“What’s in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”
- Juliet Capulet in Romeo & Juliet -
“Ruang itu tidak pernah netral”, pikir saya. Coba lihat sekeliling dan sebutlah sebuah area yang dapat disebut ruang. Disadari atau tidak, ruang-ruang tersebut selalu dimiliki atau diokupasi oleh subyek tertentu. Tempat pribadi maupun tempat publik tak terlepas dari ‘kepemilikan’ (belum tentu memiliki secara sah) akan ruang. Kursi-kursi dalam gerbong kereta, taman kota di Fatahilah, teduhan halte, bahkan hutan liar sekalipun punya tuannya.
Ada fenomena yang sangat menarik tentang ke-tidak-netral-an suatu ruang. Seringkali kita menjejakkan nama kita, secara harafiah, pada ruang. Rasanya hampir di setiap meja SD dulu saya dapat melihat cairan tip-ex membentuk nama. Berbagai warna pylox juga seringkali terceplak di tembok-tembok pagar bangunan. Dari kata-kata romansa macam “DEWI SAYANG ANDI”, hingga kata-kata berang yang tak perlu saya beri contoh, juga seringkali tergurat di batang pohon. Entah dengan maksud mengintervensi ruang tersebut, atau sekedar iseng belaka, jejak nama tersebut pada akhirnya menciptakan ke-tidak-netral-an ruang dengan tegas dirasakan.
What’s in a name? Apa yang sebenarnya berusaha dinyatakan lewat jejak nama tersebut?
Itu punyaku
Di film Harry Potter & The Deathly Hollow, ada sebuah adegan ketika Harry (dengan wujud samaran menjadi staf di Kementerian Sihir) memasuki ruang milik Umbridge. Tanda tersebut cukup jelas karena di depan ruangan tersebut tertera nama itu. Ketika Harry keluar ruangan, semua orang langsung menatapnya karena keberadaan Harry disana adalah tidak biasa.
Harry telah memasuki teritori yang bukan miliknya, dan sebuah tulisan nama di depan pintu sangat jelas untuk menandakan teritori tersebut. Begitu juga dengan tulisan-tulisan yang tertera di meja belajar di kelas, seringkali menandakan bahwa meja tersebut adalah meja yang biasa ia pakai sehingga tidak boleh dipakai oleh orang lain.
Nama memang tidaklah memberikan penjelasan tentang siapakah kita, namun jejak nama jelas dapat memberikan batasan semu akan adanya sebuah teritori yang dimiliki tuannya.
I write therefore I am
Kadang-kadang kita juga dapat menemukan nama-nama geng di tembok-tembok yang seakan berbicara bahwa itu wilayah geng tersebut. Padahal, ruang tersebut bukan benar-benar milik mereka. Biasanya berbagai nama muncul kemudian, berusaha menyaingi nama geng tersebut.
Saya rasa mereka cukup pintar untuk menyadari bahwa dengan menorehkan nama mereka di tembok bukan berarti mereka akan memiliki ruang tersebut. Apa yang mereka lakukan lebih tepat jika kita katakan sebagai wujud pernyataan eksistensi mereka.
Peran yang dilakukan ruang adalah menjadi wadah untuk menunjukkan ke-eksis-an (berjarak tipis dengan ke-narsis-an). Di saat mereka tidak hadir disana, nama mereka akan selalu hadir, walaupun pada akhirnya mungkin tidak ada yang peduli dengan ke-eksis-an tersebut, kecuali mereka sendiri.
Tujuan serupa saya temukan dalam proyek SD Cilandak yang dilakukan di awal pembelajaran mata kuliah Keseharian dan Arsitektur. Di dalam salah satu elemen desain yaitu daun-daunan kertas yang dibuat oleh siswa SD, nama-nama mereka dibiarkan tertera di daun tersebut. Keberadaan nama tersebut mungkin tidak penting bagi siswa lain, namun bagi siswa pembuat daun tersebut, nama itu menjadi wujud eksistensi mereka atas daun yang mereka buat, dan itu adalah sebuah kebanggaan baginya.
What’s in a name? Hm.. Nama lain mungkin bisa semanis mawar, namun siapa peduli manis pahitnya nama ketika nama bukan sekedar rasa.
comments