03
Nov
08

Pemaknaan Sebuah Ruang

Ketika kita berbicara mengenai arsitektur sudah tentu erat kaitannya dengan kata ‘ruang’. dan ketika kita berbicara mengenai ‘ruang’, sudah pasti, ruang tersebut akan mempunyai makna ketika, didalamnya terdapat subjek pengguna, dalam hal ini adalah manusia.

Seringkali dalam kesehariannya manusia memberi makna sebuah ruang secara tidak sengaja, dengan kehadirannya.

Seperti contohnya skateboarding. Seperti yang kita ketahui, skateboarding adalah sebuah kegiatan dalam mengendarai dan menampilkan trik-trik menggunakan skateboard. Skateboarding membutuhkan sebuah ruang untuk melakukannya.  Namun, ruang untuk skateboarding, seringkali bukanlah ruang khusus yang memang disediakan untuk melakukan kegiatan tersebut, melainkan, ruang yang dapat diakses oleh publik secara langsung dan mudah. Selain itu, juga ada kegiatan street dance.

Street dance merupakan sebutan bagi salah satu gaya menari yang melibatkan everyday space seperti di jalanan. Biasanya pelakunya adalah anak muda, yang sarat denganluapan emosi akan kebebasan, sehingga dalam dua kegiatan ini yang sangat diutamakan adalah kebebasan dalam berkreasi menciptakan trik-trik maupun gerakkan-gerakkan baru. Tidak ada aturan baku dalam melakukan kegiatan ini.

Hal ini mempengaruhi pemilihan tempat untuk melakukkannya. Ketika melakukan bisa jadi sebuah taman publik, plaza, jalanan kosong hingga trotoar digunakan sebagai arena mereka berlatih ataupun hanya sekedar berkumpul. Ketika kegiatan ini dihubungkan dengan arsitektur, kegiatan ini bukan lagi dilihat sebagai sport, melainkan sebagai urban displacement.

Menurut saya, ini adalah sebuah cara yang unik dan kreatif dalam memaknai sebuah ruang. Bisa diambil contoh pelataran parkir istora senayan. Di salah satu sisinya, sering digunakan sebagai tempat untuk berlatih street dance maupun skateboarding. Dulu, di tempat tersebut, pada hari-hari biasa ketika tidak ada event apapun (konser, acara olah raga, dll), layaknya sebuah tempat yang tidak berpenghuni, tidak bermakna, namun setelah diberi aksi, sebagai tempat untuk bermain skateboard ataupun berlatih street dance, tempat tersebut, biasanya sore hari menjelang malam, menjadi sebuah ruang yang sangat menarik. Walaupun secara fisik, dalam ruang tersebut tidak ada yang menarik, karena hanya terdapat pelataran yang tidak terlalu luas dan tangga yang tediri dari 3 anak tangga. Kegiatan tersebut lah yang membuat ruang itu menjadi bermakna. bisa diibaratkan seperti kertas putih kosong yang kemudian diberi coretan dengan spidol bermacam warna. kertas tersebut menjadi berfungsi sebagaiman fungsi awalnya, dan mempunyai makna lebih, dari hanya sekedar kertas kosong. Merubah sesuatu yang ordinary menjadi extraordinary.

Jadi, dari tulisan ini, saya ingin menyimpulkan bahwa sebuah kegiatan yang dilakukan manusia baik secara sadar maupun tidak sadar (conscious or unconscious), merupakan intervensi terbesar dalam pemaknaan sebuah ruang.


4 Responses to “Pemaknaan Sebuah Ruang”


  1. 1 def1
    November 5, 2008 at 5:51 pm

    pemaknaan suatu ruang yang biasanya kemudian menjadi label dari ruang tersebut misalnya tempat parkir, tidaklah menjadi hal yang mutlak dalam arti bisa saja kemudian fungsi ruang tersebut berubah atau mejadi bertambah. di sini kita melihatnya secara apa yang diberikan lingkungan kepada manusia,apa yang ditawarkan lingkungan. karena manusia itu dalam melihat suatu ruang tidak hanya melihat secara fisiknya tetapi affordancesnya (peluang yang ditawarkan lingkungan terhadap manusia). sehingga terkadang suatu tempat yang telah dirancang oleh arsitek yang telah memiliki fungsinya sendiri, secara tidak sadar karena adanya peluang dari ruang tersebut, fungsinya menjadi di luar dari yang telah ditentukan. namun penggunaan ruang diluar dari fungsi yang telah ditentukan, menurut saya bukan berarti kita mengubah yang ordinary menjadi extraordinary. karena terkadang hal yang demikian bisa jadi mengganggu atau bisa jadi hanya menjadi menarik untuk sekelompok orang. mungkin disini pengertian dari ordinary dan extraordinary perlu diperjelas kembali.

  2. 2 notjusthenny
    November 6, 2008 at 7:06 pm

    Hmm..apa itu ‘ordinary’?
    Mengapa suatu ruang dikatakan ‘ordinary’? Lalu bagaimana ruang yang dikatakan ‘extraordinary’? Jika suatu ruang dikatakan ‘ordinary’ hanya karena dia terisi dengan fungsi yang memang ditujukan dari awal (dalam kasus di atas, tempat parkir sebagai tempat parkir), benarkah yang kemudian disebut ‘extraordinary’ adalah ketika ada kegiatan lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan fungsi awal ruang tersebut terjadi di situ (kembali dalam kasus di atas, ketika tempat parkir digunakan sebagai arena skateboarding dan street-dancing)? Jika demikian maka ruang pejalan kaki yang digunakan oleh PKL, apakah itu sesuatu yang ‘extraordinary’? Bukankah orang-orang malah menganggap PKL yang berdagang di ruang pejalan kaki adalah hal yang ‘biasa’? Untuk itu benar kata def1, mungkin perlu dijelaskan bagaimana konsep ordinary dan extraordinary yang dimaksud.
    Mengenai pemaknaaan ruang, setiap orang bisa saja menangkap persepsi yang berbeda dengan orang lain terhadap suatu ruang, dan persepsi ini kemudian menuntun mereka untuk melakukan sesuatu di/terhadap ruang tersebut. Seperti yang disebutkan def1, ini bergantung kepada affordance yang ditawarkan ruang tersebut, dan penangkapan serta pemanfaatan affordance ini selanjutnya akan berbeda-beda pada tiap orang. Inilah yang kemudian menyebabkan spatial practice yang berbeda-beda dapat terjadi dalam satu ruang yang sama, ada yang sesuai dengan fungsi dan tujuan awal ruang tersebut dirancang, ada pula yang tidak sesuai dengan tujuan perancangan awal ruang tersebut, yang kemudian disebut sebagai hijacking ruang ataupun urban displacement.
    Dalam kasus di atas, pelataran parkir yang luas memberikan affordance bagi para skateboarder dan street-dancer untuk melakukan aksinya. Memang benar kemudian aktivitas ini menambah makna dari ruang pelataran parkir tersebut, tapi bukan berarti ruang tersebut sebelumnya tidak bermakna, karena bahkan ketika ruang tersebut digunakan untuk tempat parkir, ia sudah punya makna, sesuai dengan fungsi awal ia dirancang, yaitu sebagai tempat parkir itu sendiri. Masalah apakah kemudian penambahan makna ruang dengan adanya kegiatan tambahan ini membuat ruang tersebut menjadi menarik atau malah penambahan makna ruang ini mengganggu, tergantung pada seberapa besar ‘pembajakan’ ruang tersebut, kapan waktunya, dan siapa pengguna ruang tersebut. Jika awalnya penggunanya kebanyakan anak-anak muda, bisa jadi displacement ini menjadikan ruang ini lebih menarik, seberapa besar pun ruang yang di’bajak’, namun jika tidak, mungkin kegiatan ini malah dianggap mengganggu. Jadi tergantung sudut pandang masing-masing orang.

  3. 3 r1ss
    November 19, 2008 at 12:56 pm

    Menurut saya,terjadinya pemaknaan ruang yang berbeda-beda pada sebuah space di kota akan membuat kota itu menjadi lebih beragam..karena sebuah space tidak harus hanya untuk satu event..space itu akan lebih mempunyai arti yang lebih bagi surroundingnya apabila space itu bisa digunakan untuk berbagai event..dan menurut saya mungkin saja yang terjadi disini bukanlah ordinary menjadi extraordinary..contohnya adalah parkiran senayan itu, ketika ada yang bermain skateboard di tempat itu setiap hari,maka keberadaan aktivitas skateboard itu akan menjadi ordinary bagi orang-orang disekitar tempat itu,karena itu adalah rutinitas..dan apabila suatu hari skateboard itu tidak ada,mungkin malah orang-orang itu menjadi berpikir keadaan itu baru menjadi extraordinary..Yang terjadi saat ini bagi mereka adalah ordinary condition bagi mereka karena itu aktivitas yang rutin mereka lihat setiap hari..

  4. October 26, 2010 at 8:59 pm

    hal ini bukannya berkaitan dengan space and place ya?
    Pernyataan di mana suatu ruang atau ‘space’ di sini dapat menjadi sebuah ‘place’ apabila diberi kegiatan di dalamnya, jadi yang berperan banyak di sini adalah apakah kegiatan yang kita (perancang) harapkan dalam suatu space itu dapat terjadi atau tidak? Karena ketika hal itu terpenuhi maka rancangan atau ruang yang ada mampu menjadi place, namun ketika tidak terjadi kegiatan di dalamnnya dan bahkan terabaikan maka space itu kan tetap menjadi space saja, menjadi ruang kosong yang tak termaknai.

    Saya setuju dengan Henny yang mengatakan pemaknaan ruang pada orang tergantung pada persepsi setiap orang. Hal ini berarti pemaknaan ruang atau space itu bisa jadi saja berbeda-beda pada setiap ruang namun itu semua begantung pada bagaimana seorang perancang merancang suatu ruang. Bukankah itu tugas kita sebagai perancang untuk mempersempit banyaknya persepsi akan suatu hal ini menjadi satu persepsi yang sama? ya atau tidak bukankah itu yang sedang kita usahakan terjadi di rancangan yang kita buat? mampukah perancang membuat semua orang yang berbeda persepsi ini menjadi satu persepsi dengan persepsi yang diharapkan perancang?
    Inilah yang menjadi tantangan terbesar selama ini, setidaknya ini yang saya rasakan dalam merancang, berusaha untuk tidak memberikan peluang kegiatan lain selain yang kita rancang pada rancangan kita dan bagaimana mengkomunikasikan apa yang kita harapkan terjadi pada suatu ruang itu dapat terlaksana.

    namun sebenarnya masih ada pertanyaan dalam hati saya “Apakah space yang terisi dengan kegiatan yang tidak sesuai rancangan ini tetap dianggap sebagai place?” Seperti yang terjadi pada parkiran Istora senayan ini, parkiran yang hanya ruang kosong dengan beberapa undakan tangga ini terisi dengan kegiatan sekumpulan anak-anak bermain skateboard bukan kendaraan parkir.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: