31
Dec
08

Aceh, suatu perjalanan, suatu pembelajaran

26 Desember 2008, 4 tahun peringatan tsunami Aceh. Sebuah berita yang belum lama ini saya lihat pada layar kaca. Melihat hal ini saya menjadi teringat akan perjalanan saya ke Aceh Februari silam. Melihat langsung lokasi bencana, melihat budaya masyarakat, melihat perkembangan rekonstruksi Aceh, bahkan merasakan langsung gempa pada lokasi kejadian tsunami [cukup menyeramkan, namun hal ini masih cukup sering terjadi].

4 tahun lalu, terjadi bencana dahsyat yang meluluh-lantakan Aceh. Bencana yang membuat seluruh warga Aceh tak mungkin bisa melupakan kejadian ini. Suatu masa sulit yang harus mereka jalani, bahkan mungkin suatu trauma yang mendalam. Bencana yang merusak fisik dan mental. Memakan korban jiwa dan materil. Mungkin saya tak perlu panjang lebar untuk menyatakan kejadian yang terjadi, saya berkeyakinan bahwa pembaca telah mengetahui bencana yang terjadi.

Ketika itu saya mendapat kesempatan untuk melihat langsung rumah-rumah yang rusak karena tsunami. Hadir pada suatu kawasan yang sangat sepi, kawasan berisikan rumah-rumah yang rusak hingga pondasinya hilang karena tsunami. Kawasan yang tadinya kata warga sekitar adalah kawasan yang ramai. Dan melihat pembangunan rumah-rumah bantuan bagi warga Aceh.

Hal menarik disini saya temukan, banyak rumah telah selesai dibangun namun tak ada warga yang menempati, padahal diberita masih ada warga yang belum mendapat rumah bantuan. Kenyataan yang terjadi adalah warga Aceh menolak rumah bantuan ini karena rumah bantuan dinilai menodai kebudayaan warga Aceh. Kenyataan ini saya dapat dari kepala RT setempat, ia mengatakan bahwa warga Aceh memiliki budaya, dan pada rumah Aceh kamar mandi harus diletakan di luar, namun pada rumah bantuan kamar mandi terletak di dalam. Masalah yang mungkin terkadang kita anggap sepele, namun berakibat besar. Sebuah penolakan, penolakan yang tak biasa, menolak bantuan disaat membutuhkan. Namun hal ini lah yang terjadi.

Disini saya melihat, warga Aceh ketika itu memang mendesak untuk dibantu. Namun apakah keterburu-buruan itu sampai pada menghilangkan everydayness warga Aceh. Partisipasi, mungkin kata ini yang bisa menjadi jawaban, namun tidak semudah itu. Telah ada suatu usaha untuk mengajak warga Aceh berpartisipasi dalam pembangunan yaitu dengan mempekerjakan mereka dalam pembangunan rumah. Namun hal ini juga tidak berhasil. Warga Aceh adalah warga yang berharga diri tinggi dan gemar menghabiskan waktu di warung kopi, mereka merasa terhina hanya dijadikan pekerja, mereka ingin sesuatu yang lebih. Karena itu jangan heran ketika anda kesana maka para pekerjanya adalah orang sunda dan orang jawa.

Disini saya mempelajari bahwa everyday itu bukan saja pada suatu pola yang nampak, bukan hanya pada suatu susunan ruang. Namuna ada sesuatu yang lebih dari itu, suatu yang tak nampak, suatu yang mendasari pikiran kita yang tersembunyi dan dapat kita telusuri dengan melibatkan mereka pada partisipasi yang lebih jauh dan mendalam lagi.


2 Responses to “Aceh, suatu perjalanan, suatu pembelajaran”


  1. 1 nevinerafa
    January 1, 2009 at 1:39 pm

    membaca tulisan ini saya kembali mengingat btapa dasyatnya tsunami menyerang aceh dulu.
    banyak orang-orang menjerit etakutan, banyak yang kehilangan keluarganya, tempat tinggalnya dan segala hal yang dimiliki lenyap tertelan tsunami.
    ya, saya juga merasa heran dengan orang aceh dan budayanya. kenapa mereka lebih mengutamakan budaya daripada kebutuhan?bukankah tempat tinggal itu adalah kebutuhan primer?atau mungkin di aceh sudah berubah, budaya lah yang menjadi kebutuhan primer?
    mungkin ada baiknya bagi kelangsungan budaya bangsa dengan pribadi masyrakat aceh yang kerap mempertahankan budayanya, namun apakah mereka akan dapat bertahan hidup dengan budayanyanya?atau mungkin budaya di aceh sebegitu kuat nya hingga akhirnya dapat mengubah cara pandang masyarakat aceh terhadap kebutuhan?

  2. 2 r1ss
    January 1, 2009 at 7:21 pm

    Seharusnya dengan melihat warga Aceh yang memiliki harga tinggi dan sifat mereka yang menjunjung tinggi kebudayaannnya,maka dapat kita simpulkan bahwa tipe penduduk seperti mereka juga menginginkan bahwa mereka juga bisa berpartisipasi dalam menyumbangkan pendapat mereka,bukan hanya menyumbangkan tenaga mereka.Dengan hanya menyumbangkan tenaga,maka mereka tidak punya rasa memiliki pada hasil pembangunan itu, sehingga mereka juga tidaklah merasa untuk harus tinggal ditempat itu. Ketika mereka telah merasa, bahwa mereka juga dilibatkan dalam pembangunan ini dengan pendapat dan keinginan mereka didengarkan, maka kemungkinan besar mereka akan ikut terlibat juga membangun daerah itu, bahkan mungkin mereka menginginkan keterlibatan yang lebih besar dibandingkan orang Jawa atau Sunda.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: