Posts Tagged ‘territory

23
Dec
10

What’s in a name?

“What’s in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”

- Juliet Capulet in Romeo & Juliet -

 

“Ruang itu tidak pernah netral”, pikir saya. Coba lihat sekeliling dan sebutlah sebuah area yang dapat disebut ruang. Disadari atau tidak, ruang-ruang tersebut  selalu dimiliki atau diokupasi oleh subyek tertentu. Tempat pribadi maupun tempat publik tak terlepas dari ‘kepemilikan’ (belum tentu memiliki secara sah) akan ruang. Kursi-kursi dalam gerbong kereta, taman kota di Fatahilah, teduhan halte, bahkan hutan liar sekalipun punya tuannya.

Ada fenomena yang sangat menarik tentang ke-tidak-netral-an suatu ruang. Seringkali kita menjejakkan nama kita, secara harafiah, pada ruang. Rasanya hampir di setiap meja SD dulu saya dapat melihat cairan tip-ex membentuk nama. Berbagai warna pylox juga seringkali terceplak di tembok-tembok pagar bangunan. Dari kata-kata romansa macam “DEWI SAYANG ANDI”, hingga kata-kata berang yang tak perlu saya beri contoh, juga seringkali tergurat di batang pohon. Entah dengan maksud mengintervensi ruang tersebut, atau sekedar iseng belaka, jejak nama tersebut pada akhirnya menciptakan ke-tidak-netral-an ruang dengan tegas dirasakan.

What’s in a name? Apa yang sebenarnya berusaha dinyatakan lewat jejak nama tersebut?

Itu punyaku

Di film Harry Potter & The Deathly Hollow, ada sebuah adegan ketika Harry (dengan wujud samaran menjadi staf di Kementerian Sihir) memasuki ruang milik Umbridge. Tanda tersebut cukup jelas karena di depan ruangan tersebut tertera nama itu. Ketika Harry keluar ruangan, semua orang langsung menatapnya karena keberadaan Harry disana adalah tidak biasa.

Harry telah memasuki teritori yang bukan miliknya, dan sebuah tulisan nama di depan pintu sangat jelas untuk menandakan teritori tersebut. Begitu juga dengan tulisan-tulisan yang tertera di meja belajar di kelas, seringkali menandakan bahwa meja tersebut adalah meja yang biasa ia pakai sehingga tidak boleh dipakai oleh orang lain.

Nama memang tidaklah memberikan penjelasan tentang siapakah kita, namun jejak nama jelas dapat memberikan batasan semu akan adanya sebuah teritori yang dimiliki tuannya.

I write therefore I am

Kadang-kadang kita juga dapat menemukan nama-nama geng di tembok-tembok yang seakan berbicara bahwa itu wilayah geng tersebut. Padahal, ruang tersebut bukan benar-benar milik mereka. Biasanya berbagai nama muncul kemudian, berusaha menyaingi nama geng tersebut.

Saya rasa mereka cukup pintar untuk menyadari bahwa dengan menorehkan nama mereka di tembok bukan berarti mereka akan memiliki ruang tersebut. Apa yang mereka lakukan lebih tepat jika kita katakan sebagai wujud pernyataan eksistensi mereka.

Peran yang dilakukan ruang adalah menjadi wadah untuk menunjukkan ke-eksis-an (berjarak tipis dengan ke-narsis-an). Di saat mereka tidak hadir disana, nama mereka akan selalu hadir, walaupun pada akhirnya mungkin tidak ada yang peduli dengan ke-eksis-an tersebut, kecuali mereka sendiri.

Tujuan serupa saya temukan dalam proyek SD Cilandak yang dilakukan di awal pembelajaran mata kuliah Keseharian dan Arsitektur. Di dalam salah satu elemen desain yaitu daun-daunan kertas yang dibuat oleh siswa SD, nama-nama mereka dibiarkan tertera di daun tersebut. Keberadaan nama tersebut mungkin tidak penting bagi siswa lain, namun bagi siswa pembuat daun tersebut, nama itu menjadi wujud eksistensi mereka atas daun yang mereka buat, dan itu adalah sebuah kebanggaan baginya.

What’s in a name? Hm.. Nama lain mungkin bisa semanis mawar, namun siapa peduli manis pahitnya nama ketika nama bukan sekedar rasa.

26
Dec
09

Menjajah Ruang

Beberapa kali mengikuti kuliah arsitektur dan keseharian di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia membuat saya menemukan adanya cara untuk bisa menjajah tempat orang lain. Cara ini membuat orang secara sadar atau tidak sadar menggunakan cara ini untuk menjajah daerah orang lain. Salah satu contoh dimana cara ini dilakukan adalah yang dilakukan oleh Malaysia dalam merebut wilayah Pulau Simpadan dan Legitan. Mulanya mereka memberikan bantuan-bantuan kecil kepada masyarakat di sana dan kemudian mereka mulai ‘menandai’ daerah itu dengan ‘tanda-tanda kecil’ sehingga akhirnya pulau tersebut berhasil direbut dari Indonesia.

Contoh lain adalah ketika kita sedang berada di bangku sekolah ataupun kuliah. Dengan kita secara berulang-ulang menempati tempat duduk yang sama secara berulang-ulang setiap harinya, maka secara langsung ataupun tidak langsung kita telah ‘menandai’ daerah tersebut menjadi tempat duduk kita.

Jika diperhatikan, cara yang seperti ini merupakan cara yang cukup mudah bukan?

17
Nov
09

Domesticity and Territory

Domesticity sering diartikan kehidupan sehari-hari di dalam rumah. Tanpa disadari, aktivitas di dalam rumah telah membentuk teritori yaitu teritori pria dan wanita. Dulu, batasan teritori pria dan wanita cukup jelas. Misalkan, pada rumah kolonial di Indonesia, teras depan merupakan teritori milik suami untuk menerima tamu lelakinya. Sedangkan teras belakang dijadikan sebagai tempat sang istri untuk menerima tamu perempuan. Bahkan, di akhir abad ke-19, rumah dijadikan sebagai simbol “power” wanita. Artinya rumah, adalah wilayah kekuasaan wanita. Ini merupakan respons dari warga Amerika yang mencemaskan menghilangnya nilai kekeluargaan akibatnya meningkatnya perindustrian, urbanisasi, tingkat perceraian, jumah wanita yang bekerja dan datarnya tingkat kelahiran. Dengan penyimbolan ini, wanita diharapkan berperan dalam melestarikan nilai kekeluargaan. Ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali budaya di mana pria berperan sebagai sumber keuangan sedangkan wanita menjadi ibu rumah tangga. Ini sama dengan menjadikan teritori di dalam rumah milik wanita dan teritori di luar rumah menjadi milik pria.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang? Dengan diakuinya persamaan derajat pria dan wanita _ penyimbolan rumah itu gagal karena menguatnya gerakan feminisme_, teritori pria dan wanita menjadi kabur. Justru batasan teritori pemiliki rumah dan pembantu menjadi kuat. Contohnya teritori di rumah kakak perempuanku. Kakak perempuanku sebenarnya adalah ibu rumah tangga. Namun, karena suaminya termasuk salah satu yang mengakui adanya persamaan derajat antara pria dan wanita, maka dia sering membantu istrinya dalam mengerjakan tugas rumah tangga seperti mencuci pakaian, menyapu, serta menyuapi anaknya. Oleh karena itu, dapur, tempat cuci, tempat jemuran, ruang keluarga, ruang tamu, dan kamar-kamar tidur ( bisa dikatakan hampir seluruh rumahnya) menjadi teritori bersama bagi suami istri tersebut. Akan tetapi, ada area yang paling jarang dimasuki oleh mereka yaitu, area pembantu. Dulu, memang ada pembantu. Sekarang, pembantunya sudah keluar. Meksipun pembantunya sudah tidak ada, mereka tetap tidak menyentuh kamar tidurnya. Bahkan kamar mandinya pun jarang dimasuki mereka. Mungkin karena mereka masih terikat pada kehidupan mereka yang dulu ketika terjadi pemisahan area pemilik rumah dan pembantu.

Di samping itu, ada kemungkinan bahwa rumah menjadi teritori khusus pria, mengingat adanya pergeseran peranan suami istri. Sang suami menjadi pengurus rumah tangga dan istrinya bekerja di luar rumah,seperti yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Gejala ini juga terjadi di Amerika dan Eropa. Kalau ini benar-benar telah menjadi budaya yang meluas, di mana teritori di dalam rumah menjadi milik pria dan teritori di luar rumah menjadi milik wanita, maka bagaimana kita menyikapinya? Menerima atau menolaknya? Bagaimana pengaruhnya terhadap arsitektur?

Referensi:

http://xrodas.virgina.edu/




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers