03
Nov
08

Disorder and Everydayness

Jika kita berangkat untuk melihat eksistensi everydayness tentunya tak bisa lepas dari faktor manusia yang hidup dan tinggal di dalamnya. Disini saya ingin mencoba melihat hubungan antara manusia, ruang dan kesehariannya yang pada akhirnya akan menuju pada timbulnya suatu kondisi yang (tak bisa diungkiri) tidak sesuai dengan order-order yang seharusnya. Manusia pada hakikatnya secara individu masing-masing tentunya memiliki suatu kepentingan yang berupa hak dan kewajiban tertentu dalam hidupnya. Dalam konteks urban, manusia tersebut akan bertemu dengan manusia-manusia lainnya yang asing dan merupakan strangers. Disinilah terjadinya suatu usaha untuk menyeimbangkan hak karena tak bisa dihindari akan terjadi suatu ­overlapping berbagai kepentingan dari berbagai pihak. Pada situasi tersebut akhirnya dibuatlah suatu order yang berisi norma dan aturan yang membatasi kepentingan-kepentingan tersebut. Namun jika kita melihat kenyataan keseharian di sekitar kita, justru kita akan sangat lekat dengan keadaan dimana order yang ada tidak dijalankan sebagaimana seharusnya (disorder).

Jika kita melihat ke belakang mengenai keadaan disorder tersebut, khususnya pada ruang kota, hal ini terjadi terutama ketika manusia menempatkan ruang privatnya di suatu ruang publik (memprivatisasi ruang publik). Kondisi disorder ini hadir sebagai everydayness dan mengandung berbagai macam cerita dibaliknya, sebagai ruang yang mengikat aspek kehidupan manusia di ruang kota sehingga membentuk suatu pengalaman tertentu (Everyday Urbanism , Margaret Crawford). Adanya suatu ritme, pola waktu, kegiatan, dan subjek di dalamnya. Namun yang ingin saya pertanyakan disini adalah produk dari keadaan disorder tersebut yang selalu lekat dengan ketidaknyamanan, kekerasan, dan kondisi yang mengganggu. Apakah memang demikian adanya? Atau tanpa kita sadari justru sebenarnya keseharian kita tidak dapat dipisahkan dari kondisi disorder tersebut?

Saya ingin mengambil beberapa contoh nyata dari keseharian kita yang merupakan suatu kondisi yang disorder. Tentunya kita tidak asing lagi dengan kaki lima yang ’menghiasi’ pemandangan kita di Jakarta ini. Sebut saja daerah Cikini, Blok M (roti bakar Edi) atau Jalan Sabang yang justru kaki lima ini menjadi magnet daerah tersebut. Keadaan disorder tersebut telah menjadi bagian dari sistem yang ada, terikat ruang dan waktunya. Sehingga jika kaki lima tersebut ditiadakan maka akan membuat daerah tersebut ’lesu’.

Contoh lainnya yaitu keadaan disorder yang secara fisik melanda Jakarta dan sempat booming di beberapa kalangan anak muda, yaitu grafiti. Dengan mencoret-coret dinding yang ada di jalanan merupakan suatu perilaku yang menyimpang dari order atau aturan yang ada. Malah tidak jarang mengundang pihak aparat untuk mengamankan dari kegiatan tersebut sehingga kegiatan grafiti tersebut lebih sering dilakukan pada dini hari. Bagi anak muda tersebut, grafiti merupakan suatu cara untuk menumpahkan perasaannya, rekaman suatu memori di masa lalu atau bahkan sebagai media untuk menyampaikan pesan tertentu. Seperti yang terdapat di persimpangan Fatmawati, dimana dahulu terjadi kecelakaan yang menimpa anak kecil yang sedang menyeberang. Sekarang dapat kita nikmati suatu rekaman memori dan pesan yang mengingatkan kita untuk berhati-hati yang terkandung dalam grafiti di persimpangan tersebut.

Dengan contoh-contoh diatas mungkin kita dapat mempertanyakan kembali apakah sebenarnya yang kita butuhkan dalam keseharian kita adalah selalu sesuatu yang sesuai order?


1 Response to “Disorder and Everydayness”


  1. 1 r1ss
    November 22, 2008 at 3:04 pm

    Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul The Death and Life of Great American City..Di buku itu mrnyebutkan :
    “STREET OF CITY SHOULD HAS MORE THAN ONE FUNCTION, SO THE PRESENCE OF PEOPLE WAS ALWAYS THERE IN DIFFERENT TIME, BECAUSE THE SUCCESFULL STREET CONTAINS WITH PEOPLE WHO USING IT IN DIFFERENT TIME” (JANE JACOBS, “THE DEATH AND LIFE OF GREAT AMERICAN CITY”.HAL 152.)
    Yang dimaksudkan Jacobs disini adalah mengenai keadaan overlapping yang sering terjadi pada sebuah jalan, dimana jalan tidak hanya digunakan untuk satu fungsi saja, dan dia mengatakan bahwa jalan yang sukses adalah jalan yang mempunyai multiple fungsi..Walaupun keadaan overlapping atau disorder ini memang apabila dilihat dari sudut pandang luar terkesan tidak sesuai dengan norma,tapi mungkin keadaan disorder inilah yang kemudian terasa normatif oleh orang-orang yang ada didalamnya..


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: