03
Nov
08

The Consumption of Public Space

Ruang publik sebagaimana yang kita ketahui adalah ruang yang dimiliki dan difungsikan secara bersama. Lalu dengan demikian apakah berarti penggunaan atau pengkonsumsian ruang publik masing-masing orang akan menjadi sama? apakah ruang publik tersebut menjadi terbatasi penggunaannya mengikuti sebagaimana yang seharusnya? Ya mungkin sebagian orang menganggap mereka harus menggunakan ruang publik tersebut sesuai dengan aturannya, tetapi dalam kenyataannya tidaklah demikian. Hal inilah yang akan saya bahas yakni mengenai bagaimana setiap orang memandang ruang publik dari sudut pandangnya masing-masing sehingga muncul penggunaan yang bervariasi terhadap ruang publik diluar dari yang sudah ditentukan.

Jika kita dapat lebih peka lagi terhadap apa yang hadir di ruang publik, bagaimana mereka hadir di dalamnya, elemen apa saja yang ada di ruang tersebut, maka akan ada banyak kemungkinan penggunaan dari elemen-elemen yang ada di ruang publik tersebut. Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya bahwa setiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri terhadap ruang publik. Penggunaan ruang publik misalnya trotoar, antara pedestrian dan pedagang kaki lima mungkin akan menjadi berbeda, mereka akan menyesuaikan penggunaan ruang tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Pedagang kaki lima mungkin akan melihat potensi trotoar tersebut sebagai tempat mereka berjualan, dimana mereka akan langsung berhadapan dengan pedestrian yang menjadi target mereka berjualan, tetapi bagi pedestrian mereka melihat trotoar tersebut sebagai tempat mereka berjalan, akses mereka untuk terhubung dengan tempat yang lain.

Terkait dengan hal sebelumnya, saya mencoba untuk mengaitkan dengan penggunaan trotoar di jalan Basuki Rahmad, Kp.melayu. Pada trotoar jalan di atas sungai ciliwung, dimana di bagian bawah jalannya tinggal beberapa komunitas pemulung penghuni kolong jembatan. Pemulung-pemulung ini terlihat memarkirkan gerobaknya di sepanjang trotoar. Bahkan terlihat beberapa gerobak yang di rantai mengikat ke pagar jembatan trotoar. Apa yang didapat dengan melihat kondisi yang demikian? para pemulung tersebut mengkonsumsi trotoar tersebut bukan sebagai sebuah tempat pedestrian tetapi tempat mereka menaruh gerobaknya, mereka melihat adanya the others dari trotoar tersebut, mereka mengkonsumsi trotoar tersebut bukan yang seharusnya trotoar tersebut diperuntukkan. Mereka melihat adanya suatu potensi dari pagar pembatas, bagaimana bentuk dari pagar tersebut sehingga mereka bisa merantaikan gerobak mereka. Ada suatu kepraktisan yang muncul, melihat mereka yang tinggal di kolong jembatan, akan sulit bagi mereka untuk membawa gerobak mereka bolak balik ke atas (jalan).

Jadi dalam melihat suatu hal, kita sebaiknya tidak melihat hal itu sebagaimana mereka hadir. Kita perlu melihat dan mencari sesuatu yang berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.


2 Responses to “The Consumption of Public Space”


  1. 1 ayushekar
    November 8, 2008 at 10:17 pm

    Ruang public = ruang yang setiap orang bisa mengaksesnya, tak terkecuali. Dan apa yang dilakukan mereka disana, bisa apapun meski si arsitek membuatnya dengan tujuan tertentu. Salah kah? Belum tentu. Kenapa? Karena arsitek hanya membuat tempat itu berdasarkan “penggunaanya” bukan “pemaknaanya” .

    karena arsitek belum tentu bisa memaknai tempat yang ia buat melalui rekayasa 2 dimensional. Karena ia belum tentu berperan sebagai pengguna yang mengerti betul pemaknaan tempat tersebut secara 3 dimensional.

    Tapi jika begitu bisa diasumsikan semua tempat public adalah disorder. Atau memang tidak ada order. yang ada hanya sebuah arahan, mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak patut dilakukan di tempat itu. Dan itu dikembalikan kepada suatu norma. Ya.. norma yang dibuat oleh manusia dan untuk manusia. Jadi selama tidak ada yang terusik sah-sah sajakan ( kecuali si arsitek yang merasa rancangannya tidak digunakan dengan benar)?!

  2. 2 r1ss
    November 9, 2008 at 7:48 pm

    Terjadinya penggunaan ruang publik yang tidak seharusnya pada sebuah kota, menurut saya adalah sebuah challange untuk sebuah kota bagaimana ia akana terbentuk nantinya..Saya sering kali berpikir,ketika melihat sebuah lahan kosong dibawah jembatan atau trotoar,”nantinya itu akan jadi apa ya?” dan apa yang akan terjadi itulah yang merupakan tantangan arsitek/urban planner yang merancangnya untuk menanggapi apa yang akan terjadi,agar itu bisa menjadi hal yang positif bukan negatif. Ada kemungkinan The others itulah yang membuat trotoar itu malah lebih hidup dibandingkan hanya untuk akses..
    Seringkali saya mendengar bahwa pedagang kaki lima adalah sesuatu yang illegal..tapi apa itu benar? bukankah ketidakteraturan mereka yang illegal bukan keberadaan mereka?tapi apa mereka bisa dianggap tidak teratur, ketika pejalan kaki yang melewati trotoar itu tidak merasa terganggu dengan itu, bahkan ikut memanfaatkan apa yang dijual oleh PKL tersebut..bukankah itu malah mebuat sesuatu yang accidental menjadi memberi manfaat bagi pengguna trotoar sebenarnya?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: