31
Dec
08

Architect is not a ‘GOD’ !!

Sebuah karya arsitektur yang dianggap baik saat ini, sering kali berpatokan terhadap sesuatu yang ideal, seperti contoh kecil ; sering kali orang beranggapan ruang tamu yang baik adalah ruang tamu yang kurang lebih menyerupai seperti gambar ruang tamu yang terpajang pada sebuah majalah interior, yang padahal pada kenyataannya bila gambar pada majalah itu direalisasikan di rumah kita belum tentu kita sebagai pemilik akan merasa nyaman dengan adanya ruang tersebut. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, Apakah kemudian sesuatu yang dianggap ideal itu ( terutama oleh kita sebagai perancang ) sudah pasti juga merupakan sesuatu yang benar – benar ideal dan cocok bagi orang lain ( orang yang menggunakan rancangan kita )?

Kita sebagai seorang perancang dengan segudang ‘ide-ide gila’, terkadang melupakan apakah ide-ide itu pada nantinya akan cocok bila dimasukkan ke dalam konteks yang ada? dan akhirnya tanpa disadari kita sudah merancang sebuah ‘utopia’ yang hampir keseluruhan hanyalah didasari oleh keegoisan kita sebagai perancang. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah kemudian hal ini memang begitu adanya atau ada sebuah sudut pandang lain yang dapat kita gunakan, sebagai perancang, dalam menuangkan ide-ide kita?

Sebuah cara lain saya temukan dalam workshop bersama Education Care Unit (workshop tentang rumah sehat dengan peserta adalah anak sekolah dasar), sebuah cara yang bisa dikatakan dapat mengubah presepsi yang ada selama ini mengenai perancang dan bagaimana cara kita merancang. Di dalam Workshop ini saya menemukan bagaimana keikutsertaan dari orang yang menempati rancangan kita menjadi sangat penting. Dalam workshop ini kita sebagai perancang tidak lagi berperan menjadi seorang dewa yang dapat memasukkan ide-ide apa saja yang kita inginkan, tetapi kita lebih berperan sebagai seorang fasilitator, yang lebih mendengarkan apa yang diinginkan dan dirasa cocok oleh klien dan juga membimbing, yang dalam hal ini adalah anak-anak sekolah dasar kelas 4 SD Guntur, Manggarai , sehingga kita tidak lagi dengan sesukanya memasukkan apa yang kita anggap ideal ke dalam rancangan tersebut.

Dalam workshop ini, kita sebagai fasilitator pertama-tama melakukan brain storming bersama dengan anak-anak sekolah dasar tentang seberapa banyak yang mereka ketahui tentang tempat tinggalnya masing-masing. Dari brain storming ini, kita juga membimbing mereka untuk mengeluarkan ide-ide tentang apa saja yang mereka ketahui tentang tempat tinggal yang sehat, yang ternyata hal ini sangat sulit dilakukan oleh anak-anak tersebut, yang mungkin disebabkan oleh kebiasaan pola belajar yang kebanyakan hanya ‘banyak menerima’ apa yang diberikan oleh guru. Setelah itu para siswa diminta untuk mengidentifikasikan ruang apa saja yang pada tempat tinggalnya yang dianggap sehat dan yang tidak serta mencari solusi dari permasalahan tentang sesuatu yang dianggap bermasalah dan bagaimana mencapai ruamah yang dikatakan sehat itu. Selanjutnya dilanjutkan dengan pembuatan model dari hasil diskusi dan brain storming yang telah dilakukan sebelumnya tentang rumah sehat. Dan pada akhir sesi dilakukan refleksi kembali tentang apa yang telah dilakukan selama kegiatan pada hari itu.

Beberapa hal menarik kemudian saya temukan dalam setiap tahapan pada kegiatan tersebut, seperti pada tahap awal, brain storming, dimana anak-anak sangat sulit untuk melakukan hal ini, dan bagaimana cara kita menarik atensi (perhatian) dari anak-anak tersebut pada tahap ini kemudian menjadi sangat penting dan sulit, karena tahap ini merupakan proses dimana kita berusaha untuk menyelami pikiran anak-anak tersebut dan mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang mereka, untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang hal yang dibicarakan. Pada proses selanjutnya, dalam perumusan solusi, saya menemukan bahwa setiap anak mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah yang ada pada tempat tinggalnya masing-masing, yang kmudian hal ini menjadi bersifat sangat pribadi karena ujung-ujungnya menyangkut keadaan ekonomi dan sosial dari masing anak-anak, seperti contoh ada seorang anak yang ingin mepunyai sebuah ruang tamu yang cukup besar agar merasa nyaman dan mengatasi masalah pengudaraan, tetapi kemudian ada anak lain yang menyambar berkata sambil tertawa “ rumah dia soalnya ada warungnya ka jadi sempit !” dari hal ini apat diketahui bahwa keadaan tempat tinggal yang sekarang mempengaruhi pola pembuatan solusi dari masing-masing anak. Lalu pada tahap pembuatan model saya dapat melihat seberapa kreatif masing-masing anak tersebut dan sebegitu bangganya mereka terhadap karya yang mereka buat sendiri, yang jika dilihat oleh orang awam hanyalah setumpukan kotak-kotak kardus bekas dan kertas kertas krep yang tidak beraturan. Pada tahap ini tergambar juga seberapa besar rasa memiliki mereka terhadap karyanya itu. Dari hal ini dapat diketahui bahwa kemudian seberapa bagus sebuah karya menjadi tidak penting lagi, tetapi yang kemudian menjadi penting adalah seberapa besar rasa memiliki mereka terhadap karya meraka itu. Lalu pada tahap akhir, tahap refleksi, ditemukan bahwa anak-anak tersebut sangat sulit merefleksikan apa yang telah mereka kerjakan.

Akhirnya, dari workshop bersama Education Care Unit ini, saya menemukan sebuah presepsi lain tentang bagaimana cara kita, sebagai perancang, merancang untuk orang lain. Tidak lagi berpikir dengan cara ‘dewa’ tetapi berpikir dengan mengikutsertakan orang yang nantinya akan menggunakan rancangan kita, dalam proses design, sehingga karya kita tidaklah menjadi ‘alien’ bagi mereka tetapi menjadi ‘bagian’ yang berguna, cocok, dan sesuai bagi kehidupan mereka, karena apa yang kita anggap baik selama ini belum tentu benar-benar merupakan hal yang baik juga bagi orang lain. Kendati demikian, kita sebagai perancang juga tetap harus memasukkan ide kita ke dalam rancangan dan tetap memasukan partisipasi dari masyarakat, yang berarti kita harus berpikir secara terbuka.


1 Response to “Architect is not a ‘GOD’ !!”


  1. 1 def1
    January 1, 2009 at 9:54 am

    Memang sebagai seorang arsitek tidaklah dapat terlepas dari manusia sebagai penggunanya. Istilahnya kita yang memfasilitasi mereka, maka kita harus tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya mereka butuhkan.Menyelami bagaimana karakter kehidupan mereka sehingga nantinya apa yang kita buatkan untuk mereka adalah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.Bertindak sebagai seorang arsitek tidaklah seenaknya yang kita mau, menuangkan ide sebanyak-banyaknya, namun apa landasannya? sesuaikah dengan konteksnya, dengan manusianya?sejauh mana kita mampu melibatkan mereka dalam proses desain kita? sejauh mana kita peka terhadap permasalahan mereka?
    Maka dari itu pernyataan Architect is not a ‘God’ adalah suatu pernyataan yang mungkin perlu direnungkan karena sebagai seorang arsitek, mereka memiliki tanggung jawab yang cukup besar terhadap apa yan mereka rancang untuk kenyamanan dan keterdukungan hidup manusia. Cukup banyak aspek-aspek yang perlu mereka pertimbangkan ketika merancang (bukan hanya dari sudut pandang arsitek itu sendiri)


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: