02
Jan
09

Arsitektur dan Anak-Anak : “mereka juga bisa..”

Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, bahwa untuk merancang sesuatu, haruslah penuh perhitungan, pemikiran yang matang dan proses yang cukup panjang. Dan yang dapat melakukan hal tersebut adalah para orang dewasa yang sudah mengalami berbagai macam pahit-manisnya kehidupan, serta telah melewati proses pembelajaran dan berbagai pengalaman dalam merancang. Namun demikian, pendapat tersebut terpatahkan setelah saya mengikuti workshop yang diadakan oleh ECU (Education Care Unit), di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2008.

Pada hari itu, di SDN 03 Guntur sedang berlangsung class meeting, namun untuk anak-anak yang duduk di kelas IV, mendapat dispensasi untuk tidak turut serta berpartisipasi, dan mereka mendapatkan workshop mengenai rumah sehat dari tim ECU. Pada awalnya terlihat sedikit kekecewaan di wajah mereka, karena tidak dapat bermain dengan teman-teman sebayanya, dan timbul sedikit kekawatiran dalam diri saya, apakah mereka dapat diajak bekerja sama dalam workhop ini, dan apakah mereka bisa menangkap maksud serta tujuan dari workshop ini nantinya. Kembali lagi, kekawatiran saya terpatahkan setelah mengikuti workshop ini.
Workshop dimulai dengan membagi 5 kelompok dalam satu kelas. Setiap kelompok terdiri dari satu fasilitator (saya dan teman-teman dari arsitektur UI-red.) dan 6 siswa. Saya mendapatkan kelompok yang terdiri dari Dhesta, Vivi, Andhika, Arfi, Nina dan Aisyah. Dalam workshop ini, mereka nantinya harus meghasilkan sebuah rancangan rumah impian yang sehat. Namun, sebelum mewujudkan rumah impian tersebut, saya mengajak para siswa berdiskusi terlebih dahulu. Hal tersebut pada awalnya memang tidak mudah. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang aktif mendiskusikan setiap pertanyaan yang saya lontarkan, ada yang hanya mengiyakan atau mengangguk-angguk, namun, ada juga yang apatis dan diam saja.

Hal pertama yang saya lontarkan untuk memecahkan kekakuan diantara kami, saya mengajukan pertanyaan mengenai tempat tinggal mereka, apakah tempat tinggal mereka sudah nyaman atau belum, lalu bagaimana definisi nyaman menurut mereka. Dan akhirnya mereka mulai terlibat aktif dalam diskusi mengenai rumah nyaman.

Dari lontaran-lontaran jawaban mereka, saya cukup terkejut dengan pemahaman mereka mengenai rumah yang nyaman. 5 dari 6 orang menjawab rumah yang nyaman adalah rumah yang sejuk, dingin dan tidak sumpek. Tetapi yang mengkawatirkan adalah, ketika mereka menjawab, “soalnya pake AC, kak”. Saya heran, kenapa mereka bisa berpendapat bahwa dengan AC lah rumah mereka jadi tidak sumpek dan nyaman. Ketika mendengar jawaban mereka, saya membayangkan keadaan rumah mereka yang tertutup dan sumpek, karena kehadiran AC di rumah bukannya malah membuat ventilasi yang ada harus tertutup? Saya mencoba membalikkan pertanyaan mereka, “ada yang tahu enggak kalau pakai AC rumah malah jadi sumpek ?” ujar Nevine. Tidak ada yang bisa menjawab, lalu saya bertanya lagi. “Di rumah ada jendela enggak ?” Kenapa kalau ada jendela udara tidak pengap. Ada yang tahu ?” saya terus berusaha menggali. Dan tetap tidak ada yang tahu. Akhirnya, saya menjelaskan pada mereka mengenai pentingya ventilasi bagi rumah dan bukanlah AC, bagaimana udara segar bisa masuk dan bagaiman sebisa mungkin mengurangi penggunaan AC.

Pikiran mereka sudah terkontaminasi dengan kehadiran AC. Bahwa ventilasi tidak terlalu dibutuhkan dan AC lah yang penting. Sungguh ironis menurut saya. Apabila kita analogikan, di generasi mereka sudah berpikir bahwa AC itu penting, sedangkan kita tahu bahwa dengan hadirnya AC akan terus menambah efek buruk dari pemanasan global, lalu apa yang akan terjadi 20 tahun ke depan? Bukankah bumi akan semakin rusak?? Hampir setengah jam mereka berdiskusi. Mereka mendiskusikan sejumlah isu besar menyangkut rumah impian, yaitu udara segar, cahaya, kebersihan dalam rumah dan sanitasi, serta lingkungan luar. Dan saya terus berupaya agar masing-masing anggota kelompok secara aktif mengungkapkan pemikiran-pemikirannya secara kritis sehingga muncul pikiran-pikiran kreatif untuk mewujudkan rumah impian mereka yang sehat dan nyaman. Jawaban yang mereka lontarkan, khas anak-anak yang spontan dan menarik. Dan menurut saya, justru itulah yang penting dari sebuah edukasi untuk anak-anak. Spontanitas, sehingga mereka tidak merasa bosan dan tanpa disadari, mereka mendapatkan pengetahuan yang sangat berguna bagi mereka nantinya. Dan juga, ketika spontanitas yang terucap oleh mereka berisi penuh makna adalah ukuran bagi saya, apakah workshop yang saya berikan berhasil atau tidak.

Setelah semua anggota memahami masalah-masalah yang terkait dengan rumah impian dan solusi-solusinya, mereka saya ajak membuat maket sebuah kompleks perumahan sesuai bahan diskusi. Berbeda dengan proses diskusi dan penggalian pemikiran yang cukup sulit dilakukan, proses pembuatan maket ini disambut dengan antusias. Kegaduhan yang muncul dalam proses diskusi berubah menjadi keasyikan mewujudkan rumah impian. Mereka tenggelam dalam aktivitas menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas-kertas tersebut.

Dengan bahan-bahan sederhana, para siswa menyusun rumah impian masing-masing diatas karton tebal dengan ukuran 40 X 60 sentimeter. Rumah-rumah itu terbuat dari kotak-kotak karton seukuran 5 X 10 cm dengan tinggi 5 cm. Siswa menggambar jendela-jendela dengan pulpen. Pohon-pohon dibuat dari kertas krep warna hijau atau daun-daun yang diambil dari halaman sekolah.

Dan akhirnya, jadilah sebuah maket kompleks perumahan. Rumah-rumah yang terbangun lengkap dengan ventilasi, pepohonan yang banyak di sekitar rumah-rumah mereka, saluran air yang bersih, tempat sampah di setiap rumah dan sedikit pemanis dengan adanya kolam dan taman. Saya takjub dengan kreativitas mereka. Mereka dapat merancang sebuah kompleks perumahan yang sehat dan nyaman, dari bahan-bahan seadanya. Sebuah proses perancangan arsitektur sederhana, sudah mereka jalankan.

Namun yang paling penting dari workshop ini menurut saya adalah, bukan apa yang mereka hasilkan, tapi bagaimana proses yang mereka jalankan. Dimulai dari suatu paradigma mengenai pikiran anak-anak yang sudah terdoktrin dengan sebuah pengertian mengenai rumah sehat, yang sesungguhnya sangat jauh dari pengertian rumah sehat yang sebenarnya. Hingga akhirnya, mereka mengerti bahwa apa yang selama ini mereka anggap benar adalah salah, dengan menghasilkan sebuah maket penuh imajinasi khas anak-anak, namun penuh makna mengenai pemahaman terhadap rumah sehat.

Akhirnya workshop pun selesai, segala kekawatiran saya di awal benar-benar terpatahkan. Mereka telah membuktikan bahwa mereka dapat diajak bekerjasama dalam workshop ini, dan juga bisa berarsitektur. Dari workshop ini, ada hal penting yang dapat saya petik, bahwa mereka, adalah generasi penerus, mereka bisa dan mereka mampu membuat keadaan lingkugan menjadi lebih baik di masa mendatang. Tugas kita sebagai yang sudah lebih dulu hadir adalah menghargai apa yang sudah mereka capai, dan hasilkan dengan tidak membatasi jiwa kreatif mereka dalam proses kontribusi mereka terhadap perbaikkan lingkungan di masa mendatang.


0 Responses to “Arsitektur dan Anak-Anak : “mereka juga bisa..””



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: