03
Nov
08

Which Disorder Is Disorder?

Setiap tempat dalam ruang keseharian pasti memiliki suatu order, di mana keberadaan order ini berusaha meregulasi setiap orang yang berkegiatan di dalamnya, agar bertingkah laku sesuai keadaan ideal menurut order tersebut. Namun tidak jarang dalam ruang keseharian tersebut, orang-orang tidak mengidentifikasi order yang ada seperti seharusnya, sehingga tingkah laku yang muncul kemudian tidak lagi sesuai order tersebut, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan dari orang-orang tersebut dan berbagai kemungkinan yang ditawarkan ruang tersebut atas suatu aktivitas. Hasil dari kejadian ini adalah order yang ada tidak lagi dijalani, dan lalu muncullah apa yang disebut disorder.

Implikasi dari hal ini dapat kita lihat pada berbagai ruang publik yang ada di ruang kota, terutama Jakarta ; jalan raya, pedestrian, jalan pemukiman, stasiun kereta api, dan lain-lain.

Misalnya pada pedestrian. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak ruang pedestrian di Jakarta, yang seharusnya ditujukan untuk ruang bagi pejalan kaki, dimanfaatkan sebagai ruang berjualan oleh pedagang kaki lima, pemilik kios pinggir jalan, atau pedagang eceran. Ini mereka lakukan karena melihat kesempatan di mana pinggiran jalan adalah ruang yang ideal untuk menampilkan dagangan mereka, karena pasti jalan ramai dilalui orang. Dalam hal ini telah terjadi penyimpangan penggunaan ruang dari fungsi yang seharusnya, yang berarti ada suatu disorder.

Tapi kemudian benarkah disorder ini kemudian menjadi sesuatu yang mengganggu dalam ruang tersebut?

Dari sini timbul suatu pertanyaan akan kutipan dari Kelling dan Coles dalam buku Fixing Broken Windows : Restoring Order and Reducing Crime in Our Community sebagai berikut :

“Disorder is incivility, boorish, and threatening behavior that disturb life, especially urban life.”

(Kelling and Coles, 1996, p14).

Keberadaan para pelaku disorder ini memang biasanya memakan sebagian besar ruang pedestrian. Tapi kemudian dalam keseharian tidak ada pengguna pedestrian yang merasa sedemikian terusiknya sehingga menganggap bahwa para pelaku disorder tersebut tidak seharusnya berkegiatan di situ. Bahkan akhirnya keberadaan disorder tersebut menjadi sesuatu yang dimaklumi hingga dianggap menjadi sesuatu yang ’sudah sewajarnya’ di situ. Berarti dalam hal ini disorder tersebut bukan lagi dianggap sesuatu yang tidak sesuai. Disorder di sini kemudian menjadi sesuatu yang ’order’ bagi pihak-pihak tertentu. Disorder juga dianggap tidak lagi mengganggu, bahkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Misalnya pada pedestrian di suatu jalan, keberadaan para pedagang kaki lima dan kios-kios pada malam hari membuat pedestrian tersebut tidak ’mati’, ramai, dan terang. Hal ini membuat area sekitar pedagang tersebut relatif lebih aman bagi orang-orang yang berjalan di sekitar situ dengan keberadaan para pedagang yang sekaligus mengawasi keadaan sekitarnya, dibandingkan pedestrian jalan yang steril dari pedagang kaki lima dan kios pinggir jalan, yang lebih mendukung sebagai tempat melakukan tindak kriminalitas.

Hal tersebut juga menjadi pertimbangan lebih lanjut akan kutipan lain dalam buku yang sama :

”Small disorder leads to larger and larger ones and perhaps even crime.”

(Kelling and Coles, 1996, p xv).

Satu disorder mungkin memang akan menjadi pemicu terjadinya disorder lain. Dalam kasus pedestrian di atas, keberadaan pedagang yang mengkonsumsi sebagian besar ruang menyebabkan pejalan kaki terkadang tidak lagi berjalan di pedestrian, melainkan di badan jalan raya, yang merupakan disorder juga. Namun keberadaan para pedagang tersebut juga menjadi penyebab kriminalitas kecil kemungkinnya terjadi di sekitar tempat tersebut, yang berarti keberadaan disorder tersebut justru mencegah terjadinya disorder (lain), yaitu tindak kriminal.

Jadi apakah akhirnya suatu disorder lebih baik dari disorder lain? Which disorder is more disorder?


4 Responses to “Which Disorder Is Disorder?”


  1. 1 ayushekar
    November 8, 2008 at 10:00 pm

    ya.. saat ini kita sudah sulit membedakan mana yang merupakan order dan mana yang disorder. semua terasa blur. contoh yang anda sebutkan adalah pedestal yang seharusnya menjadi jalur pedestrian. ordernya adalah “hanya” pedestrian yang berhak menjejaki kawasan tersebut. tetapi pada kenyataannya street vendors membuat semua order menjadi disorder, namun para pedestrian tidak terganggu. seolah-olah mengisyaraktkan ‘order’ dibuat untuk memunculkan ‘disorder’ yang nantinya menjadi ‘order yang baru’.

    Jika melihat kebelakang, dimana manusia menciptakan order, tentunya karena adanya keinginan manusia agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan yang ia mau. Dan ketika tujuan tidak hanya mengenai satu sasaran (titik) tetapi banyak titik (tentunya tanpa ia sadari), maka order yang ia buat menjadi tidak berlaku lagi. Jadi harus berbuat apa? Bukankah seharusnya disorder pada sesuatu dianggap sebagai potensi. Sehingga seharusnya dengan kehadiran si “disorder” itu dapat membantu untuk menciptakan order yang lebih baik lagi.

  2. 2 r1ss
    November 22, 2008 at 3:19 pm

    Keadaan disorder apabila ditambahkan dengan rutinitas memang seringkali akan berubah menjadi order..Dan keadaan disorder pada kehidupan everyday biasanya akan berdampak dua hal yaitu negative atau positif..Seperti yang dikatakan oleh James Gibson:
    “The environmental perception of somebody can comes out from the affordance of place (what the place can do for us),and the perception could result for good or ill affordance”
    (Gifford,Robert, Environmental Pyschology,1987,London)
    Affordance yang terjadi pada setiap tempat diakibatkan karena persepsi setiap orang yang berbeda-beda pada tempat tersebut..dan terkadang persepsi bisa menghasilkan affordance yang baik atau yang buruk (constrain human’s action)..dan disinilah seorang arsitek di challange untuk bisa memperkirakan affordance apa yang yang mungkin akan timbul dan mencegah kemungkinan timbulnya ill affordance tersebut..

  3. 3 nikeveryday
    December 30, 2008 at 11:51 am

    Tulisan yang menarik. Melalui tulisan nin, saya digugah untuk merenungkan apakah benar bahwa satu disorder akan memunculkan disorder lain. Yang saya yakini, adalah bahwa sesuatu itu pasti akan memunculkan dua hal order dan disorder. Contoh kasus pedagang kaki lima tadi, Memang bagi pejalan kaki, hal tersebut memang suatu yang disorder, namun bagi pedagangnya sendiri, hal tersebut adalah order.
    Mungkin saja anggapan bahwa satu disorder akan menimbulkan disorder lain karena pada saat sesuatu (yang notabene terdapat dua sisi, order dan disorder) dilihat sebagai order bagi pihak tertentu, pihak tersebut akan melakukan tindakan disorder terhadapnya. Manusia memang tidak ‘suka’ utnuk melihat yang order. Sesuatu yang order serasa tidak hidup, menurut manusia, seperti pendapat saudara ayushekar.

  4. 4 iishrynt
    October 26, 2009 at 3:12 pm

    order=disorder?
    Dalam studi kasus misalya Para pedagang kaki lima tersebut. Pada awalnya adalah sesuatu yang disorder yaitu PKL itu sendiri muncul menawarkan barang dagangannya. kemudian PKL tersebut mengundang pembeli dan akhirnya PKL tersebut menjadi ramai. Kelarisan dan keramaian tersebut mengundang PKL-PKL lainnya untuk melakukan hal yang sama seperti PKL sebelumnya ( membuat suatu kedisorderan lagi) dan akhirnya membuat jalan semakin ramai. Dari contoh diatas, maka saya “agak” menyimpulkan jika disorder-disorder tersebut muncul terus menerus dan seolah-olah mempunyai “rule” dalam menyusunannya maka hal tersebut bisa menjadikan disorder menjadi order dengan rule tertentu tadi. jadi sebenarnya order merupakan suatu ke”disorder”an.benarkah?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: