28
Jan
09

Ruang Publik Sebagai Ruang Berkreativitas, Order or Disorder?

Tidak sedikit kita temui dinding-dinding di pinggir jalan yang berhiaskan gambar-gambar yang sering disebut grafiti. Apa yang sebenarnya menjadikan mereka melukiskan gambra-gambar tersebut pada sebuah dinding yang notabennya adalah miliki publik?untuk siapa sebenarnya mereka melakukan itu, untuk kepuasan dirikah atau untuk kepuasan publik itu sendiri atau adanya kesempatan bagi mereka untuk menggunakan ruang publik tersebut sebagai media kreativitasnya?bisakah disini saya katakan bahwa secara tidak langsung ruang-ruang yang terbentuk beserta elemennya di lingkungan publik dapat menciptakan suatu peluang atau kesempatan bagi publik untuk menggunakan di luar dari yang seharusnya?dan dapatkah dikatakan bahwa disini bahwa keberadaan grafiti tersebut adalah bentuk partisipasi masyarakat terhadap ruang publik yang justru dengan adanya partisipasi tersebut malah menjadikan ruang publik difungsikan diluar dari fungsinya karena mereka melihat adanya kesempatan yang memungkinkan mereka untuk menuangkan kreativitasnya di situ.

Namun keberadaan grafiti tersebut bisa mengundang mata publik yang melintas di depannya dan membuat mereka menjadi tertarik dan mungkin menjadi tidak bosan jika sedang melewatinya. Sehingga disini bisa kita lihat mungkin sebelum keberadaan grafiti tersebut ruang publik tersebut tidak mengundang perhatian publik tetapi setelah keberadaan grafiti yang disini saya katakan sebagai bagian dari partisipasi masyarakat terhadap ruang publik, mereka menjadi terlihat lebih hidup dan bahkan tidak membosankan. Publik disini juga dapat dikatakan sebagai penghidup dari desain ruang publik yang ada, mereka membubuhi sesuatu didalamnya. Ketika saya melewati salah satu jalan di kota Bandung, saya justru melihat dinding di sepanjang jalan dipenuhi dengan gambar-gambar serupa dengan grafiti, kemudian saya berpikir mengapa justru mereka “sangat” dibolehkan untuk menggunakan milik publik sebagai ajang menuangkan kreativitas mereka, berarti disini bentuk grafiti itu adalah disorderkah atau bukan?

Memang jika kita lihat grafiti tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk disorder, tetapi salahkah jika ternyata hasil dari bentuk disorder tersebut malah menjadikan sesuatu lebih terlihat menarik? karena sesuatu yang disorder terkadang sering diidentikkan dengan sesuatu yang salah, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Bagaimana jika sesuatu yang kita pikir sebagai bentuk disorder kita jadikan order?yang salah satu caranya adalah seperti pada contoh kasus yang saya temui di sepanjang jalan di daerah bandung dimana mereka justru membuat dinding-dinding yang ada disepanjang jalan menjadi lebih menarik dengan keberadaan grafiti. Menambahkan sesuatu pada bagian ruang publik yang justru memberikan sesuatu yang lebih terhadap ruang publik tersebut.


0 Responses to “Ruang Publik Sebagai Ruang Berkreativitas, Order or Disorder?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: