29
Dec
08

Peran Arsitek Dalam Masyarakat

Apa peran seorang arsitek di dalam masyarakat? Seringkali dalam buku-buku arsitektur dikatakan, arsitektur sebagai sesuatu yang dibuat dan dikembangkan oleh manusia dan efeknya atau dampaknya adalah untuk manusia juga. Namun manusia yang dikatakan buku-buku itu entah mengapa sepertinya lebih merujuk kepada sesuatu yang didesign oleh seorang arsitek dan designnya itu pada nantinya akan merupakan sebuah place bagi manusia, sehingga design dari arsitek itu haruslah mempertimbangkan manusia yang nantinya akan sebagai penghuni di dalamnya. Namun apa peran seorang arsitek bagi manusia lain hanya terbatas pada rancangan design dari arsitek tersebut saja?

Kegiatan yang baru saja saya lakukan dalam kuliah Everday Architecture merupakan sebuah bukti dimana peran arsitek untuk masyarakat tidaklah hanya terbatas pada rancangan design. Dengan ilmu-ilmu yang telah dimiliki oleh arsitek-arsitek yang terkait dalam kegiatan ini dapat digunakan untuk menuntun adik-adik kita di SD Srengseng 13 untuk membentuk rumah sehat mereka masing-masing. Di dalam kegiatan ini pada awalnya kita berdiskusi bersama adik-adik tersebut mengenai rumah mereka yang ada sekarang, apakah rumah itu terasa pengap ataukah mempunyai tempat pembuangan sampah, banyakah pohon-pohon yang ada di rumah mereka, atau adakah ruang-ruang didalam rumah mereka yang tidak nyaman. Jawaban dari adik-adik ini pun sangat beragam, ada satu anak yang menjawab bahwa WC rumah mereka bau, namun ada juga anak lain yang menjawab bahwa WC rumah mereka bersih dan tidak bau. Dan ketika ditanya ada ruang-ruang apa saja di dalam rumah mereka, ada anak yang berkata “kak,kalau rumah saya cuma sepetak, gmana kak? Jadi cuma satu ruang”, namun ketika saya jawab tidak apa-apa, saya melihat anak itu menulis di kertasnya bahwa di dalam rumahnya ada ruang makan, kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Ketika saya tanya mengapa dia menulis begitu banyak ruang, padahal sebelumnya dia mengatakan hanya ada satu ruang di dalam rumahnya. Dan dia menjawab”walaupun satu ruang, kan dipake juga buat tidur, makan ato nerima tamu kak”.

Peran saya dan teman-teman saya di dalam kegiatan itu adalah hanya sebagai fasilitator, dimana kami harus membimbing adik-adik SD itu untuk mengetahui syarat-syarat apa yang dibutuhkan untuk rumah yang sehat. Ketika syarat-syarat itu telah mereka ketahui, maka mereka haruslah mempraktekkan pengetahuan mereka tersebut untuk mendesign rumah sehat mereka beserta lingkungan di sekelilingnya. Setiap kelompok terdiri dari 8 anak, dan setiap anak ini mempunyai pemikiran yang bebeda mengenai lingkungan yang mereka katakan sehat untuk rumah mereka sendiri. Pemikiran-pemikiran yang berbeda ini terlihat dalam proses design tersebut. Pada awalnya mereka diberikan sebuah kotak kardus yang berukuran 8cmx6cm dengan tinggi 3 cm, yang diumpamakan adalah rumah mereka. Dan ketika diberikan kotak kardus ini, ada juga lontaran-lontaran pintar dari anak-anak tersebut seperti “Kak,kalo rumah saya sekecil ini, ntar pengap donk?” dan lontaran itu jugalah yang membimbing mereka untuk menambahkan jendela-jendela di rumah mereka. Lalu bagian paling menarik dalam proses desaign ini adalah ketika mereka mendesign lingkungan rumah mereka. Di dalam kelompok saya terdiri dari 8 anak laki-laki, yang menurut saya merupakan anak-anak yang cukup kreatif, karena mereka membuat berbagai macam hal untuk lingkungan rumah mereka yang mereka anggap sebagai lingkungan yang sehat. Ada seorang anak yang membuat gunung yang dimaksudkan adalah bahwa dia menginginkan agar rumahnya dan rumah teman-temannya berada di daerah pegunungan yang mempunyai udara yang segar dan sejuk. Dan ada anak yang membuat pohon-pohon mereka sampai keatap, padahal yang saya yakin sekali sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka buat bisa dikatakan sebagai green roof.

Kreatifitas-kreatifitas mereka yang dipadu padankan dengan syarat-syarat rumah sehat yang mereka ketahui, membuat hasil design mereka menjadi sangat unik dan beragam. Dan kegiatan mempraktekkan secara langsung seperti ini membuat kegiatan ini menjadi lebih bermanfaat bagi anak-anak tersebut. Karena ketika mereka hanya diajarkan di dalam kelas mengenai rumah sehat, mungkin saja apa yang mereka dengar hanyalah lewat sesaat di dalam pikiran mereka. Namun ketika mempraktekkan ilmu tersebut, maka mereka akan lebih mengetahui bahwa syarat-syarat rumah sehat itu tidaklah hanya untuk dipelajari namun juga untuk dipraktekkan di rumah mereka yang ada sekarang.

Kegiatan ini menurut saya sebenarnya bertujuan untuk membentuk pola pikir anak-anak mengenai rumah sehat dengan menggunakan ilmu-ilmu arsitektur yang sederhana. Peran arsitek-arsitek yang terlibat dalam kegiatan inilah yang membuat ilmu-ilmu arsitektur itu dapat diserap oleh anak-anak SD itu. Dalam hal ini, arsitek tidak bertugas untuk mendesaign namun untuk menuntun anak-anak itu mendesign sendiri rumah sehat yang mereka inginkan. Uniknya dari kegiatan ini adalah dimana peran arsitek di dalam masyarakat tidaklah hanya selalu berperan untuk membuat sebuah intervensi arsitektur dalam masyarakat yang hasil akhirnya berupa bangunan, namun bagaimana arsitek juga dapat membuat intervensi arsitektur melalui pola pikir masyarakat tersebut. Sumbangan arsitek dengan ilmu-ilmunya tidaklah hanya selalu menghasilkan bangunan, namun juga bisa menghasilkan pola pikir masyarakat yang lebih baik mengenai lingkungan sekelilingnya.


0 Responses to “Peran Arsitek Dalam Masyarakat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: