31
Dec
08

partisipasi ruang bagi anak-anak

Disadari atau tidak sebagian besar karya arsitektur diperuntukkan bagi usia produktif. Padahal siklus hidup manusia terdiri dari beberapa fase, yaitu fase bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Namun seolah-olah titik penting siklus kehidupan manusia hanya berada pada fase usia produktif. Mengapa? Karena para arsitek berfikir bahwa karya mereka atau informasi yang mereka sampaikan melalui karyanya lebih mudah ditangkap dan dimengerti oleh manusia usia produktif. Hanya sedikit ruang yang diberikan bagi anak-anak, manula dan fase lainnya. Entah itu ruang yang diciptakan oleh arsitek ataupun masyarakat. Padahal bagi anak-anak misalnya, mereka memerlukan ruang yang lebih variatif dan explorative. Hal ini karena di sanalah mereka bisa belajar secara langsung, mereka merasakan, mereka belajar dari pengalaman, bukan hafalan yang hari ini dihafal besok mereka sudah lupa, bukan hitungan yang membuat mereka mengerutkan dahi hingga akhirnya mereka takut masuk kelas, bukan pula disuruh mendengarkan apa yang diterangkan ibu guru yang akhirnya membuat mereka tidur. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka alami langsung akan mempercepat pemahaman mereka tentang sesuatu. Mereka menjadi tahu manfaat mempelajari sesuatu itu, bukan menebak-nebak penting atau tidak suatu pengetahuan (bagi mereka sendiri) yang absurb karena membayangkannya saja mereka sulit. Inilah yang saya dapatkan dan saya pelajari dari workshop rumah sehat yang diikuti oleh anak-anak SD kelas 4 dibeberapa sekolah.

TAHAP PERKENALAN

Pada awalnya yang saya lakukan adalah bagaimana membuat anak-anak menerima kehadiran saya melalui perkenalan, saya memperkenalkan diri begitu juga dengan mereka. Selanjutnya langkah yang saya ambil adalah mengingat nama-nama mereka, karena saya beranggapan bahwa dengan saya memanggil mereka dengan nama mereka masing-masing (bukan dengan kata umum seperti “adik-adik” atau “anak-anak”) itu merupakan suatu bentuk saya menghargai mereka. Dan menurut saya pribadi (bila saya diposisi anak-anak) saya akan merasa senang dan tersanjung bila ada orang baru yang mengingat nama saya. Karena nama merupakan salah satu identitas yang membedakan antara saya dengan orang lain. Langkah pendekatan selanjutnya adalah dengan banyak berkomunikasi ringan dengan mereka (obrolan ringan) seperti menanyakan  “ kalo ntar punya rumah pengennya yang gimana?” dengan melontarkan pertanyaan–pertanyaan seperti itu saya bisa mendengar jawaban-jawaban yang unik dan lucu seperti “yang besar, punya kolam renang, bertingkat, punya mobil, ada ac-nya kak”  jawaban-jawaban yang mereka kemukakan tersebut merupakan perwujudan atas hal-hal yang belum bisa mereka dapatkan dan rasakan saat ini. Dan hal ini menunjukkan  kualitas hidup mereka. Misalnya jawaban “ingin punya rumah besar” secara tidak langsung mengungkapkan bahwa anak tersebut merasa rumah yang ditempatinya sekarang cenderung kecil. Maka masalah yang saya prediksi dapat muncul adalah pengap karena ruangan yang sempit dengan kapasitas orang yang cenderung lebih dari dua akan menyesakkan, berisik, panas dan lainnya. Melalui perkenlaan ini juga saya dapat mengetahui anak-anak mana saja yang perlu saya tangani secara langsung, mana anak yang cerdas, kritis, bandel. Sehingga nantinya saat kegiatan ini berjalan saya dapat menyikapi mereka dengan cara yang berbeda-beda pada setiap anak.

TAHAP DISKUSI

Pada tahapan diskusi ini pada dasarnya adalah membangkitkan memori pengetahuan mereka tentang rumah sehat. Jadi bukanlah bersifat mendikte bahwa rumah yang  sehat harus bagaimana atau seperti apa, tetapi mereka sendiri yang menjelaskan dan mendeskripsikan apa itu rumah sehat. Posisi saya disana hanya memicu mereka dan meluruskan jawaban-jawaban mereka. Saya mengamati bahwa pengetahuan yang dimiliki anak-anak di SD Guntur  lebih luas. Hal ini terbukti dari jawaban-jawaban mereka yang lebih beragam dan to the point, misalnya harus ada ventilasi, jendela, pohon, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan rumah sehat telah mereka serap dengan baik sebelumnya. Sementara untuk anak-anak di SD Srengseng , mereka lebih sulit untuk menjawab. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka tidak menemukan contoh rumah sehat secara langsung sehingga bisa mereka ingat dan bayangkan. Hal ini menunjukkan tingkat kehidupan anak-anak SD Srengseng yang menengah ke bawah. Dimana ini ditunjukkan oleh jawaban-jawaban mereka yang seolah tidak sadar akan guna ventilasi, pohon dan lainnya. Ketika mereka disuruh menyebutkan nama-nama ruangan yang ada di rumah, mereka menafsirkanya dengan menyebutkan nama-nama kegiatan yang mereka lakukan di dalam rumah. Karena pada dasarnya mereka hidup di dalam rumah yang terdiri dari satu ruangan saja. Sehingga pada waktu mereka menjabarkan ruangan-ruangan di rumah mereka, mereka menjawab “ruang belajar, ruang nonton, ruang makan, ruang tidur, ruang tamu dan lainnya” yang pada dasarnya semua kegiatan itu terjadi di satu ruangan saja (saya mendapatkan kesimpulan ini melalui celetukan anak-anak). Sementara pada anak-anak SD Guntur mereka menjabarkan ruangan-ruangan tersebut dengan lebih mudah karena mereka bisa membayangkan jumlah dan nama ruangan yang ada dirumah mereka. Tujuan saya membandingkan jumlah ruangan yang ada di rumah mereka bukanlah untuk menunjukkan bahwa rumah sehat harus punya ruangan lebih dari satu ruang. Tetapi melalui informasi jumlah ruangan yang mereka miliki saya bisa menganalisa bahwa jumlah ruangan ini bisa menjadi tolak ukur saya mengetahui pengenalan anak-anak terhadap masalah lingkungan yang mereka hadapi. Hal ini terbukti bahwa anak-anak di SD Srengseng sawah lebih cepat dan mudah dalam merincikan masalah apa saja yang membuat mereka tidak nyaman di rumah, seperti bau pesing, kotor, banyak tikus, bau asap, gelap, berisik, dan lainnya. Sementara itu untuk anak-anak SD Guntur mereka perlu distimulus dengan pertanyaan-pertanyaan kualitatif seperti “kalo belajar di tempat yang gelap enak gak?” baru dengan begitu mereka bisa mengetahui dan sadar akan masalah yang terjadi.

TAHAP MODELING

Pada tahapan ini anak-anak sangat bersemangat. Mereka benar-benar merasa memiliki rumah dan bebas berimajinasi denga rumahnya. Misalnya pipin (salah seorang anak SD Guntur) meski dikenal bandel namun dialah yang paling kreatif diantara teman-teman sekelompoknya. Saat sedang bekerja dia menjadi tidak banyak berbicara dan mengganggu temannya, apalagi melihat punya teman-temannya. Dia asyik dengan apa yang sedang dia kerjakan. Dia punya cara kerja sendiri. Dengan kreatif dia membuat pohon dari daun, menambahkan cerobong asap pada rumahnya. Dimana nantinya kreatifitasnya ini diikuti oleh teman-temannya yang lain. Namun pada dasarnya anak-anak di SD Guntur memang kreatif. Untuk anak-anak di SD Srengseng mereka lebih tertarik untuk mendahulukan membuat lapangan bola bersama dan juga lapangan bulu tangkis, baru kemudian  menghias rumah mereka. Banyak tempat-tempat yang dibuat untuk bersama-sama (tempat sampah, tempat penampungan air). Ini menunjukkan kepedulian mereka akan kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang terjalin diantara mereka masih cukup besar. Sementara jika hal ini dibandingkan dengan anak-anak SD Guntur, mereka saya rasa lebh individualis. Terbukti dari adanya telepon umum di setiap hunian mereka (?).

Dari semua hal diatas, pada dasarnya saya merasa senang bisa mengikuti workshop ini. Selain bisa bermain dengan anak-anak, saya jadi mengerti bagaimana untuk memahami pola pikir dan latar belakang setiap orang tidaklah sama. Yang banyak terjadi pada karya-karya arsitek adalah suatu bentuk hijacking. Hijacking ini terjadi karena pesan-pesan yang disampaikan oleh si arsitek  melalui apa yang ia buat tidak bisa diterima atau tidak bisa dimengerti oleh para penggunannya yang memiliki pola pikir dan latar belakang yang berbeda pula. Untuk itu diperlukan suatu bentuk partisipasi masyarakat dalam suatu proses desain yang nantinya informasi-informasi yang terkumpul ini memudahkan si arsitek dalam pemilihan bahasa arsitektur yang mudah dimengerti oleh para pengguna.


0 Responses to “partisipasi ruang bagi anak-anak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: