27
Sep
09

Berwacana tentang arsitektur + keseharian

Blog ini merupakan wadah gagasan tentang arsitektur dalam konteks keseharian dari kelas “Keseharian & Arsitektur” sejak tahun 2008 di Departemen Arsitektur Universitas Indonesia.

Berbagai gagasan tentang everyday + architecture dalam blog ini terdiri dari:

1. Refleksi terhadap sebuah wacana, teori ataupun pandangan yang berkaitan dengan keseharian dan arsitektur.

2. Rekaman kasus yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, serta pembahasan tentang kasus tersebut dalam kaitannya dengan wacana arsitektur dan keseharian.

3. Rekaman eksplorasi yang dilakukan – observing, re-reading, re-interpreting – dalam upaya memahami wacana arsitektur dan keseharian.

04
Jan
14

Penggunaan Motif Dalam Interior

Ugly menurut kami adalah sesuatu yang tidak bisa dinikmati secara visual pada hal –hal  yang mungkin sebenarnya tampak indah atau bisa menjadi indah sehingga dapat mempengaruhi fungsinya. Lebih jauh lagi, ruang – ruang seperti ini tidak bisa difungsikan menurut konteksnya secara maksimal.  Dalam hal ini juga, yang kami maksut adalah beauty bukan berarti good.

Penekanan kami adalah dalam penggunaan motif dalam interior. Ruang – ruang ini kami gambarkan dengan penggunaan – penggunaan motif dan, bentuk yang sebenarnya terlihat “wah” namun karena tidak dikomposisikan dengan baik, bahkan cenderung berlebihan, sehingga merusak pandangan dan mempengaruhi kenyamanan mata seperti mata cepat lelah atau bahkan terda-pat efek pusing. Ekstrimnya, ruangan ini dapat mempengaruhi manusia untuk memilih tidak untuk memasukinya. Walaupun, jika dilihat dari elemen lainnya (furnitur, dimensi, dll) sebenarmya, ruangan ini dapat difungsikan.

Untuk merepresentasikannya kami membuat 2 gambar.

Gambar pertama adalah gambar ruang makan sebuah restraurant. Dilihat dari elemen furniturnya, nampak beberapa meja dan kursi yang mana sudah dapat mencukupi untuk kegiatan makan. Namun, karena penggunaan motif garis – garis pada keseluruhan ruangan, motif yang dibentuk makin lama – makin kecil sehingga membuat ilusi seperti masuk kedalam, serta penggunaan warna putih & kuning, ruangan ini menjadi tidak bisa dinikmati oleh mata, nyaman dan membuat manusia ingin cepat – cepat pergi.

Gambar kedua adalah gambar sebuah ruang rias. Berbeda dari sebelumnya, ruangan ini menggunakan banyak motif dan menggunakan warna hitam dan putih. Ruangan ini terlihat begitu ramai, tidak ada satu elemenpun yang tidak bermotif. Jika dilihat per motif, motif – motif ini sebenarnya terlihat “cute” (cute,1.attractive, especially in a dainty way; pleasingly pretty: a cute child. 2. appealing and delightful; charming | http://dictionary.reference.com/), namun pengunaan semua motif menjadi satu, membuat mata menjadi tidak nyaman, manusia bisa pusing melihatnya apalagi jika berlama-lama.

Penggunaan motif sebenarnya baik – baik saja dalam interior, namun, penggunaan motif yang tidak tepat tentu dapat mempengaruhi ruangan, tidak hanya dari segi visual, namun juga kenyamanan serta psikologis manusia di dalamnya.

Ayu Putri Fadhilah

Febby Diasry Nesita

Stenly Lim

04
Jan
14

Ugly & Uglyness Dari Segi Konteks Sosial & Budaya

portfol

Frasa yang kami pilih adalah “konteks sosial budaya”. Konteks sosial budaya ialah pandangan yang tergantung pada kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat, sedangkan bila melihat konteks sosial budaya didalam ruang adalah bagaimana ruang berfungsi menurut nilai-nilai yang dianut si pengguna ruang, salah satu contoh yang kami ambil adalah seorang klien wanita betawi berusia 20 tahun yang masih menjunjung tinggi adat istiadat (nilai sosial & budaya), tinggal di jakarta. Ia meminta kami untuk mendesain sebuah kamar mandi dirumahnya.

Kami membuat sebuah tempat untuk mandi yang terbuka sehingga klien dapat melihat pemandangan indah sambil mandi, begitu pula orang dari luar dapat melihat aktivitas di tempat mandi, menghirup udara segar dan mengamati aktivitas orang yang sedang menanam di sekitar rumah.

maket 1
maket 2

Jika dilihat dari segi sosial budaya si klien, desain ini menjadi ugly bagi klien. Tingkat privasi klien yang berbeda dari orang lain, menjadikan desain kamar mandi tidak nyaman bagi klien, tempat mandi yang terbuka membuat klien risih & malah enggan untuk mandi walaupun dapat menikmati pemandangan yang indah.

Kelompok:

Ayu Pratitha

Gabriela Jennifer

Valencia Tandy

04
Jan
14

UGLY KITCHEN // ketika dapur seorang chef menjadi tidak bisa berfungsi

UGLINESS BERDASARKAN KONTEKS JAMAN

Dewasa ini, membludaknya jumlah penduduk dan terbatasnya ruang yang tersedia menjadi suatu isu yang sedang ramai dibicarakan. Sehingga di jaman ini, efektivitas ruang adalah yang paling dituju bagi kelangsungan hidup manusia.

Untuk kebutuhan ruang  yang dituju pada poin efektivitas yakni ruang yang memiliki fungsi maksimal dan optimal tetapi dengan ruang yang seminim mungkin, namun tetap ergonomis.

Jadi, di zaman ini, kami menghadirkan ugliness tersebut dalam desain sebuah ruang yang cukup vital,  yaitu dapur. Dimana kami membuat ruang tersebut menjadi sangat tidak efektif. Bisa dibilang kami ‘memboroskan’ ruang. Yang pertama kami lakukan yaitu merancang elemen-elemen dapur dengan ketidak jelasan order pada ruang. Storage, titik api, dan titik air dibuat berantakan (bahkan dapur ini tidak memiliki tempat persiapan maupun tempat sampah. Lalu elemen berupa peralatan dapur dibuat dengan tidak memperhatikan prinsip ergonomi (sangat pendek atau sangat tinggi).

Hal-hal tersebut membuat ruangan ini menjadi tidak nyaman sebagai dapur. Bahkan tidak dapat difungsikan. Sehingga menurut kami ini melanggar sifat efektivitas yang menjadi kebutuhan di jaman ini.

Gambar 1:  Skenario Ugly Kitchen

MENGAPA DAPUR?

Dapur adalah salah satu jenis ruang yang sangat membutuhkan order yang jelas. Selain itu dapur (hampir selalu) harus dibentuk dengan sangat memperhatikan aspek fungsional dan ergonomi.

CLIENT PROFILE

Seorang koki mancanegara. Ia biasa muncul di TV membawakan acara masak. Tentunya dia sudah biasa bekerja di dapur yang profesional, lengkap dan tepat (baik secara ergonomi maupun order)

Gambar 2: Denah dan Perspektif Ugly Kitchen

Pada gambar diatas, dengan melihat denahnya saja pun kita dapat mengatakan bahwa Dapur ini tidak baik. Dapur ini tidak dapat berfungsi. Dapur ini… JELEK!! UGLY!!

Kompor yang berada dibawah, membuat kita tak bisa memakainya dengan nyaman. Kursi yang terlalu tinggi, tidak jelas untuk apa dia disitu. Bahkan untuk menduduki kursinya kita perlu berjuang memanjatnya. Meja penyimpanan yang tidak jelas peletakannya dan bahkan menghalangi alur sirkulasi.

Gambar 3: Kolase Ugly Kitchen

Kami lalu berimajinasi lebih liar lagi dengan membuat kolase. Peletakan dibuat tidak beraturan. Dimensi furnitur dan elemen lainnya dibuat sembarangan. Keefektifan ruang yang dewasa ini menjadi perhatian kini diabaikan. Dapur yang selama ini dibuat ‘bersih’ pun kini dibuat menjadi kotor dan usang dengan langit-langit, dinding, dan lantai yang kotor, tua, dan usang. Hal ini menambah sifat ugly pada dapur.

KESIMPULAN

Efektivitas pada ruang dewasa ini adalah hal yang sangat diperhatikan. Dengan sedikitnya ketersediaan space membuat hal-hal yang terjadi di dalam space tersebut haruslah efektif. Ruang-ruang pun biasanya memiliki order yang rapih agar sistem didalamnya berjalan dengan baik (fungsi sebuah ruang dapat berjalan dengan baik). Ergonomi pun merupakan faktor yang sangat penting dalam terwujudnya kenyamanan pada ruang sehingga sistem didalamnya berjalan lancar.

Dengan mengabaikan faktor-faktor diatas, yaitu membuat order pada ruang tidak terlihat jelas, furnitur tidak ergonomis, ruangan menjadi tidak efektif. Dan parahnya lagi, ruangan tidak dapat berfungsi. Hal inilah yang membuat ruang tersebut menjadi UGLY.

Oleh:
Sarah Dwidara Eva Jelita
Shanti Amelia Purnomo
Thaza Theresia Georly

04
Jan
14

“ugly” Architecture Studio

Setiap orang memiliki pengertiannya sendiri mengenai “ugly”, banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang terhadap sesuatu sehingga muncul penilaian baik dan buruk. Kelompok kami mendapatkan keyword untuk membahas ugly, yaitu komposisi dan adanya pembanding.

Jika membahas komposisi maka akan berkaitan dengan proporsi, ritma, irama, kesatuan, keseimbangan, kontras, point of interest, keselarasan dan lainnya. Seseorang dapat menilai sesuatu itu ugly atau tidak juga bisa karena faktor-faktor tersebut. Biasanya orang akan menilai “ugly” saat komposisiya tidak seimbang, hal ini berpengaruh pada visual sesorang hingga mempengaruhi kenyamanan seseorang bila menyangkut ke fungsi. Orang menjadi tidak suka melihatnya atau tidak suka menggunakannya karena dianggap “ugly” baik secara visual ataupun kegunaan.
Penilaian “ugly” juga muncul dari faktor adanya pembanding. Benda yang satu dibandingkan dengan yang lain. Yang satu dianggap lebih bagus hingga yang satu lagi dianggap tidak bagus. Tentunya hal-hal pembanding itu merupakan sesuatu yang subjektif.
Dari yang kita ketahui, ruang studio perancangan haruslah merupakan tempat yang nyaman untuk para mahasiswa. Penataan ruang dan desain yang membuat mahasiswanya merasa nyaman. Namun berbeda dengan ruang studio perancangan arsitektur yang kami rancang. Kami membuat design ruang studio dengan konsep dasar ugly, karena bisa dilihat dari komposisi yang ada pada desain ini sangat tidak seimbang, tidak nyaman secara penggunaannya dan tidak enak dilihat secara visual.
Kami membuat studio dengan ukuran 10m x 9.7m dengan tinggi 2m. Layout kursi dan meja yang tidak beraturan. Tinggi meja dan kursi yang tidak ergonomis (kursi sangat pendek apabila dibandingkan dengan mejanya). Terlihat antara warna lantai dan warna dinding yang perpaduannya tidak sesuai. Peletakkan ubin yang tidak beraturan (ada yang berbeda warna di bagian tertentu). Selain itu pintu yang engselnya terdapat dibagian atas sehingga menyulitkan orang yang akan membuka atau menutup. Dan juga jendela yang dirancang dengan komposisi yang tidak beraturan dengan warna kaca kuning yang warnanya dapat membuat mahasiswa di dalamnya tidak nyaman.
Kembali lagi bahwa penilaian seseorang merupakan sesuatu yang subjektif, komposisi yang menurut kami ugly belum tentu ugly menurut orang lain. Hal ini juga berlaku dalam membandingkan sesuatu.

ugly 1
ugly 2
ugly 3

(klik pada gambar untuk memperbesar)
 Kelompok:
Audentya Widoretno | Frist Sunarta | Reza Kahvi
30
Dec
13

Melihat Ugliness dalam Perspektif Orang Normal dan Penderita Tritanopia

Ugly – Ugliness

Melihat Ugliness terhadap Ruang dalam Perspektif Orang Normal dan Penderita Tritanopia

Arie Ardiningrum – Fitria Setyawati – Nadita Amalia

Menurut kelompok kami salah satu aspek yang mempengaruhi ugliness yaitu perspektif/sudut pandang. Kita bisa melihat sesuatu itu ugly tergantung dari sudut pandang siapa atau sudut pandang mana kita melihatnya. Studi kasus yang kami ambil adalah dengan menilai ugliness dari ruang untuk penderita buta warna. Warna merupakan salah satu elemen yang mempengaruhi kualitas suatu ruang. Warna yang ditangkap oleh mata orang normal berbeda dengan apa yang ditangkap oleh penderita buta warna. Dalam studi kasus kami, pengguna ruang merupakan penderita buta warna tritanopia.  Dibawah ini merupakan palet warna yang ditangkap mata orang normal dan penderita tritanopia.

Kami mencoba menggambar sebuah ruang tidur yang sederhana. Warna yang kami pilih sebagai pelapis seluruh dinding kamar adalah kuning neon. Bagi mata orang normal, warna ini tidak enak dipandang. Warna kuning neon yang terdapat pada dinding ruang tidur ini terlihat sebagai sebuah error. Warna ini melapisi seluruh pembatas ruang, bukan hadir hanya sebagai aksen atau pattern-pattern dekoratif. Dalam pikiran kita, kita sudah memiliki acuan bagaimana sekiranya sebuah warna kamar tidur, namun ketika yang muncul adalah warna yang kurang nyaman di mata ini, maka otak kita berpikir bahwa warna tersebut tidak seharusnya muncul sedominan itu di sebuah ruang khususnya ruang tidur, ruang untuk beristirahat.

Sedangkan jika kita lihat dari sudut pandang si penderita buta warna, ruang tersebut tidak terlihat ugly karena warna yang ditangkap oleh mata mereka berbeda dengan apa yang orang normal lihat. Penderita buta warna akan melihat warna kuning neon sebagai warna krem, warna yang lebih lembut dan natural. Jadi kehadiran warna ini pada seluruh dinding kamar akan terlihat sebagai suatu komposisi nyaman di mata untuk sebuah ruang tidur,

Studi kasus ini merupakan salah satu contoh mengenai bagaimana sudut pandang menentukan bagaimana kita melihat ugliness dari sebuah ruang, jika kita memandang suatu ruang dari sudut pandang subjek yang berbeda maka impresi mengenai beauty/ugly yang hadir pun akan berbeda pula.

ugliness tritanopia

17
Dec
13

Ugly as Unpleasant

Kata kunci yang kami pilih untuk membantu mendefinisikan sekaligus membuat ruang yang ugly adalah unpleasant. Kata unpleasant ini diwakili menurut indera (sense). Baik itu indra penglihatan, penciuman, perasa, dsb yang dapat mendeskripsikan unpleasant tsb.

Kami mendefinisikan kata unpleasant sebagai sesuatu yang subjektif, yang berarti berbeda-beda individu memiliki penilaian yang berbeda akan sesuatu yang unpleasant menurut pemahamannya masing-masing. Untuk itu, terlebih dahulu kami memulai dengan membangun pemahaman tentang sesuatu yang unpleasant tsb, untuk menjawab rumusan masalah tentang, “Apakah yang membuat sesuatu itu menjadi unpleasant?”. Berikut akan dijelaskan melalui beberapa tools yang mendukung pencarian tsb.

Gambar 1. Kolase: “Unpleasant things (?)”

Seperti yang dapat dilihat pada kolase di atas, terdapat objek-objek yang tidak menyenangkan (unpleasant) menurut indera. Bermula dari kloset, belatung, sampah, kambing, bangkai, bau busuk, roti berjamur, ekspresi wajah yang buruk, dsb, yang kita kenal sebagai sesuatu yang (umumnya) adalah tidak menyenangkan, baik itu ditafsirkan menjijikan, memuakkan, mengganggu pandangan, bau. Namun demikian, selain objek-objek umum tentang unpleasant tsb, ditemukan pula objek-objek yang bisa jadi ditafsirkan unpleasant/tidak oleh individu tertentu saja. Misalnya sayuran, bagi orang yang tidak senang dengan sayuran, akan melihat hal tsb sbg sesuatu yang unpleasant, tetapi tidak dengan orang yang suka makan sayuran. Begitu pun dengan masakan italia, bagi yang tidak familiar dengan rasanya. Bawang merah yang dipandang tidak menyenangkan bagi orang yang tidak biasa bekerja di dapur, lain halnya dengan ibu rumah tangga. Anak kecil lucu yang menangis, katak yang bermotif cerah, dll. Tidak semua orang memiliki pendapat yang sama mengenai sesuatu yang unpleasant ini.

Kami juga melakukan pencarian tentang, apakah yang membuat unpleasant ini menjadi subjektif? Apakah sesuatu yang umumnya di-judge sebagai unpleasant” itu (kotor, tidak beraturan, dll) selalu mutlak bersifat “unpleasant”?

Gambar 2. Unpleasant Experience (?): (both) Dirty & Messy, What’s the difference?
Gambar 2. Unpleasant Experience (?): (both) Dirty & Messy, What’s the difference?

Gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa dalam konteks experience dalam keseharian, tidak semua sesuatu yang kotor & tidak beraturan itu selalu diidentikkan dengan unpleasant. Bisa jadi, sesuatu yang secara visual unpleasant, justru secara feeling, sesuatu tersebut pleasant bagi yang mengalaminya. Sampah berserakan yang kotor & tidak beraturan tidak sama dengan pengalaman bermain anak-anak yang bermain kotor-kotoran dan berantakan. Secara visual, keduanya termasuk kotor & tidak beraturan, tetapi secara feeling, bagian kedua bukan merupakan unpleasant experience, karena terdapat unsur keceriaan di dalamnya.

Berdasarkan hal tersebut lah, kemudian kami akan membuat sesuatu yang unpleasant yang tidak hanya dari segi visual saja, tetapi juga dari segi feeling. Hal inilah yang kemudian akan kami hadirkan melalui media-media yang kami buat.

Berdasarkan pemahaman tentang unpleasant sebelumnya tsb, kami sepakat membuat ruang “ugly” yang tidak hanya bersifat unpleasant dari indera saja (sense), tetapi juga dari segi experience, yaitu dimana ruang yang kami buat ini terkesan unpleasant baik secara visual maupun feeling. Ruang tersebut kami deskripsikan dengan media sketsa & maket.

Bagian yang penting dari maket visualisasi ugly as unpleasant ini tidak hanya berupa hasilnya saja, tapi proses bagaimana membuat media ini sehingga dapat dikatakan sesuatu yang ugly adalah penting juga. Dari proses tersebut lah dapat disimpulkan bahwa hasil-hasil media yang kami buat adalah sesuatu yang memang ugly.

Gambar 4. Sketsa ugly as unpleasant
Gambar 4. Sketsa ugly as unpleasant

Sebagaimana dengan pengertian yang kami bangun mengenai bagaimana sesuatu itu dapat dikatakan unpleasant (melalui contoh kasus & kolase yang kami paparkan sebelumnya), sketsa ini pun kami buat menurut pengertian tsb. Sebelum proses pembuatan sketsa ini, kami selalu memikirkan “bagaimana menghadirkan sesuatu yang unpleasant itu?”, sehingga objek demi objek yang kami hadirkan dalam sketsa ini merupakan objek-objek unpleasant terpilih, yang kemudian jika dilihat sebagai satu kesatuan, objek-objek tersebut akan membentuk sebuah cerita besar, yang kemudian mengkonstruksi sebuah ruang yang unpleasant. Karena sebuah experience akan terbentuk hanya jika ketika objek-objek tsb berada dalam sebuah satu kesatuan ruang (space) dan membentuk sebuah cerita di dalamnya. Urutan proses pembuatan sketsa ini adalah pertama-tama, kami membuat objek-objek yang menurut kami unpleasant ketika diletakkan, seperti sampah, binatang yang menjijikan maupun yang tidak kita sukai, seperti kecoak, ular, kelabang, cicak, kucing, dll yang tergambar dalam sketsa tsb. Tidak hanya sampai di situ saja, agar dapat menghadirkan sebuah cerita, kami memikirkan “bagaimana kemudian objek-objek tsb dipresentasikan?” lantas kami pun kemudian memikirkan, “bagaimana  keadaan objek terlihat?” sehingga yang tergambar adalah cara bagaimana objek-objek tsb dihadirkan di dalam gambar, ada yang tumpah, ada yang berserakan, ada yang miring, dan ada yang seharusnya tidak berada di situ. Tidak hanya berhenti di bagian visualnya saja, kemudian kami pun memikirkan “bagaimana agar objek-objek tsb membentuk sebuah scene yang menggambarkan unpleasant experience di situ?” terdapat dimensi keruangan dan kemungkinan cerita dibalik itu yang mengkonstruksi sesuatu yang unpleasant, yang tidak hanya dihadirkan melalui objek-objek unpleasant yang berdiri sendiri saja, tetapi juga “bagaimana kemudian objek-objek tsb dapat dilihat sebagai sesuatu yang unpleasant baik secara visual maupun feeling?”. Dari sana lah kemudian kami menambahkan konteks, ruang apakah ini? Dan siapa yang berada di situ?. Sehingga sketsa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang memang unpleasant baik dari segi fisik maupun feeling. Yaitu seorang bayi yang menangis karena tidak nyaman berada dalam keadaannya (sedang  pipis dan berada di dalam ruang dapur yang kotor, bau dan berantakan). Tidak hanya unpleasant menurut kita pengamat, tetapi juga unpleasant menurut keadaan bayi tsb. (Gambar 4)

Begitu pun dengan maket ugly yang kami buat, prinsip ugly as unpleasant (berdasarkan pencarian kami), tetap menjadi dasar dalam proses pembuatan maket ini, sehingga dihasilkan lah sebuah unpleasant experience yang terdeskripsikan melalui maket hasil rancangan ruang ugly yang terbentuk dari proses-proses yang  juga ugly (objek-objek unpleasant), jemuran tak beraturan, pakaian yang bernoda karena tidak pernah diangkat, kursi yang sudah rusak, meja dengan taplak kotor karena tidak pernah dicuci, dinding yang juga penuh dengan kotoran cicak, berikut sarang laba-laba di sana sini, menceritakan sebuah unpleasant experience, dimana tidak ada experience yang terlihat di dalamnya (ruang yang sudah ditinggalkan penghuninya).

Gambar 5. Maket ugly as unpleasant

Kelompok:

Alfoadra Zamdekha

Andy Tanjung

Nisa Zakiah

11
Dec
13

Ugly & Ugliness Dari Segi Tampak

Ade Amelia
Ana Fitriyani
Destiana Ritaningsih
Indah Amalia Hasan

Keyword yang diambil oleh kelompok kami adalah tampak. Yang kami maksud sebagai tampak adalah sesuatu yang langsung dapat kita nilai ketika kita melihatnya. Tampak ini lebih kepada hal yang terdapat pada permukaan, sesuatu pada “first layer”, yang didapatkan sebsgai kesan pertama.

Untuk memudahkan dalam merancang ruang, kami memilih satu anggota grup kami sebagai klien. Kami membuat rincian hal-hal yang menurutnya ugly, yaitu sebagai berikut

– Sesuatu yang secara susunan (untuk benda, furniture, dan lainnya) tidak enak dipandang, tidak tertata sesuai kategori (misalnya), serta ada yang bentuknya aneh.

– Bukaan untuk pencahayaan dan penghawaan kurang memadai (misalkan sebuah ruang tanpa jendela)

– Secara warna, ada warna-warna yang bertabrakan/ kontras (misalnya pertemuan warna orange dan kuning), serta warna yang tidak disukai (pink).

– Mengingatkan akan sesuatu yang dibenci, misalnya hewan kodok.

Berdasarkan hal tersebut kami memutuskan untuk mengambil 3 unsur yang membuat klien memiliki ekspektasi akan sesuatu yang “ugly”. Yang pertama adalah “bentuk” yang abstrak, sehingga ketika “tersusun” secara tidak teratur akan menimbulkan sesuatu yang kurang nyaman bagi klien. Selain itu, kami memanfaatkan persepsinya tentang sesuatu yang klien benci, misalkan kodok. Sesuatu yang menggelikan menurut klien kami diabstraksikan menjadi ruang dengan bentuk dan tatanan yang tidak nyaman/ tidak diprogram dengan baik.

Lendir sebagai sesuatu yang nampak begitu menjijikan bagi klien kami sehingga kami fokus untuk menjelajah lendir tersebut sebagai kualitas ruang yang mengganggu pada saat klien merasakan pengalaman ruangnya. Kami mencoba membuat maket yang diipenuhi lendir-lendir sebagai media yang diharapkan akan menimbulkan kesan tidak nyaman dan keterbatasan dalam gerak. Percobaan aplikasi ugly terhadap pengalaman ruang yang disimulasikan pada maket kami menerangkan bahwa dengan ketidaknyamanan yang hadir sebagai lilitan lilitan dari lendir tersebut. Ugly di sini hadir dari sebuah tampak yang kemudian dampaknya tidak hanya sampai pada nampaknya, tapi juga pengalaman ruang yang menyulitkan posisi klien sebagai korban dari ruang tersebut.

deskripsi ugly

Eksplorasi

3D Model Making Process




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers