10
Nov
08

UI Depok: Ruang Potensial untuk Keseharian

Potential sites for an architecture of the everyday begin with the body. Secretive and intimate, it is marked by the routine, the repetitive, and cyclical… [Everyday Architecture, Steven Harris]

Ketika kita membutuhkan sebuah space untuk melakukan suatu aktivitas, maka kita akan membuat place untuk mengakomodir kebutuhan tersebut. Sehingga muncul banyak place untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Namun sering kali pendefinisian terhadap ruang tersebut berbeda-beda. Trotoar tidak lagi hanya menjadi tempat berjalan kaki, jalan tidak lagi hanya sebagai akses dari sini ke sana. Adanya pendefinisian yang berbeda-beda membuat fungsi sebuah ruang berubah atau justru sebenarnya berkembang. Adanya potensi pada ruang yang ada membuat ruang tersebut tidak hanya digunakan sebagaimana mestinya atau sebagaimana ia diperuntukkan.

Saya mengambil contoh kasus yang sering kali saya lihat, yaitu di Universitas Indonesia, Depok. UI Depok merupakan sebuah intstitusi pendidikan yang berada di lahan yang sangat besar. Lahan yang tidak hanya berupa bangunan-bangunan tapi juga didominasi oleh area terbuka dan area hijau. Sebuah place yang idealnya hanya sebagai kawasan pendidikan. Place yang didalamnya terdapat ruang-ruang yang mengakomodir segala aktivitas pendidikan. Namun sering kita lihat kawasan UI justru digunakan oleh masyarakat sekitar untuk aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan pendidikan. Jalan-jalan di UI sering kali digunakan sebagai akses atau ‘jalan pintas’ untuk menuju pemukiman disekitar UI. Sering juga kita lihat masyarakat sekitar berpacaran, memancing, atau remaja yang sekedar kumpul-kumpul di jalan pinggir danau. Bahkan tak jarang pemuda-pemuda yang melakukan atraksi motor di jalan UI yang sepi. Apalagi ketika hari sabtu dan minggu, kawasan UI seolah menjadi tempat rekreasi dan semua orang seolah ‘tumpah’ ke kawasan ini. Aktivitas tersebut menjadi sesuatu yang rutin dilakukan oleh masyarakat disekitar UI. Sehingga segala aktivitas tersebut merupakan pemandangan biasa di kawasan ini.

Saya melihat bahwa masyarakat sekitar tersebut melihat potensi di kawasan UI. Potensi yang dapat mereka gunakan bersama-sama dan akhirnya menjadi kawasan yang erat dan akrab dengan keseharian mereka. Ada intervensi dari masyarakat terhadap ruang yang sebenarnya merupakan kawasan pendidikan ini. Lalu apakah intervensi tersebut mengganggu penggunakan kawasan ini sebagai institusi pendidikan? Atau justru arsitektur yang dibuat di kawasan ini memang tidak hanya diperuntukkan sebagai sarana pendidikan saja? Sehingga everyday life (diluar pendidikan) dapat dengan mudah mengintervensi ruang-ruang di kawasan ini.


4 Responses to “UI Depok: Ruang Potensial untuk Keseharian”


  1. 1 ayushekar
    November 29, 2008 at 3:30 pm

    Apa yang saya lihat belum tentu bisa anda lihat.

    Mungkin ungkapan itu cocok menjelaskan mengapa suatu karya arsitektural sering mengalami hijacking oleh orang lain. Ya… karena mereka melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh si arsitek. Mereka melihat potensi melalui pengalaman ruang dan tubuh mereka. Ketika sang arsitek hanya dapat mendefinisikan suatu rancangan melalui pendekatan 2 dimensional (cad, sketch up, 3D macs, tetap saya katakana media 2D) maka masyarakat langsung mendefinisikannya melalui pengalaman mereka.

    Mereka langsung bisa mendapatkan posisi yang tepat untuk kenyamanan mereka, tidak terkena sinar matahari, sejuk, pemandangan bagus, tidak bau, atau bahkan daerah yang sepi, yang jarang dilalui orang.karena mereka langsung bisa mendefinisikan ketika ingin melakukan kegiatan apa maka buth tempat seperti apa.

    Misalnya pacaran, mereka tentunya memilih tempat yang sepi, gelap, jarang dilalui orang, namun punya pemandangan bagus.

  2. 2 r1ss
    December 7, 2008 at 12:53 pm

    Arsitektur pada sebuah kota, menurut saya memang untuk tidak diperuntukkan untuk satu fungsi. Karena ketika UI dibangun bisa dikatakan kampus ini memiliki dampak yang sangat besar untuk mempengaruhi kondisi sekelilingnya. Intervensi yang diberikan UI untuk sekelilingnya sebenarnya bukanlah hanya sekedar dijadikan untuk tempat berpacaran atau rekreasi, namun pembangunan UI mendorong dibangunnya tempat anak-anak muda nongrong pada di sekelilingnya. Seperti di sepanjang Jalan Margonda dibangun Detos, Margo dan toko-toko printing, fotokopi serta berbagai macam kafe. Sehingga UI seperti memunculkan sparwl di sekelilingnya.
    Dampak yang sangat besar inilah yang juga menarik orang-orang utuk datang ke UI, baik untuk memancing atau sekedar jogging pada setiap akhir minggu. Dan hal ini menurut saya baik karena aktivitas-aktivitas ini yang membuat UI mempunyai variasi fungsi di dalamnya dan banyaknya orang yang datang ke UI menunjukkan bahwa warga memberikan respon yang baik terhadap kampus itu.
    Karena menurut saya, Ketika sebuah bangunan dapat merubah kehidupan sekelilingnya menjadi lebih baik maka bangunan itu merupakan bangunan yang berhasil. Sehingga intervensi yang diberikan bukan hanya untuk komunitas kecil namun juga untuk komunitas yang besar.

  3. 3 dikaudaya
    December 26, 2008 at 1:06 am

    Affordance, mungkin inilah yang dapat menjawab bagaimana pendefinisian lain terhadap UI ataupun segala jenis bentukan arsitektur lainnya muncul. Affordance ini adalah sebuah kata yang saya kenal dari mata kuliah psikologi arsitektur yang saya ikuti dan affordance inilah yang menjawab kebingunan saya selama ini tentang benar atau salahkan sebenarnya apabila sebuah arsitektur kemudian digunakan untuk hal lain selain peruntukannya yang seharusnya. sedikit saya terangkan, affordance adalah kemungkinan digunakannya sesuatu untuk hal lain iluar peruntukannya yang seharusnya. misalnya saja tangga yang seharusnya digunakan untuk melintas tetapi tidak jarang juga digunakan untuk duduk.seperti segala macam hal didunia ini, affordance juga memiliki dua kemungkinan perkembangannya, yaitu positif dan negatif. affordance positif adalah kemungkinan perkembangan funsi tempat sesuai pemaknaan lain yang positif, seperti misalnya tanah kosong yang kemudian digunakan untuk tempat olah raga. dan ada juga affordance negatif, yang artinya berlawanan dengan affordance positif. affordance inipun belum tentu terjadi secara tidak disengaja, ada juga arsitek yang merancang dengan mempertimbangkan affordancenya sehingga rancangannya itu dapat kita artikan dapat melebihi satu fungsi tertentu saja.
    berkaitan dengan wacana yang diajukan diatas ‘apakah intervensi tersebut mengganggu penggunakan kawasan ini sebagai institusi pendidikan?’. menurut saya pertanyaan ini dapat kita kembalikan pada pengertian tentang affordance diatas, bila intervensi yang terjadi bersifat negatif, maka tentu saja itu memang mengganggu kawasan ini, dan itu berarti affordance negatiflah yang berkembang.
    ‘Atau justru arsitektur yang dibuat di kawasan ini memang tidak hanya diperuntukkan sebagai sarana pendidikan saja?’ ini juga mungkin benar. tapi memang pada dasarnya, seperti yang sudah saya katakan, semua hal, termasuk arsitektur memang pasti memiliki potensi pemaknaan lain selama masih ada beragam manusia yang memaknainya.

  4. October 7, 2009 at 9:44 pm

    saya mengutip salah satu kalimat pada tulisan anda diatas,
    [Saya melihat bahwa masyarakat sekitar tersebut melihat potensi di kawasan UI. ]
    terkadang,
    masyarakat sesungguhnya tanpa sadar melihat/memanfaatkan potensi yang ada…
    kebutuhan akan sesuatu membawa manusia kepada suatu situasi…
    Dan, ketika salah satu manusia tersebut terpenuhi kebutuhannya…
    bukan tidak mungkin, manusia-manusia lainnya (masyarakat) mengikutinya…
    itulah yang kini terjadi pada kampus ui depok…
    dimana tak hanya kebutuhan akademis yang dapat ditampung didalamnya,
    tetapi juga kebutuhan keseharian masyarakat lainnya,
    terutama masyarakat sekitar kampus ui depok.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: