31
Dec
08

Arsitektur dan Demokrasi

Arsitektur, sebagaimana yang telah kita ’selami’ selama ini merupakan suatu proses hasil pemikiran yang menghasilkan suatu solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada, dimana serangkaian kejadian tersebut sering kita sebut sebagai mendesain. Inti dalam proses pemikiran tersebut disini adalah manusia dengan segala sisi kehidupannya. Oleh karena itu mungkin dapat kita katakan bahwa posisi kita sebagai arsitek sangatlah beruntung atau malah cenderung egois dalam hal pengambilan keputusan dalam mendesain. Untuk menghasilkan suatu desain, arsitek memiliki ’wewenang’ untuk pada akhirnya mengambil suatu keputusan tindakan yang nantinya tentu akan mempengaruhi atau bahkan mengubah kehidupan manusia yang tinggal di dalamnya. Dengan wewenang tersebut justru seringkali si arsitek tersebut justru menutup mata, hati dan telinga dari kondisi sebenarnya yang dibutuhkan oleh manusia yang tinggal di dalamnya. Seringkali kita sebagai arsitek, yang sebenarnya adalah outsider justru melupakan orang-orang yang memang bagian dari tempat mendesain kita, yang lebih mengetahui atas pengalaman-pengalaman dan cerita yang mereka punya. Melalui tulisan ini saya mencoba mengangkat mengenai posisi kita sebagai arsitek dan masyarakat luas, juga mengenai hubungan yang terjadi di dalamnya terkait dalam proses mendesain.

Atas isu menarik tersebut, saya ingin mencoba memberikan suatu perbandingan dengan sebuah contoh yang mungkin memang tidak serumit proyek-proyek arsitek yang besar, tetapi patut kita beri perhatian khusus mengenai lingkungan rumah yang sehat. Edu Care Unit yang diadakan beberapa waktu lalu di SD 13 Srengseng Sawah, saya mencoba untuk memfasilitasi anak-anak untuk lebih memahami dan mengenal lingkungan rumahnya dalam konteks menuju suatu pemahaman akan lingkungan rumah tinggal yang sehat. Dalam kegiatan ini anak-anak diarahkan agar lebih peka untuk menyebutkan kondisi nyata mengenai lingkungan rumah tinggal mereka, menganalisis fakta-fakta tersebut dan pada akhirnya memutuskan bagaimanakah lingkungan rumah tinggal yang sehat. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain berupa diskusi, words mapping, dan pembuatan model lingkungan rumah tinggal yang sederhana. Selama kegiatan tersebut, saya memposisikan diri sebagai seorang fasilitator yang mengarahkan mereka pada pemahaman akhir tersebut.

Mungkin sebelum menjalani kegiatan tersebut, tidak pernah terpikir oleh saya bagaimana seorang anak memandang dan mencerna pengalaman dalam kehidupan lingkungan rumah tinggalnya. Dari beberapa anak yang saya fasilitasi, memang ada beberapa anak yang antusias mengikuti kegiatan tersebut dan adapula yang hanya pasif mendengarkan dan berbicara jika ditanya. Namun dari semuanya dapat terlihat usaha mereka dalam memahami topik tersebut dan memberikan solusi-solusi dari masalah yang ada. Seringkali anak-anak tersebut hanya menyebutkan kriteria lingkungan rumah tinggal yang umum, yang seolah terkesan merupakan hasil bacaan dari buku, bukanlah dari penglihatan kondisi nyata yang ada. Sebagai contoh yaitu mereka menyebutkan bahwa lingkungan rumah tinggal yang sehat haruslah bersih dan nyaman, mereka juga dapat menyebutkan ruang-ruang mana saja yang nyaman ataupun tidak nyaman, tetapi mereka menemui kesulitan ketika diberikan pertanyaan apa yang membuat nyaman atau tidak nyaman. Dalam menghadapi kesulitan tersebut maka saya disini mencoba memberikan arahan-arahan mengenai kondisi yang ideal dengan memberikan kasus-kasus sederhana yang sering mereka temui sehari-hari terkait dengan pencahayaan, pengudaraan, sampah, air, dan kebersihan dalam rumah tinggal. Arahan-arahan tersebut berupa pertanyaaan-pertanyaan yang memaksa mereka untuk berpikir atas fenomena yang ada.

Dari serangkaian kegiatan tersebut ada beberapa hal menarik yang memang patut kita amati sebagai seorang arsitek nantinya. Dengan mencoba mendengarkan cerita dari anak-anak tersebut, sebagai manusia yang tinggal di dalamnya, kita mungkin bisa saja mendapat suatu ’surprise’ dengan kejadian-kejadian yang ada. Sebagai contoh, salah seorang anak yang menyebutkan bahwa ia merasa tidak nyaman di ruang makan karena seringkali ruang makan tersebut dipakai untuk menjemur pakaian oleh ibunya atau ruang tamu yang pada malam hari digunakan sebagai kamar tidur. Dengan cerita-cerita yang bermunculan tersebut tentu akan mempengaruhi proses mendesain kita. Kemungkinan terburuk yang terjadi dapat saja kita sebagai arsitek bukanlah menyelesaikan masalah yang ada, tetapi justru mengambil keputusan yang dapat memperburuk kondisi yang ada sebelumnya karena kita terus-menerus memposisikan diri kita sebagai outsider atau justru kita melupakan ’hakikat’ kita sebenarnya dengan wewenang yang kita miliki tersebut.

Sebagai seorang arsitek yang tentunya telah berbekal ilmu pengetahuan akan suatu kondisi yang ’ideal’ secara teori, dalam kasus ini yaitu lingkungan rumah tinggal yang sehat, kita dapat memposisikan diri kita sebagai seorang pendengar dan pengamat yang baik atas fenomena-fenomena yang ada sebelum pada akhirnya nanti kita menawarkan suatu solusi kepada mereka sendiri. Dalam kegiatan ini yaitu anak-anak yang bercerita akan keadaan rumah tinggalnya, atas ’surprise’ yang tidak ketahui sebelumnya. Namun untuk selanjutnya, arsitek dapat memberikan suatu arahan menuju suatu gambaran mengenai kondisi ideal tersebut. Arsitek bukan lagi sebagai hakim tunggal dalam suatu pengadilan, melainkan sebagai wadah aspirasi dalam masyarakat. Bukankah hal ini mencerminkan suatu demokrasi dalam berarsitektur………?


0 Responses to “Arsitektur dan Demokrasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: