Posts Tagged ‘ugly

12
Jan
12

Beauty and The Ugliness

Menjadi ugly menurut kamus Webster  adalah cenderung menolak atau tidak menarik secara aestetik. Seperti antonimnya beauty, ugliness memiliki penilaian subjektif.
Menurut Wikipedia, sebagai antonimnya, kata beauty sebagai pengaruhnya untuk masyarakat menciptakan standar perbandingan dengan ‘ideal beauty’ yang merupakan suatu wujud  yang terdiri dari banyak fitur yang membentuk beauty dan salah satu standar menuju kesempurnaan. Sehingga menjadikan apapun yang paling sedikit memiliki fitur ini menjadi ugly. Standar ini menjadi penting karena banyak orang atau hasil karya seni juga harus mendapatkan cap ‘beauty’ untuk dapat diterima kemudian menjadi terkenal, berpengaruh dan menjadi contoh bagi orang dan penciptaan karya seni selanjutnya dan membentuk persepsi beauty untuk masa mendatang. Sehingga apa yang kita nilai beauty itu sebagian besar  juga hasil provokasi media.
Saat sebelum masa click –> post –> famous ada, persepsi tentang beauty (yang diprovokasikan media yang saat itu masih di control oleh sebagian kecil dari masyarakat itu sendiri) lebih sempit sehingga apapun yang tidak sesuai standar beauty tersebut dengan gampang tidak diterima dan dapat diklasifikasikan ‘ugly’ dan menjadi terabaikan.
Namun sekarang saat kontrol media ada di tangan setiap orang yang dapat mengakses media iu sendiri, persepsi masyarakat tentang beauty melebar seiring dengan banyaknya contributor dalam standarisasi beauty itu. Sesuatu yang dahulu mutlak ugly, sekarang dapat dipertimbangkan kembali dengan persepsi orang lain yang mengatakan bahwa sesuatu tersebut memilik beauty dari sisi lain. Dengan persepsi beauty yang makin meluas tersebut, masih adakah yang hal yang tidak dapat dikategorikan beauty dan masuk kategori ugly?

11
Jan
12

UGLY ?

Ini adalah pengalaman ketika saya mengikuti sayembara revitalisasi taman museum fatahillah bersama salah seorang teman saya.

taman museum fatahillah

Apa yang anda pikirkan saat melihat gambar di atas?

Mungkin sebagian besar dari anda akan menganggap pemandangan tersebut sebagai sesuatu yang tidak teratur. Namun mungkin ada  juga sebagian dari anda yang akan menganggap pemandangan tersebut sebagai sesuatu yang menarik, taman sebagai suatu area yang hidup.

Lalu sebenarnya mengapa bisa muncul kedua anggapan  yang berbeda tersebut? Mengapa kita bisa memiliki anggapan yang berbeda terhadap obyek yang sama atau bahkan mungkin kita sendiri memiliki dua anggapan tersebut karena melihat dari perspektif yang berbeda.

Saat mengikuti sayembara tersebut, saya melihat taman tersebut sebagai “lively area”, saya melihat proses revitalisasi itu sebagai proses menghidupkan taman. Saya melihat taman tersebut memiliki potensi sebagai sebuah pusat kegiatan yang berada di daerah di sekitarnya. Karena hal itulah, proses revitalisasi di sini saya artikan sebagai pen-zoning-an semua kegiatan yang mungkin terjadi di daerah sekitar daerah tersebut yang akhirnya di-“peta” kan di satu titik, yaitu taman tersebut.

Saya menganggap keramaian yang ada, orang-orang yang berjualan di sekitar taman tersebut, orang-orang yang beraktivitas di sekitar taman tersebut sebagai suatu yang “seharusnya”. Sebuah taman yang juga berfungsi sebagai plaza seharusnya demikian. Begitulah pikiran saya saat itu.

Akan tetapi ternyata tidak semua orang berpikiran seperti itu. Dari para juri sayembara tersebut, saya melihat pandangan yang berbeda, konsep yang berbeda tentang revitalisasi itu sendiri.

Melihat museum fatahillah sebagai sebuah museum peninggalan bersejarah, plaza dianggap juga sebagai sesuatu yang “sakral”. Yang harus dilakukan dalam proses revitalisasi harusnya tidak demikian, akan tetapi bagaimana mengembalikan fungsi taman tersebut sebagai “ruang penghantar” sebelum menuju museum fatahillah. Taman tersebut seharusnya bebas dari orang yang berjualan, teratur, dan banyak pendapat lain yang bertentangan dengan anggapan saya saat itu.

Dari perbedaan pandangan tersebut, saya bisa melihat konsep ugly-ugliness. Banyaknya orang yang berjualan di area tersebut membentuk sebuah ketidakteraturan. Sedangkan, ketidakteraturan  sendiri dianggap sesuatu yang ugly di satu sisi, yang di sisi lain dianggap sebagai bukti adanya kehidupan dan kegiatan.

11
Jan
12

Ugly: Hiasan yang terbuang

Ini adalah salah satu contoh benda yang dianggap ugly. Benda ini awalnya memiliki fungsi berupa hiasan yang digantung. Biasanya benda ini digantung sebagai penghias kunci atau sebagai meramaikan kunci agar kunci tidak gampang hilang, mengingat bentuk kunci yang kecil dan tipis.

Namun, ia menjadi tidak berfungsi lagi ketika gantungan itu sudah lepas dari hiasannya. Awalnya hiasan gantungan kunci ini hanya rusak sedikit dibagian jahitan luarnya, kemudian saya rusakkan lagi agar benda ini benar-benar tidak memiliki fungsi lagi dan tidak bisa diperbaiki sampai isinya pun ikut keluar.

Kemudian saya mengadakan percobaan kepada beberapa orang teman dan bertanya, “Menurut kalian ini benda apa? Kalau kaya gini bisa kalian apakan?”
Dan rata-rata mereka menjawab tidak tahu itu benda apa meskipun ada juga yang tau bahwa benda tersebut adalah bekas hiasan gantungan kunci, bagi mereka yang teliti mereka bisa melihat bahwa ada bekas jahitan untuk meletakkan besi gantungan kunci pada bahagian ujungnya yang sudah sobek. Kemudian mereka juga mengatakan bahwa jika mereka memiliki benda ini mereka lebih cenderung untuk membuangnya karena sudah tidak memiliki fungsi dan sudah rusak, mereka berkata, “Buat apa disimpan lagi, kan udah rusak, mending buang aja”
Namun, ada sebagian yang berpendapat bahwa jika mereka mempunyai benda ini dan ternyata benda ini memiliki suatu memori dan ikatan emosional yang kuat terhadap pemiliknya, maka benda ini akan disimpan meskipun dalam keadaaan serusak apapun dan mereka tidak menganggapnya ugly.

Jadi menurut saya, suatu benda dianggap “ugly” itu tergantung kepada perpektif masing-masing individu, tergantung bagaimana caranya ia memandang suatu benda, menilai suatu benda, dan menganggap suatu benda tersebut. Jika suatu memori anggapan “ugly” atau tidak, sudah tersugesti dalam dirinya yakni sudah tertanam sejalan tumbuh dan berkembangnya orang tersebut dari lahir (dalam hal ini juga dipengaruhi dengan lingkungan sekitar), maka orang tersebut akan menilai suatu benda itu ugly atau tidaknya sesuai dengan memorinya sendiri (anggapan berdasarkan pengalaman). Misalkan saja ugly-nya Indonesia berbeda dengan ugly-nya negara lain, ugly-nya orang dewasa berbeda dengan ugly-nya anak-anak, ugly-nya suatu budaya daerah berbeda dengan ugly-nya budaya daerah yang lain, dan begitu seterusnya.

10
Jan
12

Ugly : Sisir rontok

Sisir merupakan benda yang akrab didalam keseharian anda. Sebelum berangkat beraktivitas biasanya anda menggunakan benda ini untuk merapikan rambut dan untuk menambah rasa percaya diri. Sisir memiliki bagian pegangan untuk tangan dan bagian atasnya bergigi ada yang rapat ada juga yang jarang. Pada bagian bergigi ini rambut tertarik sehingga menjadi teratur lebih rapi sesuai arah tarikannya.

sisir rusak

Namun bagaimana jika bagian bergigi ini mengalami kerontokan sehingga memberikan celah yang kosong sebagai sisir? Hal yang terjadi adalah rambut tidak sepenuhnya tersisir dengan rapi karena celah yang besar ini menyebabkan rambut tidak ikut tertarik saat disisir. Sisir yang kehilangan beberapa giginya ini menjadi tidak dapat berfungsi dengan baik lagi atau dapat dikatakan sebagai sisir yang cacat.

Benda ini telah kehilangan sifat fungsionalnya dan benda ini dibeli karena sifat fungsional sebagai alat untuk merapikan rambut. Namun jika dilihat secara benda ini masih memiliki nilai estetik dan memungkinkan bagi sebagian orang mengganggap sisir cacat ini menjadi barang yang unik. Saya mengganggap benda ini ugly karena terjadi pengurangan nilai suatu benda yang diakibatkan oleh benda tersebut telah kehilangan fungsinya.

10
Jan
12

Ugly Things

Ugly didefinisikan dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary sebagai:

1. unpleasant to look at

2. (of an event, a situation, etc.) unpleasant or dangerous; involving threats or violence

dan memiliki sinonim unattractive.

Ugly juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya, sesuatu yang rusak, tidak berguna, atau sesuatu yang imperfek. Berdasarkan definisi-definisi tersebut saya berusaha membuat objek ugly.

Foto di atas merupakan objek ugly yang saya bawa untuk tugas membuat sesuatu yang ugly di kelas Everyday. Saya membuat dua objek yang sama-sama berbahan plastisin kuning. Objek pertama yang terdapat di sebelah kiri merupakan gabungan dari kepala kucing dengan badan manusia yang seperti karet yang melar di bawahnya. Objek kedua merupakan uji coba bentuk plastisin yang diremuk-remukkan begitu saja sehinggan menjadi tak berbentuk.

Kedua objek ini memakai bahan palstisin karena menurut saya plastisin merupakan salah satu bahan yang harus dipergunakan secara benar untuk menghasilkan bentuk yang orang akan anggap atraktif. Ya, semuanya kembali lagi ke penilaian dari orang-orang di sekeliling apakah sesuatu disebut ugly atau tidak. Kembali lagi ke bahan plastisin ini, saya lalu membentuknya menjadi bentuk yang biasa orang temukan namun tidak dalam wujud yang sebenarnya. Bukankah kucing dengan badan manusia karet atau manusia karet dengan kepala kucing akan terlihat aneh? Bukankah sesuatu yang tidak pada tempatnya tidaklah indah? Setidaknya itulah pendapat saya. Namun, tampaknya teman-teman di kelas everyday tidak merasa demikian ketika melihat manusia karet dengan kepala kucing dan pose yang norak itu, karena bentuk kepala kucing yang masih terlihat “lucu”.

Objek kedua yang saya buat merupakan bentuk tidak jelas yang dapat dengan mudah ditemukan cara pembuatannya: yaitu dengan diremuk. Objek ini tidaklah jelas, tidak berguna, dapat dikatakan imperfek karena pola pikir orang akan langsung mengatakan bahwa plastisin itu adalah obejk yang deformed, tidak dalam bentuk aslinya lagi. Objek ini juga terlihat sudah rusak. Nah, ternyata poin inilah yang saya lupakan ketika membuat objek pertama. Objek pertama tak terlihat rusak, sehingga orang-orang banyak yang belum memandang objek ini sebagai ugly.

Namun, kembali lagi ke pernyataan saya sebelumnya, ugly itu relatif, bagaimana orang memandangnyalah yang membuat suatu objek itu ugly. Ini tidak tergantung pendapat mayoritas, tetapi berdasar pemahaman pribadi masing-masing mengenai objek tersebut.

10
Jan
12

an old four seasons tree (ugly thing)

Image and video hosting by TinyPic

Gambar di atas ini merupakan tugas akhir saya sewaktu seni rupa dulu. Saya menganggap barang tersebut sebagai ‘ugly thing’ karena seperti yang saya tangkap dari kuliah di everyday bahwa ‘ugly thing’ merupakan sesuatu yang terdapat sistem yang salah di dalamnya. Seperti salah penempatan, dll.

Dulunya barang tersebut merupakan sesuatu yang bermakna bagi saya. Tugas akhir seni rupa saya ini adalah ‘four seasons tree’ dimana di 4 sisi dari pohon tersebut terdapat suasana yang berbeda tiap musimnya, yaitu musim salju, semi, panas, dan kemarau. Misalnya di sisi yang bersuasana musim panas, daun-daun di pohon berwarna hijau dan lebat. Atau ketika musim salju, ada sisi pohon lain yang batangnya di penuhi salju dan tanah yang berselimutkan salju. Ketika dulu saya selesai membuatnya, saya merasa bangga dengan ‘four seasons tree’ ini dimana saya sebagai mahasiswa baru saat itu belum mempunyai pengalaman apa-apa di bidang seni. Sampai-sampai apabila ada orang yang menyentuh barang tersebut sampai membuatnya berubah posisi, saya merasa sensitive dan agak kesal.

Ketika dibawa ke rumah pun langsung saya pajang sebagai hiasan di meja ruang tamu. Sehingga apabila ada tamu yang datang ke rumah dan memuji hiasan tersebut tanpa tau siapa yang membuatnya, saya merasa ada kepuasan tersendiri.

Waktu pun berlalu, sudah saatnya bagi kami sekeluarga untuk berpindah rumah. Nasib dari tugas akhir seni rupa saya ini pun tidak terlalu di pedulikan lagi sehingga barang tersebut digeletakan begitu saja di beranda kamar saya yang baru. Walaupun beranda kamar saya ini terdapat naungan yang melindunginya dari hujan, tetap saja angin, terik matahari, dan percikan-percikan hujan deras masih dapat mengenainya. Alhasil warna-warna dari ‘four seasons tree’ tersebut luntur, daun dan salju yang menyelimuti batang pohonnya rontok dan terbang terbawa angin, dan bentuk dari batangnya pun menjadi tidak karuan.

Sekarang barang tersebut sudah tidak bermakna bagi saya. Saya pun hampir lupa ada barang tersebut di beranda saya. Terlebih lagi, menurut saya barang tersebut merupakan barang yang tidak berguna dan hanya memenuh-menuhkan tempat saja. Ingin saya buang tetapi seperti yang sudah saya bilang di atas, saya pun lupa apabila ada barang tersebut di beranda saya. Hanya bahasan ‘ugly thing’ inilah yang membuat saya teringat lagi dengan barang tersebut. Rasanya setelah membuat blog tentang ‘ugly thing’ dan ‘four seasons tree’ ini saya akan lupa lagi dengan barang tersebut yang sudah lama bersarang di beranda kamar saya.

10
Jan
12

Ugly: sesuatu di tempat tidur?

Gambaran di atas merupakan tempat tidur kosan saya di mana pada pojoknya terdapat barang-barang seperti pada keterangan di atas yang merupakan milik salah seorang teman dan salah satunya adalah milik saya (tas). Saya merasa benda-benda teman saya merupakan sesuatu ugly karena tempat tidur tersebut merupakan tempat saya beristirahat, sehingga agak risih dengan adanya benda-benda tersebut yang terkesan kurang bersih (relatif) dan merasa seperti mengganggu teritori pribadi di mana ada rasa kepemilikan dengan tempat tidur tersebut. Ugly di sini dapat dikategorikan pada penempatan sesuatu yang tidak pada tempatnya (out of place) selain itu peletakan yang berantakan juga menjadi penilaian apakah sesuatu tersebut ugly atau tidak.

ugly ks. 1 jelek, buruk. u. face muka yang jelek. 2 berbahaya, parah (wound). 3 Inf.: tak pantas, kurang ajar, kasar (of a statement or action).

*pojok kanan atas pada foto, The Beatles said “Let It Be” :D

10
Jan
12

ugly : bungkusan yang tak bernilai

Saat mendapat tugas ini, yang saya pikirkan mengenai benda yang “ugly” adalah benda yang sudah tidak terpakai atau benda yang tidak bernilai lagi. Pada akhirnya benda-benda seperti ini kita buang, karena terkesen jelek, kotor, buruk apabla diletakkan didekat benda-benda lain yang masih bernilai.

Yang saya lakukan pada tugas ini adalah, saya mengumpulkan beberapa benda yang saat itu berada dikamar saya dan akan saya buang. Yaitu:

  • Plastik adem sari yang telah dipakai
  • Tisu bekas
  • kertas bekas
  • voucher pulsa yang telah digunakan

lalu saya gabungkan kedalam plastik bekas fotocopian dan diikat dengan karet.

Walaupun mereka telah saya gabung hingga tidak terlihat lagi, saat saya letakkan didekat barang-barang lain yang bernilai tetap saya mereka terlihat seperti sampah dan harus saya buang dari barang-barang lain yang masih layak pakai. Sehingga saya mengatakan barang-barang tersebut adalah sesuatu yang “ugly’”.

Image

08
Jan
12

pudding at 10

Dalam salah satu episode Lie To Me season 1, terjadi percakapan seperti ini :

Gillian Foster : what is it?

Cal Lightman : He wants us in on it right away since… What is that?

Gillian Foster : Chocolate pudding

Cal Lightman : Who eats pudding at 10:00 in the morning?

Gillian Foster : People who like pudding

Dalam adegan ini, Lightman baru saja menerima telepon dari seseorang yang memintanya untuk segera datang dan membantunya dalam suatu kasus. Foster datang dan bertanya pada Lightman tentang isi pembicaraannya sambil makan puding coklat.

Sampai di sini, semuanya terlihat biasa saja.

Tetapi, saat hendak menjawab pertanyaan Foster, perhatian Lightman teralihkan oleh puding yang sedang dimakan oleh Foster. Menurutnya, Foster melakukan hal yang aneh karena makan puding pada jam 10 pagi. Sementara Foster menganggap hal tersebut biasa saja karena ia menyukai puding.

Saat seseorang melakukan sesuatu, maka akan ada orang yang setuju, dan ada juga yang tidak. Pendapat setuju atau tidak setuju ini dapat ditentukan oleh berbagai hal; kebiasaan, pengalaman hidup, pandangan terhadap sesuatu, dan lain-lain. Saya sendiri menganggap makan puding bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun, namun saya juga tertarik untuk mengira-ngira kenapa Lightman menganggap apa yang dilakukan Foster itu aneh.

Setelah googling dan menonton serial Lie To Me lebih jauh, saya mendapatkan beberapa asumsi :

  1. Puding yang dimakan oleh Foster dalam film adalah puding cokelat. Puding jenis ini, biasanya disajikan sebagai dessert. Bisa jadi Lightman melihat hal tersebut aneh karena ia hanya terbiasa makan puding setelah makan makanan utama, bukan jam 10 pagi di kantor saat sedang bekerja.
  2. Foster, adalah seorang kolega kerja Lightman. Lightman tidak makan puding coklat jam 10 pagi, ia mungkin melihat hal tersebut aneh dilakukan oleh seseorang yang bekerja di sekitarnya. Mungkin juga ia menganggap orang dalam pekerjaannya, dan dalam usianya, tidak makan puding coklat jam 10 pagi.
  3. Puding yang dimakan Foster adalah sebuah puding instant (mungkin Jell-O) . Lightman memiliki seorang anak perempuan berusia belasan tahun. Bisa jadi puding coklat tersebut biasa dilihatnya dimakan oleh anaknya, sehingga ia merasa aneh saat ia melihat Foster makan puding tersebut.
  4. Lightman tidak suka makan puding.

Saya kemudian mencoba menghubungkan adegan ini dengan istilah ‘habit’ atau kebiasaan.

Dalam dictionary.com, salah satu pengertian dari habit adalah : customary practice of use, yang dicontohkan dengan : daily bathing is an American habit. Orang Indonesia juga memiliki habit untu mandi setiap hari, sehingga kita tidak aneh dengan kebiasaan dan contoh yang diberikan oleh dictionary.com tersebut. Namun, orang Eropa ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda. Mereka tidak menganggap mandi rutin adalah hal yang perlu dan bahkan sebenarnya kulit manusia tidak membutuhkan hal tersebut. Mungkin jika ada orang Eropa yang mengetahui kebiasaan mandi dua kali sehari mereka juga akan menganggap hal tersebut aneh.

menurut saya, pengertian dari habit ini dapat menjelaskan komentar Lightman pada Foster. Pandangan mengenai sesuatu yang tidak lazim dilihat, dan dianggap tidak pada tempatnya adalah hasil dari apa yang telah dialami oleh seseorang. Karena pengalaman seseorang berbeda, maka pandangan mereka terhadap sesuatu pun juga bisa jadi berbeda.

08
Jan
12

TINTA. //Kehadiran di waktu dan tempat yang salah

Ada pepatah melayu yang mengatakan:

Karena nila setitik rusak susu sebelanga…

Dari pepatah itu, dapat ditarik suatu arti yakni akibat dari terjadinya satu kesalahan maka kebaikan selama ini akan begitu saja terlupakan. Hal ini dapat pula diumpamakan apabila terdapat sehelai kain putih yang bersih lalu tiba-tiba ditumpahi oleh tinta yang hitam pekat dan menyebar tidak karuan hingga akhirnya akan merusak putihnya kain tersebut.

Dari setiap kata yang tersirat dalam paragraph diatas, tentunya saya ingin membawa anda untuk sampai pada persepsi bahwa tinta yang tidak sengaja tertumpah dengan pekat warna yang dimilikinya akan menjadi objek perusak bagi kain yang menjadi objek penderita. Tinta menjadi objek pelaku yang akhirnya merusak sesuatu dan menjadikannya buruk. Indahnya kain putih yang polos dan bersih dengan perilaku terdahulu yang dengan hati-hati dirawat kini menjadi berbeda. Kehadiran tinta yang tidak pada tempatnya seberapa besar kuantitas yang terdapat pada kain itu bahkan apabila hanya titik, tentu membuat kain itu tetap menjadi buruk.

Terdapat ‘sesuatu’ pada kain itu,

‘Sesuatu’ itu mengganggu pemandangan, sehingga reaksi mengerutkan kening akan terjadi, dan mungkin diakhiri umpatan karena helaian kain putih itu adalah baju yang baru saja dibeli. Sesuatu ini tidak pada tempatnya dan yang lebih penting kehadirannya sama sekali tidak diharapkan. Sehingga, seindah apapun ketidaksengajaannya itu di mata persepsi lain, tentu tetap menjadi pengganggu dan penghancur bagi diri sendiri yang tidak mengharapkannya.

Tinta yang secara lahiriah dapat menghasilkan sesuatu yang indah, baik itu tulisan maupun lukisan, kini menjadi objek pelaku pembuat keburukan karena dipandang dari suatu persepsi yang memang menyudutkan dirinya. Ia tidak dapat begitu saja hilang dengan mudah karena keburukannya akan selalu meninggalkan jejak terutama pada suatu elemen yang terlalu polos dan bersih ini.

Hal ini juga terjadi pada objek penderita. Dahulu dirinya, kain yang begitu bersih dan polos kini ternodai. Perilaku menjadi berbeda, apabila memang kain ini tidak bisa diselamatkan tentu ia akan berpindah dari lemari kerajaan yang wangi dan nyaman, lalu berakhir di gudang sebagai kain pel atau dibuang sebagai akhir cerita riwayatnya.

Coba anda perhatikan apabila baju kesayangan anda kelunturan, alias terkena warna lain dari baju-baju yang bersamaan dicuci saat itu. Tentu kesalnya luar biasa itu mengapa secara komersial dan strategi ekonomi yang baik diciptakan bayclin untuk kembali memutihkan. Cukup unik karena ini terjadi untuk warna putih saja dan tidak ada produk-produk lain yang menyelamatkan warna-warna lainnya. Apa yang terjadi pada warna putih, sebegitu virginnya kah ia harus menjadi? Ah itu persoalan lain, intinya noda tinta itu akan tetap menjadi masalah.

Dalam bahasa gaul remaja saat ini, muncul istilah ‘gengges’ alias ganggu.

Kehadiran tinta yang menjadi noda akan memunculkan istilah di atas. Tinta mengganggu komposisi yang secara standar personal dimiliki oleh tiap-tiap orang dengan berbeda-beda kadarnya.

Namun, apabila kita mau merefleksikan diri. Kehadiran tinta secara tidak sengaja yang disebutkan menjadi; pengganggu, perusak, pengacau, dan pembuat kerut kening tentu dapat berbuah persepsi lain. Setiap ugly dan ugliness memiliki expired date alias tanggal kadaluwarsa bagi saya. Tidak selamanya hal ini akan terus mengganggu dan merusak hidup anda tergantung darimana kita melihatnya.

Di mata seorang seniman tentunya baju itu akan tetap ia pakai dengan senang hati karena tinta yang tertumpah adalah bagian dari proses menghasilkan suatu karya lukisan yang indah. Namun, bagi para muda-mudi esksekutif berkerah putih tentunya noda pulpen yang tercoret di bajunya akan menjadi pengacau besar dihari dimana ia harus melakukan presentasi di depan klien dan bos besarnya.

coba bandingkan, kehadiran tinta di waktu yang salah dan kehadiran tinta di waktu yang telah direncanakan.. ;)
      

Kata orang, jelek itu mutlak.

Kata saya jelek itu tergantung,

Lalu kata anda?

08
Jan
12

holey black plastic bag


Pernahkah dari kalian mendapat musibah jebolnya kantung plastik akibat dari barang yang dibawa terlalu sesak, berat, dan tiba – tiba saja barang di dalamnya luluh lantak di dekat kaki anda? Kantung plastik yang menjadi sorotan utama tentu saja yang sehari- hari disebut kantung kresek berwarna hitam dan berbahan tipis. Berbeda dengan yang menjadi packaging toko –toko dengan brand ternama, plastic ini dapat dengan sangat mudah ditemukan, sering dipakai, dan tidak jarang juga terjadi accident seperti di atas. Memang,kantung plastik hitam yang beredar tidak memiliki keunggulan dari segi desain maupun estetika. Hanya warnanya yang kerap kali berubah. Kantung plastik yang dimaksud jelas hanya berfokus dan mementingkan pada fungsinya saja. Fungsi utama yang berlaku pada kantung plastic ialah membungkus dan membawa barang dengan cara dijinjing. Lantas, bagaimana bila fungsi tersebut tidak hadir?

Pada percobaan membuat ‘ugly object’, saya coba mengeliminasi fungsi tersebut dengan menggunting plastic di bagian menjinjing dan memotong bagian bawah plastik tempat semua barang biasanya bertumpu. Akibatnya, tentu saja kantung plastik tersebut menjadi useless. Fungsi utama membawa barang dengan cara dijinjing tidak dapat dilakukan keduanya sama sekali. Sejalan dengan pemahaman dirt pada saat kelas berlangsung yang berarti ,“dirt is an ugly deduction from good space threatening to contaminate all the good space” , dapat terjadi oleh ulah sebuah kantung plastik

08
Jan
12

Intolerable = Ugly(?)


Salah satu pendefinisian ugly dalam kuliah sebelumnya ialah sesuatu yang ‘intolerable’, yaitu sesuatu yang tidak pas atau tidak dapat diterima. ‘Intolerable’ bersifat relatif, yaitu sesuatu yang dirasa tidak pas oleh seseorang, mungkin saja tidak bermasalah di mata yang lain. Foto gelas di atas mungkin terlihat sebagau sebuah pemandangan yang biasa di atas meja makan atau di dapur. Namun foto tersebut menggambarkan sebuah situasi ‘intolerable’ bagi saya, dimana air yang berada pada gelas bertangkai (gelas sirup) tersebut merupakan teh panas.

Mengapa hal ini begitu ‘intolerable’ bagi saya? Mungkin bagi sebagian orang, meminum “teh panas” menggunakan gelas sirup ialah hal yang biasa, namun bagi saya hal tersebut sangat terasa tidak pas. Karena menurut saya, penyajian paling tepat untuk meminum teh panas ialah menggunakan cangkir teh (formal) atau mug/gelas berkuping (informal), sehingga penggunaan gelas sirup sangatlah salah di mata saya. Pandangan ‘intolerable’ ini muncul karena peraturan-peraturan yang sering diterapkan oleh nenek saya, yang memang merupakan golongan orangtua yang sangat strict terhadap hal-hal remeh seperti ‘table manner’. Hal-hal seperti menggunakan sendok dan piring kecil untuk memakan ‘dessert’, atau menghindari bunyi sendok/garpu berdentingan dengan gigi saat sedang makan, hingga hal-hal lain yang sebenarnya sangat subjektif. Didikan seperti ini telah menanamkan mindset bahwa hal-hal tersebut menjadi sangat intolerable dalam kehidupan keseharian saya.

Bahkan pernah ada kejadian lucu, saat paman saya sedang berkunjung ke rumah teman perempuannya, si teman perempuan tersebut menyuguhkan teh panas dalam gelas sirup untuk paman saya sebagai tamunya. Lantas dengan mindset hasil didikan yang sama, paman saya langsung merasa ‘il-feel’ terhadap teman perempuannya tersebut, yang mungkin sebenarnya agak keterlaluan sih :P

08
Jan
12

Ugly: Puntung Rokok di Tempat yang Salah

Ketika saya sedang menunggu datangnya kereta di Stasiun Sawah Besar, saya menemukan hal ini:

Sampah Puntung Rokok

Saya menemukan bahwa peristiwa semacam ini dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang “ugly”, dimana saya menganggap puntung rokok yang sudah menjadi sampah tersebut tidak sepantasnya berada di dalam pipa railing yang patah itu.

Fenomena ini dapat terjadi akibat beberapa faktor, diantaranya adalah adanya kesempatan yaitu pipa kosong yang mempunyai ruang untuk bisa diisi, lalu orang biasanya merokok di pinggir railing yang berbatasan dengan ruang terbuka agar asap tidak mengganggu orang lain. Hal ini membuat orang melihat kesempatan untuk membuang sampah puntung yang kecil ke lubang pipa yang kecil itu pula. Walaupun di sekitar tempat itu banyak terdapat tong sampah, puntung tetap ditumpuk disana.

Suatu hal yang ugly, dapat tercipta apabila ada objek diletakkan di tempat dimana objek tersebut tidak semestinya berada. Seperti puntung rokok tersebut, apabila kita melihatnya di dalam sebuah tong sampah, mungkin kondisi “ugly object” tersebut tidak tercipta. Tetapi jika ada di dalam pipa railing yang setiap kali dilihat dan dilewati orang, pemandangan tersebut amat mengganggu. Terkesan jorok, kotor, dan out of place.

04
Jan
12

UGLY

Ini  adalah kertas origami bekas tugas prakarya adik sepupu saya. Kertas origaminya berlubang-lubang setelah digunakan. Respon adik sepupu saya terhadap kertas origami tersebut adalah dibuang karena menurutnya kertas origami tersebut sudah tidak dapat dimanfaatkan dan menjadi sampah. Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, kertas origami yang dibuang tersebut sekilas dapat memberikan ide bagi anak arsitektur dan dapat dijadikan bahan maket eksplorasi, dsb. Dari sudut pandang adik sepupu saya kertas origami tersebut sudah dikatakan menjadi sampah, tidak berfungsi lagi dengan semestinya kertas origami, sehingga saya menyimpulkan barang tersebut adalah ugly, namun dari sudut pandang adik sepupu saya.

04
Jan
12

UGLY

And this..what I called ugly..

Benda ini saya sebut ugly berdasarkan  teori yang di ungkapkan oleh Aristotele bahwa ‘beautiful has the form of totality’..sementara benda ini berupa cabikan kertas (kertas yang di robek sudah tentu merusak ke totalitasan/kesempurnaannya) yang kemudian digabungkan kembali dengan pola acak.

04
Jan
12

ugly : coretan ditembok

ketika saya mendapatkan tugas “ugly” ini, entah mengapa saya langsung berfikiran mengenai coretan yang ada di tembok pinggir jalan maupun ditembok rumah. Coret-coretan tersebut sering disebut dengan graffiti ataupun mural.

sebelumnya penjelasan mengenai ugly, graffiti dan mural

ug·ly

adjective, -li·er, -li·est.

1. very unattractive or unpleasant to look at; offensive to thesense of beauty; displeasing in appearance.
2. disagreeable; unpleasant; objectionable: ugly tricks; uglydiscords.
3. morally revolting: ugly crime.
4. threatening trouble or danger: ugly symptoms.
5. mean; hostile; quarrelsome: an ugly mood; an ugly frame ofmind.
( sumber : thesaurus.com )
Menurut saya, ugly itu adalah suatu hal yang jelek, yang bisa disebabkan karena ketidaksesuaian, ketidakrapian , tidak sesuai tempatnya, intinya adalah ketidaksesuaian dengan keadaan maupun tempat yang ada. Hal hal tersebutlah yang menyebabkan suatu benda bisa dianggap ugly menurut saya.

graf·fi·ti

noun

1. plural of graffito.
2. ( used with a plural verb ) markings, as initials, slogans, ordrawings, written, spray-painted, or sketched on a sidewalk,wall of a building or public restroom, or the like: These graffitiare evidence of the neighborhood’s decline.
3. ( used with a singular verb ) such markings as a whole or asconstituting a particular group: Not much graffiti appearsaround here these days.
( sumber : thesaurus.com )

mu·ral

noun

1. a large picture painted or affixed directly on a wall or ceiling.
2. a greatly enlarged photograph attached directly to a wall.
3. a wallpaper pattern representing a landscape or the like,often with very widely spaced repeats so as to produce theeffect of a mural painting on a wall of average size; a trompel’oeil.

( sumber : thesaurus.com )

Sebenarnya, hal yang saya anggap ugly adalah yang seperti dibawah ini

Image

Coretan-coretan yang sering kita lihat ditembok, yang sering tanpa arti dan makna apapun. Coretan-coretan tersebut biasa dituliskan oleh orang-orang sebagai bentuk penyuaraan sesuatu. Seringkali pelajar melakukan corat coret seperti ini juga, biasanya mereka menuliskan nama sekolah mereka di tembok-tembok sebagai bukti eksistensi sekolah mereka.

Image

Namun, coret-coretan ini sangat mengganggu hal yang sudah tertata dan terkadang membuat mata malas untuk melihat hal hal yang ada dipinggir jalan. Coret-coretan itu pun biasanya berisi tulisan tulisan tidak jelas dan tanpa arti, terkadang pun tulisan tulisan itu berisi tentang hal hal negatif yang akan merusak keindahan dan kerapian suatu tempat.

Tapi ternyata banyak orang yang kreatif dan cerdas yang melihat coretan-coretan ini bisa menjadi hal yang bagus, rapi, bermanfaat dan tidak “ugly” lagi. Mereka memanfaatkan lahan yang ada, dan jadilah hal seperti ini..

ImageImage

Tujuan mereka sama, menyuarakan pendapat mereka, menunjukkan eksistensi mereka namun dengan cara yang lebih kreatif dan yang lebih baik lagi. Namun tentu saja, buat saya gambar diatas sudah tidak menjadi ugly lagi, walaupun ditempat yang sama, tujuan yang sama, media yang sama namun dengan cara yang berbeda.

Itu ugly menurut saya, bagaimana dengan ugly menurutmu?

(sumber gambar : google.com)

04
Jan
12

ugly

Ugly dalam bahasa Indonesia berarti jelek, lawan kata dari indah, cantik, dan bagus. Dalam tugas ini kami diminta untuk membawa barang yang ‘ugly’, jelek, untuk ditunjukkan di depan kelas dan menjelaskan ke’jelek’an benda itu.

Menurut saya ‘ugly’ bersifat subjektif karena setiap orang memiliki pandangannya masing-masing tentang kejelekkan suatu benda tergantung dari sudut pandang dan latar belakang yang ia miliki. Dari sini saya mencoba membawa benda yang bisa menimbulkan kesan ‘ugly’, kesan, karena tidak semua orang menganggap benda itu ‘ugly’ ada yang menganggap itu biasa saja karena melihat dari sudut pandang tertentu saja.

Seperti bisa dilihat di foto dibawah yang saya bawa adalah sebuah kantong plastik berisi sesuatu yang belum diketahui isinya. Saya datang dengan cara membawanya dengan dua jari seolah menghindari banyaknya kontak tubuh terhadap plastik tersebut. Ketika diletakkan di lantai, karena cara membawanya seperti itu dan isinya juga belum terlihat, orang banyak yang menganggapnya hal jorok, jijik dan seharusnya tidak berada di ruangan itu, ugly.

The BAG, the PLASTIC BAG

Setelah dijelaskan benda tersebut, tak disangka-sangka, isi plastik tersebut adalah CELANA DALAM. Tentu celana dalam yang saya bawa bersih, namun karena berada dalam kondisi yang ‘mengenaskan’ yaitu dibungkus plastik dan sudah tidak terlipat celana dalam tadi menjadi menjijikkan. Dapat dilihat bahwa kondisi fisik celana dalam yang seolah ‘telah pakai’ menimbulkan pikiran-pikiran negatif terhadap si celana dalam.

THE underwear

Disini saya ingin menunjukkan bagaimana ugly itu dilihat dari sudut pandang yang ‘menjijikkan’ sehingga tidak pantas berada di ruang umum seperti kelas tadi. Menurut sudut pandang orang lain benda itu menjijikkan namun bagi orang yang melihat proses pembungkusan dan membawa celana dalam itu, yang mengetahui bahwa celana itu bersih, benda itu akan biasa saja.

03
Jan
12

ugly photo

berhubung saya praktisi fotografi, saya akan menampilkan sesuatu yang ugly berupa foto yang pernah saya buat ketika belajar dulu.

ini adalah foto seorang model yang duduk di kursi, saya foto dari arah bawah dengan sumber cahaya dari satu sisi saja.

sekilas foto ini mungkin terlihat bagus. toning warna yang baik, posisi objek langsung buat mata melihatnya ke arah sana, dan ada permainan cahaya. lalu apa yang membuat saya menyebutnya jelek alias ugly?

secara teknis, foto ini bisa dibilang kurang baik. saya menampilkan garis – garis rule of third, aturan yang digunakan para fotografer untuk menempatkan posisi objek agar terlihat indah (proposional, seimbang).

nah, dalam foto ini, aturan itu justru tidak terlaksana. lihat bagian kepala yang tepat berada di tengah. bagus sih fokus di tengah, cuma kalau kata fotografer professional, menempatkan fokus objek di tengah itu kaya amatiran yang asal jeprat jepret, ngga pake aturan seni rupa, golden section, dan lain – lain.

oke, lalu apa ada masalah kalau kepalanya berada di tengah?

sekarang lihat ke atas kepala, banyak warna hitam yang memenuhi sepertiga bidang dari foto bukan? jelas hal ini pemborosan dalam media karena bagian hitam ini tidak dapat dinikmati. apa indahnya melihat warna hitam “tok”?

persimpangan antar garis pada rule of third ini fungsinya menjadi titik fokus objek. dalam foto ini yang berada di persimpangan itu apa? leher? jakun? rambut? bagian hitam foto? jelas tidak ada yang bisa nikmati juga bukan? seharusnya sih mata atau tengah jarak antar mata (yang di atas hidung, apalah istilahnya).

nah, dari foto ini saya mempelajari bahwa ugly di sini adalah tidak sesuai aturan. sama seperti supir angkot yang tidak mengikuti aturan lalu lintas hingga akhirnya menyebabkan macet. atau murid sekolah pake seragam semrawutan tidak sesuai aturan sekolah. segala sesuatu yang tidak sesuai aturan itu buruk bukan?

ini contoh foto yang baik (menggunakan aturan rule of third)

02
Jan
12

Ugly?

Saya mencoba meracik kata “ugly” dan membuat sesuatu yang (mungkin) ugly.

Alat & bahan:

1. Sediakan majalah fashion atau apa pun yang jika dibaca terlihat menarik atau selalu dianggap bagus (beautiful, attractive, dll)
2. Gunting
3. Lem
4. Alas, apapun boleh kali ini menggunakan kertas

Cara pembuatan:

Percobaan 1

1. Cari gambar yang paling menarik atau pun cantik, semakin menarik dan beautiful semakin bagus
2. Potong-potong gambar tersebut secara acak, tergantung keinginan atau kemana gunting memotong. Semakin random semakin baik.
3. Reka ulang atau konstruksikan gambar tersebut. Anggap saja sedang bermain puzzle dan gambar-gambar tersebut adalah kepingan yang secara acak diletakkan. Mungkin dapat menggunakan aturan tertentu sebagai acuan, misalnya ingin membentuk sebuah wajah atau tubuh manusia secara utuh. Atau letakkan secara acak juga tidak masalah.
4. Tempel sesuai dengan keinginan. Tujuannya untuk menciptakan order dan disorder dengan kolase dari gambar-gambar yang beautiful.

Percobaan 2

1. Ambil sebuah paragraf yang menarik, bagus, penuh dengan kata-kata indah. Jika bisa terdapat kata-kata seperti art, beautiful, dan kata indah yang mengandung makna memuji lainnya.
2. Potong per kalimat, kemudian potong kembali per kata dari kalimat-kalimat yang sudah dipotong sebelumnya.
3. Masukkan semua potongan ke dalam kantong plastik, kocok sesuai selera.
4. Ambil potongan kata satu per satu. Jangan melihat kalimat apa yang diambil biarkan saja, kali ini tidak perlu menggunakan aturan tertentu, tidak perlu membentuk sebuah kalimat yang masuk akal. Jangan mencoba untuk mengerti apa yang sedang dibuat, terus menempel dan letakkan sesuai dengan selera.
Kali ini saya meletakkan dalam satu barisan, seperti membentuk ulang sebuah paragraf tidak jelas. Kembali membuat kolase tidak jelas namun kali ini dari kata-kata.
5. Selamat, anda baru saja membuat sebuah puisi dadaist. Sebuah karya “baru” yang tidak masuk akal, atau di luar akal karena saya dan anda tidak mungkin mengerti apa yang telah saya buat.


Voila.. sebuah karya yang aneh dan (mungkin) ugly.

Sebenarnya inti dari semua ini apa?

Sederhana saja, saya hanya ingin membuat sebuah disorder dari order. Order dalam hal ini sesuatu yang kita terima dengan apa adanya, sesuatu yang indah yang kita nikmati setiap hari. Saya mengambil objek dari majalah berdasarkan pemikiran bahwa “ini adalah yang diinginkan semua orang”, “ini yang dianggap indah makanya masuk majalah”, “ini yang laku untuk dijual dan bisa menjadi konsumsi masyarakat” pemikiran bahwa apa yang ada di media adalah segala sesuatu yang menarik. Order tidak hanya dari bentuk wajah, namun otak kita yang juga di-order untuk mencari beauty  seperti yang sering kita lihat.

Dalam percobaan pertama, saya mencoba untuk memotong secara acak. Sebuah cara untuk mengacaukan yang beautiful; order yang ada didalamnya saya coba untuk hancurkan. Setengah hidung, satu mata saja, setengah muka, setengah mulut, terserah. Kemudian saya mencoba menyusun semua dalam order yang telah ada sebelumnya. Entah cantik atau tidak, tapi sangat mengerikan jika ada manusia berwajah seperti ini.
Namun dalam percobaan ini juga saya tidak sepenuhnya menciptakan disorder. Saya masih berpatokkan kepada otak yang berpikir untuk mencari gambar, merunut pola, menyocokkan dengan gambar yang sebelumnya. Belum bisa lepas dari kesadaran dan program dalam diri untuk tetap berusaha menciptakan yang beautiful.

Karena itu saya berlanjut ke percobaan kedua. Percobaan kali ini menggunakan kalimat atau huruf, mencoba membatasi kemampuan otak untuk mengendalikan diri dalam pengambilan keputusan (keputusan yang dimaksud: bagaimana otak berusaha untuk membuat semua dapat dicerna dan dimengerti, dapat dibaca). Kembali melakukan penghancuran order  yang ada. Memotong kalimat hingga kata. Memasukkannya dalam plastik adalah untuk mengacak di luar keinginan kita, membiarkan nasib (jika benar ada) yang menentukan. Kemudian mengambil tanpa melihat dan menempelkan ulang membentuk sebuah paragraf. Menghancurkan namun mengembalikan ke bentuk seperti semula. Tetap sebuah paragraf, isinya yang berbeda.

Dalam percobaan kedua, memang kata-kata yang dihasilkan tidak masuk akal. Semuanya tidak dapat dimengerti begitu saja, tidak heran saya juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Kali ini saya benar-benar membiarkan semuanya berjalan tanpa campur tangan otak, tanpa adanya aturan untuk mencapai order yang sudah ada di belakang kepala saya. Memberikan kebebasan terhadap isi paragraf untuk menjadi apa saja. Saya sedang bereksperimen dengan bumbu dadaism dalam karya kali ini.

Apakah ini ugly?

Terserah, saya tinggalkan pertanyaan ini untuk siapapun yang membaca dan menjawabnya :D

Daftar Pustaka
“Dada.” Wikipedia. 20 Des. 2011. Web. 1 Jan. 2012.

02
Jan
12

Ugly Spoon

Sendok merupakan salah satu peralatan makan yang paling sering kita gunakan. Dari kegunaannya, sendok memiliki banyak kegunaan yang berkaitan dengan pemindahan sejumlah benda kecil dari tempat satu ke tempat lain, mengaduk dan sebagainya. Untuk jenisnya pun bermacam-macam tergantung kegunaannya, ada yang membulat, lebih oval, bercekung dalam dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak macam sendok yang kita kenal, semuanya memiliki permukaan yang licin karena seluruh makanan akan tuntas terambil dari sendok tersebut. Tapi apa yang akan terjadi bila permukaannya diubah menjadi tidak licin? Apakah masih bisa dikategorikan sebagai sendok?

Objek yang saya buat ialah sendok dengan permukaan yang tidak rata dengan menambahkan bulatan-bulatan pada cekungan sendok dan gagangnya dibuat sedikit berbulu. Dari beberapa orang yang ditanya, mereka tidak menganggap benda ini sendok karena adanya tonjolan-tonjolan tersebut.  Jika disebutkan ini sendok, maka timbul tanggapan, “ Koq sendok kaya gitu sih?” Selain itu, benda ini juga tidak lagi berfungsi seperti sedia kala karena  rata-rata dari mereka tidak mau memakainya untuk menyuap makanan dan objek sulit dibersihkan.

Menurut saya sendok ini berubah menjadi ugly object karena tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori sendok sebagai peralatan makan yang sudah familiar bagi kita. Menurut memori yang kita miliki, sendok itu mulus. Namun, objek ini bisa saja tidak dikatakan ugly objek bila dilihat dari kategori lainnya, sebagai hiasan . Ugly atau tidaknya ugly suatu benda, tergantung dari sudut pandang kita terhadap objek yang diperhadapkan.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers