26
Dec
08

Politik dan arsitektur

Menjadi arsitek berarti ikut meracang, memberikan solusi untuk suatu permasalahan spatial. Dimana dari tangannya keluar formulasi-formulasi spatial dan hadir untuk menjadikan kondisi yang lebih baik. Dengan demikian benarkah seorang arsitek merancang murni untuk kebaikan, atau unsur profesi saja? Satu kasus yang saya kemukakan pada artikel ini adalah pembangunan univesitas Indonesia Depok. Pada awalnya kampus UI berada di kawasan-kawasan penting dan pusat kegiatan yaitu salemba, rawamangun,

Gedung-gedung fakultas dibuat berdekatan sehingga mahasiswa dari fakultas lain bisa berinteraksi dengan fakultas lain dan presentase interaksi berlabel mahasiswa UI lebih besar dari pada interaksi berlabel mahasiswa fakultas, bahkan jurusan. Hal ini membuat ikatan mahasiswa sangat erat. ketika isu kampus UI akan dipindahkan ke depok merebak, maka timbul pertanyaan. Benarkah pemindahan kampus ini semata-mata menghadirkan kondisi perkuliahan yang kondusif? Mengingat posisi kampus saat itu berada di kawasan yang sibuk, ramai kendaraan , polusi tinggi, dan lainnya. Jika kita hanya melihat dari sisi tesebut tentu kita akan setuju dengan pemindahan tersebut. Namun benarkah semata-mata hanya demikian? Kita ketahui bahwa mahasiswa UI terkenal karena pemikirannya yang kritis dan berani. Mahasiswa UI adalah mahasiswa yang reaktif. Jika pemerintah salah atau pun lupa sedikit saja, mahasiswa langsung bereaksi. Jika dilihat dari posisi kampus yang lebih dekat ke istana Negara atau pun gedung MPR/DPR, maka mahasiswa jadi lebih mudah dan cepat menghimpun tenaga (massa) untuk “menyerang” pemerintah.

Dan ketika kampus dipindahkan ke depok, yang notabene lebih jauh dari pusat pemerintahan (meski ada fasilitas kendaraan), maka akan membuat taring mahasiswa tidak setajam dahulu. Jarak yang jauh tersebut mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk menghimpun kekuatan mahasiswa lebih lama sehingga aparat masih punya waktu mempersiapkan diri, membuat mahasiswa menjadi malas dan susah membagi waktu antara kuliah dan demonstrasi, dan banyak factor lain yang menghambat. Jadi secara implisit, tujuan lain pemerintah memindahkan kampus UI ke depok adalah mempersulit dan menghambat pergerakan demonstrasi mahasiswa. Jadi bahasa kasarnya, agar mahasiswa gak sering-sering demo. Ini merupakan salahsatu intervensi politik melalui bentuk arsitektur. Banyak lagi bentuk politik yang menggunakan arsiektur sebagai media. Jadi sebagai arsitek, sesungguhnya bukanlah orang suci yang hanya berdiri sendiri, tidak ada campurtangan politik. Para arsitek perlu melihat dan memprediksi maksud dan dampak yang timbul ketika karyanya hadir pada sebuah lingkungan.


0 Responses to “Politik dan arsitektur”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: