berbagai pedagang kaki lima menjajakan barang dagangannya.  Yang dijual tidak tanggung-tanggung mulai dari makanan dan minuman, hingga pakaian, tas, buku, bantal, mainan, bahkan tanaman dan hewan peliharaan juga tersedia. Semua lengkap untuk memenuhi keinginan berbelanja  masyarakat.

Tidak hanya dapat puas berbelanja atau sekedar mencuci mata, alun-alun juga menjadi tempat yang menyenangkan bagi orang tua yang memiliki anak yang masih kecil. Lapangan basket di hari minggu ‘disulap’ menjadi taman bermain anak-anak. Ada bom-bom car, mandi bola, odong-odong, bianglala mini, gelembung sabun, balon, dan lain sebagainya yang membuat anak-anak betah bermain.

Para orang tua yang senang olahraga pun dapat mengikuti senam pagi di lapangan basket sebelahnya.  Jalanan di depan lapangan menjadi tempat instruktur  senam memperagakan gerakannya. Sebagian orang lainnya datang hanya  untuk nongkrong di pagi hari dengan kenalannya, atau hanya sekedar menghabiskan waktu libur.

Apa yang terlihat di alun-alun sangat semrawut, penuh orang, penuh kegiatan yang sebenarnya tidak tepat pada tempatnya.  Namun, alun-alun menjadi tempat yg dianggap sebagian masyarakat menyenangkan di minggu pagi.  Tempat yang dituju banyak orang untuk berkumpul, berolahraga, atau sekedar jalan-jalan.  Dulu, sebelum saya mendapatkan kuliah keseharian dan arsitektur, saya menganggapnya sebagai  chaos, menyimpang dari yang seharusnya, merusak pemandangan kota, namun sekarang saya mempertanyakannya kembali, apakah alun-alun seperti inilah yang sebenarnya berfungsi dengan baik?

23
Dec
10

What’s in a name?

“What’s in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”

- Juliet Capulet in Romeo & Juliet -

 

“Ruang itu tidak pernah netral”, pikir saya. Coba lihat sekeliling dan sebutlah sebuah area yang dapat disebut ruang. Disadari atau tidak, ruang-ruang tersebut  selalu dimiliki atau diokupasi oleh subyek tertentu. Tempat pribadi maupun tempat publik tak terlepas dari ‘kepemilikan’ (belum tentu memiliki secara sah) akan ruang. Kursi-kursi dalam gerbong kereta, taman kota di Fatahilah, teduhan halte, bahkan hutan liar sekalipun punya tuannya.

Ada fenomena yang sangat menarik tentang ke-tidak-netral-an suatu ruang. Seringkali kita menjejakkan nama kita, secara harafiah, pada ruang. Rasanya hampir di setiap meja SD dulu saya dapat melihat cairan tip-ex membentuk nama. Berbagai warna pylox juga seringkali terceplak di tembok-tembok pagar bangunan. Dari kata-kata romansa macam “DEWI SAYANG ANDI”, hingga kata-kata berang yang tak perlu saya beri contoh, juga seringkali tergurat di batang pohon. Entah dengan maksud mengintervensi ruang tersebut, atau sekedar iseng belaka, jejak nama tersebut pada akhirnya menciptakan ke-tidak-netral-an ruang dengan tegas dirasakan.

What’s in a name? Apa yang sebenarnya berusaha dinyatakan lewat jejak nama tersebut?

Itu punyaku

Di film Harry Potter & The Deathly Hollow, ada sebuah adegan ketika Harry (dengan wujud samaran menjadi staf di Kementerian Sihir) memasuki ruang milik Umbridge. Tanda tersebut cukup jelas karena di depan ruangan tersebut tertera nama itu. Ketika Harry keluar ruangan, semua orang langsung menatapnya karena keberadaan Harry disana adalah tidak biasa.

Harry telah memasuki teritori yang bukan miliknya, dan sebuah tulisan nama di depan pintu sangat jelas untuk menandakan teritori tersebut. Begitu juga dengan tulisan-tulisan yang tertera di meja belajar di kelas, seringkali menandakan bahwa meja tersebut adalah meja yang biasa ia pakai sehingga tidak boleh dipakai oleh orang lain.

Nama memang tidaklah memberikan penjelasan tentang siapakah kita, namun jejak nama jelas dapat memberikan batasan semu akan adanya sebuah teritori yang dimiliki tuannya.

I write therefore I am

Kadang-kadang kita juga dapat menemukan nama-nama geng di tembok-tembok yang seakan berbicara bahwa itu wilayah geng tersebut. Padahal, ruang tersebut bukan benar-benar milik mereka. Biasanya berbagai nama muncul kemudian, berusaha menyaingi nama geng tersebut.

Saya rasa mereka cukup pintar untuk menyadari bahwa dengan menorehkan nama mereka di tembok bukan berarti mereka akan memiliki ruang tersebut. Apa yang mereka lakukan lebih tepat jika kita katakan sebagai wujud pernyataan eksistensi mereka.

Peran yang dilakukan ruang adalah menjadi wadah untuk menunjukkan ke-eksis-an (berjarak tipis dengan ke-narsis-an). Di saat mereka tidak hadir disana, nama mereka akan selalu hadir, walaupun pada akhirnya mungkin tidak ada yang peduli dengan ke-eksis-an tersebut, kecuali mereka sendiri.

Tujuan serupa saya temukan dalam proyek SD Cilandak yang dilakukan di awal pembelajaran mata kuliah Keseharian dan Arsitektur. Di dalam salah satu elemen desain yaitu daun-daunan kertas yang dibuat oleh siswa SD, nama-nama mereka dibiarkan tertera di daun tersebut. Keberadaan nama tersebut mungkin tidak penting bagi siswa lain, namun bagi siswa pembuat daun tersebut, nama itu menjadi wujud eksistensi mereka atas daun yang mereka buat, dan itu adalah sebuah kebanggaan baginya.

What’s in a name? Hm.. Nama lain mungkin bisa semanis mawar, namun siapa peduli manis pahitnya nama ketika nama bukan sekedar rasa.

27
Oct
10

mulai mengerti fungsi arsitektur

beberapa saat yang lalu saya mengunjungi suatu tempat di daerah sunda kelapa, dan tiba waktu zuhur, akhirnya saya dan teman-teman saya memutuskan untuk melaksanakan kewajiban solat zuhur dulu. kami menemukan sebuah masjid. awalnya saya tidak merasakan ada kejanggalan namun ketika ingin buang air kecil saya bingung mengapa di depan toilet wanita ada bilik-bilik, dan ternyata ini adalah tempat pria membung air kecil. bisa dibayangkan bagaimana sirkulasi orang di spot ini, saat ada wanita yang akan menuju ke toilet maka dia akan mengarah ke bagian bilik-bilik tersebut. dan terasa suatu ketidaknyamanan. disini dapat dilihat kasus bahwa arsitektur bukan hanya mengenai sebuah keindahan dan estetika namun masalah kenyamanan serta rasa saat kita menggunakan atau mengadakan suatu interaksi dengan bangunan. hal ini sering kita temui dalam keseharian arsitektur dimana suatu bangunan kadang perletakan ruang-ruangnya mempersulit penggunanya sendiri, maka disinilah dipahami fungsi keberadaan arsiektur.

27
Oct
10

kamar mandi sarana interaksi

ruang interaksi merupakan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. manusia tidak akan lepas dengan kebiasaannya berinteraksi (ngobrol).Tidak tersedianya ruang untuk berinteraksi mengakibatkan individualisme bagi setiap individu atau interaksi yang hanya dengan sesamanya. segala kebutuhan di ringkas, berada dalam satu ruangan. dan menjadi wilayah privat. dan wilayah publik menjadi hal yang minim sehingga kurang terjadi interaksi. hal ini terjadi kos-kos an kutek pada umumnya. kos-kosan di kutek menyediakan kamar-kamar dengan fasilitas yang memadai di dalamnya. minimal kamar tidur lengkap dengan kamar mandinya. dan lebihnya ada televisi bahkan AC. keberadaan segala fasilitas yang berada dalam satu ruangan ini agar penghuni lebih efisien dalam waktu  dan tidak perlu lagi keluar kamar. penghuni hanya keluar untuk membeli makan dan selebihnya dilakukan di dalam kamar. karena mementingkan efisiensi tersebut,hal yang terjadi kebanyakan justru mengakibatkan pengurangan dimensi seperti yang terjadi di kamar mandi, kamar mandi menjadi relatif sempit dan tidak memenuhi standard kenyamanan. saya pernah menemui kamar mandi kos yang berukuran kira-kira 1.5×1.2 m sampai-sampai jongkok pun susah dan bersentuhan dengan dinding-dinding kamarmandi. selain itu pula, karena sebagian besar kebutuhan setiap penghuni telah terpenuhi di dalam kamar, penghuni merasa nyaman di dalam kamar dan malas untuk berinteraksi dengan penghuni lain.

dan ketika ruang publik menjadi hal yang dominan dari pada ruang privat maka interaksi akan lebih terjalin. hal ini terjadi di kos uswatun khasanah kutek. memang jumlah kamar kos ini tidak banyak (17 kamar) tidak seperti kos-kosan kutek lainnya yang jumlahnya melebihi 20 kamar. 17 kamar ini terbagi 2 antara lantai atas lantai dasar.akan  tetapi interaksi tersebut dalat terjalin. di kos an ini, wilayah privat hanyalah kamar tidur. dan kamar mandi menjadi wilayah publik. kamar mandi menjadi zona publik ini ternyata memiliki dampak terhadap interaksi bagi penghuninya. seperti ketika di dalam kamar mandi tersebut ada orang, dan ada orang lain yang akan menggunakan juga maka org trsebut akan berkata paling tidak ” ada orang ya??masi lama g? ” dan lama kelamaan karena menjadi keseharian maka hubungan antar penhuni menjadi semakin akrab tanpa menyinggung hati penghuni lain. Dan dapat dilihat dari perkataannya “woi cepetan woi..lama bgt..kebelet nih”.

dari penjelasan di atas, sebuah interaksi tidak hanya di wujudkan dengan sebuah ruang luas dengan properti yang di gunakan bersama akan tetapi dengan adanya  kamar mandi yang bersifat umum di kos-kosan pun dapat menghasilkan ruang interaksi. selain kamar mandi masih banyak lagi ruang yang dapt mengintervensi penghuni kos sehingga interaksi antar penghuni terjalin.

27
Oct
10

Keseharian Arsitektur dalam Toilet Wanita

Tentu saja istilah “cat fight” sudah tidak asing lagi di telinga kita. Cat fight merupakan istilah yang digunakan untuk mengilustrasikan pertengkaran antara dua orang wanita baik sekedar pertengkaran mulut ataupun mulai menjurus ke arah fisik. Walaupun beberapa wanita mampu menahan diri dan mempunyai kesabaran tinggi, namun lebih banyak wanita yang emosinya mudah tersulut oleh hal yang sangat sepele. Pada kesempatan ini, saya akan membahas term cat fight yang sering terjadi di dalam toilet wanita di tempat publik yang sedang ramai serta kaitannya dengan keseharian dan arsitektur.

Bila anda seorang wanita dan pernah menggunakan fasilitas toilet umum di pusat perbelanjaan, mungkin anda pernah menyaksikan secara langsung perdebatan antara dua wanita mengenai siapa yang seharusnya masuk ke bilik toilet terlebih dahulu serta bagaimana pola mengantri yang paling tepat. Pola mengantri dalam sebuah toilet wanita dapat dianalisis melalui bentuk arsitektural dari toilet tersebut. Apabila bilik-bilik toilet hanya berada pada satu sisi dengan space mengantri yang cukup luas di depan pintu bilik, umumnya para pengguna toilet tidak akan segan untuk saling menyerobot dan berdiri di depan pintu bilik dengan jumlah pengantri yang paling sedikit. Sedangkan apabila bilik berjajar di kedua sisi ruangan dengan space mengantri yang sempit, umumnya pengguna toilet akan mengantri membentuk satu garis di ujung bilik terluar dan pengantri terdepan dapat masuk ke bilik manapun yang terlebih dahulu kosong. Yang seringkali menimbulkan pertengkaran adalah adanya pengguna toilet yang dengan santainya berjalan menyalip antrian pada jenis toilet nomor dua dan mengantri di depan bilik layaknya pola antrian nomor satu.

Pola mengantri seperti ini tidak pernah diberlakukan secara tertulis, melainkan merupakan perilaku keseharian yang timbul berdasarkan adaptasi terhadap bentuk arsitektural dan berkembang dengan sendirinya. Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa perilaku manusia dalam kesehariannya sangat dipengaruhi oleh arsitektur sekecil apapun pola perilaku tersebut, dan sedikit saja kesalahan dalam mengadaptasi pola yang sudah ada dapat menimbulkan intervensi bagi pelaku keseharian yang lainnya.

27
Oct
10

Kerinduan dan Ruang Kegiatan Sehari-hari

Hal ini cukup menarik bagi saya, karena saya mengalami hal ini secara langsung dalam beberapa bulan terakhir ini. Saya mengalami sebuah transisi dalam mengalami dan memanfaatkan ruang keseharian di rumah saya. Transisi ini terkait pada sebuah perubahan signifikan yang terjadi dalam keluarga.

Seumur hidup saya, saya selalu tinggal dengan kedua orang tua dan tiga adik saya. Hal-hal tidak pernah berubah selama 20 tahun saya hidup. Setiap anak memiliki kamar masing-masing. Kamar orang tua berada di lantai bawah dan anak-anak di atas. Dengan fasilitas individu dan kepribadian setiap anak yang memiliki kesukaan yang berbeda-beda, perlu diakui bahwa kami berempat tidak terlalu sering berada pada ruang yang sama pada hari-hari biasa. Bahkan masing-masing dari kami memiliki kamar mandi sendiri. Masing-masing anak benar-benar melakukan kegiatan di kamar masing-masing. Saat saya masuk kuliah, komunikasi makin jarang terjadi karena perbedaan jam kegiatan. Dan selama ini, masing-masing dari kami terbilang jarang sekali memasuki dan menginvasi kamar tidur yang lain.

Tahun 2010 menjadi tahun yang cukup besar bagi keluarga kami. Adik perempuan saya masuk kuliah kedokteran dan memutuskan untuk kos karena jarak dan keadaan jalanan tidak memungkinkan untuk pulang pergi setiap hari dan adik laki-laki saya diterima untuk menjalankan program magang di sebuah hotel di Bali untuk 6 bulan. Rumah yang selalu terisi empat anak tiba-tiba berubah menjadi dua anak saja. Empat kamar yang selalu terisi dengan listrik yang menyala setiap saat, tiba-tiba berkurang menjadi dua saja. Rumah menjadi sepi.

Walaupun intensitas komunikasi dan invasi saya terhadap kamar adik-adik saya terbilang sangat rendah, seiring jalannya waktu ternyata rasa kehilangan dan sepi di rumah semakin terasa. Saya mulai tidak nyaman tidur sendiri. Mulai saat itu, saya memutuskan untuk beberapa kali tidur bersama di kamar adik saya yang paling kecil. Karena letaknya yang bersebelahan dengan kamar adik perempuan saya yang kos, saya mulai beberapa kali masuk ke dalamnya untuk sekedar melihat-lihat dan meminjam kamar mandi. Kemudian saya juga beberapa kali masuk ke kamar adik laki-laki saya untuk hanya sekedar menumpang bersantai karena ia memiliki tempat tidur terbesar dan ternyaman diantara kami semua. Saya juga mulai berkegiatan mengerjakan tugas di ruang keluarga, karena di lantai atas suasananya sepi. Tidak ada lagi sayup-sayup suara televisi dari tiga kamar adik-adik yang selalu memasang saluran yang berbeda-beda.

Uniknya, hal-hal di atas tersebut akhirnya menjadi rutinitas saya selama 3 bulan terakhir ini. Saya hampir tidak pernah masuk ke kamar saya sendiri selain untuk mengambil baju dari lemari. Saya tidur setiap hari bersama adik saya yang kecil di kamarnya, mandi di kamar adik perempuan saya yang kos, santai-santai sore di kamar adik lelaki saya dan mengerjakan tugas di ruang keluarga. Ruang kegiatan saya yang tadinya hampir tidak pernah keluar dari satu pintu, sekarang menjadi lebih luas dan sangat beragam. Untuk melakukan alur kegiatan harian, jarak yang saya tempuh lebih jauh dan ruang yang saya alami lebih banyak.

Saya melihat hal ini sebagai fenomena betapa kerinduan terhadap keberadaan seseorang dapat mempengaruhi arsitektur ruang kegiatan sehari-hari. Kerinduan terhadap keberadaan orang-orang dan kegiatan mereka yang terlah menjadi bagian hidup saya. Saya “butuh” ada mereka, maka dari itu saya butuh menggunakan ruang yang biasa mereka gunakan, hanya untuk sekedar merasakan kehadiran dan jejak-jejak kegiatan mereka. Kerinduan terhadap keberadaan ini akhirnya berujung pada terjadinya sebuah perubahan dalam alur kegiatan harian dan lokasi-lokasi kegiatan saya sehari-hari.

27
Oct
10

PELEBARAN JALAN: SOLUSI YANG MENIMBULKAN PERMASALAHAN BARU

Baru-baru ini jalan utama Margonda Raya Depok diperluas. Kondisi terdahulu dengan 2 jalur masing-masing arah kini menjadi 3 jalur. Tujuan walikota pasti saja untuk menanggulangi kemacetan kota Depok. Akan tetapi, apakah tujuan ini berhasil atau justru mendatangkan permalahan lainnya?

Sebagai pengguna jalan Margonda setiap harinya, saya merasa bahwa solusi untuk menanggulangi kemacetan yang ada dengan memperlebar jalan bukanlah jawaban yang tepat. Jalur paling baru (paling pinggir) justru sekarang digunakan untuk parkir mobil. Hal ini dikarenakan parkiran mobil yang dimiliki bangunan-bangunan komersil sepanjang Margonda seperti ruko-ruko terpotong akibat lebaran jalan. Kemacetan pun terjadi saat mobil hendak parkir dan keluar parkiran.

Permasalahan lain yang muncul adalah tidak adanya trotoar sepanjang jalan. Dengan demikian kesempatan para pejalan kaki untuk menyusuri sepanjang jalan Margonda pun terhapuskan. Begitu pula dengan orang-orang yang menggunakan kendaraan umum, mereka tidak memiliki lagi area untuk menunggu angkutan umum. Hal ini justru membahayakan para pengguna jalan karena kemungkinan mereka terserempet mobil menjadi besar.

Kemudian permasalahan lainya adalah saluran air yang tidak baik sepanjang jalan. Pembangunan jalan tersebut tidak diiringi dengan perbaikan saluran air yang ada sehingga saat hujan, terjadi banjir sepanjang jalan dan menjadi semakin parah dari kondisi sebelumnya. Banjir yang terjadi kini menutupi jalan hingga separatr jalan tidak terlihat lagi, bahkan untuk mobil minibus kira-kira setinggi ban mobil minibus. Hal ini menimbulkan kemacetan karena banyak mobil yang akhirnya memilih menepi dan ada juga yang mogok.

Jadi, melihat permasalahan-permasalahan yan ditimbulkan akibat pelebaran ini membuat saya khawatir dengan kondisi jalan Margonda selanjutnya. Akankah dia mampu memenuhi kebutuhan para pengguna jalan baik pejalan kaki, pengguna angkutan umum serta kendaran yang melaluinya? Apalagi mengingat fungsinya sebagai jalan utama di kota Depok.

26
Oct
10

Antara cari yang lebih mudah, atau memang tidak terpenuhi kebutuhannya

Antara cari yang lebih mudah, atau memang tidak terpenuhi kebutuhannya

Semenjak pertengahan tahun ini, saya mendapat studio baru untuk menjalani kehidupan belajar perarsitekturan saya. Tepannya, di gedung S lantai 6. Karena berada di lantai 6, saya dan teman-teman saya menjadi cukup malas untuk kemana-mana. Apa lagi lift yang ada hanya satu dan berkapasitas 10 orang. Padahal gedung ini juga digunakan oleh mahasiswa jurusan lain untuk kuliah. Hal ini membuat saya dan teman-teman saya sebisa mungkin melakukan semuanya di lantai 6 ini.

Kegiatan studio memakan waktu seharian. saya pribadi, sebagai seorang muslim, saya harus melewati sholat dzuhur dan ashar setiap harinya ketika sedang studio. pada awal saya mulai menggunakan studio di lantai 6 ini, saya masih sering menggunakan musholah yang disediakan gedung ini. musholah yang disediakan ada di lantai 3. musholah ini hanya berkapasitas sekitar 10 orang dan musholah ini digunakan oleh semua pengguna gedung. di jam-jam sholat terkadang sangat penuh. jarak dan kondisi membuat saya dan teman-teman saya sangat malas untuk menggunakan fasilitas yang disediakan. akhirnya salah satu teman saya dari angkatan 2009 yang juga menggunakan studio di lantai 6, berinisiatif membawa sajadah yang akhirnya dapat digunakan untuk sholat di studio. akhirnya disalah satu spot, diletakan lah sajadah tersebut dan disanalah saya dan teman-teman biasanya sholat. saya pribadi merasa kegiatan sholat saya menjadi lebih mudah. dekat dan praktis. tidak perlu naik turun tangga dan bisa cukup fleksibel. kalau pun harus antri, itu semua yang menggunakan teman-teman saya. jadi sangat merasa tidak terbebani. sekarang, sudah bertambah pula yang membawa sajadah sehingga yang sholat dalam waktu yang sama jadi lebih banyak.

menurut saya, ini adalah salah satu respon terhadap kurang terpenuhinya kebutuhan, dalam hal ini kebutuhan untuk beribadah. selain itu, ini juga merupakan salah satu cara kami untuk dapat membuat kami merasa lebih nyaman dan mudah. lebih mudah karena jaraknya dekat, dan karena dekat, saya bisa sholat kapan saja bahkan di tengah-tengah presentasi. lebih nyaman karena saya merasa itu milik saya dan teman-teman saya. ketika ada perasan memiliki ini tentu saja pasti akan merasa lebih nyaman.

Menurut saya, ini lah salah satu contoh keseharian dalam arsitektur. Terkadang apa yang coba disediakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna seperti tidak menjawab kebutuhan tersebut. Yang saya liat, pemaknaan ruang dengan kegiatan lain merupakan kecenderungan respon manusia untuk lebih membuat dirinya nyaman. Walau terlihat seperti disorder, ini lah keseharian dan arsitektur tersebut. Arsitektur adalah tentang bagaimana kebutuhan manusia akan ruang dapat terpenuhi. Pemaknaan ruang dengan kegiatan yang tidak seharusnya disana merupakan suatu bentuk pencarian pemenuhan kebutuhan antara karena arsitektur tidak terpenuhi maupun karena keiinginan manusia akan sesuatu yang lebih mudah.

26
Oct
10

Pengaruh Pemerintah dalam Keseharian

Keseharian suatu komunitas ataupun individu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Selain terpengaruh, keseharian juga dapat diintervensi oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah pihak pemerintah. Studi mengenai intervensi yang dilakukan pemerintah, saya ambil adalah kebiasaan masyarakat India mengenai sanitasi dan bagaimana pemerintah India mempengaruhi keseharian mereka.

Masyarakat India memiliki keseharian mengenai sanitasi yang sangat buruk. Salah satu penyebab terbesarnya adalah karena pengadaan toilet dan kebiasaan buang air besar sembarangan. Karena tingginya tingkat kematian akibat diare di India, pemerintah India akhirnya mulai menyadari akan pentingnya mengambil langkah dalam penyadaran akan pentingnya kebersihan. Langkah-langkah yang diambil pemerintah dapat berupa sosialisasi atau berbentuk reward kepada warga.

Sosialisasi dilakukan dengan memperkenalkan slogan “na byahun beti us ghar mein jismein na ho shauchalaya” yang dalam bahasa Inggris “won’t get my daughter married into a household which doesn’t have a toilet”. Pemerintah India melakukan pendekatan secara tidak langsung dengan membuat warganya merasa malu jika tidak memiliki toilet pribadi.

Selain sosialisasi, pemerintah India juga memberi reward kepada warganya yang berkeinginan untuk membangun toilet pribadi di rumah masing-masing. Berbeda dengan usaha pemerintah yang pertama, usaha kedua ini lebih bersifat langsung dengan memberikan reward. Usaha ini berbeda dengan yang pertama karena usaha pertama diharapkan menimbulkan kesadaran warga, sedangkan usaha kedua belum tentu menimbulkan kesadaran. Namun, kesadaran dapat hadir setelah pembuatan toilet pribadi dimana warga merasa nyaman dan bersih setelah memiliki toilet pribadi.

Kedua buah hal tersebut di atas menghasilkan perkembangan yang cukup besar. Dari data oleh the times India yang diambil sejak tahun 2005 hingga Januari 2010, telah dibangun total 1,417 juta unit toilet oleh keluarga di seluruh India. Dimana 947 ribu unit toilet dibangun oleh keluarga menengah ke atas, sedangkan sisanya sebesar 470 ribu unit toilet dibangun oleh keluarga menengah ke bawah.

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemerintah dalam keseharian masyarakatnya cukup besar. Namun, tidak seperti aktivis, local group, atau bahkan arsitek, pengaruhnya terlihat lebih pasif. Aktivis, local group dan arsitek melakukan intervensi secara langsung, seperti melakukan workshop, seminar, dan pembangunan fisik sehingga hasilnya dapat dilihat secara langsung. Berbeda dengan peran pemerintah, hasilnya baru dapat terlihat dalam jangka waktu yang cukup panjang.

26
Oct
10

24h(our architecture)

Commuter, cerminan masyarakat perkotaan yang memiliki kebutuhan dalam menempuh jarak dari satu tempat ke tempat lain. Besarnya jarak yang memisahkan tempat-tempat tersebut mengakibatkan adanya kebutuhan-kebutuhan ‘spontan’ yang muncul dalam kurun waktu perpindahan. Upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat commuter inilah yang mengakibatkan adanya potensi arsitektur yang dapat digali lebih mendalam.

Contoh sederhana, pernahkah anda mengalami situasi kurang beruntung, dimana saat sedang berkendara, anda sangat menginginkan membuang air kecil? Apa yang akan anda lakukan? Kemanakah anda akan melaju? Mungkin beberapa dari kita akan menjawab mencari kamar mandi di manapun itu! Masjid, pompa bensin, bahkan numpang kamarmandi restaurant fastfood 24 jam-pun menjadi salah satu alternatifnya! Perilaku ini mengisyaratkan bahwa manusia yang dalam keadaan ‘kepepet’ akan menggunakan naluri paling sederhana untuk mencapai pemenuhan kebutuhan, walau sedang bekendara sekalipun.

Dalam hal ini masjid, SPBU, serta restaurant fastfood, oleh para masyarakat commuter, dinilai dapat menjawab tantangan kebutuhan-kebutuhan ‘spontan’-nya. Masjid yang merupakan tempat ibadah kaum umat muslim cenderung mempunyai ‘lifecycle 24 jam’, tiadanya batas waktu dalam beribadah, mengisyaratkan bahwa ia selalu terbuka bagi siapapun. Sedangkan, SPBU dilain sisi cenderung memiliki jarak tak jauh satu dengan yang lain, dinilai sangat strategis bagi para commuter. Walau mungkin sebagian masyarakat menilai tempat-tempat tersebut hanya sebagai tempat ‘singgah sementara’, sesungguhnya produk-produk arsitektur ini sangat dekat dengan kita.

Diatas dijelaskan bahwa membuang hajat sebagai satu contoh sederhana, disadari atau tidak,menghasilkan pemahaman yang berbeda akan tempat-tempat dengan program yang mungkin sangat sederhana namun sesungguhnya menjadi 24h(our architecture), arsitektur kita, bagi sebagian masyarakat. 24h(our architecture), sebagai sebuah produk arsitektur yang ‘dekat’ dengan kita, ‘ramah’ dengan kita, serta selalu ‘terbuka’ bagi kita. Yakni dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan minimnya batas dalam ruang publik (sehingga kita tidak segan menggunakan fasilitas publik tersebut), lokasi strategis yang memungkinkan bagi commuter, pemanfaatan waktu yang compact dalam proses, serta tak tertinggalkan, menjadi salah satu alternatif bila kita ingin membuang air kecil diperjalanan. Satu contoh kecil, namun nyata, dalam kehidupan masyarakat commuter. Jadi, bila situasi tersebut terjadi pada diri anda, dimanakah anda akan segera singgah? apa makna tempat tersebut bagi anda?

26
Oct
10

Belajar dari rumah sakit..

Komunitas terbentuk karena sebuh kesamaan yang mendasari mereka. Entah terdapat kesamaan pada tujuan, penderitaan, kegemaran, atau apapun itu. Namun kadang komunitas baru akan terbentuk apabila ada wadah yang mewadahi sekumpulan orang itu untuk berinteraksi.

Pada sebuah rumah sakit di jakarta timur, terdapat kawasan rawat inap yang menarik bagi saya. Bangsal rawat inap ini memiliki sebuah koridor yang panjang sebagai area sirkulasi umum bagi pengunjung untuk sebagai penghubung antar bangsal. Koridor ini panjang, sehingga cukup melelahkan untuk dilalui seluruhnya, tapi sekaligus menyegarkan bagi pasien-pasien yang biasanya menghabiskan waktu di tempat tidur sepanjang waktu. Koridor ini berupa sekaligus balkon sehingga saat pagi hari, cahaya yang masuk cukup banyak sehingga terasa hangat sedangkan saat siang hari cahaya matahari yang panas terhalang oleh sebuah pohon besar di depan koridor ini. Masih terasa panas, namun tidak terlalu menyengat. Pada malam hari terasa dinginnya angin malam, meyakinkan pasien-pasien untuk tetap beristirahat di dalam ruangan. Koridor ini dilengkapi dengan beberapa tempat duduk di setiap depan ruangannya. Hasilnya, hampir setiap pagi pasien-pasien ke luar ruangan kamarnya untuk sekedar duduk-duduk, berjalan-jalan melepas penat selama di dalam kamar, atau sekedar berjemur saja menikmati cahaya pagi. Pasien-pasien ini memenuhi kebutuhan mereka sebagai makhluk sosial; berinteraksi.

Terlihat seorang pemuda, ditemani istrinya, yang dengan tergopoh-gopoh berjalan bolak-balik sembari membawa botol yang berisi cairan berwarna merah yang terhubung ke selang yang tersebunyi di dalam kaosnya, menyapa setiap penghuni bangsal yang dilewatinya. Terlihat sesekali ia berhenti dan mengobrol dengan beberapa orang. Ada pula ibu-ibu paruh baya yang duduk di teras, walaupun dengan tangan masih tersambung kepada selang infus, mengajak berbicara atau sekadar tersenyum dan bertanya “mau kemana?” kepada setiap orang yang melewatinya. Ada juga bapak-bapak yang nampaknya sudah sehat dan sekedar duduk-duduk menikmati udara dan cahaya pagi layaknya suasana hangat seperti ini adalah hal yang sudah lama tak di rasakannya. Para perawat yang biasanya melalui koridor belakang pun rutin setiap pagi mengunjungi pasien-pasien di setiap kamar lewat koridor ini, melewati pasien-pasien yang sedang di koridor ini, dan mau tak mau, lagi-lagi menyapa orang-orang yang berkumpul di koridor ini. Akhirnya secara tidak sadar, terjadi semacam interaksi rutin yang terjadi dimana pasien-pasien, pasien- perawat, perawat-perawat , pasien-keluarga pasien, keluarga pasien-perawat, ataupun sesame keluarga pasien berinteraksi satu sama lain memperbincangkan –kebanyakan- tentang kesamaan mereka ; mengapa mereka berakhir di rumah sakit itu dan bagaimana kedepannya.

Selama saya menyusuri koridor itu pagi hari, yang saya lihat bukanlah pemandangan orang-orang sakit yang sedang berjuang keras untuk dapat bertahan hidup. Namun yang saya lihat adalah — terlepas dari segala ‘aksesoris’ medis yang mereka gunakan– orang-orang sehat yang sedang bersantai layaknya pemandangan tiap minggu pagi di taman. Banyak ekspresi di dalamnya. Bertemunya kesamaan ini (mungkin dalam kasus ini adalah kesamaan nasib) melahirkan sebuah semangat baru yang timbul dari masing-masing orang. Adanya komunitas menjadikan mereka memiliki merasakan perasaan “Oh, ternyata saya tidak sendiri” dan dari perasaan itu akhirnya timbul semangat dan perasaan senang.

Suasana riang dan hangat seperti ini jarang saya lihat di rumah sakit lain yang biasanya hanya berupa lorong panjang tertutup dan mengandalkan cahaya buatan serta penyejuk ruangan untuk mengakomodasi kebutuhan ruangnya. Lorong rumah sakit yang seperti itu terlihat hanya diperuntukkan untuk berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Tidak ada tempat berkumpul, atau pergantian suasana sejuk, panas, dingin, hangat.

Dari sini saya merasakan bahwa dengan sebuah wadah yang benar, interaksi akan terjadi dan kesamaan itu akan lebih terlihat. Apabila sudah menemukannya, secara tidak sadar manusia akan membentuk sebuah komunitas. Dari sinilah dibutuhkan peran space yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan orang-orang yang akan menempatinya. Tentang siapakah yang akan menempatinya ? apa yang baik untuk mereka ? apa kegiatan yang diharapkan akan muncul ? Dengan peran yang tepat, akhirnya di dalam space tersebut menghasilkan suasana kegiatan di dalam ruangan menjadi positif yang kemudian berdampak positif pula bagi pelaku kegiatan tersebut.

26
Oct
10

Lorong anak arsitektur..

Menjadi minoritas memang tidak selalu enak, pihak mayoritas bisa saja terlalu banyak melakukan intervensi yang pada akhirnya pihak minoritas terkesan ikut-ikutan.
Peristiwa ini telah terjadi selama kurang lebih 1 tahun di kosan saya. Kondisi lorong kamar saya buntu dengan 3 buah kamar di sisi kiri dan 2 buah kamar di sisi kanan lorong. Kebetulan 4 dari 5 kamar yang berada di lorong itu dihuni oleh mahasiswa arsitektur 2007, sedangkan satu kamar lagi di ujung kanan dihuni oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi 2008.
Sebagaimana kita tahu, keseharian mahasiswa Arsitektur adalah mengerjakan mata kuliah perancangan yang outputnya berupa model. Karena tidak muat disimpan di kamar yang hanya berukuran 3x4m, maka sebagian besar stok bahan dan hasil modelnya kami simpan di lorong. Penyimpanan ini memakan space di sisi kanan maupun di sisi kiri lorong sehingga hampir memakan setengah area sirkulasi. Belum lagi jika kmai berempat mengerjakan model bersama, lorong tersebut akan kami interfensi hingga menutupi seluruh sirkulasi.
Lama kelamaan ternyata mahasiswa FE ini juga ikut menyimpan barangnya (terutama sepatu) di lorong depan kamarnya, bikan hanya 1 atau 2 sepatu, tapi 10-15 pasang sepatu berjejer melebihi rak yang telah disediakan seakan tidak mau kalah dengan intervensi mahasiswa Arsitektur. Sekarang lorong ini menjadi lorong terpadat di kosan saya, penuh dengan barang-barang mulai dari mulut lorong hingga keujung buntunya.
Yang saya lihat disini ternyata keseharian mahasiswa Arsitektur memang berdampak terhadap ruang tinggal mereka, namun orang lain yang juga hidup berdekatan dengan ruang tinggal seseorang/komunitas dapat menjadi terbiasa bahkan terpengaruh dan ikut mengubah ruang tinggal mereka juga..

26
Oct
10

Selasar dan Mahasiswa Arsitektur

Gedung Departemen Arsitektur Universitas Indonesia memiliki selasar yang mengitari bangunannya. Selasar yang sebenarnya adalah ruang untuk sirkulasi barang dan manusia sering mengalami reproduksi ruang. Selasar di sana sering dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi para mahasiswanya, terutama di luar jam-jam kuliah. Para mahasiswa sering berkumpul untuk mengerjakan tugas bersama, berdiskusi, pertemuan dan rapat organisasi atau kepanitiaan, maupun sekadar duduk berbincang-bincang.

Terlihat sebuah fenomena yang menyimpang dari peruntukan ruang sebenarnya. Selasar tereproduksi menjadi ruang yang lebih aktif dan hidup. Selasar, yang esensinya merupakan ruang sirkulasi dengan laju mobilitas pengguna yang tinggi berubah menjadi titik pause dengan aktivitas menetap. Apalagi dengan hadirnya mading di sepanjang sisi selasar yang turut menahan laju pergerakan manusia di selasar.

Lalu apa yang salah? Menurut saya tidak ada. Ruang bertumbuh seiring dengan kebutuhan pengguna, ruang yang baik justru ruang yang fleksibel dan memiliki affordance yang tinggi. Di sinilah timbul sense of belonging dan sense of awareness terhadap ruang publik, dan secara tidak langsung pengguna ikut menjaga keberadaannya. Warga, terutama mahasiswa memiliki kebutuhan ruang untuk berinteraksi dan bersosialisasi, yang didapatkan di selasar kami, SelasArs (Selasar Arsitektur). Terkadang, selasar juga dimanfaatkan untuk kegiatan perkuliahan, misalnya pameran dan presentasi tugas kuliah, sehingga terlihat bahwa pihak pengampu pun turut mengambil manfaat dari pengalihfungsian ruang selasar ini.

Memang ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan karena pemanfaatan selasar sebagai ruang berkumpul, terhambatnya laju sirkulasi pada selasar. Terkadang mahasiswa lain terpaksa memutar arah lewat jalur lain untuk menghindari titik keramaian berkumpul. Namun, hal ini tidak terlalu menjadi masalah karena selama ini semua berjalan dengan lancar. Lagipula kegiatan berkumpul di selasar lebih sering terjadi pada jam-jam luar kuliah dan aktivitas pengguna sirkulasi tidak terlalu ramai. Selain itu, secara tidak langsung terjadi kontrol sosial bagi para pengguna selasar.

Jadi, selasar tidak hanya berfungsi sebagai ruang sirkulasi, tetapi juga dapat menjadi ruang perhentian dan aktivitas menetap. Justru melalui fungsi sekunder inilah selasar lebih terasa manfaatnya bagi para penggunanya. Bukan desain yang mengatur pola perilaku penggunanya, tetapi pengguna yang mendefinisikan fungsi ruang tersebut saat dipakai. Sebuah perancangan yang hidup dan fleksibel. Selasar yang menjadi saksi bisu keseharian aktivitas mahasiswa, wadah interaksi dan sosialsisasi yang efektif, itulah Selasars, Selasar Arsitektur FTUI.

26
Oct
10

antara ruang dan tingkat akselerasi manusia

Bila diperhatikan, manusia memiliki tingkat akselerasi dalam berkegiatan sehari-hari.  Hal tersebut berkaitan dengan jarak, waktu, dan usaha yang dikeluarkan.  Semakin singkat jarak tempuh, semakin sedikit waktu yang diperlukan, serta seminimal mungkin mengeluarkan energi menjadi pedoman bagi sebagian besar warga untuk mempercepat tingkat akselerasinya. Pada mata kuliah perancangan arsitektur 3,  saya berkesempatan mengamati fenomena tingkat akselerasi yang terjadi di stasiun gambir. pada jam-jam tertentu stasiun ini seperti “kebanjiran” manusia.  Pada pagi hari misalnya, stasiun ini dipenuhi para pengguna jasa kereta yang datang dari jabodetabek. Umumnya mereka adalah pekerja kantor yang bekerja di daerah gambir dan sekitarnya. Dari 8 gerbong kereta, sekitar seratusan orang turun di stasiun ini. Seperti arus air, mereka langsung menuju lantai dasar dan bergerak keluar stasiun. Yang mencengangkan, banyak dari mereka yang tidak keluar dari pintu gerbang yang terletak di kanan dan kiri stasiun. lalu dari mana? memanjat pagar? tidak, itu terlalu tinggi dan mengeluarkan energi yang banyak. lantas?
Menerobos jeruji pagar.
yap!hanya perlu jalan beberapa langkah dari pintu kedatangan dan keluar lewat jeruji gerbang..efektif dan efisien..
jeruji1
jeruji2
begitu cepatnya pergerakan manusia..tidak ada yang bisa mengahalangi mereka dari meminimalkan jarak, waktu, dan usaha yang diperlukan, sampai jeruji pagar pun diterobos.
hal ini terus berlanjut ketika mereka akan menyeberang jalan. kendaraan mengalah demi mereka walau mereka tidak menyeberang di tempat-tempat yang sudah disediakan. 2 jembatan penyeberangan yang berjarak 180 meter?sungguh melelahkan..buang waktu untuk naik turun..terlalu jauh..bisa terlambat kerja..bisa ketinggalan kereta (ketika jam pulang tiba)
apakah ini faktor malas?(meminimalkan jarak, waktu, dan usaha bahasa halusnya)
atau ruang yang ada tidak mampu menyamai akselerasi mereka?(jarak, waktu, dan usaha memang alasan yang patut diperhitungkan dalam mendesain ruang gerak manusia)




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers