02
Nov
08

Gelandangan: ‘The architect of everyday architecture??’

“ The architectural everyday can be seen, too, as a process of improvisation, using whatever comes to hand,” Sarah Wigglesworth dan Jeremy Till, The Everyday and Architecture

Bermula dari pertanyaan tentang apa pandangan kita tentang sebuah kata ‘Gelandangan’? secara spontan kita akan mendeskripsikan bahwa gelandangan itu adalah sosok kalangan yang biasa kita temui di kolong jembatan, jalanan, yang sangat miskin, tidak punya rumah yang tetap, kumuh, berantakan, kotor, dll. yang sifatnya menurut kita (sebagai ‘kaum’ yang berada di luar konteks itu ) merupakan sesuatu yang negatif, yang tidak biasa bagi kita. Tetapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah ada sesuatu hal lain yang menarik dibalik ‘kenegatifan’ itu?

Cara hidup dari gelandangan merupakan salah satu hal yang menarik untuk diungkap. Keberadaan dirinya yang selalu berada dalam kondisi yang serba kekurangan, sedangkan ada kebutuhan yang tetap harus dipenuhi, membuatnya menjadi sesosok yang kreatif dan pandai berimprovisasi dalam hal cara pemenuhan kebutuhan hidupnya tersebut. Seorang gelandangan akan menggunakan dan memanfaatkan apa saja yang ada di sekitarnya untuk dapat melanjutkan hidupnya. Ambil contoh dalam hal bertempat tinggal; ketidakmampuannya dalam membeli sebuah hunian yang tetap dan nyaman, membuat dirinya memanfaatkan lahan milik umum yang ada seperti di kolong jembatan, lahan kosong, dll. sebagai tempat tinggalnya. Fisik dari tempat tinggal ini juga menyesuaikan dengan lingkungannya, dalam artian dari pemilihan bahan dan material, mereka menggunakan segala sesuatu yang akrab dengan hidup mereka sehari-hari seperti kardus bekas, tripleks-tripleks bekas, plastik, dll. dari cara hidup seperti ini sebenarnya tergambar kemampuan dari gelandangan dalam hal pemilihan tempat yang memiliki peluang baginya untuk bertinggal, pemilihan material tempat tinggal yang mudah dicari tetapi juga dapat membantu menahan hujan dan panas. Hal ini, kita sadari maupun tidak, sebenarnya dengan cara hidup yang seperti itu, para gelandangan ini telah ‘berarsitektur’ dalam kesehariannya. Hal yang kemudian menjadi permasalahan, sebagai sebuah isu umum, adalah cara hidup gelandangan yang demikian menjadi sebuah masalah bagi orang lain yang berada di luar ‘konteks gelandangan’, sekelompok orang yang lebih dominan ( dominant yang dimaksud disini tidak hanya dominant secara jumlah tetapi juga dominant secara kekuasaan ) karena mereka merasa ada space yang termakan, yang seharusnya tidak digunakan untuk hal yang dilakukan oleh para gelandangan itu. Dari hal ini, bukanlah bentuk fisik yang kumuh dari tempat tinggal gelandangan itu yang menjadi masalah utama tetapi pemanfaatan ‘space’ yang tidak seharusnya (menurut pandangan kalangan yang dominant) yang menjadi permasalahan utama ( “But it is the manner of their production, and more widely the production of space rather than their incidental form ….. “ Sarah Wigglesworth and Jeremy Jill.). Kendati demikian ‘Yang seharusnya’ menurut kalangan yang dominant ini bisa dikatakan bukan lagi berdasarkan kebutuhan tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh berbagai hal dari pemikiran hingga gaya hidup yang modern, dll. dan ‘yang seharusnya’ ini kemudian cenderung berusaha menutupi bahkan menghilangkan jejak gelandangan itu.

Yang menjadi pertanyaan akhir, jika gelandangan sebuah kota bertambah banyak dan memakan banyak space yang tidak seharusnya dipakai dengan cara hidupnya yang demikian apakah menjadi salah? Dan apakah ‘yang saharusnya’ menurut kalangan yang dominant itu menjadi benar? Padahal bila ditelaah lagi cara hidup dan cara pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh gelandangan yang sering dianggap buruk itu merupakan cara yang lebih orisinil dalam berarsitektur dibandingkan kalangan ‘dominant’, sebuah cara yang bersifat domestik dalam berarsitektur (terlepas dari hal-hal negatif yang ditimbulkannya), yang dapat menjadi sebuah cara alternatif dalam berarsitektur.


4 Responses to “Gelandangan: ‘The architect of everyday architecture??’”


  1. 1 r1ss
    November 4, 2008 at 2:55 am

    Menurut saya,alasan mengapa jejak dari gelandangan itu seringkali dihilangkan, karena dengan banyaknya gelandangan yang suka menggunakan space di pinggir-pinggir jalan maka akan membuat image dari tempat itu menjadi tempat yang kumuh..Tapi menurut saya,itu memang bukan alasan mengapa gelandangan itu menjadi ditiadakan, karena siapapun termasuk gelandangan ikut terlibat dalam sebuah place, maka activity itu akan menjadi bervariasi, dan tidak terasa terlalu steril..Hal ini akan berkaitan dengan experience yang ditimbulkan oleh sebuah kota,kota kota terlalu steril,maka “kota” itu tidak akan seperti kota yang sebenarnya, dimana berbagai strangers dapat bertemu..
    Di dalam buku S,M,L,XL diceritakan bahwa ketika kota Rotterdam dibom oleh Jerman maka membuat kota itu mengalami rekonstruksi untuk membuat kota yang baru dan ideal,lalu muncul sebuah issue:
    “But hostility was brewing among new generations of architects.
    Newness became sterility.
    Space (good)became emptiness(bad).
    The new center was “not really a city”
    Revisionists first thought,” if we fill all that is empty, maybe we will have a city.
    ..freedom of rules, propositions, purpose..”
    Ternyata sesuatu yang ideal dan steril itu membuat kota menjadi “not really a city”..
    Sehingga bisa kita bayangkan jika di sebuah kota hanya diisi hal-hal yang positif (menurut sebagian besar orang) dan tidak ada sama sekali gelandangan yang terlibat maka apa yang akan terjadi di kota itu..Menjadi sebuah city kah atau “not really a city”?

  2. 2 def1
    November 16, 2008 at 11:09 am

    keberadaan gelandangan menurut saya membuka mata kita mengenai pengertian arsitektur yang ternyata mereka juga dapat berarsitektur dan mungkin mereka lebih kreatif daripada kita sebagai orang awam. Karena kepekaan mereka terhadap apa yang ada di sekitar mereka, mereka melihat bahwa apa yang ada disekitar mereka itu ternyata dapat mereka manfaatkan. Dan
    mnanggapi komentar dari r1ss mengenai bahwa sesuatu yang ideal dan steril membuat kota menjadi not really a city, saya teringat pada bacaan “The Death and Life of Great American Cities” yang mengatakan ‘…that cities are by definition, full of strangers. To any one person, strangers are far more common in big cities than acquaintances’dari kutipan ini kita bisa memahami bahwa di dalam sebuah kota terutama kota besar akan dipenuhi oleh strangers dan mungkin akan selalu kita temui. Strangers di sini bisa termasuk di dalamnya adalah gelandangan tersebut. Maka dari itu kita tidak bisa menjudge bahwa keberadaan gelandangan itu salah, karena mungkin saja justru keberadaan mereka adalah menjadi bagian yang sulit dihindari pada kota-kota besar. Tetapi seberapa besarkah keberadaan strangers itu pada suatu kota? seberapa besar mereka mempengaruhi keamanan bagi para pengguna jalan? seandainya memang penambahan jumlah gelandangan terus terjadi, menurut saya terdapat suatu kesalahan pada sistem tata kotanya yang mungkin perlu dikoreksi lagi.

  3. 3 nikeveryday
    December 30, 2008 at 11:55 am

    saya kembali bertanya apakah menjadi penting jawaban dari pertanyaan ‘benar’ atau salah’ dari saudara arwn maupun pertanyaan ‘is it really city’ atau ‘not really a city’dari saudara r1ss. Menurut saya jawaban itu tidaklah penting. Yang penting adalah bagaimana penanganan gelandangan yang menurut saya justru merupakan kehidupan sesungguhnya. Gelandangan is already there…It’s everyday life..
    Gelandangan yang merupakan everyday life tidak semestinya diabaikan karena dia bukan unsur ‘dominant’ di sebuah kota.

  4. 4 tephanyaki
    December 31, 2008 at 11:30 am

    menarik, melihat bagimana gelandangan ‘berarsitektur’. salah atau tidak salah tentang adanya gelandangan, itu subjektif. Gelandangan adalah imbas. Mereka tidak mau dan terpaksa hidup seperti itu, kita bilang mereka itu benar ada disitu namun mereka sebenarnya tidak mau hidup seperti itu. Yang pasti benar mereka perlu dibantu!


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: