02
Jan
09

Membangun Arsitektur dengan Perspektif Pengguna Melalui Partisipasi

Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia hidup dan berkegiatan di dalam ruang. Manusia mengalami ruang tersebut, dan beradaptasi dengan ruang itu. Manusia tidak hanya secara pasif menerima suatu ruang sebagai wadah beraktivitasnya, tetapi kemudian merespon ruang itu, mengatur bagaimana agar ruang tersebut benar-benar sesuai dengan apa yang dia butuhkan. Dari sini, dia akan memutuskan, ruang yang bagaimana yang ideal untuk dia tempati. Perspektif ideal mengenai ruang ini tentu saja berbeda antara satu manusia dengan manusia yang lain, bergantung pada pengalaman mereka terhadap suatu ruang.

Arsitek sebagai perancang haruslah benar-benar memperhatikan hal ini. Setiap tempat atau bangunan yang dirancang tentu akan ada penggunanya, dan arsitek berkewajiban untuk mengetahui dan memahami calon penggunanya ini, untuk kemudian dapat memprediksi bagaimana ruang yang akan dirancangnya nantinya digunakan oleh mereka. Hal ini sangat penting dalam mendukung keberhasilan arsitektur yang dibangun oleh sang arsitek, sebab dengan dapat memprediksi bagaimana kemungkinan perilaku calon pengguna rancangannya dalam sebuah ruang, ruang yang dirancangnya akan benar-benar dapat merespon segala kebutuhan spasial manusia yang menggunakannya.

Walaupun demikian, seringkali terjadi bahkan ruang yang telah dirancang oleh seorang arsitek pun mengalami intervensi oleh orang-orang yang beraktivitas di dalamnya. Intervensi ini terjadi karena si pengguna melihat kemungkinan lain dari suatu ruang, yang kemudian diinterpretasikan melalui suatu perilaku spasial yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan sang arsitek mengenai bagaimana rancangannya akan digunakan. Lalu apakah dalam hal ini, arsitektur yang telah mengalami intervensi pengguna itu tidak lagi disebut ideal? Atau justru intervensi tersebutlah yang menjadikan arsitektur tersebut lebih ideal untuk ditempati bagi penggunanya? Jadi dalam hal ini, persepsi dan perspektif siapa yang harus diutamakan dalam terbangunnya sebuah arsitektur, sang arsitek atau penggunanya?

Dalam terwujudnya sebuah arsitektur melalui ruang tempat berkegiatan manusia ini, tentu saja persepsi dan perspektif pengguna menjadi hal yang sangat penting. Dengan demikian, agar program arsitektur yang telah dirancang oleh seorang arsitek dapat berhasil, keterlibatan calon penggunanya dalam proses desain adalah hal yang sangat penting. Pengguna tidak hanya menjadi sekedar pengguna setelah arsitektur tersebut terbangun, namun juga turut berpartisipasi dalam memberikan perspektif bagaimana ruang yang dia butuhkan, bagaimana ruang yang membuat dia nyaman, yang selanjutnya tugas arsiteklah untuk mengarahkan dan akhirnya merealisasikan perspektif tersebut. Dengan langkah ini, intervensi yang tidak diinginkan dari pengguna terhadap arsitektur tersebut kecil kemungkinannya akan terjadi, sebab dengan memberikan perspektifnya mengenai gambaran ruang yang dibutuhkan dan diinginkan, dengan berdasarkan pada pengalaman terhadap ruang yang pernah dialami, pengguna dapat membayangkan apa konsekuensinya nantinya jika mereka melakukan intervensi terhadap arsitektur tersebut.

Mewujudkan arsitektur melalui partisipasi pengguna ini sebenarnya bukanlah hal yang cukup mudah dilakukan. Hal ini terlihat dalam workshop ”Rumah Sehat” yang diadakan di SDN Guntur 03 Pagi. Workshop ini ditujukan buat anak-anak kelas 4 SD (usia 10 tahun), dengan program memahami apa itu rumah sehat untuk akhirnya dapat merancang sebuah rumah sehat.

Awalnya diadakan diskusi dalam kelompok (6-7 orang), di mana setiap anak mendeskripsikan bagaimana rumah yang mereka tinggali, nyamankah rumah mereka, ruang mana yang nyaman, ruang mana yang tidak nyaman, dan sebagainya. Hal yang menarik dalam diskusi ini adalah bahwa anak-anak tersebut menyampaikan mengapa mereka mengklasifikasikan suatu ruangan sebagai ruang yang nyaman maupun tidak nyaman dengan mengemukakan fitur-fitur yang memfasilitasi ruangan tersebut, misalnya seorang anak menyebutkan kamar tidurnya nyaman karena menggunakan AC. Tugas saya sebagai fasilitator pada saat itu (atau dalam pembahasan partisipasi ini, sebagai sang arsitek), adalah memberikan pengertian terhadap konsep nyaman karena adanya AC tersebut, apa yang dia dapatkan dengan keberadaan AC, apa yang bisa menggantikan AC, namun memberikan kenyamanan yang sama.

Selanjutnya mereka diminta mengisi worksheet dengan tabel-tabel yang harus diisi mengenai apa yang telah didiskusikan sebelumnya. Ternyata dalam sesi ini anak-anak mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan ’mengapa’. Dalam tabel ’ruangan yang nyaman’ misalnya, mereka dengan cukup mudah dapat mendaftar ruangan-ruangan yang ada di rumahnya, namun mengalami sedikit kesulitan pada tabel di mana mereka harus menulis alasan mengapa mereka menyebutnya nyaman atau tidak nyaman. Dari sinilah saya melihat bahwa tahap penanaman konsep arsitektur ini adalah bagian tersulit dari metode partisipasi, sebab dalam tahap ini, kita sebagai arsitek harus dapat mengarahkan calon pengguna yang terlibat dalam proses desain untuk benar-benar memahami sasaran dan tujuan arsitekturnya. Dengan pemahaman ini, perspektif yang diberikan oleh calon pengguna dapat mereka pertanggungjawabkan dalam arsitektur yang telah terbangun nantinya.

Tahap selanjutnya dalam workshop tersebut adalah membuat model rumah dan lingkungan sehat menurut mereka, sesuai dengan apa yang telah didiskusikan dan hasil pemahaman dari tahap sebelumnya. Ini merupakan tahap yang paling dinikmati oleh anak-anak tersebut, karena dalam tahap ini mereka benar-benar dapat merealisasikan apa yang mereka inginkan terkait dengan gambaran rumah ideal bagi mereka, namun tetap memenuhi kriteria nyaman dan sehat. Dalam tahap ini, mereka secara praktis dapat langsung mewujudkan pemahaman yang mereka dapat sebelumnya. Dengan turun langsung dalam praktek perancangannya mereka dapat memperkirakan apa baik buruknya jika suatu ruang dirancang sedemikian rupa, sehingga ruang yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh mereka (sebagai calon penggunanya).

Dengan keterlibatan (partisipasi) pengguna dalam perancangan, intervensi yang tidak diharapkan dari pengguna terhadap suatu arsitektur lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi, sebab pengguna sudah paham mengapa ruang itu ada dan mengapa dibuat demikian, mereka tahu alasan kehadiran ruang tersebut sehingga tidak seenaknya mengalihkan penggunaan ruang tersebut untuk sesuatu yang lain yang tidak sesuai dengan program arsitekturnya. Dengan partisipasi pengguna dalam proses perancangan, mereka akan lebih merasakan keterikatan dan tanggung jawab untuk memelihara arsitektur tersebut, sehingga ruang yang ada benar-benar terfungsikan sebagaimana ia seharusnya.


1 Response to “Membangun Arsitektur dengan Perspektif Pengguna Melalui Partisipasi”


  1. 1 nevinerafa
    January 6, 2009 at 12:02 am

    membaca tulisan ini, saya jadi ingat mengenai domesticity.
    dalam domesticity, kita mengenal “order”, dan ketika order tersebut tidak terjadi sesuai dengan apa yang harusnya terjadi, jadilah “disorder”
    seperti misalnya, di dalam sebuah rumah terdapat ruang makan, dan tidaka ada kekhususan untuk ruang keluarga. si pengguna memperuntukkan ruang makan adala sebagai ruang untuk menyantap makanan, bersama keluarga. namun, karena di rumah tersebut tidak ada ruang keluarga, dan pada akhirnya ruang makan bertambah fungsinya menjadi ruang keluarga. diaman para anggota keluarga, tidak hanya saja makan di dalam ruang makan tersebut, namun juga berkativitas bersama anggota keluarga lainnya di sana, seperti menonton acara tv bersama, atau sekedar mengobrol bersama tanpa menyantap makanan di sana. yang menjadi pertanyaan adalah, lalu bagaimana dengan keadaan seperti ini, ketika pengguna sudah ikut berperan dalam proses perancangan ruang, namun tetap saja ada perubahan “order to disorder” dalam hal fungsi ruang? manakah yang gagal, dan manakah yag berhasil?apakah peran pengguna dalam perancangan atau peran perancang dalam perancangan? apabila hal ini di relevansikan dengan kalimat pernyataan notjusthenny dalam tulisannya yang saya kutip sebagai berikut,
    “Dengan keterlibatan (partisipasi) pengguna dalam perancangan, intervensi yang tidak diharapkan dari pengguna terhadap suatu arsitektur lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi, sebab pengguna sudah paham mengapa ruang itu ada dan mengapa dibuat demikian, mereka tahu alasan kehadiran ruang tersebut sehingga tidak seenaknya mengalihkan penggunaan ruang tersebut untuk sesuatu yang lain yang tidak sesuai dengan program arsitekturnya. Dengan partisipasi pengguna dalam proses perancangan, mereka akan lebih merasakan keterikatan dan tanggung jawab untuk memelihara arsitektur tersebut, sehingga ruang yang ada benar-benar terfungsikan sebagaimana ia seharusnya.”


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: