02
Nov
08

Domesticity vs Ideal

Dalam keseharian kita, tanpa kita sadari, sebenarnya sering kali kita berhadapan dengan realita ‘domesticity’ dan pemikiran akan bentuk ‘ideal’ dari kondisi domestic yang kita hadapi tersebut. Domesticity disini sebagai hasil atas interfensi yang kita lakukan terhadap sesuatu yang sebelumnya sudah tersusun secara ideal. Pada dasarnya, domesticity ini dihasilkan dari adanya ruang yang ‘dihidupi’ dan digunakan sebagai tempat beraktifitas oleh manusia. Namun demikian, domesticity cenderung dianggap sebagai sesuatu yang jelek, tidak enak dilihat, berantakan dan tidak seharusnya seperti apa yang kita anggap sebagai ‘ideal’. Lantas apa yang dimaksud dengan ideal? Meskipun ideal cenderung bersifat subjektif, namun secara umum sesuatu akan dikatakan ideal bila ‘dia’ tersusun rapih, bersih, atau bahkan mengikuti kaidah-kaidah penataan tertentu. Bentuk ‘ideal’ yang ada ini cukup banyak dipengaruhi oleh modernisme yang pada waktu kemunculannya dipengaruhi oleh pemikiran akan semua yang serba bersih dan bebas kotoran untuk menghindari penyakit.

Disinilah pembicaraan mengenai domesticity dan ideal ini menjadi menarik untuk diangkat. Ketika kita melihat di buku-buku atau majalah arsitektur, sering kali kita diberikan gambaran-gambaran ruang yang ‘ideal’ dan justru bukan gambar-gambar yang memperlihatkan domesticity dalam ruang tersebut. Gambaran-gambaran ideal itu seolah melupakan unsur everyday yang sebenarnya tidak mungkin terlepas dari manusia yang menghuni ruang tersebut. Namun demikian, sebagai pembaca buku atau majalah terebut, kita juga memang akan lebih tertarik untuk melihat gambar-gambar ideal seperti itu. Bagaimana bila gambar yang disajikan justru gambar sebuah ruang dengan domesticity yang terjadi didalamnya? Saya rasa sebagian besar dari kita lebih condong untuk tidak menyukai gambar yang mengandung unsur domesticity tersebut. Domesticity menjadi seakan disembunyikan dari pandangan kita dan dengan alasan estetika, kita seolah tidak menerima domesticity, yang sebenarnya justru merupakan realita, untuk ditampilkan didepan mata kita.

Domesticity sering kali dianggap merusak suatu karya arsitektur. Sebagai contoh, sebuah dapur yang bersih dan tertata dengan rapih sehingga dianggap bagus kemudian dipandang tidak lagi indah ketika di dalamnya terlihat adanya cipratan kuah bekas kegiatan memasak pada dindingnya, panci-panci kotor yang bertumpuk didalam tempat cuci piring, dan lain sebagainnya. Menurut saya, justru arsitektur lah yang seharusnya bisa menanggapi domesticity yang terjadi didalamnya itu. Karena bagaimana pun, arsitektur ada untuk manusia yang tentu saja tidak terlepas dari kesehariannya, domesticity salah satunya. Bentuk ideal seharusnya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan dalam proses pembuatan suatu bentuk arsitektur.


2 Responses to “Domesticity vs Ideal”


  1. 1 r1ss
    November 2, 2008 at 10:45 am

    Menurut saya pemunculan gambar-gambar yang dikatakan “ideal” di majalah-majalah arsitektur adalah hal yang wajar, karena gambar dari space itu belum ditempati oleh manusia..
    Tujuan dari majalah-majalah itu sebenarnya adalah menjual sebuah space (yang belum ada aktivitas di dalamnya) agar dibeli oleh orang lain dan merubah space itu menjadi place..Dan tidak mungkin majalah itu menampilkan sebuah “everyday” di dalamnya jika penghuninya pun belum ada..Mungkin ketika space itu telah berubah menjadi place maka gambaran image dari tempai itu pun akan berubah, dimana adanya “sign and mark” orang-orang yang ada di dalamnya..dan domestic place itu akan mempunyai citra yang berbeda dibandingkan domestic place lainnya..

  2. 2 nikeveryday
    November 2, 2008 at 3:49 pm

    apakah domesticity muncul setelah ideal terlebih dahulu? Kalau iya, berarti wajar jika yang sering tampil dalam majalah arsitektur adalah icon-icon yang ideal (bagus, rapi, teratur. Karena manusia lebih cenderung menyukai keindahan seperti yang Anda katakan. Baru dari hal yang ideal tersebut, muncul tindakan interfensi terhadap keindahan yang menciptakan domesticity. Jika tidak ada keindahan, maka logikannya tidak ada domesticity. Bukankah begitu? Atau mungkinkah keindahan muncul beriringan dengan domesticity, apakah domesticity selalu jelek, mungkinkah muncul domesticity yang indah?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: