02
Nov
08

Melihat Ruang Publik

‘Idealisme Vs Domesticity Vs Egoisme dalam Everydayness

Idealisme memiliki kata dasar ideal. Ideal = a person or thing conceived as embodying such a conception or conforming to such a standard, and taken as a model for imitation (dictionary.com). Ideal adalah suatu konsepsi akan sebuah kesempurnaan dengan standar tersendiri yang menjadi model. Hal ini dipertentangkan oleh domesticity karena hal yang orang umum anggap ideal belum tentu tepat bagi dia. Idealisme dan domesticity menurut saya keduanya berada pada zona abu-abu, kita tidak bisa memisahkannya secara mutlak. Domesticity adalah ideal, ideal juga bisa menjadi domesticity. Ideal itu baik namun domesticity menyempurnakannya, tapi kedua-duanya bagi saya tidak dapat berdiri sendiri karena konsep ideal sifatnya lebih publik, dengan standar-standar publik namun domesticity lebih personal dan bisa diterima.

Idealisme dan domesticity keduanya adalah hal yang bersifat subjektivitas atau berdasarkan pada diri sendiri. Kedua hal ini hanya dapat dinilai dan dirasakan oleh diri sendiri, karena itu selalu ada perbedaan penilian pada tiap individu mengenai hal ini.

Subjektivitas berhubungan sangat dekat dengan egoisme, [ego=self]. Setiap orang berhak mendapatkan apa yang ia inginkan atau setiap orang berhak bersifat egois, karena itu selalu ada usaha untuk mendapatkannya. Usaha yang dimaksud dapat berupa domesticity, usaha mengubah ruang ideal yang secara subjektif tidak ’dia banget’ menjadi ruang yang ’dia banget’.

Lalu bagaimana ketika ke-egois-an itu dibawa pada ruang publik yang dimana hal yang sifatnya subjektif harus dipertemukan dengan orang lain. Ketika nilai-nilai ini tidaklah sama munculah konflik, konflik antar nilai-nilai yang bersifat subjektivitas. Nilai mana yang harus dipertahankan dan nilai mana yang harus dilepaskan.

The everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by workers but by manager and owners of the means of production (intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected. (Lefebvre, 1997)

Lefebvre menyatakan bahwa everyday memiliki dua sisi, sisi pertama adalah sisi yang sangat umum dan bisa diterima oleh semua orang, sisi kedua adalah sisi yang sangat personal yang hanya bisa diterima oleh pembuatnya. Maka pada sisi yang mana ruang publik harus menentukan sisinya?

Secara mudah kita akan menyatakan idealisme ruang publik harus bersifat umum dan bisa diterima oleh semua orang. Namun ketika kita mengkaji kembali kenyataanya, dapatkah hal yang bersifat umum itu bisa selalu diterima oleh penggunanya? Selalu ada pilihan. Hal yang bersifat umum memunculkan seleksi dari hal-hal personal [domesticity]. Hal-hal personal yang sama dimunculkan agar pemaknaan ruang itu dapat dimakanai sama oleh tiap penggunanya. Namun ada suatu masa dimana egoisme itu tidak selalu sama dengan ke-umum-an itu, pengguna harus memilih. Memilih dimana ia harus berada pada ruang itu, ia akan memilih dimana ia akan merasa paling cocok atau ia akan memilih untuk menintervensi ruang itu. Sehingga muncul pertanyaan apakah ruang publik yang baik hanya dapat mencakup sisi umum saja?

Egoisme dan domesticity selalu muncul walaupun itu dalam ruang publik. Saya mengambil contoh taman, pada taman ada banyak bangku namun kita hanya memilih satu bangku untuk kita duduki, atau kita membuat sedemikian rupa agar bangku itu tepat untuk kita duduki. Jadi ruang publik yang baik adalah ruang yang bersifat umum dan dapat dimaknai bersama oleh tiap penggunanya sehingga tidak terjadi kesalahan pemaknaan, namun ruang publik itu tetap dapat memberi kesempatan pada para penggunanya untuk memunculkan ke-egois-annya. Arsitektur tidak hanya harus mampu melihat hal umum namun ia juga harus mampu melihat hal-hal personal. Ia pun harus mampu melihat hal ideal bukan dari ke-subjektif-annya namun dari ke-subjektif-an penggunanya.


1 Response to “Melihat Ruang Publik”


  1. 1 r1ss
    December 14, 2008 at 7:15 pm

    Menurut saya,terjadinya sisi umum dan sisi personal pada ruang publik lebih menonjol yaitu ketika terjadinya benturan antara sifat ruang publik yang harusnya bersifat umum dan terjadi penguasaan ruang publik tsb sehingga sifatnya berubah menjadi personal,bukan lagi umum. Dan yang dikatakan oleh Levebvre,adalah bagaimana everyday adalah sebuah produk bagi user (pemakai dari tempat itu,bukan pembuat atau pemilik dari tempat itu), membuat pengertian everyday dalam ruang publik itu lebih jelas lagi yaitu dimana biasanya ketika tempat publik telah digunakan secara everyday, maka tempat publik itu akan terasa personal untuk usernya dan fungsinya yang sebenarnya menjadi ter-hidden, oleh sifat personal yang muncul oleh user tersebut. Dan seorang perancanglah yang bertugas untuk membuat kemungkinan munculnya sifat personal pada tempat publik itu dapat berdampak baik bagi user lainnya. Sehingga kepentingan tiap user dapat berjalan beriringan walaupun terkadang kepentingan itu mengalami benturan.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: