13
Nov
08

Between Science and Art

Arsitektur tidak pernah lepas dari disain. Disain bukan merupakan sekedar produk akhir, tetapi berupa proses berpikir yang panjang. Dan kemampuan ini yang semua orang bisa kuasai.

Bagi sebagian orang, untuk bisa mendisain diperlukan kecerdasan otak kanan yang didominasi oleh kemampuan yang berhubungan dengan estetika. Sementara yang saya tahu, setiap manusia memiliki tendensi kemampuan otak kanan dan kiri yang berbeda-beda. Namun apakah orang dengan kemampuan otak kirinya lebih dominan dari otak kanannya tidak bisa menjadi seorang disainer? Apakah kemampuan mendisain itu bisa dipelajari seperti mempelajari hitungan ilmu pasti?

Ternyata disain merupakan sebuah keahlian yang sulit dipelajari karena tedapat kekompleksan di dalamnya. Pada dasarnya disain bisa dipelajari dan dipraktekkan. Karena disain tidak hanya sekedar melihat sisi seninya, tetapi ilmu dan teknologi juga mempengaruhinya. Jika kita bandingkan seorang ilmuwan dengan disainer, maka pola berpikir seorang disainer lebih dari sekedar memikirkan sains, tetapi juga seni. Sementara ilmuwan hanya terikat pada pola-pola metode secara ilmiah. Dengan kata lain seorang disainer mempunyai cara berpikir lebih kompleks daripada ilmuwan, sehingga disainer harus bisa menyeimbangkan kecerdasan otak kiri dan kanannya. Namun bagaimana jika belum seimbang?

Kreatifitas dan disain merupakan dua hal yang saling terkait. Kreativitas lahir bukan sekedar dari situasi yang tidak stabil melalui pemikiran-pemikiran yang bercabang. Menurut saya kreativitas itu lahir melalui pemikiran yang lurus maupun bercabang dalam kondisi stabil maupun tidak, asalkan kita bisa menyeimbangkankannya dengan situasi yang ada. Hanya saja dosis pemakaian pemikiran bercabang harus lebih boros daripada yang lurus. Tapi kenyataannya, kebanyakan orang lebih suka berpikir secara lurus daripada bercabang. Karena berpkir dengan menggunakan nalar dan logika lebih gampang dikendalikan daripada imajinasi. Namun justru hal ini yang sulit dimiliki oleh setiap orang karena pemikiran manusia cenderung sudah terkotak-kotak.

Pengalaman adalah guru yang baik. Tapi bagi saya, ungkapan ini tidak pantas digunakan dalam mendisain. Pengalaman hanya akan membatasi ruang berpikir kita sehingga menjadi terkotak-kotak. Namun efeknya, banyak kesalahan yang dapat terjadi karena tidak adanya patokan kasus sebelumnya. Tetapi hal ini justru akan memberikan pelajaran yang lebih bermakna.

Disain tidak akan ada tanpa adanya kreativitas. Dan kreativitas tidak akan ada tanpa adanya keberanian berpikir. Namun keberanian berpikir harus ada yang bisa melandasinya agar tidak terlalu liar. Disini kecerdasaan otak kiri bisa memfilter keliarannya. Karena jika seseorang sudah mencoba untuk bepikir secara bebas, kecenderungannya orang tersebut lupa akan adanya hal-hal yang rasional dan tidak. Sehingga seni dan ilmu harus bisa berjalan selaras karena seni dapat diwujudkan dengan ilmu dan ilmu menjadi bermakna dengan adanya seni.


4 Responses to “Between Science and Art”


  1. November 16, 2008 at 6:34 am

    Yup, keberanian berpikir harus ada yang melandasinya dan [membatasinya agar tidak liar]. Landasan kreativitas berfungsi menentukan arahnya dan batasan kreatifitas menjadi bingkai tempat kreatifitas tersebut bergerak agar tidak menabrak norma-norma, budaya, dan prinsip-prinsip kemanusiaan lain.

  2. 2 def1
    November 16, 2008 at 11:30 am

    Menurut saya pengalaman bisa jadi suatu dasar yang melandasi keberanian berpikir. Karena dengan pengalaman kita tahu mana yang rasional dan tidak rasional, mana yang sesuai aturan dan tidak sesuai aturan.Namun memang terKadang benar bahwa pengalaman menjadikan pikiran kita terkotak-kotak, nah disinilah peran kedua otak kita untuk berpikir meluaskan penglaman kita tersebut. Jadi singkatnya kita punya acuan, dari acuan tersebut kita berpikir sesuatu yang lain dari acuan tersebut, apa yang ada di luar dari acuan itu.

  3. 3 Reni Megawati
    November 17, 2008 at 11:35 am

    Ungkapan pengalaman sebagai guru yang baik menurut saya cocok dalam mendesign, karena pengalaman dapat mengajarkan seseorang mengenai apa yang baik dan yang tidak baik dalam hubungan design dengan masyarakat. Menurut saya, pengalaman tidak mengkotak-kotakkan pikiran seseorang, tetapi pengalaman merupakan suatu yang mendasari perkembangan pemikiran seseorang. Pemikiran seseorang dapat menjadi bebas memang diperlukan dalam suatu proses mendesign, namun pengalaman memberikan dukungan terhadap pemikiran yang bebas tersebut agar dapat memiliki tujuan. Karena setiap pemikiran dalam mendesign perlu memiliki suatu tujuan, sehingga design dapat digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat dalam kehidupan mereka sehari-hari.

  4. 4 r1ss
    November 19, 2008 at 12:40 pm

    Menurut saya,sebenarnya dalam membuat sebuah art atau mendesign tidaklah hanya bergantung pada otak kanan atau otak kiri..karena dalam mendesign,kita juga harus menggunakan perasaan (feeling)..art berkaitan dengan estetika,dan apabila dikaitkan dengan sebuah kutipan yaitu:
    “Aesthetics has to do with the perception of qualities generating feeling and emotion” (Elegance,Journal Architectural Design)
    Kutipan diatas mengatakan bahwa estetika mampu menggabungkan antara feeling dan emotion..dan kedua hal ini tentu saja tidak bisa dibuat hanya dengan otak kanan atau dengan otak kiri (logika atau imajinasi), tapi dengan kepekaan feeling kita terhadap workart yang akan didesign nantinya..Pada nantinya workart itu akan bisa memberikan dampak emosi apa terhadap orang-orang yang menikmati art itu..


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: