Suka berjalan-jalan? Ya, jalan-jalan, yang dalam hal ini sedang dalam keadaan santai, sering dilakukan orang untuk sekedar refreshing. Dengan apa kalian berjalan-jalan, dengan kendaraan pribadi kah? Kendaraan umum kah? Atau cukup dengan berjalan kaki? Kemudian, ketika kalian sedang berjalan-jalan, apa saja yang kalian lakukan?
Dulu ketika saya baru kedua kalinya naik Transjakarta, saya belum hafal arah maupun jalur Transjakarta. Ketika itu, saya sedang berada di halte Transjakarta di daerah Senen dan akan pulang ke rumah, ke arah Cililitan. Sebelumnya, saya pernah naik Transjakarta dari halte tersebut, jadi saya cukup yakin saya bisa pulang ke rumah. Dengan sedikit sok tahu (haha
) saya masuk ke bus Transjakarta yang baru saja tiba, dan ternyata bus tersebut menuju ke arah yang berbeda dari tujuan saya! “Gawat, gue nyasar!” pikir saya waktu itu. Namun setelah bertanya-tanya, saya akhirnya tahu juga bagaimana supaya saya bisa kembali ke Senen.
Berhubung hari itu hari Minggu, jadi tidak banyak yang menggunakan jasa Transjakarta sehingga bus yang saya naiki cukup lengang, sehingga saya cukup lega karena tidak perlu berdesak-desakan. Lalu, karena saya bosan, saya memutuskan untuk melihat-lihat ke luar. Ternyata bus yang saya naiki melewati jalan-jalan yang belum pernah saya lalui sebelumnya, karena saya jarang ke daerah tersebut. Walaupun masih di dalam Jakarta, jalan, bangunan, dan suasana di sana cukup asing bagi saya. Mata saya pun tidak lepas dari pemandangan di luar jendela. Dan ternyata, bus yang saya naiki melewati Stasiun Gambir, Monas, dan seterusnya. Wah, saya baru mengetahui, ternyata ada jalan lain untuk menuju ke Stasiun Gambir selain jalan yang biasa saya lewati dengan mobil pribadi. Tidak hanya itu, suasana daerah ini sangat berbeda dengan daerah tempat tinggal saya.
Dalam kuliah everyday sebelumnya pernah dibahas mengenai window shopping. Tentunya bagi yang suka belanja tidak asing lagi dengan istilah ini.
Ya, melihat-lihat, itulah maknanya, seperti kalau kita sedang jalan-jalan ketika belanja, kita hanya melihat dari balik kaca toko. Kembali ke pertanyaan tadi, apa yang kalian lakukan ketika berjalan-jalan, terutama ketika sedang berada dalam kendaraan? Apakah berkomunikasi lewat HP seperti yang banyak orang lakukan? Atau hanya duduk saja sambil mendengarkan musik? Hal tersebut bisa dan boleh saja dilakukan, tetapi perlu juga kita melihat ke luar.
Ada banyak hal menarik yang bisa dilihat di luar: kehidupan dalam society. Ada manusia, bangunan, alam, serta aktivitas yang menghubungkan semua komponen yang terlibat di dalamnya. Ketika saya mengalami nyasar seperti cerita saya di atas, mata saya justru tidak dapat lepas dari pemandangan di luar jendela, melihat bagaimana situasi yang ada di sekitar jalan yang saya lewati. Apabila saya sedang dalam perjalanan ke luar kota, ketika naik mobil atau kereta, saya selalu memilih tempat yang berada dekat dengan jendela, karena seiring melajunya kendaraan, pemandangan di luar pun berubah. Setelah melewati suatu tempat, kita menuju ke tempat yang baru, begitulah perjalanan, hingga kita sampai di tempat tujuan. Tentunya akan sayang apabila pemandangan mengenai situasi ini terlewatkan.
Manusia, lingkungan, serta aktivitasnya merupakan bagian dari keseharian kita. Kita pun perlu memperhatikan lingkungan yang ada di sekitar kita, karena mungkin hal-hal yang kita lewati dalam setiap proses perjalanan kita dapat memberikan sesuatu pengalaman atau cerita yang menarik bagi kita.

Jalan merah vertical merupakan jalan sawo kecik raya, dimana di sepanjang jalan ini terdapat banyak commercial place. Kondisi jalan ini sangatlah padat karena selain banyaknya commercial place, angkutan umum seperti bajai, ojek, angkot dan taksi melewati jalan ini. Dan ketika ada rumah penduduk di sepanjang jalan ini maka rumah itu akan berlantai dua, dimana lantai satu untuk berjualan dan lantai dua untuk tinggal. Atau ketika rumah itu tidak mempunyai usaha toko, maka ia akan membuat pagar yang tinggi di depan rumahnya. Hal yang terjadi pada rumah penduduk di sepanjang jalan ini menurut saya karena mereka ingin menghindari suasana crowded yang ada di depan rumah mereka. Sehingga sebisa mungkin mereka membuat tempat tinggal mereka nyaman dengan menyesuaikan rumah mereka dengan konteks ramai di sekelilingnya.



Dan ketika rumah-rumah penduduk ini menjadi abandoned place maka bisa dikatakan rumah ini telah gagal mempunyai fungsi sebagai tempat tinggal. Lalu ketika berubah menjadi abandoned place, maka orang lain menggunakan space sisa yang tak terpakai itu untuk sesuatu yang sesuai konteks sekelilingnya. Dimana di jalan ini, abandoned place itu berubah menjadi tempat untuk orang berjualan atau memarkirkan bajainya.
Terkait dengan hal sebelumnya, saya mencoba untuk mengaitkan dengan penggunaan trotoar di jalan Basuki Rahmad, Kp.melayu. Pada trotoar jalan di atas sungai ciliwung, dimana di bagian bawah jalannya tinggal beberapa komunitas pemulung penghuni kolong jembatan. Pemulung-pemulung ini terlihat memarkirkan gerobaknya di sepanjang trotoar. Bahkan terlihat beberapa gerobak yang di rantai mengikat ke pagar jembatan trotoar. Apa yang didapat dengan melihat kondisi yang demikian? para pemulung tersebut mengkonsumsi trotoar tersebut bukan sebagai sebuah tempat pedestrian tetapi tempat mereka menaruh gerobaknya, mereka melihat adanya the others dari trotoar tersebut, mereka mengkonsumsi trotoar tersebut bukan yang seharusnya trotoar tersebut diperuntukkan. Mereka melihat adanya suatu potensi dari pagar pembatas, bagaimana bentuk dari pagar tersebut sehingga mereka bisa merantaikan gerobak mereka. Ada suatu kepraktisan yang muncul, melihat mereka yang tinggal di kolong jembatan, akan sulit bagi mereka untuk membawa gerobak mereka bolak balik ke atas (jalan).
comments