26
Oct
09

Everyday Architecture, Memunculkan Atau Menghilangkan “Affordance” ?

J. J. Gibson mengungkapkan teori tentang Affordance, yaitu sebuah kondisi dimana suatu hal dilihat sebagai sesuatu yang lain, atau memiliki potensi yang lain. Sebagai contoh, pedagang kaki lima yang berjualan di jembatan penyebrangan orang. Mereka bisa melihat potensi ramainya jembatan tersebut akan menguntungkan bagi mereka, walaupun secara sadar mereka tahu bahwa mereka melawan sistem (power). Para pedagang kaki lima ini mungkin secara tidak sadar telah melakukan invasi terhadap ruang para pejalan kaki. Yang mereka lakukan sebenarnya terlebih dahulu melihat pola para pejalan kaki tersebut secara menyeluruh, kapan saja waktu-waktu padat, kapan waktu pejalan kaki merasa lapar atau haus, sehingga pada saat itu, munculah mereka. Para pedagang kakilima ini meletakkan sesuatu di sebuah kondisi tertentu, sehingga tercipta pola baru yang memiliki nilai (value) yang lain lagi.

Di sisi lain, munculnya nilai lain ini terkadang berimbas pada sesuatu yang “negatif” dalam kacamata tertentu, baik secara visual, maupun secara sistem. Oleh karena itu, muncul wacana “tepat sasaran” agar sesuatu yang dirancang (terutama oleh arsitek, yang merancang ruang) tidak dimaknai berbeda oleh pengguna. Secara tidak langsung bisa disebut sebagai usaha menghilangkan atau meminimalisasi affordance, oleh karena itu, kajian secara menyeluruh dan lengkap harus dilakukan sebelum melakukan intervensi, salah satunya dengan metode partisipasi bagi sasaran intervensi.

Pada dua ilustrasi tersebut, pendekatan yang dilakukan adalah sama-sama dengan metode keseharian. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya yang ingin dicapai? Menambah nilai terhadap sesuatu, atau justru meminimalisasi nilai tambah yang mungkin terjadi?


2 Responses to “Everyday Architecture, Memunculkan Atau Menghilangkan “Affordance” ?”


  1. 1 iishrynt
    October 26, 2009 at 4:11 pm

    illustrasi yang menarik. setahu saya, affordance adalah sesuatu “benda” atau “kondisi” yang memiliki potensi lain selain yang dimaksudkan oleh sang perancang. misalnya seorang arsitek merancang sebuah kubus di sebuah taman yang dimaksudkan untuk meja. namun, seorang anak malah mengira kubus tersebut adalah kursi. jadi keadaan tersebut, tergantung kepada orang yang mempersepsikannya. apakah hal tersebut masuk dalam konteks pedagang kali lima??iis haryanti

  2. December 16, 2009 at 7:35 pm

    apakah menurut anda, para pengguna jembatan tersebut terganggu oleh keberadaan para pedagang kaki lima? ataukah mereka malah membuat suasana di jembatan menjadi lebih menarik karena menghadirkan barang-barang yang bisa dilihat saat melalui jembatan? seandainya para pedagang kaki lima ini dihilangkan, apakah akan membuat “nyaman” bagi para pengguna jembatan?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: