02
Nov
08

Strangeness vs Ideal

the everyday has a certain strangeness that doesn’t surface, or whose surface is only its upper limit, outlining itself against the visible” (De Certeau, p.93)

Ungkapan di atas menjelaskan bahwa dalam everyday terdapat dua hal yang saling mendukung yaitu sesuatu yang strangeness dan sesuatu yang visible. Sesuatu yang strangeness memiliki sifat yang berlawanan dengan sesuatu yang visible. Strangeness merupakan suatu sistem yang sifatnya berantakan dan tidak indah, sehingga tidak boleh terlihat oleh orang lain. Sedangkan sesuatu yang visible merupakan sesuatu yang indah, ideal, dan tertata dengan baik. Seringkali keduanya dipisahkan, padahal tanpa adanya strangeness maka sesuatu yang ideal tidak akan ada. Bagaimana jika stangeness ditunjukkan ke orang banyak? Apakah kehadiran strangeness di ruang publik tidak diterima oleh orang banyak?

Isu mengenai strangeness dan ideal mengingatkan saya pada suatu kegiatan memasak yang dilakukan masyarakat di bantaran sungai Ciliwung di daerah Kali Pasir, Cikini. Kegiatan memasak yang dilakukan masyarakat memiliki suatu keunikan. Dalam kegiatan yang ideal, memasak merupakan suatu kegiatan yang tidak boleh dilihat orang banyak. Namun, masyarakat Kali Pasir yang tergolong memiliki tingkat ekonomi menegah ke bawah menunjukkan kegiatan memasaknya di ruang publik, yaitu di jalan. Tidak hanya memasak, kegiatan yang biasanya dilakukan di dapur, semuanya dilakukan di jalan.

Pada awalnya, masyarakat meletakkan peralatan memasak, seperti kompor, meja, panci, kuali, piring di tepi jalan. Kemudian, mendirikan penutup berupa tenda untuk melindungi peralatan mereka dari hujan. Sampai saat ini, kegiatan memasak ini masih berlangsung di jalan. Alasan masyarakat memasak di jalan, karena rumah tidak memiliki ruang yang cukup untuk memasak. Masyarakat yang menggunakan jalan tidak merasa terganggu dengan kegiatan memasak. Kegiatan memasak dan mencuci piring yang dilakukan di jalan menjadi kegiatan everyday bagi masyarakat Kali Pasir. Kebiasaan unik masyarakat di Kali Pasir ini ternyata dipandang sebagai sesuatu yang positif oleh masyarakat sekitar yang biasa melintasi jalan. Keberadaan dapur di jalan ini menjadi tempat berkumpul bagi masyarakat. Jika dipandang dari sisi ideal, keberadaan dapur membuat pemandangan di sekitar jalan menjadi tidak indah, berantakan, dan seolah tidak bersih. Namun, sesuatu yang ideal bagi masyarakat Kali Pasir tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang indah saja tetapi sesuatu yang bermanfaat dan digunakan dalam kehidupan kesehariannya.

Keseharian masyarakat Kali Pasir memberikan gambaran sesuatu yang strangeness diletakkan dalam ruang publik. Meletakkan peralatan memasak di jalan merupakan suatu intervensi masyarakat dalam kehidupan kesehariannya. Intervensi yang membuat strangeness menjadi sesuatu yang berlawanan dari pandangan ideal, dan menjadi sesuatu yang bermakna dan menarik dalam kehidupan keseharian. Menunjukkan sesuatu yang tidak indah, berantakan, kotor (strangeness) kepada orang banyak dalam keseharian membuat konsep ideal tidak lagi diterapkan dalam kehidupan keseharian masyarakat. Sesuatu yang strangeness tidak lagi disembunyikan, tetapi menjadi suatu proses yang menarik untuk ditunjukkan. Cerita dibalik sesuatu yang ideal (strangeness) akan lebih menarik dibandingkan gambaran akhir mengenai sesuatu yang ideal. Kehadiran strangeness dalam ruang publik menentang konsep ideal dalam keseharian. Sesuatu yang bersifat everyday tidak selalu berhubungan dengan sesuatu yang indah dan ideal, tetapi sesuatu yang tidak indah, berantakan, dan kotor menjadikan everyday unik.


4 Responses to “Strangeness vs Ideal”


  1. 1 def1
    November 2, 2008 at 10:48 am

    Dari kutipan yang ada di awal tulisan menunjukkan bahwa kita harus melihat lebih dalam apa yang hadir dipermukaan. Karena memang yang hadir itu tidak selalu yang ideal terutama bila kita kaitkan dengan everyday. Dan menurut saya pengertian dan pemahaman ideal setiap orang akan berbeda-beda, belum tentu ideal itu selalu terkait dengan sesuatu yang indah dan rapih. Bagaimana seseorang memaknai ideal itu menurut saya dipengaruhi pula oleh pengalaman dan gaya hidup seseorang.
    Jika saya perhatikan penggunaan bantaran sungai ciliwung sebagai area dapur bisa dikatakan bahwa masyarakat di pinggiran sungai tersebut melihat the others dari sungai tersebut. apa yang bisa dimanfaatkan dari sungai tersebut? potensi apa yang hadir di dalamnya? Bisa jadi karena gaya hidup dan kebiasaan masyarakat di bantaran sungai yang identik dengan kumuh menjadi sudut pandang yang berbeda ketika mereka melihat sebuah bantaran sungai. Sehingga mereka menganggap bahwa dengan menjadikan bantaran sungai sebagai area dapur adalah sesuatu yang ideal bagi mereka.

  2. 2 glowmyna
    November 2, 2008 at 12:43 pm

    menanggapi kutipan diatas dimana sesuatu yang ideal bisa nampak kepermukaan sedangkan yang strangeness itu dianggap tidak layak atau tidak indah untuk dilihat. membandingkan contoh yang dituliskan bahwa bantaran kali ciliwung dijalannya dijadikan area memasak dimana itu merupakan kegiatan everyday mereka, tetapi yang saya temukan di site PA3.Project 2 kami bahwa bantaran sungai dijadikan tempat bermain anak-anak seperti berprosotan di tembok-tembok sekitar sungai,menggunakan tembok dekat bantaran sebagai tempat memanjat,ataupun gorong-gorong[pipa-pipa] yang dijadikan tempat menghasilakan bunyi yang menimbulkan sensasi perasaan senang terhadap anak-anak tersebut. anak-anak bermain adalah sesuatu yang ideal dalam masa tumbuh kembang mereka lalu apakah menjadi tidak layak ketika mereka menjadikan tempat yang strangeness sebagai tempat bermain?. keterbatasan lahan disite kami menjadikan sesuatu yang stangeness/ tidak umum menjadi ideal bagi anak-anak yang tinggal didaerah kampung melayu khususnya yang dekat kali ciliwung. sehingga strangeness dan ideal ini disatukan oleh lingkungan. lingkungan dan kebutuhan yang mungkin sulit untuk di wujudkan jika melihat situasi kondisi ekonomi suatu wilayah.

  3. 3 nikeveryday
    November 2, 2008 at 3:50 pm

    Komentar menarik dari glowmyna…kegiatan yang sangat sulit bisa diprediksi oleh arsitektur handal sekalipun. Modalnya hanya sebuah tembok. Tembok yang secara ‘normal’ berlaku sebagai pembatas area yang bersifat pasif. Namun kepasifannya justru memunculkan banyak peluang untuk menjadikannya aktif.
    Sekarang yang menjadi perenungan, kemampuan apakah yang diperlukan seorang arsitek untuk memprediksi hal-hal seperti itu? Menutup mata, hanya mendesain dengan fungsi ideal? Atau bahkan tidak mendesain apa-apa, membiarkan segalanya terjadi dengan sendirinya, karena saya tidak yakin jika seorang arsitek menempatkan perosotan ideal di daerah project glowmyna, belum tentu digunakan oleh anak-anak tersebut.
    Memang, semuanya tergantung dengan konteks daerah masing-masing. Jika anak-anak bantaran kali Ciliwung, dipindahkan ke rumah susun, misalnya, akan lain cerita. Mungkin sebuah tembok tidak lagi bisa menjadi tempat perosotan, atau mungkinkah arsitek rujmah susun tersebut menyediakan pipa-pipa sebagai tempat bermain anak-anak?

  4. 4 Reni Megawati
    November 17, 2008 at 12:23 pm

    Topik mengenai strangeness vs ideal memang menjadi suatu kontroversial ketika memandangnya dari kalangan yang berbeda. Namun, saya mencoba memandangnya dari kalangan masyarakat Kali Pasir, di bantaran sungai Ciliwung. Masyarakat mempertontonkan sesuatu yang strangeness dalam kehidupan kesehariannya, bukan menutupinya. Sebenarnya, masyarakat tidak menggunakan bantaran sungai Ciliwung, tetapi jalan-jalan di gang yang selebar 1,2 m untuk kegiatan memasak. Masyarakat melihat suatu potensi dari jalan, sehingga mereka menginvasi jalan dan digunakan sebagai perpanjangan rumah mereka. Namun, menurut saya memasak di jalan bagi masyarakat di Kali Pasir belum merupakan sesuatu yang ideal bagi mereka. Mereka juga memiliki bayangan yang ideal mengenai rumah dan dapur mereka, namun ekonomi yang membuat mereka berkegiatan di jalan. Menurut saya, pandangan mengenai sesuatu yang ideal memang telah ada dalam pikiran setiap orang dan berbeda-beda. Namun, terdapat suatu standard yang menyatukan tiap pemikiran mengenai sesuatu yang ideal.
    Strangeness dan ideal sebenarnya suatu kesatuan, strangeness merupakan suatu sistem yang mendukung terbentuknya ideal. Sehingga saya mencoba mencari contoh mengenai kegiatan memasak yang dilakukan di jalan untuk menegaskan mengenai isu “bagaimana jika strangeness dipertontonkan? Apa yang akan terjadi dalam masyarakat?”. Saya tidak mengambil contoh mengenai anak-anak yang bermain di bantaran sungai dan menjadikan tembok sebagai perosotan, karena menurut saya contoh tersebut lebih mengarah ke isu hijacking space. Walaupun, kegiatan memasak di jalan merupakan salah satu contoh hijacking space juga, namun yang saya angkat lebih ke arah mempertontonkan strangeness dalam ruang publik.
    http://remega.wordpress.com/wp-admin/post.php?action=edit&post=5


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: