02
Nov
08

Everyday and Time

Konsep everyday pada awalnya muncul sebagai penolakan terhadap icon-icon generalisasi. Segala sesuatu ada patokannya, dan sesuatu akan menjadi benar jika sesuai dengan patokan tersebut. Maka muncullah istilah-istilah seperti uniformity yang menyatakan bahwa segalanya ada keseragaman, dan konsep star dimana seorang bintang yang sering tampil menjadi patokan sehingga yang seperti bintang-lah yang selalu dianggap mengikuti zaman, tidak kuno.

Everyday juga membahas istilah “man”. “Man” merupakan bentuk metafora dari bentuk ideal seorang manusia, yakni icon seorang laki-laki. Laki-laki yang disimbolkan sebagai sesautu yang sering tampil, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Semua yang dikatakannya menjadi hal yang patut diikuti. Memang kemudian pembahasan ini menyangkut kepada masalah gender. Jika laki-laki dilihat sebagai orang yang tampil, maka wanita disimbolkan bersembunyi. Wanita pada zaman itu digambarkan sebagai pengurus rumah tangga yang tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Seorang ibu selalu berada di dalam rumah untuk mengurusi segala kebutuhan keluarganya.

Everyday mengkritisi generalisasi tersebut sehingga kini banyak wanita bermunculan di dunia luar rumah. Tidak asing melihat wanita diluar rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, seperti belanja. Atau bahkan melihatnya menyalurkan idealismenya sendiri untuk mencapai karier yang diinginkannya. Tidak heran kini banyak muncul icon-icon wanita masa kini yang justru memperoleh karier cemerlang, setara atau bahkan melebihi pria sekalipun. Kini peran wanita ibu dalam rumah pun telah tertutupi.

Zaman telah berubah, jika dahulu wanita ‘modern’ dilihat selalu berada di dalam rumah kini wanita ‘modern’ dilihat jika ia memiliki karier di luar, atau bisa disebut bekerja. Kasus ini terjadi bisa disebabkan 2 (dua) hal, yaitu perubahan everyday (kehidupan domestik yang berubah) atau lagi-lagi everyday yang tertutupi kemodernan sehingga yang dilihat, merupakan sesuatu yang biasa terlihat pada zaman sekarang.

… the everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by “workers,” but by manager and owners of the means of production ( intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected.” (Lefebvre, 1997)

Menurut kutipan diatas, Everyday terkait pula dengan aspek intelektual yang berkaitan dengan perkembangan pengetahuan dan pemahaman manusia sehingga everyday dapat menjadi kondisi yang sangat universal maupun sebaliknya, yaitu kondisi yang sangat unik bagi kita yang bukan memproduksi everyday tersebut.

Berarti kutipan ini sedikit menjawab kemungkinan yang terjadi, bahwa kasus yang dibahas sebelumnya masih merupakan everyday, karena ternyata everyday bisa berkembah atau bahkan berubah seiring dengan berkembangnya intelektual manusia.

Pada zaman sekarang, pengukuran tingkat intelektualitas diukur melalui pendidikan. Pendidikan yang dilihat adalah pendidikan formal, yaitu bersekolah di sebuah institusi pendidikan yang diakui negara. Masyarakat kemudian melihat pembuktian tingkat pendidikan itu dengan bekerja.

Masyarakat menilai orang yang bekerja setelah menempuh pendidikan menjadi kondisi yang ideal. Maka tak heran, orang yang bekerja, baik pria atau wanita, menjadi icon zaman sekarang. Tidak terbantahkan bahwa bekerja kemudian menjadi everyday.

Namun pembantahan terjadi ketika menjelaskan konsep bekerja yang menjadi everyday seseorang. Bekerja yang ideal adalah bekerja di sebuah kantor. Kantor merupakan icon tempat dimana orang bekerja. Melakukan suatu pekerjaan di sebuah bangunan berlantai banyak. Berkantor tidak hanya juga terikat pada jam kantor nine to five, tetapi juga icon pakaian kerja yang berlaku.

Maka muncul icon wanita zaman sekarang telah diidentikkan sebagai wanita karier. Berkantor dengan icon pekaian kerja yang melekat, menggunakan rok, atau celana panjang bahan, berkemeja dengan lapisan blazer (jas wanita) diluarnya, mengunakan sepatu berhak tinggi yang membuat orang menoleh jika berjalan di lantai keramik, menjinjing tas di tanggannya. Itulah ikon wanita karier masa kini.

Sekalilagi bahwa everyday bukanlah sesuatu yang dilihat ideal.

The everyday is therefore a concept .The everyday, established and consolidated, remain a sole surviving common sense referent and point of reference “intellectual,” on the other hand, sees their systems reference elsewhere: in language and discourse, or sometimes in a political party. The proposition here is to decode the modern world, bloody riddle, according to the everyday” (Lefebvre, 1997)

Everyday mempelajari arti dari sebuah kode yang tidak dapat langsung dipahami secara kasat mata karena tidak dapat dijelaskan secara langsung oleh logika.

Karena terdapat kaitan yang erat antara perkembangan pengetahuan dan pemahaman maka terjadi kebingungan antara pihak yang menjalankan konsep everyday dengan orang asing yang melihatnya.

Hal tersebut juga terjadi dengan icon berkantor. Pengetahuan semakin berkembang, begitu pun dengan teknologi. Teknologi bernama cyber telah meluluh lantahkkan kehidupan masa kini. Cyber telah mengubah everyday seseorang, bahkan icon berkantor itu sendiri. Kantor yang semula digambarkan dengan semuah bangunan nyata beralih pada dunia maya, dimana orang tidak perlu bertemu langsung untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Cyber menjadi ‘kantor’ masa kini. Cyber menghancurkan oipni sebuah kantor yang harus berlantai banyak, karena cyber emmungkinkan orang ‘berkantor’ dimana saja, bahkan di rumah sekali pun. Cyber sekali lagi mementanhkan icon fashion orang bekerja sekalipun bahwa bekerja harus berpenampilan rapi. Dengan cyber, fashion tersebut tidak penting. Berkaus gembel sekalipun orang tidak akan peduli.

Bahkan kini menjadi tidak asing orang-orang beralih jalan hidup untuk memutuskan bekerja di rumah dengan tingkat keefektifasan yang lebih tinggi. Tanpa modal transport dan biaya baju kantor. Bahkan banyak orang yang berkontor di rumah memiliki income yang lebih besar daripada orang yang berkantor.

Namun lagi-lagi berbedanya perkembangan pengetahuan menjadi masalah antara orang yang menjalankan everyday dengan orang asing yang melihatnya. Bagi masyarakat awam, berkantor di dunia cyber masih menjadi hal yang aneh, bahkan cenderung negative, karena malah muncul anggapan bahwa orang yang berkantor di dunia cyber tidak bekerja atau disebut pengangguran. Masih perlu waktu untuk membuat hal ini menjadi masalah.

Tetapi yang tidak dapat dipungkiri bahwa Everyday haruslah berubah sesuai dengan waktu dan sesuai dengan perkembangan kebudayaan, cara hidup, cara pandang, kebutuhan, keadaan sosial dan hal-hal lain yang mewarnai kehidupan manusia. Penyesuaian ini perlu terjadi agar konsep everyday ini tetap diterima sebagai sebuah konsep yang berhubungan terhadap eksistensi kedekatan sesuatu dalam kehidupan keseharian, serta sebagai sebuah hal yang penting dan tidak boleh dilupakan. Penyesuaian yang dilakukan sekarang tidak luput dari masa lalu. Yang ada sekarang adalah kelanjutan dari masa lalu. Jika kita dapat mengetahui masa lalu maka akan sangat membantu dalam merunut ke masa sekarang.

… the concept of the everyday illuminates the past” (Lefebvre, 1997).

Dan yang mutlak perlu disadari untuk tidak mengabaikan keberadaan dari everyday life.

Everyday life has always existed, even if in ways vastly different from our own

(Lefebvre, 1997).


1 Response to “Everyday and Time”


  1. 1 yun1t4
    November 24, 2008 at 1:52 pm

    Setiap kasus diatas memiliki nilai-nilai tersendiri.
    Nilai positif dan negatif yang saling kontradiktif.
    Nilai positif dari seorang wanita yang bekerja adalah wanita tersebut dapat mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya dan wanita itu dapat membangun network dengan orang-orang yang terdapat di sekitar lingkungan kerjanya.
    Nilai negatif dari seorang wanita bekerja adalah wanita tersebut lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaannya. Waktu untuk berkumpul dengan keluarga menjadi berkurang.
    Seiring dengan berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang sehingga memungkinkan seorang wanita untuk bekerja di rumah dengan menggunakan teknologi interne.
    Seorang wanita dapat memiliki waktu yang lebih banyak dan fleksibel untuk berkumpul dengan keluarga atau untuk mengurus anak.
    Menurut saya everyday setiap orang adalah PILIHAN. Ketika kita memilih untuk memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu maka akan ada sebuah atau beberapa konsekuensi yang kita hadapi.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: